• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Rata-rata Jumlah Item Obat Per Lembar Resep

c) persentase peresepan antibiotik

d) persentase peresepan sediaan injeksi

e) persentase peresepan obat yang sesuai dengan formularium rumah

sakit

2) Indikator pelayanan pasien, meliputi :

a) rata-rata lamanya waktu konsultasi

b) rata-rata lamanya waktu peracikan obat

c) persentase obat-obatan yang berhasil diracik

d) persentase obat-obatan yang berhasil diberi label dengan benar

e) pengetahuan pasien tentang ketepatan dosis

3) Indikator fasilitas kesehatan, meliputi :

a) ketersediaan daftar obat esensial atau formularium

b) ketersediaan obat-obat penting

b. Indikator pelengkap penggunaan obat (complementary drug use

indicators), meliputi :

1) persentase pasien yang diterapi tanpa obat

2) rata-rata biaya obat per lembar resep

3) persentase biaya obat yang dikeluarkan untuk antibiotik

4) persentase biaya obat yang dikeluarkan untuk injeksi

5) peresepan yang sesuai dengan pedoman pengobatan

6) persentase kepuasan pasien terhadap perawatan yang diterima

7) persentase fasilitas kesehatan yang menyediakan informasi obat

C. Rata-Rata Jumlah Item Obat Per Lembar Resep

Rata-rata jumlah item obat per lembar resep merupakan jumlah item obat

per bulan dibagi dengan jumlah total sampel yang telah ditentukan. Rata-rata

jumlah item obat per lembar resep ini digunakan untuk mengukur besarnya

tendensi polifarmasi (Anonim, 1993).

Polifarmasi yaitu suatu keadaan yang menunjukkan bahwa konsumen

kesehatan mengkonsumsi beberapa obat sekaligus. Dapat juga diasosiasikan

mengkonsumsi berdasarkan resep dan juga menggunakan terlalu banyak

obat-obatan yang tidak perlu pada dosis dan frekuensi yang lebih banyak daripada

esensi terapinya (Anonim, 2007).

Pemberian polifarmasi pada pasien tidak saja menjadi problem di

negara-negara yang sedang berkembang, tapi juga merupakan masalah yang

cukup serius di negara yang telah maju. Banyak obat yang tidak ada hubungannya

dengan penyakit pasien diberikan pada pasien, yang tentu saja merupakan

pemborosan dan meningkatkan insiden penyakit karena obat (Aman, 2008).

Namun, beberapa penggunaan pengobatan sekaligus juga ada yang penting dan

merupakan perawatan terbaik untuk konsumen kesehatan (Anonim, 2007).

D. Obat Generik

1. Penggolongan obat-obat berdasarkan merek dagangnya (Anonim, 2008 b),

yaitu:

a. Obat Paten/Original

Obat paten merupakan obat yang dipasarkan pertama kali oleh

produsen yang menemukan senyawa atau zat aktif obat tersebut melalui

proses riset. Obat-obat ini umumnya dilindungi oleh paten yang berkisar

20-25 tahun sejak senyawa obatnya ditemukan dan dipatenkan. Sebelum

dipasarkan, senyawa/zat aktif obat yang baru ditemukan harus melewati

berbagai uji klinik yang memakan waktu 8-10 tahun. Selama dalam

perlindungan paten, obat jenis ini tidak boleh dibuat oleh produsen lain,

kecuali ada perjanjian khusus. Umumnya obat paten/original masih

didominasi oleh perusahaan-perusahaan asing.

b. Obat Generik Bermerek (Branded Generic)

Obat Generik bermerek atau secara singkat disebut obat

bermerek adalah obat yang dibuat sesuai dengan komposisi obat paten

setelah masa patennya berakhir. Obat Generik bermerek dipasarkan

dengan merek dagang yang ditentukan oleh masing-masing produsennya

dan telah disetujui oleh BPOM. Umumnya harga produk lebih murah

dibandingkan harga obat patennya.

c. Obat Generik Berlogo

Obat Generik Berlogo (OGB) merupakan obat yang memiliki

komposisi yang sama dengan obat patennya, namun tidak memiliki merek

dagang. OGB dipasarkan dengan menggunakan nama zat aktif atau nama

senyawa obatnya sebagai nama produknya. OGB mudah dikenali, dari

logonya yaitu berupa lingkaran hijau berlapis-lapis dengan tulisan

GENERIK ditengahnya. Logo OGB terdapat di kemasan luar, di strip obat

atau di label botol obat. OGB memiliki harga yang sangat terjangkau oleh

masyarakat, karena kebijakan harganya ditetapkan oleh Departemen

Kesehatan Republik Indonesia.

2. Standar Mutu OGB

Obat Generik Berlogo (OGB) dibuat untuk memenuhi kebutuhan

masyarakat terhadap obat-obatan yang terjangkau harganya, dengan kualitas

yang terjamin. Sebab setiap produsen yang memproduksi OGB harus memiliki

sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) yang diterbitkan oleh

pemerintah. Dengan demikian, setiap obat yang diproduksi memenuhi standar

mutu sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan (Anonim, 2008 b).

Setiap obat memiliki spesifikasi yang sama, baik obat paten, obat

bermerek maupun OGB, yaitu berdasarkan farmakope. Farmakope mengatur

mulai dari standar mutu bahan baku sampai dengan mutu obat jadi sehingga

baik obat paten, obat bermerek, maupun OGB memiliki standar mutu yang

sama yaitu mulai dari pemilihan bahan baku sampai diproses menjadi obat jadi

(Anonim, 2008 b).

Obat generik adalah obat jadi dengan nama generik, nama resmi yang

telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan International Non-proprietary

Names (INN) WHO untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Nama generik

tersebut ditempatkan sebagai judul monografi sediaan-sediaan obat yang

mengandung nama generik tersebut sebagai zat tunggal (Anonim, 2005).

Obat generik dipasarkan berdasarkan nama bahan aktifnya, tanpa ada

biaya pemasaran sebesar obat bermerek dagang. Idealnya obat tersebut

mempunyai standar keamanan, kemurnian, dan efektivitas yang sama dengan obat

bermerek dagang (Simarcx, 2008).

Kebijakan obat generik adalah salah satu kebijakan untuk

mengendalikan harga obat, yaitu obat dipasarkan dengan nama bahan aktifnya.

Kebijakan tersebut sering mendapatkan hambatan dari para dokter karena

keraguan akan mutu produk. Untuk itu hasil pemeriksaan mutu dan informasi

mengenai obat generik harus selalu dikomunikasikan kepada pemberi pelayanan

maupun kepada masyarakat luas (Anonim, 2003).

E. Antibiotik

Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama

fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain.

Antibiotik diharapkan mempunyai toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya,

obat tersebut haruslah bersifat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik

untuk hospes (Setiabudy, R. dan Gan, V.H.S., 1999).

Menurut Anonim (2003), penggolonggan antibiotik berdasarkan

diklasifikasikan sebagai berikut : penisilin, sefalosporin, tetrasiklin,

aminoglikosida, makrolida, kuinolon, antibiotik kombinasi (sulfonamida dan

trimetropim), dan antibiotik lain.

Setiap antibiotik sangat beragam efektivitasnya dalam melawan berbagai

mikroba, yang juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik

mencapai lokasi tersebut (Anonim, 2008 a).

Umumnya antibiotika bekerja sangat spesifik pada suatu proses, mutasi

yang terjadi pada bakteri memungkinkan munculnya strain bakteri yang 'kebal'

terhadap antibiotika. Dengan demikian, pemberian antibiotika harus dalam dosis

yang menyebabkan bakteri segera mati dan dalam jangka waktu yang agak

panjang agar mutasi tidak terjadi. Penggunaan antibiotika yang 'tanggung' hanya

membuka peluang munculnya tipe bakteri yang 'kebal' (Anonim, 2008 a).

Halloway dalam Technical Briefing Seminar WHO 2004 di Geneva

menyebutkan, dari 30 hingga 60 persen pasien yang mengonsumsi antibiotik,

hanya 10 hingga 25 persen saja yang memerlukannya. Pemakaian obat yang tidak

tepat akan menimbulkan efek samping (cit. Pitaloka, 2008).

F. Sediaan Injeksi

Injeksi atau obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril

bebas pirogen yang dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral. Pada

umumnya pemberian dengan cara parenteral dilakukan bila diinginkan kerja obat

yang cepat seperti pada keadaan gawat, bila penderita tidak dapat diajak bekerja

sama dengan baik, tidak sadar, tidak dapat atau tidak tahan menerima pengobatan

melalui mulut (oral) atau bila obat itu sendiri tidak efektif dengan cara pemberian

lain. Kecuali suntikan insulin yang umumnya dapat dilakukan sendiri oleh

penderita setelah mendapatkan konseling, hampir semua suntikan dilakukan oleh

dokter atau asisten dokter atau perawat dalam pemberian pengobatan (Ansel,

1989).

Penggunaan sediaan injeksi yang berlebihan dapat berdampak pada

meningkatnya resiko efek samping dan mahalnya biaya pengobatan yang harus

dikeluarkan oleh pasien (Anonim, 1993).

G. Formularium Rumah Sakit (FRS)

Formularium Rumah Sakit (FRS) pada hakekatnya merupakan daftar

produk obat yang telah disepakati untuk dipakai di rumah sakit yang bersangkutan

beserta informasi yang relevan mengenai indikasi, cara penggunaan dan informasi

lain mengenai tiap produk. Adapun tujuan utama pengembangan dan penerapan

FRS adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui pengunaan obat yang

aman, efektif, rasional, dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan

(Anonim, 2003).

Pada tempat-tempat pelayanan kesehatan yang tidak memiliki FRS,

umumnya digunakan Daftar Obat Essensial Nasional (DOEN) sebagai pedoman

pengobatan. DOEN merupakan daftar yang berisi nama obat yang diperlukan

untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terbanyak. Kebijakan obat esensial

merupakan penerapan konsep pemilihan obat. Dari sisi kesehatan masyarakat,

kebijakan tersebut merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan dan upaya

pemerataan obat bagi masyarakat luas. Dari sisi medis, obat esensial sedikit

banyak dapat dikaitkan dengan obat pilihan utama (drug of choice). Dalam hal itu

hanya obat yang terbukti memberikan manfaat klinik paling besar, paling aman,

paling ekonomis dan paling sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada

yang dimasukkan sebagai obat esensial (Anonim, 2003).

Tujuan kebijakan obat esensial adalah untuk meningkatkan ketepatan,

keamanan, kerasionalan penggunaan, dan pengelolaan obat yang sekaligus

meningkatkan daya guna dan hasil guna biaya yang tersedia sebagai salah satu

langkah untuk memperluas, memeratakan dan meningkatkan mutu pelayanan

kesehatan kepada masyarakat (Anonim 2003).

H. Profil Rumah Sakit Fatimah Cilacap (RSFC)

Rumah Sakit Fatimah Cilacap (RSFC) merupakan rumah sakit swasta

yang telah berdiri sejak 10 September 1992. Rumah sakit tersebut adalah rumah

sakit tipe C non pendidikan (mempunyai tempat tidur sebanyak ± 100-150 tempat

tidur) atau apabila digolongkan dalam klasifikasi rumah sakit swasta termasuk

rumah sakit golongan madya. Rumah sakit tersebut terletak di pusat kota Cilacap,

yaitu Jalan Ir. H. Juanda No. 20 Kelurahan Kebonmanis Kecamatan Cilacap

Utara, dengan luas area 23.002 m

2

.

Adapun fasilitas yang disediakan Rumah Sakit Fatimah Cilacap (RSFC)

meliputi: IGD, unit rawat jalan, unit tindakan medik, unit pelayanan penunjang,

dan unit rawat inap.

Saat ini, Rumah Sakit Fatimah Cilacap (RSFC) dikepalai oleh Dr. H.

Amoroso Katamsi, S.KJ., MM. selaku direktur rumah sakit. Rumah sakit tersebut

mempekerjakan beberapa dokter dengan rincian sebagai berikut : 12 orang dokter

umum, 3 orang dokter spesialis anak, 3 orang dokter spesialis obstetrik dan

ginekologi, 3 orang dokter spesialis bedah, 2 orang dokter spesialis penyakit

dalam, 2 orang dokter spesialis saraf, 1 orang dokter spesialis kedokteran jiwa, 1

orang dokter spesialis mata, 1 orang dokter spesialis radiologi, 1 orang dokter

spesialis mata, 1 orang dokter spesialis THT dan 1 orang dokter gigi.

Pada instalasi farmasi, rumah sakit ini mempunyai 1 orang apoteker, 6

orang asisten apoteker, 3 orang tenaga administrasi umum, 3 orang petugas

gudang, 6 orang kasir dan 1 orang office boy.

I. Keterangan Empiris

Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat

pasien rawat jalan di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Fatimah Cilacap pada

periode Juni 2007 – Mei 2008 berdasarkan indikator peresepan WHO 1993,

meliputi:

1. rata-rata jumlah item obat per lembar resep.

2. persentase peresepan obat dengan nama generik.

3. persentase peresepan antibiotik.

4. persentase peresepan sediaan injeksi.

5. persentase peresepan obat yang sesuai dengan Formularium Rumah Sakit

Fatimah Cilacap.

18

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Merupakan penelitian noneksperimental dengan menggunakan

rancangan deskriptif, karena pada penelitian yang bersangkutan tidak melakukan

kontrol dan perlakuan terhadap data. Menurut Best (1982), rancangan penelitian

deskriptif merupakan penelitian yang berusaha menggambarkan dan

menginterpretasikan obyek sesuai apa adanya (cit. Hartoto, 2009). Pengumpulan

data dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data yang telah lalu.

B. Definisi Operasional Penelitian

1. Resep adalah resep dari dokter praktek yang bekerja di Rumah Sakit Fatimah

Cilacap dan masuk ke instalasi farmasi Rumah Sakit Fatimah Cilacap.

2. Pasien rawat jalan adalah pasien yang melakukan pengobatan pada rumah

sakit yang bersangkutan yaitu pasien yang tidak menginap di rumah sakit

(termasuk pasien yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat selama 2-6 jam yang

kemudian keadaaannnya membaik dan diperbolehkan pulang).

3. Obat adalah semua zat baik dari alam atau kimiawi yang dalam dosis yang

tepat atau layak dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit

atau gejala-gejalanya. Obat yang masuk dalam resep racikan dihitung sebagai

1 obat.

5. Antibiotik adalah antibiotik yang sesuai dengan klasifikasi yang tercantum

dalam IONI 2000.

6. Formularium Rumah Sakit yang digunakan adalah Formularium Rumah Sakit

Fatimah Cilacap periode 2002.

C. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian berupa lembar resep yang

masuk ke instalasi farmasi rawat jalan Rumah Sakit Fatimah Cilacap periode Juni

2007 – Mei 2008.

D. Alat Penelitian

Alat yang digunakan berupa Formularium Rumah Sakit, ISO Indonesia

(2006), dan IONI 2000 (2003).

E. Teknik Sampling

Penelitian menggunakan teknik sampling berupa pengambilan sampel

secara systematic random sampling. Jumlah sampel per bulan ditentukan oleh

perbandingan jumlah resep per bulan dengan jumlah total resep selama 1 tahun,

kemudian dikalikan dengan jumlah sampel yang ditentukan (600 lembar resep).

F. Tata Cara Penelitian

1. Analisis situasi

Dalam analisis situasi dilakukan pendekatan dengan pihak rumah

sakit terkait mengenai kemungkinan diadakannya penelitian sehubungan

dengan ijin melakukan penelitian dan jumlah lembar resep pasien rawat jalan

yang tersedia. Namun sebelum melakukan pendekatan dengan pihak rumah

sakit, telah dilakukan pertimbangan untuk melakukan penelitian dengan

mengacu pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan dan dengan

berbagai referensi.

2. Pengumpulan data penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian diperoleh dengan cara

mengumpulkan dan menyalin resep yang masuk ke instalasi farmasi rawat

jalan Rumah Sakit Fatimah Cilacap periode Juni 2007 – Mei 2008.

Dari penelitian diketahui resep yang masuk sebanyak 10.977 lembar

resep. Dari jumlah tersebut, diambil 600 lembar resep sebagai sampel

penelitian. Pengambilan data dilakukan menggunakan systematic random

sampling. Sampel diambil berdasarkan nomor urut dengan menggunakan

interval tertentu. Nilai interval diperoleh dari rasio jumlah lembar resep per

bulan dengan jumlah sampel per bulan yang telah ditentukan.

Pengambilan sampel pertama dilakukan dengan menggunakan nilai

tengah interval. Untuk pengambilan sampel selanjutnya adalah nomor urut

sampel setelah ditambah nilai interval yang ditentukan, dan seterusnya.

3. Pengolahan data penelitian

Pengolahan data dilakukan dengan menyusun data dan

mengelompokkannya dalam beberapa golongan sesuai dengan kategori obat

tersebut. Penggolongan obat dilakukan berdasarkan ISO Indonesia 2006, IONI

2000, FRS Fatimah Cilacap 2002. Setelah obat tersebut digolongkan dalam

kategori-kategori tertentu, maka hasil data tersebut diinterpretasikan. Untuk

mendukung data yang diperlukan, juga dilakukan wawancara dengan pihak

Rumah Sakit Fatimah Cilacap.

4. Analisis data penelitian

Dari hasil data yang telah diolah dalam penelitian ini kemudian

dilakukan perhitungan rata-rata jumlah item obat per lembar resep, persentase

peresepan obat dengan nama generik, persentase peresepan antibiotik,

persentase peresepan sediaan injeksi dan persentase peresepan obat yang

sesuai dengan Formularium Rumah Sakit. Setelah mendapatkan hasil

perhitungan, maka hasil penelitian ini dibandingkan dengan hasil penelitian

menggunakan indikator peresepan WHO 1993 yang telah dilakukan

sebelumnya di 20 tempat pelayanan kesehatan di Indonesia.

Perhitungan hasil penelitian dilakukan sebagai berikut :

a. Rata-rata jumlah item obat per lembar resep merupakan perbandingan

antara jumlah obat yang diresepkan dan jumlah lembar resep.

N = jumlah item obat yang diresepkan

R = jumlah lembar resep sampel

Perhitungannya = N R

b. Persentase peresepan obat dengan nama generik merupakan perbandingan

Dokumen terkait