ANALISIS PEMBANGUNAN MANUSIA
4.1.2. Rata – Rata Lama Sekolah
Untuk mengetahui perkembangan pembangunan bidang pendidikan diperlukan adanya indikator yang mampu memberikan gambaran mengenai kemajuan yang telah dicapai. Selain Indikator ABH (Angka Buta Huruf) ada indikator lain untuk melihat tingkat pendidikan yai-tu rata-rata lamanya sekolah (tahun). Rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun keatas untuk menempuh semua jenis pendidikan for-mal yang pernah dijalani. Dari hasil pengolahan Indikator Makro Sosial Ekonomi Jawa Timur rata-rata lamanya sekolah penduduk Kabupaten Gresik selalu mengalami kenaikan. Pada Tahun 2012 rata-rata lamanya sekolah sebesar 8,98 tahun atau naik sebesar 1,58 point dibanding Tahun 2011 sebesar 8,84 tahun. Rata-rata lamanya sekolah penduduk Kabupaten Gresik masih diatas Provin-si Jawa Timur. Rata-rata lamanya sekolah ProvinProvin-si Jawa Timur Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2012 masih berkisar angka 7, dan pada Tahun 2012 sudah mencapai 7,48. Sedangkan Kabupaten Gresik sudah berada pada angka hampir 9. Dengan kata lain bahwa semakin lama peluang serta kesempatan dalam bidang pendidikan semakin besar. Merupakan hal yang wajar jika tingkatan pendidikan seorang anak minimal sama atau lebih tinggi dibandingkan dengan orang tuanya.
Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur
Gambaran mengenai peningkatan sumber daya manusia dapat dilihat dari kuali-tas tingkat pendidikan penduduk usia 10 tahun keakuali-tas. Semakin besar persenkuali-tase pen-duduk yang menamatkan jenjang pendidikan tinggi, bisa dianggap semakin tinggi tingkat
menamatkan SMA sederajat, hal tersebut dapat dilihat bahwa penduduk yang tamat SMA sederajat Tahun 2012 sebesar 28,60 persen. Penduduk Kabupaten Gresik yang menem-puh pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi pada Tahun 2012 mencapai 6,76 persen.
Tabel 4.2. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan Kabupaten Gresik Tahun 2010 - 2012
Tingkat Pendidikan Tahun
2010 2011 2012
Tidak belum pernah sekolah 4,53 4,40 3,70 Tidak belum tamat SD 14,61 15,37 14,06
Tamat SD 29,17 25,39 24,52
Tamat SLTP 21,22 21,58 22,37
Tamat SMTA + 24,99 25,79 28,60
Tamat PT 5,48 7,48 6,76
Sumber : Susenas 2010 – 2012
Kondisi ini bisa menggambarkan bahwa selama lima tahun tera-khir terjadi penurunan persentase penduduk berpendidikan rendah yang diiku-ti dengan meningkatnya persentase penduduk berpendidikan yang lebih diiku-tinggi. 4.1.3. Tingkat Partisipasi Sekolah
Untuk melihat seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaat-kan fasilitas pendidimemanfaat-kan yang ada dapat dilihat dari penduduk yang masih sekolah pada umur tertentu yang dikenal dengan angka partisipasi sekolah. Angka partisipasi sekolah (APS) adalah perbandingan antara jumlah penduduk usia sekolah tertentu yang sedang bersekolah dengan jumlah penduduk usia tersebut dikalikan seratus. Dalam penghitungan APS tidak memperhatikan jenjang pendidikan yang sedang dijalani, karena perhatian utamanya adalah penduduk usia seko-lah yang pada dasarnya harus sekoseko-lah. Angka APS dikatakan baik apabila mendekati atau bahkan mencapai angka seratus, yang berarti setiap anak usia sekolah sedang duduk dibangku sekolah. Meningkatnya angka partisipasi sekolah berarti menunjukkan adanya keberhasilan di bidang pen-didikan, utamanya yang berkaitan dengan upaya memperluas jangkauan pelayanan pendidikan. Rumus yang digunakan adalah :
Banyaknya penduduk usia sekolah tertentu yang sedang sekolah
Banyaknya penduduk usia sekolah tertentu
= x 100
Pengelompokan usia sekolah adalah berikut : a. SD untuk kelompok umur 7 – 12 tahun b. SMP untuk kelompok umur 13 – 15 tahun c. SMA untuk kelompok umur 16 – 18 tahun
d. Perguruan Tinggi untuk kelompok umur 19 – 24 tahun
Tabel 4.3. Persentase Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kabupaten Gresik Tahun 2010 - 2012
Usia Sekolah Tahun
2010 2011 2012 7 – 12 98,80 98,77 99,43 13 – 15 93,95 94,73 97,41 16 – 18 62,21 72,47 70,81 19 – 24 16,32 15,74 19,22 Sumber : Susenas 2010 – 2012
APS Kabupaten Gresik untuk kelompok umur sekolah dasar (7 – 12 tahun) pada Ta-hun 2012 sebesar 99,43 persen yang berarti untuk setiap 100 anak usia sekolah dasar, hampir semuanya sekolah di usia ini yaitu sebesar 99 anak sedang sekolah. Selanjutnya APS untuk usia SMP (13 – 15 tahun) sebesar 97,41 persen pada Tahun 2012 , APS untuk usia SMA (16 – 18 ta-hun) sebesar 70,81 persen. Serta APS untuk usia PT (19 – 24 tata-hun) sebesar 19,22 persen. Semua tingkatan usia sekolah APS nya pada Tahun 2012 mengalami kenaikan dibandingkan Tahun 2011 kecuali APS untuk usia SMA (16 – 18 tahun). Apabila diperhatikan pada semua usia seko-lah, tampak bahwa semakin tinggi usia sekolah Angka Partisipasi Sekolahnya semakin kecil. Dengan adanya program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sasarannya sam-pai pada jenjang pendidikan tingkat SMP. Keberadaan program BOS tentunya tidak mampu secara drastis mendongkrak persentase APS pada kelompok Usia SD (7 - 12 tahun), mengin-gat program tersebut bukan bersifat menghapuskan biaya pendidikan, namun hanya men-gurangi. Jika pada jenjang pendidikan SD di beberapa sumber menyebutkan bahwa sebagian besar murid tidak lagi terbebani biaya SPP atau BP3, namun pada jenjang pendidikan SLTP atau sederajat, sebagian murid masih membayar selisih SPP atau BP3 setelah dikurangi BOS. 4.2. Indikator Kesehatan
Pembangunan di bidang kesehatan antara lain bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui meningkatnya derajat kesehatan penduduk. Peningkatan derajat kesehatan penduduk harus diupayakan secara terus menerus dan berkesinambungan, karena
masalah kesehatan yang terjadi sekarang dapat berpengaruh terhadap keturunan beri-kutnya. Derajat kesehatan masyarakat harus terus menerus ditingkatkan dengan mem-berikan fasilitas kesehatan yang memadai dan meningkatkan kesadaran pola hidup se-hat bagi masyarakat. Kedua faktor tersebut harus sinergis, karena fasilitas kesese-hatan yang bagus tidak akan menjamin terciptanya masyarakat yang sehat. Untuk meningkatkan ke-sehatan masyarakat, pemerintah berupaya melakukan berbagai program baik yang sifat-nya promotif, preventif maupun kuratif melalui pendidikan kesehatan, imunisasi, pem-berantasan penyakit menular, penyediaan air bersih dan sanitasi dan pelayanan kesehatan. Upaya kesehatan dapat dilakukan sedini mungkin, sejak bayi masih dalam kan-dungan, saat kelahiran dan masa balita. Perkembangan otak sudah dimulai sejak bayi berada dalam kandungan, dan gizi yang cukup serta perilaku hidup sehat dalam ling-kungan yang sehat sangatlah penting bagi kesehatan dan pertumbuhan seorang. Diantara beberapa ukuran kesehatan yang ada, indikator yang digu-nakan untuk melihat taraf kesehatan penduduk adalah Angka Harapan Hidup (AHH), dan penolong persalinan. Ketiga indikator tersebut sangat peka terhadap setiap perubahan sosial ekonomi masyarakat. Sehingga selain sebagai ukuran kese-hatan, ketiganya bisa juga memberikan indikasi kondisi kesejahteraan masyarakat. 4.2.1. Angka Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup sangat dipengaruhi oleh kualitas kesehatan, di-antaranya pola hidup sehat, pola konsumsi makanan, dan kualitas lingkun-gan perumahan. Angka Harapan Hidup juga digunakan sebagai indikator untuk menilai taraf kesehatan masyarakat. Mencermati AHH juga selalu tidak akan lepas dari pem-bicaraan mengenai kesehatan, sebab angka-angka inilah yang mempunyai kaitan lang-sung dengan taraf kesehatan. Disamping fungsinya sebagai indikator pembangunan eko-nomi, sering kali juga digunakan sebagai indikator keberhasilan program kesehatan. AHH yang disajikan dalam tulisan ini merupakan hasil penghitungan dengan metode tidak langsung yang berasal dari data Susenas 2012. Pada dasarnya AHH untuk jangka pendek relatif stabil, karena program pembangunan apapun termasuk bidang kesehatan yang diterapkan ke-pada masyarakat bukanlah merupakan program yang bersifat instant, sehingga memerlukan waktu yang relatif lama untuk dapat melihat hasil dari kebijakan penerapan program tersebut. Hubungan antara pembangunan sosial ekonomi dengan AHH berkaitan erat dan positif. Bila pem-bangunan sosial ekonomi semakin baik, maka AHH juga semakin tinggi, atau sebaliknya bila AHH lebih tinggi, maka mengindikasikan pembangunan sosial ekonomi suatu wilayah semakin maju.
Tabel 4.4. Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Gresik Tahun 2010 - 2012
Tahun7 – 12 Angka Harapan Hidup
Kabupaten Gresik Jawa Timur
2010 70,98 69,60
2011 71,22 69,86
2012 71,47 70,09
Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur
Angka Harapan Hidup Kabupaten Gresik pada Tahun 2012 menunjukkan ni-lai 71,47, artinya setiap bayi yang lahir pada Tahun 2012 mempunyai harapan untuk tetap hidup sampai usia 71,47 tahun. Bila dibandingkan data Tahun 2011, dimana AHHnya sebe-sar 71,22 maka pada Tahun 2012 AHHnya mengalami kenaikan sebesebe-sar 0,25 tahun.