• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOP Kulit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SOP Kulit"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Dermatitis Seboroik No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR

OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Dermatitis yang terjadi di daerah seborrhoik (daerah yang memiliki banyak kelenjar keringat)

Kebijakan

Diagnosis banding :

- Psoriasis vulgaris di daerah kulit kepala - Dermatitis atopikpadabayi

- Dermatofitosis (tinea capitis, facialis,dancorporis) - Kandidiasis intertrigo

Pemeriksaan Diagnosis Anamnesis :

Subjektif, terasa gatal terutama saat berkeringat, perjalanan penyakit bersifat kronik residif

UKK :

- Biasanya berupa eritema dengan skuama berminyak. - Klinis dibagi ke dalam 2 tipe yaitu tipe infant dengan puncaknya pada umur 6-8 minggu terutama pada kepala dan wajah.

- Terjadi skuama kekuningan dan kumpulan debris epitel yang melekat pada kulit.

- Tipe adult dengan puncaknya pada umur 18-40 tahun.

- Bentuk yang ringan adalah pitiriais sika yang hanyamengenaikulit kepala berupa skuama halus dan kasar. Bentuk yang berminyak disebut pitiriasis steatoides, dapat disertai eritema dan krusta tebal.

Rambut pada tempat tersebut

mempunyaikecenderungan rontok, mulai dari bagian verteks dan frontal, disebut alopesia seboroika.

- Pada bentuk yang berat terdapat bercak-bercak berskuama dan berminyak disertai eksudasi dan krusta tebal, meluas ke dahi dan retroaurikuler. - Pada bentuk yang lebih berat lagi, seluruh kepala

tertutup krusta kotor dan berbau tidak sedap.

- Pada daerah supraorbital, skuama halus dapat terlihat di alis mata, kulit di bawahnya eritematosa dan gatal disertai bercak kekuningan. Dapat pula terjadi blefaritis.

(2)

- Pada daerah pipi, hidung, dan dahi, kelainan dapat berupa papul.

Distribusi :

kulit kepala, wajah, badan, daerah intertrigo,dan daerah genitalia

Penatalaksanaan Medikamentosa :

- Lesi di kulit kepala : pada orang dewasa dapat digunakan shampoo yang mengandung zinc pyrithione (Selsun), dikeramaskan dan didiamkan selama 10- 15 menit kemudian baru dibilas. Bisa juga dipakaishampooketokonazol (Zoloral) dipakaisemalamansebelum tidur lalu dibilas keesokan paginya.

- Lesi di wajah : krim hidrokortison 1% sampai lesi membaik kemudian ditaper menjadi 1 kali sehari selama 1 minggu lalu minggu berikutnya dioles selang seling hari selama 1 minggu lalu dihentikan bisa juga dipakai krim ketokonazol (Zoloral) 2 kali sehari serlama 2-4 minggu.

- Lesi di daerah badan : gunakan kortikosteroid krim potensi sedang sampai kuat (Locoid atau Esperson) 2 kali sehari untuk seminggu kemudian diganti dengan hidrokortison krim 1% sampai lesi sembuh. - Lesi di intertrigo : gunakan kortikosteroid potensi

ringan (hidrokortison krim 1%) bersamaan dengan anti jamur topikal dalam sediaan krim (Nizoral) 2 kali sehari selama 2 minggu.

- Lesi di bulu mata: cuci dengan air biasa atau dengan Baby Shampoo.

(3)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota Kupang

dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Dermatitis Atopik No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Dermatitis Atopik (DA) adalah peradangan kulit berulang dan kronis dengan disertai gatal. Pada umumnya terjadi selama masa bayi dan anak-anak dan sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum serta riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Sinonim dari penyakit ini adalah eczema atopik, eczema konstitusional, eczema fleksural, neurodermatitis diseminata, prurigo Besnier

Kebijakan

Faktor Risiko :

1. Wanita lebih banyak menderita DA dibandingkan pria (rasio 1.3 : 1).

2. Riwayat atopi pada pasien dan atau keluarga (rhinitis alergi, konjungtivitis alergi/vernalis, asma bronkial, dermatitis atopik, dll).

3. Faktor lingkungan: jumlah keluarga kecil, pendidikan ibu semakin tinggi, penghasilan meningkat, migrasi dari desa ke kota, dan meningkatnya penggunaan antibiotik. 4. Riwayat sensitif terhadap wol, bulu kucing, anjing, ayam, burung, dan sejenisnya.

Faktor pemicu

1. Makanan: telur, susu, gandum, kedelai, dan kacang tanah.

2. Tungau debu rumah dan serbuk bunga

3. Sering mengalami infeksi di saluran napas atas (kolonisasi Staphylococus aureus)

4. Iritan : sabun, detergen, desinfektan Klasifikasi

(4)

Berdasarkan derajat keparahan terbagi menjadi

a. DA ringan : Apabila mengenai < 10% luas permukaan kulit.

b. DA sedang : Apabila mengenai kurang dari 10-50% luas permukaan kulit.

c. DA berat : Apabila mengenai kurang dari > 50% luas permukaan kulit.

Komplikasi

1. Infeksi sekunder

2. Perluasan penyakit (eritroderma) Prognosis

Vitam: Bonam

Fungsionam: Bonam

Sanationam: Bonam (terkendali dengan pengobatan pemeliharaan)

Diagnosis Banding

1. Dermatitis seboroik (terutama pada bayi) 2. Dermatitis kontak

3. Dermatitis numularis 4. Skabies

5. Iktiosis

6. Psoriasis (terutama di daerah palmoplantar) 7. Sindrom Sezary

8. Dermatitis herpetiformis. Pemeriksaan Diagnosis 1. Tipe bayi (infantil)

- Dahi, pipi, kulit kepala, leher, pergelangan tangan dan tungkai, serta lutut (pada anak yang mulai merangkak).

- Lesi berupa eritema, papul vesikel halus, eksudatif, krusta.

2. Tipe anak

- Lipat siku, lipat lutut, pergelangan tangan bagian dalam, kelopak mata, leher, kadang-kadang di wajah. - Lesi berupa papul, sedikit eksudatif, sedikit skuama,

likenifikasi, erosi. Kadang-kadang disertai pustul. 3. Tipe remaja dan dewasa

- Lipat siku, lipat lutut, samping leher, dahi, sekitar mata, tangan dan pergelangan tangan, kadang-kadang ditemukan setempat misalnya bibir mulut, bibir kelamin puting susu, atau kulit kepala.

- Lesi berupa plak papular eritematosa, skuama, likenifikasi, kadang-kadang erosi dan eksudasi, terjadi hiperpigmentasi

Pemeriksaan Penunjang :

Pemeriksaan untuk menegakkan atopi, misalnya skin prick test/tes uji tusuk pada kasus dewasa.

(5)

Penatalaksanaan Nonmedikamentosa :  Hindari faktor pencetus

 Perbaikan pola hidup, terutama makanan berlemak/pedas, hidup seimbang.

 Memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab

 Menjaga kebersihan bahan pakaian  Menghindari stress psikis

 Menghindari bahan pakaian terlalu tebal, ketat, kotor  Pada bayi, menjaga kebersihan di daerah popok, iritasi

oleh kencing atau feses, dan hindari pemakaian bahan-bahan medicatedbaby oil

Medikamentosa :

- Pada lesi di kulit kepala, diberikan kortikosteroid topikal, seperti: Desonid krim 0.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonidkrim 0.025%) selama maksimal 2 minggu.

- Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0.1% atau mometason furoat krim 0.1%). - Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan

pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.

Oral sistemik

- Antihistamin sedatif yaitu: hidroksisin (2 x 1 tablet) selama maksimal 2 minggu, atau Loratadine 1x10 mg/ hari selama maksimal 2 minggu.

(6)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Dermatitis Numularis No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR

OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Dermatitis Numularis (DN) ialah dermatitis dengan penyebab tidak diketahui, lesi berbentuk bulat seperti mata uang logam, berbahan tegas dengan efloresensi berupa papulovesikel, biasanya mudah pecah sehingga basah (oozing).

Kebijakan

Faktor Risiko 1. Pria.

2. Usia 55-65 tahun (pada wanita 15-25 tahun).

3. Riwayat trauma fisis dan kimiawi (fenomena Kobner: gambaran lesi yang mirip dengan lesi utama).

4. Riwayat dermatitis kontak alergi.

5. Riwayat dermatitis atopik pada kasus dermatitis numularis anak.

6. Stress emosional.

(7)

8. Lingkungan dengan kelembaban rendah. 9. Riwayat infeksi kulit sebelumnya

Diagnosis Banding 1. Dermatitis kontak. 2. Dermatitis atopi. 3. Neurodermatitis sirkumskripta. 4. Dermatomikosis Komplikasi - Infeksi sekunder Konseling & Edukasi

- Memberikan edukasi bahwa kelainan bersifat kronis dan berulang, sehingga penting untuk pemberian obat topikal rumatan.

- Menjaga terjadinya infeksi sebagai faktor risiko terjadinya relaps.

Prognosis

Vitam : Bonam Fungsionam: Bonam Sanationam:

- Bila kelainan ringan tanpa penyulit : Bonam (sembuh tanpa komplikasi).

- Bila kelainan berat dan dengan penyulit : Dubia ad bonam.

Pemeriksaan Diagnosis Anamnesis

Keluhan bercak merah yang basah pada predileksi tertentu dan sangat gatal. Keluhan hilang timbul dan sering kambuh

Pemeriksaan Fisik (Tanda Patognomonis)

1. Lesi akut berupa vesikel dan papulo vesikel (0.3 – 1.0 cm), berbentuk uang logam,

eritematosa, sedikit edema, dan berbatas tegas. 2. Tanda eksudasi, karena vesikel mudah pecah, kemudian mengering menjadi krusta

kekuningan.

3. Jumlah lesi dapat satu, dapat pula banyak dan tersebar, bilateral, atau simetris, dengan ukuran yang bervariasi.

4. Tempat predileksi terutama di tungkai bawah, badan, lengan, termasuk punggung tangan.

Penatalaksanaan Nonmedikamentosa :

 Cegah garukan dan menjaga hidrasi kulit agar tidak kering

 Konsultasi: bila ada stres konsul ke ahli psikologi atau psikiater

Medikamentosa :

Prinsip : Mengurangi pruritus, menekan inflamasi dan infeksi

(8)

1. Topikal (2x sehari)

- Kompres terbuka dengan larutan PK (Permanganas Kalikus) 1/10.000, menggunakan 3 lapis kasa bersih, selama masing-masing 15-20 menit/kali kompres (untuk lesi madidans/basah) sampai lesi mengering. - Kemudian terapi dilanjutkan dengan kortikosteroid topikal: Desonid krim 0.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonid krim 0.025%) selama maksimal 2 minggu.

- Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0.1% atau mometason furoat krim 0.1%).

- Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.

2. Oral sistemik

- Antihistamin sedatif yaitu: hidroksisin (2 x 1 tablet) selama maksimal 2 minggu, atau Loratadine 1x10 mg/ hari selama maksimal 2 minggu.

- Jika ada infeksi bakterial, diberikan antibiotik topikal atau sistemik bila lesi luas.

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Napkin Eczema (dermatitis popok) No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR

OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

(9)

Pengertian Dermatitis Popok (napkindermatitis, diapter

dermatitis): adalah dermatitis di daerah genitokrural sesuai tempat kontal popok (bagian yang cembung). Umumnya pada bayi pemakai popok, juga pada orang dewasa yang menderita sakit dan memakai popok.

Kebijakan

Faktor Resiko

1. Popok jarang diganti.

2. Kulit bayi yang kering sebelum dipasang popok. 3. Riwayat atopi diri dan keluarga.

4. Riwayat alergi terhadap bahan plastik dan kertas. Diagnosis Banding - Penyakit Letterer-Siwe - Akrodermatitis enteropatika - Psoriasis infers - Eritrasma Komplikasi Infeksi sekunder

Konseling & Edukasi

- Memberitahu keluarga mengenai penyebab dan menjaga higiene

- Mengajarkan cara penggunaan popok dan mengganti secepatnya bila popok basah

- Mengganti popok sekali pakai bila kapasitas telah penuh

Prognosis

Vitam : Bonam Fungsionam: Bonam

Sanationam : Bonam(sembuh tanpa komplikasi) Pemeriksaan Diagnosis Anamnesis

Pasien datang dengan keluhan gatal dan bercak merah berbatas tegas, mengikuti bentuk popok yang berkontak kadang-kadang membasah dan membentuk luka.

Pemeriksaan Fisik

- Riwayat perjalanan penyakit: kontak lama dengan popok basah (urin/feses)

- Tempat predileksi genitokrural sesuai dengan tempat kontaminasi popok

- Makula erimetosa, berbatas agak tegas, (bentuk mengikuti bentuk popok yang berkontak). Disertai papul, vesikel, erosi, dan ekskoriasi

- Bila berat dapat menjadi infitrat dan ulkus.

- Bila terinfeksi jamur kandida tampak plak eritematosa (merah cerah), lebih membasah disertai maserasi, kadang pustu dan lesi satelit.

(10)

Pemeriksaan Penunjang

Bila diduga terinfeksi jamur kandida pemeriksaan KOH/Gram dari kerokan kulit.

Penatalaksanaan

Nonmedikamentosa :

Edukasi cara menghindari penyebab dan menjaga higiene serta cara penggunaan popok dan mengganti secepatnya bila basah (popok tadisional), mengganti popok sekali pakai bila kapasitasnya telah penuh. Medikamentosa :

Prinsip : Menekan inflamasi dan mengatasi infeksi kandida

1. Topikal :

 Bila ringan: krim/salap bersifat protektif (seng oksida pantenol) dipakai 2 kali sehari selama 1 minggu

 Kortikosteroid potensi lemah (salap

hidrokortison 1%-2,5%) dipakai 2 kali sehari selama 3-7 hari

 Bila terinfeksi kandida: antifungal kandida, yaitu nistatin sistemik 1 kali sehari selama 7 hari atau derivat azol topical dikombinasi dengan seng oksida diberikan 2 kali sehari selama 7 hari 2. Sistemik : - Tidak perlu

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Liken Simpleks Kronikus (neurodermatitis sirkumkripta) No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR

OPERASIONAL

Tahun Terbit : 2016

(11)

PROSEDUR ( SOP )

Pengertian Liken simpleks kronikus (neurodermatitis

sirkumskripta) merupakan peradangan kulit kronik, sirkumskrip, sangat gatal, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol akibat garukan atau gosokan berulang.

Penyebab kelainan ini belum diketahui. Kebijakan

Faktor Risiko

Perempuan lebih sering ditemukan dibandingkan laki-laki, dengan puncak insidensi 30-50 tahun.

Diagnosis Banding 1. Dermatitis atopik. 2. Dermatitis kontak. 3. Liken planus. 4. Dermatitis numularis. Prognosis Vitam : Bonam. Fungsionam: Bonam. Sanationam:Dubia ad bonam. Pemeriksaan Diagnosis Anamnesis

Pasien datang dengan keluhan gatal sekali pada kulit, tidak terus menerus, namun dirasakan terutama malam hari atau waktu tidak sibuk. Bila terasa gatal, sulit ditahan bahkan hingga harus digaruk

sampai luka baru gatal hilang untuk sementara. Pemeriksaan Fisik (Tanda Patognomonis) - Lesi biasanya tunggal, namun dapat lebih dari satu. - Dapat terletak dimana saja yang mudah dicapai

tangan. Biasanya terdapat di daerah tengkuk, sisi leher, tungkai bawah, pergelangan kaki, kulit kepala, paha bagian medial, lengan bagian

ekstensor, skrotum dan vulva.

- Awalnya lesi berupa eritema dan edema atau kelompokan papul, kemudian karena garukan berulang, bagian tengah menebal, kering, berskuama serta pinggirnya mengalam hiperpigmentasi.

- Bentuk umumnya lonjong, mulai dari lentikular sampai plakat.

Pemeriksaan penunjang : Tidak diperlukan

Penatalaksanaan Medikamentosa

- Pasien disarankan agar tidak terus menerus menggaruk lesi saat gatal, serta mungkin perlu dilakukan konsultasi dengan psikiatri.

- Prinsip pengobatan yaitu mengusahakan agar berkurangnya garukan.

(12)

- Antipruritus: antihistamin dengan efek sedatif, seperti hidroksisin 10-50 mg setiap 4 jam, difenhidramin 25-50 mg setiap 4-6 jam (maksimal 300 mg/hari), atau klorfeniramin maleat (CTM) 4 mg setiap 4-6 jam (maksimal 24 mg/hari).

- Glukokortikoid topikal, antara lain: betametason dipropionat 0,05% salep/krim 1-3x/hari, metilprednisolon aseponat 0,1% salep/krim 1-2x/hari, atau mometason furoat 0,1% salep/krim 1x/hari. Glukokortikoid dapat dikombinasi dengan tar, untuk efek antiinflamasi.

- Injeksi steroid intralesi bila steroid topikal tidak berhasil.

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang Dermatitis kontak

alergika (DKA) No. Dokumen :

(13)

RSUD

S.K

LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR

OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Dermatisis kontak alergi (DKA) adalah reaksi peradangan kulit imunologik karena reaksi hipersensitivitas.

Kerusakan kulit terjadi didahului oleh proses sensitisasi berupa alergen (fase sensitisasi) yang umumnya berlangsung 2-3 minggu. Bila terjadi pajanan ulang dengan allergen yang sama atau serupa, periode hingga terjadinya gejala klinis umumnya 24-48 jam (fase elisitasi).

Alergen paling sering berupa bahan kimia dengan berat molekul kurang dari 500-1000. Da.DKA terjadi dipengaruhi oleh adanya sensitisasi alergen derajat pajanan dan luasnya penetrasi di kulit

Kebijakan

Faktor Risiko

- Ditemukan pada orang-orang yang terpajan oleh bahan iritan.

- Riwayat kontak dengan bahan iritan pada waktu tertentu.

- Riwayat dermatitis atopik. Faktor Predisposisi

Pekerjaan atau paparan seseorang terhadap suatu bahan yang bersifat iritan.

Diagnosis Banding Dermatitis kontak iritan. Komplikasi

Infeksi sekunder. Prognosis

Vitam : Bonam Fungsionam : Bonam

Sanationam : Dubia ad malam (bila sulit menghindari kontak dan dapat menjadi kronis). Pemeriksaan Diagnosis Anamnesis

- Keluhan kelainan kulit berupa gatal. Kelainan kulit bergantung pada keparahan dermatitis.

(14)

- Keluhan dapat disertai timbulnya bercak kemerahan. - Hal yang penting ditanyakan adalah riwayat pekerjaan, hobi, obat topikal yang pernah digunakan, obat sistemik, kosmetik, bahan-bahan yang dapat menimbulkan alergi, serta riwayat alergi di keluarga.

Pemeriksaan Fisik (Tanda Patognomonis)

- Tanda yang dapat diobservasi sama seperti dermatitis pada umumnya, tergantung pada kondisi akut atau kronis.

- Lokalisasi dan pola kelainan kulit penting diketahui untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebabnya, seperti di ketiak oleh deodorant, di pergelangan tangan oleh jam tangan, dan seterusnya.

Pemeriksaan penunjang

P

atch test/ tes tempel, untuk membedakan antara dermatitis kontak alergi (DKA) dengan dermatitis kontak iritan (DKI).

Penatalaksanaan Nonmedikamentosa

- Pasien perlu mengidentifikasi faktor risiko, menghindari bahan-bahan yang bersifat alergen, baik yang bersifat kimia, mekanis, dan fisis, memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab

- Memakai alat pelindung diri untuk menghindari kontak alergen saat bekerja.

Medikamentosa a. Topikal (2x sehari)

- Pelembab krim hidrofilik urea 10%.

- Kortikosteroid Desonid krim 0.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonid krim 0.025%).

- Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0.1% atau mometason furoat krim 0.1%).

- Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal.

b. Oral sistemik

- Antihistamin hidroksisin (2 x 1 tablet) selama maksimal 2 minggu, atau Loratadine 1x10 mg/ hari selama maksimal 2 minggu.

(15)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Dermatitis Kontak Iritan (DKI) No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR

OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Dermatisis kontak iritan (DKI) adalah reaksi peradangan kulit non-imunologik.

Kerusakan kulit terjadi secara langsung tanpa didahului oleh proses sensitisasi. DKI dapat dialami oleh semua orang tanpa memandang umur, jenis kelamin, dan ras.

Penyebab munculnya dermatitis jenis ini adalah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu yang biasanya berhubungan dengan pekerjaan.

Kebijakan

Faktor Risiko

- Ditemukan pada orang-orang yang terpajan oleh bahan iritan

- Riwayat kontak dengan bahan iritan pada waktu tertentu

- Pasien bekerja sebagai tukang cuci, juru masak, kuli bangunan, montir, penata rambut.

- Riwayat dermatitis atopik Faktor Predisposisi

Pekerjaan atau paparan seseorang terhadap suatu bahan yang bersifat iritan.

Klasifikasi

Berdasarkan penyebab dan pengaruh faktor-faktor tertentu, DKI dibagi menjadi:

(16)

a. DKI akut

o Bahan iritan kuat, misalnya larutan asam sulfat (H2SO4)atau asam klorida (HCl), termasuk luka bakar oleh bahan kimia.

o Lesi berupa : Eritema, edema, bula, kadang disertai nekrosis.

oTepi kelainan kulit berbatas tegas dan pada umumnya asimetris.

b. DKI akut lambat :

o Gejala klinis baru muncul sekitar 8-24 jam atau lebih setelah kontak.

o Bahan iritan yang dapat menyebabkan DKI tipe ini diantaranya adalah podofilin, antralin, tretinoin, etilen oksida, benzalkonium klorida, dan asam hidrofluorat.

o Kadang-kadang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis venenata); penderita baru merasa pedih keesokan harinya, pada awalnya terlihat eritema, dan pada sore harinya sudah menjadi vesikel atau bahkan nekrosis.

c. DKI kumulatif/ DKI kronis:

o Penyebabnya adalah kontak berulang-ulang dengan iritan lemah (faktor fisis misalnya gesekan, trauma minor, kelembaban rendah, panas atau dingin, faktor kimia seperti deterjen, sabun, pelarut, tanah dan bahkan air).

o Umumnya predileksi ditemukan di tangan terutama pada pekerja.

o Kelainan baru muncul setelah kontak dengan bahan iritan berminggu-minggu atau bulan, bahkan bisa bertahun-tahun kemudian, sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan faktor penting.

o Kulit dapat retak seperti luka iris (fisur), misalnya pada kulit tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus-menerus dengan detergen. Keluhan penderita umumnya rasa gatal atau nyeri karena kulit retak (fisur). Ada kalanya kelainan hanya berupa kulit kering atau skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh penderita.

d. Reaksi iritan:

o Merupakan dermatitis subklinis pada seseorang yang terpajan dengan pekerjaan basah, misalnya penata rambut dan pekerja logam dalam beberapa bulan pertama, kelainan kulit monomorfik (efloresensi tunggal) dapat berupa eritema, skuama, vesikel, pustul, dan erosi.

oUmumnya dapat sembuh sendiri, namun menimbulkan penebalan kulit, dan kadangkadang berlanjut menjadi DKI kumulatif.

(17)

e. DKI traumatik:

o Kelainan kulit berkembang lambat setelah trauma panas atau laserasi.

o Gejala seperti dermatitis numularis (lesi akut dan basah).

o Penyembuhan lambat, paling cepat 6 minggu. o Predileksi paling sering terjadi di tangan. f. DKI non eritematosa:

o Merupakan bentuk subklinis DKI, ditandai dengan perubahan fungsi sawar stratum korneum, hanya ditandai oleh skuamasi ringan tanpa disertai kelainan klinis lain.

g. DKI subyektif/ DKI sensori:

o Kelainan kulit tidak terlihat, namun penderita merasa seperti tersengat (pedih) atau terbakar (panas) setelah kontak dengan bahan kimia tertentu, misalnya asam laktat.

Diagnosis Banding Dermatitis kontak alergik Komplikasi

Infeksi sekunder. Prognosis

Vitam : Bonam Fungsionam : Bonam

Sanationam : Kasus DKI akut dan bisa menghindari kontak: Bonam (sembuh tanpa komplikasi) sedangkan kasus kumulatif dan tidak bisa menghindari kontak : Dubia.

Konseling & Edukasi

- Konseling untuk menghindari bahan iritan di rumah saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

- Edukasi menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan sepatu boot.

- Memodifikasi lingkungan tempat bekerja. Pemeriksaan Diagnosis Anamnesis

-

Keluhan kelainan kulit dapat beragam, bergantung

pada sifat iritan.

- Iritan kuat memberikan gejala akut, sedangkan iritan lemah memberikan gejala kronis.

- Gejala yang umum dikeluhkan adalah perasaan gatal dan timbulnya bercak kemerahan pada daerah yang terkena kontak bahan iritan.

- Kadang-kadang diikuti oleh rasa pedih, panas, dan terbakar.

(18)

- Tanda yang dapat diobservasi sama seperti dermatitis pada umumnya, tergantung pada kondisi akut atau kronis.

Pemeriksaan penunjang

P

atch test/ tes tempel, untuk membedakan antara dermatitis kontak alergi (DKA) dengan dermatitis kontak iritan (DKI).

Penatalaksanaan Nonmedikamentosa

 Pasien perlu mengidentifikasi faktor risiko, menghindari bahan-bahan yang bersifat iritan,

baik yang bersifat kimia, mekanis, dan fisis, memakai sabun dengan pH netral dan

mengandung pelembab serta memakai alat pelindung diri untuk menghindari kontak iritan

saat bekerja. Medikamentosa

Keluhan dapat diatasi dengan pemberian farmakoterapi, berupa:

o Topikal (2x sehari)

- Pelembab krim hidrofilik urea 10%.

- Kortikosteroid Desonid krim 0.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonid krim 0.025%). Pada kasus DKI kumulatif dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0.1% atau mometason furoat krim 0.1%). Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan pemberian antibiotic topikal.

o Oral sistemik

- Antihistamin hidroksisin (2 x 1 tablet) selama maksimal 2 minggu, atau Loratadine 1x10 mg/ hari selama maksimal 2 minggu.

(19)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Miliaria No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Miliria hiperhidrosis adalah kelainan kulit akibat retensi keringat, ditandai dengan vesikel miliar, tersebar di tempat predileksi, dapat mengenai semua semua orang; bayi, anak, dan dewasa.

Kebijakan

Klasifikasi (berdasakan gambaran klinis dan histopatologi):

- Miliaria kristalina (sudamina) - Miliaria rubra (prickly heat) - Miliaria pustulosa

- Miliaria profunda

Pemeriksaan Diagnosis Tidak ada pemeriksaan penunjang khusus untuk diagnosis

(20)

Menunjukan obstruksi kelenjar keringat parakeratotik sesuai dengan masing-masing tipe miliaria.

- Miliria kristalina: di stratum korneum

- Miliria rubra/pustulosa: stratum spinosum/mid-epidemis

- Miliaria profunda: di dermo-epidermal junction. Klinis

- Riwayat hiperhidrosis, berada di lingkungan panas dan lembab, bayi yang dirawat dalam inkubator - Miliaria kristalina: terdiri atas vasikel miliar (1-2

mm) subkorneal, tanda-tanda inflamasi, mudah pecah dengan garukan, dan deskuamasi dalam beberapa hari.

- Miliaria rubra: jenis tersering, vesikel miliar atau papuloves di atas dasar eritematosa sekitar lubang keringat, tersebar diskret

- Miliaria pustulosa: berasal dari miliaria rubra dimana vesikelnya berubah menjadi pustul

- Miliaria profunda: merupakan kelanjutan miliaria rubra, berbentuk papul, mirip folikulitis, dapat disertai pustul.

Penatalaksanaan Nonmedikamentosa:

Menghindari banyak berkeringat, pilih lingkungan yang lebih sejuk dan sirkulasi udara (ventilasi) cukup. Mandi air dingin dan memakai sabun. Pakai pakaian tipis dan menyerap keringat.

Mendikamentosa:

Prinsip: mengurangi pruritus, menekan inflamasi, membuka retensi keringat.

1. Topikal:

- Liquar Faberi

- Bedak kocok mengandung kelamin, dapat ditambahkan antipruritus (mentol, kamfer)

- Lanolin topikal menghilangkan dan mencegah timbulnya miliaria profunda

2. Sistemik:

- Antihistamin sedatif (lebih dianjurkan pada infantil bayi dan anak) atau nonsedatif.

(21)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Lupus Eritematosus

Diskoid (LE Diskoid) No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Lupus eritematosus diskoid (DLE): merupakan satu bentuk penyakit lupus eritematosus (LE) ringan, kelaianan terbatas terutama dikulit, perjalanan penyakit mulai akut, subakut dan menjadi kronis. Penyakit ini dapat berkembang lebih lanjut,

menyerang multiorgan, menjadi lupus eritematosus sistemik (SLE).

(22)

Pemeriksaan Diagnosis Klinis

Pemeriksaan histopatologik: (HE): Penipisan epidermis disertai hiperkeratosis relatif dan sumbat keratin pada muara folikel. Penebalan membran basal epidermis, disertai degerasi mencair pada sel lapisan basal epidermis, infiltrat limfosit, terutama di sekitar apendiks kulit yang atrofik. Perubahan degenerasi jaringan ikat terdiri atas hialinisasi, endema, perubahan fibrinoid, terutama di bawah epidermis, degenerasi elastotik prematur pada kulit yang terpajan matahari.

Pemeriksaan direct immunoflourescence (DIF)/lupus band test.

Pemeriksaan laboratorium: urin rutin, darah dan sel LE serta pungsi sumsum tulang.

Pemeriksaan serologi: kadar ANA dalam serum, anti DsDNA, anti Sm, C3, TSS (tes serologi untuk sifilis) DLE klasik:

Riwayat perjalanan penyakit: kronik gejala prodromal, gejala subjektif,

Gejala sistemik: demam, nyeri sendi, fotosensitivitas, rambut rontok

Tempat predileksi: wajah,sklap, telinga, hidung, tungkai bawah, dan badan. Penyebaran umumnya simetris.

Morfologi: plak eritematosa, berbatas tegas, ukuran bervariasi lentikular-numular-sampai plak, skuama melekat (adheren) bila diangkat tampak sumbatan keratin folikular, dapat disertai atrofi dengan tepi yang lebih kemerahan atau dengan zona

hiperpigmentasi.

Di tingkat pelayanan dasar: DLE kutan spesifik.

Di tingkat pelayanan lanjut:

DLE kutan nonspesifik atau disertai kelainan sistemik.

Penatalaksanaan Nonmedikkamentosa:

Hindari pejanan matahari atau menggunakan pelindung matahari secara fisik dan kimia Medikamentosa:

Prinsip:

 Mengendalikan penyakit Mencegah perluasan

Deteksi dini penyakit menjadi sistemik 1. Topikal:

(23)

- Penggunaan tabir surya dengan SPF> 15. 2. Sistemik:

- Klorokuin 2x250 mg/ hari dievaluasi setelah 6 minggu, diturunkan sesuai dengan perbaikan klinis/ serologis.

- Prednison: 2x10-20 mg/ hari, dievaluasi diturunkan sesuai dengan perbaikan klinis/serologis.

- Terapi alternatif: siklofosfamid, metotreksat (pemberian harus hati-hati).

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 Pitiriasis Rosea No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

(24)

003

Pengertian Pitiriasis Rosea adalah erupsi kulit yang akut dan sering dijumpai, bersifat swasirna, secara khas dimulai sebagai plak oval dengan skuama halus pada badan (“herald patch”) dan tanpa disertai gejala. Lesi awal ini diikuti beberapa hari sampai beberapa minggu kemudian oleh lesi-lesi serupa yang lebih kecil di badan yang tersusun sesuai dengan lipatan kulit (lines of cleavage).

Etiologi belum diketahui, ada yang mengatakan hal ini merupakan infeksi virus karena merupakan self limited disease. Kebijakan

Diagnosis Banding

- Tinea korporis

- Erupsi obat

Komplikasi

Tidak ada komplikasi bermakna Konseling & Edukasi

Edukasi pasien dan keluarga bahwa penyakit ini self-limiting.

Prognosis

Ad Vitam : Bonam Ad Fungsionam: Bonam Ad Sanationam: Bonam Pemeriksaan Diagnosis Anamnesis

Pasien datang dengan keluhan lesi kemerahan yang awalnya satu kemudian diikuti dengan lesi yang lebih kecil yang menyerupai pohon cemara terbalik. Lesi ini kadang-kadang dikeluhkan terasa gatal ringan.

Pemeriksaan Fisik

Dapat diawali dengan lesi pertama (herald patch) pada 50-90% kasus. Lesi ini berbatas tegas, diameter 2-4 cm, bentuk oval atau bulat, berwarna salmon/eritemantosa atau hiperpigmentasi (terutama pada pasien dengan kulit gelap); dengan skuama halus di bagian badan yang tertutup baju, tetapi kadangdi leher atau ekstremitas proksimal. Jarang di wajah atau penis

Timbulnya lesi sekunder bervariasi antara 2 hari sampai 2 bulan setelah lesi awal, tetapi umumnya dalam 2 minggu setelah plak primer. Erupsi simetris terutama pada badan, leher dan ekstremitas proksimal. Terdapat 2 tipe utama lesi sekunder : (1) plak kecil menyerupai plak primer tetapi berukuran lebih kecil, sejajar dengan aksis panjang lines of cleavage dengan distribusi seperti pola pohon

(25)

cemara dan (2) papul kecil, kemerahan, biasanya tanpa skuama, yang secara bertahap bertambah jumlahnya dan menyebar ke perifer. Kedua tipe lesi ini dapat terjadi bersamaan.

Morfologi lesi sekunder dapat tidak khas, dapat berupa makula tanpa skuama, papul folikuler, plak menyerupai psoriasis, maupun plak tidak khas. Daerah palmar dan plantar dapat terkena dengan gambaran klinis menyerupai erupsi eksemantosa. Pitriasis rosea tipe vasikular jarang dijumpai, biasanya pada anak dan dewasa muda. Dapat pula dijumpai varian pitriasis rosea bentuk urtikaria, pustular, purpurik, atau menyerupai eritema multiformis

Pemeriksaan Penunjang

Bila diperlukan, pemeriksaan mikroskopis KOH dilakukan untuk menyingkirkan Tinea Korporis

Penatalaksanaan Medikamentosa

Terapi berupa dengan pengobatan simptomatik, misalnya untuk gatal diberikan antipruritus seperti bedak asam salisilat 1-2% atau mentol 0.25-0.5%.

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota Pitiriasis Alba

(26)

RSUD

S.K

LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Pitiriasis alba adalah dermatitis yang tidak spesifik, sering dijumpai pada anak dan remaja, terutama mengenai daerah wajah dan leher. Etiologi dan potogenesisnya sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun diduga ada hubungan langsung dengan atopi, jumlah pajanan sinar matahari, dan tidak memakai tabir surya.

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis Klinis

Tidak ada yang khusus, kecuali ada keraguan Bila sangat diperlukan, dilakukan biopsi kulit untuk

pemeriksaan hispatologi (pada pitriasis alba gambaran dermatopatogi tidak spesifik). Didahului plak eritemantosa ringan dengan tepi

sedikit meninggi, yang memudar setelah beberapa minggu menjadi makula/plak bewarna merah muda/pucat dengan skuama putih halus diatasnya (powdery white scale).

Tempat predileksi: wajah, lengan sisi ekstensor, punggung, badan.

Plak hipopigmentasi atau sewarna kulit dengan skuama halus, bentuk bulat-oval tak beraturan, batas agak tega, ukuran lentikular, numular sampai plakat.

Pitriasis alba pigmentasi merupakan varian dari yang klasik dengan infeksi dermatofit superfisial, hampir selalu mengenai wajah.

Penatalaksanaan

Nonmedikamentosa:

Terapi suportif, yaitu menghindari/mengurangi pajanan sinar matahari, pemakaian tabir surya, mengurangi suhu air mandi.

Medikkamentosa:

- Pitriasis alba adalah penyakit yang swasirna. - Steroid topikal dan emolien sangat membantu - Tretinoin topikal dapat digunakan namun bersifat

iritasi

(27)

respons lebih baik terhadap terapi UV dan antijamur oral.

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Psoriasis No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Psoriasis adalah penyakit peradangan kulit yang kronik residif ditandai oleh plak eritemantosa, di atasnya terdapat skuama kasar, transparan, berlapis-lapis disertai adanya fenomena tetesan lilin. Auspitz, dan Koebner.

Psoriasis dapat timbul pada semua usia, tetapi jarang pada usia kurang dari 10 tahun, sering muncul antara usia 15 dan 30 tahun.

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis Bila sangat diperlukan, biopsi kulit Pemeriksaan ASTO

Pemeriksaan faktor rhematoid Foto rontgen tulang sendi

Klinis – tanda dan gejala 1. Psoriasis tipe plak

 Bentuk psoriasis yang paling banyak

 Plak eritemantosa berbatas tegas dengan skuama berwarna keperakkan adalah karakteristik tetapi tidak harus ada

 Daerah yang terkena biasanya:

Siku, lutut, kepala, celah intergluteal, palmar dan plantar kadang-kadang genitalia juga terkena 2. Psoriasis guttata

 Onset mendadak dan biasanya terjadi setelah infeksi streptokokal pada saluran pernapasan atas  Bentuk seperti tetesan air, plak merah muda

(28)

 Biasanya ditemukan pada badan dan ekstremitas 3. Psoriasis pustularis generalisata dan

lokalisata Generalisata

 Juga disebut psoriasis von Zumbusch

 Secara khas ditandai oleh pustul steril yang mengenai sebagian besar area tubuh dan ekstremitas

 Pada kasus yang berat pustul dapat bergabung dan membentuk kumpulan pus (lake of pustules)  Fungsi perlindungan kulit hilang pada pasien

rentan terhadap infeksi, hilangnya cairan dan nutrien

 Sering disertai dengan gejala sistemik misal demam dan malaise

 Dapat membahayakan kehidupan Lokalisata

 Pustul teralokalisasi pada palmar dan plantar  Pustul dapat terletak di atas plak

 Sangat mengganggu karena kesulitan menggunakan tangan atau kaki

4. Psoriasis eritroderma

 Generalisata, berat, eritema yang luas dengan skuama yang dapat mengenai sampai 100% luas permukaantubuh

 Fungsi perlindungan kulit hilang dan pasien rentan terhadap infeksi, temperatur tubuh yang tak dapat terkontrol, hilangnya cairan dan nutrien  Sering disertai dengan gejala sistemik yaitu

demam dan malaise

 Dapat membahayakan kehidupan Diagnosis: Riwayat dan pemeriksaan fisik Riwayat

 Usia awitan bimodal: 16-22 Tahun dan 57-60 tahun

 Infeksi, terutama streptokokus dapat memicu atau mengeksaserbasi penyakit

 Obat (misal litium, antimalaria, alkohol, ß-bloker) dapat memicu penyakit

 Riwayat pengobatan dan pembedahan  Review riwayat keluarga, sosial, dan gejala Pemeriksaan fisik

 Diagnosis biasanya dapat dibuat dari penampilan klinik plak

 Inspeksi semua area tubuh terutama permukaan ekstensor, badan, perineum, kepala, kuku, sendi, serta daerah prominen lain.

(29)

 Mungkin diperlukan untuk penyakit yang sulit atau atipik

 Tidak ada petanda serologis atau tes

laboratorium yang patognomonik untuk psoriasis  Biopsi kulit, studi serologis sifilis, kultur bakteri,

HLA typing, pemeriksaan mikroskopis (KOH), dsb dapat digunakan untuk membedakan psoriasis dari penyakit yang lain.

Penatalaksanaan

A. Edukasi Pasien Prinsip terapi

Pilihan terapi sangat individual

Sebagian besar pasien akan mendapatkan terapi multipel simultan. Dokter harus memahami semua pilihan terapi sehingga terapi yang tepat dapat dipilih untuk masing-masing pasien.

B. Fototerapi/fotokemoterapi

Utraviolet B (UVB) broadband (BB)  PUVA  Soak/PUVA  Laser 308-nm excimer C. Terapi Topikal  Emolien  Kortikosteroid  Ditranol (Antralin)  Keratolitik  Retinoid (topikal)  Analog Vit D  Tar D. Terapi Sistemik 1. Metotreksat 2. Siklosporin 3. Retinoid 4. Hidrokslurea 5. Mikofenolat mofetil 6. Sulfasalazin 7. Agen biologik

(30)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Eritroderma No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Eritroderma ialah kelaianan kulit yang ditandai oleh eritema di seluruh tubuh atau hampir seluruh seluruh tubuh disertai skuama.

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis Klinis

1. Eritroderma akibat reaksi obat:

 Perlu anamnesis teliti tentang obat yang dicurigai  Biasanya akan membaik dalam waktu 2-6 minggu

setelah obat yang dicurigai dihentikan

2. Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit:  Hampir selalu terdapat kelainan yang khas untuk

penyakit kulit yang mendasarinya (misal plak psoriasis pada eritroderma psoriatika; gatal yang sangat, ekskoriasi, likhenifikasi, pada eritroderma karena dermatitis atopik)

3. Eritroderma akibat penyakit sistemik, termasuk keganasan:

 Dapat dijumpai limfadenopati generalisata atau pembesaranorgan dalam

 Dapat dijumpai tanda keganasan yang lain misalnya lemah (fatigue), cachexia.

(31)

 Tidak ditemukan penyebab spesifik (ditemukan pada 25% kasus)

Biasanya pada laki-laki tua dengan pruritic erythroderma yang kronis kambu-kambuhan disertai dengan limfadenopati dan keratoderma palmoplantar luas.

Pemeriksaan Penunjang :  Pemeriksaan darah lengkap  Pemeriksaan urin lengkap  Pemeriksaan gula darah

 Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal  Pemeriksaan foto torak

 Pemeriksaan histopatologi Penatalaksanaan Nonmedikamentosa:

 Tirah baring sesuai indikasi  Diet tinggi kalori tinggi protein

 Koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit  Cegah hipotermia

 Terapi terhadap infeksi sekunder

 Stop obat yang dicurigai apabila kemungkinan di diagnosis adalah eritroderma karena reaksi obat Medikamentosa:

1. Topikal

Emolien atau salap kortikosteroid potensi rendah (kortikosteroid topikal potensi tinggi harus

dihindari karena terdapat peningkatan absorpsi transkutan).

2. Sistemik:

- Kortikosteroid oral :

 Bila penyebannya reaksi obat atau

eritroderma idiopatik: prednison dosis awal 1-3mg/kg BB/hari, dan dosis pemeliharaan 0,5mg/kg BB/hari atau kurang.

- Metotreksat, asitretin atau siklosporin

 Bila eritroderma disebabkan oleh psoriasis (eritroderma psoriatika)

 Siklosporin dapat diberikan pada kasus yang tidak membaik dengan pengobatan awal (refractory cases) dengan dosis awal 5 mg/kgBB?hari dan dilanjutkan dengan dosis 1-3 mg/kgBB/hari

- Antihistamin oral

 Antihistamin oral: bisa diberikan pada eritroderma indiopatik.

(32)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Pioderma No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : ½

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

(33)

Pengertian Pioderma merupakan penyakit infeksi yang terutama disebabkan oleh bakteri gram positif pada lapisan kulit atau folikel rambut.

Penyebab terbanyak adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus ß-haemoliticus group A.

Terdapat 2 bentuk pioderma:

1. Pioderma superfisialis, lesi terdapat pada epidermis  Impetigo nonbulosa  Impetigo bulosa  Ektima  Folikulitis  Furunkel  Karbunkel

2. Pioderma profunda, mengenai epidermis dan dermis

 Erisipelas  Selulitis  Flegmon

 Abses multipel kelenjar keringat  Hidradenitis

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis Pemeriksaan penunjang bila diperlukan:

 Pemeriksaan sederhana dengan pewarnaan Gram  Kultur dan resistensi lesi

 Kultur dan resistensi darah bila diduga bakteremia

Penatalaksanaan Klinis

Pioderma superfisialis Gejala konstitusi tidak ada a. Impetigo nonbulosa

Tempat predileksi: daerah wajah, terutama di sekitar nares dan mulut

Lesi awal berupa vesikel atau pustul berdinding tipis yang mudah pecah membentuk krusta tebal kekuningan (honey colour). Lesi dapat menyebar sampai 1-2 cm, disertai lesi satelit di sekitarnya. Gatal dan rasa tidak nyaman dapat terjadi. b. Impetigo bulosa

Tempat predileksi: daerah intertriginosa (aksila, inguinal, gluteal), dada dan punggung

Vesikel-bula kendor, berisi cairan jernih; dapat timbul bula hipopion di atas kulit normal. Tanda Nikolsky negatif.

Bula pecah meninggalkan skuama anular dengan bagian tengah eritemantosa (kolaret) dan cepat mengering

c. Ektima

Merupakan bentuk pioderma ulseratif yang

(34)

grup A.

Predileksi: ekstremitas bawah atau daerah terbuka Ulkus dangkal tertutup krusta tebal dan

lengket,bewarna kuning keabuan kotor.

Apabila krusta diangkat, tampak ulkus bentuk punched out, tepi ulkus meninggi, indurasi, bewarna keunguan.

d. Folikulitis

Merupakan salah satu bentuk pioderma pada folikel rambut dan jaringan sekitarnya.

Dibedakan menjadi 2 bentuk:

1. Folikulitis superfisialis (Impetigo Bockhart/impetigo folikular)

Predileksi: skalp (anak-anak), dagu, aksila, ekstremitas bawah, bokong (dewasa). Terdapat rasa gatal dan panas.

2. Folikulitis profunda (sycosis barbae) Predileksi: dagu, atas bibir.

Nodus eritemantosa dengan perabaan hangat, nyeri

e. Furunkel/karbunkel

Merupakan peradangan pada folikel rambut dan jaringan sekitarnya.

Predileksi: daerah berambut yang sering

mengalami gesekan, oklusif, berkeringat, misalnya leher, wajah, aksila, dan bokong.

Lesi berupa nodus eritemantosa, awalnya keras, nyeri tekan, dapat membesar 1-3cm, setelah beberapa hari terdapat fluktuasi, bila pecah keluar pus.

Karbunkel lebih besar, diameter dapat mencapai 3-10 cm, dasar lebih dalam. Nyeri, sering disertai gejala konstitusi. Pecahnya lebih lambat, sembuh dangan skar.

Pioderma profunda

 Terdapat gejala konstitusi  Erupsi kulit diikuti rasa nyeri:

1. Erisipelas: merah cerah, infilrat di bagian pinggir, endema, vesikel dan bula di atas lesi 2. Selulitis: infiltrat eritemantosa difus

3. Flegmon: selulitis dengan supurasi 4. Asbes kelenjar keringat: tidak nyeri,

bersama miliaria, nodus eritemantosa bentuk kubah

5. Hidradenitis: nodus, abses, fistel di daerah ketiak atau perineum

6. Ulkus piogenik: ulkus dengan pus Nonmedikamentosa:

Membatasi penularan: edukasi terhadap pasien dan keluarganya agar menjaga higiene perorangan yang

(35)

baik.

Mengatasi faktor predisposisi dan keadaan komobid, misalnya infestasi parasit atau dermatitis atopik Medikamentosa:

Prinsip: pasien berobat jalan, kecuali pada erisipelas, selulitis dan flegmon dianjurkan rawat inap.

1. Topikal:

 Bila banyak pus atau krusta: kompres terbuka dengan permanganas kalikus 1/5000, rivanol 1‰, larutan povidon 7,5% (sediaan povidon yang ada di pasaran bukankan 10%?) dilarutkan 10 kali; dilakukan 3 kali sehari masing-masing 1 jam selama keadaan akut

 Bila tidak tertutup pus atau krusta: salap/krim asam fusidat 2%, mupirosin 2%, neomisin dan basitrasin.

 Dioleskan 2-3 x sehari, selama 7-10 hari.  Bila terdapat krusta: dilepaskan

2. Sistemik: minimal selama 7 hari First line:

 Kloksasilin: dewasa 4 x 250-500 mg/hari per oral ; anak-anak 50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis, selama 5-7 hari.

Pada S.aureus resisten eritromisin

 Amoksilin dan asam klavulanat: dewasa 3 x 250-500 mg/hari; anak-anak 25 mh/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis, selama 5-7 hari

 Sefaleksin: 40-50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis, selama 5-7 hari

 Sefaklor: 20 mg/kgBBhari terbagi 3 dosis Second line:

 Azitromisin 1 x 500 mg/hari (hari I), dilanjutkan 1 x 250 mg (hari II-V)

 Klidamisin 15 mg/kgBB/hari terbagi 3 dosis, selama 10 hari

 Eritromisin: dewasa 4 x 250-500 mg/hari; anak-anak 20-50 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis, selama 5-7 hari.

(36)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Kusta No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh basil Mycobacterium leprae yang bersifat obligat intraselular. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit, selanjutnya dapat

menyebar ke organ lain, kecuali susunan saraf pusat. Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis Lesi kulit

 Makula hipopigmentasi : leukoderma, vetiligo, tinea versikolor, pitriasis alba, morfea dan parut  Plak eritm : tinea korporis, lupus eritematosus,

grannuloma anulare, sifilis sekunder, sarkoides, leukimia kutis dan mikosis funggoides

 Ulkus : ulkus diabetik, ulkus kolosum, frambusia, penyakit Raynaud dan Buerger

Gangguan saraf

Neuropati perifer : neuropati diabetik, amiloidosis saraf, trauma

Penatalaksanaan Klinis

 Timbul makula hipopigmentasi atau eritema dengan hipo atau anastesi

 Dapat disertai keluhan kelemahan otot dan berkurangnya jumlah keringat

 Riwayat kontak dengan penderita

 Latar belakang keluarga riwayat tinggal di daerah endemis

 Riwayat pengobatan

 Periksa seluruh tubuh dengan pencahayaan yang baik, sebaiknya sinar oblik

 Pemeriksaan lesi kulit (lokasi, morfologi)

 Pemeriksaan uji sensibilitas (raba, nyeri dan suhu tubuh)

 Pemeriksaan saraf tepi (pembesaran, konsistensi, nyeri tekan, nyeri spontan)

1. Medikamentosa

Pengobatan kusta adalah Multi Drug Treatment (MDT), standar WHO (1997)

(37)

- Rifampisin 600mg setiap bulan - DDS 100mg/hari

Lama pengobatan : diberikan sebanyak 6 dosis yang diselesaikan dalam 6-9 bulan 1.2 Tipe MB :

- Rifampisin 600 mg/bulan - DDS 100mg/hari

- Klofazimin 300 mg setiap bulan, diteruskan 50 mg sehari atau 100 mg selang sehari atau 3 kali 100 mg setiap minggu

Lama pengobatan : diberikan sebanyak 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan 1.3 Tipe PB dengan lesi tunggal :

- Rifampisin 600 mg - Ofloksasin 400 mg - Minosiklin 100 mg

Lama pengobatan : diberikan 1 kali sebagai dosis tunggal

1.4 MDTL alternatif

- Bila terjadi toksisitas terhadap rifampisin, dapat diganti ofloxacin 400 mg /hari dengan minocycline 100 mg/hari selama 6 bulan. Dilanjutkan dengan ofloxacin 400 mg/hari atau minocycline 100 mg/hari selama 18 bulan. Sementara DDS dan klofazimin tetap diteruskan.

- Bila terjadi toksisitas terhadap DDS, pada pasien MH tipe PB, diganti klofazimin. Pada pasien MH tipe MB MDT tetap berlanjut tanpa DDS.

- Bila pasien menolak pemberian klofazimin dapat diganti dengan ofloxacin 400 mg/hari selama 12 bulan

2. Rawat inap

 Bila disertai reaksi reserval atau ENL berat  Pasien dengan keadaan umum buruk (ulkus,

gangren)

 Pasien dengan rencana tindakan operatif 3. Nonmedikamentosa

 Rehabilitasi medik, karya sosial

 Penyuluhan kepada pasien, keluarga dan masyarakat

(38)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Reaksi Kusta No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan penyakit yang sebenarnya sangat kronik.

Reaksi kusta terdiri atas tipe 1 (reaksi reselval) dan tipe 2

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis

Penatalaksanaan Klinis Reaksi kusta

Identifikasi tipe reaksi (reaksi tipe I atau tipe II) disertai derajat reaksinya.

Gejala/ tanda Reaksi tipe 1 Reaksi tipe 2

Keadaan umum Umumnya baik,

demam ringan (sub febris) atau tanpa demam Ringan sampai berat disertai kelemahan umum dan demam tinggi Peradangan di

kulit Bercak kulit lamamenjadi lebih meradang (merah), dapat timbul bercak baru Timbul nodul kemerahan, luna dan nyeri tekan. Biasanya pada lengan dan tungkai. Nodul dapat pecah (ulserasi)

Neuritis Sering terjadi,

berupa nyreri tekan saraf dan atau gangguan

(39)

fungsi saraf Peradangan pada

organ lain Hampir tidak ada Terjadi pada mata, kelenjar getah bening, sendi, ginjal, testis, dll.

Waktu timbul Biasanya dalam 6

bulan pertama pengobatan Biasanya setelah mendapatkan pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan

Tipe kusta Dapat terjadi

pada kusta tipe PB maupun MB

Hanya pada kusta tipe MB

Reaksi berat ditandai dengan salah satu dari gejala berikut :

 Adanya lagopthaimos baru terjadi dalam 6 bulan terakhir

 Adanya nyeri raba saraf tepi

 Adanya kekuatan otot berkurang dalam 6 bulan terakhir

 Adanya makula pecah atau nodul pecah

 Adanya makula aktif (meradang) diatas lokasi saraf tepi

1. Penanganan reaksi

Prinsip pengobatan reaksi ringan - Berobat jalan,

- Pemberian analgetik, obat penenang bila perlu - MDT diberikan terus dengan dosis tetap

- Menghindari /menghilanglangkan faktor pen Prinsip pengobatan Reaksi Berat

- Imbolisasi organ tubuh yang terkena neuritis - Pemberian analgetik/antipiretik, obat penenang

bila perlu

- MDT tetap diberikan dengan dosis tidak diubah - Menghindari /menghilangkan faktor pencetus - Memberikan obat anti reaksi: Prednison,

lamprene, thalidomide (kalau tersedia)

- Bila ada indikasi rawat inap penderita dikirim ke rumah sakit

2. Obat anti reaksi terdiri dari : - Prednison

Cara pemberiannya:

 2 minggu pertama : 40 mg/hari (1x8 tab) pagi hari sesudah makan

 2 minggu kedua : 30 mg/hari (1x6 tab) pagi hari sesudah makan

 2 minggu ketiga : 20 mg/hari (1x4 tab) pagi hari sesudah makan

 2 minggu keempat : 15 mg/hari (1x3 tab) pagi hari sesudah makan

(40)

 2 minggu kelima : 10 mg/hari (1x2 tab) pagi hari sesudah makan

 2 minggu keenam : 5 mg/hari (1x1 tab) pagi hari sesudah makan

Bila diperlukan dapat digunakan steroid jenis lain dengan dosis yang setera dan

penurunan dosis secara bertahap juga. - Lamprene

Obat dipergunakan untuk penenganan / pengobatan reaksi ENI yang berulang-ulang. Cara pemberian:

 3 x 100 mg/hari selama 2 bulan  2 x 100 mg/hari selama 2 bulan  1 x 100 mg/hari selama 2 bulan

- Thalidomid. Bila obat ini tersedia. (hanya untuk reaksi tipe 2)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Relaps No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Penderita dinyatakan relaps bila telah pernah mendapatkan MDT, dinyatakan sembuh, tetapi kemudian kambuh lagi.

Untuk kasus tipe MB, diperlukan pemeriksaan ulang BTA. Bila terjadi peningkatan Index Bakterilogi ≥ 2 dibandingkan saat mendiagnosis, maka penderita dinyatakan relaps.

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis

Penatalaksanaan Penderita diobati MDT sesuai hasil pemeriksaan pada saat itu.

(41)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Dermatofitosis No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian Dermatofitosis merupakan penyakit jamur superfisial yang disebabkan oleh kelopok dermatofilia

(Trichophyton sp., Epidermophyton spdan Microsporum sp)

Terminologi “tinea” atau ringworm secara tepat menggambarkan dermato-mikosis, dan dibedakan berdasarkan lokasi anatomi infeksi.

Klasifikasi menurut lokasi : - Tinea kapitis - Tinea korporis - Tinea kruris - Tinea pedis - Tinea manum - Tinea unguium Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis Pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit atau kuku menggunakan mikroskop dan KOH 20 % :

(42)

tampak hifa panjang dan atau artropora.

Kultur dengan agar Sabouraud plus:pada suhu 28° C selama 1-4 minggu. (tidak harus selalu dikerjakan, kecuali pada tinea unguium) Lampu Wood hanya berfluoresensi pada tinea kapitis yang disebabkan oleh Microsposrum.

Penatalaksanaan Klinis

Tinea kapitis

Bergantung pada etiloginya.

Noninflammatory, human, atau epidemic type (“grey patch”)

Inflamasi minimal, rambut pada daerah terkena berubah warna menjadi abu-abu dan tidak berkilat, mudah patah di atas permukaan skalp.

Lesi tampak berskuama, hiperkeratosis, batas tegas karena rambut yang patah. Berfluoresensi dengan lampu Wood.

Imflammatory type, kerion

Biasanya disebabkan oleh patogen zoofilik atau geofilik. Spektrum inflamasi berkisar mulai dari folikulitis pustular sampai kerion. Sering terjadi alopesia sikatrisial.

Lesi biasanya gatal, dapat disertai nyeri,

limfadenopati servikal posterior, demam, dan lesi lain pada kulit glaprosa.

“Black dot”

Disebabkan oleh organisme endotriks antropofilik. Rambut mudah patah, pada permukaan sklap, meninggalkan kumpulan titik hitam pada daerah alopesia (black dot). Kadang masih terdapat sisa rambut normal di antara alopesia. Dapat

bervariasi, hanya skuama difus dengan sedikit rambut rontok.

Tinea korporis

Mengenai kulit tidak berambut, keluhan gatal

terutama bila berkeringat, dan secara klinis tampak: lesi berbatas tegas, polisiklik, tepi aktif karena tanda radang lebih jelas, dan polimorfi yang terdiri atas eritema, skuama dan kadang papul dan vesikel di tepi, penyembuhan di tengah (central healing). Tinea kruris

Lesi serupa tinea korporis, terletak di daerah inguinal, dapat meluas ke suprapubis, perinium, dan bokong. Meskipun relatif jarang, genital dapat kena.

Sering disertai gatal dengan meserasi atau infeksi sekunder.

Tinea pedis

Tipe interdigital (chronic intertriginous type) Bentuk klinis paling banyak. Dimulai dengan

(43)

skuamasi, erosi dan eritema pada daerah

interdigital dan subdigital kaki, terutama pada tiga jari lateral.

Pada kondisi tertentu, infeksi dapat menyebar ke telapak kaki yang berdekatan dan bagian kura-kura kaki. Jarang mengenai dorsum kaki.

Okulasi ko-infeksi dengan bakteri segera

menyebabkan maserasi, pruritus, dan melador (dermatofosis kompleks atau athelete’s foot).  Tipe hiperkerototik kronik

Klinis tampak skuama difus atau setempat,

bilateral pada kulit yang tebal (telapak kaki, aspek lateral dan medial kaki), dikenal sebagai vesikel, meninggalkan skuama kolaret dengan diameter kurang dari 2 mm.

Tinea manum unilateral umumnya terjadi

berhubungan dengan tinea pedis hiperkeratotik sehingga terjadi “two feet-one hand syndrome”.  Tipe vesikobulosa

Klinis tampak vesikel tegang dengan diameter lebih dari 3 mm, vesikopustul, atau bula pada kulit tipis telapak kaki dan periplantar.

Jarang dilaporkan pada anak-anak.  Tipe ulseratif akut

Terjadi ko-infeksi dengan bakteri gram negatif menyebabkan vesikopustul dan daerah luas dengan ulserasi purulen pada permukaan plantar. Sering diikuti selulitis, limfangitis, limfadenopati, dan demam.

Tinea manum

Biasanya unilateral, terdapat 2 bentuk :

 Dishidrotik : lesi segmental atau anular berupa vesikel dengan skuama di tepi pada telapak tangan, jari tangan, dan tepi lateral tangan.

 Hiperkeratotik : vesikel mengering dan membentuk lesi sirkular atau iregular, eritemantosa, dengan skuama. Lesi kronik dapat mengenai seluruh telapak tangan dan jari disertai fisur.

Tinea unguium

Onikomikosis merujuk pada semua infeksi pada kuku yang disebabkan oleh jamur dermatofita, jamur nondermatofita, atau ragi (yeasts).

Dapat mengenai kuku tangan maupun kuku kaki, dengan bentuk klinis:

1. Onikomikosis subungual proksimal 2. Onikomikosis subungual distal 3. Onikomikosis superfisial putih 4. Onikomikosis lateral distal 5. Distrofik totalis

(44)

a. Topikal:

- Obat pilihan: golongan alilamin sekali sehari selama 1-2 minggu

- Alternatif : Golongan azol Siklopiroksolamin Asam undesilinat Tolnafat

(1-2 kali sehari selama 2-4 mimggu)

b. Sistemik: Bila lesi kronik atau luas

1. Griseofulvin oral 10 – 25 mg/khBB/hari,

ketokonazol 200 mg/hari, atau itrakonazol 2 x 100 mg/hari,

2. Terbinafin oral 1 x 250 mg/hari hingga klinis membaik dan hasil pemeriksaan laboratorium negatif.

Catatan : hati-hati efek samping obat sistemik. Pengobatan khusus untuk:

Tinea kapitis:  Sistemik:

Obat pilihan: Griseofulvin fine particle, 10-25 mg/kgBB/hari, 6-8 minggu

Alternatif : itrakonazor 3-5 mg/hari, 4-6 minggu Terbinafin 62,5-250 mg/hari (bergantung berat badan) selama 2-4x/minggu

Tinea ungulum:

- Bila mengenal 1-2 kuku dengan keterlibatan >2/3 bagian kuku:

Obat pilihan : Siklopiroksolamin topikal (cat kuku)

Alternatif : obat golongan azol (tingtura/lasio, krim)

- Bila mengenai >2 kuku dan melibatkan >2/3 bagian kuku:

Obat pilihan : Itrakonazol 2 x 200 mg/hari selama seminggu setiap bulan selama 2-3 bulan

Alternatif: Terbinafin 1 x 250 mg/hari selama 3 bulan.

Tinea pedis

Khusus bentuk mocassin foot: itrakonazol 2 x 100 mg/hari atau terbinafin 1 x 250 mg/hari selama 4 – 6 minggu.

(45)

RSUD S.K LERIK

KUPANG

Jl. Timor Raya No. 134

Pasir Panjang Kupang

SMFPELAYANAN KULIT

Disahkan oleh : Direktur RSUD Kota

Kupang dr. Marsiana Y. Halek Pembina Tk.I(IV/b) NIP. 19770712 2001 12 2 003 Kandidiasis / Kandidosis No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

(46)

Pengertian Kandidiasis (USA) atau Kandidosis (Eropa) merupakan kelompok penyakit infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans oleh spesies lain genus Candida. Organisme tersebut pada umumnya dapat

menginfeksi kulit, kuku, membran mukosa, dan saluran cerna, tetapi dapat juga menyebabkan penyakit sistemik.

Klasifikasi:

 Kandidiasis kulit  Kandidiasis mukosa  Kandidiasis kuku

 Kandidiasis mukokutan kronik  Kandidiasis diseminata

Kebijakan

Pemeriksaan Diagnosis

Penatalaksanaan Klinis

Kandidiasis kutis

 Dapat ditemukan pada semua umur usia,

mengenai daerah intertriginosa yang lembabdan mudah mengalami meserasi, misalnya: sela paha, ketiak, sela jari, infra mamae, atau sekitar kuku, dan juga dapat meluas kebagian tubuh lainnya.  Kulit tampak bercak eritemantosa berbatas tegas,

bersisik, basah, dikelilingi oleh lesi satelit berupa papul, vesikel dan pustul kecil di sekitarnya. Kandidiasis mukosa

Merupakan infeksi oportunis, dapat berupa: Mukosa oral:

Kandidiasis pseudomembran akut (thrush): Bercak bewarna putih (pseudomembran) tebal, diskret atau konfluen pada mukosa bukal, lidah, palatum, dan gusi

 Kandidiasis atrofik akut (kandidiasis eritemantosa): Bercak halus (papila lidah menipis) tertutup oleh pseudomembran tipis pada permukaan dorsal lidah Dapat disertai rasa panas atau nyeri.

Kandidiasis atrofik kronik (denture stomatitis) Mukosa palatum yang kontak dengan gigi tampak edematosa dan eritmantosa , bersifat kronik Dapat dijumpai keilitis angularis

Keilosis kandidal (keilitis angularis/perleche): - Pada sudut mulut tampak eritema, fisura,

maserasi yang terasa nyeri. Mukosa genitalia:

 Kandidiasis vulvovaginal:

(47)

rasa gatal dan panas, kadang disuria

Pemeriksaan: tampak plak berwarna putih, dasar erimantosa, pada dinding vagina disertai edema disekitarnya yang dapat meluas sampai ke labia dan perineum

 Balanitis dan balanopostitis kandida:

 Keluhan: kulit penis tampak eritemantosa, panas transien, muncul setelah berhubungan seksual Pemeriksaan: Papul atau papulopustul rapuh pada glans penis atau sulkus koronarius penis

Kandidiasis kuku

Tampak perubahan kuku sekunder, tebal mengeras, onikolisis, Beau’s line dengan diskoloriasasi kuku bewarna coklat atau hijau sepanjang sisi lateral kuku, tidak rapuh. Tetap berkilat dan tidak terdapat debris di bawah kuku.

 Paronikia kandida:

Tampak kemerahan, bengkak, dan nyeri pada kuku disertai retraksi kutikula sampai lipat kuku

proksimal, dapat disertai pus. Kandidiasis mukokutan kronik

Merupakan suatu sindrom kandidosis kronik rekuren pada pasien yang ditandai dengan infeksi resisten terhadap terapi.

Merupakan manifestasi akibat defek sistem

imunologi, umumnya defek imunitas seluler. Berupa infeksi yang luas, eritemantosa atau granulomatosa, pada membran mukosa, kulit dan kuku.

Kandidiasis diseminata

Infeksi kandida yang meluas secara hematogen dari orofaring atau saluran cerna, dan melibatkan banyak organ, kadang ke kulit.

Karakteristik lesi kulit: papul-papul eritemantosa berdiameter 0,5-1cm, bagian tengah tampak

hemoragik tau pustular, kadang nekrotik. Lokasi lesi pada badan, ekstremitas. Gejala sistemik: demam dan mialgia.

MedikamentosaKandidiasis kutis :

Topikal: Nistatin dan krim Imadazol

Bedak mikonazol selanjutnya dapat untuk pencegahan

Kandidiasis vulvovagina :

Topikal: Imidazol: butokonazol, mikonazol, klotrimazol, tiokonazol, ekonazol, terkonazol, selama 3-7 hari

Aman untuk wanita hamil

Sistemik: flukonazol 150 mg dosis tunggal Intrakonazol 2x100 mg, selama 3 hari

Referensi

Dokumen terkait