• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: METODE PENELITIAN

B. Refleksi Pemahaman Jihad Pelaku Teror

Data dalam penelitian ini didapatkan melalui wawancara tidak terstruktur (unstructured in-depth interview) kepada empat orang informan; AI, JL, UP, dan YS. Interview dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan di mana masing-masing informan berada (bagi yang masih dibina) dan ditempat informan bekerja (bagi yang telah bebas). Data rekaman yang didapatkan dari proses wawancara ini kemudian diubah menjadi bentuk verbatim melalui proses transkripsi dan data verbatim ini kemudian di-coding-kan dan dieksplorasi dengan menggunakan software ATLAS.ti versi 8.

Dalam proses analisis dengan software ATLAS.ti ini, peneliti menetapkan tipe coding Conventional Content Analysis sebagai tipe coding (model interaksi peneliti dan data untuk interpretasi) dengan melakukan pengcodingan pada data AI sebagai initial coding untuk didapatkan gambaran code yang dapat diaplikasikan. Initial Coding dilakukan secara induktif sehingga code-code yang didapatkan dari proses analisis awal terhadap AI benar-benar code-code yang emerge dari data mentah. Setelah code dari AI didapatkan, selanjutnya dilakukan pengcodingan pada data-data yang lain, dan dilakukan kategorisasi code berdasarkan kategori-kategori yang didapatkan dari AI. Apabila ditemukan kategori baru yang ditemukan pada data selain kategori yang didapatkan dari analisis data AI maka kategori baru tersebut dimasukkan dalam pola akhir, sehingga pada akhir analisis selain didapatkan deskripsi dari masing-masing data akan didapatkan pula pola akhir yang bersifat holistik yang diekstraksi dari keseluruhan data dari semua informan. Model analisis ini sesuai dengan model analisis Fenomenologi dengan model Stevick-Colaizzi-Keen di mana prosedur yang disarankan adalah sebagai berikut:

61

Gambar 1. Analisis Fenomenologi Stevick-Colaizzi-Keen

1. Informan Pertama – AI a. I’dad

AI menjalani I’dad atau persiapan perang di Afghanistan. Disana, AI berlatih militer dan berperang melawan Amerika. Identitas kelompok pada diri AI semakin kuat saat menjalani i’dad ini.

“Ketika jihad Afghanistan itu mengumpulkan para jihadis dari berbagai negara yah. Dari Indonesia kami ingin melawan Suharto.

Ketemu di Afghanistan. Dari Irak, ikhwan-ikhwan ingin melawan Sadam, ketemu di Afghanistan. Dari Suriah, ikhwan-ikhwan ingin melawan Hafid Hasad, bapaknya si Bashir Alsad ini, ketemu disana.

Dari Libya yang melawan Muammar Khadafi, ketemu. Dari Mesir yang melawan Husni Mubarok, ketemu disana. Dari Saudi yang melawan kerajaan Saudi yang pro Amerika, ketemu disana” (D1-AI-38: 120858-121346)

Menurut AI, tingkat literasi (D1-AI-142:128708-129433) dan kemampuan ikhwan-ikhwan dalam menyerap ilmu di akademi militer Afghanistan cukup bervariatif (D1-AI-38; 21:7141-7690) dan tingkat literasi berbeda-beda. Namun, berkat pendidikan militer yang diperoleh di Afghanistan, AI dapat menjadi instruktur pelatihan konflik Ambon (D1-AI-61:26576-27299). Identitas sebagai seorang mujahid menjadi semakin kuat (Mujahid, Yuniarti, 2018) karena AI merasa bahwa dirinya bisa menolong agama Allah dan bermanfaat untuk ikhwan-ikhwan di Ambon.

Dalam sesi pengambilan data pada AI, AI menceritakan kronologi aksi bom bali dan perannya dalam aksi pengeboman tersebut (D1-AI-64:28517-31193; 127:121349-121800; 67:31803-32432; 96:54560-55239;

65:31315-62

31461; D1-AI-44:19619-19915; D1-AI-53:23159-23361; D1-AI-48-20890-20929; D1-AI-39:17812-18291;60:25930-26448; D1-103:73414-74705). Menurut AI, Bom Bali terjadi atas perintah Osama bin Laden kepada temannya, yaitu Hambali, “Langsung kata hambali, menurut…

menurut ijtihadnya Syeikh Osama bahwa diperbolehkan menyerang dan itu hukum urusan kam… kami” (D1-AI-74:33639-33780; 75:33826-34024)

“secara kuantitas belum memenuhi jika harus konfrontasi dengan pemerintah Indonesia. Sehingga memilih jalan teror untuk menunjukkan eksistensi” (D1-AI-149).

Aksi teror di Indonesia, terutama di Bali juga terjadi karena desakan senior-seniornya (JI lulusan akademi militer di Afghanistan) yang terlalu menggebu-gebu untuk berjihad di Indonesia “Nah, kami selalu mendengar bahwa senior-senior kami yang sudah lulus dari Afghanistan yang pulang terutama ke Indonesia selalu menuntut jamaah ini, kapan kita mulai jihad?” (D1-AI-22).

Penyebab lain dari ledakan Bom Bali 1 adalah adanya barisan sakit hati kepada pemerintah (D1-AI-175-188590:189534) dan ini dibenarkan oleh YS (D4-YS-29:49505-50243). Hal itu dibenarkan oleh informan keempat, yaitu YS. Pemerintah Indonesia di zaman orde baru dianggap telah melakukan diskriminasi kepada para ulama yang berbeda dengan pemahaman penguasa (D4-YS-26:46742-46875).

Dari awal AI tidak setuju atas aksi pengeboman di Bali (D1-AI-1:408:784)

“Ketika pamitan pulang inilah saya sampaikan ke Amrozi. Zi, tolong disampaikan ke Mukhlas, menurut saya ayo dibatalkan.…..

Kalau jadi nanti tambah nggak karu-karuan. (tapi) Amrozi, Amrozi lapor ke Mukhlas, apa jawabannya, “ah… nggak ada urusannya, terus aja! (tidak digubris).” (D1-AI-98:60294-60819)

Hal yang ditekankan AI terkait aksi Bom Bali bahwa yang melakukan aksi tersebut bukanlah dari organisasi JI secara resmi, melainkan oknum JI (D1-AI-162:141822-142198; 163:142326-142916; 168:147244-148297).

Mereka ter-brain wash oleh amir, misalnya dengan doktrin bahwa amalan

63

yang dapat menghapuskan dosa besar tidak lain hanya dengan jihad (D1-AI-98:70871-72319). AI merasa bahwa kenakalannya ketika masih remaja dapat terhapuskan dengan jihad (Milla, 2009). Dia menebusnya dengan taat dan patuh pada perintah jamaah agar bisa menebus kesalahan di masa lalu.

b. Pemahaman Keislaman dan Tingkat Literasi AI

AI merupakan asatidz di pondok pesantren milik keluarganya di Lamongan(Milla, 2009). Dia terinspirasi ingin menjadi ustadz yang hebat seperti kakaknya, yaitu Ali Ghufron (Mujahid & Yuniarti, 2018). Namun, berdasarkan hasil wawancara, tingkat literasi AI masih dibawah YS (informan keempat dalam penelitian ini) (D1-AI-141:128112-128660).

Tafsir yang biasa digunakan AI dan YS adalah tafsir dari Ibnu Katsir (D1-AI-138:126964-127151; D4-YS-52: 73456-74127).

Ketika diajukan pertanyaan lebih lanjut terkait dengan ayat yang dijadikan sebagai motivasi dalam berjihad, AI menyebutkan surat di At Taubah. Namun, tafsir dalam at-Taubah ini menurutnya hanya dapat diberlakukan di medan tempur, bukan untuk membuat teror di negara damai. Selain itu, AI beranggapan bahwa seorang muslim harus bijak dalam menggunakan ayat, terutama ayat jihad dengan melihat asbabul nuzulnya (D1-AI-132:124685-125833).

c. Evaluasi Aksi Teror

AI merasa bahwa aksi teror di Bali tidak sesuai dengan syari’at dan hanya berdasarkan pada hawa nafsu (D1-A1-84:42141-42271; 85:

42288:42762) terutama hawa nafsu IS, coordinator lapangan dalam Bom Bali 1 (D1-A1-92:49114-49303; 93:51212-51995; 94:53550-53866;

87:44805-45080). Menurutnya, jihad tidak boleh hanya berdasarkan pada hawa nafsu sesaat (D1-AI-124:118331-119253). Bom Bali ini disusun bukan dengan perencanaan matang d1-AI-112:91828-92530) dan hanya berdasarkan pada emosi sesaat (D1-AI-123:117651-118329.

AI merasa bahwa jihad di Indonesia cenderung memaksakan diri (D1-AI-78:36450-36655). Lebih lanjut AI menyampaikan bahwa jihad yang

64

dilakukan bersama teman-temannya ini bukan karena Allah (D1-AI-123:117651-118329), “Kan saya itu berprinsip seperti ini yah, ketika kami ditangkap berarti kekalahan. Ketika kekalahan pasti jihad itu ada kesalahan, itu prinsip saya” (D1-A1-116:106061-106502). Dia merasa kelu dan aneh pasca pengeboman, “Saya nggak bisa, saya waktu itu simpulkan apakah karena keraguan saya? Sehingga menjadikan kelu.

Waduh, makan saja nggak bisa gitu. Bukan berarti grogi” (D1-AI-107:87985-88422). Aksi pengeboman tersebut bertentangan dengan hati nuraninya.

Sedari awal, AI memang telah menentang aksi pengeboman di Indonesia (D1-AI-89:46169-46554; 88:44969:45079; 97:59673-59940), terutama di tempat-tempat ibadah seperti di gereja, “Fiqih jihad terutama adab jihad kan kita nggak boleh menyerang tempat ibadah. Kenapa kita merencanakan pengeboman di gereja, di malam natal dibeberapa kota di Indonesia” (D1-AI-71:33108-33275).

Keraguan AI pada aksi yang telah dilakukannya tersebut semakin menjadi ketika dia melihat banyak teman-temannya yang ikut menjadi korban penangkapan densus 88 padahal mereka tidak terlibat secara teknis (hanya menjadi tempat tumpangan menginap saat pelarian(D1-AI-85:

42288-42762)-karena dana terbatas(D1-AI-112:91828-92530)).

Saat dalam pelarian, AI juga memikirkan keluarga yang dia tinggalkan di rumah:

“Bapak sakit dan hanya ibu yang mengurusi. Tidak bisa membantu mengurusi bapak, malah sibuk ngebom, “Bapak kamu, bapak kalian sakit nggak diurusi. Ibu kalian suruh ngurusi sendiri kalian malah tinggal ngebom disana” (D1-A1-119: 114298-114651;

118:114830-115052)

Evaluasi juga terus dilakukan AI, salah satunya dengan melakukan kontak dengan outgroup. Kontak dengan outgroup yaitu polisi dapat membantu upaya rehabilitasi pelaku teror (Mujahid & Yuniarti, 2018). AI

65

mencontohkan salah satu kasus unik yang mengguncang pikiran takfiri dan pada akhirnya mengevaluasi aksi jihad yang selama ini dilakukannya,

“Bahkan ada Densus 88 itu, yang meninggal itu dzikir waktu setelah salat maghrib di Masjidil Haram. Kan, berarti itu menandakan khusnul…Khusnul khatimah. Bagaimana kita mengkafirkan mere… mereka?” (D1-AI-158:139654-139902)

Kontak dengan outgroup / tokoh dari kelompok lain juga terlihat salah satunya ketika dia mengutip pendapat ulama dari kalangan outgroup yaitu Syaik Ali Jaber (tidak mengkafirkan ulama di luar kelompok jihad) (D1-AI-157:138743:139053). Kontak dengan outgroup dan melihat tokoh ulama dari kelompok lain memang terbukti dalam penurunan menurunkan paham teror _______.

d. Pandangan Jihad AI setelah Refleksi Kasus Bom Bali 1

Informan berpegang dengan pemahamannya atas al-Quran terkait cara berjihad. Baginya, jihad hanya dapat dilakukan di medan perang (D1-AI-77L35969-37154). Namun, implementasi ayat jihad hanya diberlakukan di front jihad / negara konflik, tidak dapat diberlakukan di negara damai 131:123941-124982) dan tidak layak dilakukan saat ini (D1-AI-151:133719-134139). Lebih lanjut AI menjelaskan bahwa jihad tetap harus mempertimbangkan adab dan tidak boleh serampangan (D1-AI-81:38591-39001).

Jika terbuka medan jihad di Indonesia, AI ingin lebih hati-hati dan tidak gegabah seperti dulu, seperti dengan menginduk pendapat ke ulama, “Jadi istilahnya semaksimal mungkin untuk mengikuti para ulama…… Misalkan di Muhammadiyah siapa yang dianggap ulama.” (D1-AI-154: 135396-135800). AI tidak ingin mengulangi kesalahannya kembali sekalipun pemerintah Indonesia belum menerapkan syariat Islam secara menyeluruh.

Baginya walaupun syariat Islam belum terwujud secara kaffah di Indonesia, namun masih terdapat kebaikan dari pemerintah Indonesia (D1-A1-156:137933-140338). Menurutnya banyak syariat Islam masih

66

diberlakukan di Indonesia. Presiden dan wakilnya juga masih seorang muslim (D1-AI-155:136835-137780).

Saat ini AI beranggapan jika ada oknum pemerintahan yang berbuat dzolim, maka cara menegurnya adalah dengan lisan. Bukan dengan pengeboman atau aksi teror. “Kan jadi, dari jihad yang agung itu menyampaikan. Kalau dianggap pemerintahan ini dzalim, sampaikan dengan mulut”. AI tetap akan berpikir matang terkait aksi jihad sekalipun front jihad telah dibuka

e. Pertanggungjawaban Moral AI

Keraguan dalam diri AI terkait aksi teror yang dilakukannya bersama kelompok membawanya untuk mengakui kesalahan dan menyesali aksi tersebut (D1-AI-1:4408-784). Untuk menebus kesalahan dan perasaan bersalahnya, AI selalu kooperatif pada pemerintah dan aparat penegak hukum (D1-AI-122:117011-117649) dengan kampanye kontra terorisme,

“Saya tularkan kepada generasi (muda/Ikhwan-ikhwan mujahidin) jangan sampai kita itu hanya mengikut.” (D1:AI:144; 145: 130872-131024;

146:130850-131139).

2. Informan Keempat – JL

a. Pemahaman Saat Masih Menganut Paham Teror

Sikap JL dahulu lebih keras, “Dulu ya lebih keras. Pemahamannya dulu itu kalau sekarang ISIS” (D2-JL-6:15065-15303). Dia dahulu memiliki kebencian yang teramat besar terhadap pemerintah dan menghukumi demokrasi sebagai sesuatu yang haram (D2-JL-15:24126-24252). JL juga over generalisasi kepada orang lain yang berbeda dengannya: “Kalau demokrasi ini syirik berarti kan orang yang di dalamnya otomatis……. maksude kaya wong umum “Wes pemerintah ki opo marahi sengsara wong cilik” (D2:JL:36) Sikap over generalisasi ini juga ditunjukkan JL dengan menafsirkan ayat-ayat di dalam al-Qur’an tentang kekafiran dibawa ke ranah pemerintahan dan demokrasi (D2:JL:14:23150-23392).

67

Sikap keras dan doktrin takfiri membuat JL lebih mudah menghukumi bahwa mengambil harta orang kafir sebagai hal yang halal dilakukan (D2:JL:23:35638-36372). Bagi JL, puncak perjuangan adalah kematian ditangan taghut, “Yo perjuangan, puncak perjuangane yo meninggal iku mau wes mati ditembak densus wes ngono ae” (D2-JL-20:33613-33704).

Baginya, tidak ada cara lain yang lebih mulia dari menegakkan syariat Islam dengan melawan kemungkaran. Kegiatan syirik harus dihilangkan (nahi mungkar) (D2-JL-10:19224-20241).

Doktin takfiri dan haramnya demokrasi didapatkan JL dari kajian tertutup yang hanya dihadiri JL beserta teman amaliyah (D2:JL:12:

22519-22677). Dia juga terinspirasi dengan trio bomber Bali dan konflik di Timur Tengah (D2-JL-11: 20680:21451). Bagi JL, saat itu jihad global sudah dapat dilakukan di Indonesia, “Jihad ini udah jihad global pokoknya dimanapun tempatnya yo pokokmen oke ngono dulu” (D2-JL-18:32973-33130). Ketika ditanya lebih lanjut, ayat yang digunakan untuk mendoktrin JL dan teman-temannya adalah al-Maidah (D2-JL-13:22679-23148).

b. Pemahaman Keislaman dan Tingkat Literasi

JL sudah mulai belajar ilmu agama sejak kecil. Namun tingkat literasi terkait ayat-ayat jihad masih cenderung kurang (D2:JL:31:45285-45919;

44:63555-63961). Hal ini terlihat dari kurang JL dalam menyebutkan buku bacaan dan karya ulama yang dijadikan referensi teror dengan mengatasnamakan jihad (D2:JL:1: 12478-12657; 2:12302-12409). Kajian yang pernah diikuti JL adalah kajian kitab bukhori muslim (D2:JL:1:13485-13618) dan kitab Tauhid Syekh Al Mahsari (D2:JL:1:49279-49688)

“Jadi membaca kitab karangannya siapa Syekh Al Maghdisi atau Syekh Ibnu Taimiyah, atau Syekh Abdul Lahab terjemah, saya terjemahkan, saya sampaikan kan gitu. Opo namane cuma opo kan istilahe kajian umum. Ya bahas ya secara umum saja, kan tauhid iki. Pemahamannya dulu sebenere demokrasi juga syirik gitu juga (dibahas)” (D2:JL:1: 54894-55431).

68

JL menuturkan bahwa dia tidak begitu menguasai kitab karena i’dad yang lebih ditekankan daripada belajar kitab. pendapat. JL mengungkapkan bahwa karya al-Maghdisi masih bersifat umum dan bukan merupakan rujukan utama dalam melakukan aksi:

“Itu gak terlalu keras sih sebenarnya untuk apa penjabaran dalilnya itu lho, jihadnya itu, dia gak terlalu keras dia lebih melihat waqi’ nya, gak terlalu grusa grusu maksud saya, Cuma kadang orang yang nerima (yang menafsirkan) aja yang terlalu (keras)” D2-JL-5:14540-15006)

Saat ini JL lebih terbuka dan tidak mudah membenci orang lain yang berbeda pemahaman dengannya. Kajian yang dia ikuti adalah kajian umum dari internet, “Kadang Adi Hidayat kadang Gus Baha’, kadang Ustad Somad. Yang umum-umum lah” (D2-JL-28:40040:40259).

c. Evaluasi Aksi Teror

Pertentangan dengan hati nurani ketika ngebom di Yaqawiyu (D2-JL-10:19224-20241) dan harus mengebom masjid Dhirar (D2:JL:16:24357-24939) dan merenung (D2-JL-30-45190-45283). JL juga mengevaluasi aksi teror yang dilakukannya semenjak dia tertangkap oleh Densus 88 (D2-JL-23:35638-36372). Dia kecewa dan mengakui aksi yang dilakukannya dahulu sebagai sebuah kesalahan,

“Kekecewaan sih ada, maksudnya kecewa karena kesalahan yang saya lakukan tadi dalam arti kesalahan pemahaman tadi ya biarpun gak semua ya maksude gak semua pemahaman yang dulu saya salahkan enggak. Ya menyesal juga karena lha kok dadine ngene ya itu perenungan pas di dalem begitu saya kok jadine seperti ini ya……sampai perenungan itu iki salah sih iki ra bener iki kurang tepat ya begitu lah” (D2:JL:34:54370-54793)

JL saat ini berusaha untuk lebih hati-hati dalam bersikap dan bertindak.

Dulu kurang belajar / baca buku dan melakukan amaliyat lebih karena semangat tanpa berpikir kritis (D2-JL-8:16823-17462) dan hanya berdasarkan pada hawa nafsu, “Wong jek cah cilik istilahe lagek metu thek Iuh kae apik, nek wong tuane weh dek kae lho truk apik kan neng nggenanku cah cilik senengane nonton truk oleng, ana truk oleng apik dek

69

berarti kan wong tuane ngono kuwi, sering di delokke ngono kan” (D2-JL-24:36416-36851). Saat ini JL berusaha lebih memfilter dan kritis terhadap pemahaman atau ideologi yang baru (D2-JL-42:59804-60057).

JL menuturkan beberapa ibroh yang didapatkan selama berada di lembaga pemasyarakatan seperti dapat berdialog dengan senior, “untuk saya emang sharing-sharing itu bisa merubah saya maksudnya dalam arti memperbarui pemahaman saya tentang jihad ini” (D2-JL-25:36985-37232); sharing dengan senior narapidana teroris di lapas karena paling junior (D2:JL:22:34319-35124; 26:38128-38468; 27:38483-388568). Di lapas JL juga memiliki waktu lebih untuk membaca buku dan lebih banyak melihat realita di lapangan bahwa Islam tidak sesempit yang selama ini dia bayangkan (D2:JL:23:35638-36372).

Tidak jauh berbeda dengan AI, menurut JL, jihad tetaplah harus dengan perang. Tetapi tidak bisa dilakukan di Indonesia karena Indonesia bukan negara konflik. Metode yang cocok digunakan di Indonesia adalah dengan dakwah (menasihati pemerintah) (D2-JL-43:61251-61962). Menurutnya, jihad hanya dapat dilakukan di daerah konflik. Hal yang bertentangan dengan pendapat JL sebelumnya adalah terkait dengan i’dad. Dia beranggapan bahwa i’dad masih perlu untuk dilakukan karena i’dad tidak memulu harus perang / jihad (D2-JL-45:81768-81990). Hal ini sebenarnya mengindikasikan bahwa JL belum sepenuhnya meninggalkan pemahaman jihad walaupun sudah tidak beranggapan bahwa saat ini jihad global dapat diberlakukan di semua tempat, termasuk Indonesia (D2-JL-21:33831-33924)

Ketika digali lebih lanjut pandangannya tentang sistem demokrasi, dia menganggap demokrasi sebagai kilafiyah,

“Demokrasi masih ikhtilaf. Perbedaan, kana da yang memperbolehkan kita masuk demokrasi juga ada, nggak opo jenenge gak saklek lah. Saya lebih umum aja, mungkin kalau dibilang kurang setuju itu saya kurang setuju dengan demokrasi ini. Tapi kan terus saya nggak menghukumi demokrasi ini syirik nggak. Polisi pun juga seperti itu” (D2-JL-38:56684-57233)

Pendapat ahli tentang disengagement.

70 3. Informan Kedua – UP

a. Kehidupan Sebelum Terlibat dalam Jamaah

UP tidak mengetahui jika dia akan dilatih ilmu militer di Afghanistan.

Dia hanya mengetahui akan dikirim untuk belajar ilmu agama di suatu jamiah (D3-UP-35: 26395-26506; 34:26211-26288).

UP menuturkan bahwa tidak sepakat dengan aksi bom bali (D3-UP-23:18395-18565). Dia sudah ragu sebelum terlibat dalam aksi Bom Bali:

“Kan kalau dalam fiqih itu kategori Amaliah iqtishadiyah dan itu harus dengan syarat-syarat yang ketat Apakah target itu memang nggak bisa dilakukan dengan selain itu. banyaklah pertimbangannya sehingga tidak asal kasih semangat oh nanti kamu Ketemu Bidadari 72, ahli Surga. Ah ngga. Itu ada di dalam buku jihad syaratnya ketat banget sehingga sampai akhirnya harus diputuskan dengan cara seperti itu ya memang tidak ada cara yang lain.” (D3-UP-22:17721-18311)

Konflik dengan ingroup memang sebenarnya sudah terlihat sejak dahulu sebelum aksi teror dilakukan

“Gini dulu waktu saya bergabung dengan abu sayyaf, ketika Abu sayyaf mendapatkan tawanan perang tentara atau apalah namanya nya. itu bukan sandra ya, tapi tawanan dalam perang.

Untuk mengorek informasi, mereka biasa menyiksa, memukuli supaya informasi itu keluar. Setelah saya bergabung ke mereka.

mereka terbiasa memukuli tawanan terus dalam satu kesempatan mereka ada majelis Syuranya saya izin datang ingin menyampaikan sesuatu yang saya lihat menurut saya gak bener.” (D3-UP-19:14033-15454); “aku sengaja nggak diundang (breafing aksi peledakan). Kalau diundang aku bakal melontarkan nggak setuju” (D3-UP-33:24722-24857)

b. Pelepasan dari Kelompok Teror

Keraguan dalam diri UP atas aksi jihad yang dilakukan semakin kuat ketika dia mulai lebih banyak belajar dan membaca, “Dari hasil belajar, membaca. artinya apa gunanya kita membaca untuk tsaqofah tok sebagai bahan ilmu pengetahuan tok. Ya harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari” (D3-UP-20:15518-15781). Bagi UP, syarat jihad cukup banyak dan sangat ketat untuk bisa terwujud dan terpenuhi,

71

“Kalau dalam fiqih itu kategori Amaliah iqtishadiyah dan itu harus dengan syarat-syarat yang ketat Apakah target itu memang nggak bisa dilakukan dengan selain itu. banyaklah pertimbangannya sehingga tidak asal kasih semangat oh nanti kamu Ketemu Bidadari 72, ahli Surga. Ah ngga. Itu ada di dalam buku jihad syaratnya ketat banget sehingga sampai akhirnya harus diputuskan dengan cara seperti itu ya memang qur’an) nggak baca. bahasanya tinggi itu, sulit.” (D3-UP-36:26588-26675). UP lebih menyukai belajar siroh karya Munawar Kholil:

“Buku siroh yang banyak dikagumi di dunia internasional kan tulisannya Ibnu Hisyam sirah Ibnu Hisyam tapi ternyata menurut saya jauh dibanding buku ini (Munawar Kholil). cara mengulas peristiwa itu sangat detil banget, makanya foodnote itu sampai banyak banget” (D3-UP-4:2868:3372)

Baginya, jika harus belajar tafisr, seorang muslim harus langsung merujuk ke kitab aslinya agar tidak dibelokkan oleh ustadz atau leadernya di kelompok teror (D3-UP-41:36898-37424) karena menurut UP, ayat jihad hanya disampaikan sepotong-sepotong, tidak komprehensif, dan tidak memperhatikan asbabun nuzul akibatnya mudah untuk mengkafirkan orang lain termasuk RT, RW, atau lurah (D3-UP-29:

20695:21436). Selain itu, UP beranggapan bahwa belajar ilmu agama diutamakan dengan mempelajari adab terlebih dahulu sebelum berpikir tentang jihad (D3-UP-41:36898-37424). UP memang memiliki prinsip bahwa adab dan akhlak harus didahulukan, sekalipun sedang dalam kondisi perang dan jihad (D3-UP-19:14033-15454).

d. Bentuk pertanggungjawaban Moral

UP ingin menebus kesalahannya dengan menjaga persatuan (D3-UP-13:7933-8427) dan menjaga keamanan Indonesia

“Satu ya (saya menghimbau) Jangan lakukan aksi terror.

kemudian kalau ada orang yang mau melakukan aksi teror.

72

(Mereka) diberikan pemahaman kemudian dicegah kalau nggak mau dilaporkan. Ini mau ada orang ngebom misalnya dari pada korbannya banyak dan merugikan orang lain” (D3-UP-8:4726:5172)

Bagi UP, Pancasila adalah salah satu alat pemersatu bangsadan tidak dengan dengan syariat Islam, “Nggak usah diganti, wong Pancasila itu sendiri tidak bertentangan dengan Islam. ngapain harus diganti. nilai-nilai sila Pancasila sila 1-5 semuanya klop dengan ajaran Islam” (D3-UP-14:8551-8727)

UP ingin melakukan kampanye anti terorisme dengan mengarahkan pemahaman yang benar terkait ayat dan hadist tentang jihad kepada masyarakat umum (D3-UP-25:18796-18902) “Ke masyarakat ya memberikan pemahaman supaya tidak terkena pemahaman tentang terorisme” (D3-UP-6:5174-6428). Selain itu, tidak jarang UP memberikan rekomendasi kepada pemerintah (BNPT) dalam upaya menekan angka terorisme di Indonesia salah satunya dengan menyarankan agar narapidana teroris yang berbahaya tidak dihukum mati agar tidak dijadikan idola dan role model pengikutnya karena dianggap telah dibunuh dan mati syahid ditangan taghut (D3-UP-37:27117-28152).

UP yang cukup menyesali perpisahannya dengan keluarga karena lebih memilih menghabiskan hari-hari bersama kelompok dan menjadi buron ingin menebusnnya dengan berkumpul dengan keluarga (D3-UP-11:6167-6428)

“Kalau sekarang intinya ingin banyak Kumpul sama keluarga. keluarga kan sudah lama aku tinggalkan. ingin hidup bersama keluarga dalam artian keluarga besar, istri kemudian adik-adik dan semuanya lah, keponakan. Dengan keluarga

“Kalau sekarang intinya ingin banyak Kumpul sama keluarga. keluarga kan sudah lama aku tinggalkan. ingin hidup bersama keluarga dalam artian keluarga besar, istri kemudian adik-adik dan semuanya lah, keponakan. Dengan keluarga

Dokumen terkait