BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini, subyek yang diteliti sebanyak 5 anak yang berjenis kelamin perempuan dan berusia 3-4 tahun. Untk lebih jelasnya, tergambar seperti tabel di bawah ini :
Tabel 3.1 Subyek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
Laki-laki - -
Perempuan 5 100
Tabel 3.2Subyek Penelitian Berdasarkan Rentang Usia
Rentang Usia Frekuensi Persentase (%)
>3 tahun 1 20
>4 tahun 4 80
4.2 Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelompok Bermain Satya Parahita yang beralamat di Pondok Sang Timur, Jalan Tidore, RT 02/RW VII/Kelurahan Tegalrejo – Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Dengan metode pembiasaan yang diterapkan, bertujuan untuk menumbuhkan karakter kemandirian anak usia 3-4 tahun. Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
4.2.1 Kondisi Awal
Langkah awal yang dilakukan peneliti sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas yaitu melakukan pengamatan awal berupa kegiatan pra tindakan
yang bertujuan untuk mengetahui kondisi awal kemandirian anak dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam pra tindakan ini, peneliti juga melakukan penilaian terhadap aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak saat proses kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, akan nampak presentase dalam aspek kemandirian anak. Sehingga, dapat terlihat jelas seberapa besar kemandirian anak yang muncul dalam aktivitasnya di sekolah.
Tabel 4. Rekapitulasi Data Karakter Kemandirian Anak Saat Pra Tindakan No. Aspek yang dinilai Kondisi awal pra tindakan
BM MM BSH BSB
F % f % f % f % 1 Bergabung dan bermain bersama teman 1 20 2 40 2 40 - - 2 Berpisah dengan orangtua 4 80 1 20 - - - - 3 Membereskan alat tulis dan peralatan
sekolah sendiri 3 60 2 40 - - - -
4 Makan sendiri 3 60 2 40 - - - -
5 Mengerjakan aktivitas belajar sendiri 3 60 2 40 - - - -
Rata-rata 56 36 8
Keterangan: BM=Belum Muncul (belum menunjukkan sama sekali), MM=Mulai Muncul (sudah
mulai muncul tetapi masih sering dibantu/diberi arahan), BSH=Berkembang Sesuai Harapan (sudah mncul, tetapi jarang dibantu/diberi arahan), BSB=Berkembang Sangat Baik (sudah muncul dan sudah tidak dibantu atau diberi arahan), f = frekuensi, % = persentase
Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa tingkat kemandirian anak saat kondisi awal sebelum tindakan kelas pada aspek bergabung dan bermain bersama teman diperoleh data pada kriteria belum muncul sebanyak 1 anak dengan persentase 20%, mulai muncul sebanyak 2 anak dengan persentase 40% dan berkembang sesuai harapan sebanyak 2 anak dengan persentase 40%. Sedangkan pada kriteria berkembang sangat baik belum terlihat adanya pencapaian kemandirian anak. Maka pada aspek bergabung dan bermain bersama teman sebelum tindakan dapat diklasifikasikan kurang baik karena sebagian besar anak belum dapat bergabung dan bermain bersama teman dengan baik.
Pada aspek berpisah dengna orang tua tanpa menangis, diperoleh data pada kriteria belum muncul sebanyak 4 anak dengan persentase 80%. Sedangkan pada kriteria mulai muncul sebanyak 1 anak dengan persentase 20%. Maka kemampuan anak untuk berpisah dengan orang tua pada kondisi awal diklasifikasikan kurang. Hal ini diperoleh karena sebagian besar anak belum dapat berpisah dengan orang tua tanpa menangis.
Pada aspek membereskan alat tulis dan peralatan sekolah sendiri, makan sendiri dan mengerjakan aktivitas belajar sendiri diperoleh data yang sama yaitu pada kriteria belum muncul sebanyak 3 anak dengan persentase 60%. Sedangkan 40 % sisanya yaitu 2 anak tergolong dalam kriteria mulai muncul. Sehingga dapat diklasifikasikan dalam aspek membereskan alat tulis dan peralatan sekolah, makan sendiri dan mengerjakan aktivitas belajar sendiri adalah belum baik karena sebagian besar anak masih ada pada kriteria belum muncul.
Dari tabel 4 diperoleh data mengenai kemandirian anak sebelum pelaksanaan tindakan kelas dari tiap aspek. Hasil observasi awal menunjukkan sejauh mana tingkat kemandirian anak pada semua aspek dapat dilihat dari data kemandirian anak pada tabel di bawah ini :
Tabel 5. Data Hasil Observasi
Tingkat Kemandirian Anak pada Kondisi Awal (Pra Tindakan)
No. Kriteria Persentase (%)
1 Belum Muncul 56
2 Mulai Muncul 36
3 Berkembang Sesuai Harapan 8 4 Berkembang Sangat Baik -
Dari data pada tabel 5, dapat diketahui sejauh mana tingkat kemandirian anak pada kondisi awal sebelum tindakan kelas. Pada kriteria belum muncul
sebanyak 56% , mulai muncul 36 %, berkembang sesuai harapan sebanyak 8 % dan berkembang sangat baik belum nampak sama sekali.
4.2.2 Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Dari data yang ada sebelum tindakan kelas (pra tindakan) maka disusunlah perencanaan, perlakuan tindakan menerapkan metode pembiasaan yang bertujuan untuk menumbuhkan kemandirian anak usia 3-4 tahun di KB Satya Parahita.
Pelaksanaan siklus I ini dilaksanakan sebanyak 8 kali pertemuan yaitu pada hari Senin 15 September 2014, Selasa 16 September 2014, Kamis 18 September 2014, Jumat 19 September 2014, dengan menggunakan tema Lingkunganku, sub tema Rumahku, Sekolahku dan Tempat Bermainku dan aktivitas belajar yang berbeda di setiap pertemuan. Senin 22 September 2014, Selasa 23 September 2014, Kamis 25 September 2014 dan Jumat 26 September 2014 dengan menggunakan tema Kebutuhanku, sub tema Pakaianku dan aktivitas belajar yang berbeda di setiap pertemuan. Untuk menumbuhkan kemandirian anak yang terlibat dalam setiap pembelajaran, maka pembelajaran pada siklus I dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
1. Perencanaan Siklus I
Perencanaan dilakukan sebelum dilaksanakan tindakan. Pada tahap perencanaan tindakan, hal-hal yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Membuat rencana kegiatan pembelajaran yang tersusun dalam RKH (Rencana Kegiatan Harian) yang akan dilakukan dalam 8 kali pertemuan. 2) Memberikan sosialisasi kepada orang tua anak tentang kemandirian anak
3) Mempersiapkan lembar observasi dalam bentuk cheklist yang akan digunakan untuk memperoleh data selama pelaksanaan penelitian.
4) Mempersiapkan alat dan bahan untuk mendukung pembelajaran. 2. Pelaksanaan Siklus I
Dalam pelaksanaan penelitian siklus I peneliti memiliki tugas melaksanakan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan RKH yang disusun. Berikut ini deskripsi proses pelaksanaan tindakan siklus I :
a. Pertemuan Pertama Siklus I
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin, 15 September 2014 dengan tema Lingkunganku dan Sub Tema Rumahku, Sekolahku, dan Tempat Bermainku. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Dengan pemberitahuan sebelumnya bahwa orangtua anak sudah sedikit menjauh dari anak.
Peneliti menyambut dengan ramah ketika anak-anak satu per satu tiba di sekolah. Ini merupakan langkah awal agar anak merasa nyaman sehingga saat peneliti membaur dengan anak-anak, mereka tidak canggung atau malu-malu kepada peneliti. Hal ini juga dapat menimbulkan rasa nyaman dalam diri anak-anak kepada peneliti.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Meskipun ada beberapa anak yang masih menggandeng ibu nya untuk mengantar dan ikut circle time. Tetapi, peneliti dengan sabar tetap mengajak anak-anak untuk bernyanyi bersama-sama. Bahkan sedikit demi sedikit anak-anak sudah melepas gandengan ibunya dan ibunya bisa perlahan mundur.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama. Peneliti bertanya jawab tentang tema dan tidak lupa memperlihatkan beraneka ragam gambar-gambar tentang sub tema yang dipelajari. Peneliti menjelaskan materi sub tema dengan penuh ekspresi dan ceria, supaya anak fokus terhadap materi dan peneliti. Dengan demikian, anak-anak tidak mencari atau meminta ibu mereka untuk menemani di sampingnya.
Sebelum masuk pada kegiatan inti pembelajaran, peneliti memberi dorongan kepada anak-anak untuk menyelesaikan sendiri aktivitas belajarnya dengan pujian. “Siapa yang mengerjakan sendiri, dia anak hebat”. Saat kegiatan inti, yaitu mengerjakan lembar kerja yang telah disiapkan, anak-anak mengambil lembar kerja sendiri dan mengerjakan sendiri, tetapi ada pula yang masih didikte atau dibantu oleh orangtuanya.
Saat istirahat, ada beberapa anak yang makan sendiri, ada pula yang masih disuapi oleh orangtuanya. Sampai dengan akhir pembelajaran, peneliti membiasakan anak-anak untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Meskipun, ada beberapa anak yang masih bergantung pada orangtua dalam aktivitas tertentu.
b. Pertemuan Kedua Siklus I
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa, 16 September 2014 dengan tema Lingkunganku dan Sub Tema Rumahku, Sekolahku, dan Tempat Bermainku. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak.
Peneliti menyambut dengan ramah ketika anak-anak satu per satu tiba di sekolah. Anak-anak sudah mulai beradaptasi dengan peneliti. Anak-anak sudah
tidak begitu malu-malu ketika peneliti menyapa anak-anak. Bahkan, ada 1 anak yang sudah mengajak peneliti untuk bercanda.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Pada hari kedua ini, sudah ada perubahan pada salah satu anak yaitu sudah mau mulai bergabung dengan teman dan tidak mengajak ibunya untuk ikut circle time. Meskipun saat bergabung pada circle time, salah satu anak ini nampak sedikit malu-malu.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama. Peneliti bertanya jawab tentang tema dan tidak lupa memperlihatkan beraneka ragam gambar-gambar tentang sub tema yang dipelajari. Peneliti menjelaskan materi sub tema dengan penuh ekspresi dan ceria, supaya anak fokus terhadap materi dan peneliti. Dengan demikian, anak-anak tidak mencari atau meminta ibu mereka untuk menemani di sampingnya. Walaupun demikian, masih ada beberapa anak yang duduk dekat ibunya.
Sebelum masuk pada kegiatan inti pembelajaran, peneliti memberi dorongan kepada anak-anak untuk menyelesaikan sendiri aktivitas belajarnya dengan pujian. “Siapa yang mengerjakan sendiri, dia anak hebat”. Saat kegiatan inti, yaitu mengerjakan lembar kerja yang telah disiapkan, anak-anak mengambil lembar kerja sendiri dan mengerjakan sendiri, tetapi ada pula yang masih didikte atau dibantu oleh orangtuanya.
Saat istirahat, ada beberapa anak yang makan sendiri, ada pula yang masih disuapi oleh orangtuanya. Tetapi saat bermain bersama teman-teman, ada salah
satu anak yang sudah mau bergabung sendiri. Sampai dengan akhir pembelajaran, peneliti membiasakan anak-anak untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Meskipun, ada beberapa anak yang masih bergantung pada orangtua dalam aktivitas tertentu.
c. Pertemuan Ketiga Siklus I
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Kamis, 18 September 2014 dengan tema Lingkunganku dan Sub Tema Rumahku, Sekolahku, dan Tempat Bermainku. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Peneliti menyapa anak-anak yang tiba di sekolah dengan ramah dan mengajak anak untuk masuk ke kelas lalu bercanda bersama. Hal ini dimaksudkan supaya anak-anak menjadi nyaman dan tidak ragu lagi apabila ingin mendekati peneliti.
Kemudian peneliti mengajak anak-anak untuk membuat lingkaran dengan bergandengan tangan bersama teman-teman dan guru tanpa didampingi oleh orangtua. Peneliti juga mengajak anak-anak untuk bernyanyi bersama-sama dengan ceria. Selanjutnya, peneliti menjelaskan tentang tema yang akan dipelajari dengan media pembelajaran yang telah disiapkan. Dalam kegiatan awal pembelajaran ini, orang tua anak sudah sedikit menjauh dari anak. Meskipun dalam pertemuan ketiga ini, ada anak yang tidak mau jauh dari orangtuanya. Peneliti menunjukkan gambar-gambar yang menarik sesuai tema supaya anak-anak fokus kepada pembelajaran dan tidak mencari orangtuanya.
Pada saat kegiatan inti, yaitu mengerjakan lembar kerja yang telah disiapkan, anak-anak sudah mau maju ke depan untuk mengambil lembar kerja sendiri. Anak-anak mengerjakan lembar kerja dengan penuh antusias dan
dikerjakan sendiri. Tetapi ada satu anak yang harus dirayu dulu supaya menyelesaikan pekerjaannya.
Saat istirahat, anak-anak mengeluarkan bekal yang dibawa dari rumah entah berupa jajan atau nasi beserta lauknya. Sebagian besar anak-anak sudah dapat membuka bekal mereka sendiri tetapi ada satu anak yang masih disuapi oleh ibunya. Ada pula yang memilih untuk bermain bersama temannya sambil memakan jajannya. Meskipun demikian, peneliti tidak putus asa untuk mencari jalan keluar supaya anak-anak tetap bisa mandiri.
d. Pertemuan Keempat Siklus I
Pertemuan keempat ini dilaksanakan pada hari Jumat, 19 September 2014 dengan tema Lingkunganku dan Sub Tema Rumahku, Sekolahku, dan Tempat Bermainku. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Seperti biasanya, peneliti menyambut kedatangan anak-anak yang tiba di sekolah dengan ramah. Lalu mengajak anak untuk melepas sepatunya sendiri dan meletakkannya di rak sepatu. Mengajak anak-anak bercanda bersama pula.
Tiba waktu circle time, peneliti mengajak anak-anak untuk membuat lingkaran dengan bergandengan tangan bersama teman-teman dan guru tanpa didampingi oleh orangtua. Peneliti juga mengajak anak-anak untuk bernyanyi bersama-sama dengan ceria. Meskipun demikian, masih ada anak yang minta ditemani oleh ibunya.
Selanjutnya, peneliti menjelaskan tentang tema yang akan dipelajari dengan media pembelajaran yang telah disiapkan. Dalam kegiatan awal pembelajaran ini, orang tua anak sudah menjauh dari anak. Peneliti
mengkondisikan anak dengan menunjukkan gambar-gambar sesuai tema supaya anak-anak fokus kepada pembelajaran dan tidak mencari orangtuanya. Pada saat peneliti menunjukkan gambar-gambar yang lebih menarik lagi, anak-anak memandang ke depan dan tidak mencari orangtuanya lagi.
Sebelum masuk pada kegiatan inti pembelajaran, peneliti memberi dorongan kepada anak-anak untuk menyelesaikan sendiri aktivitas belajarnya dengan pujian. Saat kegiatan inti, yaitu mengerjakan lembar kerja yang telah disiapkan, anak-anak mengambil lembar kerja sendiri dan mengerjakan sendiri, tetapi ada pula yang masih didikte atau dibantu oleh orangtuanya.
Saat istirahat, ada beberapa anak yang memakan bekalnya ada pula yang memilih untuk bermain bersama teman sambil memakan bekal yang dibawa. Saat makan bekal, ada satu anak yang masih minta disuapi oleh ibunya, padahal anak tersebut sudah bisa makan sendiri. Ibu nya pun sudah menyuruh anak tersebut untuk makan bekal sendiri. Tetapi anak tersebut tidak mau. Sampai pada akhir pembelajaran, anak-anak sudah mau maju sendiri di depan untuk mengikuti kegiatan penutup (review).
e. Pertemuan Kelima Siklus I
Pertemuan kelima inidilaksanakan pada hari Senin, 22 September 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Pakaianku. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Peneliti menyambut dan menyapa anak-anak dengan ramah ketika mereka tiba di sekolah. Peneliti juga mengajak anak-anak masuk ke dalam kelas dengan menggandeng tangan anak. Hal ini peneliti lakukan supaya anak merasa aman dan nyaman sehingga dapat lepas dari orangtua.
Saat circle time, peneliti mengajak anak-anak bergandengan tangan dengan teman lainnya dan bernyanyi bersama. Saat circle time ini, ada satu anak yang menangis dan tidak mau lepas dari orangtuanya karena saat pertemuan kelima ini, ada mahasiswa dari UKSW Fakultas Bahasa dan Sastra yang sedang observasi di sekolah tersebut guna pemenuhan tugas mata kuliah. Hal ini disebabkan karena si anak tidak nyaman jika ada orang baru. Anak sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan membutuhkan waktu serta proses yang cukup lama apabila dia ditempatkan di lingkungan yang baru. Oleh karena itu, pada pertemuan ini, penelliti lebih mencurahkan perhatian kepada satu anak ini tetapi tidak meninggalkan perhatian pada anak-anak yang lain.
Hingga tiba waktu mengerjakan aktivitas lembar kerja seperti biasanya, peneliti terus mendorong anak-anak untuk mengerjakannya sendiri. Peneliti tetap memperhatikan anak-anak dalam proses mengerjakan aktivitas. Apabila ada yang terlihat tidak bersemangat, peneliti memberikan dorongan dan pujian sehingga anak menjadi semangat lagi dalam mengerjakan aktivitas secara mandiri.
Pada saat istirahat, anak yang tidak mau makan sendiri sama sekali pada pertemuan sebelumnya, sekarang sudah mau makan sendiri. Meskipun ibunya harus mengambilkan dulu pada sendok, lalu anak tersebut memasukkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulutnya sendiri. Sedangkan yangn lainnya memilih bermain bersama teman-temannya dan peneliti sambil memakan bekal atau jajan yang dibawa dari rumah.
f. Pertemuan Keenam Siklus I
Pertemuan keenamdilaksanakan pada hari Selasa, 23 September 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Pakaianku. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Peneliti mengkondisikan anak untuk memulai kegiatan pembelajaran mulai dari circle time sampai selesai pembelajaran karena pada pertemuan keenam ini, masih ada mahasiswa UKSW Fakultas Bahasa dan Sastra yang melakukan observasi di sekolah tersebut hingga pada pertemuan ke delapan.
Seperti pertemuan sebelumnya, peneliti dengan sabar mendampingi salah satu anak yang kurang bisa menerima keadaan atau kondisi lingkungan barunya. Meskipun demikian, proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik. Anak-anak mengerjakan aktivitas pembelajaran yang peneliti berikan, bermain bersama teman-teman, dan memakan bekal yang sudah dibawa dari rumah. Sampai dengan akhir pembelajaran, peneliti mengajak anak-anak untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Meskipun, ada beberapa anak yang masih bergantung dan dibantu oleh orangtua dalam aktivitas tertentu.
g. Pertemuan Ketujuh Siklus I
Pertemuan ketujuhdilaksanakan pada hari Kamis, 25 September 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Pakainaku. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Peneliti mengkondisikan anak untuk memulai kegiatan pembelajaran mulai dari circle time sampai pembelajaran selesai.
Beberapa anak ada yang sudah mulai bisa menerima keadaan lingkungan yang baru dimana ada mahasiswa UKSW yang observasi di sekolah, tetapi ada
anak yang belum begitu bisa menerima dengan keadaan yang baru ini. Tetapi peneliti tetap sabar dan tidak putus asa dalam mengarahkan anak-anak untuk melakukan aktivitasnya secara mandiri. Peneliti tetap memberi dorongan positif supaya anak-anak menjadi semangat sehingga mereka dapa mandiri.
Hanya saja, selama ada mahasiswa yang observasi di sekolah, salah satu anak menjadi kendor percaya dirinya sehingga membuat dirinya tidak mau jauh dari orangtua. Akan tetapi, peneliti terus berusaha dekat dengan anak supaya anak tetap mau lepas dari orangtua sedikit demi sedikit. Hingga tiba selesai pembelajaran, satu anak ini sedikit bisa menjauh dari ibunya.
h. Pertemuan Kedelapan Siklus I
Pertemuan kedelapan dilaksanakan pada hari Jumat, 26 September 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub tema Pakaianku. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Peneliti mengkondisikan anak untuk memulai kegiatan pembelajaran mulai dari circle time sampai selesai pembelajaran.
Meskipun masih ada mahasiswa UKSW yang observasi di sekolah, anak yang pada perteman sebelumnya belum bisa menerima kondisi lingkungan yang baru, pada pertemuan ini sudah mulai beradaptasi dengan baik, yaitu terlihat sudah mau sedikit jauh dari ibunya. Namun, saat mengerjakan aktivitas pembelajaran, anak tersebut masih malu dan ragu sehingga sering meminta tolong kepada ibunya untuk membantu menyelesaikan aktivitas pembelajaran berupa lembar kerja yang sudah peneliti siapkan. Akan tetapi pada saat istirahat, anak sudah mau bergabung dengan teman yang lain untuk bermain bersama.
3. Pengamatan Siklus I
Selama penerapan tindakan, yang menjadi observer adalah peneliti sendiri. Pengamatan dilakukan saat pembelajaran berlangsung, setiap aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak semuanya diamati pada lembar observasi yang di buat dalam bentuk checklist. Dari hasil pengamatan yangn dilakukan oleh peneliti terhadap proses pembelajaran dengan menerapkan metode pembiasaan untuk meningkatkan kemandirian anak pada siklus I dapat dilihat sebagai berikut :
A. Proses Belajar
Selama proses pembelajaran, anak melakukan berbagai kegiatan pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Berdasarkan observasi pada siklus I, peneliti mengamati proses belajar mandiri dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Anak mendengarkan penjelasan
Pada pertemuan pertama, anak mulai senang ketika peneliti ikut bergabung bersama anak-anak. Menunjukkan gambar-gambar yang menarik supaya anak tertarik untuk dekat dengan peneliti sehingga jauh dari orangtuanya. Pertemuan selanjutnya, peneliti menggunakan lebih banyak gambar-gambar yang menarik anak sehingga anak akan lebih fokus terhadap pembelajaran dan tidak lagi menengok atau mendekat pada orangtuanya.
2) Keaktifan anak dalam proses pembelajaran
Pada pertemuan pertama ada beberapa anak yang masih malu untuk bergabung bersama peneliti. Saat circle time, peneliti mencoba memahami apa yang anak suka dan tidak suka supaya anak tertarik dan dekat dengan peneliti.
Lama kelamaan, anak menjadi dekat dengan peneliti dan terbentuklah rasa nyaman sehingga anak mulai meninggalkan orangtua dan tidak bergantung lagi. Tetapi pada pertemuan minggu berikutnya, ada satu anak yang belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baru dikarenakan ada mahasiswa UKSW yang obseravsi di sekolah sehingga mengakibatkan si anak menjadi tidak nyaman dan bergantung lagi kepada ibunya.
3) Kemandirian anak saat proses pembelajaran
Dalam proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus 1, anak-anak sudah mulai menunjukkan kemandiriannya. Misalnya saat circle time, anak sudah mau bergabung bersama teman dan guru untuk bernyanyi bersama dan sudah jarang melihat ke orangtua atau memanggil orangtuanya. Selain itu juga saat mengambil lembar kerja, anak sudah tidak diantar orangtua atau menyuruh orangtuanya untuk mengambil lembar kerja. Dalam mengerjakan lembar kerja, anak juga sudah mengerjakannya sendiri. Ketika istirahat, anak sudah mau bergabung bersama teman-temannya dan sudah ada beberapa yang mau makan bekalnya sendiri. Tetapi pada pertemuan keenam sampai kedelapan, ada satu anak yang menajdi kendor kemandiriannya dengan keadaan lingkungan barunya.
B. Hasil Pengamatan
Untuk lebih mengetahui sejauh mana peningkatan kemandirian anak melalui metode pembiasaan pada pelaksanaan siklus I, penelitu menghitung presentase dari setiap aspek yang dinilai dalam indikator.Hasil pengamatan terhadap kemandirian anak, dapat dilihat pada tabel 6.1 dan tabel 6.2 rekapitulasi data siklus 1.
Berdasarkan rekapitulasi data, hasil pengamatan karakter kemandirian anak melalui metode pembiasaan yang dilakukan setelah tindakan dibandingkan dengan kondisi awal selama proses pembelajaran terurai sebagai berikut :
1) Dilihat dari setiap aspek
a) Aspek bergabung dan bermain bersama teman, pada kondisi awal untuk kriteria belum muncul sebesar 20%, sedangkan pada siklus I pertemuan VIII untuk kriteria belum muncul tidak ada. Dalam aspek ini, anak-anak sudah berkembang sangat baik hingga mencapai 60% dengan jumlah anak 3 orang.
b) Aspek berpisah dengan orangtua, pada kondisi awal untuk kriteria belum muncul sebesar 80%. Sedangkan pada siklus I pertemuan VIII untuk kriteria belum muncul tidak ada, bahkan menunjukkan peningkatan pada kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) sebesar 80% dengan jumlah anak 4 orang.
c) Aspek membereskan alat tulis dan peralatan sekolah sendiri, pada kondisi awal untuk kriteria belum muncul sebesar 60%. Sedangkan pada siklus I pertemuan VIII untuk kriteria belum muncul tidak ada, bahkan pada aspek ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 100% pada kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB).
d) Aspek makan sendiri, pada kondisi awal menunjukkan kriteria belum muncul sebesar 60%. Tetapi saat dilakukan tindakan pada siklus I pertemuan VIII menunjukkan tidak ada persentase untuk kriteria belum
muncul. Kriteria mulai muncul pada kondisi awal sebesar 40%, pada pertemuan VIII turun menjadi 20% dan terlihat peningkatan pada kriteria Berkembang Sangat Baik sebesar 80%.
e) Aspek mengerjakan aktivitas belajar sendiri pada kondisi awal kriteria belum muncul menunjukkan persentase sebesar 60%. Saat dilakukan tindakan pada siklus I pertemuan VIII terlihat bahwa untuk kriteria belum muncul tidak ada. Tetapi untuk kriteria Mulai Muncul (MM) terlihat sebesar 20%, Berkembang Sesuai Harapan (BSH) menunjukkan persentase sebesar 20% dan Berkembang Sangat Baik (BSB) menunjukkan persentase sebesar 60%.
2) Dilihat dari rata-rata semua aspek
Dengan membandingkan penilaian semua aspek yang dinilai antara kondisi awal dengan siklus I (pertemuan I-VIII), menunjukkan bahwa rata-rata pada kondisi awal kriteria belum muncul sebesar 56%, mulai muncul 36% dan berkembang sesuai harapan 8%. Sedangkan rata-rata semua aspek pada siklus 1 pertemuan I, belum muncul 12%, mulai muncul 16%, berkembang sesuai harapan 24%, berkembang sangat baik 48%. Pada pertemuan II menunjukkan belum muncul 12%, mulai muncul 20%, berkembang sesuai harapan 24%, berkembang sangat baik 48%. Pertemuan III belum muncul tidak ada, mulai muncul 24%, berkembang sesuai harapan 24%, berkembang sangat baik 56%. Pertemuan IV belum muncul tidak ada, mulai muncul 16%, berkembang sesuai harapan 28%, berkembang sangat baik 56%. Pertemuan V belum muncul tidak ada, mulai muncul 12%, berkembang sesuai harapan 16%, berkembang sangat baik 72%.
Pertemuan VI belum muncul tidak ada, mulai muncul 12%, berkembang sesuai harapan 16%, berkembang sangat baik 72%. Pertemuan VII belum muncul tidak ada, mulai muncul 12%, berkembang sesuai harapan 12%, berkembang sangat baik 76%. Pertemuan VIII belum muncul tidak ada, mulai muncul 8%, berkembang sesuai harapan 16%, berkembang sangat baik 76%.
Dari uraian di atas, maka dapat diketahui hasil pengamatan terhadap kemandirian anak melalui metode pembiasaan pada siklus I pada semua aspek dibandingkan dengan kondisi awal yang tergambar pada tabel 7, dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 7. Data Tingkat Kemandirian Anak Melalui Metode Pembiasaan Siklus I
No. Kriteria Persentase (%)
Pra Tindakan Siklus I
1 Belum Muncul 56 -
2 Mulai Muncul 36 8
3 Berkembang Sesuai Harapan 8 16
4 Berkembang Sangat Baik - 76
Dari hasil data pada tabel 7, dapat diketahui kemandirian anak melalui metode pembiasaan pra tindakan dibandingkan setelah tindakan pada siklus I, menunjukkan penurunan pada kriteria belum muncul, tidak ada persentase. Kriteria mulai muncul mengalami penurunan sebesar 28% sehingga menunjukkan persentase sebesar 8%. Kriteria berkembang sesuai harapan meningkat hingga 16%. Untuk kriteria berkembang sangat baik meningkat hingga 76%.
Pada siklus I anak-anak cukup antusias mengerjakan setiap aktivitas belajar yang diberikan peneliti. Namun, peneliti mengalami kendala, diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Peneliti memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan anak-anak supaya anak-anak merasa nyaman saat peneliti melakukan penelitian. Rasa nyaman ini akan membantu peneliti dalam menerapkan metode pembiasaan untuk kemandirian anak. Rasa nyaman yang muncul menjadikan anak tidak khawatir bila jauh dari orangtuanya selama proses pembelajaran berlangsung.
2) Peneliti membutuhkan kesabaran dan waktu untuk membujuk orangtua agar tidak terlalu dekat dengan anak. Sebab, apabila tidak ada kerjasama dari orangtua, penelitian ini akan terganggu dan karakter kemandirian anak tidak muncul. Anak akan terus bergantung pada orangtua.
3) Terdapat satu anak yang membujuk teman lainnya untuk menjauhi salah satu anak. Sehingga, peneliti harus memberi pengertian yang dapat diterima anak-anak lainnya supaya mau bergabung dengan temannya tanpa membeda-bedakan atau menjauhi teman lainnya.
4) Adanya orang baru, membuat salah satu anak ada yang menjadi kendor kemandiriannya. Hal ini dapat disebabkan karena anak malu dan tidak nyaman. Sehingga, peneliti harus lebih menuangkan perhatian pada satu anak ini tetapi tidak meninggalkan perhatian pada anak-anak yang lain.
Berdasarkan hasil penelitian untuk mengurangi kelemahan-kelemahan dan meningkatkan keberhasilan pada siklus I, maka perlu diadakan siklus II. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada siklus II selanjutnya adalah sebagai berikut :
1) Pendekatan kepada orangtua anak harus lebih ditingkatkan dengan kesabaran dan pada saat mengobrol bersama.
2) Memberikan pujian pada anak harus lebih sering untuk memotivasi diri anak supaya lebih antusias dalam mengerjakan aktivitas secara mandiri dan mau bergabung bersama teman dan guru tanpa ragu-ragu dan malu-malu.
3) Memahami apa yang disukai anak-anak sehingga anak-anak menjadi nyaman dengan peneliti dan mau ditinggal oleh orangtuanya.
4.2.3 Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Pelaksanaan siklus II ini dilaksanakan sebanyak 8 kali pertemuan yaitu pada hari Senin 29 September 2014, Selasa 30 September 2014, Kamis 2 Oktober 2014, Jumat 3 Oktober 2014, dengan menggunakan tema Kebutuhanku, sub tema Makanan dan Minuman dan aktivitas belajar yang berbeda di setiap pertemuan. Senin 6 Oktober 2014, Selasa 7 Oktober 2014, Kamis 9 Oktober 2014 dan Jumat 10 Oktober 2014 dengan menggunakan tema Kebutuhanku, sub tema Kebersihan dan pokok bahasan yang berbeda di setiap pertemuan. Berikut ini adalah proses pelaksanaan siklus II yang dimulai dari tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
1. Perencanaan Siklus II
Melihat keadaan dalam pelaksanaan siklus I masih ada beberapa kendala, maka dalam tahap perencanaan tindakan siklus II ini perlu diadakan suatu rencana perbaikan atau perubahan dalam pelaksanaan pada siklus II sehingga kendala-kendala yang terjadi pada siklus I dapat teratasi. Langkah-langkah pembelajaran
pada siklus II ini sama seperti pada siklus I, namun ditambah rencana tindakan yang akan dilakukan pada siklus II untuk perbaikan yaitu :
a. Mensosialisasikan kembali dengan lebih dekat kepada orangtua anak supaya sudah meninggalkan anak-anak.
b. Memberikan dorongan kepada anak-anak supaya mau mengerjakan aktivitas pembelajaran sendiri
c. Peneliti lebih banyak menggunakan media pembelajaran yang menarik supaya anak-anak lebih dekat dengan peneliti dan tidak lagi mencari orangtuanya.
2. Pelaksanaan Siklus II
Pelaksanaan tindakan pada siklus II dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat serta berdasarkan pada refleksi yang sudah dilakukan. Berikut ini deskripsi proses pelaksanaan tindakan siklus II:
a. Pertemuan Pertama Siklus II
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin, 29 September 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Makanan dan Minuman. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Dengan pemberitahuan sebelumnya bahwa orangtua anak sudah menjauh dari anak bahkan untuk mengamati anak dari luar kelas atau ditinggal.
Peneliti langsung menjemput anak yang tiba di halaman sekolah dan menyapa dengan ramah. Lalu mengajak anak untuk masuk ke dalam kelas. Ini dimaksudkan supaya anak bisa lepas dan jauh dari orangtua. Di dalam kelas, sambil menunggu teman yang lainnya datang, anak bermain atau membaca buku
terlebih dahulu. Peneliti tetap mendampingi dan apabila ada anak yang tiba di sekolah lagi, peneliti menjemput anak dan membawanya masuk ke dalam kelas.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Dengan penuh antusias, peneliti mengajak anak-anak untuk bergandengan tangan dengan teman yang lainnya membentuk sebuah lingkaran lalu bernyanyi bersama-sama. Anak-anak sudah menghiraukan orangtua mereka dan terus bernyanyi bersama peneliti dan teman-teman yang lain.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama. Peneliti bertanya jawab tidak lupa memperlihatkan beraneka ragam gambar-gambar tentang 4 sehat 5 sempurna. Peneliti menjelaskan materi sub tema dengan penuh ekspresi dan ceria, supaya anak-anak fokus terhadap materi dan peneliti.
Tiba waktunya untuk mengerjakan lembar aktivitas yang sudah peneliti sediakan. Anak-anak dengan antusias mengambil dan mengerjakan lembar kerja tersebut. Bahkan anak-anak sudah tidak meminta bantuan lagi kepada orangtua mereka untuk mengambil peralatan tulis dan mengerjakan lembar kerja. Setiap ada yang selesai mengerjakan lembar kerja dan sudah merapikan alat tulis, peneliti memberikan pujian “good, mengerjakan sendiri” dan mengacungkan jempol kepada anak-anak.
Saat istirahat, anak-anak sudah dapat bergabung bersama teman-temannya untuk bermain bersama dan makan bekal bersama. Anak-anak saling berbagi bekal mereka kepada teman-temannya. Orangtua anak juga sudah tampak duduk
dekat anak. Para orangtua sudah berada di luar kelas bahkan sudah meninggalkan anak.
b. Pertemuan Kedua Siklus II
Pertemuan keduadilaksanakan pada hari Selasa, 30 September 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Makanan dan Minuman. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Seperti hari sebelumnya, peneliti langsung menjemput anak yang tiba di halaman sekolah dan menyapa dengan ramah. Lalu mengajak anak untuk masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas, sambil menunggu teman yang lainnya datang, anak bermain atau membaca buku terlebih dahulu. Peneliti tetap mendampingi dan apabila ada anak yang tiba di sekolah lagi, peneliti menjemput anak dan membawanya masuk ke dalam kelas.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Dengan penuh antusias, peneliti mengajak anak-anak untuk bergandengan tangan dengan teman yang lainnya membentuk sebuah lingkaran lalu bernyanyi bersama-sama. Anak-anak sudah menghiraukan orangtua mereka dan terus bernyanyi bersama peneliti dan teman-teman yang lain.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama. Peneliti bertanya jawab dan memperlihatkan beraneka ragam gambar-gambar tentang macam-macam makanan dan minuman. Peneliti menjelaskan materi sub tema dengan penuh ekspresi dan ceria, supaya anak-anak tertarik terhadap materi dan peneliti sehingga anak-anak tidak lagi mencari orangtuanya. Ini terlihat pada pandangan anak-anak yang sudah memandang ke
depan. Tidak lagi menengok ke belakang untuk mencari orangtua mereka atau bahkan mengahampiri orangtua mereka.
Tiba waktunya untuk mengerjakan lembar aktivitas yang sudah peneliti sediakan. Anak-anak dengan antusias mengambil dan mengerjakan lembar kerja tersebut. Bahkan anak-anak sudah tidak meminta bantuan lagi kepada orangtua mereka untuk mengambil peralatan tulis dan mengerjakan lembar kerja. Setiap ada yang selesai mengerjakan lembar kerja dan sudah merapikan alat tulis, peneliti memberikan pujian “anak hebat, sudah mengerjakan sendiri” dan mengacungkan jempol kepada anak-anak.
Saat istirahat tiba, anak-anak sudah dapat bergabung bersama teman-temannya untuk bermain bersama dan makan bekal bersama. Anak-anak saling berbagi bekal mereka kepada teman-temannya. Orangtua anak juga sudah tampak duduk dekat anak. Para orangtua sudah berada di luar kelas bahkan sudah meninggalkan anak setelah diantar ke sekolah.
c. Pertemuan Ketiga Siklus II
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Kamis, 2 Oktober 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Makanan dan Minuman. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Seperti hari sebelumnya, peneliti langsung menjemput anak yang tiba di halaman sekolah dan menyapa dengan ramah. Lalu mengajak anak untuk masuk ke dalam kelas. Ini dimaksudkan supaya anak bisa lepas dan jauh dari orangtua. Di dalam kelas, sambil menunggu teman yang lainnya datang, anak bermain, membaca buku bahkan ada yang bercerita kepada
peneliti. Peneliti tetap mendampingi dan apabila ada anak yang tiba di sekolah lagi, peneliti menjemput anak dan membawanya masuk ke dalam kelas.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Dengan penuh antusias, peneliti mengajk anak-anak untuk bergandengan tangan dengan teman yang lainnya membentuk sebuah lingkaran lalu bernyanyi bersama-sama. Anak-anak sudah menghiraukan orangtua mereka dan terus bernyanyi bersama peneliti dan teman-teman yang lain.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama. Peneliti bertanya jawab dan memperlihatkan beraneka ragam gambar-gambar tentang cara membuat makanan dan minuman sendiri. Peneliti menjelaskan materi sub tema dengan penuh ekspresi dan ceria, supaya anak-anak fokus terhadap materi dan peneliti.
Tiba waktunya untuk mengerjakan lembar aktivitas yang sudah peneliti sediakan. Anak-anak dengan antusias mengambil dan mengerjakan lembar kerja tersebut. Bahkan anak-anak sudah tidak meminta bantuan lagi kepada orangtua mereka untuk mengambil peralatan tulis dan mengerjakan lembar kerja. Setiap ada yang selesai mengerjakan lembar kerja dan sudah merapikan alat tulis, peneliti memberikan pujian “anak hebat sudah mengerjakan sendiri” sambilmengacungkan jempol kepada anak-anak.
Saat istirahat, anak-anak sudah dapat bergabung bersama teman-temannya untuk bermain bersama dan makan bekal bersama. Anak-anak saling berbagi
bekal mereka kepada teman-temannya. Orangtua anak juga sudah tampak dekat anak.
d. Pertemuan Keempat Siklus II
Pertemuan keempat inidilaksanakan pada hari Jumat, 3 Oktober 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Makanan dan Minuman. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Seperti hari sebelumnya, peneliti langsung menjemput anak yang tiba di halaman sekolah dan menyapa dengan ramah. Lalu mengajak anak untuk masuk ke dalam kelas. Ini dimaksudkan supaya anak bisa lepas dan jauh dari orangtua. Di dalam kelas, sambil menunggu teman yang lainnya datang, anak bermain, membaca buku bahkan ada yang bercerita kepada peneliti. Peneliti tetap mendampingi dan apabila ada anak yang tiba di sekolah lagi, peneliti menjemput anak dan membawanya masuk ke dalam kelas.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Dengan penuh antusias, peneliti mengajak anak-anak untuk bergandengan tangan dengan teman yang lainnya membentuk sebuah lingkaran lalu bernyanyi bersama-sama. Anak-anak sudah menghiraukan orangtua mereka dan terus bernyanyi bersama peneliti dan teman-teman yang lain.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama. Peneliti bertanya jawab dan memperlihatkan beraneka ragam gambar-gambar tentang makanan dan minuman sehat dan tidak sehat. Peneliti
menjelaskan materi sub tema dengan penuh ekspresi dan ceria, supaya anak-anak fokus terhadap materi dan peneliti.
Tiba waktunya untuk mengerjakan lembar aktivitas yang sudah peneliti sediakan. Anak-anak dengan antusias mengambil dan mengerjakan lembar kerja tersebut. Bahkan anak-anak sudah tidak meminta bantuan lagi kepada orangtua mereka untuk mengambil peralatan tulis dan mengerjakan lembar kerja. Setiap ada yang selesai mengerjakan lembar kerja dan sudah merapikan alat tulis, peneliti memberikan pujian “anak hebat sudah mengerjakan sendiri” sambilmengacungkan jempol kepada anak-anak.
Saat istirahat, anak-anak sudah dapat bergabung bersama teman-temannya untuk bermain bersama dan makan bekal bersama. Anak-anak saling berbagi bekal mereka kepada teman-temannya. Orangtua anak juga sudah tampak dekat anak.
e. Pertemuan Kelima Siklus II
Pertemuan kelima ini dilaksanakan pada hari Senin, 6 Oktober 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Kebersihan. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Seperti pertemuan sebelumnya, peneliti langsung menjemput anak yang tiba di halaman sekolah dan menyapa dengan ramah. Lalu mengajak anak untuk masuk ke dalam kelas. Ini dimaksudkan supaya anak bisa lepas dan jauh dari orangtua. Di dalam kelas, sambil menunggu teman yang lainnya datang, anak bermain, membaca buku bahkan ada yang bercerita kepada peneliti. Peneliti tetap mendampingi dan apabila ada anak yang tiba di sekolah lagi, peneliti menjemput anak dan membawanya masuk ke dalam kelas.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Dengan penuh antusias, peneliti mengajk anak-anak untuk bergandengan tangan dengan teman yang lainnya membentuk sebuah lingkaran lalu bernyanyi bersama-sama. Anak-anak sudah menghiraukan orangtua mereka dan terus bernyanyi bersama peneliti dan teman-teman yang lain.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama yaitu tentang kebersihan. Peneliti bertanya jawab tentang kebersihan dengan menunjukkan gambar-gambar gaya hidup bersih. Saat menunjukkan gambar-gambar tersebut, peneliti juga memberikan nasehat supaya belajar bersih diri sendiri. Seperti mandi sendiri, gosok gigi sendiri, cuci tangan sebelum makan, dan membantu orangtua untuk membersihkan rumah. Anak-anak menanggapinya dengan aktif.
Tiba waktunya untuk mengerjakan lembar aktivitas yang sudah peneliti sediakan. Anak-anak dengan antusias mengambil dan mengerjakan lembar kerja tersebut. Bahkan anak-anak sudah tidak meminta bantuan lagi kepada orangtua mereka untuk mengambil peralatan tulis dan mengerjakan lembar kerja. Setiap ada yang selesai mengerjakan lembar kerja dan sudah merapikan alat tulis, peneliti memberikan pujian “anak hebat sudah mengerjakan sendiri” sambilmelakukan “toooss” kepada anak-anak.
Saat istirahat, anak-anak sudah dapat bergabung bersama teman-temannya untuk bermain bersama dan makan bekal bersama. Anak-anak saling berbagi
bekal mereka kepada teman-temannya. Orangtua anak juga sudah tampak dekat anak.
f. Pertemuan Keenam Siklus II
Pertemuan keenamini dilaksanakan pada hari Selasa, 7 Oktober 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Kebersihan. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Seperti pertemuan sebelumnya, peneliti langsung menjemput anak yang tiba di halaman sekolah dan menyapa dengan ramah. Lalu mengajak anak untuk masuk ke dalam kelas. Ini dimaksudkan supaya anak bisa lepas dan jauh dari orangtua. Di dalam kelas, sambil menunggu teman yang lainnya datang, anak bermain, membaca buku bahkan ada yang bercerita kepada peneliti. Peneliti tetap mendampingi dan apabila ada anak yang tiba di sekolah lagi, peneliti menjemput anak dan membawanya masuk ke dalam kelas.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Dengan penuh antusias, peneliti mengajk anak-anak untuk bergandengan tangan dengan teman yang lainnya membentuk sebuah lingkaran lalu bernyanyi bersama-sama. Anak-anak sudah menghiraukan orangtua mereka dan terus bernyanyi bersama peneliti dan teman-teman yang lain.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama yaitu tentang kebersihan. Peneliti bertanya jawab tentang kebersihan dengan menunjukkan gambar cara mencuci tangan. Lalu bersama dengan peneliti menirukan gerakan cuci tangan dan gosok gigi.
Tiba waktunya untuk mengerjakan lembar aktivitas yang sudah peneliti sediakan. Anak-anak dengan antusias mengambil dan mengerjakan lembar kerja tersebut. Bahkan anak-anak sudah tidak meminta bantuan lagi kepada orangtua mereka untuk mengambil peralatan tulis dan mengerjakan lembar kerja. Setiap ada yang selesai mengerjakan lembar kerja dan sudah merapikan alat tulis, peneliti memberikan pujian “anak hebat sudah mengerjakan sendiri” sambil melakukan “toooss” kepada anak-anak.
Saat istirahat tiba, anak-anak secara mandiri mengeluarkan bekal makanan mereka yang sudah dibawa dari rumah. Bahkan, ada juga yang berbagi bekal makanan dengan temannya. Lalu mereka bergabung dan bermain bersama-sama tanpa disuruh.
g. Pertemuan Ketujuh Siklus I
Pertemuan ketujuhini dilaksanakan pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Kebersihan. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Seperti pertemuan sebelumnya, peneliti langsung menjemput anak yang tiba di halaman sekolah dan menyapa dengan ramah. Lalu mengajak anak untuk masuk ke dalam kelas. Ini dimaksudkan supaya anak bisa lepas dan jauh dari orangtua. Di dalam kelas, sambil menunggu teman yang lainnya datang, anak bermain, membaca buku bahkan ada yang bercerita kepada peneliti. Peneliti tetap mendampingi dan apabila ada anak yang tiba di sekolah lagi, peneliti menjemput anak dan membawanya masuk ke dalam kelas.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Dengan penuh antusias, peneliti mengajak anak-anak untuk bergandengan tangan
dengan teman yang lainnya membentuk sebuah lingkaran lalu bernyanyi bersama-sama. Anak-anak sudah menghiraukan orangtua mereka dan terus bernyanyi bersama peneliti dan teman-teman yang lain.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama yaitu tentang kebersihan. Peneliti bertanya jawab tentang kebersihan dengan menunjukkan gambar-gambar tentang alat-alat kebersihan. Anak-anak sangat senang ketika peneliti menunjukkan gambar-gambar tersebut dan bertanya nama alat kebersihan dan kegunaanya dengan permainan tebak-tebakan.
Tiba waktunya untuk mengerjakan lembar aktivitas yang sudah peneliti sediakan. Anak-anak dengan antusias mengambil dan mengerjakan lembar kerja tersebut. Bahkan anak-anak sudah tidak meminta bantuan lagi kepada orangtua mereka untuk mengambil peralatan tulis dan mengerjakan lembar kerja. Setiap ada yang selesai mengerjakan lembar kerja dan sudah merapikan alat tulis, peneliti memberikan pujian “anak hebat sudah mengerjakan sendiri” sambil melakukan “toooss” kepada anak-anak.
Saat istirahat tiba, anak-anak secara mandiri mengeluarkan bekal makanan mereka yang sudah dibawa dari rumah. Bahkan, ada juga yang berbagi bekal makanan dengan temannya. Lalu mereka bergabung dan bermain bersama-sama tanpa disuruh.
Pertemuan kedelapan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 10 Oktober 2014 dengan tema Kebutuhanku dan Sub Tema Kebersihan. Jumlah anak yang mengikuti sebanyak 5 anak. Seperti pertemuan sebelumnya, peneliti langsung menjemput anak yang tiba di halaman sekolah dan menyapa dengan ramah. Lalu mengajak anak untuk masuk ke dalam kelas. Ini dimaksudkan supaya anak bisa lepas dan jauh dari orangtua. Di dalam kelas, sambil menunggu teman yang lainnya datang, anak bermain, membaca buku bahkan ada yang bercerita kepada peneliti. Peneliti tetap mendampingi dan apabila ada anak yang tiba di sekolah lagi, peneliti menjemput anak dan membawanya masuk ke dalam kelas.
Tiba circle time, peneliti mengajak anak-anak dengan penuh keceriaan. Dengan penuh antusias, peneliti mengajak anak-anak untuk bergandengan tangan dengan teman yang lainnya membentuk sebuah lingkaran lalu bernyanyi bersama-sama. Anak-anak sudah menghiraukan orangtua mereka dan terus bernyanyi bersama peneliti dan teman-teman yang lain.
Setelah bernyanyi bersama, peneliti mengajak anak-anak untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang tema dan sub tema yang akan dipelajari bersama yaitu tentang kebersihan. Peneliti bertanya jawab tentang kebersihan dengan menunjukkan gambar-gambar tentang akibat hidup kotor dan hidup bersih. Anak-anak sangat senang ketika peneliti menunjukkan gambar-gambar tersebut. Anak-anak juga langsung merespon dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan anak-anak bercerita pernah ada yang perutnya sakit, lalu dibawa ke dokter untuk diperiksa, ada pula yang bererita lantai rumah menjadi bersih, dan seterusnya.
Tiba waktunya untuk mengerjakan lembar aktivitas yang sudah peneliti sediakan. Anak-anak dengan antusias mengambil dan mengerjakan lembar kerja tersebut. Bahkan anak-anak sudah tidak meminta bantuan lagi kepada orangtua mereka untuk mengambil peralatan tulis dan mengerjakan lembar kerja. Setiap ada yang selesai mengerjakan lembar kerja dan sudah merapikan alat tulis, peneliti memberikan pujian “anak hebat sudah mengerjakan sendiri” sambil melakukan “toooss” kepada anak-anak.
Saat istirahat tiba, anak-anak secara mandiri mengeluarkan bekal makanan mereka yang sudah dibawa dari rumah. Bahkan, ada juga yang berbagi bekal makanan dengan temannya. Lalu mereka bergabung dan bermain bersama-sama tanpa disuruh.
3. Pengamatan Siklus II
Observasi dilakukan oleh peneliti selama penelitian berlangsung. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti terhadap proses pembelajaran tentang kemandirian anak pada siklus II dapat dilihat sebagai berikut :
A. Proses belajar
Selama proses pembelajaran mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir, anak melakukan berbagai kegiatan pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Berdasarkan pengamatan pada siklus II, peneliti mengamati proses belajar kemandirian anak dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Anak mendengarkan penjelasan peneliti
Pada pelaksanaan siklus II di setiap pertemuan mengalami peningkatan. Anak mendengarkan perintah dan penjelasan guru sehingga anak bisa
melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mandiri. Anak lebih fokus terhadap materi yang dijelaskan guru. Ini terlihat saat anak-anak tidak lagi sedikit-sedikit menengok pada orangtua mereka dan pandangan mereka sudah tertuju pada guru.
2) Keaktifan anak dalam pembelajaran
Pada pelaksanaan siklus II disetiap pertemuan anak sudah lebih aktif. Hal tersebut terlihat pada saat guru mengajak anak-anak untuk bergandengan tangan membuat lingkaran saat bernyanyi bersama, anak-anak sudah berani untuk maju dan bergabung sendiri tanpa menggandeng orang tua mereka. Selain itu, saat bercakap-cakap tentang tema dan sub tema, anak-anak sudah berani mengeluarkan pendapat, ide dan bertanya kepada peneliti selaku guru saat proses pembelajara berlangsung.
3) Kemandirian anak dalam proses pembelajaran
Dengan adanya pembiasaan yang dilakukan guru serta adanya kerjasama baik dengan orangtua untuk meninggalkan anak-anak, proses pembelajaran yang berlangsung terlihat aktif dan anak-anak sudah dapat mengerjakan aktivitas mereka selama proses pembelajaran berlangsung mulai dari circle time sampai akhir pembelajaran dengan mandiri. Bahkan, anak-anak sendiri yang menyuruh orangtuanya untuk menjauh dari anak-anak.
B. Hasil Pengamatan
Untuk lebih mengetahui sejauh mana peningkatan kemandirian anak pada pelaksanaan tindakan siklus II, peneliti menghitung persentase dari setiap aspek yang dinilai dalam indikator seperti yang terlihat pada rekapitulasi data tabel 8.1 dan tabel 8.2
Berdasarkan hasil rekapitulasi data pada tabel 8.1 dan 8.2 dapat diketahui bahwa kemandirian pada anak melalui metode pembiasaan adalah sebagai berikut:
a) Bergabung dan bermain bersama teman pada kriteria berkembang sangat baik dengan persentase dari 60% menjadi 80%.
b) Berpisah dengan orangtua tanpa menangis pada kriteria berkembang sangat baik dengan persentase dari 80% tetap pada 80%.
c) Membereskan alat tulis dan peralatan sekolah sendiri pada kriteria berkembang sangat baik dengan persentase dari 100% tetap pada 100%. d) Makan sendiri pada kriteria berkembang sangat baik dengan persentase
dari 80% tetap pada 80%.
e) Mengerjakan aktivitas belajar sendiri pada kriteria berkembang sangat baik dengan persentase dari 60% menjadi 80%.
Berdasarkan data gambar 3, hasil pengamatan terhadap kemandirian anak dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
0 20 40 60 80 100 120 bergabung dan bermain bersama teman berpisah dengan orangtua tanpa menangis membereskan alat tulis dan
peralatan sekolah sendiri
makan sendiri mengerjakan
aktivitas belajar sendiri
Per
sen
tase
Gambar 3. Grafik Rekapitulasi Data Siklus I dan II Peningkatan Kemandirian Pada Kriteria Berkembang Sangat Baik
siklus I siklus II
Tabel 9. Data Tingkat Kemandirian Anak Siklus II
No. Kriteria Persentase (%)
Pra Tindakan Siklus I Siklus II 1. Belum Muncul 56 - - 2. Mulai Muncul 36 8 - 3. Berkembang Sesuai Harapan 8 16 16
4. Berkembang Sangat Baik - 76 85
Dari hasil data pada tabel 9, dapat diketahui peningkatan kemandirian anak dari sebelum tindakan mengalami perubahan setelah adanya tindakan yang dilakukan pada siklus I dan siklus II.
Gambar 4. Grafik Data Peningkatan Kemandirian Anak Siklus II
Pada kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB), di kondisi awal belum terlihat. Namun, setelah tindakan siklus I meningkat sebesar 76 % dan setelah siklus II meningkat menjadi 85%. Pada kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dari siklus I 16% dan pada siklus II tetap 16%. Pada Kriteria Mulai Muncul (MM) dari siklus I sebesar 8% dan setelah siklus II tidak nampak.
56 36 8 0 0 8 16 76 0 0 16 85 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Belum Muncul Mulai Muncul Berkembang Sesuai
Harapan
Berkembang Sangat Baik
Kemudian pada kriteria Belum Muncul (BM) pada siklus I dan siklus II sudah tidak nampak.
Ditinjau dari hasil pengamatan peneliti, pembelajaran pada siklus II sudah berjalan baik dan berhasil. Data yang diperoleh dari hasil check list dan observasi pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II tentang kemandirian anak dapat diklasifikasikan baik dan indikator keberhasilan yang diharapkan telah memenuhi kriteria yaitu lebih dari 80%.
4. Refleksi Siklus II
Pada pelaksanaan tindakan di siklus II, anak lebih mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Kemandirian anak dalam aspek yang diamati sudah menunjukkan perubahan yaitu seperti yang terlihat dari aspek bergabung dan bermain bersama teman sudah menunjukkan perubahan mulai dari belum muncul hingga menjadi berkembang sangat baik. Selain itu pada aspek bepisah dengan orangtua tanpa menangis juga menunjukkan perubahan mulai dari adanya kenampakan pada kriteria belum muncul sampai pada hasil tidak ada kenampakan pada kriteria belum muncul. Pada aspek membereskan alat tulis dan peralatan sekolah sendiri, makan sendiri dan mengerjakan aktivitas belajar sendiri, menunjukkan perubahan mulai dari adanya kenampakan pada kriteria belum muncul sampai tidak adanya kenampakan pada kriteria belum muncul.
Dalam pelaksanaan di siklus II, peneliti tidak menemukan kendala yang berarti. Hal tersebut dikarenakan sudah dilakukan perbaikan dalam perencanaan sebelum melakukan tindakan di siklus II. Suasana kelas juga lebih aktif dibandingkan dengan siklus I. Anak-anak juga sudah tidak terlihat menengok atau
mencari orangtua mereka lagi.Dengan melihat hasil peningkatan kemandirian anak pada siklus II, peneliti memutuskan untuk menghentikan tindakan.
4.3 Pembahasan
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah peningkatan kemandirian anak usia 3-4 tahun melalui metode pembiasaan. Kurang berkembangnya kemandirian anak disebabkan karena beberapa hal :
1) Media dan metode pembelajaran yang digunakan untuk menjelaskan materi pembelajaran kurang menarik. Sehingga anak lebih dekat dengan orangtua.
2) Ketegasan akan kerjasama dengan orangtua menjadi hal pokok dalam kemandirian anak karena apabila di satu ruangan kelas orangtua tetap mendampingi anak, yang muncul adalah keributan sendiri antara orangtua anak. Selain itu juga anak menjadi bergantung terus pada orangtua karena merasa bahwa masih dekat dengan orangtua.
Informasi yang diperoleh dari orangtua setelah melakukan tindakan pada siklus I, menyatakan bahwa anak-anak mereka sudah tidak begitu merepotkan karena anak sudah mau mengambil sendiri baik lembar kerja atau mainan, mengerjakan lembar sendiri dan sudah mau ikut bermain bersama teman-temannya.
Hasil yang diperoleh pada pra tindakan dan pelaksanaan siklus I apabila dibandingkan terlihat sudah ada peningkatan, namun belum mencapai indikator keberhasilan yang diharapkan peneliti. Sehingga, perlu diadakan siklus II karena pada pelaksanaan siklus I terdapat beberapa kendala yang dihadapi pada saat
pelaksanaan siklus I. Dengan demikian, perlu dilaksanakan suatu perbaikan dalam siklus II agar indikator keberhasilan yang diharapkan dapat tercapai.
Dari kendala-kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan siklus I, maka dilakukan perbaikan-perbaikan agar kendala yang ada dapat teratasi. Adapun perbaikan tersebut adalah Pendekatan kepada orangtua anak harus lebih ditingkatkan dengan kesabaran dan pada saat mengobrol bersama (tidak secara formal), memberikan pujian pada anak harus lebih sering untuk memotivasi diri anak supaya lebih antusias dan percaya diri, memahami apa yang disukai anak-anak (meliputi media dan metode pembelajaran saat menyampaikan materi) sehingga anak-anak menjadi nyaman dan tertarik dengan peneliti serta mau ditinggal oleh orangtuanya. Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan dalam siklus II, ternyata hasil yang diperoleh mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada setiap aspek kemandirian anak.
Penelitian ini telah menghasilkan bahwa melalui metode pembiasaan dapat meningkatkan kemandirian anak usia 3-4 tahun di Kelompok Bermain Satya Parahita. Peningkatan kemandirian ini terbukti dengan adanya peningkatan jumlah persentase kemandirian anak pada kategori berkembang sangat baik dari pra tindakan dan setelah tindakan yang selalu meningkat. Hal ini sesuai dengan Konsep Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal (2007) dimana dalam hal kemandirian, anak usia 3-4 tahun perlu dilatih secara rutin dan berulang-ulang untuk mandiri supaya anak tidak bergantung terus menerus pada orang lain. Melatih anak usia prasekolah secara terus menerus dan
berulang-ulang dalam bentuk pengalaman seperti yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner dalam teori belajar behavioristik (Nizwa Ayuni, 2011).
Kegiatan atau aktivitas yang dilakukan anak pra sekolah dalam hal kemandirian, dapat dilakukan melalui metode pembiasaan. Dimana dalam metode ini, anak dibiasakan dalam rutinitas kegiatannya berusaha untuk mengerjakannya sendiri dengan sedikit bantuan atau pun tidak dengan bantuan. Dengan demikian, anak-anak akan terbiasa untuk tidak bergantung pada orang lain.
Hasil penelitian tentang kemandirian anak yang diindikasikan dari persentase masing-masing aspek kemandirian pada pra tindakan dan setelah tindakan. Dimana masing-masing aspek yang dinilai di setiap siklus menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.
Kemampuan yang meningkat pada kriteria berkembang sangat baik antara lain pada aspek bergabung dan bermain bersama teman pada kondisi awal belum terlihat, tetapi setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 60% dan meningkat lagi pada siklus II sebesar 80%. Aspek berpisah dengan orangtua, pada kondisi awal belum terlihat, tetapi setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 80% dan stabil pada siklus II sebesar 80%. Aspek membereskan alat tulis dan peralatan sekolah, pada kondisi awal belum terlihat, tetapi setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 100% dan stabil pada siklus II sebesar 100%. Aspek makan sendiri, pada kondisi awal belum terlihat, tetapi setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 80% dan stabil pada siklus II sebesar 80%. Aspek mengerjakan aktivitas belajar sendiri, pada kondisi awal belum terlihat, tetapi
setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan sebesar 60% dan meningkat lagi pada siklus II sebesar 80%.
Dilihat dari persentase setiap aspek dalam kemandirian anak pada siklus II sudah terjadi peningkatan persentase dari siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa revisi pada siklus II mempunyai dampak yang berarti terhadap kemandirian anak. Melalui tindakan siklus II ini ternyata telah mencapai lebih dari 80%. Dapat dikemukakan bahwa pelaksanaan metode pembiasaan untuk meningkatkan kemandirian anak sudah menunjukkan adanya kemanfaatan.
Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa hasil penelitian ini mendukung penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Riska Yulanda, Indri Astuti, Sutarmanto (2013), Muktisari (2011), Tuti Rohmah (2013), Edi Sulis Purwanto (2009) yang membuktikan bahwa kemandirian anak dapat terwujud dengan melakukan pembiasaan pada kegiatan atau aktivitas anak dalam pembelajaran. Selain itu dalam penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembiasaan yang dilakukan tidak terlepas dari kerjasama baik dengan orangtua anak untuk dapat mencapai indikator pada lingkup perkembangan anak.