BAB II KAJIAN TEORI
D. Refleksiologi
Refleksologi adalah cara pengobatan dengan merangsang berbagai daerah refleks atau zona atau mikrosistem di kaki, tangan, dan telinga yang ada hubungannya dengan berbagai kelenjar, organ, dan bagian tubuh lainnya. Terapi itu dipercaya dapat memperkuat fungsi sistem limfatik yang mengusir racun dan zat berbahaya lain dari tubuh, sekaligus mengembalikan keseimbangan kimiawi tubuh dan meningkatkan imunitas. Refleksologi juga dapat memperbaiki keseimbangan potensi elektrikal dari berbagai bagian tubuh dengan memperbaiki
kondisi zona yang berhubungan. ( Hanni Sofia, http://www.kapanlagi.com/h/0000139075.html )
Pengobatan refleksologi diyakini bekerja seperti halnya akupuntur, akupresur, dan shiatsu dalam mengembalikan keselarasan aliran energi vital sepanjang meridian. Refleksologi berfungsi merangsang timbulnya konteriritasi. Tubuh manusia secara alami mempercepat proses penyembuhan ketika menerima gangguan pada keseimbangannya, dan refleksologi mempercepat pemulihan tersebut.
Menurut teori refleksologi, titik-titik refleks di telapak kaki berhubungan dengan seluruh organ tubuh, mulai dari kantung kencing, usus, lambung, hati, ginjal, limpa, pankreas, sampai jantung. Bagian atau titik yang jumlahnya tak kurang dari 70 ini tersusun membentuk suatu peta tubuh di kaki. Kaki kanan berhubungan dengan tubuh bagian kanan, dan kaki kiri dengan tubuh bagian kiri. Dengan peta itu, pemijatan yang berhubungan dengan suatu organ tubuh bisa dilakukan melalui kaki. Bukan cuma gejalanya yang dihilangkan tapi juga penyebab gejala itu. Karena pemijatan melalui titik refleks di telapak kaki inilah, maka terapi pijat ini disebut pijat refleksi.
1. Pijat Refleksi
Pijat refleksi telah dikenal sejak beberapa ratus tahun lalu dan dipraktikkan oleh orang-orang Cina dan Mesir. Pada tahun 1920-an William Fitzgerald, dokter THT di Connecticut, AS, menemukan pijat ini dan memperkenalkan kepada dunia kedokteran. Ilmu itu lalu dipopulerkan oleh dr. Starr White di Los Angeles. Sementara kita di tanah air mulai mengetahuinya berkat Hedi Masafret lewat
bukunya Good Health for The Future. Pijat refleksi pun semakin dikenal dan mendunia.
Penyebaran yang mendunia tersebut tentu tak lepas dari manfaat yang bisa diberikan pijat refleksi. Dengan pijat ini stres, nyeri, dan ketegangan bisa diusir. Kekuatan dan kelenturan pikiran, tubuh, dan emosi bisa ditingkatkan. Tidur bisa lebih berkualitas. Restrukturisasi tulang, otot, dan organ dapat dibantu. Cedera baru dan lama bisa disembuhkan. Konsentrasi dan ingatan dapat ditingkatkan. Bahkan, rasa percaya diri dan harmoni bisa disegarkan.
Berikut fungsi dari pijat refleksi : a. Pengusir Stres
Penyebaran pijat refleksi telah mendunia, hal ini tak lepas dari manfaat pemijatan itu sendiri. Dengan pijat refleksi, menurut Rio Firdaus, ahli pijat refleksi, seseorang yang mengalami ketegangan, dan stres, ataupun nyeri badan, bisa diatasi. Tujuan pijat refleksi itu sebenarnya untuk membantu memperlancar peredaran darah, menghilangkan stres, rasa capek dan membuat tubuh segar dan sehat.
Dengan pijat refleksi, kekuatan dan kelenturan pikiran, tubuh, dan emosi bisa ditingkatkan. Sesmudah dipijat, tidur pun akan lebih lebih berkualitas. Konsentrasi dan ingatan dapat ditingkatkan. Konon, rasa percaya diri dan harmoni bisa disegarkan. Bahkan bisa membantu restrukturisasi tulang, otot, dan organ. Termasuk menyembuhkan cedera baru dan lama.
Tentu, untuk mencapai semua itu, tak hanya sekali ikut pemijatan. Tak jauh berbeda dengan cara pengobatan lain atau pun terapi medis, untuk menjalani pijat refleksi perlu anjuran sang ahli.
b. Mendeteksi Penyakit
Saat dipijat, ada orang yang tenang menikmati atau teriak-teriak karena kesakitan. Hal ini, menurut Rio, karena bagian yang dipijat berhubungan erat dengan bagian lain yang mengalami gangguan. Kaki merupakan tempat titik balik darah di dalam tubuh. Maka dengan pijat refleksi ini, gangguan penyakit pada organ tubuh pasien bisa terdeteksi. Misalnya, fungsi ginjal seseorang kurang baik, maka titik ginjal pada telapak kaki atau tangan akan terasa nyeri bila dipijat. Organ yang terganggu tersebut mungkin tidak merasakan pengaruhnya. Bahkan pijatan pelan saja dirasakan sakit oleh pasien. Ini menunjukkan ada gejala penyakit tertentu.
Sebenarnya, pijatan pada pijat refleksi biasa-biasa saja. Hanya pemijatan difokuskan pada titik tertentu pada kaki yang dipercaya berkaitan erat dengan organ dalam tubuh manusia. Jadi, pemijat akan merasakan semacam ada gumpalan seperti pasir pada titik sakit.
Pada kaki terdapat berbagai titik saraf, seperti titik saraf ginjal, paru-paru, jantung, liver, saluran kencing, kepala, lambung, mata, sinus dan telinga dan titik lain di bagian kaki. Setelah dipijat pasien biasanya kesakitan, disarankan untuk melakukan cek kesehatan ke dokter untuk mengetahui gangguan itu lebih pasti c. Pelengkap Terapi Penyembuhan
Pijat refleksi termasuk suatu terapi pelengkap atau alternatif berupa pemijatan daerah atau titik refleks pada telapak kaki atau tangan. Namun, umumnya pemijatan dilakukan pada telapak kaki. Alasannya, telapak kaki lebih peka dibandingkan dengan tangan, karena tangan lebih sering beraktivitas
sehingga kepekaannya berkurang. Di samping itu, telapak kaki lebih luas, dan karena itu jarak antartitik pemijatan lebih jauh.
Menurut teori refleksiologi, titik-titik refleks di telapak kaki berhubungan dengan seluruh organ tubuh, mulai dari kantung kencing, usus, lambung, hati, ginjal, limpa, pankreas, sampai jantung. Bagian atau titik yang jumlahnya tak kurang dari 70 ini tersusun membentuk suatu peta tubuh di kaki. Kaki kanan berhubungan dengan tubuh bagian kanan, dan kaki kiri dengan tubuh bagian kiri.
Dengan peta itu, pemijatan yang berhubungan dengan suatu organ tubuh bisa dilakukan melalui kaki. Bukan cuma gejalanya yang dihilangkan tapi juga penyebab gejala itu. Karena pemijatan melalui titik refleks di telapak kaki inilah, maka terapi pijat ini disebut pijat refleksi.
Untuk membuat badan sehat dan segar, para ahli refleksi tak hanya memijat kaki atau tangan tapi juga memijat bagian-bagian tubuh lainnya. Misalnya pijatan di tangan, pundak, punggung, pinggang, untuk menghilangkan kelelahan. Bisa juga pijatan itu untuk mengetahui keadaan saraf-saraf mata. Setelah menjalankan refleksi, tubuh terasa lebih ringan dan sedikit mengantuk.
Hal ini karena tubuh jadi lemas. Biasanya, pemijatan memakan waktu 75 menit hingga 1,5 jam. Disarankan, orang yang mengalami gangguan pada organ tubuh sebaiknya melakukan pemijatan secara rutin, misalnya sekali dalam seminggu. Selain itu, pola makan dan konsumsi makanan juga perlu diperhatikan. Pasien yang mengalami gangguan akan terbantu kesembuhannya jika rutin melakukan pijat, mengatur pola makan dan konsumsi makanan yang benar dan bergizi.
d. Metode Pemijatan
Ada dua metode yang biasa digunakan dalam pemijatan, dengan menggunakan jari tangan ataupun stik. Metode memijat daerah refleks memakai jari tangan berasal dari Taiwan. Caranya, dengan menekan buku jari telunjuk yang ditekuk pada zona refleksi. Sedangkan metode kedua diperkenalkan oleh Benjamin Gramm dengan menggunakan alat bantu berupa stik kecil untuk menekan zone refleksi.
Jika menggunakan stik, titik yang dipijat lebih mengena meski agak terasa sakit. Selain itu, dengan menggunakan alat bantu, pijatan yang dilakukan bisa lebih kuat, tepat sasaran, dan tidak melelahkan. Terlebih jika dalam sehari, cukup banyak orang yang akan dipijat.
Bagi para terapis yang memijat dengan jari tangan, saat memijat akan terasa ada semacam butiran-butiran pasir bila pada organ yang dipijat ada gangguan. Kalau „pasir‟ itu smudah tidak dirasakan lagi saat dipijat, berarti smudah agak membaik. Tentu saja, perbedaan rasa ini tidak dirasakan bila terapis menggunakan alat bantu dalam memijat.
Kedua metode tersebut, baik dilakukan dengan ujung jari atau stik, telah berkembang di Eropa dan Amerika. Keduanya sama-sama bermanfaat untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit. Dengan pijat ini, organ tubuh selalu dibuat siaga atau daya tahannya selalu dalam keadaan prima. Pasien harus rutin menjalani pijat refleksi agar organ dan daya tahannya bagus. Jadi, organ dirangsang dan dipacu terus jika sering dipijat. Tak perlu takut ketagihan dan terus menerus dipijat refleksi. Sebab pijat refleksi tidak ada efek sampingnya. Jika
ternyata pasien tidak ada keluhan atau rasa sakit, pemijatan diberikan untuk memberi efek penyegaran dan relaksasi.
Pemijatan yang baik harus melewati tahapan-tahapan tertentu agar hasilnya optimal, berikut ialah tahapan dalam pemijatan:
a. Sebelum dipijat, kaki terlebih dahulu direndam air hangat yang diberi minyak essensial sejenis garam tapi wangi. Gunanya untuk menghilangkan kotoran dan kuman yang ada di kaki.
b. Setelah itu, kaki dilap dan dilakukan pemanasan. Kaki digoyang-goyangkan, diputar ke kanan dan ke kiri, penekanan dan penarikan ke depan dan ke belakangan.
c. Kaki dioles dengan minyak tropikal yang memiliki efek relaxing. 2. Terapi Seitai
Ilmu pengobatan China hadir di Jepang sekitar 1500 tahun yang lalu ketika para pendeta Buddha datang ke Jepang untuk menyebarkan agama. Mereka juga sekaligus membawa tradisi pengobatan dan naskah-naskah kuno yang menjadi dasar pengobatan tradisional Jepang. Salah satunya yang terkenal bernama Chi So, datang pada tahun 562 membawa 160 buku tentang pengobatan China. Sekitar tahun 701-702, institusi pendidikan kesehatan Jepang pertama kali didirikan. Pada masa itu, seorang akupunturis memerlukan waktu 7 tahun untuk memperoleh gelarnya, sedangkan terapi pijat memerlukan waktu 3 tahun.
Di era Kamakura - Muromachi (1185 – 1574), dukungan pemerintah terhadap pengobatan tradisional Jepang sangatlah kurang, tetapi rakyat tetap menjalankan praktek anma (pijat), akupuntur, dan moxabustion (terapi dengan panas).
Ilmu pengobatan Jepang mulai berkembang pesat pada masa Edo (1602-1868), dan banyak teknik baru berkembang termasuk Seitai. Pada waktu itu, penelitian Seitai dilakukan oleh para ahli pengobatan Jepang dengan membedah mayat dan mencari hubungan semua otot yang ada di dalam tubuh manusia. Mereka berhasil memetakan hubungan tulang belakang dengan organ-organ dalam manusia.
Sejak saat itu ilmu pengobatan seitai diwariskan secara turun menurun. Guru besar dari Seitai modern adalah Haruchika Noguchi (1911-1976). Beliaulah yang membuat Seitai menjadi sangat populer di Jepang maupun di manca negara. Salah satu muridnya adalah Okajima Sensei yang sangat terkenal di Jepang pada saat ini. Nakayama Sensei juga merupakan tokoh besar di dunia Seitai yang berjasa membuat Seitai menjadi terkenal di seluruh dunia terutama di Eropa. (Gus Minging D.S., www.nakamura-info.com )