Refleksi Kritis atas Metode Autoetnografi

Dalam dokumen CIlik cilik Cina, suk gedhe arep dadi apa sebuah studi Autoetnografi mengenai pengalaman rasisme (Halaman 151-163)

Refleksi Kritis atas Metode Autoetnografi

―Cilik-cilik Cina, suk gedhe arep dadi apa?‖ dengan kalimat itu saya sebagai seorang anak kecil kala itu, dilempar kedalam sebuah kenyataan yang menyatakan bahwa saya berbeda dari orang-orang di sekitar saya. Kenyataan bahwa dunia yang saya tinggali ini adalah dunia yang rasis. Suatu keadaan yang tidak bisa dihindari oleh saya sebagai objek yang dikenai, ataupun oleh orang- orang mayoritas di sekitar saya. Kita sama-sama berada dalam pusaran wacana yang sama. Wacana yang menyatakan bahwa orang Cina itu berbeda dari orang- orang pribumi, orang Cina itu kaya dan mengambil hak orang-orang pribumi sebagai pemilik rumah, orang Cina yang sipir dan pelit. Orang-orang yang sudah dilayaknya untuk diperas, dihindari, diperkosa, dan disingkirkan dari pandangan. Saya terlahir dan berusaha untuk bertahan hidup dalam situasi saya diliyankan dengan berbagai stereotipe itu dalam kehidupan sehari-hari selama ini. Kondisi yang pada awalnya membuat saya menolak kecinaan saya mati- matian karena itu saya identifikasikan dengan stereotipe yang buruk, kesempatan yang terbatas, atau karena saya hanya sekadar berbeda dari kebanyakan orang di sekitar saya.

Penelitian skripsi yang saya lakukan pada awalnya, ternyata tidak memberikan saya ruang yang cukup untuk memahami bahwa apa yang saya

141 alami adalah akibat dari konstruksi yang lebih besar yang melingkupi kita semua. Saya tidak memiliki kesempatan untuk merefleksikan apa yang saya alami, sehingga malahan ada kecenderungan diri saya untuk meliyankan kelompok saya sendiri. Saya pernah berpikiran bahwa orang-orang Cina ini layak untuk didiskriminasikan karena eksklusifitas ―mereka‖ sendiri, karena orang-orang Cina juga memandang rendah orang-orang pribumi di sekitar mereka. Ternyata keadaannya tidak sesederhana itu.

Ketidaksederhanaan dalam berbagai wacana, pengalaman, perasaan, dan pemahaman yang berjalinkelindan ini sekarang bisa mendapatkan ruangnya dengan metode penelitian autoetnografi ini. Di sini saya mencoba untuk menggambarkan bagaimana pengalaman saya sebagai orang keturunan Cina yang sudah terlingkupi berbagai wacana dan bersentuhan dengan berbagai macam orang ini saya maknai dan saya refleksikan.

Dalam metode autoetnografi ini, saya sebagai peneliti, tidak berada dalam posisi orang ketiga yang serba tahu dalam mengisahkan temuan-temuan saya. Di sini saya berada dalam sudut pandang orang pertama yang sama tidak tahunya dengan pembaca mengenai apa yang terjadi selama kisah ini berlangsung. Saya sama bertanya-tanyanya, atau bahkan malah saya yang paling banyak bertanya dan mengajak para pembaca sekalian untuk bertanya bersama saya. Metode penulisan ini juga memungkinkan dan memberikan ruang yang sangat luas dalam

142 mengisahkan bagaimana suatu penelitian akademis memengaruhi peneliti sebagai pribadi, sesuatu yang dihindari dalam penelitian yang lebih tradisional karena dianggap menghilangkan objektifitas.

Menggambarkan bagaimana kompleksitas posisi saya ini juga bukanlah sesuatu yang sekali jadi. Membutuhkan beberapa kali percobaan agar tulisan saya ini bisa bertutur dan menggambarkan kompleksitas pengalaman dan wacana yang melingkupi ini dengan jujur dan lengkap, serta agar kisah ini tidak hanya menjadi kisah narsis tentang diri sendiri tanpa ada kontribusi akademis di dalamnya sebagaimana tujuan dari tulisan ini ada.

Pada awalnya saya menuliskan kisah hidup saya secara kronologis dari masa kecil sampai saat ini begitu saja. Bercerita secara spontan mengenai pengalaman yang saya rasakan sebagai orang keturunan Cina. Ternyata saya diharapkan bisa memasukkan analisa di dalam kisah tersebut, sehingga analisa menyatu di dalam narasi. Saya kemudian mencoba membaginya secara tematis dan berbicara langsung kepada pembaca yang juga saya rasa masih belum sesuai. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan model surat menyurat.

Surat-surat yang tidak benar-benar saya kirimkan, tetapi kawan saya itu adalah salah satu bagian yang nyata dari surat tersebut. Teman yang merupakan seorang Jawa sehingga akan berdiri di sisi yang berbeda dengan posisi saya. Teman yang kebetulan juga sedang menempuh pendidikan tinggi sehingga

143 berbicara teori dengannya bukanlah sesuatu yang aneh. Dengan surat dan memiliki lawan bicara membuat saya lebih mudah untuk melakukan dialog dengan diri saya sendiri dan membangun plot yang saya harapkan bisa menghidupkan kisah ini dan membantu saya memaknai rasisme yang saya alami.

Pemahaman yang kemudian saya dapatkan dengan menuturkan berulang kali apa yang pernah saya alami dan membacanya dengan kacamata teoretis. Dalam penelitian ini, Frantz Fanon membantu saya untuk memberi jarak dari pengalaman saya sendiri. Pengalaman dan kisah rasisme yang dituturkannya menjadi perbandingan akan pengalaman saya sendiri dan membantu saya memahami apa yang saya alami. Bagaimana sejarah Indonesia, wacana kolonial, relasi kekuasaan, perebutan sumber daya ekonomi, bisa berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari saya saat ini. Keadaan yang pada akhirnya membentuk diri saya, menentukan selera pasangan saya, membentuk tabiat saya, dan memengaruhi pilhan-pilihan hidup saya yang lain, hal-hal yang pada awalnya terjadi begitu saja dan saya sadari seiring dengan berjalannya penelitian ini.

Proses menulis kisah yang sama berulang kali, menyusunnya kembali, memahaminya dengan berbagai kacamata baru seiring dengan pembacaan teori dan diskusi-diskusi yang saya lakukan ini rupanya menjadi suatu proses terapi bagi diri saya sendiri, Kisah yang pada awalnya membuat saya marah, sedih, dan bahkan putus asa dengan apa yang terjadi, perlahan mulai saya pahami. Sesuatu

144 yang pada mulanya sangat sakit untuk diucapkan, seiring waktu menjadi lebih bisa saya terima dan pahami.

Di tengah berbagai perdebatan yang melingkupi metode penelitian ini, saya berterima kasih untuk kesempatan yang sudah diberikan oleh Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya sehingga saya bisa menggunakan metode autoetnografi sampai sejauh ini. Suatu proses penelitian yang di satu sisi terlihat mudah karena saya tidak perlu banyak terjun ke lapangan untuk mencari data. Di sisi lain, saya malahan tidak dapat pulang dari lapangan yang ada di dalam kepala saya sendiri. Setiap pengalaman seperti hanya bercakap-cakap dengan teman, bisa saja menjadi data penelitian penting yang membawa saya pada pemahaman baru akan kecinaan yang saya alami.

Suatu proses penelitian yang tidak mudah walaupun saya menikmati setiap bagiannya. Tidak mudah bagi saya untuk memaparkan banyak detail kecil dalam kehidupan saya dan keluarga saya. Tidak mudah ketika harus menuliskan bahwa saya merasa berada di level yang lebih tinggi dari orang-orang di sekitar saya, seperti ketika saya merasa terhina dipanggil dengan Mbak oleh sesama orang keturunan Cina. Di satu sisi ada ketakutan bagaimana tanggapan pembaca saat membaca bagian tersebut, di sisi lain saya merasa mengingkari identitas diri saya sendiri sebagai seorang yang anti diskriminasi. Ternyata, saya juga sudah rasis sejak dalam pikiran.

145 Saya menyadari bahwa dengan mengangkat tema ini juga membawa saya memasuki wacana mengenai kecinaan yang sudah banyak beredar saat ini, baik dalam masyarakat umum, maupun dalam dunia akademis pada khususnya. Wacana yang yang banyak saya temukan berbicara mengenai identitas kecinaan dan keindonesiaan yang masih dipertentangkan atau dicarikan ruang ketiganya ketika menjadi keduanya tidak dimungkinkan. Tulisan ini mencoba memberikan suara yang berbeda mengenai bagaimana menjadi orang kturunan Cina itu dimaknai dan dirasakan. Bagaimana pencarian identitas itu membuat saya menyadari bahwa saya tidak bisa benar-benar menjadi ini atau itu, saya tidak bisa hanya menjadi Indonesia, menjadi Cina, menjadi Jawa, atau menjadi Katolik. Semua identitas itu berkontestasi dalam diri saya dan memunculkan diri pada saat di mana dirinya menjadi relevan dan dibutuhkan. Saya, sebagai individu, sudah menjadi hibrid dengan begitu saja, tetapi terkadang dunia yang mengkotakkan saya berdasarkan penampilan fisik saya.

Suatu proses yang saya rasakan membuat saya terus terbentur-bentur, namun dari situ saya jadi memahami bahwa apa yang ada dalam diri saya ini, bukanlah hal yang sudah sewajarnya atau selayaknya terjadi. Saya berbicara dengan banyak orang mengenai kecinaan saya selama penelitian ini berlangsung, dan saya juga menjadi disadarkan, bahwa apa yang saya rasakan biasa saja ternyata adalah hal

146 yang menakutkan. Saya memahami bahwa menerima diperlakukan tidak layak

itu adalah sesuatu yang ―sakit‖.

Rasisme yang ternyata bekerja dengan merasuk ke dalam pikiran kita dan membuat kita sebagai subjek tidak menyadari bahwa apa yang terjadi pada diri kita itu adalah suatu ketidakadilan dan diskriminasi. Sesuatu yang juga tidak disadari oleh para pelaku yang menyebut kami ini Cina karena mereka sama- sama berada dalam wacana yang sama yang menganggap bahwa apa yang mereka lakukan dan katakan itu adalah keadaan yang sebenarnya dan sudah selayaknya dilakukan dengan cara demikian. Belum lagi ketika ada legitimasi dari kekuasaan yang lebih besar seperti negara. Di sisi lain, kelumrahan yang terjadi ini membuat pihak yang menjadi korban juga tidak bisa melakukan perlawanan, Jika hal itu lumrah, kenapa harus dilawan, jangan-jangan kami yang terlalu sensitif atau tidak bisa diajak bercanda. Pemikiran itu sempat ada dalam pikiran saya, jangan-jangan diskriminasi ini hanya ada dalam perasaan saya saja, dan saya tidak perlu melawannya. Proses penulisan ini membantu saya untuk bisa menyatakan yang sebaliknya. Sehalus apapun diskriminasi itu terjadi, selumrah apapun itu terjadi dalam kehidupan sehari-hari, apa yang terjadi tetaplah suatu ketidakadilan.

Seperti ketika saya bercerita bagaimana saya belajar berbicara bahasa Jawa, atau ketika saya memutuskan untuk membuang panggilan Kokoh kepada Daniel.

147 Bapak St. Sunardi dalam suatu sesi konsultasi, mengomentarinya sebagai suatu hal yang ternyata begitu besar, katanya, saya membuang kebiasaan baik dalam

keluarga, saya ―mengorbankan‖ keluarga saya. Saya tidak menyadari hal itu. Sama seperti teman-teman saya yang dengan biasa saja berbicara mengenai kecinaan. Bukan saya yang terlalu sensitif ketika tersinggung dengan semua kata Cina yang diungkapkan kepada saya sehingga saya merasa marah dan terhina. Bukan salah mereka juga yang merasa biasa saja membahas hal terebut. Kami hanya berada dalam dua sisi wacana yang berbeda. Mereka tumbuh dengan berlajar Cina adalah Liyan dengan berbagai stereotipe yang mengikutinya, sedangkan saya tumbuh dan belajar bahwa saya adalah Liyannya dengan stereotipe yang sama. Stereotipe tandingan yang berasal dari kelompok Cina sendiri, tidak bisa berpengaruh banyak karena relasi kuasa mayoritas-minoritas.

Ke depannya, saya ingin mencoba menggali dari sisi yang lain, dari sisi masyarakat mayoritas. Bagaimana pandangan mereka mengenai orang keturunan Cina di sekitar mereka. Ketidaksadaran apa yang ada di dalam pikiran banyak orang mengenai orang keturunan Cina. Suatu penggalian yang saya rencanakan menggunakan metode representasi sosial. Saya berharap, jika apa yang tidak disadari mengenai kelompok minoritas ini bisa dimunculkan, maka pandangan itu seiring dengan waktu akan bisa diubah menjadi sesuatu yang tidak menimbulkan perpecahan dan penyerangan. Itu yang saya harapkan.

148 Pada akhirnya, saya merasa tidak lagi bisa mendefiniskan diri saya sebagai Cina, selain dari tubuh saya, tetapi saya juga tidak bisa mendefinisikan diri saya sebagai yang lain. Saya hanya ingin berkata, bahwa, marginalisasi, penyingkiran, baik itu berdasarkan ras, agama, kelas, atau kategori sosial apapun, itu sakit, tetapi entah bagaimana, sulit untuk dihindari.

Mengutip Frantz Fanon dalam akhir bukunya, ―O my body, always make me

149

Daftar Pustaka

Adams, Tony E., Stacy Holman Jones and Carolyn Ellis (2015). Autoethography Understanding Qualitative Research. New York, Oxford University Press. Anderson, Leon (2006). "Analytic Autoethnography." Jounal of Contemporary

Ethnography Volume 35 Number 4: 373-395.

Ang, Ien (2001). On Not Speaking Chinese, Living between Asia and the West. New York, Routledge.

Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths and Helen Tiffin (1998). Key Concepts in Post- Colonial Studies. London, Routledge.

Bhabha, Homi K. (1986). Foreword To the 1986 Edition, Remembering Fanon: Self, Psyche and the Colonial Condition. Black Skin White Mask. London, Pluto Press: xxi-xxxvi.

Chang, Heewon (2008). Autoethnograpy as Method. California, Left Coast Press, Inc.

Daradjadi (2013). Geger Pacinan 1740-1743, Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC. Jakarta, Penerbit Buku Kompas.

Darmawan, Darwin (2014). Identitas Hibrid Orang Cina. Yogyakarta, Gading Publishing.

Delamont, Sara (2007). Arguments againts Auto-Ethnography. Quality: 2-4. Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln (2009). Handbook of Qualitative

Research Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Ellis, Carolyn (2004). The Ethnographic I A Methodological Novel About Autoethnography. United States of America, AltaMira Press.

150 Ellis, Carolyn and Arthur P. Bochner (2000). Autoethnography, Personal Narrative, Reflexivity. Handbook of Qualitative Research 2nd Edition. N. K. Denzin and Y. S. Lincoln. California, Sage Publication.

Fanon, Frantz (1952). Black Skin White Masks. New York, Grove Press.

Fanon, Frantz (2016). White Skin, Black Masks Kolonialisme, Rasisme, dan Psikologi Kulit Hitam. Yogyakarta, Jalasutra.

Furnivall, J. S. (2009). Hindia Belanda Studi tentang Ekonomi Majemuk. Jakarta, Freedom Institute.

Gordon, Lewis R. (2015). What Fanon Said. New York, Fordham University Press.

Gungwu, Wang (2000). Orang Etnis Cina Mencari Sejarah. Harga yang Harus Dibayar, Sketsa Pergulatan Etnis Cina di Indonesia I. Wibowo. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

Hayano, David (1979). "Auto-Ethnography: Paradigms, Problems, and Prospects." Human Organization Vol. 38, no. 1: 99-104.

Hemmingson, Michael (2008). Zona Norte: The Post-Structural Body of Erotic Dancers and Sex Workers in Tijuana, San Diego and Los Angeles: an Auto/ethnography of Desire and Addiction. Cambridge, Cambridge Scholar Publishing.

Hoon, Chang-Yau (2012). Identitas Tionghoa Pasca-Suharto; Budaya, Politik, dan Media. Jakarta, Yayasan Nabil dan LP3ES.

Hui, Audrey Yu Jia (2014). Mellow Yellow Drama. Yogyakarta, Bentang Pustaka. Johnson, Amber L. (2014). Negotiating More, (Mis) labeling the Body: A tale of

Intersectionality. Critical Autoethnography. California, Left Coast Press, Inc: 81-95.

Kwartanada, Didi (2013). Bukan Incorrigible Opportunists, Melainkan Kawan Seperjuangan! Mengambil Hikmah dari Aliansi Tionghoa-Jawa Vs Kompeni (1741-1743). Geger Pacinan. Jakarta, Penerbit Buku Kompas.

151 Kwartanada, Didi (2015). Perang Jawa (1825-1830) dan Implikasinya pada Hubungan Tionghoa-Jawa Orang Cina, Bandar Tol. Candu, & Perang Jawa, Perubahan Persepsi Tentang Cina 1755-1825. Jakarta, Komunitas Bambu. Lincoln, Yvonna S. and Norman K. Denzin (2003). Turning points in qualitative

research: tying knots in hankerchief. Walnut Creek, CA, Alta Mira Press. Lombard, Denys (1996b). Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia. Jakarta, PT.

Gramedia Pustaka Utama.

Loomba, Ania (2003). Kolonialisme/Pascakolonialisme. Yogyakarta, Bentang Pustaka.

Lykke, Nina (2010). Feminist Studies A Guide to Intersectional Theory, Methodology and Writing. New York, Routledge.

Marzali, Amri (2007). Apakah Etnografi? (kata pengantar). Metode Etnografi. Yogyakarta, Tiara Wacana.

Onghokham (2005). Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa. Jakarta, Komunitas Bambu.

Onghokham (2008). Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina. Sejarah Etnis Cina di Indonesia. Jakarta, Komunitas Bambu.

Pattiradjawane, Rene L. (2000). Peristiwa Mei 1998 di Jakarta: Titik terendah Sejarah orang Etnis Cina di Indonesia. Harga yang Harus Dibayar, Sketsa Pergulatan Etnis Cina di Indonesia. I. Wibowo. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama: 213-252.

Prakasa, Ernest (2015). Ngenest, Starvision.

Purdey, Jemma (2006). Anti-Chinese Violence in Indonesia, 1996-1998. Singapore, Singapore University Press.

Satria, Jeffrey, Ade Sulaeman, Feny Christine, Novani Nugrahani and Eka An Aqimuddin (2012). Mencari Jati Diri Peranakan Tionghoa. Intisari. Jakarta, Kompas Gramedia No.589 162-175.

152 Saukko, Paula (2003). Doing Research in Cultural Studies, An Introduction to

Classical and New Methodological Approach. London, Sage Publication. Saukko, Paula (2008). The Anorexic Self, A Personal, Political Analysis of

Diagnostic Discourse. Albany, State University of New York Press.

Somekh, Bridget, Erica Burman, Sara Delamont, Julienne Meyer, Malcolm Payne and Richard Thorpe (2005). Research Communities in the Social Sciences. Research Method in the Social Sciences. B. Somekh and C. Lewin. London, Sage Publication Ltd.

Vidich, Arthur J. and Stanford M. Lyman (2009). Metode Kualitatif, Sejarahnya dalam Sosiologi dan Antropologi. Handbook of Qualitative Research. N. K. Denzin and Y. S. Lincoln. Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Wall, Sarah (2008). "Easier Said than Done: Writing an Autoethnography." International Journal of Qualitative Methods: 38-53.

Wetson, Kath (2010). Me, Myself, and I. Theorizing Intersectionality and Sexuality. Y. Taylor, S. Hines and M. E. Casey. Hampshire, England, Palgrave Macmillan.

Wibowo, I. and Thung Ju Lan (ed.) (2010). Setelah Air Mata Kering, Masyarakat Tionghoa Pasca Peristiwa Mei 1998. Jakarta, Penerbit Buku Kompas.

Dalam dokumen CIlik cilik Cina, suk gedhe arep dadi apa sebuah studi Autoetnografi mengenai pengalaman rasisme (Halaman 151-163)