• Tidak ada hasil yang ditemukan

Regresi Linear antara Variasi Salinitas terhadap Parameter Rasio Tajuk dan Akar A. marina

HASIL DAN PEMBAHASAN

E. Pengaruh salinitas terhadap Rasio Tajuk dan Akar semai A. marina

5. Regresi Linear antara Variasi Salinitas terhadap Parameter Rasio Tajuk dan Akar A. marina

Berdasarkan Gambar 10, pemberian variasi salinitas menunjukkan nilai koefisien determinasi yang positif terhadap rasio tajuk dan akar. Nilai koefisien determinasi yang bernilai positif lemah yaitu 0,005 menunjukkan kekuatan mempengaruhi bersifat cukup lemah karena mendekati nilai 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi variasi salinitas yang diberikan terhadap semai A. marina, maka akan diikuti dengan semakin tingginya nilai rasio tajuk dan akar semai A. marina.

Regresi variasi salinitas terhadap parameter rasio tajuk dan akar pada semai A. marina berumur 3 bulan disajikan dalam Gambar 10.

Gambar 10. Analisis regresi variasi salinitas terhadap rasio tajuk dan akar semai A. marina.

Berdasarkan Gambar 10 terhadap rasio tajuk dan akar. Jika nilai x berubah sebesar satu satuan, maka nilai y akan naik sebesar 9,636 satuan menjadi 11,099. Semakin besar perubahan yang terjadi pada variabel variasi salinitas, maka akan

y = 9.636x + 1.463 R² = 0.005 0 2 4 6 8 10 12 0,0% 1,0% 2,0% 3,0% R at io T aj uk da n A ka r Salinitas

31

semakin tinggi pula peningkatan yang terjadi pada variabel rasio tajuk dan akar. Pada nilai koefisien determinasi (R2) menunjukan kemampuan variabel variasi salinitas dalam mempengaruhi variabel rasio tajuk dan akar semai A. marina hanya sebesar 0,5% dan sekitar 99,5% variabel rasio tajuk dan akar dipengaruhi oleh variabel bebas selain variasi salinitas.

Korelasi

Tabel 1. Korelasi parameter pengamatan pada semai A. marina (n = 8-14).

S U T D JD BBA BBT BKA BKT S 1 U 0.255 1 T 0.059 -0.160 1 D -0.233 -0.019 -0.011 1 JD 0.157 -0.394* 0.623** 0.024 1 BBA 0.205 -0.145 0.500** -0.003 0.590** 1 BBT 0.289* -0.185 0.587** -0.002 0.600** 0.473** 1 BKA 0.146 -0.118 0.446** -0.034 0.584** 0.753** 0.383** 1 BKT 0.166 -0.121 0.696** -0.013 0.716** 0.558** 0.800** 0.614** 1 RTA 0.093 0.082 0.304* 0.051 0.234 -0.088 0.477** -0.203 0.457** *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

S = Salinitas, U = Ulangan, T = Tinggi, D = Diameter,

JD = Jumlah Daun, BA = Berat Basah Akar, BKA = Berat Kering Akar, BBT = Berat Basah Tajuk, BKT = Berat Kering Tajuk, RTA = Rasio Tajuk dan Akar

Analisa korelasi digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua variabel (Harahab, 2009). Analisis Korelasi adalah analisis yang digunakan guna mengukur tinggi rendahnya derajat hubungan antara variabel yang diteliti. Tinggi rendahnya derajat hubungan antara variabel yang diteliti tersebut dapat dilihat dari koefisien korelasi. Koefisien korelasi mendekati angka +1 mengindikasikan terjadi hubungan positif yang erat, namun apabila mendekati angka –1 mengindikasikan terjadi hubungan negatif yang erat. Koefisien korelasi mendekati angka 0 (nol) mengindikasikan bahwa hubungan kedua variabel adalah lemah atau tidak erat. Dengan demikian nilai koefisien korelasi berada pada kisaran –1 ≤ r ≤ +1 (Kridalaksana, 2014). Analisa korelasi bertujuan untuk mengetahui nilai dari keeratan hubungan antara masing-masing parameter.

32

Selanjutnya akan diketahui keeratan hubungan antara parameter dengan parameter yang lain.

Terdapat dua macam label statistik akibat perolehan harga p, yaitu tidak signifikan atau signifikan. “Tidak signifikan” berarti harga statistik harus diabaikan dan dianggap tidak ada, berapa besarnya pun harga tersebut. “Signifikan” berarti harga statistik tidak dapat diabaikan dan harus dianggap ada, berapa kecilnya pun harga statistik tersebut (Azwar, 2009).

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa salinitas berpengaruh nyata (*) pada berat basah tajuk P<0,05. Hal ini dapat diasumsikan bahwa semakin tinggi salinitas maka semakin tinggi berat basah tajuk pada semai A. marina berumur 3 bulan. Nilai koefisien korelasi hubungan antara salinitas dan berat basah tajuk adalah positif lemah.

Dari Tabel 1 juga dapat dilihat tinggi berpengaruh nyata pada jumlah daun, berat basah akar, berat basah tajuk, berat kering akar, dan berat kering tajuk. Tinggi mempengaruhi dengan pengujian P<0,01 menunjukkan bahwa keeratannya sangat signifikan dan kefisien korelasi menunjukkan hubungan positif kuat kecuali pada berat kering akar positif lemah. Tinggi juga berpengaruh nyata signifikan dengan rasio tajuk dan akar dengan hubungan keeratan positif lemah dengan (*).

Untuk diameter seluruhnya tidak signifikan. Untuk jumlah daun berpengaruh nyata sangat signifikan P<0,01 dengan berat basah akar, berat basah tajuk, berat kering akar dan tajuk. Hubungan keeratan jumlah daun adalah positif kuat namun nilai ini diabaikan karena tidak signifikan.

33

Jumlah daun berpengaruh nyata sangat signifikan P<0,01 dengan berat basah akar, berat basah tajuk, berat kering akar, dan berat kering tajuk. Hubungan keeratan jumlah daun adalah positif kuat. Namun jumlah daun berkorelasi tidak signifikan pada rasio tajuk dan akar.

Berat basah akar berpengaruh nyata sangat signifikan P<0,01 dengan berat basah tajuk, berat kering akar, dan berat kering tajuk. Hubungan keeratan berat basah akar adalah positif kuat pada berat kering akar dan berat kering tajuk serta positif lemah pada berat basah tajuk. Berat basah tajuk berpengaruh nyata sangat signifikan P<0,01 dengan berat kering akar, berat kering tajuk, dan rasio tajuk dan akar. Hubungan keeratan berat basah tajuk adalah positif kuat pada berat kering tajuk dan positif lemah pada berat kering akar dan rasio tajuk dan akar.

Berat kering akar berpengaruh nyata sangat signifikan P<0,01 dengan berat kering tajuk. Hubungan keeratan berat kering akar adalah positif kuat. Berat kering tajuk berpengaruh nyata sangat signifikan P<0,01 dengan rasio akar dan tajuk. Hubungan keeratan berat kering tajuk adalah positif lemah.

Ekstraksi Lipid dan Analisis Non-saponifiable Lipids (NSL)

Hasil analisis ekstrak lipid dan NSL pada semai A. marina disajikan pada tabel berikut :

Tabel 2. Ekstrak lipid dan NSL pada tajuk dan akar semai A. marina dengan ulangan (n = 2-3).

Jenis Jaringan Perlakuan Berat Awal (mg) NSL (ml) Polyisoprenoid (ml/mg) A. marina Daun 0% 235 143,33 0,61 Akar 0% 375 53,33 0,14 A. marina Daun 3% 603 213,33 0,35 Akar 3% 470 727,67 1,52

Berdasarkan Tabel 2 kandungan NSL terbesar A. marina pada akar dengan salinitas 3%. Sedangkan kandungan NSL terendah pada akar kontrol. Hal

34

ini diasumsikan pada kondisi tanpa salinitas polyisoprenoid banyak tersimpan pada daun, tetapi pada kondisi salinitas 3% polyisoprenoid banyak tersimpan pada akar. Dengan demikian semakin tinggi salinitas maka semakin tinggi kandungan polyisoprenoid pada semai A. marina berumur 3 bulan. Selain itu semakin tinggi salinitas maka semakin tinggi kandungan air pada akar yang menyebabkan komposisi kandungan polyisoprenoid semakin meningkat pula. Hal ini sesuai dengan pernyataan Basyuni et al. (2012) mengemukakan bahwa triterpenoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang ada pada mangrove yang digunakan untuk beradaptasi dengan tingginya salinitas air laut, dimana senyawa triterpenoid meningkat keberadaanya diakar dan di daun dengan meningkatnya salinitas yang diberikan pada A. marina.

Pada penelitian ini, dilakukan analisis NSL terlebih dahulu sebelum dilakukannya analisis terhadap polyisoprenoid. Basyuni et al. (2007) menyatakan bahwa NSL pada dasarnya menunjukkan bagian lipid yang sederhana, (kecuali asam lemak yang merupakan saponifiable lipids) mengandung sterol, rantai panjang alkohol, dan alkanes. NSL umumnya mewakili fraksi lipid yang lebih stabil daripada saponifiable lipids (asam lemak). NSL juga resisten terhadap degradasi yang disebabkan mikroba.

Analisis One-Dimensional Plate Thin-Layer Chromatography (1D-TLC)

Berdasarkan Gambar 11 separasi polyisoprenoid untuk memisahkan dolichol dan polyprenols tidak berhasil dilakukan. Pada Gambar 11 menunjukkan keberadaan dolichol disebelah kanan standard yang telah ditentukan pada akar kontrol. Pada Gambar 11 terlihat bahwa akar 0% menunjukkan pemisahan dolichol dan polyprenols yang tidak terlihat. Hal ini diasumsikan karena pada

35

sampel semua akar tetap tertinggal walupun tajuk telak mati. Namun berat kering akar pada salinitas 0% rendah. Untuk menentukan polyisoprenoid yang terkandung dalam A. marina yang telah diberikan perlakuan variasi salinitas, dilakukan penelitian menggunakan 1D-TLC. Hasil analisis 1D-TLC semai A. marina disajikan dalam Gambar 11.

Gambar 11. Analisis polyisoprenoid A. marina menggunakan 1D-TLC Keterangan:

Std. : Standard dolichol

1,2 dan 3 : Dolichol pada daun A. marina perlakuan salinitas 0% 4,5 dan 6 : Dolichol pada daun A. marina perlakuan salinitas 3 % 7,8 dan 9 : Dolichol pada akar A. marina perlakuan salinitas 0% 10,11 dan 12 : Dolichol pada akar A. marina perlakuan salinitas 3 %

Berdasarkan Gambar 11 dapat dikatakan kandungan dolichol dan polyprenol yang sedikit. Hal ini diasumsikan karena umur semai A. marina yang masih berumur 3 bulan. Dengan demikian belum banyak ditemukan komposisinya karena dolichol dan polyprenol meningkat seiring dengan pertambahan salinitas dan

36

umur. Swiezewska dan Danikiewicz (2005) yang menyatakan bahwa konsentrasi dolichol dan polyprenol akan meningkat di setiap jaringan tanaman dengan pertambahan umur dan dengan meningkatnya cekaman lingkungan. Hal ini sesuai pernyataan Suga et al. (1989) yang menyatakan konsentrasi polyisoprenoid pada tanaman mengalami perubahan yang disebabkan oleh perbedaan umur dan musim.

37

Dokumen terkait