Pemerintah tetap melakukan upaya menjaga pengelolaan fiskal yang ahti-hati melalui refocusing dan realokasi belanja untuk penanganan COVID-19, melakukan penghematan belanja (Belanja Kementerian/Lembaga maupun TKDD) yang tidak prioritas sesuai perubahan kondisi Tahun 2020 sehingga dilakukan penghematan Rp190 triliun dan termasuk realokasi cadangan sebesar Rp54,6 triliun. Pemerintah memberlakukan realokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk Kabupaten/Kota yang berhubungan dengan 10 destinasi prioritas Pemerintah. Realokasi DAK dilakukan sebesar Rp96,8 milyar dengan perubahan status menjadi hibah pemerintah untuk 10 destinasi wisata.
Laporan Keuangan SKPD Tahun Anggaran 2020 Page 29 11. Menyiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.
Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) sebagai payung hukum dalam melaksanakan kebijakan yang berisikan 3 hal penting.
Pertama Kebijakan dan langkah-langkah luar biasa (extra ordinary) dalam menyelamatakan perekonomian nasional dan stabilitas keuangan, kedua melalui berbagai relaksasi yang berkaitan dengan pelaksanaan APBN Tahun 2020 dan terakhir memperkuat kewenangan berbagai lembaga dalam sektor keuangan.
Kebijakan Pemerintah daerah dalam percepatan penanganan dan pencegahan penyebaran COVID-19 sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Refocusing Kegiatan, Realokasi Anggaran serta Pengadaan Barang dan Jasa dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), realokasi anggaran lebih banyak dilakukan terhadap perjalanan dinas luar daerah, anggaran belanja makan minum yang digunakan untuk mengumpulkan banyak peserta seperti rapat-rapat, pembelian barang-barang yang kurang bermanfaat, anggaran tersebut dialihkan untuk antisipasi pencegahan dan penyebaran COVID-19 seperti pembelian Alat Pelindung Diri (APD), Pengadaan masker, pengadaan Hand Sanitizer, pemasangan tempat cuci tangan di tempat umum yang strategis yang banyak dikunjungi orang, kampanye virtual, pembangunan ruang isolasi, pemberian jaring pengaman sosial (social safety net) serta pemulihan ekonomi.
Selama kurun waktu lebih 6 (enam) bulan berjalan sejak Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2020 ditetapkan, telah terjadi perubahan dan perkembangan pada faktor intenal maupun eksternal seiring dengan terjadinya perubahan kebijakan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang dituangkan dalam Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi Jawa Timur yang sudah tidak relevan dengan kondisi sebagai akibat pandemi COVID-19 sehingga dilakukan penyesuaian baik dari sisi Pendapatan, Belanja maupun Pembiayaan.
Dengan adanya tekanan perekonomian yang mulai dirasakan pada semester II sebagai akibat adanya wabah COVID-19 menyebabkan perlambatan ekonomi dalam skala global, nasional maupun domestik. Pembatasan Skala Besar terhadap mobilitas masyarakat sebagai upaya menanggulangi pencegahan penyebaran COVID-19 melumpuhkan perekonomian yang berdampak pada perlambatan ekonomi. Pandemi COVID-19menyebabkan banyaknya pengangguran baru yang tentu saja meningkatkan tingkat pengangguran terbuka, perusahaan-perusahaan besar dan kecil juga mengurangi jumlah pekerjanya sebagai akibat dampak mandegnya perputaran ekonomimenjadikan pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemerintah Daerah dalam mensinergikan kebijakan kesehatan dengan perekonomian tetap berjalan. Dengan mendasarkan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD Tahun 2020, telah terjadi adanya perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka makro ekonomi daerah dan kerangka pendanaan, prioritas dan sasaran pembangunan, rencana program dan kegiatan prioritas, pergeseran pagu kegiatan antar SKPD, penghapusan kegiatan, penambahan kegiatan baru, penambahan atau pengurangan target kinerja, perubahan lokasi dan kelompok sasaran kegiatan.
Beberapa hal yang menyebabkan perubahan asumsi dasar Kebijakan Umum Perubahan APBD Tahun 2020 antara lain : Pertumbuhan ekonomi, PDRB ADHB, PDRB ADHK, Tingkat Kemiskinan, Tingkat Pengangguran dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Asumsi ekonomi makro yang digunakan dalam penyusunan Kebijakan Umum APBD Tahun 2020 bertumpu pada realisasi ekonomi makro Tahun 2018 serta dinamika Tahun 2019 dan Tahun 2020 guna menampung perubahan-perubahan kebijakan baik dari di tingkat Pusat maupun daerah. Dampak dari penanganan pandemi COVID-19 mempengaruhi kebijakan fiskal Pemerintah dan berdampak pada makro ekonomi sehingga mempengaruhi hampir seluruh pos laporan keuangan, sehingga terjadi perubahan secara signifikan terhadap pos-pos dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA) jika dibandingkan Tahun sebelumnya.
Perbandingan Realisasi APBD Tahun Anggaran 2019 dan Tahun Anggaran 2020 dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut :
Laporan Keuangan SKPD Tahun Anggaran 2020 Page 30 Tabel 2.13
Perbandingan Realisasi APBD Tahun 2019 dan Tahun 2020
No. Uraian Anggaran 2019 Transfer 454.173.222.268,00 422.591.512.838,00 (6,95) Surplus (Defisit) (86.397.818.611,62) 32.312.991.481,85 (137,40) Pembiayaan
- Penerimaan Pembiayaan 131.505.450.685,08 86.947.910.073,46 (33,88) - Pengeluaran Pembiayaan 2.260.000.000,00 3.200.000.000,00 41,59
Pembiayaan Netto 129.245.450.685,08 83.747.910.073,46 (35,20) Sisa Lebih / Kurang
Pembiayaan Tahun
Berkenaan (SILPA)
42.847.632.073,46 116.060.901.555,31 170,87
Dari Tabel 2.3 dapat dilihat bahwa Pos-Pos LRA baik Pendapatan Daerah, Belanja daerah dan Pembiayaan Daerah pada Tahun 2020 mengalami perubahan signifikan jika dibandingkan pada Tahun 2019. Program penanganan Pandemi COVID-19 sangat berdampak pada perubahan APBN/APBD Tahun 2020 akibat kebijakan keuangan daerah dalam rangka penanganan Pandemi COVID-19dan /atau menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian daerah dengan melakukan pengutamaan penggunaan alokasi anggaran kegiatan tertentu (refocusing), perubahan alokasi dan penggunaaan APBD sebagaimana amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2020.
Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Ponorogo Tahun 2020 mengalami penurunan sebesar (3,49%) jika dibandingkan pada Tahun 2019 karena adanya pemberian dalam bentuk insentif untuk penanganan dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19 yang meliputi pengurangan, keringanan dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok pajak daerah/retribusi daerah dan/atau sanksinya, perpanjangan waktu pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan.Upaya-upaya yang telah diambil Pemerintah Kabupaten Ponorogo untuk mengurangi dampak ekonomipada masyarakat sebagai akibat pandemi COVID-19 antara lain :
- Melakukan pengurangan atau pembebasan pajak daerah mulai bulan April Tahun 2020 sampai dengan bulan Juni Tahun 2020 untuk jenis Pajak hotel, Pajak restoran dan Pajak parkir;
- Penghapusan denda/sanksi administratif SPPT PBB sampai dengan Tahun 2019 (dilaksanakan pada bulan Mei Tahun 2020 sampai dengan Juni Tahun 2020);
- Penundaan jatuh tempo SPPT PBB sampai dengan bulan September Tahun 2020;
- Pemberian insentif pajak daerah yang dapat diperpanjang dan/atau ditinjau kembali sesuai situasi dan kondisi.
Begitu pula dari sisi BelanjaDaerah dan Transfer pada Tahun 2020 juga mengalami penurunan masing-masing sebesar (8,58%) dan (. jika dibandingkan pada Tahun 2019, hal ini akibat penyesuaian alokasi Belanja Daerah melalui rasionalisasi dan/atau perubahan alokasi Belanja Daerah meliputi antara lain penggunaan sebagian atau seluruh belanja infrastruktur sebesar 25% dari dana transfer umum untuk penanganan pandemi COVID-19.
Kebijakan Belanja Daerah Kabupaten Ponorogo dalam rangka penanganan pandemi COVID-19sebagaimana Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Refocusing Kegiatan, Realokasi Anggaran serta Pengadaan Barang dan Jasa dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), realokasi anggaran belanja lebih banyak dilakukan terhadap perjalanan dinas luar daerah, anggaran belanja makan minum yang digunakan untuk mengumpulkan banyak peserta seperti
rapat-Laporan Keuangan SKPD Tahun Anggaran 2020 Page 31 rapat, pembelian barang-barang yang kurang bermanfaat, anggaran tersebut dialihkan untuk antisipasi pencegahan dan penyebaran COVID-19 seperti pembelian Alat Pelindung Diri (APD), Pengadaan masker, pengadaan Hand Sanitizer, pemasangan tempat cuci tangan di tempat umum yang strategis yang banyak dikunjungi orang, kampanye virtual, pembangunan ruang isolasi, pemberian jaring pengaman sosial (social safety net) serta pemulihan ekonomi.
Pada Tahun 2020 akibat dampak dari Pandemi COVID-19, sebagian Dana transfer dari Pemerintah Pusat tidak diterima oleh Pemerintah Daerah, sedangkan Belanja dan Transfer Daerah peningkatannya lebih besar dibandingkan dengan peningkatan Pendapatan Daerah, hal ini menunjukkan bahwa peningkatan Pendapatan Daerah belum sebanding dengan peningkatan Belanja Daerah dalam rangka membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan daerah. Selain itu dampak penurunan aktivitas ekonomi pada masyarakat sebagai akibat dampak Pandemi COVID-19 juga berdampak padaPendapatandanbeberapa kegiatan proyek infrastruktur Pemerintah Daerah mengalami penundaan. Sehingga langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam mengatasi hal-hal tersebut di atas, dengan mengambil kebijakan melakukan pinjaman dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ke Pemerintah Pusat melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dalam rangka mendanai pengeluaran belanja akibat beberapa kegiatan yang tertunda penyelesaiaannyaakibat dengan adanya refocusing dan realokasi anggaran sebagaimana amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2020 tentang Pengutamaan Penggunaan Alokasi Anggaran untuk kegiatan tertentu, Perubahan Alokasi dan Penggunaan APBD. Pinjaman dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk Pemerintah Daerah yang disebut Pinjaman PEN Daerah tersebut merupakan dukungan Pembiayaan yang diberikan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah berupa pinjaman untuk digunakan daerah dalam rangka melakukan percepatan pemulihan ekonomi di daerah sebagai bagian dari Program PEN.
Progam PEN merupakan rangkaian kegiatan untuk pemulihan ekonomi Nasional yang merupakan bagian dari kebijakan keuangan negara yang dilaksanakan oleh Pemerintah untuk mempercepat penanganan Pandemi COVID-19 dan/atau menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian nasional dan/atau stabilitas sistem keuangan serta penyelamatan ekonomi nasional. Pada Tahun 2020 melalui Perjanjian Pemberian Pinjaman antara PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Pemerintah Kabupaten Ponorogo Nomor : PERJ-114/SMI/0920 dan Nomor 900/2385/405.25/2020 tanggal 22 September 2020, Pemerintah Kabupaten Ponorogo melakukan Pinjaman Daerah Berbasis Kegiatan atau disebut Pinjaman Kegiatan yang merupakan Pinjaman Daerah yang digunakan untuk membiayai pembangunan sarana dan prasarana tertentu yang menjadi kewenangan
Daerah ke Pemerintah Pusat melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar Rp. 200.000.000.000,00 Sumber Dana APBN dengan jangka waktu 5 tahun, suku bunga
0%, biaya pengelolaan sebesar 0,185% per tahun, biaya provisi sebesar 1% dibayarkan 1 kali ke PT SMI, dan pengembalian pinjaman diperhitungkan langsung terhadap penyaluran Dana Transfer Umum (DTU) sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional dalam rangka mendukung Kebijakan Keuangan Negara untuk Penanganan Pandemi Corona Virus
Disease 2019(COVID-19)dan/atau menghadapi ancaman yang membahayakan
Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan serta Penyelamatan Ekonomi Nasional dan secara teknis pelaksanaannya diatur dalam PMK Nomor 105 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional untuk Pemerintah Daerah.
Sebagaimana Perjanjian Pemberian Pinjaman antara PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Pemerintah Kabupaten Ponorogo Nomor : PERJ-114/SMI/0920 dan Nomor 900/2385/405.25/2020 tanggal 22 September 2020, pencairan Pinjaman dilakukan secara bertahap dengan mekanisme pencairan Pinjaman sebagai berikut :
- Pencairan Tahap I dapat dilakukan setinggin-tingginya sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari Limit Pinjaman;
Laporan Keuangan SKPD Tahun Anggaran 2020 Page 32 - Pencairan Tahap II dapat dilakukan dengan jumlah pencairan sebesar 45% (empat
puluh lima persen) dari limit Pinjaman setelah dana yang dicairkan pada pencairan Tahap I terserap/direalisasikan minimal 75% (tujuh puluh lima persen) pada Kegiatan;
- Pencairan Tahap III dilakukan sebesar nilai sisa kebutuhan penyelesaian pekerjaan setelah dana yang ditarik pada pencairan sebelumnya terserap/ direalisasikan minimal 90% (sembilan puluh persen) pada Kegiatan.
Pada bulan Desember 2020 pencairan Tahap I dari PT SMI secara total telahterealisasi masuk ke Rekening Pinjaman Pemerintah Kabupaten Ponorogo sebesar Rp44.099.198.000,00dengan rincian :
- Tanggal 22 Desember 2020 sebesar Rp2.839.200.000,00 - Tanggal 23 Desember 2020 sebesar Rp5.834.228.000,00 - Tanggal 28 Desember 2020 sebesar Rp5.921.740.000,00 - Tanggal 29 Desember 2020 sebesar Rp19.827.615.000,00 - Tanggal 30 Desember 2020 sebesar Rp9.676.415.000,00
Pencairan Pinjaman Tahap I tersebut digunakan untuk membiayai sebagian kegiatan proyek infrastruktur yang tertunda penyelesaiannya akibat adanya refocusing dan realokasi anggaran belanja untuk penanganan dampak pandemi COVID-19. Sedangkan untuk pencairan pinjaman Tahap II dan Tahap III tidak terealisasi karena tidak memenuhi syarat ketentuan pencairan Pinjaman Tahap II dan III.
2.1 Kebijakan Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah
Sebagai tindak lanjut dari RKPD, maka disusun Kebijakan Umum APBD Tahun 2020 yang memuat Kebijakan Pendapatan Daerah, Kebijakan Belanja Daerah dan Kebijakan Pembiayaan Daerah berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai berikut :
Kebijakan Pendapatan Daerah
Dalam rangka menjamin keberhasilan jalannya pembangunan maka pemerintah juga dituntut untuk memformulasikan kebijakan pengelolaan keuangan yang tepat, efektif dan efisien dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah. Rendahnya kapasitas fiskal daerah menjadi pertimbangan utama dalam meningkatkan kualitas belanja daerah terutama penguatan belanja produktif, efisiensi belanja operasional dan fokus serta percepatan penyerapan anggaran dengan tetap menjaga kualitas output dan outcome kegiatan.
Pendapatan daerah merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2006 Pedoman Pengelolaan Keuangan DaerahPasal 23 ayat (1) bahwa Pendapatan Daerah meliputi semua penerimaan uang yang melalui Rekening Kas Umum Daerah yang akan menambah ekuitas dana lancar sebagai hak Pemerintah Daerah dalam satu tahun anggaran berkenaan yang tidak perlu dibayar kembali oleh Pemerintah Daerah.
Kebijakan Pendapatan daerah yang dituangkan dalam APBD Tahun 2020 merupakan perkiraan yang terukur, rasional, serta memiliki kepastian dasar hukum penerimaannya. Kebijakan pengelolaan pendapatan daerah diarahkan untuk menggali dan mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan daerah melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah termasuk mengembangkan sektor-sektor potensial yang selama ini belum optimal. Optimalisasi peningkatan pendapatan daerah terhadap obyek yang betul-betul potensial dilakukan dengan tidak memberatkan masyarakat serta tidak merusak lingkungan. Merujuk pada konsep hak dan kewajiban, dan menerapkannya pada pengelolaan keuangan daerah, maka pendapatan daerah merupakan hak Pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan.
Laporan Keuangan SKPD Tahun Anggaran 2020 Page 33 Proyeksi Pendapatan daerah yang bersumber dari PAD dalam penyusunan APBD Tahun 2020 dengan melakukan berbagai kebijakan antara lain :
1. Penggunaan Dana Alokasi Umum (DAU) sesuai dengan prioritas pembangunan khususnya pembangunan fisik sesuai kebutuhan masyarakat, peningkatan daya saing daerah, peningkatan pariwisata, pemantapan perekonomian daerah dengan berorientasi pada hasil kinerja masing-masing program kegiatan guna meningkatkan kualitas belanja daerah;
2. Perbaikan data teknis dalam rangka pengajuan Dana Alokasi Khusus (DAK) sesuai kondisi riil di lapangan dan sesuai dengan ketepatan tata waktu dan penggunaan DAK disesuaikan dengan prioritas nasional di daerah;
3. Penganggaran Dana Insentif Daerah (DID) disesuaikan dengan fokus pembangunan dalam mendorong meningkatnya pelayanan dasar pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur serta daya saing daerah;
4. Perbaikan ekonomi makro daerah dengan meningkatkan variabel-variabel yang digunakan dalam penghitungan DAU antara lain : Jumlah Penduduk, Luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, PDRB per kapita, Jumlah Pegawai dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Upaya-upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo dalam mencapai targetPendapatanAsli Daerah yang telah direncanakan untuk Tahun Anggaran 2020 dilakukan secara maksimal guna memperoleh hasil yang optimal, di antaranya dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)