• Tidak ada hasil yang ditemukan

Regulasi Terkait Bisnis Online Asing di Indonesia

Dalam dokumen BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 26-36)

B. Optimalisasi Fungsi Regulerend Bagi Pelaku Bisnis Online Asing Berkaitan dengan Penghasilan yang Bersumber dari Indonesia

1. Regulasi Terkait Bisnis Online Asing di Indonesia

Pajak merupakan iuran yang harus dibayarkan oleh wajib pajak guna masuk ke kas negara. Hal tersebut Sesuai dengan amanat Pasal 23 (A) UUD 1945 (Amandemen IV), merupakan dasar hukum pungutan pajak di Indonesia yang berbunyi "Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang"

Sudah menjadi hal pasti bagi pemerintah melaksanakan instruksi UUD 1945 terkait pajak dan pungutan bagi wajib pajak yang digunakan untuk keperluan negara. Oleh karena itu diperlukan Undang-Undang yang dapat mengakomodasi semua hal terkait pemasukan negara baik dari wajib pajak dalam negeri maupun luar negeri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan Undang-Undang tentang pajak, yaitu:

a. Pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara yang berdasarkan UU tersebut harus dijamin kelancarannya

b. Jaminan hukum bagi para wajib pajak untuk tidak diperlakukan secara umum

c. Jaminan hukum akan terjaganya kerasahiaan bagi para wajib pajak d. Pungutan tidak mengganggu perekonomian.

Sebagai sumber penerimaan negara, pajak mempunyai fungsi budgeter dan fungsi regulerend. Fungsi budgeter yaitu pajak sebagai sumber dana pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya. Sementara fungsi Regulerend atau mengatur yaitu pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi (Dwi Sulatyawati, 2014:122). Untuk itulah peraturan perpajakan harus menimbulkan keadilan dan kepastian hukum. Namun tidaklah mudah untuk membebankan pajak pada masyarakat. Bila terlalu tinggi, masyarakat akan enggan membayar pajak. Namun bila terlalu rendah, maka pembangunan tidak akan berjalan karena dana yang kurang. Agar tidak menimbulkan berbagai masalah, maka pemungutan pajak harus memenuhi persyaratan yaitu:

a. Pemungutan pajak harus adil, seperti halnya produk hukum, pajak pun mempunyai tujuan untuk menciptakan keadilan dalam hal pemungutan pajak. Adil dalam perundang-undangan maupun adil dalam pelaksanaannya.

b. Pengaturan pajak harus berdasarkan Undang Undang

c. Pungutan pajak tidak mengganggu perekonomian, Pemungutan pajak harus diusahakan sedemikian rupa agar tidak mengganggu kondisi perekonomian, baik kegiatan produksi, perdagangan, maupun jasa. Pemungutan pajak jangan sampai merugikan kepentingan masyarakat dan menghambat lajunya usaha masyarakat pemasok pajak, terutama masyarakat kecil dan menengah.

d. Pemungutan pajak harus efisien, Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka pemungutan pajak harus diperhitungkan. Jangan sampai pajak yang diterima lebih rendah daripada biaya pengurusan pajak tersebut.

e. Sistem pemungutan pajak harus sederhana, Bagaimana pajak dipungut akan sangat menentukan keberhasilan dalam pungutan pajak. Sistem yang sederhana akan memudahkan wajib pajak dalam menghitung beban pajak yang harus dibiayai sehingga akan memberikan dapat positif bagi para wajib pajak untuk meningkatkan kesadaran dalam pembayaran pajak (Totok Harjanto,2013:49).

Sebuah aturan yang yang baik dan tidak membebani masyarakat sendiri akan meningkatkan tingkat kepatuhan wajib pajak. Hal tersebut juga berlaku pada pelaku bisnis online baik dalam negeri maupun luar negeri. Aturan terhadap pelaku bisnis online merupakan bentuk keadilan dan perlakuan yang sama dengan pelaku bisnis konvensional. Sesuai dengan asas keadilan bahwa pungutan pajak berlaku secara umum tanpa diskriminasi, untuk kondisi yang sama diperlakukan sama pula.

Sehingga apabila pelaku bisnis konvensional melakukan usaha dan dikenakan pajak, maka pelaku bisnis online juga harus dikenakan pajak walaupun kegiatan tersebut dijalankan di ruang digital atau internet.

Begitupun perlakuan bagi pelaku bisnis online asing juga harus disamakan dengan pelaku bisnis online dalam negeri.

Agar negara dapat mengenakan pajak kepada pelaku bisni online baik dalam negeri maupun luar negeri yang mempunyai keterikatan di Indonesia tentu saja harus ada ketentuan-ketentuan yang mengaturnya.

Seperti yang sudah diketahui bahwa pajak merupakan amanatPasal 23 (A) UUD 1945 (Amandemen IV) yang diimplementasikan melalui undag-undang KUP, UU PPh, UU PPn dan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

Khusus pelaku bisnis online asing terdapat dua permasalahan jenis pajak yang menjadi dasar, yaitu PPh dan PPn. Mengenai PPh sendiri sudah dijelaskan apa yang menjadi objek dasar dari pengenaan pajak yaitu penghasilan. Selama pelaku bisnis online asing tersebut memperoleh atau mendapatkan penghasilan yang bersumber dari Indonesia, maka pelaku bisnis online asing berhak dikenakan pajak. Di Indonesia sendiri tidak ada undang-undang khusus yang mengatur tentang pajak penghasilan pelaku bisnis online asing. Di dalam UU PPh juga tidak dijelaskan secara detil mengenai transaksi berbasis elektronik atau online. Sehingga dalam hal ini perlakuan bagi pelaku bisnis online sama dengan perlakuan pelaku usaha konvensional yaitu berdasar pada UU PPh. Sama yang dimaksud disini adalah sama-sama dikenakan pajak atas usahanya baik PPn maupun PPh. Terkait PPh sendiri walaupun belum secara eksplisit melalui undang-undang namun ada beberapa surat edaran dan aturan lainnya yang dapat dijadikan pedoman dalam pengenaan pelaku bisnis online. Lebih jelasnya mengenai aturan-aturan yang dapat dijadikan dasar untuk mengenaan pajak pada pelaku bisnis online yang memperoleh penghasilan dari Indonesia adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan UU PPh mengatur pajak penghasilan secara umum. Pasal 2 ayat (4) menjelaskan mengenai subjek pajak luar negeri yaitu orang pribadi atau badan yang tidak berkedudukan atau bertempat tinggal

di Indonesia baik melalui bentuk usaha tetap maupun tidak. Pelaku bisnis online asing merupakan orang pribadi ataupun badan yang tidak berada di Indonesia. Terdapat pelaku bisnis online asing yang mempunyai Bentuk Usaha Tetap di Indonesia seperti layanan Over The Top (google, facebook, yahoo, twitter,dll), ada pula yang tidak mempunyai badan usaha tetap di Indonesia (Amazon, Alibaba, E-bay,dll). Selain masalah status pajak subjek pajak luar negeri, UU PPh juga mengatur jenis pajak yang dikenakan Subjek Pajak Luar Negeri. Pajak pasal 26 adalah pajak khusus Subjek pajak luar negeri dimana dikenakan pemotongan 20% dari jumlah bruto kecuali ditentukan lain melalui tax traty. Jika menitikberatkan pada pasal 26 UU PPh maka pelaku bisnis online asing dapat dikenakan pajak 20%

dari jumlah bruto jika negara domisili tidak terikat tax treaty dengan Indonesia. Ketiadaan bentuk usaha tetap serta tax treaty/perjanjian pajak dengan negara dimana pelaku bisnis online asing berdomisili menjadikan penerapan pajak tersebut tidak optimal bahkan tidak berjalan. Hal tersebut juga diakibatkan belum adanya peraturan bagaimana pengenaan pajak pada subjek pajak luar negeri termasuk pelaku bisnis online asing yang mengakibatkan subjek pajak luar negeri lepas dari tanggung jawab pajaknya dari negara sumber.

b. Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce) Tahun 2017-2019.

Dalam perpres ini tidak mengatur secara khusus tentang perpajakan e-commerce atau bisnis online, tapi terdapat aspek perpajakan yang menjadi arahan presiden guna menghadapi ekonomi digital dimasa mendatang. Beberapa program aspek perpajakan yang menjadi arahan presiden di dalam perpres ini adalah :

1) Menyederhanakan tata cara perpajakan bagi pelaku usaha perdagangan berbasis elektronik (e-commerce) yang omzetnya di bawah Rp. 4,8 Miliar per tahun.

2) Menyusun insentif pajak bagi investor perdagangan berbasis elektronik.

3) Menyusun regulasi kewajiban pelaku usaha e-commerce untuk mendaftarkan diri termasuk pelaku usaha asing.

4) Menyusun regulasi yang mendukung pengenaan pajak atas pelaku usaha e-commerce asing dan lokal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

Walaupun perpres ini lebih mengarah kepada instruksi presiden namun penunjukan pelaku e-commerce asing agar masuk dalam regulasi perpajakan merupakan langkah yang positif. Tinggal menunggu output dari perpres ini yang dapat berbentuk peraturan menteri dari kementerian terkait yaitu kementerian keuangan, kementerian perdagangan, dan kementereian komunikasi dan informatika.

c. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-62/PJ/2013 Tentang Penegasan Ketentuan Perpajakan Atas Transaksi E-Commerce

Dalam surat edaran ini menjelaskan mengenai model-model bisnis online E-Commerce beserta aspek perpajakannya. Dalam surat edaran ini mengatur pemajakan baik PPh maupun PPn.

Beberapa jenis bisnis online beserta aspek pemajakan PPh adalah sebagai berikut :

1) Online Marketplace

Online Marketplace adalah kegiatan menyediakan tempat kegiatan usaha berupa Toko Internet di Mal Internet sebagai tempat Online Marketplace Merchant menjual barang

dan/atau jasa. Dalam Online Markeplace ini yang terkait adalah Penyelenggara Online Marketplace, Online Marketplace Merchant, dan Pembeli. Ada 3 jenis objek penghasilan dalam bisnis ini yaitu :

a) Penghasilan dari jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media lain untuk penyampaian informasi

b) Penghasilan dari penjualan barang dan/atau penyediaan jasa c) Penghasilan dari jasa perantara pembayaran

Tarif dari penghasilan diatas tidak dikenai pajak yang bersifat final, tarif PPh Pasal 17 diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak yang dihitung dari penghasilan bruto dari penjualan yang dikurangi dengan biaya-biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan serta untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak.

2) Classified Ads

Classified Ads adalah kegiatan menyediakan tempat dan/atau waktu untuk memajang content (teks, grafik, video penjelasan, informasi, dan lain-lain) barang dan/atau jasa bagi Pengiklan untuk memasang iklan yang ditujukan kepada Pengguna Iklan melalui situs yang disediakan oleh Penyelenggara Classified Ads. Pihak-pihak dalam bisnis ini adalah Penyelenggara Classified Ads, Pengiklan dan Pengguna Iklan. Objek pajaknya adalah Penghasilan dari jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media lain untuk penyampaian informasi. Sementara tarif PPh adalah tidak final yang dikenakan Pasal 17 diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak.

3) Daily Deals

Daily Deals merupakan kegiatan menyediakan tempat kegiatan usaha berupa situs Daily Deals sebagai tempat Daily

Deals Merchant menjual barang dan/atau jasa kepada Pembeli dengan menggunakan Voucher sebagai sarana pembayaran.

Objek pajak dari bisnis ini adalah sama dengan objek pajak Online Marketplace. Pengenaan tarif pun sama yaitu Pasal 17 diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak dan tidak bersifat final.

4) Online Retail

Online Retail adalah kegiatan menjual barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh Penyelenggara Online Retail kepada Pembeli di situs Online Retail. Untuk pihak Penyelenggara Online Retail (sekaligus Merchant) sebagai penjual barang atau penyedia jasa yang penghasilannya tidak dikenai pajak yang bersifat final, tarif PPh Pasal 17 diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak yang dihitung dari :

a) Penghasilan bruto dari penjualan yang dikurangi dengan biaya-biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan serta untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak; atau b) Penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 Undang-Undang PPh dan untuk Wajib Pajak orang pribadi dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak.

Dalam surat edaran dirjen pajak diatas lebih fokus pada bisnis e-commerce atau jual beli online. Selain itu berlakunya surat edaran tersebut juga tidak dijelaskan dengan jelas apakah pelaku e-commerce yang dimaksud juga termasuk pelaku luar negeri/asing.

Melihat dari UU PPh bahwa subjek pajak luar negeri dikenakan pajak pasal 26, sedangkan yang ada dalam surat edaran diatas adalah pasal 17. Hal tersebut menunjukan bahwa surat edaran tersebut hanya mengakomodir pelaku bisnis online di Indonesia.

d. Surat Edaran Nomor SE-06/PJ/2015 Tentang Pemotongan Dan/Atau Pemungutan Pajak Penghasilan Atas Transaksi E-Commerce.

Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini diberikan penegasan mengenai pelaksanaan pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan atas transaksi e-commerce dapat berjalan dengan baik dan terdapat keseragaman dalam pelaksanaannya. Dalam surat edaran ini Cuma menegaskan pemotongan pasal 21/23/26 atas objek pajak yang ada dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-62/PJ/2013. Tidak ada aturan lebih lanjut mengenai mekanisme pemungutan atau pemotongan pajak pada pelaku bisnis E-commerce terutama bagi pelaku Asing.

Sebenarnya masih ada beberapa peraturan yang mengarah ke pelaku bisnis online asing namun peraturan tersebut tidak menjurus ke pajaknya. Seperti Surat Edaran Kominfo Nomor 3 Tahun 2016 terkait Penyediaan Layanan Aplikasi dan/atau Konten Melalui Internet (Over The Top) yang mengharuskan penyedia layanan OTT harus berbentuk usaha tetap. Kewajiban untuk berbentuk usaha tetap tersebut guna tertib administrasi dan juga lebih mudah dalam pengenaan pajaknya. Hal tersebut tidak lepas dari tax treaty/P3B indonesia dengan negara domisili pelaku bisnis online asing yang sebagian besar mengarahkan bentuk usaha tetap untuk dapat dikenakan pajak oleh negara sumber.

Selain itu, peraturan-peraturan diatas lebih mengarah ke bisnis online e-commerce atau jual beli online yang memang sedang trend dan meningkat akhir-akhir ini. Namun bukan berarti model bisnis online lainnya akan lolos dari aturan, karena perkembangan teknologi informasi akan memungkinkan model-model bisnis jenis baru yang lebih rumit.

Peraturan-peraturan yang sudah dibahas diatas jika dikaitkan dengan pelaku bisnis online asing, maka belum ada aturan yang jelas

mengenai pengenaan pajaknya. Hanya terdapat dalam pasal 26 UU PPh yang secara umum menjelaskan adanya pemotongan dari penghasilan/pembayaran dalam negeri kepada subjek pajak luar negeri.

Jenis-jenis penghasilan yang wajib dilakukan pemotongan dapat digolongkan dalam:

a. penghasilan yang bersumber dari modal dalam bentuk dividen, bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang, royalti, dan sewa serta penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;

b. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, atau kegiatan;

c. hadiah dan penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apa pun;

d. pensiun dan pembayaran berkala lainnya;

e. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau f. keuntungan karena pembebasan utang.

Jadi bila ada pelaku bisnis online asing yang membayarkan kepada subjek pajak luar negeri untuk mendapatkan akses baik itu musik, film, ataupun hak kekayaan intelektual lainnya seperti jurnal internasional seharusnya dikenakan pajak pasal 26 dengan tarif 20%

(kecuali ditentukan lain oleh tax treaty/P3B) karena masuk kedalam royalti. Royalti disini termasuk dalam penghasilan pasive income, dimana penghasilan rata-rata berasal dari modal atau investasi.

Sementara itu penghasilan dari kegiatan usaha pada umumnya dalam bisnis online merupakan penghasilan active income. Permasalahan terhadap royalti dalam bisnis online adalah nilai harga yang rendah bahkan masuk dalam kategori Penghasilan Tidak Kena Pajak, sehingga tidak etis bila pembayaran rendah seperti itu harus dipotong sebagaimana pasal 26 UU PPh. Diluar itu permasalahan utama adalah perbedaan yurisdiksi, sehingga perlu upaya untuk membuka batas yurisdiksi tersebut.

Permasalahan tersebut juga sama dengan bisnis online e-commerce, dimana pembayaran akan sebuah barang/jasa diperoleh dari beberapa konsumen/pembeli di Indonesia. Uang dari hasil penjualan tersebut kemudian masuk ke kas dari pelaku e-commerce asing, sehingga yang bisa menentukan penghasilan tersebut dari Indonesia atau bukan adalah pelaku commerce asing itu sendiri. Terlebih Pelaku e-commerce asing tidak hanya menyasar konsumen dari satu negara saja, tapi banyak negara yang menjadi target penjualannya. Dengan adanya penghasilan dari berbagai negara yang masuk kedalam keuangan pelaku e-commerce asing, tentu pihaknya tidak mau repot-repot menentukan pembagian penghasilan dari negara-negara sumber. Dengan begitu kemungkinan pelaku e-commerce asing bisa lolos dari pajak negara sumber. Permasalahan tersebut juga merujuk pada pelaku bisnis online lainnya. Dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut tentu dituntut perlunya aturan yang dapat menjerat pelaku bisnis online asing.

Proyek Base Erosion and Profit Shifting (BEPS), yang dijalankan oleh OECD dan Negara-negara G20, dimana Indonesia menjadi anggota, turut menyoroti masalah perpajakan dalam perekonomian digital dalam situasi antara Negara. Laporan BEPS itu menjelaskan tantangan pajak dalam PPh dan PPN serta rekomendasi perbaikan peraturan pajak dalam ekonomi digital.

2. Optimalisasi Regulasi Pajak terhadap Pelaku Bisnis Online Asing

Dalam dokumen BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 26-36)

Dokumen terkait