zaman pola pikir berubah dan yang
sering terjadi justru sebaliknya. Tindakan guru menghukum murid dianggap menyalahi aturan kemanusiaan dan pelanggaran HAM. Tak jarang hukuman ringan seperti menasehati atau memberikan tugas tambahan justru diartikan sebagai tindakan hukuman yang tidak pantas dilakukan.Guru kerap menjadi sasaran bullying atau kemarahan orang tua.
Guru maupun siswa patut dibela, sebab keduanya merupakan tonggak pembangunan bangsa. Menyikapi hal tersebut, dan dalam upaya melindungi kedua belah pihak, Kemendikbud mengeluarkan Permendikbud No.82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak
Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Permendikbud ini merumuskan kebijakan bagi pelaku pendidikan, para peserta didik, serta kolaborasi berbagai pihak (orang tua/wali, komite sekolah, masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat) dalam mencegah dan menanggulangi tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah. Ragam tindak
kekerasan yang diatur mencakup pelecehan, perundungan, penganiayaan, perkelahian, perpeloncoan, pemerasan, pencabulan, pemerkosaan, tindak kekerasan atas dasar diskriminasi terhadap suku, agama, ras, dan/ atau antargolongan (SARA), serta tindak kekerasan lain. Aturan ini juga memuat sanksi bagi pihak- pihak yang melanggar, serta mengharuskan setiap sekolah memasang Papan Informasi Sekolah Aman di serambi atau halaman depan sekolah sebagai langkah antisipasi serta upaya meminimalisasi tindak kekerasan.
Harapannya, kebijakan ini dapat menjadi dasar bagi para pelaku dan peserta pendidikan dalam membangun ekosistem sekolah yang ramah dan
menyenangkan bagi seluruh peserta didik demi mewujudkan generasi- generasi terbaik negeri ini. Sekolah Bebas Asap Rokok
Data Kemenkes mengungkapkan prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat tiga kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014. Dan yang
Contoh Papan Informasi Sekolah Aman
lebih mengejutkan adalah usia mulai merokok semakin muda (dini). Perokok pemula usia 10- 14 tahun meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari 8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013.(http://www.depkes.go.id/ article/print/16060300002/htts- 2016-suarakan-kebenaran-jangan- bunuh-dirimu-dengan-candu- rokok.html)
Dengan bertambahnya jumlah perokok, maka semakin banyak pula kawasan-kawasan yang dijadikan tempat untuk merokok termasuk kawasan sekolah. Demi meminimalisasi dampak rokok terhadap anak-anak usia sekolah serta dalam rangka mendukung program Kementerian Kesehatan yang mencanangkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan aturan yang memuat pelarangan rokok di lingkungan sekolah yang tertuang dalam
Permendikbud No. 64 tahun 2015
tentang Kawasan Tanpa Rokok di
Lingkungan Sekolah.
Beberapa poin penting diatur dalam Permendikbud ini, di antaranya berupa imbauan kepada sekolah untuk memasukkan larangan terkait rokok dalam aturan tata tertib sekolah, melakukan penolakan terhadap penawaran iklan, promosi, pemberian sponsor, atau kerja sama yang dilakukan oleh perusahan rokok, memberlakukan larangan pemasangan papan iklan,
reklame, penyebaran pamlet, dan
bentuk iklan lain dari perusahaan atau yayasan rokok di lingkungan sekolah serta melarang penjualan rokok di kantin, warung atau koperasi serta tempat penjualan lain di sekolah. Sekolah juga diimbau untuk memasang tanda kawasan tanpa rokok di Lingkungan Sekolah.
Contoh tanda Kawasan Tanpa Rokok
meminimalisasi dampak maupun pengaruh rokok di kalangan remaja dan usia sekolah. Diharapkan kesadaran bagi gaya hidup yang sehat tanpa rokok di kalangan siswa pelajar di Indonesia. Hidup dalam lingkungan yang sehat adalah hak seluruh anak Indonesia. Sebagai calon penerus bangsa, siswa-siswi Indonesia harus tumbuh menjadi generasi yang sehat, produktif dan dapat membawa serta membangun negeri ini ke arah yang lebih positif. Perbaikan Tata Kelola
Perbukuan
Buku merupakan sarana penting dalam pembelajaran. Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca, wawasan setiap orang dapat terbangun dan pemahamannya terhadap dunia menjadi lebih luas. Hal tersebut menjadikan literasi sebagai bagian penting pendidikan. Namun nyatanya tidak semua pihak memiliki pemikiran sama.
Beberapa waktu lalu, dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan beberapa kasus buku bacaan yang mengandung konten- konten yang tidak pantas dan tidak sesuai untuk dikonsumsi masyarakat luas, khususnya usia sekolah. Beberapa buku pelajaran, Lembar Kerja Siswa (LKS) serta novel didapati mengandung unsur
pornograi dan radikalisme. Hal
ini menjadi sorotan sekaligus kekhawatiran masyarakat termasuk orang tua serta para pelaku dan praktisi pendidikan.
Demi meminimalisasi kesalahan dalam pemilihan dan penggunaan buku teks maupun nonteks pelajaran tersebut, Mendikbud memutuskan untuk membuat aturan tentang tata kelola perbukuan yang akan digunakan di sekolah. Aturan perbukuan tersebut kemudian tertuang dalam Permendikbud
No.8 Tahun 2016 tentang Buku yang Digunakan Oleh Satuan Pendidikan. Permendikbud ini merumuskan kriteria-kriteria terkait pemilihan buku yang aman dan layak digunakan oleh sekolah serta sejalan dengan nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, serta norma positif yang berlaku di masyarakat.
Buku yang nantinya digunakan oleh Satuan Pendidikan wajib memenuhi nilai/norma positif yang berlaku di masyarakat, antara lain tidak mengandung unsur
pornograi, paham ekstrimisme,
radikalisme, kekerasan, SARA, bias gender, serta penyimpangan nilai lainnya.
Demi mendorong terwujudnya buku pelajaran yang berkualitas, Kemendikbud berharap masyarakat khususnya orang tua turut aktif dalam memperhatikan buku- buku pelajaran yang digunakan oleh anak, keluarga atau sanak- saudaranya di sekolah. Setiap orang juga diharapkan dapat melaporkan dan memberikan kritik, komentar, serta masukan terhadap buku yang digunakan dengan mengirimkan langsung kepada penulis dan
penerbit atau kepada Kemendikbud melalui laman http://buku.
kemdikbud.go.id atau melalui email [email protected]. Sudah saatnya masyarakat bersikap kritis dan solutif demi kepentingan bersama. Anak-anak kita berhak mendapatkan sumber bacaan yang sehat, berkualitas serta bermanfaat bagi masa depannya.
Pengenalan Lingkungan Sekolah
Dari tahun ke tahun, masa orientasi peserta didik baru kerap diwarnai aksi kekerasan, baik verbal
maupun isik. Tak sedikit sekolah
yang masih melaksanakan cara serupa dalam masa orientasinya. Padahal, tak sedikit kasus siswa yang sakit bahkan meninggal dunia akibat orientasi sekolah. Kemendikbud menyadari betul, persoalan kekerasan saat orientasi bukanlah persoalan yang sepele, apalagi jika kegiatan tersebut sampai menelan korban.
Merespon hal tersebut, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan membuat terobosan dengan menghapus Permendikbud Nomor 55 Tahun 2014 tentang Masa Orientasi Siswa yang dinilai belum dapat mencegah terjadinya