• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

B. REALISASI ANGGARAN

Pada sub bab ini diuraikan realisasi anggaran yang digunakan dan yang telah digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja.

Bab IV Penutup

Pada bab ini diuraikan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya. Lampiran

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A. RENCANA STRATEGIS

Arah kebijakan dan strategi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari arah kebijakan dan strategi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Kesehatan dalam rangka mendukung visi pemerintah, yaitu “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-royong”. Upaya untuk mewujudkan visi ini adalah melalui 7 misi pembangunan yaitu:

1. Terwujudnya keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.

2. Mewujudkan masyarakat maju, berkesinambungan dan demokratis berlandaskan negara hukum.

3. Mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif serta memperkuat jati diri sebagai negara maritim.

4. Mewujudkan kualitas hidup manusia lndonesia yang tinggi, maju dan sejahtera. 5. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.

6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional, serta

7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.

Selaras dengan arah kebijakan dan strategi Kementerian Kesehatan, serta sesuai dengan tujuan Ditjen Binfar dan Alkes dalam rangka mewujudkan dukungan yang optimal dalam pencapaian pelayanan kesehatan yang optimal, adil, dan merata, maka Ditjen Binfar dan Alkes menetapkan arah kebijakan dan strategi yang akan dilakukan dalam periode 2015-2019. Secara khusus, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan membawa misi untuk menjadi pemberi layanan publik yang profesional melalui tata kelola pemerintahan yang baik.

Pada tahun 2015 – 2019, Kementerian Kesehatan memiliki 2 tujuan, yaitu: 1. Meningkatnya status kesehatan masyarakat dan;

2. Meningkatnya daya tanggap (responsiveness) dan perlindungan masyarakat terhadap resiko sosial dan finansial di bidang kesehatan.

Dalam mendukung tujuan di atas, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan melaksanakan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya dimaksudkan untuk:

1. Melakukan manajerial pelaksanaan program;

2. Meningkatkan sarana dan prasarana aparatur; serta

3. Meningkatkan pengawasan, akuntabilitas kinerja dan pelaksanaan praktek tatakelola pemerintahan yang baik.

Perencanaan kinerja merupakan proses penetapan target kinerja berdasarkan program, kebijakan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana strategis sebagai pedoman dalam pelaksanaan program dan kegiatan secara sistematis, terarah dan terpadu.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan melaksanakan kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

Sasaran merupakan hasil yang akan dicapai secara nyata oleh instansi pemerintah dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan. Sasaran kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada program kefarmasian dan alat kesehatan adalah sebagai berikut:

Tercapainya sasaran tersebut direpresentasikan dengan indikator kinerja beserta target kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel1.

Tabel 1.

Indikator Kinerja dan Target Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015-2016

Indikator Kinerja Target

2015 2016 2017 2018 2019

Persentase kepuasan klien terhadap dukungan

manajemen

80% 85% 87% 89% 95%

Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada program kefarmasian dan alat kesehatan

Cara perhitungan dari indikator tersebut sebagaimana tercantum dalam Tabel 2.

Tabel 2.

Cara Perhitungan Indikator Kinerja Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Indikator Kinerja Cara Perhitungan

Persentase kepuasan klien terhadap

dukungan manajemen

Persentase kepuasan = Jumlah item yang memenuhi kepuasan klien x 100% Jumlah pelayanan yang diberikan

B. PERJANJIAN KINERJA

Perjanjian Kinerja merupakan lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Melalui perjanjian kinerja, terwujudlah komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi, dan wewenang serta sumber daya yang tersedia.

Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan menyusun perjanjian kinerja mengacu kepada Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019. Target ini menjadi komitmen bagi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan untuk mencapainya dalam tahun 2015.

Perjanjian Kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.

Perjanjian Kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat KesehatanTahun 2015

Sasaran Indikator Kinerja Target 2015

Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Persentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI 1. PENGUKURUAN KINERJA

Pengukuran kinerja adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, kebijakan, sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi, misi dan strategi instansi pemerintah. Pengukuran kinerja menggunakan alat ukur berupa indikator sebagaimana yang telah ditetapkan pada dokumen perencanaan kinerja.

Tahun 2015 merupakan tahun pertama dalam pelaksanaan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019. Pengukuran kinerja dilakukan dengan membandingkan antara realisasi kinerja dengan target kinerja dari masing-masing indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam perencanaan kinerja. Melalui pengukuran kinerja diperoleh gambaran pencapaian masing-masing indikator sehingga dapat ditindaklanjuti dalam perencanaan kegiatan di masa yang akan datang agar setiap kegiatan yang direncanakan dapat lebih berhasil guna dan berdaya guna.

Hasil pengukuran kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4.

Capaian Indikator Kinerja Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target

2015 Realisasi 2015 Capaian 2015 Meningkatnya dukungan

manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Persentase kepuasan klien terhadap

dukungan manajemen

80% 85,71% 107,14%

2. ANALISIS AKUNTABILITAS KINERJA

Sasaran merupakan hasil yang akan dicapai secara nyata oleh instansi pemerintah dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan. Sasaran kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada program kefarmasian dan alat kesehatan adalah meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada program kefarmasian dan alat

kesehatan. Analisis capaian kinerja dari indikator kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada program kefarmasian dan alat kesehatan sebagai berikut:

Kondisi yang dicapai:

Tabel 5.

Target, Realisasi dan Capaian Indikator Persentase Kepuasan Klien Terhadap Dukungan Manajemen Tahun 2015

Indikator Kinerja Target 2015 Realisasi 2015 Capaian 2015 Persentase kepuasan klien terhadap

dukungan manajemen

80% 85,71% 107,14%

Grafik 1.

Target dan Realisasi Indikator Persentase Kepuasan Klien Terhadap Dukungan Manajemen Tahun 2015 80 85,71 85 87 89 95 0 20 40 60 80 100 2015 2016 2017 2018 2019 Target Realisasi

Memperhatikan fungsi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam fungsi pengawasan, akuntabilitas kinerja dan pelaksanaan praktek tata kelola pemerintahan yang baik maka dalam hal ini Bagian Kepegawaian dan Umum telah menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 sebagai acuan dalam pelaksanaan pelayanan yang dilakukan.

Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan meliputi: laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP), pengusulan pencairan dana kegiatan, kenaikan gaji berkala (KGB), cuti pegawai, usul kenaikan pangkat reguler pegawai, usul penetapan angka kredit jabatan fungsional apoteker dan asisten apoteker, surat masuk, dan persediaan alat tulis kantor.

Persentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen

Persentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen

Persentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen menggambarkan kinerja kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya di Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Yang dimaksud dengan kepuasan klien terhadap dukungan manajemen adalah tersedianya pelayanan kesekretariatan yang sesuai standar dan memenuhi kebutuhan klien, dalam hal ini semua pihak yang menerima layanan dari Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

Indikator ini diukur dengan jumlah item yang memenuhi kepuasan klien dibandingkan dengan jumlah pelayanan yang diberikan. Dari 8 jenis pelayanan yang masuk dalam penerapan Manajemen Mutu ISO 9001:2008 Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, LAKIP hanya dihitung pada pencapaian target triwulan I. Pengukuran indikator ini menggunakan survey kepuasan klien yang diukur pada saat layanan diberikan. Adapun hasil survey dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6.

Hasil Survey Pengukuran Kepuasan Klien Terhadap Dukungan Manajemen

No Produk Hasil Keterangan

1 Cuti 4,18 Memuaskan

2 Surat Masuk 4,12 Memuaskan

3 Penilaian Angka Kredit 3,93 Cukup memuaskan

4 Kenaikan Pangkat 4,00 Memuaskan

5 Kenaikan Gaji Berkala 4,01 Memuaskan 6 Alat Tulis Kantor 4,32 Memuaskan

7 Pencairan Dana 4,01 Memuaskan

Dari hasil survey tersebut, dilakukan perhitungan sesuai dengan rumus yang ditetapkan pada Renstra Kementerian Kesehatan 2015-2019. Kepuasan pelanggan menggunakan skala penilaian 1-5. Sesuai dengan standar yang terdapat dalam dokumen mutu, sebuah pelayanan disebut memuaskan bila memperoleh hasil survey ≥ 4 (Kriteria Memuaskan).

Persentase kepuasan = Jumlah item yang memenuhi kepuasan klien x 100% Jumlah pelayanan yang diberikan

Persentase kepuasan = 6 x 100%

7

Sekretariat Direktorat Jenderal telah dapat mencapai target kinerjanya. Walaupun demikian, terdapat beberapa permasalahan yang ditemui dalam pelaksanaan kinerja selama tahun 2015.

Permasalahan:

1. Sulitnya mengumpulkan data pelayanan keterbukaan informasi publik.

2. Belum optimalnya pemanfaatan Saluran Informasi dan Aspirasi Pengaduan (SIAP) dalam pelayanan pengaduan/keluhan terkait Program Kefarmasian dan Alkes.

3. Adanya proses revisi anggaran refocusing sehingga mempengaruhi realisasi anggaran dan pelaksanaan kegiatan.

Upaya-upaya dalam pemecahan masalah:

1. Mengkonsolidasikan mekanisme pengumpulan data pelayanan keterbukaan informasi publik.

2. Melakukan pemantauan berkala atas aplikasi SIAP dalam pelayanan pengaduan/keluhan.

3. Menyelesaikan kebutuhan dokumen dalam proses revisi anggaran.

Sebagai upaya untuk mencapai indikator kepuasan klien terhadap dukungan manajemen, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan telah melaksanakan berbagai kegiatan sebagai berikut:

1. Evaluasi Standar Prosedur Operasional Bagian Keuangan

Ditjen Binfar dan Alkes terus-menerus melakukan perbaikan (continuous improvement system) terhadap operasional manajemen. Diharapkan dengan perbaikan ini, terjadi peningkatan pelayanan dan peningkatan kinerja organisasi di bidang keuangan. Sehingga pada tahun 2015 dilakukan evaluasi terhadap Standar Prosedur Operasional di Bagian Keuangan, untuk mengevaluasi standar prosedur, baik dalam tata cara penarikan, maupun pertanggungjawaban keuangan yang sudah berjalan selama ini.

2. Koordinasi Pengelolaan Keuangan di Lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara bahwa dalam rangka mendukung terwujudnya good governance penyelenggaraan negara, pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan secara profesional, terbuka, dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan. Hal ini mendasari Sekretariat Direktorat Jenderal

melaksanakan pertemuan pengelola keuangan agar tata kelola keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Pembinaan Perbendaharaan Ditjen Binfar dan Alkes

Pembinaan Perbendaharaan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serta profesionalitas SDM Pengelola keuangan sehingga menghasilkan proses pengelolaan keuangan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Gambar 3.

Pertemuan Pembinaan Perbendaharaan Ditjen Binfar dan Alkes Tahun 2015 Melalui pembinaan perbendaharaan ini diharapkan Satker di lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes baik Satker Pusat maupun Satker Daerah (DK-07) di masing-masing wilayah dapat terus meningkatkan sinergisitas dan harmonisasi, sehingga dapat mempertahankan WTP di tahun-tahun yang akan datang.

4. Konsolidasi Pusat dan Daerah dalam rangka Penyusunan Laporan Keuangan SAI (SAIBA dan SIMAK BMN) Ditjen Binfar dan Alkes

Gambar 4.

Pertemuan Konsolidasi Pusat dan Daerah dalam rangka Penyusunan Laporan Keuangan SAI (SAIBA dan SIMAK BMN) Ditjen Binfar dan Alkes

Dalam penyusunan laporan keuangan, diperlukan adanya konsolidasi data laporan keuangan antara pusat dan daerah agar laporan yang dihasilkan menjadi transparan dan akuntabel. Kegiatan yang dilaksanakan dengan metode memberikan penjelasan tentang laporan keuangan meliputi pelaporan pelaksanaan anggaran yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) kepada seluruh peserta satker 07 dalam rangka penyusunan laporan keuangan dalam menyusun Akuntabilitas Kinerja Unit Akuntansi Instansi (UAI).

5. Penyusunan Draft dan Sosialisasi Petunjuk Pelaksanaan Anggaran Tahun 2016 Dalam rangka mewujudkan pertanggungjawaban keuangan sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang Keuangan Negara dan Keputusan Presiden, Peraturan Menteri Keuangan, dan peraturan-peraturan lain yang terkait dengan pelaksanaan anggaran, maka perlu dibuat Penyusunan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Anggaran yang mengatur pelaksanaan anggaran khususnya di lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Anggaran dibuat agar dijadikan acuan/pedoman dalam pelaksanaan anggaran dengan memberikan informasi yang update tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran. Hasil dari penyusunan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Anggaran akan disosialisasikan dengan mengundang Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Bendahara, Staf yang terkait pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran di lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes.

Sosialisasi tersebut bertujuan untuk memberikan pembekalan dan keseragaman pemahaman agar pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

6. Penyusunan Laporan Keuangan Ditjen Binfar dan Alkes

Akuntabilitas dari laporan keuangan instansi pemerintah menjadi hal yang sangat penting dalam berjalannya instansi tersebut. Pertanggungjawaban keuangan terhadap anggaran yang diterima diharapkan dapat dilaporkan dengan baik sehingga laporan tersebut menjadi akuntabel. Kegiatan Penyusunan Laporan Keuangan Ditjen Binfar dan Alkes yang diselenggarakan pada tahun 2015 terdiri dari penyusunan Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Adapun laporan ini menjadi bahan utama yang digunakan dalam pemeriksaan baik audit internal maupun audit eksternal.

7. Penyusunan Laporan Verifikasi Pertanggungjawaban Keuangan di Lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes

Laporan verifikasi pertanggungjawaban Keuangan disusun untuk menyajikan Laporan Pertanggungjawaban Direktorat Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan berupa pertanggungjawaban Keuangan dalam penyusunan Akuntabilitas Kinerja Unit Akuntansi Instansi (UAI) sehingga laporan pertanggungjawaban keuangan dapat tersaji dengan cepat, transparansi, akurat, lengkap dan tepat waktu.

8. Pertemuan PRK, RPD, dan RUP Ditjen Binfar dan Alkes TA 2015

Keharmonisan dan sinkronisasi antara pelaksanaan kegiatan dan pengaturan penarikan dana mutlak dibutuhkan demi kelancaran pelaksanaan kegiatan di Lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes. Melalui penyusunan RPK, RPD dan RUP diharapkan menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan dan memudahkan merealisasikan kegiatan, sehingga penyerapan anggaran akan lebih tepat waktu dan tepat sasaran.

9. Updating Perencanaan Kas

Updating data Perencanaan kas adalah dengan menyesuaikan jadwal pelaksanaan kegiatan dan Perkiraan Penarikan Dana dengan realisasi dan perubahan kondisi di lapangan yang diperkirakan mengubah Perkiraan Penarikan Dana. Perkiraan Penarikan Dana menggunakan Aplikasi Forecasting Satker (AFS) bertujuan agar terjaminnya ketersediaan dana dalam rangka pencapaian target program. Ditinjau dari aspek penganggaran, perencanaan kas merupakan suatu bagian penting

dalam upaya percepatan penyerapan anggaran karena dengan adanya perencanaan kas yang baik akan memastikan tersedianya dana untuk membiayai kegiatan pemerintah sehingga dapat mencegah kemungkinan terhambatnya suatu kegiatan akibat dari tersedianya dana. Updating data perencanaan kas bertujuan untuk memperkirakan aliran kas Satuan Kerja Sekretariat Ditjen Binfar dan Alkes dengan melakukan penyesuaian jumlah ketersediaan dana yang disebabkan pergeseran waktu pelaksanaan kegiatan.

10. Penataan Berkas dan Tata Kearsipan Dinamis di Lingkungan Setditjen Binfar dan Alkes

Penataan kearsipan menjadi salah satu kunci dalam manajemen perkantoran yang baik. Arsip yang dikelola dengan baik, dapat disimpan dengan efisien, disimpan sesuai tata urutan dan subyeknya, dan dapat dicari dengan mudah dan cepat bila dibutuhkan. Kegiatan Penataan Berkas dan Tata Kearsipan Dinamis di Lingkungan Setditjen Binfar dan Alkes tahun 2015 menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan pegawai dalam menata berkas dan arsip sehingga dapat disimpan secara efisien dan dapat mudah dicari apabila dibutuhkan.

11. Penyusunan Aplikasi Sistem Manajemen Surat Berbasis Web (e-office) di Lingkungan Setditjen Binfar dan Alkes

Kelemahan sistem tata persuratan manual (hardcopy) adalah kurang efisiensi dalam hal waktu, selain itu ada proses pendisposisian yang sangat dibatasi oleh ruang dimana pimpinan hanya dapat mendisposisikan sebuah surat hanya pada saat berada di kantor, atau bawahan tidak dapat mengetahui disposisi dari pimpinan ketika sedang berada diluar kantor. Hal lain adalah dalam hal pengelolaan tata persuratan seperti surat masuk, surat keluar, surat sudah/belum dibalas, surat sudah/belum terdisposisi, dll.

e-office merupakan sebuah aplikasi yang diharapkan mampu menjawab setiap tantangan yang dihadapi sebelumnya. Dengan dukungan web base membuat aplikasi ini menjadi lebih mobile sehingga ketika sebuah surat masuk maka pimpinan dapat langsung membaca dan mendisposisikan surat tersebut dimanapun berada.

12. Penyusunan Aplikasi Dupak Jabatan Fungsional Apotek dan AA

Penyusunan Aplikasi Dupak Jabatan Fungsional Apotek dan AA bertujuan untuk memfasilitasi pelaksanaan penilaian angka kredit oleh tim penilai Jabatan Fungsional Apoteker dan Asisten Apoteker secara elektronik. Penilaian angka

kredit bertujuan untuk membuka peluang bagi mereka yang berkarya di bidang pekerjaan kefarmasian di sarana kesehatan Pemerintah, agar dapat mencapai jenjang jabatan fungsional tertinggi.

13. Evaluasi Kehadiran Pegawai sesuai Finger Print dan Perhitungan Tunjangan Kinerja

Setiap pegawai Kementerian Kesehatan berkewajiban untuk melakukan daftar kehadiran harian melalui mesin finger print. Kegiatan ini mengkompilasi dan mengevaluasi daftar kehadiran pegawai di lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes. Hasil rekam per bulan mesin absen kemudian diolah untuk mendapatkan rekap resensi dari setiap pegawai, mulai dari keterlambatan, izin, cuti, sampai dengan ketidakhadiran (absen).

Hasil dari data olahan ini kemudian di evaluasi tingkat kedisplinan dari setiap pegawai, selain itu hasil dari olahan ini kemudian akan dikombinasikan dengan rumusan tunjangan yang ada untuk mendapatkan nilai tunjangan kinerja dari setiap pegawai.

14. Pelaksanaan Surveillance Audit Sertifikasi ISO 9001:2008 Setditjen Binfar dan Alkes

Pelaksanaan Surveillance Audit Sertifikasi ISO 9001:2008 Setditjen Binfar dan Alkes dilaksanakan untuk meningkatkan upaya peningkatan mutu pelayanan publik Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Hal tersebut perlu didukung dengan sistem manajemen mutu yang baik yang disesuaikan dengan standar internasional yang tersertifikasi ISO 9001:2008. Dalam pelaksanaannya terlebih dahulu dilakukan pendampingan persiapan dokumentasi dan SDM dalam rangka surveilance sertifikasi ISO 9001:2008 Setditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

15. Pembahasan dan Penilaian DUPAK Jabatan Fungsional Apoteker dan Asisten Apoteker

Bidang kefarmasian sebagai bagian integral dalam pembangunan kesehatan harus mampu mengantisipasi perubahan lingkungan, dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dan tingkat sosial masyarakat. Untuk itu, sumber daya manusia yang melaksanakan pekerjaan kefarmasian yaitu apoteker dan asisten apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan yang berperan penting dalam pelayanan kesehatan harus selalu ditingkatkan kemampuannya.

Kementerian Kesehatan dalam menyiapkan pegawai negeri sipil yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan atau pelayanan bidang kesehatan sesuai profesinya telah menetapkan 26 jenis jabatan fungsional melalui Keppres dan Perpres Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil, yang diantaranya adalah Jabatan Fungsional Apoteker dan Jabatan Fungsional Asisten Apoteker. Pelaksanaan penilaian angka kredit oleh tim penilai Jabatan Fungsional Apoteker dan Asisten Apoteker bertujuan untuk membuka peluang bagi mereka yang berkarya di bidang pekerjaan kefarmasian di sarana kesehatan pemerintah, agar dapat mencapai jenjang jabatan fungsional tertinggi.

Kegiatan Pembahasan dan Penilaian DUPAK Jabatan Fungsional Apoteker dan Asisten Apoteker yang dilaksanakan pada tahun 2015 menjadi suatu kegiatan penting yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme jabatan fungsional tersebut.

16. Penguatan Tim Penilai Dalam Rangka Dupak Jabfung Apoteker dan Asisten Apoteker

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994, pasal 8 ayat (1) mengenai Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil ditetapkan bahwa penilaian prestasi kerja bagi pejabat fungsional ditetapkan dengan angka kredit oleh tim penilai.

Pada tahun 2015 telah dilaksanakan penguatan Tim Penilai Jabatan Fungsional Apoteker dan Asisten Apoteker untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas tim penilai sehingga hasil penilaian angka kredit lebih akurat.

17. Penyusunan Daftar Urut Kepangkatan (DUK) Bagi PNS

Kegiatan ini meliputi pengumpulan data kepegawaian dari semua satker pusat di lingkungan Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan sampai dengan tanggal termutakhir. Kemudian daftar tersebut diurutkan mengikuti kaidah-kaidah urutan kepangkatan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku.

Kegiatan ini menghasilkan informasi tentang pangkat, jabatan, umur, status, latar belakang pendidikan, keahlian yang dimiliki, pendidikan perjenjangan yang telah diikuti dan informasi lain mengenai seluruh pegawai negeri sipil. Sehingga dapat dipergunakan oleh pimpinan dalam pembuatan kebijakan dan keputusan lebih lanjut terkait dengan pembinaan karir pegawai.

18. Inventarisasi, Labeling BMN dan Stock Opname Persediaan

Setiap BMN yang dimiliki Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan harus di identifikasi mengenai jenis, warna, tahun pembelian, sumber anggaran, dll. Setelah teridentifikasi maka selanjutnya seluruh BMN tersebut harus diinventarisasi secara berkala.

Pemberian label kode pada setiap BMN menjadi cukup penting mengingat dalam kode yang terdapat pada label dapat diketahui identitas dari BMN tersebut. Inventarisasi yang dilakukan secara rutin kemudian dapat dihitung sebagai persediaan.

19. Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Ditjen Binfar dan Alkes

Pelaporan kinerja menjadi bagian yang penting dalam sistem manajemen organisasi kepemerintahan yang baik. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi

Dokumen terkait