BAB III CREDIT UNION „ABDI RAHAYU‟ PAROKI
5.1 Refleksi Teologis
Solidaritas Allah kepada manusia dinyatakan dengan mengutus Putra Tunggal-Nya ke dunia. Yesus diutus Allah, hadir dalam kenyataan dunia dengan segala permasalahannya. Selama Yesus berkarya di tengah bangsanya, Ia sangat dekat dengan mereka yang sakit dan membutuhkan pertolongan. Yesus menyembuhkan orang sakit, buta, lumpuh, kerasukan setan dan sebagainya, menunjukkan bahwa Yesus sangat peka terhadap setiap penderitaan manusia. Yesus tidak hanya berbicara dan menguraikan penderitaan dalam pengajaran, melainkan juga merangkul, memeluk penderitaan dan menjadikannya bagian dari hidup-Nya.
Yesus mengerjakan berbagai mukjizat menjadi tanda bahwa Allah peduli pada kesengsaraan umat-Nya dan memberi kekuatan. Allah menyertai umat-Nya. Puncak dari peran serta Allah dalam sejarah hidup dan keselamatan manusia terjadi dalam diri Yesus, terutama dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Yesus merendahkan diri, mengenakan kelemahan manusia supaya Ia bisa memulihkan keadaan manusia sebagaimana diciptakan. Yesus menampilkan Allah bukan sebagai
118
pihak luar (outsider) tetapi ikut serta menjadi pelaku dalam sejarah keselamatan manusia.
Santo Irenius dari Lyon mengatakan:
“Solidarity with the whole of human life is taken up, as he passes through all ages. He pities the disobedience of Adam and replaces it with his own obedience. In his temptations he overcomes man’s defeat by the devil and destroys the adversary. His final trial on the cross extends his unlimited reign in the visible realm and his obedience reshapes humanity. In his incarnation and death Christ has gathered up (in compendio) the whole history of salvation and restored the image and likeness of God in man”39.
Yesus menampakan solidaritas Allah dengan menaruh belaskasihan pada ketidaktaatan Adam dan menggantinya dengan ketaatan-Nya. Ketaatan Sang Putra membaharui kemanusiaan. Dalam inkarnasi dan kematian, Kristus memulihkan gambar dan citra Allah dalam diri manusia yang rusak akibat dosa. Manusia diselamatkan oleh kasih yang menuntut suatu korban, sebagaimana pernah disabdakan oleh Tuhan Yesus, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).
Peristiwa mengagumkan itu mengundang manusia untuk beriman pada Sang Putra yang mencintai dan memberikan nyawa untuk semua orang40. Wafat Yesus merupakan kematian untuk kebaikan dan keselamatan manusia (bdk. 1 Kor 15:3-4)41. Namun, keselamatan bukan semata-mata suatu pemberian42 melainkan tawaran Allah, dan manusia diharapkan menanggapi tawaran keselamatan itu. Sehingga, keselamatan adalah gerak dinamis di mana manusia turut menanggapi tawaran keselamatan itu.
39 Eric Osborn, Irenaeus of Lyons, Cambridge University Press, Australia 2001, 116.
40 Ensiklik “Spe Salvi” (30 November 2007), oleh Paus Benediktus XVI, art. 26.
41 E. Martasudjita, Mencintai Yesus Kristus, Kanisius, Yogyakarta 2001, 103.
42 bdk. Ensiklik “Spe Salvi” (30 November 2007), art. 1.
119
Gereja melanjutkan dan mengambil bagian dalam tugas Kristus, yaitu mewartakan Kerajaan Allah (LG 5). Gereja menjadi aktual dan relevan bila mau hadir, menyapa dan menanggapi kebutuhan manusia sebagaimana dirumuskan dalam Konsili Vatikan II, “Kegembiraan dan Harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (GS 1).
Sehingga, Gereja tidak bisa menutup diri dari persoalan-persoalan yang dialami dunia saat ini. Orang lain tidak hanya mendengar tentang Kabar Gembira melainkan juga bisa mengalami Kabar Gembira itu.
Banyak orang mengalami ketidakberdayaan dalam membendung arus globalisasi. Arus globalisasi memang sangat bermanfaat karena banyak mempermudah manusia, misalnya alat-alat komunikasi, transportasi dan sebagainya.
Selain manfaat yang bisa diambil dari globalisasi, ada sisi negatif yang muncul yaitu konsumerisme. Situasi glamour, produk-produk yang menarik cenderung semakin menguasai manusia hingga manusia tidak bisa keluar dari situasi keterpurukan itu.
Seharusnya manusia bisa mengendalikan keadaan dunia dengan segala kemudahan dan kecanggihannya.
Andrew Yuengert menegaskan bahwa:
The development and spread of free markets have generated tremendous increases in material prosperity, and wider access to that prosperity. Along with all this new wealth, we have seen the rise of consumerism – large numbers of people acting as if goods alone will make them happy, and
120
organising their lives primarily around the pursuit of more and newer things43.
Perkembangan dan penyebaran supermarket, swalayan menyediakan barang-barang yang menarik dan menciptakan kebutuhan baru yaitu keinginan untuk memiliki barang-barang itu. Orang tidak lagi mempertimbangkan berdasarkan kebutuhan melainkan berdasarkan keinginan dan trend masa kini. Sehingga, kesejahteraan yang ditandai dengan perkembangan dan penyebaran supermarket membuka celah lebah pada perilaku konsumerisme. Sebagian besar orang bertindak seolah-olah barang-barang itu sendiri akan membuat mereka bahagia sehingga bisa menghalalkan segala cara agar bisa memiliki barang itu.
Sebagian besar responden masuk dalam kelompok sejahtera. Mereka berpenghasilan lebih dari Rp. 1.000.000,00 ditambah dengan hasil ketrampilan dan pendapatan lainnya (lih. Tabel 4.10). Pekerjaan yang nyaman dengan pendapatan tinggi tidak menjamin tercukupinya pengeluaran anggota. Penggunan uang pinjaman untuk kebutuhan tidak terduga cukup tinggi (20.5%) di bandingkan dengan penggunaan pinjaman untuk memperbaiki rumah dan biaya kesehatan. Kebutuhan tidak terduga, misalnya: nyumbang, perabotan rumah tangga, beli pakaian, biaya lebaran dan sebagainya. Oleh karena mengeluarkan uang lebih didasarkan pada keinginan bukan didasarkan pada kebutuhan maka berapapun jumlah pendapatan keluarga akan tetap bisa habis tanpa disadari. Mereka menyadari bahwa seberapapun
43 Andrew Yuengert, “Free Market and The Culture of Consumption”, dalam Philip Booth (ed.), Catholic Social Teaching and the Market Economy, The Institute of Economic Affairs, London 2007, 145.
121
besarnya pendapatan akan bisa tetap habis bila tidak dikelola secara bijaksana.
Mereka tetap bersikap rendah hati dan membuka diri dengan cara meminta bantuan CU. Mereka percaya bahwa CU bisa membantu mereka agar bisa mengatur keuangan keluarga (financial planning) secara tepat dan hemat. Oleh karena pengeluaran keluarga terencana maka bisa menyisihkan untuk ditabung.
CU bisa membantu mendidik anggota mengelola keuangan secara lebih baik.
Akan tetapi, masih ada anggota yang melakukan setoran baik angsuran maupun simpanan wajib secara rapel-an. Setoran rapel-an adalah menyetor simpanan wajib dan angsuran pinjaman satu kali untuk beberapa bulan. Sebenarnya yang menjadi acuan bukan supaya mudah atau supaya tidak telat setor sehingga anggota memilih setor dengan cara rapel. CU hendak membangun sikap ke-ajeg-an dalam menyimpan sehingga bisa terbangun sikap biasa menabung. Maka, anggota hendaknya menyetor angsuran dan Simpanan Wajib secara rutin tiap bulan agar terbangun sikap biasa menabung.
Andrew Yuengert mengatakan, “individualistic culture is the source of consumerism”44. Sikap individual yang menjadi sumber konsumerisme dibaharui dengan sikap solidaritas. Sikap serakah berubah menjadi kesanggupan untuk mempertaruhkan diri bagi kesejahteraan sesama dengan kesediaan menanggung resiko. Sikap dan tindakan haus kuasa berubah menjadi sikap melayani45. Solidaritas adalah komitmen untuk mengusahakan kejahteraan semua orang dan setiap orang
44 Andrew Yuengert, “Free Market and The Culture of Consumption”, 156.
45 J.B. Banawiratma, “Pilihan Mengutamakan Kaum Miskin Dalam Ajaran Sosial Gereja”, 172.
122
perorangan. Komitmen terhadap kesejahteraan bersama ini disertai dengan kesediaan untuk melayani sesama (bdk. Mat 20:26). Sehingga, solidaritas mencakup kesanggupan untuk mengatasi sikap individualistik. Setiap orang diundang untuk melakukan perubahan sikap hati. Mereka yang memiliki „kuasa‟ harus melawan keserakahan akan keuntungan, mengingkari kehausan akan kuasa dan melibatkan diri demi kesejahteraan bersama46. CU mendidik anggotanya tidak hanya menyejahterakan dirinya sendiri melainkan juga memperhatikan kebutuhan sesamanya. Dengan uang simpanan yang ada, seberapapun itu, masing-masing anggota bisa membantu sesamanya yang lebih membutuhkan tanpa merasa dirugikan.
Sehingga dengan demikian, CU mampu mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Injili yaitu cinta kasih dalam diri anggota.
Bentuk kepedulian Gereja kepada mereka yang tergolong KLMTD diwujudkan dalam penyaluran Dana Papa Miskin (DaPaMis). Pastor Paroki mengatakan bahwa selama ini tidak banyak umat yang mengajukan bantuan DaPaMis sehingga fund DaPaMis masih tersisa. DaPaMis adalah hak umat yang tergolong KLMTD maka seharusnya semua dana bisa disalurkan sesuai dengan maksudnya.
Pastor Paroki dan anggota Dewan perlu menjalin dialog dan kerja sama secara sinergis dengan para ketua lingkungan. Ketua Lingkungan adalah orang yang paling mengerti keadaan umat di lingkungannya, baik itu dari segi ekonomi, pendidikan, dan kekeluargaannya. Uang DaPaMis masih tersisa karena tidak banyak yang meminta bisa saja disebabkan oleh karena banyak umat yang belum mengetahui akan adanya
46 J.B. Banawiratma, “Pilihan Mengutamakan Kaum Miskin Dalam Ajaran Sosial Gereja”, 134.
123
bantuan DaPaMis. Maka yang perlu dilakukan adalah Ketua Lingkungan mensosialisasikan bantuan DaPaMis kepada umat lingkungan, dalam kesempatan pertemuan-pertemuan lingkungan.
Pastor Paroki dan anggota Dewan Paroki perlu mengkaji kembali kriteria pengajuan bantuan DaPaMis. Kriteria yang selama ini digunakan adalah umat yang berpendapatan di bawah UMR dan tidak mempunyai sepeda motor. Peraturan ini tidak membantu melainkan menghalangi umat untuk memperoleh bantuan padahal mereka amat memerlukan bantuan itu. Umat yang mempunyai pendapatan sesuai UMR dan memiliki sepeda motor tidak bisa meminta DaPaMis. Maka, Pastor juga perlu melihat jumlah anggota keluarga, dan jenis atau merk motor yang dimiliki.
Kalasan masuk dalam Kabupaten Sleman. Upah Minimum Kabupaten Sleman adalah Rp1.173.300,0047. Seorang umat yang mempunyai pendapatan sesuai UMR atau di atas UMR dengan jumlah anggota keluarga banyak juga bisa memperoleh bantuan DaPaMis. Sehingga, Pastor Paroki dan Anggota Dewan tidak hanya terpaku pada kriteria yang ada melainkan juga melihat secara lebih luas hal-hal yang terkait dengan kriteria itu.
Gereja masih melayani apa yang “nampaknya” menjadi kebutuhan umat.
Paroki memberi sembako kepada umat yang kekurangan sembako, memberi bantuan biaya pendidikan kepada umat yang tidak mampu membayar biaya pendidikan.
Paroki perlu memberikan bantuan karitatif sebagai bentuk kepedulian kepada
47 http://www.harianjogja.com/baca/2013/11/14/umk-2014-ini-daftar-upah-minimum-kabupatenkota-di-diy.
124
umatnya. Akan tetapi, bila dilakukan terus menerus, solidaritas dalam rupa bantuan material (uang dan barang) bisa menciptakan ketergantungan. Solidaritas yang diwujudkan adalah untuk membantu umat dalam meringankan penderitaan umat justru bisa menyengsarakan karena menciptakan situasi ketergantungan. Umat menjadi nyaman dengan keadaannya, tidak mau bangkit dari kelemahannya. Bentuk solidaritas bersifat bantuan dan tidak dimaksudkan agar umat mengalihkan tanggungjawab kepada Paroki. Oleh karena itu, Paroki perlu memberikan bantuan pada saat-saat tertentu, misal: Natal, Paskah musibah atau bencana alam. Selain itu, Paroki juga perlu menjalin kerjasama dengan para Ketua Lingkungan dan mencari informasi dari mereka terkait dengan umat yang layak menerima bantuan DaPaMis agar bantuan tepat sasaran. Sehingga dengan demikian bisa dilihat letak keterkaitan dan kekhususan antara kepedulian yang diberikan Paroki dan kepedulian yang diberikan Credit Union.
Solidaritas yang dibangun CU lebih pada kepedulian yang bersifat memberdayakan anggota. CU berupaya membantu umat agar memiliki daya untuk mengembangkan diri. Anggota diyakinkan bahwa setiap orang bisa mengembangkan perekonomiannya. CU membantu anggota agar menyadari rahmat yang bekerja atas dirinya. Rahmat Allah yang disadari memampukan manusia untuk bangkit dari kelemahannya. Manusia memperolah rahmat Allah yaitu keselamatan karena penebusan Kristus Sang Putra. Keselamatan itu bukan semata-mata pemberian melainkan butuh tanggapan dari manusia. Manusia menanggapi tawaran kasih Allah yaitu keselamatan dengan cara mengasihi-Nya dan mengasihi sesama (bdk. Yoh
125
13:34). Manusia mengasihi sesama dengan melibatkan diri sambil menyakini Allah sebagi Penolong agar dengan menolong, ia berjumpa dengan Allah. Sehingga, pelayanan menjadi bagian dari pewartaan Kabar Gembira karena melalui pelayanan ini Gereja menemukan dan menyuarakan rahmat yang sudah dan selalu berkarya dalam usaha manusia. Gereja melayani supaya orang lain menyadari bahwa rahmat Allah turut bekerja dalam diri mereka48.
CU sebagai salah satu sarana diakonia Gereja menciptakan kondisi-kondisi yang perlu bagi kesejahteraan umat. Kondisi-kondisi itu antara lain: adanya pendampingan berupa pendidikan saat menjadi anggota dan selama menjadi anggota terutama saat meminjam dan mengangsur, kemudahan dalam pengajuan pinjaman, bunga simpanan tinggi dan bunga pinjaman rendah, serta memberdayakan anggota agar bisa menabung.
CU tidak mengkondisikan agar anggota bisa meminjam (kredit) melainkan membantu anggota agar bisa menciptakan modal keuangan sendiri. Cara yang ditawarkan adalah memberikan bunga simpanan tinggi dan bunga pinjaman rendah dibandingkan bunga Bank, anggota boleh mengajukan pinjaman setelah 3 kali berturut-turut aktif sebagai anggota. Proses pinjaman pun cepat dan syarat mudah.
CU menentukan besar angsuran sesuai dengan dengan kemampuan masing-masing anggota. Pinjaman diutamakan untuk keperluan biaya pendidikan dan modal usaha (lih. Tabel 4.18a,b). CU tidak hanya memberi pinjaman tetapi anggota mempunyai tanggung jawab untuk mengangsur. Angsuran mendidik anggota
48 Albert Nolan OP, Yesus Sebelum Agama Kristen, Kanisius, Yogyakarta 1991, 65.
126
mempertanggungjawabkan uang pinjaman dengan cara mengembangkannya.
Anggota dididik menjadi proaktif anggota dalam mengembangkan uang agar bisa angsuran. Sehingga, anggota bisa sejahtera bila menanggapi tawaran dari kebijakan-kebijakan CU.