• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rawat inap

Dalam dokumen SOP Kulit (Halaman 37-54)

Diagnosis Banding - Tinea korporis

D. Terapi Sistemik 1. Metotreksat

2. Rawat inap

 Bila disertai reaksi reserval atau ENL berat  Pasien dengan keadaan umum buruk (ulkus,

gangren)

 Pasien dengan rencana tindakan operatif 3. Nonmedikamentosa

 Rehabilitasi medik, karya sosial

 Penyuluhan kepada pasien, keluarga dan masyarakat

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Reaksi Kusta No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan penyakit yang sebenarnya sangat kronik.

Reaksi kusta terdiri atas tipe 1 (reaksi reselval) dan tipe 2

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis

Penatalaksanaan Klinis Reaksi kusta

Identifikasi tipe reaksi (reaksi tipe I atau tipe II) disertai derajat reaksinya.

Gejala/ tanda Reaksi tipe 1 Reaksi tipe 2

Keadaan umum Umumnya baik,

demam ringan (sub febris) atau tanpa demam Ringan sampai berat disertai kelemahan umum dan demam tinggi Peradangan di

kulit Bercak kulit lamamenjadi lebih meradang (merah), dapat timbul bercak baru Timbul nodul kemerahan, luna dan nyeri tekan. Biasanya pada lengan dan tungkai. Nodul dapat pecah (ulserasi)

Neuritis Sering terjadi,

berupa nyreri tekan saraf dan atau gangguan

fungsi saraf Peradangan pada

organ lain Hampir tidak ada Terjadi pada mata, kelenjar getah bening, sendi, ginjal, testis, dll.

Waktu timbul Biasanya dalam 6

bulan pertama pengobatan Biasanya setelah mendapatkan pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan

Tipe kusta Dapat terjadi

pada kusta tipe PB maupun MB

Hanya pada kusta tipe MB

Reaksi berat ditandai dengan salah satu dari gejala berikut :

 Adanya lagopthaimos baru terjadi dalam 6 bulan terakhir

 Adanya nyeri raba saraf tepi

 Adanya kekuatan otot berkurang dalam 6 bulan terakhir

 Adanya makula pecah atau nodul pecah

 Adanya makula aktif (meradang) diatas lokasi saraf tepi

1. Penanganan reaksi

Prinsip pengobatan reaksi ringan - Berobat jalan,

- Pemberian analgetik, obat penenang bila perlu - MDT diberikan terus dengan dosis tetap

- Menghindari /menghilanglangkan faktor pen Prinsip pengobatan Reaksi Berat

- Imbolisasi organ tubuh yang terkena neuritis - Pemberian analgetik/antipiretik, obat penenang

bila perlu

- MDT tetap diberikan dengan dosis tidak diubah - Menghindari /menghilangkan faktor pencetus - Memberikan obat anti reaksi: Prednison,

lamprene, thalidomide (kalau tersedia)

- Bila ada indikasi rawat inap penderita dikirim ke rumah sakit

2. Obat anti reaksi terdiri dari : - Prednison

Cara pemberiannya:

 2 minggu pertama : 40 mg/hari (1x8 tab) pagi hari sesudah makan

 2 minggu kedua : 30 mg/hari (1x6 tab) pagi hari sesudah makan

 2 minggu ketiga : 20 mg/hari (1x4 tab) pagi hari sesudah makan

 2 minggu keempat : 15 mg/hari (1x3 tab) pagi hari sesudah makan

 2 minggu kelima : 10 mg/hari (1x2 tab) pagi hari sesudah makan

 2 minggu keenam : 5 mg/hari (1x1 tab) pagi hari sesudah makan

Bila diperlukan dapat digunakan steroid jenis lain dengan dosis yang setera dan

penurunan dosis secara bertahap juga. - Lamprene

Obat dipergunakan untuk penenganan / pengobatan reaksi ENI yang berulang-ulang. Cara pemberian:

 3 x 100 mg/hari selama 2 bulan  2 x 100 mg/hari selama 2 bulan  1 x 100 mg/hari selama 2 bulan

- Thalidomid. Bila obat ini tersedia. (hanya untuk reaksi tipe 2)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Relaps No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Penderita dinyatakan relaps bila telah pernah mendapatkan MDT, dinyatakan sembuh, tetapi kemudian kambuh lagi.

Untuk kasus tipe MB, diperlukan pemeriksaan ulang BTA. Bila terjadi peningkatan Index Bakterilogi ≥ 2 dibandingkan saat mendiagnosis, maka penderita dinyatakan relaps.

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis

Penatalaksanaan Penderita diobati MDT sesuai hasil pemeriksaan pada saat itu.

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Dermatofitosis No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Dermatofitosis merupakan penyakit jamur superfisial yang disebabkan oleh kelopok dermatofilia

(Trichophyton sp., Epidermophyton spdan Microsporum sp)

Terminologi “tinea” atau ringworm secara tepat menggambarkan dermato-mikosis, dan dibedakan berdasarkan lokasi anatomi infeksi.

Klasifikasi menurut lokasi : - Tinea kapitis - Tinea korporis - Tinea kruris - Tinea pedis - Tinea manum - Tinea unguium Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis Pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit atau kuku menggunakan mikroskop dan KOH 20 % :

tampak hifa panjang dan atau artropora.

Kultur dengan agar Sabouraud plus:pada suhu 28° C selama 1-4 minggu. (tidak harus selalu dikerjakan, kecuali pada tinea unguium) Lampu Wood hanya berfluoresensi pada tinea kapitis yang disebabkan oleh Microsposrum.

Penatalaksanaan Klinis

Tinea kapitis

Bergantung pada etiloginya.

Noninflammatory, human, atau epidemic type (“grey patch”)

Inflamasi minimal, rambut pada daerah terkena berubah warna menjadi abu-abu dan tidak berkilat, mudah patah di atas permukaan skalp.

Lesi tampak berskuama, hiperkeratosis, batas tegas karena rambut yang patah. Berfluoresensi dengan lampu Wood.

Imflammatory type, kerion

Biasanya disebabkan oleh patogen zoofilik atau geofilik. Spektrum inflamasi berkisar mulai dari folikulitis pustular sampai kerion. Sering terjadi alopesia sikatrisial.

Lesi biasanya gatal, dapat disertai nyeri,

limfadenopati servikal posterior, demam, dan lesi lain pada kulit glaprosa.

“Black dot”

Disebabkan oleh organisme endotriks antropofilik. Rambut mudah patah, pada permukaan sklap, meninggalkan kumpulan titik hitam pada daerah alopesia (black dot). Kadang masih terdapat sisa rambut normal di antara alopesia. Dapat

bervariasi, hanya skuama difus dengan sedikit rambut rontok.

Tinea korporis

Mengenai kulit tidak berambut, keluhan gatal

terutama bila berkeringat, dan secara klinis tampak: lesi berbatas tegas, polisiklik, tepi aktif karena tanda radang lebih jelas, dan polimorfi yang terdiri atas eritema, skuama dan kadang papul dan vesikel di tepi, penyembuhan di tengah (central healing). Tinea kruris

Lesi serupa tinea korporis, terletak di daerah inguinal, dapat meluas ke suprapubis, perinium, dan bokong. Meskipun relatif jarang, genital dapat kena.

Sering disertai gatal dengan meserasi atau infeksi sekunder.

Tinea pedis

Tipe interdigital (chronic intertriginous type) Bentuk klinis paling banyak. Dimulai dengan

skuamasi, erosi dan eritema pada daerah

interdigital dan subdigital kaki, terutama pada tiga jari lateral.

Pada kondisi tertentu, infeksi dapat menyebar ke telapak kaki yang berdekatan dan bagian kura-kura kaki. Jarang mengenai dorsum kaki.

Okulasi ko-infeksi dengan bakteri segera

menyebabkan maserasi, pruritus, dan melador (dermatofosis kompleks atau athelete’s foot).  Tipe hiperkerototik kronik

Klinis tampak skuama difus atau setempat,

bilateral pada kulit yang tebal (telapak kaki, aspek lateral dan medial kaki), dikenal sebagai vesikel, meninggalkan skuama kolaret dengan diameter kurang dari 2 mm.

Tinea manum unilateral umumnya terjadi

berhubungan dengan tinea pedis hiperkeratotik sehingga terjadi “two feet-one hand syndrome”.  Tipe vesikobulosa

Klinis tampak vesikel tegang dengan diameter lebih dari 3 mm, vesikopustul, atau bula pada kulit tipis telapak kaki dan periplantar.

Jarang dilaporkan pada anak-anak.  Tipe ulseratif akut

Terjadi ko-infeksi dengan bakteri gram negatif menyebabkan vesikopustul dan daerah luas dengan ulserasi purulen pada permukaan plantar. Sering diikuti selulitis, limfangitis, limfadenopati, dan demam.

Tinea manum

Biasanya unilateral, terdapat 2 bentuk :

 Dishidrotik : lesi segmental atau anular berupa vesikel dengan skuama di tepi pada telapak tangan, jari tangan, dan tepi lateral tangan.

 Hiperkeratotik : vesikel mengering dan membentuk lesi sirkular atau iregular, eritemantosa, dengan skuama. Lesi kronik dapat mengenai seluruh telapak tangan dan jari disertai fisur.

Tinea unguium

Onikomikosis merujuk pada semua infeksi pada kuku yang disebabkan oleh jamur dermatofita, jamur nondermatofita, atau ragi (yeasts).

Dapat mengenai kuku tangan maupun kuku kaki, dengan bentuk klinis:

1. Onikomikosis subungual proksimal 2. Onikomikosis subungual distal 3. Onikomikosis superfisial putih 4. Onikomikosis lateral distal 5. Distrofik totalis

a. Topikal:

- Obat pilihan: golongan alilamin sekali sehari selama 1-2 minggu

- Alternatif : Golongan azol Siklopiroksolamin Asam undesilinat Tolnafat

(1-2 kali sehari selama 2-4 mimggu)

b. Sistemik: Bila lesi kronik atau luas

1. Griseofulvin oral 10 – 25 mg/khBB/hari,

ketokonazol 200 mg/hari, atau itrakonazol 2 x 100 mg/hari,

2. Terbinafin oral 1 x 250 mg/hari hingga klinis membaik dan hasil pemeriksaan laboratorium negatif.

Catatan : hati-hati efek samping obat sistemik. Pengobatan khusus untuk:

Tinea kapitis:  Sistemik:

Obat pilihan: Griseofulvin fine particle, 10-25 mg/kgBB/hari, 6-8 minggu

Alternatif : itrakonazor 3-5 mg/hari, 4-6 minggu Terbinafin 62,5-250 mg/hari (bergantung berat badan) selama 2-4x/minggu

Tinea ungulum:

- Bila mengenal 1-2 kuku dengan keterlibatan >2/3 bagian kuku:

Obat pilihan : Siklopiroksolamin topikal (cat kuku)

Alternatif : obat golongan azol (tingtura/lasio, krim)

- Bila mengenai >2 kuku dan melibatkan >2/3 bagian kuku:

Obat pilihan : Itrakonazol 2 x 200 mg/hari selama seminggu setiap bulan selama 2-3 bulan

Alternatif: Terbinafin 1 x 250 mg/hari selama 3 bulan.

Tinea pedis

Khusus bentuk mocassin foot: itrakonazol 2 x 100 mg/hari atau terbinafin 1 x 250 mg/hari selama 4 – 6 minggu.

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Kandidiasis / Kandidosis No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Kandidiasis (USA) atau Kandidosis (Eropa) merupakan kelompok penyakit infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans oleh spesies lain genus Candida. Organisme tersebut pada umumnya dapat

menginfeksi kulit, kuku, membran mukosa, dan saluran cerna, tetapi dapat juga menyebabkan penyakit sistemik.

Klasifikasi:

 Kandidiasis kulit  Kandidiasis mukosa  Kandidiasis kuku

 Kandidiasis mukokutan kronik  Kandidiasis diseminata

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis

Penatalaksanaan Klinis

Kandidiasis kutis

 Dapat ditemukan pada semua umur usia,

mengenai daerah intertriginosa yang lembabdan mudah mengalami meserasi, misalnya: sela paha, ketiak, sela jari, infra mamae, atau sekitar kuku, dan juga dapat meluas kebagian tubuh lainnya.  Kulit tampak bercak eritemantosa berbatas tegas,

bersisik, basah, dikelilingi oleh lesi satelit berupa papul, vesikel dan pustul kecil di sekitarnya. Kandidiasis mukosa

Merupakan infeksi oportunis, dapat berupa: Mukosa oral:

Kandidiasis pseudomembran akut (thrush): Bercak bewarna putih (pseudomembran) tebal, diskret atau konfluen pada mukosa bukal, lidah, palatum, dan gusi

 Kandidiasis atrofik akut (kandidiasis eritemantosa): Bercak halus (papila lidah menipis) tertutup oleh pseudomembran tipis pada permukaan dorsal lidah Dapat disertai rasa panas atau nyeri.

Kandidiasis atrofik kronik (denture stomatitis) Mukosa palatum yang kontak dengan gigi tampak edematosa dan eritmantosa , bersifat kronik Dapat dijumpai keilitis angularis

Keilosis kandidal (keilitis angularis/perleche): - Pada sudut mulut tampak eritema, fisura,

maserasi yang terasa nyeri. Mukosa genitalia:

 Kandidiasis vulvovaginal:

rasa gatal dan panas, kadang disuria

Pemeriksaan: tampak plak berwarna putih, dasar erimantosa, pada dinding vagina disertai edema disekitarnya yang dapat meluas sampai ke labia dan perineum

 Balanitis dan balanopostitis kandida:

 Keluhan: kulit penis tampak eritemantosa, panas transien, muncul setelah berhubungan seksual Pemeriksaan: Papul atau papulopustul rapuh pada glans penis atau sulkus koronarius penis

Kandidiasis kuku

Tampak perubahan kuku sekunder, tebal mengeras, onikolisis, Beau’s line dengan diskoloriasasi kuku bewarna coklat atau hijau sepanjang sisi lateral kuku, tidak rapuh. Tetap berkilat dan tidak terdapat debris di bawah kuku.

 Paronikia kandida:

Tampak kemerahan, bengkak, dan nyeri pada kuku disertai retraksi kutikula sampai lipat kuku

proksimal, dapat disertai pus. Kandidiasis mukokutan kronik

Merupakan suatu sindrom kandidosis kronik rekuren pada pasien yang ditandai dengan infeksi resisten terhadap terapi.

Merupakan manifestasi akibat defek sistem

imunologi, umumnya defek imunitas seluler. Berupa infeksi yang luas, eritemantosa atau granulomatosa, pada membran mukosa, kulit dan kuku.

Kandidiasis diseminata

Infeksi kandida yang meluas secara hematogen dari orofaring atau saluran cerna, dan melibatkan banyak organ, kadang ke kulit.

Karakteristik lesi kulit: papul-papul eritemantosa berdiameter 0,5-1cm, bagian tengah tampak

hemoragik tau pustular, kadang nekrotik. Lokasi lesi pada badan, ekstremitas. Gejala sistemik: demam dan mialgia.

MedikamentosaKandidiasis kutis :

Topikal: Nistatin dan krim Imadazol

Bedak mikonazol selanjutnya dapat untuk pencegahan

Kandidiasis vulvovagina :

Topikal: Imidazol: butokonazol, mikonazol, klotrimazol, tiokonazol, ekonazol, terkonazol, selama 3-7 hari

Aman untuk wanita hamil

Sistemik: flukonazol 150 mg dosis tunggal Intrakonazol 2x100 mg, selama 3 hari

Nystatin intravagina, 1x/hari, selama 10 hari Untuk kandidiasis vulvovagina rekuren (kambuh ≥1x/th)

Klotrimazol 500 mg intravagina 1x/minggu Flukonazol 150 mg per oral 1x/minggu  Balanitis/Balanopostitis kandida:

Topikal: Klotrimazol krim

Sistemik : Flukonazol 150 dosis tunggal  Paronikia kandida:

Topikal: solusio imidazol

Timol 4% dlm alkohol absolut/kloroform  Kandidiasis kuku

Lihat tinea ungulum, tetapi terbinafin tidak efektif.  Kandidiasis diseminata

Sistemik: amfoterisin B deoksikolat: 0,7 mg/kg BB/hari IV, pengobatan bekerjasama dengan Spesialis Penyakit Dalam.

Alternatif lain: Amfoterisin B liposomal, flukonazol, Vorikonazol, dengan memperhatikan resistensi spesies candida.

SMFPELAYANAN KULIT

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Penyakit infeksi oportunistik kulit epidemomikosis, disebabkan oleh jamur Malassezia sp. (Pityrosporum orbicular /P.ovale) yang ditandai dengan makula hipopigmentasi atau hiperpigmentasi dan kadang eritemantosa.

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis  Pemeriksaan dengan lampu Wood : terlihat fluoresensi bewarna kuning keemasan

 Pemeriksaan langsung dengan mikroskop dan larutan KOH 20% : tampak spora berkelompok dan hifa pendek.

 Kultur : tidak diperlukan. Penatalaksanaan Klinis

 Penyakit di temukan pada semua usia, terutama pada usia 20 – 40 tahun, lesi terutama pada daerah seboroik; tidak menular, serta ada kecenderungan genetik.

 Keluhan umumnya tidak ada, kadang timbul rasa gatal terutama bila berkeringat.

 Status dermatologikus:

Predileksi lesi terutama di daerah seboroik, yaitu tubuh bagian atas, leher, wajah dan lengan atas; berupa bercak hipopigmentasi, eritema hingga kemolekan, dengan skuama halus.

Nonmedikamentosa:

Hindari suasana lembab, panas, dan keringat berlebih.

Medikamentosa: 1. Topikal

Obat pilihan : sampo selenium sulfida 1,8 % dioleskan di seluruh daerah yang terinfeksi, 15 – 30 menit sebelum mandi, sekali/hari atau 2 – 3 kali seminggu. Khusus untuk daerah wajah dan genital digunakan golongan azol topikal.

Alternatif : sampo ketokonazole 2 %, sampo zinc pyrithione, dengan cara pemakaian sama

Untuk lesi luas atau jika sulit disembuhkan dapat digunakan ketokonazol oral 200 mg / hari selama 10 hari.

Obat dihentikan bila pemeriksaan klinis, lampu wood , dan pemeriksaan mikologis langsung berturut-turut selang seminggu telah negatif. 3. Pada kasus kronik berulang tarapi pemeliharaan

dengan topikal tiap 1-2 minggu atau sistemik ketonazol 2X200 mg/hari sekali sebulan.

Pengertian Mikosis profunda merupakan suatu kelompok heterogen infeksi jamur yang berkembang dari trauma transkutanneus. Infeksi berkembang perlahan, umumnya tidak nyeri, sesuai dengan pertumbuhan agen penyebabnya dan beradaptasi dengan lingkungan jaringan penjamunya.

Berikut dibahas : misetoma, sporotrikosis, kromomikosis, dan zigomikosis

Misetoma

Misetoma adalah penyakit infeksi jamur kronik supuratif jaringan subkutan, khas ditandai dengan tumefaksi, abses, sinus, fistul dan granul.

Penyebabnya dapat jamur(eumisetoma) atau oleh Actinomycetes (aktinomisetoma).

Sporotrikosis

Sporotrikosis adalah infeksi jamur kronis yang disebakan oleh Sprotrichium schenkii.

Klasifikasi : tipe lokalisata, tipe limfangitis kronis (tersering), tipe kutaneus menetap, dan tipe desiminata.

Kromoblastomikosis

Adalah penyakit jamur kronis invasif pada kulit dan jaringan subkutan yang disebabkan oleh

bermacam jamur berpigmen(dermatiaceae) yang membentuk badan sklerotik.

Zigomikosis subkutan

Penyakit infeksi yang disebabkan tersering oleh Basidiobolus ranarum.

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis  Pemeriksaan dengan lampu Wood : terlihat fluoresensi bewarna kuning keemasan

 Pemeriksaan langsung dengan mikroskop dan larutan KOH 20% : tampak spora berkelompok dan hifa pendek.

 Kultur : tidak diperlukan. Penatalaksanaan Klinis

Misetoma: pada lokasi inokulasi (umumnya ekstremitas) terbentuk papul/nodus. Selanjutnya terjadi pembengkakan, abses, sinus, dan fistel multipel, serta keluar granul. Warna granul membantu membantu dugaan penyebab: granul hitam pada eumisetoma, granul merah pada aktinomisetoma, warna laindapat oleh keduanya. Lesi lanjut terdapat gambaran parut. Dapat mengenai tulang.

Sporotrikosis: bentuk limfokutan berupa pembesaran kelenjar getah bening, kulit dan jaringan subkutis di atas nodus sering melunak dan pecah membentuk ulkus indolen.

Kromoblastomikosis: pada tempat inokulasi timbul nodus verukosus kutan yang perlahan

membentuk vegetasi papiloma besar. Tempat predileksi: tungkai dan kaki.

Zigomikosis subkutan: nodus subkutan yang membesar dan tidak nyeri, teraba keras seperti kayu, kadang gatal.

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang Skabies

No. Dokumen : No. Revisi :

RSUD

S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiel var. Hominis dan produknya.

Terdapat pada klasifikasi skabies sbb:  Lesi pada tempat infestasi

 Minifestasi kutan hipersensitif terhadap kutu  Lesi sekunder oleh karena garukan

 Lesi sekunder oleh infeksi

 Lesi varian : skabies incognito, skabies nodularis, skabies yang ditularkan hewan, skabies dengan HIV/AIDS, skabies Nowergia (skabies berkrusta) Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis Beberapa cara untuk menemukan terowongan :  Kaca pembesar

 Tinta cina  Uji tetrasiklin

Epiluminescence microscopy (dermatoskopi). Beberapa cara untuk menemukan tungau :

 Kerokan diambil dari beberapa lesi (papul baru, tidak eksoriasi) pada tempat predileksi, kemudian diletakkan di bawah mikroskop.

 Membuat biopsi irisan kulit Penatalaksanaan Klinis

Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, keadaan umum pasien baik.

Diagnosis perkiraan (presumtif) Apabila ditemuka trias:

1. Lesi kulit pada daerah predileksi.

Lesi kulit: terowongan (kunikulus) berbentuk garis lurus atau berkelok, warna putih atau abu-abu dengan ujung papul atau vesikel. Apabila terjadi infeksi sekunder timbul pustul atau nodul.

 Daerah predileksi pada tempat dengan stratum korneum tipis, yaitu: sela jari tangan,

pergelangan tangan bagian bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak, areola mamae,

bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.

2. Gatal terutama pada malam hari (pruritus

Dalam dokumen SOP Kulit (Halaman 37-54)

Dokumen terkait