• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. Fokus Penelitian

Fokus Penelitian terdiri dari hal-hal berkaitan dengan hal inti yang akan diteliti. Adapun fokus penelitian ini adalah realitas pertukaran sosial masyarakat Duri pada hari pasar di Baraka Kabupaten Enrekang.

E. Instrumen Pelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi istrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu peneliti harus divalidasi seberapa peneliti siap melakukan penelitian yang selanjutnya turun ke lapangan. Instrumen penelitian adalah alat untuk keperluan dalam penelitian, seperti kamera, alat perekam, wawancara mendalam dan penelitian sendiri.

F. Jenis dan Sumber Data Penelitian 1. Jenis data

Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder sebagai berikut:

a. Data primer merupakan data yang didapatkan dari informasi utama yaitu pengelolah pasar Baraka, pedagang dan pembeli yang ada di pasar Baraka.

b. Data sekunder merupakan data pelengkap yang didapatkan dari informan, buku-buku, internet, yang dianggap bisa memberikan informasi terkait dengan penelitian ini.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara pemeliharaan serta upaya untuk mengumpulkan data penelitian yang diperlukan di lapangan. Pengumpulan data yang digunakan dalam berbagi cara seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi.

1. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanyak jawab sambil bertatap muka antara pewawancara denga informan atau orang yang diwawancarai (Bungin, 2009:108).

2. Observasi

(Bungin 2007), mengemukakan beberapa bentuk observasi yang digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi parsitipatif, observasi yang penulis gunakan yaitu observasi parsitipatif, observasi tidak terstruktur dan observasi kelompok tidak terstruktur. Observasi yang peneliti gunakan yaitu observasi parsitipasi (participant obserpation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.

3. Dokumentasi

Dokumentasi yang digunakan sebagai penunjang penelitian penulis, dimana dalam dokumentasi ini dapat melihat, mengabadikan gambar dilokasi penelitian.

H. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis deskritif. Dalam model analisis deskriptif ini peneliti harus menggambarkan keadaan dan fenomena yang diperoleh dalam bentuk kata-kata untuk diperoleh kesimpulan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui sebuah proses yang dimulai sejak pengumpulan data, kemudian dikerjakan secara intensif sesudah penelitian selesai dilakukan.

Model analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan empat langkah yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Empat tahap dalam proses analisis data ini dijelaskan sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang berisi tentang apa yang dilihat, didengar, disaksikan dan juga temuan tentang apa saja yang dijumpai selama penelitian.

2. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses dimana peneliti melakukan pemeliharaan dan penyerderhanaan data hasil penelitian. Proses ini juga dinamakan proses transformasi data, yaitu perubahan dari data yang bersifat kasar muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan menjadi data yang bersifat halus dan siap pakai setelah dilakukan penyeleksian dengan membuang data yang tidak diperlukan.

3. Penyajian Data

Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun sehingga memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data dimasudkan untuk mempermudah penelitian dalam melihat hasil penelitian.

4. Penarikan Kesimpulan

Tahap penarikan kesimpulan ini menyangkut interprestasi penelitian, yaitu pengambaran makna dari data yang ditampilkan. Penarikan kesimpulan merupakan usaha untuk mencari atau memahami data yang diperoleh.

I. Teknik Keabsahan Data

Teknik keabsahan data adalah teknik yang digunakan untuk menyakinkan publik atau masyarakat atau audies mengenai data yang didapatkan dapat dipercaya atau dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga peneliti dapat berhati-hati dalam memasukkan data hasil penelitian. Data yang telah dicatat dan disimpulkan harus dijamin validasinya. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyimpangan informasi data yang sudah di peroleh. Salah satu teknik yang digunakan untuk mengukur validasi data adalah dengan menggunakan trianggulasi. Tingkat validasi data adalah dengan trianggulasi.

Triaggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap suatu data. Trianggulasi yang dilakukan dalam penelitian adalah:

1. Trianggulasi dengan sumber yakni membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara serta membandingkan dengan dokumen yang berkaitan.

a. Trianggulasi dengan metode yakni dengan strategi pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data yaitu melakukan wawancara dengan pemeriksa dokumen serta pengamatan langsung oleh peneliti, serta pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.

b. Triangulasi dengan teori, yakni untuk pengecekan hasil peneliti digunakan beberapa teori sebagaimana yang tertuang dalam landasan teori peneitian ini.

38

DESKRIPSI UMUM DAERAH PENELITIAN DAN DESKRIPSI KHUSUS LATAR PENELITIAN

A. Deskripsi Umum Kabupaten Enrekang sebagai Daerah Penelitian 1. Sejarah Singkat Kabupaten Enrekang

Sejarah abad XIV, daerah ini disebut Massenrempulu yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung, sedangkan sebutan Enrekang dari endeg yang artinya naik dari atau panjat dan dari sinilah asal mulanya sebutan

Endekan. Masih ada versi lain yang mengatakan bahwa administrasi pemerintahan telah dikenal dengan nama Enrekang versi Bugis sehingga jika dikatakan bahwa Kabupaten Enrekang terdiri dari gunung-gunung dan bukit-bukit sambung menyambung mengambil 85% dari seluruh luas wilayah 1.786.01 Km. Pada mulanya terbentuk Kabupaten Enrekang yang telah mengalami beberapa kali pergantian Bupati.

Sebelum terbentuknya menjadi Kabupaten berturut-turut mengalami perubahan bentuk. Pertama menurut sejarah pada mulanya Kabupaten Enrekang merupakan suatu kerajaan besar yang bernama Malepong Bulan, kemudian yang terdiri dari 7 kawasan yang lebih dikenal dengan Pitu Massenrempulu yaitu:

Endekan, Kassa, Batu Lappa, Duri, Maiwa, dan Baringin. Tujuh Massenrempulu ini terjadi kira-kira dalam abad ke XIV dan kerajaan tersebut berubah menjadi lima Massenrempulu yakni: Endekan, Duri, Maiwa, Kassa, dan Batu Lappa.

Kedua, zaman penjajahan sejak tahun 1012 sampai dengan 1941 berubah kembali menjadi dikepalai oleh seorang kontrolurel (Tuan Petoro). Ketiga dalam zaman pendudukan Jepang (1941-1945) Oder Afreling Enrekang berubah nama menjadi Kanrikan. Keempat dalamu zaman Nica (NIT 1946 - 27 Desember 1949) kembali kawasan Mansenrempulu berubah menjadi Onder Afdeling Enrekang.

Kelima kemujian sejak tanggal 27 Desember 1960, kawasan Massenrempulu berubah menjadi Kewedanaan Enrekang dengan puncak pimpinan pemerintah disebut Kepala Pemerintahan Negeri Enrekang. Sehubungan ditetapkannya perda nomor : 4, 5 , 6 dan 7 tahun 2002 tanggal 20 Agustus 2002 tentang pembentukan 4 (empat) Kecamatan definitif dan perda nomor 5 dan 6 tahun 2006 tentang pembentukan 2 kecamatan sehingga pada saat ini Enrekang telah memiliki 11 kecamatan yaitu:

Kecamatan Enrekang ibu kotanya Enrekang, Kecamatan Maiwa ibu kotanya Maroangin, Kecamatan Anggeraja ibu kotanya Cakke, Kecamatan Baraka ibu kotanya Baraka, Kecamatan Alla’ ibu kotanya Belajen, Kecamatan Curio ibu kotanya Curio, Kecamatan Bungin ibu kotanya Bungin, Kecamatan Malua ibu kotanya Malua, Kecamatan Cendana ibu kotanya Cendana, Kecamatan Buntu batu ibu kotanya Pasui hasil pemekaran dari Kecamatan Baraka diresmikan pada tanggal 19 januari 2007. Dan Kecamatan Masalle ibu kotanya Lo’ko hasil pemekaran dari Kecamatan Alla.

2. Kondisi Geografis dan Iklim

Kabupaten Enrekang secara geografis terletak antara 3 14 “36” LS dan 119 40 “53” BT. Sedangkan ketinggian bervariasi antara 47 meter sampai

3.329 meter di atas permukaan laut. Jarak dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan Makassar ke kota Enrekang dengan jalan darat sepanjang 235 km. Batas-batas daerah Kabupaten sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu , sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidrap dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pinrang. Berdasarkan data BPS Kabupaten Enrekang tahun 1024/2015 dalam seksi integrasi pengelolaan dan diseminasi statistik (2015:XIII), luas wilayah Kuabupaten Enrekang ini adalah 1.786,01 km atau sebesar 2,83% dari luas Provinsi Sulawesi Selatan.

Enrekang memiliki iklim tropis. Enrekang adalah kota dengan curah hujan yang signifikan bahkan dibulan terkering terdapat banyak hujan. Iklim ini dia anggap menjadi Af menurut klasifikasi iklim Koppen-Geiger. Suhu rata-rata tahunan adalah 26.6 di Enrekang. Presipitasi rata-rata 2410 mm. Bulan terkering adalah Agustus dengan 138 mm curah hujan hampir semua presitipasi di sini jatuh pada Januari rata-rata 316 mm. Suhu terhangat sepanjang tahun adalah Oktober dengan suhu rata-rata 27.2 . Juli adalah bulan terdingin dengan suhu rata-rata 25.7 .

3. Topografi, Geologi dan Hidrologi

Topografi wilayah Kabupaten Enrekang pada umumnya bervariasi berupa perbukitan, pengunungan, lembah dan sungai dengan ketinggian 47-3.293 m dari permukaan laut serta tidak mempunyai wilayah pantai. Secara umum keadaan wilayah didominasi oleh bukit-bukit dan gunung-gunung yaitu sekitar 84,96%

dari luas wilayah Kabupaten Enrekang sedangkan datara hanya 15,04%.

4. Kondisi Demografi

Secara total jumlah penduduk Kabupaten Enrekang pada tahun 2003 sebanyak 178.658 jiwa terdiri dari jenis kelamin laki-laki 90.341 dan perempuan 88.317 jiwa. Populasi penduduk Alla (40.403 jiwa), kemudian Kecamatan Baraka (31.305 ), Kecamatan Enrekang (28.467 jiwa) dan Kecamatan Maiwa (21.975 jiwa). Sedangkan jumlah angkatan kerja berdasarkan lapangan usaha secara total pada tahun 2002 berjumlah 75.244 dan pada tahun 2003 berjumlah 833.058 dan terbanyak pada sektor pertanian yaitu pada tahun 2002 (80,84%) dan tahun 2014 (83,73%). Selama periode 1998-2003 perekonomian Kabupaten Enrekang relatif selalu lebih baik bila dibandingkan dengan perekonomian Sulawesi Selatan. Pada tahun 2002 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Enrekang sekitar 4,90%. Demikian pada tahun 2003 Kabupaten Enrekang tumbuh sekitar 5,71% dan Sulawesi Selatan tumbuh sekitar 5,39%.

5. Tingkat Pendidikan

Kabupaten Enrekang merupakan salah satu Kabupaten yang sangat memperhatikan sistem pendidikannya. Pemda Kabupaten Enrekang fokus meningkatkan kompetensi guru, dengan pendidikan yang maksimal ke anak didik.

Tak tanggung-tanggung demi meningkatkan kompetensi guru tersebut, kadisdikbud Enrekang Jumurdin menambahkan, tahun ini menyiapkan 1 milliar.

Sebanyak 27 perwakilan sekolah tingkat SD, SMP, dan SMU sederajat menerima surat keputusan Bupati Enrekang tentang penetapan sekolah adiwiyata tingkat Kabupaten Enrekang tahun 2017. Jumlah keseluruhan sekolah di Kabupaten

Enrekang yaitu SD sebanyak 218 sekolah, SMP sebanyak 45 sekolah, dan SMA sebanyak 36 sekolah. Sistem wajib belajar 9 tahun.

6. Mata pencaharian

Pada umumnya penduduk Kabupaten Enrekang bermata pencaharian petani. Sektor pertanian sangat penting peranannya dalam perekonomian di Kabupaten Enrekang. Sektor pertanian memberi kontribusi yang paling besar terhadap PDRB. Sejak tahun 1998 sampai tahun 2002, kontribusi sektor pertanian terhadap total PDRB diatas 47%. Hal ini mencerminkan bahwa perekonomian sebagian besar penduduk di wilayah ini masih mengandalkan sektor pertaninan.

Selain sektor pertanian sektor kehutanan dan perkebunan juga memberikan kotribusi yang cukup besar. Luasannya hutan di Kabupaten Enrekang cukup luas dan tersebar di beberapa Kecamatan. Bila dirinci menurut jenisnya/fungsinya, maka dapat dikatakan sebagian besar hutan tersebut berupa hutan lindung (72.755) dan sebagian lainnya merupakan hutan produksi biasa (14.597). pada tahun 2002 di kaluasan hutan produksi tersebut diperoleh produksi jati rimba sebanyak 4.048,66 m2 dan rotan sebanyak 478 ton.

Pertambangan termasuk juga mata pencaharian Kabupaten Enrekang berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Kabupaten Enrekang dapat diketahui potensi bahan galian ynag terbesar di berbagai Kecamatan. Bahan galian tersebut diantaranya minyak bumi, batubara, emas, perak, logam dasar (Cu, Pb, Zn) marmer, pasir, kuarsa, koalin, dan lain-lain. Semua sumberdaya tersebut sudah diketahui penyebarannya, namun baru sebagian bahan galian yang

teridentifikasi jumlah cadangan di setiap wilayah. Karena daerah Kabupaten Enrekang terdiri dari gunung-gunung dan bukit-bukit yang terhampas luas sehingga memiliki sumberdaya alam yang salah satu Kabupaten terkaya di Sulawesi Selatan.

7. Kehidupan Sosial, Budaya dan Keagamaan

Kehidupan sosial Kabupaten Enrekang yaitu bentuk kekeluargaan dan gortong royong yang tinggi menjadi keseharian sifat orang Duri. Dahulu mereka mengenal adanya status sosial dari kaum bangsawan, rakyat biasa dan budak.

Namun segala kasta sosial itu sudah mereka hapuskan. Status sosial yang dianut oleh mereka kini berdasarkan pendidikan dan kekayaan yang dimiliki.

Kebangasawanan sudah tidak berlaku lagi untuk mereka. Etnis dalam Kabupaten Enrekang didominasi oleh suku Duri yang berbatasan dengan Tana Toraja.

Permukiman orang Duri berada di Kecamatan Baraka, Anggeraja dan Alla yang terdiri 17 desa. Suku Enrekang dan suku Maroangin (Marowangin) merupakan koalisi dari suku Duri yang bergabung dalam satu kesatuan yang disebut sebagai suku Massenrempulu. Meskipun secara ras dan bahasa Duri cenderug dekat dengan suku Toraja.

Bahasa Duri mirip dengan bahasa Toraja, oleh karena itu suku Duri sering dianggap bagian dari suku Toraja. Meskipun memiliki kekerabatan dekat dengan Toraja, suku Duri banyak terpengaruh adat istiadat suku Bugis. Sehingga kadang-kadang juga orang Duri dianggap sebagian sub-suku dari suku Bugis. Islam menjadi agama yang dominan bagi sebagian suku Duri. Alu’ Tojolo menjadi

agama kepercayaan tradisional mereka sebelum Islam masuk ke suku Duri.

Namun sebagian masyarakat Kabupaten Enrekang ada yang beragama Kristen karena pengaruh perbatasan dari Toraja dan Kabupaten lain.

B. Deskripsi Khusus Pasar Baraka Sebagai latar Penelitian 1. Sejarah Singkat dan Letak Pasar Baraka

Awal berdirinya pasar Baraka pada tahun 70an tepat di pinggir kota Baraka namun setelah berjalannya waktu pasar baraka semakin berkembanag sehingga tidak mampu menampung semuanya sehingga pasar Baraka dipindahkan ke tengah kota Baraka dan pada saat itu mulailah pembangunan awal pertama pasar Baraka pada tahun 2005 dan renovasi pasar tahun 2014. Dari tahun ke tahun pasar Baraka sudah banyak mengalami peningkatan dan perkembangan sehingga itu menjadi pasar terbesar ke dua di Kabupaten Enrekang setelah pasar Sudu.

Wilayah kelurahan Baraka adalah salah satu diantara 3 kelurahan yang ada di Kecamatan Baraka yang merupakan salah satu 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Enrekang. Jarak Kecamatan Baraka dari ibukota Kabupaten Enrekang adalah 37 km. Batas-batas wilayah kecamatan baraka meliputi:

a. Sebela Utara berbatasan dengan Kecamatan Malua b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Buntu Batu c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Anggeraja d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamana Enrekang

Gambar 4.1

Luas wilayah Kecamatan Baraka adalah 158 km2 yang sebagian besar terdiri dari daerah pengunungan dengan ketinggian 1000-2000 m di atas permukaan laut. Secara administratuve Kecamatan Baraka dimekarkan menjadi dua kecamatan pada tahun 2007 sehingga Kecamatan Baraka yang dulunya memiliki 2 kelurahan dan 18 Desa meliputi 3 kelurahan dan 12 Desa.

Gambar 4.2

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwasetelah melakukan pemekaran jumlah keseluruhan desa yang ada di kecamatan Baraka adalah 15 Desa dengan jumlah penduduk sebesar 21582.

2. Konsep Dasar Pertukaran Sosial Masyarakat Duri

Pertukaran terjadi dalam beberapa untuk dalam matriks, antara lain pertukaran langsung, pertukaran tergeneralisasi dan pertukaran produktif. Dalam pertukaran langsung, timbal balik dibatasi pada kedua aktor yang terlibat.

Pertukaran tergeneralisasi melibatkan timbal balik yang bersifat tidak langsung.

Seseorang memberikan kepada orang lain, dan penerima merespon tetapi tidak kepada orang pertama. Akhirnya pertukaran dapat bersifat produktif, yaitu kedua aktor harus saling berkontribusi agar keduanya memperoleh keuntungan.

Dalam pertukaran langsung dan tergeneralisasi satu orang diuntungkan oleh nilai yang dimiliki oleh orang yang lainnya. Satu orang menerima penghargaan sementara, yang satunya mengalami pengorbanan. Dalam pertukaran produktif kedua orang mengalami pengorbanan mendapatkan penghargaan secara simultan.

Ciri khas pertama dari pasar Baraka yaitu masyarakat Duri melakukan transaksi tidak semata-mata menggunakan uang namun mereka menggunakan barang atau jasa yang diperoleh dari hasil bumi di setiap Desa, hasil bumi kemudian dijual dan hasil jualan kembali digunakan untuk membeli kebutuhan pokok atau hasil bumi yang tidak dihasilkan di Desa tersebut. Masyarakat Duri tidak hanya mengandalkan uang namun lebih kepada hasil bumi yang didapatkan.

Ciri khas kedua yaitu hasil bumi yang diperoleh dan diperdagangkan namun tidak laku atau masih mempunyai lebih, inisiatif pedangan berusaha untuk mencari cara bagaiman supaya hasil buminya tidak dipulangkan kembali, karena jika dipulangkan kembali akan rugi, sehingga itu mencari pedang lain untuk menukarkan barang atau jasa dengan lobi atau kesepakatan yang sudah ditetapkan.

Berbicara pertukaran dalam masyarakat maka menyinggung kajian para ekonomi dalam pertukaran ekonomi, pasar, dan ekonomi. Sedangkan masyarakat

dianggap sebagai sesuatu yang diluar, dia dipandang sebagai sesuatu yang telah ada (given). Sebaliknya, sosiologi memandang ekonomi sebagai bagian dari integral dari masyarakat dengan melakukan ceteris paribus terhadap fakrot-faktor yang dipandang berpengaruh terhadap suatu kenyataan sosial. Sebaliknya sosiologi terbiasa melihat kenyataan secara holistik, melihat kenyataan saling kait-mengait antar berbagai faktor. Dengan demikian, sosiologi ekonomi selalu memusat perhatian pada:

a. Analisis sosiologis terhadap proses ekonomi, misalnya proses terbentuknya harga antar pelaku ekonomi, proses terbentuknya kepercayaan dalam situasi tindakan ekonomi, atau proses terjadinya perselisihan dalam tindakan ekonomi.

b. Analisis hubungan dan interaksi antar ekonomi dan istitusi dari masyarakat, seperti hubungan antara ekonomi dan agama, pendidikan, statifikasi sosial, demokrasi dan politik.

c. Studi tentang perubahan istitusi dan parlementer budaya yang menjadi konteks bagi landasan ekonomi dari masyarakat, contohnya semangat kewirausahaan di kalangan santri, kapital budaya (cultural capital) pada masyarakat nelayan atau etos kerja di kalangan pekerja tambang.

3. Konsep Pasar Sebagai Tindakan Pelaku Ekonomi Masyarakat Duri

Pada dasarnya pasar adaah tempat pertemuan antara penjual dan pembeli.

Atau pasar adalah daerah atau tempat (area) yang di dalamnya terdapat kekuatan-kuatan permintaan dan penawaran yang saling bertemu dan membentuk suatu harga. Pasar dapat diartikan pula sebagai suatu kelompok orang-orang

diorganisasikan untuk melakukan tawar-menawar (dan melakukan tempat bagi penawaran dan permintaan) sehingga dengan demikian terbentuk harga. Berbicara tentang ekonomi maka dalam pembahasan ini menyinggung sosiologi ekonomi yang menjelaskan sebagai sebuah kajian yang mempelajari hubungan antar masyarakat, yang di dalamnya terjadi interaksi sosial dengan ekonomi. Dalam hubungan tersebut, dapat dilihat bagaimana masyarakat mempengaruhi ekonomi.

Juga sebaliknya, bagaimana ekonomi memengaruhi masyarakat.

Dengan pemahaman konsep masyarakat seperti diatas, maka sosiologi ekonomi mengkaji masyarakat yang di dalamnya terdapat proses dan pola interaksi sosial, dalam hubungan dengan ekonomi. Masyarakat sebagai realitas eksternal-objektif akan menuntun individu dalam melakukan kegiatan ekonomi seperti apa yang boleh diproduksi, bagaimana memproduksinya, dan dimana memproduksinya. Pada masyarakat Duri interaksi yang terjadi d pasar yaitu proses sosial asosiatif yang di dalamnya realitas sosial anggota-anggota masyarakatnya dalam keadaan harmonis dan mengarah pada pola-pola kerja sama.

Harmoni sosial ini menciptakan kondisi sosial yang teratur atau disebut social order.

50

PENYEBAB TERJADINYA PERTUKARAN SOSIAL MASYARAKAT DURI PADA HARI PASAR DI BARAKA KABUPATEN ENREKANG

Sesuatu yang bernilai dapat berupa barang, jasa, uang atau hak milik yang bukan benda (good-wiill). Transaksi terjadi apabila pertukaran potensial terwujud dalam kenyataan. Transaksi ditandai dengan persetujuan antara kedua belah pihak atau lebih baik mengenai penggunaan, milik, atau pemindahan sumber-sumber.

Transaksi adalah pertukaran yang asasi. Pada situasi pertukaran yang sederhana terdapat dua pihak. Pihak yang aktif menghendaki pertukaran disebut sebagai pemasaran, sedang pihak lain kedua disebut prospek. Pemasaran adalah pencari sumber dari pihak lain dan bersedia menawarkan sesuatu yang bernilai dalam pertukaran. Oleh sebab itu pemasaran berusaha mencari jawaban pihak lain, apa yang ingin dibeli, dalam bentuk apa yang akan dibeli. Kalau terjadi pihak pertama maupun pihak kedua sama-sama aktif dalam proses pertukaran, maka kedu-duanya disebut pemasaran, situasi dengan pemasaran bilateral.

Setelah melakukan observasi, wawancara serta dokumentasi di lapangan maka akan disajikan data-data yang diperoleh dari penelitian. Adapun yang menyebabkan sehingga terjadinya pertukaran sosial masyarakat Duri pada hari pasar di Baraka Kabupaten Enrekang. Adapun hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti yaitu sebagai berikut :

Menurut pendapat AMN (52 tahun), mengatakan bahwa:

“Adapun yang menyebabkan sehingga terjadinya pertukaran sosial di pasar Baraka karena setiap masyarakat Duri mempunyai hasil bumi yang

berbeda-beda disebabkan oleh jenis tanah, jenis air disetiap desa, pedalaman desa, cara bertani dan berkebun dan pola pikir para petani dan pekebun. Misalnya di Kecamatan Baraka penghasil beras dengan berbagai jenis, kopi, cengkeh, merica, panili, tanaman dalam waktu jangka panjang. Di Kecamatan Anggeraja penghasil bawang merah, tomat, jangung, salak, cabe, timun, kacang tanaman dalam jangka waktu pendek dan lain sebagainya. Kecamatan Bungin penghasil gula merah, cengkeh, merica kerajinan yang terbuat dari rotan seperti tapis, golok, pisau” (Hasil wawancara, 7 September 2017).

Berdasarkan wawancara dan informasi di atas bahwa yang menyebabkan terjadinya pertukaran sosial yang terjadi di pasar Baraka karena setiap desa memiliki hasil bumi yang berbeda-beda baik tanaman dalam jangka waktu panjang atau jangka waktu pendek. Walaupun pemukiman masyarakat Duri terbentang luas oleh pengunungan namun memiliki tanah dengan keseburan yang berbeda-beda, jenis air, cara bercocok tanama dan penyebab lainnya yaitu pola pikir petani dan pekebun yang sebagian daerah sudah menggunakan pertanian yang moderen seperti menggunakan mesin agar memudahkan pertanian dan dalam jumlah yang banyak, namun masih banyak masyarakat Duri yang masih menggunakan cara-cara tradisional dalam pertanian dan perkebunan contohnya Kecamatan Bungin kerena masih pedalaman dan trasportasi yang sangat minim.

Menurut JFR (42 tahun), mengatakan bahwa:

“Pasar Baraka berdiri sekitar tahun 70an yang lalu, pembangunan

“Pasar Baraka berdiri sekitar tahun 70an yang lalu, pembangunan