• Tidak ada hasil yang ditemukan

Merendahkan Perempuan dalam Kumpulan Cerpen JMDK Berbentuk

Paragraf

Referen bosan mengacu pada keadaan yang sudah terlalu sering ditemui atau

dialami sehingga menyebabkan rasa jemu. Dalam kumpulan cerpen JMDK ditemukan

dua paragraf yang memiliki referen bosan, yakni:

(32) Awalnya memang urusan kelamin. Ketika pada suatu hari saya terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging tak segar

dipenuhi gajih yang tak akan mudah hilang dengan latihan senam maupun fitness setiap hari sekalipun. Hanya sedot lemak yang dapat menyelamatkan onggokan daging itu dari lemak-lemaknya. Setelah itu pun harus pandai-pandai merawatnya. Dan kerut-merut di sekitar mata, kening dan lehernya, hanya dapat tertolong oleh bedah plastik. Kalau hanya akupuntur, entah berapa juta jarum yang harus ditusukkan supaya dapat mengembalikan ke kencangan semula. Lantas apakah ada teknologi pengubah pita suara ? Ketika onggokan daging itu bernyawa, ia benar-benar bagai robot, dengan rekaman suara. Celakanya, rekaman suaranya cempereng seperti kaleng rombeng. Astaga...pusing saya mendengarnya. Pagi-pagi sebelum saya berangkat kerja saya mau tenang. Sebentar kemudian saya akan terjebak kemacetan, bertemu klien yang menyebalkan, dan karyawan yang tak berhenti minta tanda tangan, rutinitas yang membosankan. Aneh, sejak hari itu, saya memilih lekas-lekas berada di tengah-tengah kemacetan dan segudang rutinitas yang membosankan itu ketimbang lebih lama di rumah melihat seonggok daging yang tak sedap dipandang dan suara yang tak sedap didengar. Kalau saya saja sudah jengah bertemu, apalagi kelamin saya ?

Referen dari paragraf di atas adalah suami yang mengeluh pada temannya

tentang kondisi fisik istriya yang tidak lagi menarik.

“Awalnya memang urusan kelamin. Ketika ia terbangaun dan terperanjat di sisi seonggok daging yang tak lagi segar, begitu ucapan yang saya dengar dalam bisik-bisik perbincangannya telepone dengan entah teman, atau daging segarnya yang baru. Sebenarnya saya sudah sering dinasehati teman-teman, untuk senantiasa menjaga berat badan. Tapi ketika saya sudah mulai mengikuti senam kebugaran, saya mendengar ia mengatakan – masih dalam perbincangan telepon yang sama bawa lemak saya tak mungkin terselamatkan dengan senam setiap hari sekali pun!Bahkan ia juga menyebut-nyebut tentang terapi akupuntur yang sedang saya ikuti untuk memperkencang kulit muka saya yang mulai melorot. Saya sempat mendengar ia menyebut jutaan jarum, tidak jelas apa maksudnya. Mungkin saja maksunya, jutaan jarum pun tak sanggup menyelamatkan kerut-merut wajah saya. Dan ada lagi ia mengatakan kalau suara saya bagai kaleng rombeng! Saya sadar saya memang cerewet. Tapi sudah menjadi kewajiban saya untuk cerewet. Tanpa saya cereweti, pembantu-pembantu pasti kerjaannya hanya ongkang-ongkang kaki. Saya ingin rumah selalu terjaga rapi, bersih, supaya ia senantiasa betah di rumah. Saya juga sudah bosan cerewet. Cerewat itu lelah. Mengatur dan mengurus pekerjaan rumah tangga tidaklah mudah. Bahkan untuk urusan rumah inilah kulit saya keriput, tubuh saya gembrot, karena saya sudah tak punya waktu lagi selain mengurus rumah, rumah, dan rumah. Tapiternyata yang saya lakukan bukan membuatnya bertambah menghargai jerih payah saya, melainkan menjauhkan diri dari saya. Bukannya saya melebih-lebihkan. Tapi saya benar-benar dengan jelas mendennnngar ia mengatakan, “kalau saya saja sudah jengah bertemu, apalagi kelamin saya?”

(JMDK, halaman 6-8)

(33)Awalnya memang urusan kelamin. Pada suatu hari ia

terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging yang tak lagi segar. Ah...saya tak sampai hati menyampaikan apa yang diutarakannya pada saya. Tak apntas menyamakan seorang istri dengan seonggok daging, apalagi daging yang tak segar. Bahkan ia mengatakan senam kebugaran tak akan menyelamatkan istrinya dari serbuan lemak. Hanya sedot lemak yang dapat menyelamatkannya, katanya. Dan kerut-merut yang

menggelayut di wajah istrinya, hanya dapat diselamtkan dengan cara bedah plastik. Akupuntur hanyalah sia-sia belaka. Sebenarnya kalimat sia-sia belaka pun sudah saya perhalus. Yang ia katakan adalah, diperlukan berjuta-juta jarum untuk mengembalikan kulit istrinya ke kenyalan semula. Lebih gilanya lagi, ia menanyakan apakah ada teknologi yang dapat mengubah pita suara manusia. Suara istrinya bagai kaleng rombeng, bagai robot. Ia lebih memilihj terjebak kemacetan, bertemu klien yang menyebalkan, ketimbang berlama-lama di rumah. Dan dengan santai dengan muatan gurau ia berkata, “kalau saya saja sudah jengah bertemu, apalagi kelamin saya?”

(”JMDK”, halaman 4-5 )

Referen kutipan di atas adalah teman suami yang bercerita tentang kondisi

fisik istri temannya yang tidak lagi menarik.

“Awalnya memang urusan kelamin. Ketika ia terbangaun dan terperanjat di sisi seonggok daging yang tak lagi segar, begitu ucapan yang saya dengar dalam bisik-bisik perbincangannya telepone dengan entah teman, atau daging segarnya yang baru. Sebenarnya saya sudah sering dinasehati teman-teman, untuk senantiasa menjaga berat badan. Tapi ketika saya sudah mulai mengikuti senam kebugaran, saya mendengar ia mengatakan – masih dalam perbincangan telepon yang sama bawa lemak saya tak mungkin terselamatkan dengan senam setiap hari sekali pun!Bahkan ia juga menyebut-nyebut tentang terapi akupuntur yang sedang saya ikuti untuk memperkencang kulit muka saya yang mulai melorot. Saya sempat mendengar ia menyebut jutaan jarum, tidak jelas apa maksudnya. Mungkin saja maksunya, jutaan jarum pun tak sanggup menyelamatkan kerut-merut wajah saya. Dan ada lagi ia mengatakan kalau suara saya bagai kaleng rombeng! Saya sadar saya memang cerewet. Tapi sudah menjadi kewajiban saya untuk cerewet. Tanpa saya cereweti, pembantu-pembantu pasti kerjaannya hanya ongkang-ongkang kaki. Saya ingin rumah selalu terjaga rapi, bersih, supaya ia senantiasa betah di rumah. Saya juga sudah bosan cerewet. Cerewat itu lelah. Mengatur dan mengurus pekerjaan rumah tangga tidaklah mudah. Bahkan untuk urusan rumah inilah kulit saya keriput, tubuh saya gembrot, karena saya sudah tak punya waktu lagi selain mengurus rumah, rumah, dan rumah. Tapiternyata yang saya lakukan bukan membuatnya bertambah menghargai jerih payah saya, melainkan

menjauhkan diri dari saya. Bukannya saya melebih-lebihkan. Tapi saya benar-benar dengan jelas mendennnngar ia mengatakan, “kalau saya saja sudah jengah bertemu, apalagi kelamin saya?”

(JMDK, halaman 6-8)