BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
B. Realisasi Anggaran
Tabel 3.6. Realisasi Anggaran Universitas Airlangga Tahun 2020
Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi
1 Meningkatnya pemerataan layanan pendidikan
tinggi 191.571.417.000 188.896.383.589 12.275.782.030 12.275.782.030 - 4.550.900.700 3.745.879.769 208.398.099.730 204.918.045.388
2 Meningkatnya kualitas pembelajaran dan
relevansi pendidikan tinggi 51.253.334.416 49.987.867.532 57.813.732.420 51.715.746.049 653.155.042.681 500.612.416.359 762.222.109.517 602.316.029.940
3 Meningkatnya kualitas dan jenjang karir pendidik
dan tenaga kependidikan - - - 20.746.647.200 8.311.157.762 20.746.647.200 8.311.157.762
4 Meningkatnya tata kelola pendidikan tinggi yang
partisipatif, transparan, dan akuntabel 77.192.400.000 60.943.925.310 63.230.915.554 61.882.462.924 - 21.967.200.178 5.212.770.531 50.031.176.786 43.609.388.051 212.421.692.518 171.648.546.816 5
Meningkatnya kemampuan Perguruan Tinggi menghasilkan sumberdaya di luar APBN dan Mahasiswa
- - 178.580.209.241 176.273.784.912 178.580.209.241 176.273.784.912 268.763.817.000 249.840.308.899 126.760.032.000 124.146.112.486 57.813.732.420 51.715.746.049 879.000.000.000 694.156.009.333 50.031.176.786 43.609.388.051 1.382.368.758.206 1.163.467.564.818
Ket :
* Belum termasuk realisasi hutang biaya,, yg baru akan di tutup per 20 januari 2021
* Hibah Untuk Penanganan Covid
Non APBN-Hibah Anggaran Realisasi
Pemprov Jatim 32.602.635.998 28.903.222.438
BNPB 10.962.235.288 8.903.484.513
BIN 6.466.305.500 5.802.681.100
50.031.176.786 43.609.388.051 JUMLAH
No Sasaran Program Gaji dan Tunj PNS BPPTNBH Setjen BPPTNBH Non Setjen Non APBN - DAMAS Non APBN - Hibah Total Biaya
31
Realisasi anggaran pada tahun 2020 menggunakan format pengelompokan anggran yang berbeda dibandingkan pada tahun 2019. Adapun sasaran program di tahun 2020 yaitu Meningkatnya pemerataan layanan pendidikan tinggi; Meningkatnya kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan tinggi; Meningkatnya kualitas dan jenjang karir pendidik dan tenaga kependidikan; Meningkatnya tata kelola pendidikan tinggi yang partisipatif, transparan, dan akuntabel; Meningkatnya kemampuan Perguruan Tinggi menghasilkan sumberdaya di luar APBN dan Mahasiswa. Total anggaran pada tahun 2020 sebesar 1,3 Triliun dimana anggaran terbesar digunakan untuk program peningkatan kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan tinggi (55% dari total anggaran) serta peningkatan tata kelola pendidikan tinggi yang partisipatif, transparan, dan akuntabel (15.37% dari total anggaran). Terkait realisasi anggaran, pada tahun 2020 total realiasasi anggaran yang sesuai dengan total penganggarannya adalah program peningkatan kemampuan Perguruan Tinggi dalam menghasilkkan sumberdaya di luar APBN dan Mahasiswa yaitu sebesar 98.7% dari anggaran yang disediakan sebesar Rp 178 Milyar. Total realisasi anggaran terbesar kedua yang sesuai dengan penganggarannya adalah program peningkatan pemerataan layanan pendidikan tinggi sebesar 98.3% dari anggaran yang disediakan sebesar Rp 208 Milyar.
32 C. Efisiensi Sumber Daya
1. Efisiensi Sarana dan Prasarana
Fasilitas akademik merupakan salah satu unsur dasar sekaligus sebagai daya dukung penyelenggaraan kegiatan akademik. Apabila dilihat dari kondisi geografis, UNAIR memiliki lahan seluas 86,55 hektare. Jumlah mahasiswa aktif UNAIR per 31 Desember 2020 adalah sebanyak 29.057 orang. Hal tersebut menuntut UNAIR memiliki suatu manajemen fasilitas yang terintegrasi, efektif, dan efisien. Kuantitas dan kualitas sumber daya ditekankan pada penyediaan, pengaturan, dan pemeliharaan infrastruktur institusi.
1.1 Lahan dan Bangunan
Fasilitas berupa daya dukung lahan Universitas Airlangga seluas 86,55 hektare yang terletak di lima wilayah yang terpisah merupakan daya dukung yang penting terkait dengan pengembangan universitas sebagaimana Tabel 3.7 di bawah ini.
Tabel 3.7. Profil Daya Dukung Lahan Universitas Airlangga
No Lokasi Lahan Status kepemilikan
Lahan
Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.
47, Surabaya
Milik Universitas Airlangga
Akademik 69.254
2 Kampus B
Jl. Airlangga No. 4-6 Surabaya
Milik Universitas
Desa Wonosunyo, Gempol – Pasuruan dan Desa Kunjorowesi, Ngoro - Mojokerto
5 Desa Tanjung, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik
Jl. Kyai Tapa No. 11 Jakarta Barat
Milik Universitas Airlangga
Akademik 4.040 7 Kampus Universitas Airlangga
Program di luar Domisili Banyuwangi
Jl. Wijaya Kusuma No. 133, Kec.
Giri, Kab. Banyuwangi
Jl. Ikan Wijinongko No. 18A Sobo, Kec. Banyuwangi, Kab.
Banyuwangi
Hibah Akademik 159.430
8 Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo 239 Gresik
Sertifikat Hak Pakai Akademik 7.050 9 Jl. Kusuma Bangsa No. 7A
Lamongan
Sertifikat Hak Pakai Akademik 6.204
TOTAL 873.440
Sumber: Direktorat Sarana Prasarana dan Lingkungan, 2020.
Lahan UNAIR saat ini adalah sebesar 87,34 hektare. Jika dibandingkan dengan perguuan tinggi lain (ITS: 120 ha; UGM: 300 ha; UI: 320 ha) sebenarnya lahan UNAIR tidak
33
terlalu luas. Meskipun demikian, karena lokasinya terpisah-pisah, maka diperlukan sistem manajemen yang baik sehingga ketiga kampus yang berada di Surabaya (kampus A, B, dan C) tersebut dapat dikembangkan secara optimal. Pengembangan fasilitas infrastruktur yang baik dan optimal akan menjamin pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat dioptimalkan dan ke depan mampu meningkatkan performa UNAIR dalam menjadi kampus unggulan dunia.
Fasilitas bangunan di UNAIR juga terus dilakukan penambahan dari sisi jumlah. Rumah Sakit Universitas Airlangga, pembangunan Gedung C Fakultas Perikanan dan Kelautan, serta gedung Farmasi telah terealisasi dan telah difungsikan. Adapun tahapan pembangunan yang masih terus berjalan adalah gedung Airlangga Technopreneur Tower, Gedung Parkir di Kampus B, dan Rumah Sakit Hewan di Kampus C. Pengembangan fasilitas infrastruktur yang baik dan optimal akan menjamin pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat dioptimalkan dan ke depan mampu meningkatkan kinerja UNAIR dalam menjadi kampus unggulan di dunia.
1.2. Ruang Administrasi
Ketersediaan ruang perkantoran/administrasi telah cukup memadai, baik di ruang administrasi di kantor manajemen UNAIR maupun di setiap fakultas. Ruang pimpinan dan ruang administrasi UNAIR terletak pada satu gedung di Kampus C yang dikenal dengan nama Kantor Manajemen Universitas Airlangga. Gedung berlantai 5 ini memiliki luas bangunan total sebesar 7.492,79 m2, dengan rincian lantai satu seluas 1.986,47,78 m2; lantai dua seluas 1.924,82 m2; lantai tiga seluas 1.344,82 m2, lantai empat seluas 1.344,82 m2; dan lantai lima seluas 891,86 m2. Ruang administrasi tersebar dari lantai satu hingga lantai lima dan menempati total ruangan seluas 1.659 m2. Rasio ketersediaan ruang administrasi dan ruang akademik di seluruh fakultas menunjukkan rata-rata 1:5,87 dengan rentang rasio perbandingan antar fakultas dari 0,06 hingga 0,32. Walaupun rentang ini cukup besar, namun ketercukupan ruang untuk jumlah pegawai administrasi dalam melayani proses administrasi pendidikan masih memadai.
Di samping ruang administrasi, ketersediaan ruang kerja dosen merupakan sarana pendidikan yang dibutuhkan dosen dalam menjalankan fungsi akademik sebagai pembimbing atau tempat konsultasi mahasiswa maupun kegiatan dalam rangka menunjang kompetensi akademik. Rasio luas ruang dosen berkisar antara 0,86 – 17,43 m2/dosen, dengan rerata 6,96 m2/dosen. Standar rerata rasio luas ruang dosen berdasarkan ketentuan Kemenristek-dikti adalah 4 m2/dosen, maka keadaan ini menunjukkan adanya ketersediaan ruang yang cukup bagi dosen.
1.3. Ruang Kuliah
Total luas ruang kuliah di lingkungan Universitas Airlangga pada tahun 2020 sebesar 31.263,61 m2 yang tersebar di 15 fakultas dan 1 Sekolah Pascasarjana. Total luas ruang kuliah sangat bervariasi antar satu dan lain fakultas, yaitu berkisar antara 476 m2 sampai 5.058,00 m2. Daya tampung masing-masing ruang kuliah pada ketiga kampus A, B, dan C berkisar antara 10–500 orang. Seluruh ruang kuliah telah dilengkapi dengan sistem pencahayaan, ventilasi, dan pendingin ruangan (AC atau kipas angin), serta kelengkapan fasilitas pengajaran (seperti LCD, Audio Visual, SCR, komputer) yang memberi kenyamanan bagi mahasiswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
34
Rasio luas ruang kuliah terhadap mahasiswa menurut persyaratan Peadcock, yaitu 1 m2/mahasiswa, sedangkan rasio menurut UNESCO 0,75 m2/mahasiswa. Rerata ruang gerak mahasiswa di dalam ruang kuliah telah memenuhi standar UNESCO, karena saat ini telah mencapai rerata 1,08 m2/mahasiswa, sedangkan rasio ruang gerak berkisar antara 0,30–2,78 m2. Rasio ruang gerak menurut standar Kemenristekdikti adalah 2 m2/mahasiswa berdasarkan Surat Dikti No. 2920/D/T/2007. Ketersediaan ruang gerak mahasiswa berpengaruh pada kenyamanan belajar yang berdampak pada daya serap mahasiswa terhadap materi kuliah.
Manajemen penggunaan ruang telah dilakukan dengan baik. Beberapa fakultas telah mengembangkan sistem untuk pengaturan penggunaan ruang kelas. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penggunaan sarana dan prasarana serta memberikan kenyamanan akses bagi mahasiswa dan dosen, dan menunjukkan bahwa UNAIR telah siap untuk program internasionalisasi menuju 500 World Class University.
1.4. Manajemen Laboratorium
Berdasarkan data yang dihimpun di tahun 2020, ketersediaan jumlah dan luas laboratorium di masing-masing fakultas bervariasi sesuai dengan kebutuhan program studi yang bersangkutan. Total luas ruang laboratorium di UNAIR mencapai 24.013,12 m2. Frekuensi penggunaan laboratorium cukup tinggi antara 1-6 shif per hari selama 4-5 hari/minggu. Di sisi lain, terdapat hal yang perlu dicermati dari tingginya pemanfaatan fasilitas laboratorium, yaitu dampak pada beban kerja dosen dan pemeliharaan alat (kalibrasi, sistem keamanan, dan life time) peralatan laboratorium yang digunakan. Jumlah mahasiswa aktif yang cukup besar dibandingkan dengan fasilitas laboratorium yang masih terbatas menimbulkan risiko terkait optimalisasi pelaksanaan praktikum dan penelitian, sehingga perlu dilakukan analisis terkait ketersediaan ruang laboratorium untuk pelaksanaan penelitian atau penyediaan laboratorium khusus untuk penelitian mahasiswa semester akhir dan dosen. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam hal teknis lapang.
Keberadaan sub-direktorat Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sejak tahun 2012 juga sangat membantu dalam menciptakan suasana kerja yang aman bagi tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa, dan peneliti di laboratorium dengan kelengkapan sarana K3 seperti: penataan layout laboratorium, penempatan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), pemasangan safety shower dan eye-wash pada setiap laboratorium kimia yang ada di seluruh fakultas di lingkungan UNAIR. Sejak tahun 2016 seluruh laboratorium kimia di UNAIR telah dilengkapi dengan fasilitas K3. Meskipun demikian perlu dianalisis maintenance dan pelatihan bagi laboran guna mendukung keamanan dan keselamatan kerja mahasiswa, dosen, dan peneliti di lingkungan UNAIR.
Keberadaan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Rumah Sakit Penyakit Tropik (RSPT), Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga (RSHPUA) juga menunjang proses pembelajaran, penelitian, dan pelayanan yang terintegrasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kompetensi lulusan disamping peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Keberadaan ketiga rumah sakit tersebut yang didukung oleh Lembaga Penyakit Tropik dan BSL-3 secara bersinergi, merupakan aset UNAIR dalam mewujudkan National Health Science Center melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pelayanan, sehingga
35
diharapkan mampu menghasilkan kebijakan dan bioproduk yang berguna bagi peningkatan kesehatan masyarakat. Prinsip resource sharing juga telah diterapkan dalam kegiatan perkuliahan dalam hal penggunaan kedua gedung tersebut. Walaupun demikian, masih dirasakan perlunya peningkatan persiapan ruangan yang akan dijadikan sebagai ruang kuliah.
Selain pengembangan rumah sakit, prioritas pengembangan sarana prasarana juga difokuskan untuk fasilitas penunjang proses pembelajaran. Sejak tiga tahun terakhir telah dibangun gedung Fakultas Farmasi di Kampus C serta penataan dan peralihan fungsi beberapa gedung di Kampus B, gedung Pasca Sarjana, gedung Fakultas Psikologi, Gedung Syariah Tower, Pusat Laboratorium Bahasa, serta gedung Mata Kuliah Wajib Univesitas (MKWU) untuk lebih mengoptimalkan utilisasi sarana perkuliahan selaras dengan pertumbuhan jumlah mahasiswa.
1.2. Manajemen Perpustakaan
Perpustakaan UNAIR merupakan satuan kerja universitas sebagai unsur penunjang akademik yang mempunyai tugas pokok menghimpun, menyimpan, melestarikan, dan memanfaatkan bahan perpustakaan di lingkungan UNAIR. Selain perpustakaan pusat, di masing-masing fakultas juga menyediakan ruang baca. Perpustakaan dan Ruang Baca Fakultas berperan sebagai penunjang utama referensi dan sumber informasi bagi civitas akademika dalam proses pembelajaran. Kemutakhiran dan relevansi bahan pustaka sangat diperlukan, oleh karena itu diharapkan selalu ada pemutakhiran bahan pustaka secara rutin, baik oleh perpustakaan pusat maupun ruang baca.
Pada tahun 2017, perpustakaan telah melakukan pengembangan sistem pengolahan institutional repository dari aplikasi Ganesha Digital Library (GDL) ke aplikasi ePrint.
Institutional repository yang dikembangkan oleh perpustakaan terdiri dari tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, laporan pengabdian kepada masyarakat, pidato pengukuhan Guru Besar, dan karya ilmiah sivitas akademika Universitas Airlangga. Institutional repository dapat diakses melalui http://repository.unair.ac.id, sedangkan untuk pengelolaan buku, perpustakaan mulai menerapkan sistem yang berbasis teknologi Radio-Frequency Identification (RFID). Pada tahun 2018 perpustakaan UNAIR menerapkan integrasi sistem, dimana koleksi yang berada di perpustakaan dengan ruang baca fakultas dikelola dalam satu sistem yaitu menerapkan program Inlis-Lite. Untuk penelusuran koleksi baik yang berada di perpustakaan maupun di ruang baca fakultas dapat diakses melalui alamat http://ailis.lib.unair.ac.id.
1.3. Sarana Penunjang
Kondisi geografis lahan kampus UNAIR terpisah dalam tiga lokasi yaitu kampus A, kampus B, dan kampus C. Terpisah-pisahnya lokasi kampus ini mempunyai pengaruh terhadap mobilitas mahasiswa dari masing-masing kampus tersebut serta memungkinkan terjadinya perbedaan standar dalam manajemen fasilitas, baik dalam segi jumlah maupun akses. Hal tersebut berimbas pada interaksi antar mahasiswa dan dosen dan menurunkan rasa kebersamaan dan engagement mahasiswa dengan kampus. Telah dilakukan antisipasi kondisi kampus yang terpisah tersebut melalui kebijakan, antara lain bus Flash, Resource Sharing, Student Centre, dan asrama mahasiswa. Meskipun demikian, perlu dikaji lebih lanjut
36
optimalisasi pemanfaatan dan aksesnya bagi civitas akademika UNAIR sehingga mampu menjamin kenyamanan dan keamanan (secure) dalam menggunakan fasilitas yang ada tersebut.
Kebijakan resource sharing atas berbagai fasilitas dan alat fisik juga telah dan akan dilakukan. Hal tersebut diwujudkan dalam penggunaan kelas bersama untuk beberapa Mata Kuliah Wajib Universitas (MKWU) sejak tahun 2016. Pada tahun 2020 direncanakan untuk penggunaan alat dan laboratorium bersama sebagai solusi yang dinilai tepat untuk optimalisasi fasilitas dan keterbatasan lahan. Melalui resource sharing, maka penggunaan fasilitas dapat dioptimalkan sekaligus mengakrabkan mahasiswa. Kelas bersama juga mempunyai tujuan ganda yaitu optimalisasi fasilitas dan mengakrabkan mahasiswa antar fakultas.
Universitas Airlangga juga memfasilitasi sarana peribadatan dengan memiliki satu masjid di kampus B seluas 1.443,41 m2 dan satu masjid di kampus C seluas 2.400 m2, serta mushola di setiap fakultas. Ketersediaan sarana peribadatan ini menunjang pembentukan karakter yang excellence dalam bidang spiritual dan moral. Selain itu, sarana peribadatan bagi agama lain (Hindu, Budha, Kristen Protestan, dan Katolik) difasilitasi di gedung student center dan Unit Kegiatan Kerohanian Mahasiswa yang ada. Mahasiswa tidak hanya mengembangkan aspek kognitif tetapi juga psikomotorik melalui sarana olah raga di setiap kampus. UNAIR menyediakan fasilitas gedung dan sarana olah raga bagi civitas akademika. Terdapat 34 fasilitas olah raga yang tersebar di seluruh lokasi kampus, baik Kampus A, B, maupun C.
Fasilitas tersebut terdiri atas lapangan basket, lapangan tenis, lapangan tenis meja, lapangan bola, lapangan voli, sport center, dan lapangan futsal.
Permasalahan utama terkait fasilitas adalah ketersediaan lahan parkir yang mulai dirasa mendesak. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor (sepeda motor dan mobil) mengakibatkan ketersediaan lahan parkir menjadi terbatas. Kondisi ini memerlukan kebijakan pembatasan mahasiswa membawa kendaraan ke kampus khususnya mobil. Kebijakan pembatasan ini perlu diimbangi dengan peningkatan mobilitas bus flash yang dapat memfasilitasi transportasi mahasiswa dari dan menuju ketiga kampus yang berbeda. Kebijakan jangka panjang adalah pembangunan gedung parkir di kampus A dan B untuk dapat menata lahan dan dapat dimanfaatkan sebagai area hijau.
Pada tahun 2020, UNAIR menempati peringkat 15 dari 74 universitas di Indonesia yang turut serta dalam pemeringkatan UI GreenMetrics World University Ranking. Hal tersebut perlu menjadi prioritas dalam pengembangan fasilitas dan situasi kampus yang lebih hemat energi dan berkelanjutan. Aspek yang perlu dipertimbangkan terkait fasilitas dan lingkungan adalah persentase area hijau, penggunaan listrik, sarana transportasi, penggunaan air, manajemen limbah, setting dan infrastuktur, energi dan perubahan iklim, serta pendidikan.
2. Efisiensi Sumber Daya Manusia
Efisiensi sumber daya dalam Universitas Airlangga ditunjukkan adanya penggunaan sistem yang telah terkonfigurasi sebagai bentuk respon terhadap era revolusi industri 4.0.
Sistem yang ini dapat mengakomodir kebutuhan data yang terdapat dalam unversitas. Dari segi sumber daya manusia sistem ini sangat membantu staf dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Adanya sistem yang terintegrasi akan membuat komunikasi antar unit di universitas terjalin dengan baik. Komunikasi yang baik dari berbagai unit akan dapat mempercepat
37
penyelesaian masalah yang juga didukung oleh sumber data yang telah terintegrasi maka penyelesaian masalah akan didukung oleh data yang terpercaya. Efisiensi dari segi sumberdaya lainnya adalah penggunaan sistem administrasi, penyuratan, absensi staf, penggajian dan pemberian reward yang telah terdapat dalam sistem. Semua yang berkaitan tentang data kepegawaian, data gaji dan tunjangan, absensi dan administrasi telah terdigitalisasi, dan hingga saat ini pembangunan dan penyempurnaan sistem masih terus dibangun oleh Universitas Airlangga demi menunjang era transformasi digitalisasi.
Universitas Airlangga diberikan otonomi untuk mengelola sumber daya manusia (SDM), hal ini sejalan dengan statuta yang berlaku dengan status PTN-BH. Berdasarkan data dari Direktorat SDM tahun 2020, dari jumlah dosen UNAIR sebanyak 1.979 orang, komposisi yang bergelar master dan doktor S3 terus mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir, seiring dengan bertambahnya dosen yang menempuh pendidikan doktor. Jumlah Dosen yang berkualifikasi S3 mencapai 803 orang. Demikian juga dengan jumlah dosen yang bergelar Guru Besar mengalami peningkatan dengan total 249 orang.
Terkait dengan program percepatan guru besar dan dosen bergelar doktor, sejak tahun 2016 Universitas Airlangga telah menerapkan strategi sebagai berikut: (1) Prioritas peningkatan jenjang pendidikan terakhir dosen yang mempunyai jabatan fungsional lektor kepala yang belum S3 untuk mengikuti pendidikan S3; (2) Penyederhanaan proses pengurusan guru besar dengan memangkas prosedur yang tidak efisien dan efektif; (3) Memotivasi para dosen yang telah berpendidikan S3 untuk meningkatkan jabatan fungsional ke lektor kepala.
Hasil strategi di atas adalah bertambahnya jumlah lektor kepala berpendidikan S3 dari 182 orang (2016), 173 orang (2017), 245 orang pada tahun 2018, 378 orang pada tahun 2019 dan menurun menjadi 248 di tahun 2020.
Untuk mencapai target jumlah guru besar dan komposisi dosen, beberapa hal yang dilakukan yaitu 1) Penerapan roadmap SDM Universitas secara menyeluruh; 2) Akselerasi dosen yang memiliki jabatan akademik Asisten Ahli ke Lektor; jika dosen tersebut telah bergelar S3, maka akselerasi dosen yang memiliki jabatan akademik Asisten Ahli ke Lektor Kepala, dosen yang memiliki jabatan akademik Lektor ke Lektor Kepala, dan Lektor Kepala ke Guru Besar (bagi dosen S3); 3) Akselerasi dosen untuk studi lanjut S3, khususnya yang telah Lektor dan Lektor Kepala; 4) Penerapan Strategic Performance Management System (SPMS) yang selaras dengan Renstra UNAIR (berdasarkan Balance Score Card) dan 5) Menjadikan dosen S3 PNS yang telah pensiun menjadi dosen khusus, karena dosen khusus masih masuk dalam perhitungan nisbah rasio dosen : mahasiswa.
Pengembangan human capital UNAIR untuk tenaga kependidikan dilakukan berbasis kompetensi dan kinerja. Target strategis komposisi perbandingan jumlah tenaga kependidikan dengan jumlah dosen tertera pada Tabel 3.8. Berdasarkan evaluasi diri fakultas dan unit kerja, jumlah tenaga kependidikan pada tahun 2020 baik yang ada di fakultas dan unit kerja masih belum mencapai target ideal yang telah ditetapkan dalam Renstra UNAIR 2016-2020.
38
Gambar 3.18. Target Rasio Tenaga Kependidikan dan Dosen
Sumber: Direktorat SDM, 2020.
Jumlah keseluruhan dosen UNAIR saat ini sebanyak 1.979 (memperhitungkan semua jenis dosen baik yang tetap maupun tidak tetap) sedangkan jumlah tenaga kependidikan (tendik) sebanyak 2.008, jadi proporsi = 51% tendik dan 49% dosen. Jika dilihat data pada Gambar 3.14 maka capaian saat ini belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Gambar 3.19. Proporsi Tenaga Kependidikan di Fakultas Berdasarkan Status Kepegawaian
(Sumber: Direktorat SDM, 2020)
Berdasarkan data kepegawaian pada Gambar 3.18, proporsi jumlah tenaga kependidikan tahun 2016-2020 yang berstatus PNS, tetap non PNS mengalami penurunan sedangkan untuk tenaga kependidikan yang berstatus kontrak/tidak tetap dan calon pegawai tetap non PNS mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa tugas tambahan yang membutuhkan tenaga kependidikan tambahan yang direkrut sehingga Universitas merekrut tenaga pendidik berstatus honorer dan tenaga kerja kontrak/tidak tetap. Jika dianalisis lebih dalam, menyoroti tingkat pendidikan tenaga kependidikan baik yang berada di fakultas maupun di unit kerja, tenaga kependidikan yang berpendidikan SD-SMA masih 37,64% dari total tenaga kependidikan yang ada.
57% 58% 59% 60%
PNS Tetap Non PNS Honorer Kontrak/Tidak Tetap
Calon Pegawai Tetap Non PNS 2016 2017 2018 2019 2020
39 3. Efisiensi Anggaran
Efisiensi anggaran dalam Universitas Airlangga dapat ditunjukkan dari realisasi belanja universitas dibandingkan dengan realisasi anggaran pada tahun berjalan. Sumber pendapatan untuk penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan UNAIR sesuai dengan laporan keuangan audit tahun 2019 berasal dari:
a. Pemerintah, yaitu dana yang berasal dari pemerintah melalui anggaran pemerintah yang tertuang dalam DIPA dan POK, penerimaan hibah/subsidi serta hasil kontrak kerjasama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengmas dengan lembaga/instansi pemerintah.
b. Masyarakat, yaitu dana yang berasal dari masyarakat yang antara lain dalam bentuk sumbangan operasional pendidikan serta sumbangan masyarakat lainnya.
c. Dana layanan dan usaha Universitas, yaitu dana yang berasal dari layanan dan usaha akademik (kontrak kerja), layanan umum dan fungsi serta penerimaan umum lainnya.
Sumber penerimaan atau pendapatan Universitas Airlangga melalui DAMAS memiliki realisasi sebesar 118% dari pagu pendapatan awal. Proporsi realisasi terbesar bersumber dari pendapatan fakultas sebesar 77% dan pendapatan Revenue Generating Units (RGU) sebesar 23%. Sedangkan untuk serapan belanja pada tahun 2020 sebesar 76,31% dari pagu anggaran awal yang telah ditetapkan universitas (surplus sebesar Rp 207.762.000.000).
Gambar 3.20. Pendapatan dan Realisasi
(Sumber: Direktorat Keuangan, 2020)
Gambar 3.21. Serapan Belanja 2020
(Sumber: Direktorat Keuangan, 2020) 600.000.000.000
650.000.000.000 700.000.000.000 750.000.000.000 800.000.000.000 850.000.000.000
PAGU PENDAPATAN
REALISASI 680.406.137.121
801.540.077.226
0 200.000.000.000 400.000.000.000 600.000.000.000 800.000.000.000
PAGU ANGGARAN SERAPAN
778.159.093.950
593.777.295.093
40