Pada pelaksanaan tindakan di siklus II, anak lebih mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Kemandirian anak dalam aspek yang diamati sudah menunjukkan perubahan yaitu seperti yang terlihat dari aspek bergabung dan bermain bersama teman sudah menunjukkan perubahan mulai dari belum muncul hingga menjadi berkembang sangat baik. Selain itu pada aspek bepisah dengan orangtua tanpa menangis juga menunjukkan perubahan mulai dari adanya kenampakan pada kriteria belum muncul sampai pada hasil tidak ada kenampakan pada kriteria belum muncul. Pada aspek membereskan alat tulis dan peralatan sekolah sendiri, makan sendiri dan mengerjakan aktivitas belajar sendiri, menunjukkan perubahan mulai dari adanya kenampakan pada kriteria belum muncul sampai tidak adanya kenampakan pada kriteria belum muncul.
Dalam pelaksanaan di siklus II, peneliti tidak menemukan kendala yang berarti. Hal tersebut dikarenakan sudah dilakukan perbaikan dalam perencanaan sebelum melakukan tindakan di siklus II. Suasana kelas juga lebih aktif dibandingkan dengan siklus I. Anak-anak juga sudah tidak terlihat menengok atau
mencari orangtua mereka lagi.Dengan melihat hasil peningkatan kemandirian anak pada siklus II, peneliti memutuskan untuk menghentikan tindakan.
4.3 Pembahasan
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah peningkatan kemandirian anak usia 3-4 tahun melalui metode pembiasaan. Kurang berkembangnya kemandirian anak disebabkan karena beberapa hal :
1) Media dan metode pembelajaran yang digunakan untuk menjelaskan materi pembelajaran kurang menarik. Sehingga anak lebih dekat dengan orangtua.
2) Ketegasan akan kerjasama dengan orangtua menjadi hal pokok dalam kemandirian anak karena apabila di satu ruangan kelas orangtua tetap mendampingi anak, yang muncul adalah keributan sendiri antara orangtua anak. Selain itu juga anak menjadi bergantung terus pada orangtua karena merasa bahwa masih dekat dengan orangtua.
Informasi yang diperoleh dari orangtua setelah melakukan tindakan pada siklus I, menyatakan bahwa anak-anak mereka sudah tidak begitu merepotkan karena anak sudah mau mengambil sendiri baik lembar kerja atau mainan, mengerjakan lembar sendiri dan sudah mau ikut bermain bersama teman-temannya.
Hasil yang diperoleh pada pra tindakan dan pelaksanaan siklus I apabila dibandingkan terlihat sudah ada peningkatan, namun belum mencapai indikator keberhasilan yang diharapkan peneliti. Sehingga, perlu diadakan siklus II karena pada pelaksanaan siklus I terdapat beberapa kendala yang dihadapi pada saat
pelaksanaan siklus I. Dengan demikian, perlu dilaksanakan suatu perbaikan dalam siklus II agar indikator keberhasilan yang diharapkan dapat tercapai.
Dari kendala-kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan siklus I, maka dilakukan perbaikan-perbaikan agar kendala yang ada dapat teratasi. Adapun perbaikan tersebut adalah Pendekatan kepada orangtua anak harus lebih ditingkatkan dengan kesabaran dan pada saat mengobrol bersama (tidak secara formal), memberikan pujian pada anak harus lebih sering untuk memotivasi diri anak supaya lebih antusias dan percaya diri, memahami apa yang disukai anak-anak (meliputi media dan metode pembelajaran saat menyampaikan materi) sehingga anak-anak menjadi nyaman dan tertarik dengan peneliti serta mau ditinggal oleh orangtuanya. Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan dalam siklus II, ternyata hasil yang diperoleh mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada setiap aspek kemandirian anak.
Penelitian ini telah menghasilkan bahwa melalui metode pembiasaan dapat meningkatkan kemandirian anak usia 3-4 tahun di Kelompok Bermain Satya Parahita. Peningkatan kemandirian ini terbukti dengan adanya peningkatan jumlah persentase kemandirian anak pada kategori berkembang sangat baik dari pra tindakan dan setelah tindakan yang selalu meningkat. Hal ini sesuai dengan Konsep Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal (2007) dimana dalam hal kemandirian, anak usia 3-4 tahun perlu dilatih secara rutin dan berulang-ulang untuk mandiri supaya anak tidak bergantung terus menerus pada orang lain. Melatih anak usia prasekolah secara terus menerus dan
berulang-ulang dalam bentuk pengalaman seperti yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner dalam teori belajar behavioristik (Nizwa Ayuni, 2011).
Kegiatan atau aktivitas yang dilakukan anak pra sekolah dalam hal kemandirian, dapat dilakukan melalui metode pembiasaan. Dimana dalam metode ini, anak dibiasakan dalam rutinitas kegiatannya berusaha untuk mengerjakannya sendiri dengan sedikit bantuan atau pun tidak dengan bantuan. Dengan demikian, anak-anak akan terbiasa untuk tidak bergantung pada orang lain.
Hasil penelitian tentang kemandirian anak yang diindikasikan dari persentase masing-masing aspek kemandirian pada pra tindakan dan setelah tindakan. Dimana masing-masing aspek yang dinilai di setiap siklus menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.
Kemampuan yang meningkat pada kriteria berkembang sangat baik antara lain pada aspek bergabung dan bermain bersama teman pada kondisi awal belum terlihat, tetapi setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 60% dan meningkat lagi pada siklus II sebesar 80%. Aspek berpisah dengan orangtua, pada kondisi awal belum terlihat, tetapi setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 80% dan stabil pada siklus II sebesar 80%. Aspek membereskan alat tulis dan peralatan sekolah, pada kondisi awal belum terlihat, tetapi setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 100% dan stabil pada siklus II sebesar 100%. Aspek makan sendiri, pada kondisi awal belum terlihat, tetapi setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 80% dan stabil pada siklus II sebesar 80%. Aspek mengerjakan aktivitas belajar sendiri, pada kondisi awal belum terlihat, tetapi
setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 60% dan meningkat lagi pada siklus II sebesar 80%.
Dilihat dari persentase setiap aspek dalam kemandirian anak pada siklus II sudah terjadi peningkatan persentase dari siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa revisi pada siklus II mempunyai dampak yang berarti terhadap kemandirian anak. Melalui tindakan siklus II ini ternyata telah mencapai lebih dari 80%. Dapat dikemukakan bahwa pelaksanaan metode pembiasaan untuk meningkatkan kemandirian anak sudah menunjukkan adanya kemanfaatan.
Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa hasil penelitian ini mendukung penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Riska Yulanda, Indri Astuti, Sutarmanto (2013), Muktisari (2011), Tuti Rohmah (2013), Edi Sulis Purwanto (2009) yang membuktikan bahwa kemandirian anak dapat terwujud dengan melakukan pembiasaan pada kegiatan atau aktivitas anak dalam pembelajaran. Selain itu dalam penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembiasaan yang dilakukan tidak terlepas dari kerjasama baik dengan orangtua anak untuk dapat mencapai indikator pada lingkup perkembangan anak.