• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Kerangka Pemikiran

1.5.2 Rational Choice Theory

Theodore A. Coloumbis dan James H. Wolfe juga menjelaskan bahwa kepentingan nasional dapat tercapai jika para pembuat kebijakan dapat mengaitkan dan mensinergikan personalitas dan idealitas dari para pembuat kebijakan, tipe dan filosofi dari struktur pemerintahan, kondisi geopolitik dan kemampuan negara lain dalam persaingan global.

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kepentingan nasional adalah segala sesuatu yang diperjuangkan oleh negara agar dapat bertahan dalam hubungannya dengan negara lain melalui serangkaian proses penghitungan atau kalkulasi yang tepat dan diimplementasikan dalam berubungan dengan negara lain.

Penelitian ini menggunakan konsep kepentingan nasional menurut Martin Griffith dan Terry O’ Callaghan karena penelitian ini menduga bahwa alasan Indonesia memutuskan untuk tidak bergabung ke dalam Trans Pacific Partnership adalah adanya suatu tujuan yang harus dicapai dan dipertahankan yaitu menjaga sentralitas Indonesia di kawasan Asia Tenggara melalui organisasi ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) agar tidak didominasi oleh kehadiran TPP (Trans Pacific Partnership).

1.5.2 Rational Choice Theory

Rational Choice Theory menurut Charles L Glaser adalah segala sesuatu yang menjadikan sebuah negara memutuskan untuk berkompetisi atau bekerjasama. Teori ini juga menjelaskan mengenai apa yang harus dilakukan

15

oleh negara untuk mencapai tujuan mereka di tengah kendala yang sedang dihadapi.

Selain itu, suatu negara juga harus memahami bahwa akan ada negara lain yang merespon kebijakan yang telah dibuat lalu membuat strategi untuk mengantisipasi kebijakan tersebut.28

Sedangkan menurut Valerie Hudson, Rational Choice Theory adalah segala sesuatu yang diambil oleh para pembuat keputusan atau decision makers yang disertai dengan tujuan yang jelas dan informasi yang memadai.29

Adapun Rational Choice Theory menurut Raymond Boudon yakni setiap tindakan aktor bersifat instrumental. Maksudnya adalah segala tujuan yang sudah jelas ditetapkan oleh aktor harus dijelaskan secara rasional.30

Dari ketiga penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Rational Choice Theory adalah segala tindakan yang diambil oleh pembuat keputusan, dalam hal ini adalah negara, melalui perhitungan rasional sehingga negara tersebut dapat memutuskan apakah akan berkompetisi atau bekerja sama.

Penelitian ini akan menggunakan Rational Choice Theory menurut Charles L Glaser karena hal ini sesuai dengan respon yang diambil oleh Indonesia terhadap pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP) serta strategi Indonesia untuk menghadapinya.

28

Charles L Glaser. The Rational Theory of International Politics: The Logic of Competition and Cooperation. 2010. New Jersey: Priceton University Press. Hal 23

29

Valerie Hudson, et al. Foreign Policy Making (Revisited). 2002. New York: Palgrave Macmillan. Hal 18

30

Raymond Boudon. The Limitations of Rational Choice Theory. American Journal of Sociology, Vol. 104, No. 3 (November 1998). The University of Chicago Press. Hal 818

16

Adapun konsep dari Rational Choice Theory yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain: Motif Negara dan Kalkulasi.

1.5.2.1 Motif Negara

Setiap negara tentu memiliki motif yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan apakah akan berkompetisi atau bekerjasama.31

Sebuah negara memiliki motif tertentu untuk memutuskan apakah akan bekerjasama atau bersaing berdasarkan kondisi atau lingkungan internasional yang ada di sekitarnya. Lingkungan internasional inilah yang nantinya akan memberikan pengaruh kepada sebuah negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya dan melakukan stateginya untuk menghadapi perilaku negara lain. Konsep motif negara ini juga menjelaskan bagaimana suatu negara dapat memahami dan mengetahui secara lebih dalam mengenai motif negara lain.

Penelitian ini menduga bahwa salah satu motif Indonesia tidak bergabung ke dalam Trans Pacific Partnership

(TPP) adalah karena TPP terdiri dari negara-negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia seperti Amerika Serikat

31

Charles L Glaser. The Rational Theory of International Politics: The Logic of Competition and Cooperation. 2010. New Jersey: Priceton University Press. Hal 53

17

dan Jepang sehingga Indonesia harus menciptakan strategi untuk menghadapinya.

Oleh karena itu konsep ini tepat bila digunakan untuk menganalisis motif negara sebagai respon Indonesia terhadap pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP).

1.5.2.2 Kalkulasi

Dalam kaitannya dengan kalkulasi, sebuah negara berhak melakukan perhitungan atau kalkulasi untuk menyusun strategi sebagai penyeimbang kekuatan negara lain dalam berkompetisi atau bekerjasama.32

Selain itu, kalkulasi juga dilakukan suatu negara untuk meyeimbangkan kekuatannya dengan negara lain. Kalkulasi merupakan hal penting yang harus dilakukan agar suatu negara dapat mengetahui keuntungan dan kerugian jika bekerjasama atau pun berkompetisi dengan negara lain.

Kalkulasi dilakukan sebuah negara dengan cara menganalisa dan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan nasionalnya, letak geografis negara, reaksi negara lain terkait dengan keputusan yang diambil serta dampak yang

32

18

ditimbulkan apakah akan menguntungkan atau merugikan jika keputusan tersebut diimplementasikan.33

Dalam hal ini negara melakukan kalkulasi atau perhitungan melalui dua tahap: Pertama, melakukan perhitungan rasional dalam menganalisa berbagai pilihan keputusan dan selanjutnya hanya akan menjadi satu keputusan. Kedua, dari satu keputusan yang didapat kembali dianalisa keuntungan (benefit) dan kerugian (cost) nya. Pada akhirnya negara akan memutuskan apakah akan mengimplementasikan keputusan yang telah dibuat atau tidak.34

Sedangkan menurut Alex Mintz, terdapat sebuah model dalam pengambilan keputusan yaitu Rational Actor Model

(RAM). Proses pengambilan keputusan melalui konsep

Rational Actor Model (RAM) yaitu pembuat keputusan atau

stakeholder mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya lalu melakukan kalkulasi atau pehitungan yang pada akhirnya merumuskan beberapa kebijakan alternatif.35

Setelah merumuskan beberapa kebijakan alternatif yang dapat dipilih, tahap selanjutnya dalam konsep Rational Actor

33

Bruce Bueno de Mesquita. Foreign Policy Analysis and Rational Choice Models. New York University/Stanford University

34

Alex Mintz. How Do Leaders Makes Decision? A Poliheuristic Perpective. Journal of Conflict Resolution, Vol. 48 No.1, February. Sage Publications. 2004

35

Alex Mintz dan Karl DeRouen. Understanding Foreign Policy Decision Making. Cambridge University Press. 2010. Hal 87-88

Dokumen terkait