• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

6. Ratio Shoot/Root (g)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari ratio shoot/root dapat dilihat pada lampiran 24-25. Sidik ragam menunjukkan bahwa konsentrasi pemberian kolkhisin berpengaruh tidak nyata terhadap parameter ratio shoot/root.

Tabel 9. Rataan Ratio Shoot/Root

Perlakuan Ratio Shoot/Root

K3 (0.075%) 13.467 K2 (0.050%) 12.886 K1 (0.025%) 11.520 K4 (0.100%) 11.243 K0 (kontrol ) 11.065 Pengamatan Kromosom Jumlah Kromosom

Tabel 10. Jumlah Kromosom

Perlakuan Jumlah kromosom (pasang)

K0 (kontrol ) 22

K1 (0.025%) 23

K2 (0.050%) 23

K3 (0.075%) 24

K4 (0.100%) 26

Tabel7menunjukkan bahwa pada masing-masing perlakuan, jumlah kromosom mengalami perubahan dimana konsentrasi kolkhisin telah berpengaruh terhadap parameter pengamatan jumlah kromosom.

Berikut adalah gambar pengamatan jumlah kromosom pada masing-masing perlakuan.

Perlakuan K0 (Kontrol)

Gambar 5:kromosom binahong (K0) dengan Gambar 6 : kromosom dengan

Perbesaran 1000x photoshop

Perlakuan K1 (0.025%)

Gambar 7 :kromosom binahong (K1) dengan Gambar 8 : kromosom dengan

Perbesaran 1000x photoshop 7.0

Perlakuan K2 (0.050%)

Gambar 9 :kromosom binahong (K2) dengan Gambar 10 : kromosom dengan

Perlakuan K3 (0.075%)

Gambar 11: kromosom binahong (K3) dengan Gambar 12 : kromosom dengan

Perbesaran 1000x photoshop 7.0

Perlakuan K4 (0.1%)

Gambar 13 :kromosom binahong (K4) dengan Gambar 14: kromosom dengan

Perbesaran 1000x photoshop 7.0

Ukuran dan Bentuk Kromosom

Ukuran kromosom merupakan salah satu kriteria untuk mengidentifiikasi morfologi kromosom. Ukuran kromosom bervariasi dari satu spesies ke spesies lain dan berkisar 0.2-50 µm (Suryo 1995). Hasil pengamatan ukuran kromosom meliputi panjang total kromosom (q+p), panjang lengan panjang (q) dan panjang lengan pendek (p) kromosom. Penggolongan bentuk kromosom diketahui

menunjukkan bahwa kromosom binahong pada masing- masing perlakuan berbentuk metasentrik dan submetasentrik.

Tabel 11. Ukuran dan Bentuk Kromosom Pada Perlakuan K0 (Kontrol) Pasangan

kromosom q p ( p+q ) C Tipe Kromosom

1 1.9+1.7 1.2+1.1 3.1+2.8 1.58+1.55 Metasentrik 2 1.5+1.5 1.1+1.1 2.5+2.5 1.50+1.50 Metasentrik 3 1.6+1.5 1.1+1.0 2.7+2.5 1.45+1.50 Metasentrik 4 1.1+1.2 0.7+0.8 1.8+2.0 1.57+1.50 Metasentrik 5 1.2+1.1 0.8+0.7 2.0+1.8 1.50+1.57 Metasentrik 6 1.1+1.1 0.8+0.7 1.0+1.8 1.38+1.57 Metasentrik 7 1.2+1.1 0.8+0.7 2.0+1.8 1.50+1.57 Metasentrik 8 1.2+1.1 0.6+0.5 1.8+1.6 2.00+2.20 Submetasentrik 9 1.1+1.2 0.7+0.8 1.8+2.0 1.57+1.50 Metasentrik 10 1.3+1.1 0.8+0.7 2.1+1.8 1.63+1.57 Metasentrik 11 1.1+1.1 0.8+0.7 1.9+1.7 1.38+1.43 Metasentrik 12 1.1+1.1 0.6+0.5 1.7+1.6 1.83+2.20 Submetasentrik 13 0.9+0.9 0.5+0.4 1.4+1.3 1.80+2.25 Submetasentrik 14 0.9+0.9 0.6+0.6 1.5+1.5 1.50+1.50 Metasentrik 15 0.8+0.8 0.5+0.5 1.3+1.3 1.60+1.60 Metasentrik 16 0.9+0.8 0.6+0.5 1.5+1.3 1.50+1.60 Metasentrik 17 0.9+0.8 0.6+0.6 1.5+1.4 1.50+1.33 Metasentrik 18 0.9+0.9 0.6+0.6 1.5+1.5 1.50+1.50 Metasentrik 19 0.8+0.8 0.4+0.3 1.2+1.1 2.00+2.67 Submetasentrik 20 0.7+0.8 0.4+0.5 1.1+1.3 1.75+1.60 Submetasentrik 21 0.6+0.5 0.4+0.3 1.0+0.8 1.50+1.67 Metasentrik 22 0.6+0.5 0.4+0.3 1.0+0.8 1.50+1.67 Metasentrik Keterangan : q = Panjang lengan panjang (µm) , p = Panjang lengan pendek

(µm),(p+q) = Panjang total kromosom (µm), C= Rasio panjang lengan panjang dan lengan pendek (µm).

Hasil pengukuran panjang kromosom pada perlakuan K0 (kontrol) menunjukkan bahwa kisaran panjang total kromosom adalah 1.70 + 1.64 µm sementara itu kisaran panjang lengan panjang kromosom adalah 1.06 + 1.02µm sedangkan kisaran panjang lengan pendek kromosom adalah 0.68 + 0.63µm. Berdasarkan perhitungan nisbah lengan kromosom, tanaman binahong pada perlakuan kontrol menunjukkan bahwa kromosomnya berbentuk metasentrik

(pasangan kromosom nomor 1,2,3,4,5,6,7, 9 ,10 ,11, 14, 15, 16, 17, 18, 21,dan 22) dan bentuk sub metasentrik (pasangan kromosom nomor 8, 12,13, 19, dan 20).

Tabel 12. Ukuran dan Bentuk Kromosom Pada Perlakuan K1 (0.025%) Pasangan kromosom q p (q+p) C Tipe Kromosom 1 1.3 +1.5 0.8+1.0 2.1+2.5 1.63+1.50 Metasentrik 2 1.2+1.4 0.8+0.9 2.0+2.3 1.50+1.56 Metasentrik 3 1.1+1.0 0.9+0.8 2.0+1.8 1.22+1.25 Metasentrik 4 1.2+1.1 0.8+0.7 2.0+1.8 1.50+1.57 Metasentrik 5 1.0+0.9 0.8+0.6 1.8+1.5 1.25+1.50 Metasentrik 6 1.0+1.1 0.6+0.7 1.6+1.8 1.67+1.57 Metasentrik 7 1.0+1.0 0.6+0.7 1.6+1.7 1.67+1.43 Metasentrik 8 1.0+1.1 0.6+0.7 1.6+1.8 1.67+1.57 Metasentrik 9 0.9+0.9 0.6+0.6 1.5+1.5 1.50+1.50 Metasentrik 10 1.0+1.0 0.6+0.7 1.6+1.7 1.67+1.43 Metasentrik 11 0.9+0.8 0.6+0.6 1.5+1.4 1.50+1.33 Metasentrik 12 0.9+0.9 0.5+0.5 1.4+1.4 1.80+1.80 Submetasentrik 13 1.2+1.1 0.5+0.5 1.7+1.6 2.40+2.20 Submetasentrik 14 0.9+0.9 0.6+0.6 1.5+1.5 1.50+1.50 Metasentrik 15 0.9+0.8 0.6+0.5 1.5+1.3 1.50+1.60 Metasentrik 16 0.9+0.8 0.6+0.5 1.5+1.3 1.50+1.60 Metasentrik 17 0.9+0.8 0.6+0.5 1.5+1.3 1.50+1.60 Metasentrik 18 0.9+0.8 0.6+0.6 1.5+1.4 1.50+1.33 Metasentrik 19 0.9+1.0 0.6+0.6 1.5+1.6 1.50+1.67 Metasentrik 20 0.8+0.8 0.6+0.5 1.4+1.3 1.33+1.60 Metasentrik 21 1.0+0.8 0.4+0.4 1.4+1.2 2.50+2.00 Submetasentrik 22 0.9+0.8 0.5+0.4 1.4+1.2 1.80+2.00 Submetasentrik 23 0.7+0.7 0.4+0.5 1.1+1.2 1.75+1.40 Metasentrik Keterangan : q = Panjang lengan panjang (µm) , p = Panjang lengan pendek

(µm), (p+q) = Panjang total kromosom (µm), C= Rasio panjang lengan panjang dan lengan pendek (µm).

Tabel 12 menunjukkan hasil pengukuran panjang kromosom pada perlakuan K1 (0.025%) menunjukkan bahwa kisaran panjang total kromosom adalah 1.59+ 1.53 µm sementara itu kisaran panjang lengan panjang kromosom adalah 0.97+ 0.95 µm sedangkan kisaran panjang lengan pendek kromosom

tanamanbinahong pada perlakuan 0.025% menunjukkan bahwa kromosomnya berbentuk metasentrik (pasangan kromosom nomor 1, 2 ,3 ,4 ,5 ,6 ,7, 8,9 ,10 ,11, 14, 15, 16, 17, 18, 19, dan 23) dan bentuk sub metasentrik (pasangan kromosom nomor 12, 13, 21, dan 22).

Tabel 13. Ukuran dan Bentuk Kromosom Pada Perlakuan K2 (0.050%) Pasangan

kromosom q p (q+p) C Tipe Kromosom

1 1.3+1.4 0.8+0.9 2.1+2.3 1.63+1,56 Metasentrik 2 1.2+1.6 0.8+1.0 2.0+2.6 1.50+1,60 Metasentrik 3 1.2+1.0 0.8+0.7 2.0+1.7 1.50+1,43 Metasentrik 4 1.1+0.9 0.8+0.6 1.9+1.5 1.38+1,50 Metasentrik 5 0.9+1.0 0.6+0.6 1.5+1.6 1.50+1,67 Metasentrik 6 1.0+1.1 0.6+0.8 1.6+1.9 1.67+1,38 Metasentrik 7 1.2+1.1 0.8+0.7 2.0+1.8 1.50+1,57 Metasentrik 8 1.1+1.1 0.7+0.7 1.8+1.8 1.57+1,57 Metasentrik 9 1.0+0.9 0.6+0.6 1.6+1.5 1.67+1,50 Metasentrik 10 1.2+1.0 0.8+0.6 2.0+1.6 1.50+1,67 Metasentrik 11 1.0+1.0 0.6+0.7 1.6+1.7 1.67+1,43 Metasentrik 12 0.9+0.9 0.5+0.5 1.4+1.4 1.80+1,80 Submetasentrik 13 1.1+1.2 0.5+0.4 1.6+1.6 2.20+3,00 Submetasentrik 14 1.1+0.9 0.6+0.5 1.7+1.4 1.83+1,80 Submetasentrik 15 1.0+0.9 0.7+0.6 1.7+1.5 1.43+1,50 Metasentrik 16 0.9+1.0 0.7+0.6 1.6+1.6 1.29+1,67 Metasentrik 17 1.1+0.9 0.7+0.6 1.8+1.5 1.57+1,50 Metasentrik 18 1.0+1.0 0.6+0.6 1.6+1.6 1.67+1,67 Metasentrik 19 1.0+0.9 0.6+0.6 1.6+1.5 1.67+1,50 Metasentrik 20 1.0+1.0 0.6+0.6 1.6+1.6 1.67+1,67 Metasentrik 21 0.9+0.7 0.6+0.5 1.5+1.2 1.50+1,40 Metasentrik 22 0.8+0.7 0.6+0.5 1.4+1.2 1.33+1,40 Metasentrik 23 0.8+0.7 0.5+0.5 1.3+1.2 1,60+1,40 Metasentrik Keterangan : q = Panjang lengan panjang (µm) , p = Panjang lengan pendek

(µm), (p+q) = Panjang total kromosom (µm), C= Rasio panjang lengan panjang dan lengan pendek (µm)

Tabel 13 menunjukkan hasil pengukuran panjang kromosom pada perlakuan K2 (0.050%) menunjukkan bahwa kisaran panjang total kromosom adalah 1.69+ 1.63 µm sementara itu kisaran panjang lengan panjang kromosom

adalah 0.65+ 0.62 µm. Berdasarkan perhitungan nisbah lengan kromosom, tanaman binahong pada perlakuan K2(0.075%) menunjukkan bahwa kromosomnya berbentuk metasentrik (pasangan kromosom nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,11, 15, 16, 17, 18, 19, 20,21, 22, dan 23) dan bentuk sub metasentrik (pasangan kromosom nomor 12, 13, dan 14).

Tabel 14. Ukuran dan Bentuk Kromosom Pada Perlakuan K3 (0.075%) Nomor kromosom p q p total C Tipe Kromosom 1 1.4+1.5 0.9+0.9 2.3+2.4 1.56+1.67 Metasentrik 2 1.3+1.4 0.8+0.9 2.1+2.3 1.63+1.56 Metasentrik 3 1.1+1.2 0.8+0.8 1.9+2.0 1.38+1.50 Metasentrik 4 1.6+1.5 0.9+0.8 2.5+2.3 1.78+1.88 Submetasentrik 5 1.4+1.3 0.9+0.8 2.3+2.1 1.56+1.63 Metasentrik 6 1.2+1.1 0.8+0.7 2.0+1.8 1.50+1.57 Metasentrik 7 1.2+1.2 0.6+0.8 1.6+2.0 1.67+1.50 Metasentrik 8 1.0+1.1 0.6+0.8 1.6+1.9 1.67+1.38 Metasentrik 9 1.2+0.9 0.8+0.6 2.0+1.5 1.50+1.50 Metasentrik 10 1.1+1.0 0.8+0.7 1.9+1.7 1.38+1.43 Metasentrik 11 1.2+1.1 0.8+0.8 2.0+1.9 1.50+1.38 Metasentrik 12 1.0+1.1 0.6+0.8 1.6+1.9 1.67+1.38 Metasentrik 13 1.1+1.2 0.5+0.7 1.6+1.9 2.20+1.71 Submetasentrik 14 1.1+1.2 0.5+0.7 1.6+1.9 2.20+1.71 Submetasentrik 15 1.1+1.0 0.6+0.5 1.7+1.5 1.83+2.00 Submetasentrik 16 1.0+1.1 0.6+0.7 1.6+1.8 1.67+1.57 Metasentrik 17 1.0+1.1 0.4+0.6 1.4+1.7 2.50+1.83 Submetasentrik 18 1.0+1.0 0.6+0.6 1.6+1.6 1.67+1.67 Metasentrik 19 0.8+0.8 0.5+0.5 1.3+1.3 1.60+1.60 Metasentrik 20 0.9+0.7 0.6+0.5 1.5+1.2 1.50+1.40 Metasentrik 21 0.7+0.8 0.5+0.5 1.2+1.3 1.40+1.60 Metasentrik 22 0.8+0.7 0.5+0.5 1.3+1.2 1.60+1.40 Metasentrik 23 0.9+1.0 0.6+0.7 1.5+1.7 1.50+1.43 Metasentrik 24 1.1+0.9 0.7+0,6 1,8+1,5 1.57+1.50 Metasentrik Keterangan : q = Panjang lengan panjang (µm) , p = Panjang lengan pendek

(µm), (p+q) = Panjang total kromosom (µm), C= Rasio panjang lengan panjang dan lengan pendek (µm)

adalah 1.74 + 1.76 µm sementara itu kisaran panjang lengan panjang kromosom adalah 1.09 + 1.07 µm sedangkan kisaran panjang lengan pendek kromosom adalah 0.66 + 0.68 µm. Berdasarkan perhitungan nisbah lengan kromosom, tanaman binahong pada perlakuan 0.075% menunjukkan bahwa kromosomnya berbentuk metasentrik (pasangan kromosom nomor 1, 2, 3,5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 16, 18, 19, 20, 21,22, 23 dan 24) dan bentuk sub metasentrik (pasangan kromosom nomor 4, 13, 15, 17).

Tabel 15. Ukuran dan Bentuk Kromosom Pada Perlakuan K4 (0.1%) Pasangan kromosom q P (q+p) C Tipe Kromosom 1 1.6+1.5 1.0+0.9 2.6+2.4 1.60+1.67 Metasentrik 2 1.2+1.4 0.8+0.9 2.0+2.3 1.50+1.56 Metasentrik 3 1.1+1.0 0.7+0.6 1.8+1.6 1.57+1.67 Metasentrik 4 1.1+1.1 0.7+0.9 1.8+2.0 1.57+1.22 Metasentrik 5 0.8+0.9 0.5+0.6 1.3+1.5 1.60+1.50 Metasentrik 6 1.2+1.2 0.6+0.7 1.8+1.9 2.00+1.71 Submetasentrik 7 1.3+1.2 0.8+0.8 2.1+2.0 1.63+1.50 Metasentrik 8 1.0+1.0 0.7+0.6 1.7+1.6 1.43+1.67 Metasentrik 9 1.2+1.3 0.8+0.9 2.0+2.2 1.50+1.44 Metasentrik 10 1.0+0.9 0.6+0.7 1.6+1.6 1.67+1.29 Metasentrik 11 0.8+1.0 0.5+0.7 1.3+1.7 1.60+1.43 Metasentrik 12 1.1+1.1 0.7+0.8 1.8+1.9 1.57+1.38 Metasentrik 13 1.2+1.1 0.7+0.6 1.9+1.7 1.71+1.83 Submetasentrik 14 1.0+1.0 0.6+0.6 1.6+1.6 1.67+1.67 Metasentrik 15 0.9+0.9 0.4+0.5 1.3+1.4 2.25+1.80 Submetasentrik 16 1.0+1.2 0.4+0.6 1.4+1.8 2.50+2.00 Submetasentrik 17 1.1+1.2 0.5+0.6 1.6+1.8 2.20+2.00 Submetasentrik 18 1.1+1.1 0.7+0.7 1.8+1.8 1.57+1.57 Metasentrik 19 1.1+1.3 0.6+0.7 1.7+2.0 1.83+1.86 Submetasentrik 20 1.1+0.9 0.7+0.6 1.8+1.5 1.57+1.50 Metasentrik 21 0.8+1.0 0.5+0.6 1.3+1.6 1.60+1.67 Metasentrik 22 1.3+1.0 0.8+0.6 2.1+1.6 1.63+1.67 Metasentrik 23 1.0+1.1 0.5+0.6 1.5+1.7 2.00+1.83 Submetasentrik 24 0.9+1.0 0.5+0.5 1.4+1.5 1.80+2.00 Submetasentrik 25 0.8+0.7 0.5+0.5 1.3+1.2 1.60+1.40 Metasentrik 26 0.8+0.9 0.5+0.6 1.3+1.5 1.60+1.50 Metasentrik

Keterangan : q = Panjang lengan panjang (µm) , p = Panjang lengan pendek (µm), (p+q) = Panjang total kromosom (µm), C= Rasio panjang lengan panjang dan lengan pendek (µm).

Tabel 15 menunjukkan hasil pengukuran panjang kromosom pada perlakuan K4 (0.1%) menunjukkan bahwa kisaran panjang total kromosom adalah 1.68 + 1.74 µm sementara itu kisaran panjang lengan panjang kromosom adalah 1.05 + 1.07 µm sedangkan kisaran panjang lengan pendek kromosom adalah 0.62 + 0.66 µm. Berdasarkan perhitungan nisbah lengan kromosom, tanaman binahong pada perlakuan 0.1% menunjukkan bahwa kromosomnya berbentuk metasentrik (pasangan kromosom nomor 1,2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 12,14, 18, 20,21, 22, 25 dan 26 ) dan bentuk submetasentrik (pasangan kromosom nomor 6, 13, 15, 16, 17, 19, 23 dan 24).

Karyotipe KromosomPada Masing-Masing Perlakuan

Berdasarkan jumlah kromosom binahong pada hasil penelitian dapat disusun karyotipe susunan kromosom binahong yaitu sebagai berikut :

Gambar 15 : Karyotipe pada perlakuan kontrol (K0) yaitu 2n = 22 pasang Berdasarkan susunan karyotipe pada gambar dapat ditentukan rumus karyotipe tanaman binahong pada perlakuan kontrol . rumus karyotipenya yaitu = 2n =17m +5sm dengan m = kromosom metasentrik dan sm = kromosom

Gambar 16 : Karyotipe pada perlakuan K1 (0.025%) yaitu 2n+ = 23 pasang Susunan karyotipe pada gambar dapat ditentukan rumus karyotipe tanaman binahong pada perlakuan K1 (0.025%) . Rumus karyotipenya yaitu = 2n =19m +4sm dengan m = kromosom metasentrik dan sm = kromosom submetasentrik.

Gambar 17 : Karyotipe pada perlakuan K2 (0.050%) yaitu 2n+ = 23 pasang Berdasarkan susunan karyotipe pada gambar dapat ditentukan rumus karyotipe tanaman binahong pada perlakuan K2 (0.050%) . Rumus karyotipenya yaitu = 2n =20m +3sm dengan m = kromosom metasentrik dan sm = kromosom submetasentrik.

Gambar 18 : Karyotipe pada perlakuan K3 (0.075%)yaitu 2n+ = 24 pasang Berdasarkan susunan karyotipe pada gambar dapat ditentukan rumus karyotipe tanaman binahong pada perlakuan K3(0.075%) . rumus karyotipenya yaitu = 2n =19m +5sm dengan m = kromosom metasentrik dan sm = kromosom submetasentrik.

Gambar 19 : Karyotipe pada perlakuan K4 (0.1%)yaitu 2n+ = 26 pasang

Berdasarkan susunan karyotipe pada gambar dapat ditentukan rumus karyotipe tanaman binahong pada perlakuan K4 (0.1%) . rumus karyotipenya yaitu = 2n =18m +8sm dengan m = kromosom metasentrik dan sm = kromosom submetasentrik.

Pembahasan

analisis menunjukkan rataan jumlah daun tertinggi pada minggu ke 1 terdapat pada perlakuan K0 (kontrol) yaitu sebesar 5.400 helai kemudian bertambah rendah yaitu perlakuan K2 (0.050%) sebesar 3.667 helai, K1 dan K4 sebesar 3.000 helaidan yang terendah yaitu pada perlakuan K3 sebesar 2.800 helai. Hal ini diduga bahwa pemberiankolkhisin mempengaruhi pembelahan sel pada tanaman sehingga berpengaruh pada jumlah daun yang dihasilkan. Suryo (2007) menyatakan dengan bertambahnya jumlah kromosom menyebabkan tekanan osmotik sel-sel berkurang sehingga pembelahan sel menjadi terlambat dan masa vegetatif menjadi lebih panjang . Hal ini sesuai dengan literatur Mardianti (2004) yang meyatakan bahwa kolkhisin akan efektif apabila diteteskan atau direndam pada saat sel membelah. Sebab kolkhisin akan diserap oleh sel dan mempengaruhi pembelahan sel yang sedang berlangsung dan penetesan sebaiknya dilakukanpada sore atau pagi hari disaat suhu udara rendah dan kelembabannya tinggi sehingga lebih mengefektifkan pemberian kolkhisin.

Pemberian kolkhisin berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun pada minggu 3-5 MST .Berdasarkan data analisis secara statistik diperoleh bahwa rataan jumlah daun tertinggi pada minggu ke3-5 terdapat pada perlakuan K0 (kontrol) yaitu 13.333 helai berbeda nyata dengan perlakuan K2 sebesar 11.467 helai. Sedangkan pada perlakuan K1 (0.025%) memiliki rataan sebesar 10.000 helai yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan K3(0.075%) sebesar 9.2000 helai dan perlakuan K4 (0,1%) sebesar 9.133 helai. Aplikasi kolkhisin berpengaruh menekan pertambahan daun sehingga memberikan efek penurunan terhadap jumlah daun, hal ini diduga bahwa pada induksi poliploid sering terdapat ketidaksesuaian pada tanaman yang diinduksi. semakin tinggi dosis yang

diberikan maka semakin menurunkan jumlah daun. Aryanto (2010) menyatakan terjadinya hambatan pertambahan jumlah daun pada tanaman akibat perlakuan kolkhisin hanya pada awal pertumbuhan sampai umur 1 bulan selanjutnya tidak ada hambatan. Hal ini sesuai dengan literatur Haryanti et al (2009) menyatakan bahwa perlakuan konsentrasi kolkhisin pada tanaman pacar air menurunkan jumlah daun yang nyatayaitu pada 0% menghasilkan jumlah daun sebesar 7.80 tangkai dan pada konsentrasi 0.20% memiliki 5,2 tangkai. Pada penelitian Sinaga (2014) juga menyebutkan bahwa kacang hijau yang diinduksi dengan kolkhisin berpotensi menurunkan jumlah daun, pada taraf 0% memberikan rataan terbesar yaitu 11.75 tangkai dan terendah pada taraf 0.16% yaitu 5.75 tangkai.

Berdasarkan data secara statistik diketahui bahwa pemberian kolkhisin memberikan karakter morfologi yang lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari bobot basah tajuk yang memiliki rataan tertinggi. Pada perlakuan K2 (0.050%) memiliki rataan tertinggi 147.340 gram dan berbeda nyata dengan perlakuan yang lain. Hal ini dapat menunjukkan bahwa pemberian kolkhisin mempengaruhi banyaknya bobot basah tajuk yang berhubungan dengan daun karena semakin banyak daun yang dihasilkan maka semakin tinggi pula bobot basah tajuk yang diperoleh. Hal ini diduga merupakan dampak dari pembesaran sel akibat dari bertambahnya kromosom karena pemberian kolkhisin. Hal ini sesuai dengan literatur Suryo (1995) yang menyatakan bahwa tanaman yang bersifat poliploid menghasilkan ukuran morfologi lebih besar dibandingkan tanaman diploid. Kolkhisin akan bekerja efektif pada konsentrasi 0.01-1 ppm untuk jangka waktu berbeda dan setiap jenis tanaman memiliki respon yang berbeda beda.

Berdasarkan data secara statistik menunjukkan bahwa pemberian kolkhisin memberikan pengaruh terhadap bobot basah akar. Pada perlakuan K2 (0.050%) memiliki rataan tertinggi sebesar 12.313 dan tidak nyata dengan perlakuan K0 (kontrol), K1 (0.025%), K3(0.075%) dan K4 (0.1%). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kolkhisin dengan metode penetesan pada pucuk (titik tumbuh) tanaman belum memberikan hasil yang baik terhadap bobot basah akar. Hal ini diduga bahwa pemberian kolkhisin menyebabkan pembentukan akar menjadi lebih lama.Hal ini sesuai dengan literatur Fajrina et al (2012) menyatakan bahwa Perlakuan kolkisin menyebabkan rentang waktu inisiasi akar menjadi lebih panjang. Hasil yang didapatkan pada tanaman andalas memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi kolkisin menyebabkan semakin lambatnya inisiasi awal pada akar dengan waktu perendaman yang sama. Hal ini memperkuat dugaan bahwa konsenrasi kolkisinlah yang paling berpengaruh terhadap waktu inisiasi akar dibandingkan dengan lamanya perendaman pada kolkisin..

Berdasarkan hasil secara statistik diketahui bahwa pemberian kolkhisin menunjukkan pengaruh yangnyata pada parameter bobot kering tajuk. Pada perlakuan K2 (0.050%) menunjukkan rataan tertinggi sebesar 72.227 gram yang tidak nyata dengan perlakuan yang lain. Rataan terendah terdapat pada perlakuan K4 (0.1%) yaitu sebesar 42.900 gram. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kolkhisin menghasilkan daun yang banyak karena daun merupakan organ fotosintesis utama sehingga menentukan asimilat yang dihasilkan yang diperlukan selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Wiendra (2007) menyatakan bahwaukuran daun yang lebih besar pada perlakuan kolkhisin0,01% memiliki nilai positif bagi pertumbuhan tanaman pacar air.Daun yang lebih besar

mengakibatkan reaksi fotosintesisberlangsung lebih maksimum. Pada daun yang lebih besar, penyerapan sinar matahari berlangsung lebih maksimaldibandingkan daun yang ukurannya lebih kecil padalingkungan intensitas cahaya matahari maksimal.Hal ini sesuai dengan literatur Lovelles (1991) yang menyatakan bahwa daun yang lebih banyak akan tumbuh lebih cepat karena mampu menghasilkan bahan kering yang lebih banyak jumlah klorofil yang banyak sebagai pigmen utama dalam proses fotosintesis sehingga bahan kering dapat ditimbun tanaman lebih banyak.

Berdasarkan hasil analisis secara statistik menunjukkan bahwa pemberian kolkhisin menunjukkan pengaruh yang tidak nyata pada parameter bobot kering akar. Pada perlakuan K2 (0.050%) memiliki rataan tertinggi yaitu 6.127 yang tidak nyata dengan perlakuan yang lain. Hal ini diduga bahwa pemberian kolkhisin belum memberikan hasil yang baik pada bobot kering akar karena terhambatnya pertumbuhan akar akibat pemberian kolkhisin sehingga menghasilkan berat basah akar yang rendah dan mengakibatkan berat kering akar yang rendah pula. Hal ini sesuai dengan literatur Razaet al (2003)menyatakan bahwa pemberian kolkhisin akan menyebabkan terhambatnya pembentukan akar. Peningkatan konsentrasi kolkhisin menyebabkan semakin rendahnya persentase pembentukan akar.

Berdasarkan hasil data secara statistik menunjukkan bahwa perlakuan kolkhisin menujukkan pengaruh yang tidak nyata pada parameter rasio tajuk/akar. Pada perlakuan K3 (0.075%) memiliki rataan tertinggi tetapi tidak nyata dengan perlakuan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa akibat pemberian kolkhisin

ini diduga bahwa kolkhisin berpengaruh positif pada pertumbuhan tajuk yang sedangkan perkembangan akar tanaman terhambat akibat pemberian kolkhisin. Hal ini didukung oleh literatur Avery et al (1999) dalam Wiendra et al (2011) menyatakan perubahan yang terjadi padatanaman akibat pemberian kolkhisin sangat bervariasi.Kolkhisin yang diberikan pada setiap individu tanamantidak mempengaruhi semua sel tanaman, tetapi hanyasebagian sel-sel saja. Adanya pengaruh yang berbeda padasel-sel tanaman disebabkan kolkhisin hanya efektif padasel yang sedang aktif membelah.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pemberian konsentrasi kolkhisin 0.050% memberikan karakter morfologi yang lebih baik mulai dari bobot basah dan kering baik tajuk maupun akarnya dengan rataan bobot basah tajuk sebesar 147.340 gram bobot kering tajuk sebesar 72.327 gram, bobot basah akar sebesar 12.313gram dan bobot kering akar sebesar 6.127gram. Hal ini diduga bahwa konsentrasi kolkhisin yang digunakan tepat sehingga memperlihatkan penampilan yang berbeda nyata. Sifat morfologi tanamannya tampak jauh lebih besar dibandingkan dengan kontrol yang merupakan dampak dari pembesaran sel akibat dari bertambahnya kromosom karena pemberian kolkhisin. Hal ini sesuai dengan literatur Suryo (1995) yang menyatakan bahwa tanaman yang bersifat poliploid menghasilkan ukuran morfologi lebih besar dibandingkan tanaman diploid. Kolkisin akan bekerja efektif pada konsentrasi 0,01-1 ppm untuk jangka waktu berbeda dan setiap jenis tanaman memiliki respon yang berbeda-beda

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa konsentrasi kolkhisin mempengaruhi morfologi tanaman yaitu batang tanaman menjadi lebih besar dan daun tanaman menjadi lebih besar dan warnanya juga

lebih kelihatan berwarna hijau. Bobot tajuk yang lebih besar pada perlakuan K2 (0.050%) memiliki nilai positif bagi pertumbuhan tanaman.Wiendra et al (2011) menyatakan bahwa daun yang lebih besar mengakibatkan reaksi potosintesis berlangsung lebih maksimum dan sifat-sifat fisiologi pada tanaman poliploid akan mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya ukuran sel tanaman. Perubahan itu akan tampak pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara keseluruhan.

Berdasarkan data analisis secara statistik diketahui bahwa konsentrasi kolkhisin pada taraf (0.075 %) dan (0.100%) belum berpengaruh terhadap semua parameter yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi kolkhisin dan penetesan kolkhisin yang digunakan belum belum dalam keadaan yang tepat sehingga belum menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap perubahan morfologi tanaman yang diamati. Hal ini sesuai dengan literatur Suryo (1995) yang menyatakan bahwa jika konsentrasi dan lamanya waktu perlakuan kurang mencapai keadaan yang tepat maka poliploidi belum dapat diperoleh. Sebaliknya jika konsentrasinya terlalu tinggi atau waktunya perlakuan terlalu lama, maka kolkhisin akan memperlihatkan pengaruh negatif yaitu penampilan tanaman menjadi jelek, sel-sel banyak yang rusak atau bahkan menyebabkan matinya tanaman.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam dapat dapat dilihat bahwa pemberian konsentrasi kolkhisin berpengaruh terhadap jumlah daun. Aplikasi kolkhisin nyata menurunkan jumlah daun mulai 2-5 MST, pada perlakuan K3 menghasilkan jumlah daun terendah sebagai efek jumlah daun berkurang dan

pada penelitian Haryanti, et al. (2009) dimana konsentrasi 0%, 0,10%, 0,15%, 0,20% pada tanaman pacar air menghasilkan jumlah daun yang nyata yaitu pada 0% menghasilkan jumlah daun sebesar 7,80 tangkai dan pada konsentrasi 0,20% sebesar 5,20 tangkai.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui daun dan batang menjadi lebih besar dan warnanya lebih kelihatan berwarna hijau. Tajuk tanaman lebih besar dan banyak dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Ukuran daun yang lebih besar pada perlakuan kolkhisin 0.050% memiliki nilai positif bagi pertumbuhan tanaman binahong. Daun yang lebih besar mengakibatkan reaksi fotosintesis berlangsung lebih maksimum. Pada daun yang lebih besar, penyerapan sinar matahari berlangsung lebih maksimal dibandingkan daun yang ukurannya lebih kecil padalingkungan intensitas cahaya matahari maksimal. Hal ini sesuai dengan literatur Suryo (1995) yang menyatakan bahwa tanaman yang diberikan perlakuan dengan kolkhisinmemiliki penampilan yang berbeda nyata. Sifat morfologitanaman tampak jauh lebih besar dibandingkan dengankontrol yang merupakan dampak dari pembesaran selakibat dari bertambahnya kromosom karena pemberiankolkhisin.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada parameter jumlah daun pada perlakuan K2 lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kolkhisin yang lain walaupun jumlah daun pada K2 lebih rendah dari perlakuan kontrol. Pada parameter bobot basah tajuk dan kering dapat diindikasikan bahwa perlakuan K2 memberikan efek yang signifikan dalam peningkatan bobot basah dan kering tajuk. Konsentrasi kolkhisin yang lebih tinggi menurunkan bobot basah dan kering tajuk. Konsentrasi kolkhisin yang paling optimum berada pada perlakuan

K2 yang memberikan respon yang terbaik pada bobot basah dan kering akar dari tanaman binahong. Hal ini sesuai dengan literatur Wanget al (1989) yang menyatakan bahwa efek penghambat dari kolkhisin pada bahan tanaman menunjukkan variasi ketebalan daun, warna daun, ukuran umbi dan karakteristik yang lain.

Pengaruh Kolkhisin Terhadap Kromosom Tanaman Binahong

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pemberian kolkhisin telah berpengaruh terhadap perubahan jumlah kromosom. Dimana jumlah kromosom pada perlakuan K0 (kontrol) adalah 2n = 22, K1 adalah 2n+= 23, K2 adalah 2n+= 23, K3 adalah 2n+= 24 pasangsedangkan perlakuan K4adalah 2n+= 26 pasang. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut maka terbukti bahwa pemberian kolkhisin mampu menginduksi tanaman menjadi poliploid. Halini sesuai dengan literaturChahaldan Gossal(2002) yang menyatakan bahwa poliploidi dapat dibedakan atas euploid dan aneuploid . Pada kondisi euploid, jumlah kromosom merupakan kelipatankromosom dasar (x), dapat secara autopoliploid. Variasi euploid yang dapat terjadi adalah:triploid (3x), tetraploid (4x), pentaploid (5x), heksaploid (6x), septaploid (7x), oktaploid (8x)dan seterusnya. Pada kondisi aneuploid, perubahan kromosom hanya melibatkan sebagiandari jumlah kromosom dasar, yakni satu atau beberapa kromosom dari genom di tambah ataudi kurangi. Variasi aneuploid yang dapat terjadi adalah: monosomik (2n-1), nullisomik (2n-2), trisomik (2n+1) dan tetrasomik (2n+2).

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwapemberian kolkhisin pada perlakuan K4 (0.1%) mengalami penggandaan kromosom yang paling banyak.

disebabkan pemberian kolkhisin dengan konsentrasi yang tinggi dapat mencegah terbentuknya benang-benang mikrotubuli dari gelendong inti. Tetapi semakin banyak mengganda kromosom maka memperlihatkan sifat tanaman yang kurang baik, yaitu jumlah daun yang sedikit dan morfologi daun yang lebih kecil-kecil dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Halini sesuai dengan literatur Sulistyaningsih (2006) yang menyatakan bahwa kolkhisin dapat menyebabkan poliploidi dimana organisme memiliki tiga set atau lebih kromosom dalam sel-selnya, sehingga tanaman menjadi lebih kekar, bagian tanaman lebih besar sehingga sifat yang kurang baik akan menjadi lebih baik jika konsentrasi dan lama perendaman yang digunakan dalam keadaan yang tepat, tetapi jika konsentrasi dan lama perendaman yang kurang tepat dapat juga merubah sifat tanaman menjadi sebaliknya dimana tanaman tampak dalam keadaan yang jelek.

Dalam penelitian ini ditemukan adanyapenambahan jumlah kromosom yang menyebabkan banyaknya sel dengan jumlah kromosom poliploid yang tidak tepat sebagai kelipatan jumlah dasarnya, kemungkinan merupakan akibat duplikasi kromosom yaitu terdapat pada pengamatan jumlah kromosom K1 (2n+ = 23), K2(2n+ = 23), K3 (2n+= 24), K4 (2n+ = 26). Hal ini didukung literatur Crowder(1990) yang menyatakan bahwa Perubahan jumlah kromosom dapatdibedakan atas euploidi dan aneuploidi. Padakondisi euploidi jumlah kromosom merupakankelipatan dari kromosom dasarnya. Variasieuploidi yang dapat terjadi adalah: monoploid(haploid; 1n), diploid (2n) dan poliploid yangterdiri dari: triploid (3n), tetraploid (4n),pentaploid (5n), heksaploid (6n), septaploid(7n), oktaploid (8n), dan nonaploid (9n).Variasi aneuploid meliputi delesi, duplikasi, inversi dan translokasi. Delesi atau defisiensiadalah hilangnya

satu bagian kromosom.Duplikasi adalah penambahan kromosom.Inversi adalah penyisipan kembali gen-gensecara terbalik. Translokasi adalah pindahnyasuatu bagian kromosom ke kromosom lainyang bukan homolognya.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kromosom yang terpanjang adalah pada perlakuan K0(kontrol) yaitu 3.1µm dengan bentuk kromosom metasentrik dengan panjang lengan panjang (q) 1.9µm dan lengan pendek (p) 1.2 µm, sedangkan kromosom terpendek juga terdapat pada perlakuan K0(kontrol) yaitu 0.8µm dengan bentuk kromosom metasentrik dengan panjang lengan panjang (q) 0.5µm dan lengan pendek (p) 0.3 µm. Ukuran kromosom binahong pada tiap perlakuan bervariasi dari satu sel ke sel yang lain. Hal ini sesuai dengan literatur Haryanto (2010) yang menyatakan bahwa perbedaan ukuran kromosom pada tanaman yang sama ini dimungkinkan terjadi karena kromosom yang berasal dari sel tanaman yang berbeda sehingga dimungkinkan ada selisih waktu pembelahan. Parjanto et al (2003) menyatakan pada sel yang berbeda dapat terjadi perbedaan ukuran panjang kromosom yang disebabkan oleh perbedaan tingkat kondensasi.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan adanya bentuk dan ukuran-ukuran kromosom yang bervariasi pada masing-masing perlakuan. Hal ini diduga bahwa konsentrasi kolkhisin mepengaruhi sel-sel tanaman dan bersifat secara acak. Hal inisesuai dengan literatur Suminah dkk., (2002) Pengaruh kolkisin dalam menginduksimutasi bersifat acak, sehingga dalampenelitian ini dapat ditemukan individu selyang tetap bersifat diploid (2n), sebagaimanaumumnya sel normal. Serta sel-sel yangmengalami pengurangan jumlah kromosom,yakni bersifat

poliploid yang meliputi: tetraploid (4n),pentaploid (5n), heksaploid (6n), septaploid(7n), oktaploid (8n) dan nonaploid (9n)

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi kolkhisin yang diberikan maka semakin banyak kromosom yang mengalami poliploid pada sel-selnya tetapi morfologinya memperlihatkan jumlah daun yang semakin sedikit, ukuran daun yang semakin kecil, bobot basah dan kering akar maupun tajuk. Hal ini sesuai dengan literatur Haryanti (2009) yang menyatakan bahwa kolkisin pada sel adalah mencegah penyusunanmikrotubula sehingga dapat menyebabkan tanaman mempunyai genom mengganda. Akibatnya ukuran sel-sel metafase pendek tetapi besar, morfologi tanaman mengalami perubahan fisiologi menjadi makin kecil, namun jumlah biji dalam setiap polongnya berkurang dengan kandungan protein makin meningkat. Sulistyaningsih (2006) juga menyatakan bahwa pemberian kolkhisin yang kurang tepat dapat merubah sifat tanaman menjadi kurang baik.

Dokumen terkait