PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Refleksi awal Perencanaan
Guru pengajar membuat persiapan sesuai dengan keseharian yang telah dilakukan sebelumnya lengkap dengan alat evaluasi pembelajaran. Pembelajaran menggunakan konsep play and game, dimana pembelajaran ini ditujukan untuk bermain dan bertanding dalam suasana yang menyenangkan, anak dibiarkan untuk berekspreksi tanpa mengindahkan pada bentuk keterampilan suatu gerakan yang benar dalam materi permainan sepak takraw.
Pelaksanaan dan Hasil Observasi
Observasi dilaksanakan pada hari selasa tanggal 17 September 2012 dengan kehadiran 28 siswa kelas IV SDN Lesanpuro 2.
Pembelajaran secara umum berlangsung dengan suasana yang kurang terkoordinir dengan baik, di mana anak didik di biarkan belajar dan bermain sendiri dan guru hanya mengarahkan dan memberi tugas diawal pelajaran . Setelah itu guru hanya mengawasi jalannya pembejaran dari jauh.
Refleksi
- Dalam pembelajaran siswa terkesan kurang terkontrol dengan baik, banyak siswa yang kurang aktif, karena keaktifan dilakukan oleh siswa-siswa yang dominan. Teknik dan keterampilan gerak dalam permainan sepak takraw tidak Nampak, karena anak melakukan gerakan dengan ekspresi yang ada pada diri anak tanpa mengindahkan kebenaran dari konsep gerakan yang ada permainan sepak takraw.
- Guru cenderung pasif, hanya sekali-kali mengeluarkan perintah sambil mengawasi pembelajaran dari jauh, mungkin guru beranggapan teknik kurang penting dan anak didik merasa senang dan mengeluarkan keringat sudah cukup puas. Walaupun tujuan yang tertulis dalam RPP tidak tercapai.
SIKLUS I
a.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan sistemik. Diantara bagian dari system dalam sebuah pekerjaan mengajar, antara lain: pembuatan rencana pembelajaran (RPP). RPP yang dibuat oleh sasaran penelitian berisi seperangkat rumusan program pengajaran yang diawali dengan penulisan :
1)Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.
2)Standar kompetensi merupakan kualifkasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3)Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.
4)Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5)Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6)Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butirbutir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
7)Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
8)Kegiatan pembelajaran
a. Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Adapun kegiatan inti meliputi :
Kegiatan eksplorasi, guru:
- pemahaman konsep gerakan sepak sila
- melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan - memfasilitasi peserta didik melakukan latihan gerakan sepak sila
Kegiatan elaborasi, guru mengawasi dan mengoreksi latihan:
- Memberi kesempatan untuk berpikir, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut.
- Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; - Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan
prestasi belajar.
- Memfasilitasi peserta didik melakukan unjuk keterampilan sepak sila dari hasil latihan
Konfirmasi, guru:
- Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
- Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan.
C .Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refeksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
Hasil amatan peneliti, menunjukkan bahwa perilaku mengajar yang dilaksanakan oleh guru dimulai dari pemberian kegiatan awal sampai kegiatan akhir banyak sekali siswa yang kurang sekali mempunyai keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw . Banyak sepak sila yang tidak dilakukan dengan baik, terbukti dengan setiap melakukan timang-timang bola, bola sering jatuh dan tidak sesuai dengan kriteria untuk keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw, akan tetapi untuk tahapan gerakan sepak sila anak didik hampir semua menguasai (observasi, 17 September 2012). Selengkapnya kegiatan pembelajaran dipaparkan sesuai dengan gambar dan penjelasannya sebagai berikut :
Gb.IV.1: Penjelasan tentang materi sepak sila.
Gambar IV .I menunjukkan bahwa pada kegiatan inti, pertama kali guru menjelaskan materi sepak sila. Saat guru memberi penjelasan tidak disertai contoh gerakan sepaksila. Hal itu dapat dinyatakan bahwa dalam penyampaian konsep gerakan sepak sila kurang lengkap. Akibatnya dapat diduga bahwa penjelasan guru tidak bisa diterima dengan baik dan cenderung menimbulkan verbalisme . Pada sisi lain pembelajaran tentang sepak sila merupakan pembelajaran yang menuntut aktivitas fisik, setidaknya bantuan fisualisasi gerakan . Melalui visualisasi gerakan siswa lebih dapat mencerna yang
selanjutnya dapat melakukan kegiatan keterampilan sesuai dengan tuntutan gerakan sepak sila. Kegiatan berikutnyadapat dilihat pada Gambar IV.2 berikut
Gb.IV.2 : Latihan gerakan sepak sila
Gambar IV.2 dapat dipahami sebagai aktivitas siswa dalam melakukan latihan sepak sila tidak sesuai dengan gerakan yang di inginkan , Tampak pula banyak anak yang kurang memperhatikan temannya yang sedang berlatih disaat menunggu giliran. Mengingat jumlah siswa banyak dan bola yang tersedia kurang ( 4 bola), dapat diduga dalam kegiatan latihan sepak sila tersebut banyak siswa pasif. Penggunaan waktu belajar yang tidak efektif. Aktifitas berikutnya dapat dilihat pada Gambar IV.3
Gb.IV.3. Aktifitas siswa dalam latihan
Gambar IV.3 dapat dipahami sebagai aktifitas siswa yang sedang latihan tidak ada keseriusan, mereka cenderung bergurau. Nampak pula dalam pengamatan peneliti saat menunggu giliran latihan ada aktifitas lain selain latihan gerakan sepak sila, yaitu bermain sepak bola terutama anak laki-laki. Dapat diperkirakan guru setelah memberi penjelasan punya aktifitas lain tanpa mengawasi jalannya latihan, anak dibiarkan beraktifitas sendiri dan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak di inginkan, misalnya: cidera, berkelahi, dan lainnya.
b. Hasil belajar
Kegiatan pembelajaran, lazimnya diakhiri dengan kegiatan evaluasi hasil belajar, untuk membidik tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. Berdasarkan hasil tes perbuatan yang mengukur keterampilan sepak sila didapatkan skor rata-rata kelas sebesar 67,7 (Lampiran 3) skore tersebut didapat dari hasil timang bola pada keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw.
c. Refleksi
Berdasarkan hasil penelitian awal sebagaimana dipaparkan di atas, dapat dinyatakan hal-hal berikut:
1) RPP dibuat secara paradigmatik yang sesuai dengan kaidah pengunaan metode atau model pembelajara.
2) Pelaksanaan tidak sesuai dengan sistematika yang didasarkan kepada penerapan metode atau model pembelajaran tertentu.
3) Hasil belajar sebagaian besar siswa belum mencapai keterampilan sepak sila sebagaimana yang diharapkan.
Dari pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan model pembelajarn kumon pada siklus I disimpulkan beberapa hal antara lain:
- Seluruh sequen nampak ada yang tidak terlaksana dalam proses pembelajaran pada siklus I, maka dengan tidak terpenuhinya sequen pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kumon pada siklus I peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian ini pada siklus II.
- Instrumen penilaian adalah ranah psikomotor berupa tes keterampilan gerak sepak sila yang berdasarkan tahapan-tahapan yang sesuai dengan indicator dengan kriteria yang sudah ditentukan, sehingga penilaian yang dilakukan tidak keluar dari tujuan yang di inginkan.
- Hasil pembelajaran secara bertahap 70% anak sudah menguasai materi sepak sila akan tetapi sewaktu penilaian koordinasi gerakan secara utuh melalui penilaian gerakan timang-timang bola banyak anakyangkurang mengusai. Kita menyadari bahwa
keterampilan psikomotor harus dilakukan latihan yang berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi dengan dukungan peralatan yang memadahi, baru keterampilan sepak sila bisa dikuasai anak dengan baik. Dalam pembelajaran sepak sila kelas IV di SD Negeri
Lesanpuro 2 kurang bisa berjalan dengan maksimal, terbukti dari hasil observasi dan olah data penelitian ini menyatakan hasil belajar anak didik pada materi sepak sila dalam permainan sepak takraw nilai rata-rata kelas 55.6 (Lampiran 4), intensitas latihan masing-masing anak berbeda penyebaran penguasaan materi tidak merata sehingga peningkatan prestasi hasil belajar anak pada keterampiln sepak sila tidak Nampak.
MODEL PEMBELAJARAN KUMON
OBSERVASI PADA SIKLUS I, HARI RABU, Tanggal 17 September 2012
N o Kegiatan Seque n Kualifikasi Keterangan 4 3 2 1
1 Menyajikan konsep gerakan sepak sila
1 v dilakukan
2 Memberi tugas latihan gerakan sepak sila
2 v dilakukan
3 Koreksi hasil latihan masing-masing anak
3 v tidak
dilakukan 4 Memberi latihansesuai hasil koreksi
gerakan
4 v dilakukan
5 Remidial dan memberi penguatan gerakan sepak sila yang benar.
5 v tidak
dilakukan
Kriteria penilaian:
Nilai 4 jika kegiatan dilakukan utuh
Nilai 3 jika dilakukan tapi ada sedikit kesalahan
Nilai 1 jika tidak terlaksana
Total nilai =(Jumlah nilai: 4x5)x 100%=( 9:20) x100%= 45%
2. Rekomendasi
Berdasarkan refleksi di atas, dapat disarankan hal-hal berikut.
Pembelajaran dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran kumon, dengan tahapan- tahapan pembelajaran, a)Memberi sajian konsep gerakan sepak sila,b) Melatih setiap siswa untuk melakukan gerakan sepak sila, c) Mengoreksi hasil latihan gerakan sepak sila, d) Memberikan latihan lagi sesuai dengan hasil koreksi gerakan yang benar, e) Memberikan penguatan tentang gerakan sepak sila yang benar. Hendaknya dituangkan dalam
penulisan RPP khususnya dikegiatan inti dan dilaksanakan dalam model pembelajaran kumon.
Siklus II
a.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan sistemik. Diantara bagian dari system dalam sebuah pekerjaan mengajar, antara lain: pembuatan rencana pembelajaran (RPP). RPP yang dibuat oleh sasaran penelitian berisi seperangkat rumusan program pengajaran yang diawali dengan penulisan :
1)Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.
2)Standar kompetensi merupakan kualifkasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3)Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.
4)Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5)Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6)Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butirbutir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
7)Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
a. Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Adapun kegiatan inti meliputi :
Kegiatan eksplorasi, guru:
- Siswa dapat pemahaman konsep gerakan sepak sila dengan visualisasi
- melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan - memfasilitasi peserta didik melakukan latihan gerakan sepak sila
Kegiatan elaborasi, guru mengawasi dan mengoreksi latihan: - Melakukan gerakan melambungkan bola
- Melakukan gerakan lambung sepak tangkap - Melakukan gerakan sepak sila secara utuh
- Mempraktekkan gerakan sepak sila dengan timang-timang bola secara terus-menerus.
- Memberi kesempatan untuk berpikir, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut.
- Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; - Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan
prestasi belajar.
- Memfasilitasi peserta didik melakukan unjuk keterampilan sepak sila dari hasil latihan
Konfirmasi, guru:
- Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
- Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan.
C .Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refeksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
d. Pelaksanaan Pembelajaran
Hasil amatan peneliti, menunjukkan bahwa perilaku mengajar yang dilaksanakan oleh guru dimulai dari pemberian kegiatan awal sampai kegiatan akhir banyak sekali siswa yang kurang sekali mempunyai keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw . Banyak sepak sila yang tidak dilakukan dengan baik, terbukti dengan setiap melakukan timang-timang bola, bola sering jatuh dan tidak sesuai dengan kriteria untuk keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw, akan tetapi untuk tahapan gerakan sepak sila anak didik hampir semua menguasai (observasi, 19 Desember 2012). Selengkapnya kegiatan pembelajaran dipaparkan sesuai dengan gambar dan penjelasannya sebagai berikut :
Gb.IV.4. Aktifitas guru
Gambar IV .I menunjukkan bahwa pada kegiatan inti, pertama kali guru menjelaskan materi sepak sila yang disertai dengan contoh gerakan sepak sila. Hal itu dapat dinyatakan bahwa dalam penyampaian konsep gerakan sepak sila yang kurang lengkap berakibat pada penjelasan guru kurang bisa diterima dengan baik dan cenderung menimbulkan verbalisme Pada sisi lain pembelajaran tentang sepak sila merupakan pembelajaran yang menuntut aktivitas fisik, setidaknya bantuan fisualisasi gerakan . Melalui visualisasi gerakan siswa lebih dapat mencerna yang selanjutnya dapat melakukan kegiatan keterampilan sesuai dengan tuntutan gerakan sepak sila. Anak juga memperhatikan keterangan yang diberikan . Kegiatan berikutnyadapat dilihat pada Gambar IV.5 berikut
Gambar IV.5 dapat dipahami sebagai aktivitas siswa dalam melakukan latihan sepak sila dengan pengawasan dari guru. Tampak pula anak yang lain memperhatikan temannya yang sedang berlatih disaat menunggu giliran. Mengingat jumlah siswa banyak dan bola yang tersedia kurang, dapat diduga dalam kegiatan latihan sepak sila tersebut banyak siswa pasif. Penggunaan waktu belajar yang tidak efektif. Latihan gerakan pada setiap anak kurang maksimal. Anak terlalu serius, seharusnya suasana belajar bersifat menyenangkan. Aktifitas berikutnya dapat dilihat pada Gambar IV.6
Gb.IV.6 Koreksi gerakan sepak sila
Gambar IV.6 dapat dipahami sebagai aktifitas siswa untuk menunjukkan hasil dari latihan gerakan sepak sila, Guru melakukan koreksi dari hasil latihan anak. Serta adanya pengawasan yang lebih teliti dari guru. Kesalahan yang dilakukan segera dibetulkan dan siswa disuruh melakukan latihan lagi, sehingga keterampilan gerak sepak sila yang dilakukan oleh siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam proses pembelajaran yang dirumuskan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya bisa dilihat pada Gambar IV.7.
Gb.IV.7 Pemberian penguatan dan remedial
Gambar IV.7 dapat dipahami sebagai aktifitas guru sebelum mengakhiri pelajaran memberikan kesimpulan tentang gerakan sepak sila yang benar. Kemudian guru memberikan kesempatan pada anak yang nilainya kurang untuk melakukan perbaikan dengan menambahkan beban latihan lagi.
e. Hasil belajar
Kegiatan pembelajaran, lazimnya diakhiri dengan kegiatan evaluasi hasil belajar, untuk membidik tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. Berdasarkan hasil tes perbuatan yang mengukur keterampilan sepak sila didapatkan skor rata-rata kelas sebesar 63.3 ( Lampiran 5) skore tersebut didapat dari hasil timang bola pada keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw.
f. Refleksi
Berdasarkan hasil penelitian awal sebagaimana dipaparkan di atas, dapat dinyatakan hal-hal berikut:
1) RPP dibuat secara paradigmatik yang sesuai dengan kaidah pengunaan metode atau model pembelajara.
2) Pelaksanaan sesuai dengan sistematika yang didasarkan kepada penerapan metode atau model pembelajaran tertentu.
3) Hasil belajar siswa adanya peningkatan kebenaran dalam melakukan keterampilan sepak sila sebagaimana yang diharapkan.
Dari pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan model pembelajarn kumon pada siklus I disimpulkan beberapa hal antara lain:
- Seluruh sequen nampak ada artinya terlaksana dalam proses pembelajaran dengan asumsi mendekati standart sempurna, maka dengan terpenuhinya sequen pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kumon pada siklus II peneliti memutuskan untuk menghentikan penelitian ini pada siklus II.
- Instrumen penilaian adalah ranah psikomotor berupa tes keterampilan gerak sepak sila yang berdasarkan tahapan-tahapan yang sesuai dengan indicator dengan kriteria yang sudah ditentukan, sehingga penilaian yang dilakukan tidak kelur dari tujun yang di inginkan.
- Hasil pembelajaran secara bertahap 80% anak sudah menguasai materi sepak sila akan tetapi sewaktu penilaian koordinasi gerakan secara utuh melalui penilaian gerakan timang-timang bola banyak anak yang kurang mengusai. Kita menyadari bahwa
keterampilan psikomotor harus dilakukan latihan yang berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi dengan dukungan peralatan yang memadahi, baru keterampilan sepak sila bisa dikuasai anak dengan baik. Dalam pembelajaran sepak sila kelas IV di SD Negeri Lesanpuro 2 kurang bisa berjalan dengan maksimal, terbukti dari hasil observasi dan olah
data penelitian ini menyatakan hasil belajar anak didik pada materi sepak sila dalam permainan sepak takraw nilai rata-rata kelas 63.3 (Lampiran 5), intensitas latihan masing-masing anak berbeda penyebaran penguasaan materi tidak merata sehingga peningkatan prestasi hasil belajar anak pada keterampiln sepak sila tidak nampak.
MODEL PEMBELAJARAN KUMON
OBSERVASI PADA SIKLUS I, HARI RABU, Tanggal 19 Desember 2012
N o Kegiatan Seque n Kualifikasi Keterang an 4 3 2 1
1 Menyajikan konsep gerakan sepak sila
1 v dilakukan
2 Memberi tugas latihan gerakan sepak sila
2 v dilakukan
3 Koreksi hasil latihan masing-masing anak
3 v dilakukan
4 Memberi latihansesuai hasil koreksi gerakan
4 v dilakukan
5 Remidial dan memberi penguatan gerakan sepak sila yang benar.
5 v dilakukan
Kriteria penilaian:
Nilai 4 jika kegiatan dilakukan utuh
Nilai 2 Jika dilakukan tapi banyak kesalahan
Nilai 1 jika tidak terlaksana
Total nilai =(Jumlah nilai: 4x5)x 100%=(18:20) x100%= 90%
3. Rekomendasi
Berdasarkan refleksi di atas, dapat dinyatakan hal-hal berikut.
a. Pembelajaran dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran kumon, dengan tahapan- tahapan pembelajaran, 1)Memberi sajian konsep gerakan sepak sila,2) Melatih setiap siswa untuk melakukan gerakan sepak sila, 3) Mengoreksi hasil latihan gerakan sepak sila, 4) Memberikan latihan lagi sesuai dengan hasil koreksi gerakan yang benar, 5) Memberikan penguatan tentang gerakan sepak sila yang benar. b. Hasil belajar keterampilan sepak sila dengan menerapkan metode drill terbukti
meningkat, dengan peningkatan dari refleksi awal hingga refleksi pada siklus II sebesar 7.7 ( siklus I 55.6, dan siklus II 63.3).
c. Berdasarkan hasil pada butir a dan b tersebut, dinyatakan bahwa pelaksanaan PTK ini tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya (PTK dinyatakan berakhir).
B. Pembahasan
1. Penerapan model pembelajaran kumon.
Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kumon dengan tahapan-tahapan: a) sajian konsep gerakan sepak sila, b) memberikan latihan gerakan sepak sila, c) mengoreksi hasil latihan gerakan seak sila, d) memberi
latihan lagi sesuai dengan hasil koreksi, dan e) memberi penguatan tentang gerakan sepak sila yang benar dan remedial bagi siswa yang belum mencapai nilai. Memiliki dampak positif dalam meningkatkan keterampilan sepak sila pada siswa. Hal itu, sesuai dengan yang dinyatakan dalam siklus II ini dapat dilihat dari peningkatan keterampilan siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, dan II) untuk ranah psikomotor yaitu sebesar 55,6 menjadi 63,3 sedangkan untuk ranah afektif yaitu 75,3 menjadi 78,3 Pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai sebesar 7,7 untuk psikomotor dan 3,0 afektifnya.
Hasil tersebut dapat dibenarkan, karena penggunaan model pembelajaran kumon memiliki kelebihan-kelebihan, diantaranya : a) Adanya penggabungan antar konsep yang satu dengan konsep yang lain atau keterampilan sepak sila dengan
keterampilan yang lain, b) Latihan pada materi ajar, sehingga berperan aktif dalam proses pembelajaran, c) Koreksi pada hasil dari latihan untuk memperkecil
kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik, d) Koreksi pada hasil dari latihan untuk memperkecil kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik, e) Adanya perbaikan dan penguatan pada materi bahan ajar, f) Adanya perbaikan dan penguatan pada materi bahan ajar, dan g) Adanya perbaikan dan penguatan pada materi bahan ajar.
2. Hasil belajar
a. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan metode drill dalam setiap siklus mengalami
peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
b. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajaran dengan penerapan pembelajaran model kumon paling dominan adalah belajar dengan dilakukan secara berulang-ulang akibatnya keterampilan siswa tentang sepak sila dalam permainan sepaak takraw semakin meningkat.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan