• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAFSIR BINTU SYATHI’

Dalam dokumen Kitab-kitab Tafsir (Halaman 118-123)

TAFSIR PERIODE PERTENGAHAN (Tahun 656 H /XII H.) (masa ulama’ muta’akhkhirin)

KITAB TAFSIR PERIODE MODERN (ABAD XIII H./XIX M – SEKARANG)

8. TAFSIR BINTU SYATHI’

a. Nama Tafsir

Tafsir al-Bayan li al-Qur’an al-Karim

b. Riwayat Hidup Pengarang

Bintu al-Syathi’ dilahirkan di Dumyat wilayah sebelah barat Delta Nil, ia tumbuh dewasa ditengah sebuah keluarga muslim yang saleh. Bintu al-Syathi’ adalah nama samarannya, nama aslinya adalah Dr. ‘Aisyah Abdurrahman. Tidak banyak literature yang menjelaskan tentang kapan wafatnya. la menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Fuad I Kairo, walaupun mempunyai pandangan dan

sifat konservatif, ia memiliki semua daya tarik seorang perempuan Arab modern yang berbudaya.

c. Keberedaan Tafsir

Bukunya mengenai tafsir al-Bayan li al-Qur’an al-Karim, Vol. 1 (1962) telah dicetak ulang dua kali (tahun 1966 dan tahun 1968) dan edisi bajakannya telah terbit pula di Beirut Vol II. Kitab tafsirnya terbit pada tahun 1969 yang telah mendapat sarnbutan luar biasa, dan Dr. ‘Aisyah Abdurrahman diharapkan dapat melanjutkan studi tafsirnya itu hingga mencakup keseluruhan al-Qur’an, tidak hanya keempat belas surat pendek yang sejauh ini sudah diselesaikannya.

d. Metodologi Penafsiran

Bintu al-Syathi’ mengkhtisarkan prinsip-pninsip metodenya kedalarn empat butir.

Pertama, basis metodenya adalah memperlakukan apa yang ingin dipahamai dari al-Qur’an secara obyektif, dan hal ini dimulai dengan pengumpulan sernua surah dan ayat mengenai topik yang ingin dipelajari.

Kedua, untuk memahami gagasan tertentu. yang terkandung di dalam al-Qur’an menurut konteknya, ayat-ayat disekitar itu harus disusun menurut tatanan kronologis pewahyuan, hingga keterangan-keterangan mengenai wahyu dan tempat dapat diketahui. Riwayat-riwayat tradisional mengenai “peristiwa pewahyuan” dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipertimbangkan hanya sejauh dan dalam pengertian bahwa peristiwa-peristiwa itu merupakan keterangan-keterangan kontekstual yang berkaitan dengan pewahyuan suatu ayat, sebab peristiwa-peristiwa itu bukanlah tujuan atau sebab sin qua non (syarat mutlak) kenapa pewahyuan teriadi. Pentingnya pewahyuan terletak pada

generalitas kata-kata yang digunakan, bukan pada kekhususan peristiwa pewahyuannya.

Ketiga, bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam al-Qur’an, maka untuk memahami arti kata-katanya harus dicari arti linguistik aslinya yang memiliki rasa kearaban kata tersebut dalam berbagai penggunaan material dan figuratifnya. Dengan demikian maka al-Qur’an diusut melalui pengumpulan seluruh bentuk kata didalarn al-Qur’an, dan mempelajari konteks spesifik kata itu dalam ayat dan surat tertentu serta konteks umumnya dalam al-Qur’an.

Keempat, untuk mernahami

pernyataan-pernyataan yang sulit, naskah yang ada dalam susunan al-Qur’an itu dipelajari untuk mengetahui kemungkinan maksudnya. Baik bentuk dhahir maupun bathim semangat teks itu harus diperhatikan. Apa yang telah dikatakan oleh para mufasir, dengan demikian diuji kaitannya dengan naskah yang sedang dipelajari, dan hanya yang sejalan dengan naskah yang diterima. Seluruh penafsiran yang bersifat sektarian dan isra'iliyat (materi-materi Yahudi-Kristen) yang mengacaukan, yang biasanya dipaksakan masuk kedalam tafsir al-Qur’an harus disingkirkan.

Seperti yang dapat disimak dari ringkasan tersebut diatas, apa yang menjadi dasar metode tafsir adalah diktum yang telah dikemukakan para mufasir klasik masa lalu, yakni bahwa al-Qur’an menjelaskan dirinya dengan dirinya sendiri (tafsir ayat dengan ayat), meskipun para mufasir tersebut tidak menerapkan diktum itu secara sistematis. Selain itu yang menjadi dasar metode tersebut adalah prinsip bahwa al-Qur’an harus dipelajari dan dipahami dalam keseluruhanya sebagai suatu kesatuan dengan karakteristik-karakteristik ungkapan dan gaya yang khas. Terakhir yang menjadi dasar pula adalah penenimaan atas

keterangan sejarah mengenai kandungan al-Qur’an tanpa menghilangkan keabadian nilainya.

Dalam metode yang dikembangkan Bintu al-Syathi’ ini tampak jelas kehati-hatian yang sengaja dipatok agar dapat membiarkan al-Qur’an berbicara mengenai dirinya sendiri, dan agar kitab suci itu dipahami dengan cara-cara yang paling langsung sebagaimana orang -orang Arab pada masa kehidupan nabi Muhammad SAW. Rujukart-rujukan al-Qur’an kepada orang-orang yang hidup pada masa itu diminimalkan hanya sebagai data sejarah, maksuknya adalah agar signifikansi relegius orang-orang maupun kejadiankejadin tersebut dipahami pada konteks pesan al-Qur’an dalam totalitasnya. Dengan demikian tekanan diletakkan pada apa yang menjadi maksud Tuhan dengan sebuah wahyu, yang melampaui dan berada diatas peristiwa sejarah tertentu yang menjadi latar belakangnya.

Bintu al-Syathi’ dalam menafsirkan al-Qur’an cenderung menilal pada unsur-unsur-unsur tata bahasa, retorika dan gaya al-Qur’an, ketimbang mengikuti aturan-aturan buatan para ahli tata bahasa, retorika, dan kritik sastra yang justru harus ditinjau kembali atau bahkan direvisi, dibawah petunjuk al-Qur’an. Dengan demikian jelaslah bahwa pendekatan yang dipakai Bintu al-Syathi’ ini terdapat suatu metode tafsir moderen al-Qur’an. Walaupun berdasarkan aturan-aturan penafsiran klasik yang sayangnya tidak pernah dipraktikkan secara serius sebagai usaha-usaha penafsiran sistematik, metode ini telah menghadirkan suasana kesegaran baru dalam bidang tafsir al-Qur’an di masa modern ini.

Di dalam tafsirnya Bintu al-Syathi’' memusatkan perhatian pada kesusastraan Arab. Dalam pendahuluannya ia mengemukakan bahwa ia menempuh metoda ini untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan dunia sastra dan bahasa.

Dikatakannya pula bahwa ia pernah menyampaikan kajian terhadap masalah tersebut di berbagai kongres internasional. Misalnya dalam Kongres Orientalis Internasional di India pada 1964. Topik pembahasan yang disampaikannya dalam bagian studi Islam adalah “Musykilat al-Taraduf al-Lughawi fi Daul al-Tafsir al-Bayani fi al-Qur’an al-Karim”. Ia mengatakan: “Dalam pembahasan tersebut dijelaskan bagaimana hasil penelitian cermat terhadap kamus lafaz-lafaz al-Qur’an dan dalalah (penunjukkan makna)-nya di dalam konteksnya. Hasil penelitian itu mengungkapkan bahwa al-Qur’an menggunakan sebuah lafaz dengan dalalah terbatas (tertentu); yang tidak mungkin dapat diganti dengan lafaz lain yang mempunyai makna sama seperti diterangkan oleh kamus-kamus bahasa dan kitab-kitab tafsir, baik jumlah lafaz yang dika-takan sebagai muradif (sinonim) itu sedikit maupun banyak.”

e. Penilaian Ulama’

Terdapat beberapa ulama’ yang kurang setuju dengan metode yang dijadikan pijakan penafsiran Bintu al-Syathi’, bahkan mereka menolak dengan menyatakan “Memahami al-Qur’an dalam keseluruhan dan dalam tatanan kronologis pewahyuannya, untuk menjelaskan bagian tertentu dengan yang lain, berarti menyepelehkan atau mengingkari kenyataan bahwa kitab suci itu diturunkan dalam rentang waktu dua puluh dua hingga dua puluh tiga tahun, yang berarti ungkapan dan gayanya pada masa-masa awal pewahyuan tidak harus sama dengan ungkapan dan gaya yang digunakan pada masa-masa yang belakangan”.

Berkaitan dengan hal di atas Bintu al-Syathi’ menjawab keberatan ini dengan menekankan bahwa proses dedukatif digunakan untuk menemukan makna fenomena linguistik dan gaya al-Qur’an yang tersatukan secara kronologis sebagai bagian-bagian

yang utuh dan telah terbukti sebagai petunjuk paling memadai untuk membawa kita pada makna Qur’ani terhadap fenomena-fenomena tersebut, dan bahwa fenomena-fendmena itu secara keseluruhan bersifat konsisten.

Manna’ al-Qaththan menyatakan: “Di antara kaum wanita kita masa kini yang ikut ambil bagian dalam kesusastraan Arab dan pemikiran sosial adalah Dr. A’isyah Abdurrahman, populer dengan nama Bintu al-Syathi’. Ia adalah pengajar pada Fakultas Adab di Kairo dan pada Fakultas Tarbiyah Putri. Di tengah-tengah kesibukan mengajarnya ia sempat menulis tafsir beberapa surah pendek dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku yang diberi nama at-Tafsir al-Bayani li al-Qur’an. Tafsir Bayani (sastra) merupakan usaha yang tidak dilarang untuk merealisasikan tujuan yang ingin dicapai oleh Bintu Syathi’, Dalam hal ini binthu al-Syathi’ banyak berpedoman pada kitab-kitab tafsir yang menaruh perhatian terhadap aspek-aspek balaghah al-Qur’an dan mengungkapkannya dengan ungkapan sastra yang tinggi”.

Dalam dokumen Kitab-kitab Tafsir (Halaman 118-123)

Dokumen terkait