Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, kedua berita yang menyampaikan informasi mengenai pemberitaan cawapres di @detikcom setelah melihat dan menganalisis menggunakan analisis wacana kritis model Teun Van Dijk, peneliti meganalisis @detikcom berupaya untuk menyajikan berita yang netral, sama hal nya dengan penelitian terdahulu yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pada penelitian Siti Fitria Aprilliani (Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta) dengan judul Analisis Wacana Kritis
67 Pemberitaan Pada Surat Kabar Harian Kompas (Studi Deskriptif Kualitatif Pemberitaan Pencalonan Budi Gunawan sebagai Kepala Polisi Republik Indonesia Tanggal 07 – 16 Januari 2015). Dalam penelitian ini, peneliti tersebut menyimpulkan bahwa wacana yang muncul dalam SKH Kompas pada tanggal 7 – 16 Januari 2015 menunjukan bahwa pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri bernuansa nepotisme dan SKH berupaya menyajikan berita yang netral. Peneliti menilai kedua berita tersebut hanya berita informatif yang menyampaikan informasi kepada masyarakat, hal itu dikarenakan berita online bersifat pemberitaan informasi yang berkelanjutan dan bersifat cepat, artinya cepat disini seorang jurnalis berita online tidak akan menulis berita yang panjang dalam satu berita karena berita – berita lainya dapat diinformasikan kembali dalam waktu kapan saja. Wacana yang digunakan dalam kedua berita pun tidak terlalu berat untuk dipahami semua kalangan masyarakat, artinya isi berita tersebut mampu dipahami oleh masyarakat yang membacanya. Juwito (2008: 34 -37) menegaskan ciri – ciri berita yang mudah dipahami oleh masyarakat yaitu isi berita tersebut tidak bertele – tele, sederhana dan langsung kepada pokok pembahasan atau masalah, dan lebih dominan menggunakan kalimat aktif. Selain itu ada kalimat atau kata ganti yang begitu asing untuk masyarakat baca, hanya ada beberapa kata ganti yang gunakan namun kata ganti tersebut mudah dipahami oleh pembaca. Bedanya hanya terletak pada konten berita tersebut, dimana sebelumnya peneliti melakukan wawancara dengan pakar jurnalistik, ada dua karakteristik berita yang perlu dipahami yaitu menciptakan berita dan membuat berita.
“Jadi karakteristik dalam dunia berita atau wartawan itu ada dua mas, yang pertama yaitu menciptakan berita dan yang kedua itu membuat berita. Menciptakan itu artinya peristiwa yang tidak digambarkan secara langsung itu diciptakan sebagai berita, misalnya hari – hari ini hargai cabai sedang melambung tinggi dari peristiswa itu maka diciptakanlah berita mengenai tingginya harga cabai. Sedangkan membuat berita itu asrtinya peristiwa yang memang sudah ada kemudian wartawan tinggal membuat berita, misalnya ada kebakaran rumah warga atau kecelakaan dijalan raya, saat itu juga wartawan akan membuat berita tersebut. Jadi kalau dilihat dari isi berita dan fotonya ini berita Sandiga termasuk berita yang diciptakan karena memang tidak ada peristiwa khusus yang mengharuskan wartawan untuk membuat berita tersebut. Berita tersebut hanyalah jawaban dari isu – isu yang sedang berkembang didalam masyarakat yang kemudian dijadikan berita, oleh karena itu foto yang digunakan pun foto lama karena kalau dilihat dari fotonya sepertinya ada Sandiaga yang sedang diwawancari oleh wartawan dari media – media namun dalam isi berita tersebut nggak ada pernyataan langsung dari Sandiaga, yang ada hanyalah pernyataan langsung dari M taufik. Dalam foto kedua pun di
68 ilustrasikan Sandiaga sedang bersama dengan M Taufik yang diisukan akan menggantikan Sandiaga di wagub DKI, itupun juga foto lama karena kalaupun itu foto baru kenapa wartawan nggak menanyakan kemundurannya di wagub DKI secara langsung kepada Sandiaga. Berbeda dengan berita deklarasi Jokowi mengumumkan Ma’ruf Amin menjadi cawapresnya itu merupakan berita yang memang dibuat karena berdasarakan atas peristiwa yang ada dan terjadi saat itu juga, oleh karena itu foto yang digunakan pun merupakan foto Jokowi bersama dengan ketua umum partai koalisi pendukung Jokowi yang kemudian fakta – fakta tersebut dijelaskan ke dalam isi berita.”
Jika melihat dari pemberitaan Sandiaga Uno yang akan mundur dari jabatan cawagub DKI Jakarta, peneliti menganalisis berita tersebut merupakan karakteristik berita yang diciptakan, karena tidak ada sebuah kejadian yang berlangsung pada saat itu, sehingga hal tersebut menjadi berita. Berita tesebut selain merupakan kelanjutan dari berita – berita sebelumnya mengenai siapa cawapres dari Prabowo, berita tersebut merupakan hasil temuan jurnalis di lapangan yang kemudian dipublish oleh @detikcom. Berbeda dengan berita deklarasi Jokowi mengumumkan Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya, ada perbedaan dengan berita Sandiaga dimana berita Jokowi mengumumkan Ma’ruf Amin dibuat karena memang ada kejadian yang sedang berlangsung, kemudian berita tersebut dibuat oleh jurnalis sesuai fakta yang ia dapatkan di TKP.
Bila dilihat dari unsur sosial politiknya, bagaimana strategi pemilihan cawapres yang dilakukan oleh Prabowo maupun Jokowi, keduanya sama – sama tidak dapat memutuskan sendiri siapa tokoh nasional yang mereka anggap pantas untuk mendampingi mereka di Pemilu 2019. Hal ini disampaikan langsung oleh narasumber pakar politik yang peneliti wawancarai saat menjawab mengenai dipilihnya Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi.
“Karena pada dasarnya keputusan politik tidak semata – mata dari Jokowi saja, namun partai koalisi juga mempunyai peran atau andil dalam memutuskan calon wakil presiden sesuai dengan kepentingan kolektif, apalagi isu politik identitas mewarnai pilpres. Di awal sebelum adanya pilpres Jokowi kan dikaitkan erat dengan Ahok yang dipenjarakan oleh umat islam karena menista agama, hal yang ditakuti oleh Partai Koalisi takutnya suara masyarakat muslim berkurang untuk dukungan kepada Jokowi. Makanya partai islam seperti PPP dan PKB mendesak Jokowi untuk memilih tokoh umat islam Ma’ruf Amin yang dulunya dia salah satu orang yang mendorong agar Ahok juga dipenjara juga agar masyarakat khususnya NU dapat mengambil langkah untuk mendukung Jokowi. Sehingga keduanya kalau dilihat jadi pas, Jokowi sebagai tokoh nasional sedangkan Ma’ruf Amin sebagai tokoh agama tentunta hal ini bisa meredakan isu – isu SARA yang sedang berkembang di masyarakat“
69 Dibawah ini kutipan wawancara kepada pakar politik saat menjawab dipilihnya Sandiaga Uno sebagai cawapres dari Prabowo.
“Dipilihnya Sandiaga karena dia dinilai memiliki koneksi bisnis untuk modal kampanye, selain itu Sandiaga juga dinilai sebagai penggaet suara milenial dan ibu – ibu, melihat dari kondisi politik koalisi pendukung Prabowo, Sandiaga merupakan pilihan aman ditengah ketenggangan Partai Demokrat menginginkan anak SBY atau Agus Harimurti Yodoyono sebagai cawapres Prabowo, disisi lain PKS juga mempunyai calon lain yang beraasal dari internal partai mereka untuk mendampingi Prabowo, begitu juga dengan partai -partai lainnya yang berada di koalisi pendukung Prabowo”
Artinya ada pihak – pihak tertentu yang sama – sama memiliki andil atau peran dalam pemilihan cawapres untuk masing- masing koalisi. Prabowo memilih Sandiga dikarenakan kondisi politik yang terjadi dalam internal koalisinya dimana setiap partai pendukung Prabowo memiliki cawapres masing – masing dari setiap partainya. Untuk menyelesaikan masalah tersebut Prabowo mengambil jalan tengahnya dengan mengambil Sandiaga Uno yang satu partai Gerindra dengan Prabowo sebagai cawapresnya meskipun saat itu Sandiaga Uno sedang menjabat sebagai wagub DKI Jakarta. Sedangkan Jokowi memilih Ma’ruf Amin dikarenakan kuatnya isu politik identitas yang bekembang di masyarakat saat itu. Diberitakan oleh @detikcom beberapa jam sebelum Jokowi mengumumkan Ma’ruf Amin saat itu, bahwa sudah dipastikan Mahfud MD akan mendampingi Jokowi sebagai cawapresnya namun dengan pertimbangan politik identitas cawapres Jokowi diganti menjadi Ma’ruf Amin, karena Ma’ruf Amin selain sebagai tokoh besar NU (Nahdlatul Ulama) Ma’ruf juga dinilai sebagai sosok religius yang dapat mendampingi Jokowi sebagai sosok nasionalis yang mampu meredamkan isu – isu SARA khususnya isu agama yang sedang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini. Pertimbangan dipilihnya Ma’ruf Amin tidak lepas dari peran partai islam seperti PPP dan PKB, ada tuntutan yang mereka berikan agar isu agama tidak lagi menjadi masalah di Indonesia, dimana sebelumnya Jokowi merupakan orang yang dekat dengan Ahok yang pada tahun 2017 dipenjara karena diduga melakukan penistaan agama islam. Dipilihnya Ma’ruf Amin karena Ma’ruf Amin sendiri merupakan salah satu orang yang memasukan Ahok kedalam penjara sehingga diharapkan dengan dipilihnya Ma’ruf Amin sebagai cawapres dari Jokowi ini kesatuan antar umat beragama dapat terjalin dengan baik di Indonesia.
70 Melihat secara lebih dalam posisi @detikcom sebagai media berita online, yang merupakan bagian dari media Trans Corporation. Trans Corporation sendiri dimiliki oleh Chairul Tanjung, selain dikenal sebagai orang paling kaya di Indonesia, Chairul Tanjung juga pernah menjabat beberapa Menteri di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diantaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dengan masa jabatan 19 Mei 2014 – 20 Oktober 2014, Pelaksana Tugas Menteri Kehutanan Indonesia dengan masa jabatan 1 Oktober 2014 – 20 Oktober 2014, dan Pelaksana Tugas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dengan masa jabatan 11 September 2014 – 20 Oktober 2014. Chairul Tanjung sendiri pernah diberitakan mengenai kedekatannya dengan Jokowi khususnya Partai Koalisi Pendukung Jokowi, dimana pada pertengahan tahun 2018 Chairul Tanjung diberitakan menjadi orang yang akan mendampingi Jokowi di pilpres 2019, selain untuk itu beberapa media berita online seperti Tirto.id, Liputan6, Kumparan, Media Indonesia memberitakan bahwa Chairul Tanjung dipilih Jokowi untuk menjadi tim ekonominya Jokowi. Melihat kedekatan dan hubungan yang terjalin antara Chairul Tanjung dengan Jokowi dapat dianalisa bahwa Chairul Tanjung yang tidak lain juga pemilik @detikcom lebih cenderung berpihak kepada Jokowi dibandingkan Prabowo. Hanya saja berita maupun informasi yang disampaikan melalui Trans Media ataupun dalam hal ini @detikcom cenderung tidak terlalu menunjukan sikap keberpihakannya terhadap Jokowi. Masalah ini sama seperti yang disampaikan oleh narasumber pakar jurnalistik yang peneliti wawancarai saat ditanyai mengenai kenetralan @detikcom.
“Kalau untuk saat ini secara umum saya belum bisa menjelaskan, karena kalau dilihat jaman sekarang ini banyak media yang nggak netral mas cuman bedanya ada yang kelihatan ada yang enggak. Ada yang secara terang – terangan dia mendukung salah satu pasangan calon namun ada juga yang kelihatan aman – aman saja namun sebenarnya dia mendukung salah satu pasangan calon, ya itu semua tergantung dari bagaimana masyarakat melihat hal itu mas. Kalau dilihat dari kedua berita itu saya katakana netral mas karena berita itu hanya informatif saja, dan berita kedua berita itu tidak ada unsur konflik nya karena kalau ada unsur konfliknya akan sedikit terang mana yang lebih di unggulkan dari salah satu berita itu menurut @detkcom. Tapi dua berita itu hanya informatif kok mas, hanya kelanjutan informasi, atau hanya berita garis besar saja.”
Dapat disadari bersama bahwa memang saat ini tidak ada media yang netral dalam pemberitaan sosial politik hanya saja perbedaannya terdapat pada bagaimana informasi tersebut dikemas agar tetap terlihat netral. Politik di Indonesia tidak akan pernah jauh dari media, politik membutuhkan media untuk menyampaikan informasi mengenai hal – hal yang dilakukan oleh
71 elite politik agar elite politik tersebut dapat dikenal oleh masyarakat. Misalnya saja dalam masa pemilihan umum presiden, seorang calon presiden tidak mempunyai anggaran maupun waktu untuk berkampanye ke seluruh pelosok Indonesia, melalui media hal - hal tersebut dapat tersampaikan kepada masyarakat dengan lebih efektif. Pakar jurnalis yang peneliti wawancarai sendiri menegaskan, elite ataupun tokoh politik yang mempunyai hubungan baik dengan jurnalis ataupun wartawan dapat dengan mudah mendapatkan empati dari masyarakat.