KATA PENGANTAR
Laporan kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 disusun sebagai wujud pertanggungjawaban atas kinerja berdasarkan perencanaan strategis yang telah ditetapkan. Laporan kinerja ini disusun sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2416/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Kesehatan.
Laporan ini berisi pencapaian sasaran sebagaimana yang ditetapkan di dalam dokumen penetapan kinerja dan dokumen perencanaan serta menyajikan informasi tentang pencapaian tujuan dan sasaran organisasi, realisasi pencapaian indikator kinerja utama organisasi, penjelasan yang memadai mengenai pencapaian kinerja dan perbandingan capaian indikator kinerja dengan target kinerja lima tahunan yang direncanakan.
Laporan akuntabilitas kinerja berperan sebagai alat penilaian kinerja dan sebagai wujud transparansi pelaksanaan tugas dan fungsi dalam rangka menuju tercapainya tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance). Selain itu laporan akuntabilitas kinerja merupakan salah satu alat kendali sekaligus alat untuk memacu peningkatan kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan yang sekarang berubah menjadi Sekretariat Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Demikian laporan akuntabilitas kinerja ini disusun agar setiap pemangku kepentingan mendapatkan gambaran yang jelas mengenai pelaksanaan kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2015. Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak karena keberhasilan yang diraih atas berkat dukungan dan kerja keras dari seluruh pegawai. Semoga laporan ini bermanfaat sebagai bahan evaluasi kinerja serta memberikan umpan balik bagi penyempurnaan dokumen perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan yang akan datang.
Jakarta, 28 Januari 2016 Direktorat Jenderal
Kefarmasian dan Alat Kesehatan SEKRETARIS,
IKHTISAR EKSEKUTIF
Laporan kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 disusun sebagai wujud pertanggungjawaban atas kinerja berdasarkan perencanaan strategis yang telah ditetapkan. Laporan kinerja disusun sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2416/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Kesehatan. Pada dasarnya laporan ini menginformasikan pencapaian kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 sebagai bagian dari pencapaian sasaran strategis Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada Rencana Stategis (Renstra) Kementerian Kesehatan 2015-2019.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2013, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan pelayanan teknis administrasi kepada semua unsur di lingkungan Direktorat Jenderal. Untuk itu, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya bertujuan untuk:
1) Melakukan manajerial pelaksanaan program;
2) Meningkatkan sarana dan prasarana aparatur; serta
3) Meningkatkan pengawasan, akuntabilitas kinerja dan pelaksanaan praktik tata kelola pemerintahan yang baik.
kepuasan klien terhadap dukungan manajemen dengan target sebesar 80%, terealisasi sebesar 85,71%, sehingga diperoleh nilai capaian sebesar 107,14%.
Dari indikator pencapaian kinerja tersebut diatas, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan telah mencapai target yang telah ditetapkan. Pencapaian target tersebut merupakan gambaran kinerja dukungan manjemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya dalam lingkup program kefarmasian dan alat kesehatan. Pada tahun pertama Renstra 2015-2019 pencapaian terhadap indikator yang telah ditetapkan menjadi penting sebagai modal dalam pencapaian target di tahun-tahun berikutnya. Hal ini menunjukan bahwa diperlukan kerja keras seluruh komponen dan pendayagunaan sumber daya yang optimal.
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, di awal tahun anggaran Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan didukung oleh anggaran DIPA tahun 2015 sebesar Rp. 82.618.100.000,- (Delapan puluh dua miliar enam ratus delapan belas juta seratus ribu rupiah). Seiring kebijakan pemerintah untuk melaksanakan efisiensi anggaran dan pemanfaatan kembali untuk belanja modal, alokasi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan mendapatkan tambahan menjadi Rp. 87.514.639.000,- (Delapan puluh tujuh miliar lima ratus empat belas juta enam ratus tiga puluh sembilan ribu
rupiah) karena adanya kebijakan refocusing tersebut. Realisasi anggaran sebesar Rp. 64.253.488.617,- (Enam puluh empat miliar dua ratus lima puluh tiga juta empat ratus
delapan puluh delapan ribu enam ratus tujuh belas rupiah) dengan persentase sebesar 73,42%. Walaupun realisasi anggaran hanya sebesar 73,42%, target output secara keseluruhan dapat tercapai dan tidak mempengaruhi capaian kinerja sebagaimana target yang ditetapkan.
Dalam pencapaian indikator kinerja masih diperlukan penguatan terutama dalam perencanaan penyusunan peraturan perundang-undangan bidang kefarmasian dan alat kesehatan serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan.
Upaya dan prestasi yang telah dicapai oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada tahun 2015 antara lain:
1. Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, pengusulan pencairan dana kegiatan, kenaikan gaji berkala (KGB), cuti pegawai, usul kenaikan pangkat reguler pegawai, usul penetapan angka kredit jabatan fungsional apoteker dan asisten apoteker, surat masuk, dan persediaan alat tulis kantor. Pada tahun 2015 telah dilaksanakan Surveilans Audit Sertifikasi ISO 9001:2008 Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dan mendapatkan Surveillance Assessment Report nomor visit REF. SMO 8132687 pada tanggal 29 Mei 2015, dan melalui Surat Keterangan Sertifikasi ISO 9001 No.266.00/BSIIndonesia/VII/15 yang menerangkan bahwasanya Sertifikat ISO 9001:2008 Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dapat diteruskan karena tidak ditemukan masalah Major pada saat audit pada tanggal 29 Mei 2015, untuk area asessment produk Surat Masuk, Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Pengusulan Pencairan Dana dan Persediaan ATK.
2. Predikat terbaik ketiga pada penilaian website di lingkungan Kementerian Kesehatan di tahun 2015. Penilaian ini dilakukan oleh Pusat Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal, Kementerian Kesehatan dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-51. Hal ini menunjukkan komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal untuk menjamin keterbukaan informasi dan pelayanan publik yang lebih baik.
Gambar 1.
Piagam Penghargaan Website Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015
plan materiality (PM) 0,000% pada Laporan Keuangan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan selama kurun waktu tiga tahun terakhir (2012, 2013, dan 2014) yang berkontribusi positif terhadap capaian WTP Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan serta Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2015.
4. Inisiasi pelaksanaan monitoring dan evaluasi terpadu di lingkup Sekretariat Direktorat Jenderal di daerah binaan (Provinsi Kepulauan Riau). Pelaksanaan monitoring dan evaluasi ini mendapatkan apresiasi yang baik dari daerah tujuan, dan menjadi bahan pertimbangan untuk diterapkan di periode berikutnya.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
IKHTISAR EKSEKUTIF ... ii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR GRAFIK ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. MAKSUD DAN TUJUAN ... 1
C. PERAN STRATEGIS SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN ... 2
D. STRUKTUR ORGANISASI ... 2
E. SISTEMATIKA ... 3
BAB II PERENCANAAN KINERJA ... 5
A. RENCANA STRATEGIS ... 5
B. PERJANJIAN KINERJA ... 7
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 8
A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI ... 8
B. REALISASI ANGGARAN ... 26
C. SUMBER DAYA MANUSIA ... 26
BAB IV 31PENUTUP ... 31
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Indikator Kinerja dan Target Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan
Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015-2016 ... 6 Tabel 2. Cara Perhitungan Indikator Kinerja Kegiatan Dukungan Manajemen dan
Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan ... 7 Tabel 3. Perjanjian Kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan tahun 2015 ... 7 Tabel 4. Capaian Indikator Kinerja Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan
Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 ... 8 Tabel 5. Target, Realisasi dan Capaian Indikator Persentase Kepuasan Klien Terhadap
Dukungan Manajemen Tahun 2015 ... 9 Tabel 6. Hasil Survey Pengukuran Kepuasan Klien Terhadap Dukungan Manajemen ... 10 Tabel 7. Realisasi Anggaran DIPA Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan
Alat Kesehatan Tahun 2015 ... 26 Tabel 8. Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Jabatan ... 27 Tabel 9. Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Golongan ... 27 Tabel 10. Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Pendidikan ... 28 Tabel 11. Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Jenis Kelamin ... 29 Tabel 12. Pelatihan Peningkatan SDM di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Piagam Penghargaan Website Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan Tahun 2015 ... iv Gambar 2. Struktur Organisasi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan ... 3 Gambar 3. Pertemuan Pembinaan Perbendaharaan Ditjen Binfar dan Alkes tahun 2015... 12 Gambar 4. Pertemuan Konsolidasi Pusat dan Daerah dalam rangka Penyusunan Laporan
Keuangan SAI (SAIBA dan SIMAK BMN) Ditjen Binfar dan Alkes ... 13 Gambar 5. Penandatanganan Naskah Penetapan Kinerja Ditjen Binfar dan Alkes Tahun
2015 ... 19
Gambar 6. Pertemuan MONSIDU di Provinsi Kepulauan Riau ... 20 Gambar 7. Pertemuan Pemutakhiran Data Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tingkat
Nasional Tahun 2015 ... 22 Gambar 8. Tampilan Muka Aplikasi Pemetaan Sarana Kefarmasian... 23 Gambar 9. Pertemuan Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Bidang Kefarmasian
dan Alat Kesehatan Tahun 2015 ... 24 Gambar 10. Pameran Pembangunan Kesehatan sebagai bagian dari Peringatan Hari
1. Alat
2. Alat
3. ... 12
4. oran
5. 19
6. ... 20
7.
8. ... 23
9.
10.
DAFTAR GRAFIK
Halaman Grafik 1. Target dan Realisasi Indikator Persentase Kepuasan Klien Terhadap Dukungan
Manajemen Tahun 2015 ... 9 Grafik 2. Komposisi Sumber Daya Manusia di lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal
Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2015 menurut jabatan ... 27 Grafik 3. Komposisi Sumber Daya Manusia di lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal
Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2015 menurut golongan ... 28 Grafik 4. Komposisi Sumber Daya Manusia di lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal
Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2015 menurut Pendidikan ... 28 Grafik 5. Komposisi Sumber Daya Manusia di lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Laporan kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan merupakan laporan kinerja tahunan yang berisi pertanggungjawaban kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam mencapai tujuan atau sasaran strategis. Penyusunan laporan kinerja ini mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2416/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Kesehatan, dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.
Laporan kinerja menggambarkan ikhtisar pencapaian sasaran sebagaimana yang ditetapkan dalam dokumen perjanjian kinerja dan dokumen perencanaan. Ikhtisar pencapaian sasaran tersebut menyajikan informasi tentang pencapaian tujuan dan sasaran organisasi, realisasi pencapaian indikator kinerja utama organisasi, penjelasan yang memadai atas pencapaian kinerja, serta pembandingan capaian indikator kinerja sampai dengan tahun berjalan dengan target kinerja lima tahunan yang direncanakan.
Laporan kinerja ini juga sebagai salah satu wujud akuntabilitas pelaksanaan tugas dan fungsi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance), transparansi dan akuntabilitas sekaligus sebagai alat kendali dan pemacu peningkatan kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
C. PERAN STRATEGIS SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2013, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan pelayanan teknis administrasi kepada semua unsur di lingkungan Direktorat Jenderal.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Sekretariat Direktorat Jenderal menyelenggarakan fungsi:
a. koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran; b. pengelolaan data dan informasi;
c. penyiapan urusan hukum, penataan organisasi, jabatan fungsional, dan hubungan masyarakat;
d. pengelolaan urusan keuangan;
e. pelaksanaan urusan kepegawaian, tata persuratan, kearsipan, gaji, rumah tangga, dan perlengkapan; dan
f. evaluasi dan penyusunan laporan.
D. STRUKTUR ORGANISASI
Untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan terdiri atas:
a. Bagian Program dan Informasi mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana, program, dan anggaran, dan pengelolaan data dan informasi, serta evaluasi dan penyusunan laporan.
b. Bagian Hukum, Organisasi, dan Hubungan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan urusan hukum, penataan organisasi, dan hubungan masyarakat.
c. Bagian Keuangan mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan urusan keuangan. d. Bagian Kepegawaian dan Umum mempunyai tugas melaksanakan urusan kepegawaian,
Gambar 2.
Struktur Organisasi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada tahun 2015
memiliki sumber daya manusia sejumlah 87 orang pegawai negeri sipil (PNS).
E. SISTEMATIKA
Sistematika laporan kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan Tahun 2015 sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini disajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada
aspek strategis organisasi serta permasalahan utama yang sedang dihadapi
organisasi.
Bab II Perencanaan Kinerja
Pada bab ini diuraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja tahun yang bersangkutan.
Bab III Akuntabilitas Kinerja
A. Capaian Kinerja Organisasi
Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan
kinerja sasaran strategis organisasi sesuai dengan hasil pengukuran kinerja
organisasi. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan
B. Realisasi Anggaran
Pada sub bab ini diuraikan realisasi anggaran yang digunakan dan yang telah
digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen
Perjanjian Kinerja.
Bab IV Penutup
Pada bab ini diuraikan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah
di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.
BAB II
PERENCANAAN KINERJA
A. RENCANA STRATEGIS
Arah kebijakan dan strategi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari arah kebijakan dan strategi
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Kesehatan dalam rangka mendukung visi
pemerintah, yaitu “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian
Berlandaskan Gotong-royong”. Upaya untuk mewujudkan visi ini adalah melalui 7 misi
pembangunan yaitu:
1. Terwujudnya keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang
kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim dan mencerminkan
kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
2. Mewujudkan masyarakat maju, berkesinambungan dan demokratis berlandaskan negara
hukum.
3. Mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif serta memperkuat jati diri sebagai negara
maritim.
4. Mewujudkan kualitas hidup manusia lndonesia yang tinggi, maju dan sejahtera.
5. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.
6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan
kepentingan nasional, serta
7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Selaras dengan arah kebijakan dan strategi Kementerian Kesehatan, serta sesuai
dengan tujuan Ditjen Binfar dan Alkes dalam rangka mewujudkan dukungan yang optimal
dalam pencapaian pelayanan kesehatan yang optimal, adil, dan merata, maka Ditjen Binfar
dan Alkes menetapkan arah kebijakan dan strategi yang akan dilakukan dalam periode
2015-2019. Secara khusus, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan membawa misi untuk menjadi pemberi layanan publik yang profesional melalui
tata kelola pemerintahan yang baik.
Pada tahun 2015 – 2019, Kementerian Kesehatan memiliki 2 tujuan, yaitu:
1. Meningkatnya status kesehatan masyarakat dan;
2. Meningkatnya daya tanggap (responsiveness) dan perlindungan masyarakat terhadap
Dalam mendukung tujuan di atas, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian
dan Alat Kesehatan melaksanakan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis
lainnya dimaksudkan untuk:
1. Melakukan manajerial pelaksanaan program;
2. Meningkatkan sarana dan prasarana aparatur; serta
3. Meningkatkan pengawasan, akuntabilitas kinerja dan pelaksanaan praktek tatakelola
pemerintahan yang baik.
Perencanaan kinerja merupakan proses penetapan target kinerja berdasarkan
program, kebijakan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana strategis sebagai pedoman
dalam pelaksanaan program dan kegiatan secara sistematis, terarah dan terpadu.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun
2015-2019, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
melaksanakan kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya
pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Sasaran merupakan hasil yang akan dicapai secara nyata oleh instansi pemerintah
dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur dalam kurun waktu yang lebih pendek dari
tujuan. Sasaran kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada
program kefarmasian dan alat kesehatan adalah sebagai berikut:
Tercapainya sasaran tersebut direpresentasikan dengan indikator kinerja beserta target
kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program
Kefarmasian dan Alat Kesehatan, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel1.
Tabel 1.
Indikator Kinerja dan Target Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015-2016
Indikator Kinerja Target
2015 2016 2017 2018 2019
Persentase kepuasan klien terhadap dukungan
manajemen
80% 85% 87% 89% 95%
Cara perhitungan dari indikator tersebut sebagaimana tercantum dalam Tabel 2.
Tabel 2.
Cara Perhitungan Indikator Kinerja Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Indikator Kinerja Cara Perhitungan
Persentase kepuasan klien terhadap
dukungan manajemen
Persentase kepuasan = Jumlah item yang memenuhi kepuasan klien x 100% Jumlah pelayanan yang diberikan
B. PERJANJIAN KINERJA
Perjanjian Kinerja merupakan lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Melalui perjanjian kinerja, terwujudlah komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi, dan wewenang serta sumber daya yang tersedia.
Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan menyusun perjanjian kinerja mengacu kepada Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019. Target ini menjadi komitmen bagi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan untuk mencapainya dalam tahun 2015.
Perjanjian Kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.
Perjanjian Kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat KesehatanTahun 2015
Sasaran Indikator Kinerja Target 2015
Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Persentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI 1. PENGUKURUAN KINERJA
Pengukuran kinerja adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, kebijakan, sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi, misi dan strategi instansi pemerintah. Pengukuran kinerja menggunakan alat ukur berupa indikator sebagaimana yang telah ditetapkan pada dokumen perencanaan kinerja.
Tahun 2015 merupakan tahun pertama dalam pelaksanaan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019. Pengukuran kinerja dilakukan dengan membandingkan antara realisasi kinerja dengan target kinerja dari masing-masing indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam perencanaan kinerja. Melalui pengukuran kinerja diperoleh gambaran pencapaian masing-masing indikator sehingga dapat ditindaklanjuti dalam perencanaan kegiatan di masa yang akan datang agar setiap kegiatan yang direncanakan dapat lebih berhasil guna dan berdaya guna.
Hasil pengukuran kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.
Capaian Indikator Kinerja Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
2015 tugas teknis lainnya pada Program Kefarmasian dan
2. ANALISIS AKUNTABILITAS KINERJA
kesehatan. Analisis capaian kinerja dari indikator kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada program kefarmasian dan alat kesehatan sebagai berikut:
Kondisi yang dicapai:
Tabel 5.
Target, Realisasi dan Capaian Indikator Persentase Kepuasan Klien Terhadap Dukungan Manajemen Tahun 2015
Indikator Kinerja Target 2015 Realisasi 2015 Capaian 2015
Persentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen
80% 85,71% 107,14%
Grafik 1.
Target dan Realisasi Indikator Persentase Kepuasan Klien Terhadap Dukungan Manajemen Tahun 2015
2015 2016 2017 2018 2019
Target
Realisasi
Memperhatikan fungsi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam fungsi pengawasan, akuntabilitas kinerja dan pelaksanaan praktek tata kelola pemerintahan yang baik maka dalam hal ini Bagian Kepegawaian dan Umum telah menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 sebagai acuan dalam pelaksanaan pelayanan yang dilakukan.
Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan meliputi: laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP), pengusulan pencairan dana kegiatan, kenaikan gaji berkala (KGB), cuti pegawai, usul kenaikan pangkat reguler pegawai, usul penetapan angka kredit jabatan fungsional apoteker dan asisten apoteker, surat masuk, dan persediaan alat tulis kantor.
Persentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen
Persentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen
Persentase kepuasan klien terhadap dukungan manajemen menggambarkan kinerja kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya di Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Yang dimaksud dengan kepuasan klien terhadap dukungan manajemen adalah tersedianya pelayanan kesekretariatan yang sesuai standar dan memenuhi kebutuhan klien, dalam hal ini semua pihak yang menerima layanan dari Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Indikator ini diukur dengan jumlah item yang memenuhi kepuasan klien dibandingkan dengan jumlah pelayanan yang diberikan. Dari 8 jenis pelayanan yang masuk dalam penerapan Manajemen Mutu ISO 9001:2008 Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, LAKIP hanya dihitung pada pencapaian target triwulan I. Pengukuran indikator ini menggunakan survey kepuasan klien yang diukur pada saat layanan diberikan. Adapun hasil survey dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6.
Hasil Survey Pengukuran Kepuasan Klien Terhadap Dukungan Manajemen
No Produk Hasil Keterangan
1 Cuti 4,18 Memuaskan
2 Surat Masuk 4,12 Memuaskan
3 Penilaian Angka Kredit 3,93 Cukup memuaskan
4 Kenaikan Pangkat 4,00 Memuaskan
5 Kenaikan Gaji Berkala 4,01 Memuaskan 6 Alat Tulis Kantor 4,32 Memuaskan
7 Pencairan Dana 4,01 Memuaskan
Dari hasil survey tersebut, dilakukan perhitungan sesuai dengan rumus yang ditetapkan pada Renstra Kementerian Kesehatan 2015-2019. Kepuasan pelanggan menggunakan skala penilaian 1-5. Sesuai dengan standar yang terdapat dalam dokumen mutu, sebuah pelayanan disebut memuaskan bila memperoleh hasil survey ≥ 4 (Kriteria Memuaskan).
Persentase kepuasan = Jumlah item yang memenuhi kepuasan klien x 100% Jumlah pelayanan yang diberikan
Persentase kepuasan = 6 x 100%
7
Sekretariat Direktorat Jenderal telah dapat mencapai target kinerjanya. Walaupun demikian, terdapat beberapa permasalahan yang ditemui dalam pelaksanaan kinerja selama tahun 2015.
Permasalahan:
1. Sulitnya mengumpulkan data pelayanan keterbukaan informasi publik.
2. Belum optimalnya pemanfaatan Saluran Informasi dan Aspirasi Pengaduan (SIAP) dalam pelayanan pengaduan/keluhan terkait Program Kefarmasian dan Alkes.
3. Adanya proses revisi anggaran refocusing sehingga mempengaruhi realisasi anggaran dan pelaksanaan kegiatan.
Upaya-upaya dalam pemecahan masalah:
1. Mengkonsolidasikan mekanisme pengumpulan data pelayanan keterbukaan informasi publik.
2. Melakukan pemantauan berkala atas aplikasi SIAP dalam pelayanan pengaduan/keluhan.
3. Menyelesaikan kebutuhan dokumen dalam proses revisi anggaran.
Sebagai upaya untuk mencapai indikator kepuasan klien terhadap dukungan manajemen, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan telah melaksanakan berbagai kegiatan sebagai berikut:
1. Evaluasi Standar Prosedur Operasional Bagian Keuangan
Ditjen Binfar dan Alkes terus-menerus melakukan perbaikan (continuous improvement system) terhadap operasional manajemen. Diharapkan dengan perbaikan ini, terjadi peningkatan pelayanan dan peningkatan kinerja organisasi di bidang keuangan. Sehingga pada tahun 2015 dilakukan evaluasi terhadap Standar Prosedur Operasional di Bagian Keuangan, untuk mengevaluasi standar prosedur, baik dalam tata cara penarikan, maupun pertanggungjawaban keuangan yang sudah berjalan selama ini.
2. Koordinasi Pengelolaan Keuangan di Lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes
melaksanakan pertemuan pengelola keuangan agar tata kelola keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Pembinaan Perbendaharaan Ditjen Binfar dan Alkes
Pembinaan Perbendaharaan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serta profesionalitas SDM Pengelola keuangan sehingga menghasilkan proses pengelolaan keuangan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Gambar 3.
Pertemuan Pembinaan Perbendaharaan Ditjen Binfar dan Alkes Tahun 2015
4. Konsolidasi Pusat dan Daerah dalam rangka Penyusunan Laporan Keuangan SAI (SAIBA dan SIMAK BMN) Ditjen Binfar dan Alkes
Gambar 4.
Pertemuan Konsolidasi Pusat dan Daerah dalam rangka Penyusunan Laporan Keuangan SAI (SAIBA dan SIMAK BMN) Ditjen Binfar dan Alkes
Dalam penyusunan laporan keuangan, diperlukan adanya konsolidasi data laporan keuangan antara pusat dan daerah agar laporan yang dihasilkan menjadi transparan dan akuntabel. Kegiatan yang dilaksanakan dengan metode memberikan penjelasan tentang laporan keuangan meliputi pelaporan pelaksanaan anggaran yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) kepada seluruh peserta satker 07 dalam rangka penyusunan laporan keuangan dalam menyusun Akuntabilitas Kinerja Unit Akuntansi Instansi (UAI).
Sosialisasi tersebut bertujuan untuk memberikan pembekalan dan keseragaman pemahaman agar pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
6. Penyusunan Laporan Keuangan Ditjen Binfar dan Alkes
Akuntabilitas dari laporan keuangan instansi pemerintah menjadi hal yang sangat penting dalam berjalannya instansi tersebut. Pertanggungjawaban keuangan terhadap anggaran yang diterima diharapkan dapat dilaporkan dengan baik sehingga laporan tersebut menjadi akuntabel. Kegiatan Penyusunan Laporan Keuangan Ditjen Binfar dan Alkes yang diselenggarakan pada tahun 2015 terdiri dari penyusunan Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Adapun laporan ini menjadi bahan utama yang digunakan dalam pemeriksaan baik audit internal maupun audit eksternal.
7. Penyusunan Laporan Verifikasi Pertanggungjawaban Keuangan di Lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes
Laporan verifikasi pertanggungjawaban Keuangan disusun untuk menyajikan Laporan Pertanggungjawaban Direktorat Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan berupa pertanggungjawaban Keuangan dalam penyusunan Akuntabilitas Kinerja Unit Akuntansi Instansi (UAI) sehingga laporan pertanggungjawaban keuangan dapat tersaji dengan cepat, transparansi, akurat, lengkap dan tepat waktu.
8. Pertemuan PRK, RPD, dan RUP Ditjen Binfar dan Alkes TA 2015
Keharmonisan dan sinkronisasi antara pelaksanaan kegiatan dan pengaturan penarikan dana mutlak dibutuhkan demi kelancaran pelaksanaan kegiatan di Lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes. Melalui penyusunan RPK, RPD dan RUP diharapkan menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan dan memudahkan merealisasikan kegiatan, sehingga penyerapan anggaran akan lebih tepat waktu dan tepat sasaran.
9. Updating Perencanaan Kas
dalam upaya percepatan penyerapan anggaran karena dengan adanya perencanaan kas yang baik akan memastikan tersedianya dana untuk membiayai kegiatan pemerintah sehingga dapat mencegah kemungkinan terhambatnya suatu kegiatan akibat dari tersedianya dana. Updating data perencanaan kas bertujuan untuk memperkirakan aliran kas Satuan Kerja Sekretariat Ditjen Binfar dan Alkes dengan melakukan penyesuaian jumlah ketersediaan dana yang disebabkan pergeseran waktu pelaksanaan kegiatan.
10. Penataan Berkas dan Tata Kearsipan Dinamis di Lingkungan Setditjen Binfar dan Alkes
Penataan kearsipan menjadi salah satu kunci dalam manajemen perkantoran yang baik. Arsip yang dikelola dengan baik, dapat disimpan dengan efisien, disimpan sesuai tata urutan dan subyeknya, dan dapat dicari dengan mudah dan cepat bila dibutuhkan. Kegiatan Penataan Berkas dan Tata Kearsipan Dinamis di Lingkungan Setditjen Binfar dan Alkes tahun 2015 menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan pegawai dalam menata berkas dan arsip sehingga dapat disimpan secara efisien dan dapat mudah dicari apabila dibutuhkan.
11. Penyusunan Aplikasi Sistem Manajemen Surat Berbasis Web (e-office) di Lingkungan Setditjen Binfar dan Alkes
Kelemahan sistem tata persuratan manual (hardcopy) adalah kurang efisiensi dalam hal waktu, selain itu ada proses pendisposisian yang sangat dibatasi oleh ruang dimana pimpinan hanya dapat mendisposisikan sebuah surat hanya pada saat berada di kantor, atau bawahan tidak dapat mengetahui disposisi dari pimpinan ketika sedang berada diluar kantor. Hal lain adalah dalam hal pengelolaan tata persuratan seperti surat masuk, surat keluar, surat sudah/belum dibalas, surat sudah/belum terdisposisi, dll.
e-office merupakan sebuah aplikasi yang diharapkan mampu menjawab setiap tantangan yang dihadapi sebelumnya. Dengan dukungan web base membuat aplikasi ini menjadi lebih mobile sehingga ketika sebuah surat masuk maka pimpinan dapat langsung membaca dan mendisposisikan surat tersebut dimanapun berada.
12. Penyusunan Aplikasi Dupak Jabatan Fungsional Apotek dan AA
kredit bertujuan untuk membuka peluang bagi mereka yang berkarya di bidang pekerjaan kefarmasian di sarana kesehatan Pemerintah, agar dapat mencapai jenjang jabatan fungsional tertinggi.
13. Evaluasi Kehadiran Pegawai sesuai Finger Print dan Perhitungan Tunjangan Kinerja
Setiap pegawai Kementerian Kesehatan berkewajiban untuk melakukan daftar kehadiran harian melalui mesin finger print. Kegiatan ini mengkompilasi dan mengevaluasi daftar kehadiran pegawai di lingkungan Ditjen Binfar dan Alkes. Hasil rekam per bulan mesin absen kemudian diolah untuk mendapatkan rekap resensi dari setiap pegawai, mulai dari keterlambatan, izin, cuti, sampai dengan ketidakhadiran (absen).
Hasil dari data olahan ini kemudian di evaluasi tingkat kedisplinan dari setiap pegawai, selain itu hasil dari olahan ini kemudian akan dikombinasikan dengan rumusan tunjangan yang ada untuk mendapatkan nilai tunjangan kinerja dari setiap pegawai.
14. Pelaksanaan Surveillance Audit Sertifikasi ISO 9001:2008 Setditjen Binfar dan Alkes
Pelaksanaan Surveillance Audit Sertifikasi ISO 9001:2008 Setditjen Binfar dan Alkes dilaksanakan untuk meningkatkan upaya peningkatan mutu pelayanan publik Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Hal tersebut perlu didukung dengan sistem manajemen mutu yang baik yang disesuaikan dengan standar internasional yang tersertifikasi ISO 9001:2008. Dalam pelaksanaannya terlebih dahulu dilakukan pendampingan persiapan dokumentasi dan SDM dalam rangka surveilance sertifikasi ISO 9001:2008 Setditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
15. Pembahasan dan Penilaian DUPAK Jabatan Fungsional Apoteker dan Asisten Apoteker
Kementerian Kesehatan dalam menyiapkan pegawai negeri sipil yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan atau pelayanan bidang kesehatan sesuai profesinya telah menetapkan 26 jenis jabatan fungsional melalui Keppres dan Perpres Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil, yang diantaranya adalah Jabatan Fungsional Apoteker dan Jabatan Fungsional Asisten Apoteker. Pelaksanaan penilaian angka kredit oleh tim penilai Jabatan Fungsional Apoteker dan Asisten Apoteker bertujuan untuk membuka peluang bagi mereka yang berkarya di bidang pekerjaan kefarmasian di sarana kesehatan pemerintah, agar dapat mencapai jenjang jabatan fungsional tertinggi.
Kegiatan Pembahasan dan Penilaian DUPAK Jabatan Fungsional Apoteker dan Asisten Apoteker yang dilaksanakan pada tahun 2015 menjadi suatu kegiatan penting yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme jabatan fungsional tersebut.
16. Penguatan Tim Penilai Dalam Rangka Dupak Jabfung Apoteker dan Asisten Apoteker
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994, pasal 8 ayat (1) mengenai Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil ditetapkan bahwa penilaian prestasi kerja bagi pejabat fungsional ditetapkan dengan angka kredit oleh tim penilai.
Pada tahun 2015 telah dilaksanakan penguatan Tim Penilai Jabatan Fungsional Apoteker dan Asisten Apoteker untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas tim penilai sehingga hasil penilaian angka kredit lebih akurat.
17. Penyusunan Daftar Urut Kepangkatan (DUK) Bagi PNS
Kegiatan ini meliputi pengumpulan data kepegawaian dari semua satker pusat di lingkungan Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan sampai dengan tanggal termutakhir. Kemudian daftar tersebut diurutkan mengikuti kaidah-kaidah urutan kepangkatan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku.
18. Inventarisasi, Labeling BMN dan Stock Opname Persediaan
Setiap BMN yang dimiliki Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan harus di identifikasi mengenai jenis, warna, tahun pembelian, sumber anggaran, dll. Setelah teridentifikasi maka selanjutnya seluruh BMN tersebut harus diinventarisasi secara berkala.
Pemberian label kode pada setiap BMN menjadi cukup penting mengingat dalam kode yang terdapat pada label dapat diketahui identitas dari BMN tersebut. Inventarisasi yang dilakukan secara rutin kemudian dapat dihitung sebagai persediaan.
19. Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Ditjen Binfar dan Alkes
20. Penyusunan Penetapan Kinerja Ditjen Binfar dan Alkes
Gambar 5.
Penandatanganan Naskah Penetapan Kinerja Ditjen Binfar dan Alkes Tahun 2015
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Pejanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja, setiap entitas Akuntabilitas Kinerja wajib menyusun dokumen perjanjian kinerja dengan memperhatikan dokumen pelaksanaan anggaran. Perjanjian kinerja disusun dengan mencatumkan indikator kinerja dan target kinerja. Perjanjian Kinerja adalah lembar atau dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program atau kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Pada tahun 2015 Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan telah menyusun dokumen perjanjian kinerja . Penandatanganan dilaksanakan serentak oleh seluruh Eselon II dengan disaksikan langsung oleh Inspektur IV, perwakilan Biro Perencanaan dan Anggaran serta perwakilan Biro Hukum dan Organisasi.
Perjanjian kinerja merupakan wujud nyata komitmen antara penerima dan pemberi amanah untuk meningkatkan itegriitas, akuntabilitas, transparansi, dan kinerja aparatur serta menciptakan tolak ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja.
3. KINERJA LAINNYA
1. Monitoring dan Evaluasi Terpadu (MONSIDU)
Gambar.6
Pertemuan MONSIDU di Provinsi Kepulauan Riau
MONSIDU adalah monitoring secara terpadu yang dilakukan oleh Sekretariat Ditjen Binfar dan Alkes menggunakan metode identifikasi masalah, diskusi, dan konfirmasi data teknis serta pemberian bimbingan/asistensi kepada satker tujuan. Pelaksanaan MONSIDU ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan bimbingan/asistensi terkait pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ada dalam lingkup tugas pokok dan fungsi Sekretariat Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. MONSIDU merupakan salah satu upaya penguatan kelembagaan yang menjadi prioritas Kementerian Kesehatan. Sebagai salah satu satuan kerja yang melaksanakan kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya, Sekretariat Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan berinisiatif untuk melakukan upaya penguatan kelembagaan tersebut, sehingga meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas, akuntabilitas kinerja, serta mencapai target indikator yang diamanahkan.
Pada tahun 2015, kegiatan MONSIDU dilakukan di Provinsi Kepulauan Riau yang merupakan daerah binaan dari Sekretariat Ditjen Binfar dan Alkes. Dinkes Provinsi Kepulauan Riau memberikan apresiasi yang baik terhadap pelaksanaan kegiatan ini, dan mengharapkan kegiatan serupa dapat dipertahankan.
2. Penyusunan Program dan Rencana Anggaran Ditjen Binfar dan Alkes serta Dekonsentrasi
yang didukung oleh adanya alokasi dana dekonsentrasi ke daerah (propinsi) dalam bentuk kegiatan-kegiatan baik fisik maupun non fisik.
Melalui Penyusunan Program dan Rencana Kerja Anggaran Dekonsentrasi ini diharapkan alokasi dana dekonsentrasi yang diberikan melalui APBN Binfar dan Alkes dapat digunakan sesuai harapan dan target program Kefarmasian dan Alat kesehatan sesuai Renstra Kemenkes RI.
Kegiatan ini telah dapat menghasilkan 40 dokumen anggaran TA 2016 yang memenuhi kebutuhan pelaksanaan program, dan sesuai dengan ketentuan penyusunan dokumen anggaran yang berlaku.
3. Rapat Konsultasi Nasional Ditjen Binfar dan Alkes Tahun 2015
Pelaksanaan kegiatan Rapat Konsultasi Nasional (Rakonas) Ditjen Binfar dan Alkes Tahun 2015 dimaksudkan untuk mensosialisasikan dan menyamakan persepsi program Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam upaya peningkatan Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan menuju suksesnya pelaksanaan RPJMN serta tercapainya strategi serta 9 fokus kegiatan di Ditjen Binfar dan Alkes. Pada Tahun 2015, Rakonas Ditjen Binfar dan Alkes mengusung tema “Pemantapan
Pelaksanaan Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam Mendukung Ketersediaan Obat dan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan”. Dengan tema
tersebut, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan komitmen kepada unit lintas program dan lintas sektor terkait pencapaian program Ditjen Binfar dan Alkes tahun 2015. Adapun 9 fokus kegiatan di Ditjen Binfar dan Alkes antara lain: a.) Mendorong upaya pembuatan obat dan produk farmasi lain yang terjangkau dengan tanpa mengabaikan masalah kualitas dan keamanan obat; b.) Meningkatkan ketersediaan, dan keterjangkauan obat, terutama obat essensial generik; c.) Meningkatkan penggunaan obat rasional; d.) Meningkatkan keamanan, khasiat dan mutu obat dan makanan yang beredar; e.) Mengembangkan peraturan dalam upaya harmonisasi standar termasuk dalam mengantisipasi pasar bebas; f.) Meningkatkan kualitas sarana produksi, distribusi dan sarana pelayanan
kefarmasian; g.) Meningkatkan pelayanan kefarmasian yang bermutu; h.) Meningkatkan pengembangan dan pemanfataan obat tradisional Indonesia;
i.) Meningkatkan kemandirian di bidang produksi obat, bahan baku obat, obat tradisional, kosmetika dan alat kesehatan. Peran serta lintas program dan lintas sektor sangat mendukung dalam upaya peningkatan Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
7 butir kesimpulan/kesepakatan dan 10 butir rencana tindak lanjut dalam pelaksanaan program di tahun 2015.
4. Pemutakhiran Data Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Dalam perencanaan dan penganggaran dibutuhkan perencanaan berbasis bukti (evidence based planning) Dalam hal ini, data menjadi sangat penting sebagai suatu komponen dalam menyusun kebijakan dan perencanaan. Pemutakhiran Data Kefarmasian dan Alat Kesehatan tingkat Nasional pada tahun 2015 dilakukan sebagai suatu metode dalam pengumpulan data kefarmasian dan alat kesehatan yang akurat dan berbasis bukti (evidence base).
Gambar 7.
Pertemuan Pemutakhiran Data Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tingkat Nasional Tahun 2015
Data individual yang diperoleh menjadi data yang sangat berharga, menjadi sumber referensi dalam penentuan kebijakan baik di pusat maupun di daerah. Adapun kegiatan ini dilakukan dengan mencocokan data kefarmasian dan alat kesehatan yang dikumpulkan oleh seluruh Dinas Kesehatan Provinsi di Indonesia dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Pemutakhiran Data yang disingkat “SIPEDA”.
Gambar 8.
Tampilan Muka Aplikasi Pemetaan Sarana Kefarmasian
5. Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Bidang Kefarmasian
Gambar 9.
Pertemuan Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015
Materi yang disampaikan pada pertemuan ini adalah Kebijakan Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam Pelaksanaan JKN; Upaya Melindungi Fasilitas Pelayanan Kesehatan dari Korupsi (Termasuk Gratifikasi dan Fraud); Regulasi di Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan untuk Mendukung JKN; Ketersediaan Obat di Era JKN; e-Catalogue Obat; Implementasi Fornas dalam Pelayanan Kefarmasian di Era JKN; Upaya Penguatan Bidang Industri Farmasi dan Sarana Distribusi untuk Mendukung Ketersediaan Obat di Fasyankes; Meningkatkan Efektifitas dan Efisiensi Pembiayaan Kesehatan Melalui Suksesnya JKN; e-Catalogue for Drugs, Achievement & Challenges; Kendali Mutu dan Biaya Melalui Penerapan Fornas & e-Catalogue di Rumah Sakit PELNI.
6. Advokasi Penanganan Kasus Hukum
7. Kegiatan Kehumasan : Pameran HKN dan Buletin Infarkes
Gambar 10.
Pameran Pembangunan Kesehatan sebagai bagian dari Peringatan Hari Kesehatan Nasional Tahun 2015
Kegiatan yang bersifat informatif yang secara langsung terkoneksi/berinteraksi dengan masyarakat, yang dapat meningkatkan pemahaman, kesadaran dan wawasan pengetahuan bagi masyarakat maupun pejabat/pegawai internal Kementerian Kesehatan, mengenai visi, misi, kebijakan, strategi pembangunan, dan juga kinerja serta capaian dari program – program yang dilaksanakan oleh Ditjen Binfar dan Alkes.
Kegiatan yang bersifat informatif tersebut juga berfungsi sebagai alat pencitraan positif dalam menggambarkan keberhasilan pelaksanaan program pembangunan kesehatan dibidang kefarmasian dan alat kesehatan dalam bentuk bukti nyata berupa liputan langsung terhadap pelaksanaan kegiatan program kefarmasian. Pada tahun 2015, telah diselenggarakan pameran sebanyak 7 kali.
Kegiatan ini telah dapat menghasilkan laporan pengelolaan BMN yang sesuai dengan kaidah penatalaksanaan BMN, baik di tingkat satker maupun di tingkat unit utama.
B. REALISASI ANGGARAN
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan didukung oleh anggaran DIPA tahun 2015 (Pagu di awal tahun) sebesar Rp.82.618.100.000. Setelah dilakukan refocusing terhadap alokasi anggaran perjalanan dinas, dimana besaran nilai hasil refocusing terhadap efisiensi perjalanan dinas dari Setditjen Binfar dan Alkes sebesar Rp.19.715.563.000 dan dari hasil refocusing dana dekonsentrasi Sekretariat Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan sebesar Rp.4.896.539.000, merubah alokasi pagu Sekretariat Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes menjadi sebesar Rp.87.514.639.000 (delapan puluh tujuh miliar lima ratus empat belas juta enam ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah). Realisasi anggaran sebesar Rp.64.253.488.617 (Enam puluh empat miliar dua ratus lima puluh tiga juta empat ratus delapan puluh delapan ribu enam ratus tujuh belas rupiah) dengan persentase sebesar 73,42%.
Tabel 7.
Realisasi Anggaran DIPA Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015
C. SUMBER DAYA MANUSIA
Untuk mencapai kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan diperlukan dukungan sumber daya manusia. Keadaan pegawai negeri sipil di lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada tahun 2015 berjumlah 87 orang dengan rincian sebagaimana yang diuraikan pada tabel:
Kegiatan Alokasi
(Rp)
Realisasi
Rp %
Dukungan Manajemen dan
Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Tabel 8.
Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Jabatan
Keterangan Jumlah
Menurut Jabatan
Jabatan Struktural 17 Jabatan Fungsional Tertentu 1
Jabatan Fungsional Umum 69
Jumlah 87
Grafik 2.
Komposisi Sumber Daya Manusia di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Jabatan
20%
1%
79%
KOMPOSISI SDM SETDITJEN BINFAR DAN ALKES MENURUT JABATAN
Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Golongan
Grafik 3.
Komposisi Sumber Daya Manusia di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Golongan
3%
81% 16%
KOMPOSISI SDM SETDITJEN BINFAR DAN ALKES MENURUT GOLONGAN
Golongan II
Golongan III
Golongan IV
Tabel 10.
Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Pendidikan
Keterangan Jumlah
Komposisi Sumber Daya Manusia di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Pendidikan
2%
37%
45% 5%
11%
Tabel 11.
Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Jenis Kelamin
Keterangan Jumlah
Menurut Jenis Kelamin
Pria 45
Wanita 42
Jumlah 87
Grafik 5.
Komposisi Sumber Daya Manusia di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 Menurut Jenis Kelamin
52% 48%
KOMPOSISI SDM SETDITJEN BINFAR DAN ALKES MENURUT JENIS KELAMIN
Pria
Wanita
Sumber daya manusia merupakan salah satu unsur penting dalam mendukung tercapainya kinerja organisasi. Berdasarkan analisis beban kerja, secara ideal jumlah pegawai negeri sipil yang dibutuhkan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan adalah 96 orang. Saat ini jumlah pegawai 87 orang sehingga dengan kondisi yang ada diperlukan peningkatan jumlah pegawai dilingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Tabel 12.
Pelatihan Peningkatan SDM di Lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015
KLASIFIKASI
PELATIHAN NO JENIS PELATIHAN
JUMLAH SDM
MANAJERIAL 1. Prajabatan 37 Orang
2. Diklat Pim IV 2 Orang
TEKNIS DALAM NEGERI
1. The 2nd Indonesoa Health Economic Association (InaHEA) Congress
3 Orang
Workshop International Society for Pharmacoeconomics and Outcome Research (ISPOR) Indonesian Chapter
2 Orang
2. Public Speaking and Communication Skill Training
9 Orang
3. Pengelolaan Arsip Dinamis 4 Orang 4. Pengelolaan Arsip Aktif 3 Orang
5. English Course In-House Training 14 Orang
TEKNIS LUAR NEGERI
1. Workshop on Using Competition Law to Promote Access to Health Technologies in Select Middle-Income Countries
1 Orang
UMUM 1. Capacity Building 115 Orang
BAB IV PENUTUP
Laporan Kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2015 disusun sebagai wujud pertanggungjawaban atas kinerja berdasarkan perencanaan strategis yang telah ditetapkan. Laporan kinerja disusun sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2416/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Kesehatan.
Laporan Kinerja menggambarkan pencapaian kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dalam mencapai sasaran sebagaimana yang telah ditetapkan didalam dokumen penetapan kinerja dan dokumen perencanaan. Sebagai dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada program kefarmasian dan alat kesehatan, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan telah berhasil merealisasikan target yang telah ditetapkan di dalam dokumen perencanaan. Hal ini tampak pada pencapaian indikator pada tahun 2015-2019 telah mencapai target yang telah ditetapkan. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk pelaksanaan kegiatan yang telah dicanangkan pada periode berikutnya sehingga pelaksanaan kegiatan di masa mendatang dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien.
Untuk pelaksanaan kegiatan di periode berikutnya diperlukan penguatan terutama dalam perencanaan penyusunan peraturan perundang-undangan bidang kefarmasian dan alat kesehatan, mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian dokumen anggaran sesuai standar yang berlaku serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan secara periodik.