BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.4 Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan E – Government
2.4.1 Reformasi Proses
Reformasi menurut Branko Dimeski ialah melakukan langkah-langkah dan kegiatan yang serius untuk memperkuat profesionalisme administrasi publik, menghilangkan kepegawaian partai politik, meningkatkan efisiensi dan kualitas sektor publik, serta mengurangi korupsi.25 Reformasi muncul disebabkan oleh adanya kebutuhan untuk memperkenalkan pelayanan baru dan untuk menyediakan pelayanan yang telah ada dengan cara yang baru, mudah dan hemat biaya dari sudut pandang masyarakat.26
Hal yang perlu diperhatikan dalam keberhasilan transformasi e-government
ialah pemahaman bahwa e-government bukan hanya tentang otomatisasi proses dan inefisiensi yang telah ada. Sebaliknya, e-government berbicara tentang penciptaan proses baru dan hubungan baru antara masyarakat dan pemerintah.27
Penggunaan ICT tidak hanya berbicara soal penghematan biaya atau tenaga kerja, melalui pemberian komputer kepada pejabat pemerintah atau mengotomatisasi catatan manual. Sebaliknya, jika disusun dan dirancang dengan benar, e-government merupakan solusi yang benar-benar dapat merevolusi proses pemerintahan itu sendiri. Oleh karena itu, pemimpin pemerintahan dalam merencanakan proyek e-government harus memeriksa fungsi atau operasi yang mereka inginkan terhadap penerapan ICT. Misalnya, pemerintah menggunakan
25 Branko Dimeski, Public Administration Reform Process In Macedonia: Between Politics And Good Governance, (Macedonia: St. Kliment Ohridski University, 2011) Hlm. 8
26
J. Satyanarayana, e-Government The Science of Possible, (New Delhi: Prentice-Hall of India Private Limited, 2004), Hlm. 112
27 A Project of InfoDev and The Center for Democracy and Technology, The E-Government Handbook for Developing Countries, (Washington DC: The Universal Copyright
ICT untuk membawa transparansi pada suatu masalah, di mana transparansi merupakan cara baru mengatasi masalah.28
Manfaat yang dijanjikan dari e-government tidak terjadi hanya dengan digitalisasi informasi dan menempatkannya secara online. Layanan e-government
terus tertanam dalam lingkungan administrasi publik saat ini dan karena itu tetap dibatasi oleh kemampuan pemerintah untuk melakukannya. Istilah "e- government" diartikan sebagai penggunaan ICT sebagai alat untuk mencapai pemerintahan yang lebih baik. Dengan demikian, e-government bukan tentang bisnis biasa, tetapi harus lebih fokus pada menggunakan ICT untuk mengubah struktur, operasi dan, yang paling penting, budaya pemerintah.29
E-government merupakan komponen penting dari agenda reformasi saat ini karena: i) berfungsi sebagai alat untuk reformasi; ii) memperbaharui minat reformasi manajemen publik; iii) menyoroti inkonsistensi internal, dan iv) menegaskan komitmen untuk tujuan pemerintahan yang baik. Sebagai alat reformasi, penggunaan ICT di pemerintahan membuat lebih mudah untuk memantau efisiensi dan efektivitas pelayanan. ICT juga telah digunakan untuk menyederhanakan dan membuat keuangan lebih transparan, manajemen kasus yang lebih transparan dan proses manajemen sumber daya manusia. Alat tersebut akan efektif jika dikaitkan dengan tujuan manajemen publik dan digunakan sebagai bagian dari strategi manajemen perubahan secara keseluruhan.30
28 Ibid
29 The OECD E-Government Task Force, The Case for E-Government: Excerpts from the OECD Report “The E-Government Imperative, (France: OECD Journal on Budgeting) Hlm. 79
30 Ibid
Dalam kaitannya dengan program LAPOR!, pemerintah kini memudahkan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah. Sebelum program LAPOR! ada, masyarakat yang ingin menyampaikan keluhan harus mendatangi kantor pemerintahan terlebih dahulu yang memakan waktu, biaya dan tenaga. Namun setelah diadopsinya program LAPOR!, terjadi sebuah reformasi proses di mana masyarakat kini tidak perlu repot lagi untuk mengadukan keluhannya. Melalui 3 kanal yakni SMS, website, dan aplikasi handphone masyarakat bisa dengan mudah melapor ke pemerintah mengenai apapun, di mana pun dan kapan pun.
2.4.2 Kepemimpinan
Kepemimpinan menurut Northouse ialah proses dimana seorang individu memengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama.31 Pengertian lain menurut Stephen Covey dalam bukunya yang berjudul Principle-Centred Leadership ialah kepemimpinan lebih berfokus pada orang dari pada hal-hal; pada jangka panjang daripada jangka pendek; pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip daripada kegiatan; pada misi, tujuan dan arah bukan pada metode, teknik dan kecepatan.32 Kepemimpinan juga memainkan peran penting dalam pelaksanaan reformasi karena melibatkan dua aspek yang paling penting dari reformasi: perubahan dan orang-orang. Mengubah organisasi berarti mengubah perilaku
31 Northouse dalam Global Journal of Management and Business Studies, Leadership
Management: Principles, Models and Theories, (India: Research India Publications, 2013) Hlm. 310
32United Nations Department of Economic and Social Affairs and International Association of Schools and Institutes of Administration, Excellence and Leadership In The Public Sector: The Role Of Education And Training, (Austria: United Nations Publication,2007), Hlm 133.
orang, sehingga organisasi dalam menjalani reformasi membutuhkan kepemimpinan. Pemimpin dapat membantu menyebar dan mempertahankan nilai- nilai baru yang diperlukan untuk reformasi sektor publik.33
Dalam program e-government dibutuhkan political will yang kuat dari pemimpin untuk menyukseskan segala kebijakan maupun program e-government. Kepemimpinan yang kuat dapat memastikan komitmen jangka panjang dari sumber daya yang ada dan dapat mendorong inisiatif e-government melalui semua langkah yang diperlukan.34
Ruang lingkup dari kepemimpinan dalam sebuah proyek e-government
bermuara pada kemampuan untuk mengelola tiga hal, yaitu:35
• Beragam tekanan politik yang terjadi terhadap proyek e-government yang berlangsung baik dari kalangan yang optimis maupun yang pesimis;
• Bermacam-macam sumber daya yang dibutuhkan dan dialokasikan oleh proyek e-government yang bersangkutan, seperti misalnya sumber daya manusia, finansial, informasi, peralatan, fasilitas, dan lain sebagainya; dan • Sejumlah kepentingan dari berbagai kalangan (stakeholders) terhadap
keberadaan proyek e-government yang dijalankan.
33
OECD Developing Public Service Leaders for the Future dalam Pavel Pavlov, Ph.D., Polya Katsamunska. The Relationship of Leadership and New Public Management in Central Government, (Bulgarian Specifics,2007).
34 A Project of InfoDev and The Center for Democracy and Technology, The E-Government Handbook for Developing Countries, (Washington DC: The Universal Copyright
Convention,2002), Hlm. 7
35 Richardus Eko Indrajit. Electronic Government: Strategi Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital, Hlm. 84
Dikarenakan fungsi pemimpin yang krusial pada suatu organisasi, ada beberapa hal yang penting untuk dipahami mengenai atribut pribadi pemimpin yang terdiri dari 4 elemen, yaitu: 36
1. Visi
Visi adalah komponen penting dalam kepemimpinan – dorongan pemimpin, motivasi untuk memimpin, pengalaman dan kecerdasan menyediakan mereka dengan kemampuan untuk:
• Mendefinisikan apa yang harus diperjuangkan yang menjadi cita – cita organisasi;
• Mengartikulasikan visi yang singkat, padat dan jelas;
• Merumuskan visi strategis yang menentukan cara-cara visi akan dicapai;
• Mempromosikan komitmen kepada para pengikut mereka dengan berkomunikasi dengan cara yang jelas dan meyakinkan.
2. Pelaksanaan Visi
Pelaksanaan visi merupakan persyaratan untuk keberhasilan kepemimpinan. Sebuah visi yang tidak dilaksanakan tetap hanya menjadi mimpi. Pemimpin yang efektif mengambil langkah untuk memastikan bahwa visi tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan tertentu, yang biasanya dicapai dengan bantuan manajer dan bawahan mereka.
36United Nations Department of Economic and Social Affairs and International Association of Schools and Institutes of Administration, Excellence And Leadership In The Public Sector: The Role Of Education And Training, (Austria: United Nations Publication, 2007), Hlm 136.
Tindakan pelaksanaan yang efektif jatuh pada enam kategori: • Penataan;
• Seleksi, pelatihan dan akulturasi personil;
• Memotivasi;
• Mengelola informasi;
• Membangun tim;
• Mempromosikan perubahan.
3. Motif dan Karakteristik
Para pemimpin yang efektif adalah: • Penuh dengan energi dan ambisi;
• Ulet dan pro-aktif dalam mengejar tujuan mereka;
• Ingin memimpin - mereka tidak menginginkan kekuasaan demi mendominasi orang lain tapi demi mencapai tujuan menyeluruh; • Jujur dan memiliki integritas;
• Memiliki tingkat rasa percaya diri yang tinggi, yang memungkinkan mereka tidak hanya untuk mengambil tanggung jawab dan menghasilkan kepercayaan orang lain tetapi untuk mengatasi situasi yang penuh tekanan;
• Kreatif;
• Kadang-kadang karismatik.
4. Pengetahuan, Keterampilan dan Kemampuan Pemimpin harus memiliki:
• Pengetahuan luas tentang disiplin, teknologi dan lingkungan organisasi di mana mereka bekerja;
• Berbagai keterampilan. Karena sifat relasional kepemimpinan, " keterampilan yang berhubungan dengan orang " ialah penting. Hal ini termasuk mendengarkan, komunikasi, membangun jaringan, manajemen konflik, dan penilaian diri dan orang lain. Pemecahan masalah dan keterampilan pengambilan keputusan juga penting; • Kemampuan kognitif, terutama kecerdasan untuk memproses
sejumlah besar informasi, mengintegrasikannya dan menarik kesimpulan logis dari hal itu.
Selain itu, Gibson juga berpendapat bahwa terbentuknya kepemimpinan yang ideal dan demokratis, tidak terlepas dari kompetensi tertentu. Menurutnya, kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin setidaknya memenuhi tiga unsur berikut: Inteligensi, Kemampuan Pengawasan, Kepribadian dan Karakter Fisik.37
Dalam kaitannya dengan program LAPOR! Kota Bandung, peran Ridwan Kamil sebagai pemimpin memiliki andil yang besar dalam berjalannya program
37 Gibson dalam Arief Dwi Sulistya, Profesionalisme Aparatur Pemerintah: Studi Kasus Responsivitas dan Inovasi Aparatur di Kec. Sumber Kab. Rembang, (Semarang: Universitas Diponegoro, 2008).
tersebut. Ridwan Kamil harus mampu mengartikulasikan dan melaksanakan visinya terkait pemanfaatan ICT pada sektor administrasi publik yang dikombinasikan dengan motif dan karakteristik pribadinya sebagai individu yang membantu meningkatkan kapasitas dirinya sebagai pemimpin yang efektif. Ditambah lagi dengan pengetahuan, keterampilan dan kemampuannya dalam berbagai hal. Mulai dari pemahaman mengenai teknologi, lingkungan organisasi hingga keterampilannya yang berhubungan dengan orang seperti mampu menempatkan diri di tengah – tengah orang lain, mampu berempati, mampu mendengarkan, dll.
2.4.3 Investasi Strategi
Pencarian keuntungan efisiensi adalah pendorong utama penggunaan ICT
di pemerintahan. Penggunaan ICT dalam pemerintahan sering didorong oleh kebutuhan untuk mengurangi sumber daya, baik untuk mengurangi pengeluaran keseluruhan atau untuk mengalokasikan dana ke daerah prioritas yang lebih tinggi. Baru-baru ini, aplikasi berbasis internet telah dikerahkan dengan menggunakan pengajuan online (filing online) untuk mengurangi biaya data masuk kembali dan pemeriksaan, untuk menghemat komunikasi biaya dengan pelanggan dan dalam pemerintahan, untuk menggantikan proses aplikasi berbasis kertas dan untuk mereformasi pembayaran dan pengadaan.38
38 The OECD E-Government Task Force, The Case for E-Government: Excerpts from the OECD Report “The E-Government Imperative”, (France : OECD Journal on Budgeting, 2003) Hlm. 67
Pemerintah harus memprioritaskan beberapa program diantara program- program lainnya untuk memaksimalkan dana yang tersedia pada sumber daya yang terbatas. Hal ini akan memerlukan tujuan program yang jelas dan rute yang jelas untuk mencapai tujuan tersebut.39
Negara-negara berkembang harus memilih program e-government dengan hati-hati untuk mengoptimalkan investasi waktu dan sumber daya mereka. Program harus memiliki nilai yang jelas dalam hal meningkatkan transparansi, meningkatkan partisipasi warga dalam proses pemerintahan, dan memotong birokrasi atau penghematan uang. Standar dan tolak ukur harus ditetapkan untuk mengukur keberhasilan relatif dari program-progam ini. Misalnya, di Gujarat, India, otomatisasi pos pemeriksaan tol menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam pendapatan yang sebelumnya pendapatan tol banyak dikorupsi oleh pegawai pemerintahan di perbatasan, sehingga dalam setahun, pengeluaran biaya untuk sistem ini telah balik modal.40
Dalam kaitannya dengan investasi strategis, Pemerintah Kota Bandung mengadopsi program LAPOR! bertujuan untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas pemerintah dengan menjadikan media sosial sebagai platform dalam menampung aspirasi dan pengaduan masyarakat menuju reformasi birokrasi dan tata kelola.41 Dengan adanya pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab,
39 A Project of InfoDev and The Center for Democracy and Technology, The E-Government Handbook for Developing Countries, (Washington DC: The Universal Copyright
Convention,2002), Hlm. 7 40 Ibid
41 http://regional.kompasiana.com/2014/07/10/ridwan-kamil-pun-menggunakan-lapor-untuk- melayani-masyarakat-663570.html diakses pada tanggal 27 Mei 2015 pukul 15.16
kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap pemerintah pun akan ikut meningkat yang akan berimbas pada citra positif pemerintah di mata warganya.
2.4.4 Kolaborasi
Dalam memastikan kualitas dan aksesibilitas e-government, pemerintah harus mengeksplorasi hubungan baru di antara instansi pemerintah serta kemitraan dengan sektor swasta dan LSM. Kolaborasi antara entitas pemerintah, perusahaan swasta dan LSM dapat membantu pembuat kebijakan dalam membentuk reformasi yang berarti dan dapat mempercepat pelaksanaan e- government. Kolaborasi merupakan keterlibatan individu-individu dalam upaya terkoordinasi untuk memecahkan masalah bersama-sama.42 Pengertian kolaborasi lainnya ialah kolaborasi mencerminkan upaya bersama oleh semua pemain didasarkan pada asumsi bahwa ada kepentingan politik yang sama yang dapat diwujudkan melalui tindakan kolektif.43 Kolaborasi dipengaruhi dengan adanya pembelajaran, pengalaman bersama, saling penyesuaian dan membangun konsensus dan hubungan kepercayaan.44
42 Roschelle and Teasley dalam Lai R. Emily, Collaboration: A Literature Review. (Pearson,2011) Hlm. 4
43
Eran Vigoda Gadot, Collaboration Management In Public Administration, (Information Age Publishing, 2008), Hlm 49.
44 Sharon S. Dawes dan Ophelia Eglene, New models of collaboration for delivering e-government services: A dynamic model drawn from multi-national research, (New York: Center for Technolgy in Government, 2008) Hlm. 7
Menurut Thomas, ada 3 pemain utama dalam proses kolaboratif lintas sektoral: 45
1. Pemerintah dan Administrasi Publik (P & AP) : P & AP adalah pemain utama dalam arena sektor publik. Kategori ini mengacu pada semua lembaga formal di tingkat lokal, negara bagian, atau federal. Badan-badan ini sepenuhnya atau sebagian pemerintah atau milik pemerintah dan mencakup semua departemen pemerintah, otoritas pemerintah, perusahaan publik yang dimiliki pemerintah, atau lembaga lain di mana pemerintah memegang saham besar dalam anggaran atau manajemen. P & AP juga termasuk pemerintah daerah dan lembaga yang bekerja di bawah pengawasan dan kontrol dari badan-badan ini. Selain itu, kategori meliputi dewan manajemen proyek nasional yang dibuat ad hoc untuk tugas pada tingkat lokal atau tingkat negara (misalnya di bidang transportasi, energi, infrastruktur, kesejahteraan, dll). P & AP juga mewakili semua orang yang bekerja untuk badan-badan ini dan dibayar oleh mereka secara langsung. 2. Bisnis dan Sektor Swasta: Kategori berikutnya dari pemain sosial yang
layak untuk mendapatkan perhatian khusus ketika mempelajari kolaborasi adalah bisnis / swasta yang kuat. Ini mungkin yang terbesar dan paling berpengaruh di setiap sektor demokrasi yang terbuka dan masyarakat pasar bebas. Hal ini menyumbang sebagian besar kegiatan ekonomi dan pertumbuhan di tingkat nasional dan berfungsi sebagai laboratorium untuk
45 Thomas dalam Eran Vigoda Gadot, Collaboration Management In Public Administration, (Information Age Publishing, 2008), Hlm 52
banyak percobaan organisasi dan manajerial dan reformasi kemudian diterapkan di organisasi lain dan di sektor publik.
Kaitannya dengan e-government, sektor swasta merupakan kiblat dari pemerintah dalam melaksanakan e-government. Hal ini dikarenakan sektor swastalah yang pertama kali memanfaatkan ICT dalam melayani pelanggan mereka melalui e-commerce. Maka dari itu, penting bagi pemerintah untuk bekerjasama dengan sektor swasta dalam hal e- commcerce, teknologi informasi, pemasaran dan manajemen yang selanjutnya akan menghasilkan saran-saran kebijakan bagi pemerintah. Sektor swasta dianggap memiliki keahlian yang dapat membantu pemerintah dalam memenuhi tantangan peningkatan efisiensi, kapasitas dan kepuasan masyarakat.
3. Warga, Komunitas, dan "Sektor Ketiga": Masyarakat dan sektor ketiga merupakan pemain penting ketiga dalam campuran ini. Dalam banyak hal, kelompok ini lebih kompleks daripada kelompok pemerintah dan administrasi publik karena kurangnya struktur formal dan orientasi massa. Tiga bagian atau sub kelompok harus dibedakan dalam konteks ini: (1) warga negara sebagai individu; (2) warga dalam kelompok kecil dan terorganisir; dan (3) warga yang merupakan bagian dari kelompok yang lebih besar atau komunitas yang biasanya lebih formal, bertahan lama, dan dapat didefinisikan sebagai badan-badan sektor ketiga atau masyarakat sipil. Sementara masyarakat sipil memiliki beberapa karakteristik formal, kelompok yang terorganisir, dua sub kelompok lainnya mewakili jangka
pendek, tindakan ad hoc oleh individu, kelompok informal individu yang lebih sulit untuk dipelajari dan diteliti.
2.4.5 Keterlibatan Masyarakat
Keterlibatan masyarakat berarti bekerja untuk membuat perbedaan dalam kehidupan masyarakat sipil dan mengembangkan kombinasi pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan motivasi untuk membuat perbedaan tersebut.46 Keterlibatan masyarakat dapat dipahami juga sebagai pengetahuan, diskusi, dan minat dalam urusan publik serta partisipasi langsung.47
Keberhasilan program e-government bergantung juga pada keterlibatan masyarakat di dalamnya dan untuk itu, upaya untuk mendorong keterlibatan masyarakat sangatlah penting. E-government tidak hanya persoalan pemotongan biaya atau efisiensi, tetapi lebih diarahkan pada perbaikan kehidupan rakyat biasa. Dalam rangka mengembangkan visi yang berfokus kepada masyarakat, pembuat kebijakan harus mempertimbangkan warga negara dalam pikiran mereka ketika merancang sistem. Jika memungkinkan, pembuat kebijakan harus mendorong para pemangku kepentingan baik pemerintah maupun non-pemerintah untuk berpartisipasi dalam mendefinisikan apa visi yang hendak mereka capai terhadap
46
Thomas Ehrlich dalam Glenn Bowen, Civic Engagement In Higher Education, (USA: 2010), Hlm. 1
47 Norris dalam Karen Mossberger, Can E-Government Promote Informed Citizenship And Civic Engagement? A Study Of Local Government Websites In The U.S, (Chicago: University of Illinois at Chicago, 2010), Hlm. 3
program e-government. Apabila visi sudah jelas, pemimpin harus berkomunikasi pada semua sektor, tidak hanya untuk orang-orang yang akan menerapkannya.48
E-government dapat memberikan tempat baru untuk informasi, meningkatkan pengetahuan warga terhadap kebijakan pemerintah, proses, program, dan kinerja, serta isu-isu masyarakat. Pengetahuan ini, pada gilirannya, dapat memfasilitasi komunikasi antara warga dan pejabat pemerintah baik secara
online maupun offline. Informasi ini juga dapat mendorong diskusi atau partisipasi dalam masyarakat sipil di sekitar isu-isu kebijakan atau masyarakat. Pada akhirnya, informasi merupakan sumber daya utama untuk keterlibatan masyarakat dengan dunia luar, dalam hal ini dengan pemerintah.49
Keterlibatan warga negara dapat membantu membangun dan memperkuat hubungan kepercayaan antara pemerintah dan warga negara.50 Ini merupakan dasar untuk tercapainya pemerintahan yang baik dan pada gilirannya untuk memenuhi tujuan ekonomi dan sosial yang lebih luas. Dengan tidak adanya kepercayaan, aturan hukum, legitimasi keputusan pemerintah dan agenda reformasi tertentu dapat dipertanyakan. Sementara hubungan keseluruhan melibatkan faktor web yang kompleks, ICT dapat bertindak sebagai enabler untuk warga terlibat dalam proses kebijakan, mempromosikan pemerintahan yang terbuka dan akuntabel dan membantu mencegah korupsi. Keterlibatan warga
48 A Project of InfoDev and The Center for Democracy and Technology, The E-Government Handbook for Developing Countries, (Washington DC: The Universal Copyright
Convention,2002), Hlm. 9 49
Megan Haller and Karen Mossberger , Does E-Government Use Contribute To Civic Engagement With Government And Community?, (Chicago: University of Illinois at Chicago), Hlm. 3
50 The OECD E-Government Task Force, The Case for E-Government: Excerpts from the OECD Report “The E-Government Imperative”, (France: OECD Journal on Budgeting), Hlm. 83
negara pada tingkat dasar mencakup informasi, konsultasi dan umpan balik oleh pengguna layanan. Pada tingkat yang lebih canggih itu termasuk keterlibatan warga untuk pembuatan kebijakan.
2.5 Model Penelitian 5 Elemen Sukses E- Government menurut Mohsen A. Khalil, Bruno Lanvin, dan Vivek Chaudry (2002) adalah: 1. Reformasi Proses 2. Kepemimpinan 3. Investasi Strategis 4. Kolaborasi 5. Keterlibatan Masyarakat Hubungan pemerintah dan masyarakat yang lebih baik Kesuksesan program LAPOR! Kota Bandung