• Tidak ada hasil yang ditemukan

Regulatory Impact Analysis

2.1. Landasan Teori

2.1.4. Regulatory Impact Analysis

Untuk mencapai obyektif penelitian, maka akan digunakan alat analisis Regulatory Impact Analysis dalam melihat dampak kebijakan yang sementara berjalan sebagai bagian dari proses evaluasi efektifitas kebijakan. Regulatory Impact Analysis (RIA) merupakan proses analisis dan pengkomunikasian secara sistematis terhadap kebijakan, baik kebijakan baru maupun kebijakan yang sudah ada.

Regulatory Impact Analysis (RIA) dapat dipahami dalam 3 pendekatan: sebagai proses, sebagai alat bantu, dan sebagai logika berfikir.

2.1.4.1. Metode RIA sebagai Proses

Sebagai sebuah proses, metode RIA mencakup beberapa langkah sebagai berikut:

1) Identifikasi dan analisis masalah terkait kebijakan.

Langkah ini dilakukan agar semua pihak, khususnya pengambil kebijakan, dapat melihat dengan jelas masalah apa sebenarnya yang dihadapi dan hendak dipecahkan dengan kebijakan tersebut. Pada tahap ini, sangat penting untuk membedakan antara masalah (problem) dengan gejala (symptom), karena yang hendak dipecahkan

19 Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

adalah masalah, bukan gejalanya. 2) Penetapan tujuan.

Setelah masalah teridentifikasi, selanjutnya perlu ditetapkan apa sebenarnya tujuan kebijakan yang hendak diambil. Tujuan ini menjadi satu komponen yang sangat penting, karena ketika suatu saat dilakukan penilaian terhadap efektivitas sebuah kebijakan, maka yang dimaksud dengan “efektivitas” adalah apakah tujuan kebijakan tersebut tercapai ataukah tidak.

3) Pengembangan berbagai pilihan/alternatif kebijakan untuk mencapai tujuan.

Setelah masalah yang hendak dipecahkan dan tujuan kebijakan sudah jelas, langkah berikutnya adalah melihat pilihan apa saja yang ada atau bisa diambil untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam metode RIA, pilihan atau alternatif pertama adalah “do nothing” atau tidak melakukan apa-apa, yang pada tahap berikutnya akan dianggap sebagai kondisi awal (baseline) untuk dibandingkan dengan berbagai opsi/pilihan yang ada. Pada tahap ini, penting untuk melibatkan stakeholders dari berbagai latar belakang dan kepentingan guna mendapatkan gambaran seluas-luasnya tentang opsi/pilihan apa saja yang tersedia.

4) Penilaian terhadap pilihan alternatif kebijakan, baik dari sisi legalitas maupun biaya (cost) dan manfaat (benefit)-nya.

Setelah berbagai opsi/pilihan untuk memecahkan masalah

teridentifikasi, langkah berikutnya adalah melakukan seleksi terhadap berbagai pilihan tersebut. Proses seleksi diawali dengan penilaian dari aspek legalitas, karena setiap opsi/pilihan tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Untuk pilihan-pilihan yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dilakukan analisis terhadap biaya (cost) dan manfaat (benefit) pada masing-masing pilihan. Secara sederhana, “biaya” adalah hal-hal negatif atau merugikan suatu pihak jika pilihan tersebut diambil, sedangkan “manfaat” adalah hal-hal positif atau menguntungkan suatu pihak. Biaya atau manfaat dalam hal ini tidak

20 Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

selalu diartikan “uang”. Oleh karena itu, dalam konteks identifikasi biaya dan manfaat sebuah kebijakan, perlu dilakukan identifikasi tentang siapa saja yang terkena dampak dan siapa saja yang mendapatkan manfaat akibat adanya suatu pilihan kebijakan (termasuk kalau kebijakan yang diambil adalah tidak melakukan apa-apa atau do nothing). Analisis Biaya-Manfaat ini akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

5) Pemilihan kebijakan terbaik.

Analisis Biaya-Manfaat kemudian dijadikan dasar untuk mengambil keputusan tentang opsi/pilihan apa yang akan diambil. Opsi/pilihan yang diambil adalah yang mempunyai manfaat bersih (net benefit), yaitu jumlah semua manfaat dikurangi dengan jumlah semua biaya, terbesar.

6) Penyusunan strategi implementasi.

Langkah ini diambil berdasarkan kesadaran bahwa sebuah kebijakan tidak bisa berjalan secara otomatis setelah kebijakan tersebut ditetapkan atau diambil. Dengan demikian, pemerintah dan pihak lain yang terkait tidak hanya tahu mengenai apa yang akan dilakukan, tetapi juga bagaimana akan melakukannya.

7) Partisipasi masyarakat di semua proses.

Semua tahapan tersebut di atas harus dilakukan dengan melibatkan berbagai komponen yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan kebijakan yang disusun. Komponen masyarakat yang mutlak harus didengar suaranya adalah mereka yang akan menerima dampak adanya kebijakan tersebut (key stakeholder).

2.1.4.2. Metode RIA sebagai Alat

Selain sebagai proses, metode RIA juga dapat diposisikan sebagai alat. Dalam hal ini, metode RIA merupakan alat untuk menghasilkan kebijakan, tata kelola dan pembangunan yang lebih baik. Ada dua kunci dalam penerapan metode RIA yang dianggap mampu memenuhi harapan tersebut, yaitu: (1) adanya partisipasi masyarakat dapat meningkatkan transparansi, kepercayaan masyarakat dan mengurangi risiko sebuah kebijakan, serta (2) menemukan opsi/pilihan yang paling efektif dan efesien

21 Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

sehingga dapat mengurangi biaya implementasi bagi pemerintah dan biaya transaksi bagi masyarakat.

2.1.4.3. Metode RIA sebagai Logika Berfikir

Di samping sebagai proses dan alat, metode RIA juga dapat diposisikan sebagai sebuah logika berfikir. Metode RIA dapat digunakan oleh pengambil kebijakan untuk berfikir logis, mulai dari identifikasi masalah, identifikasi pilihan untuk memecahkan masalah, serta memilih satu kebijakan berdasarkan analisis terhadap semua pilihan. Metode RIA mendorong pengambil kebijakan untuk berfikir terbuka dengan menerima masukan dari berbagai komponen yang terkait dengan kebijakan yang hendak diambil.

Sebagai sebuah alat, Regulatory Impact Analysis (RIA) digunakan untukmembantu menilai dampak dari sebuah regulasi. RIA digunakan untuk menguji dan mengukur kemungkinan manfaat, biaya dan dampak peraturan baru atau yang sudah ada. Penggunaan RIA diharapkan dapat mendukung proses pembuatan atau penyempurnaan kebijakan melalui pembangunan kerangka keputusan yang rasional untuk memeriksa potensi implikasi dari kebijakan tersebut.

Secara khusus RIA bertujuan memaparkan secara sistematis penilaian potensi dampak dari sebuah kebijakan untuk menilai apakah kebijakan tersebut telah sesuai dengan obyektif yang diharapkan. RIA pada umumnya dilakukan dalam konteks komparatif, dengan berbagai sarana untuk mendapatkan gambaran dampak dari kebijakan PSI/VPTI yang telah dilakukan selama ini. Berikut perangkat pertanyaan yang umumnya digunakan dalam studi yang menggunakan metode RIA :

1. Apakah masalahnya dengan benar telah didefinisikan? 2. Apakah tindakan pemerintah sudah tepat?

3. Apakah regulasi yang ada merupakan yang terbaik untuk langkah pemerintah?

4. Apakah ada dasar hukumnya untuk sebuah peraturan?

5. Berapa tingkatan birokrasi pemerintah yang dilibatkan untuk koordinasi regulasi ini?

22 Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

6. Apakah regulasi yang ada bermanfaat, dibanding biayanya ? 7. Apakah distribusi akan dampaknya transparan di masyarakat?

8. Apakah peraturan tersebut jelas, konsisten, dipahami dan diakses oleh pengguna?

9. Apakah semua pihak yang berkepentingan memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pandangan mereka?

10. Bagaimana kepatuhan akan regulasi itu dapat dicapai?

Adapun tahapan dalam proses perancangan RIA, berdasarkan versi OECD 2008, sebagai berikut :

1. Definisi / Definition (policy objective, policy context).

Definisi konteks kebijakan dan tujuan, khususnya identifikasi sistematik dari masalah yang menyediakan dasar bagi tindakan oleh pemerintah. 2. Identifikasi / Identification (regulatory options).

Identifikasi dan definisi dari semua kemungkinan peraturan dan non-peraturan pilihan yang akan mencapai tujuan kebijakan.

3. Penilaian / Assesment (cost, benefit, other impact)

Identifikasi dan kuantifikasi dampak pilihan yang dipertimbangkan, termasuk biaya, manfaat dan efek distribusi.

4. Konsultasi / Consultation (involving stakeholders)

Konsultasi publik yang dilakukan secara sistematis untuk memberikan kesempatan bagi seluruh stakeholder untuk berpartisipasi dalam proses pengawasan. Ini memberikan informasi penting mengenai biaya dan manfaat dari alternatif, termasuk efektivitas kebijakan. Konsultasi ini harus dilakukan mulai dari tahap awal perumusan regulasi sampai dengan tahap implementasi dan monitoring pelaksanaan regulasi. Dalam metode RIA, komunikasi untuk konsultasi sudah mulai dilakukan dalam tahap perumusan masalah. Konsultasi pada tahap ini untuk memastikan bahwa pemerintah menangani masalah yang tepat, dan bahwa persepsi pemerintah terhadap masalah yang dihadapi sama dengan persepsi masyarakat, industri, maupun stakeholder lainnya. Konsultasi pada tahap pengembangan alternatif terutama bertujuan untuk mendapatkan masukan mengenai opsi yang dapat dipilih, dan untuk menguji apakah opsi tersebut dapat dijalankan dengan baik

23 Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

(workable).

Dalam tahap analisis cost & benefit , konsultasi terutama bertujuan untuk mendapatkan masukan mengenai biaya (kerugian/kesulitan) dan manfaat (keuntungan) dari setiap opsi, dan untuk mendapatkan konfirmasi apakah apakah biaya/manfaat yang diharapkan benar-benar terwujud dalam praktiknya.

5. Desain/Design (Enforcement, compliance and monitoring mechanisms). Pengembangan strategi dan kepatuhanuntuk setiap opsi, termasuk evaluasi terhadap efektivitas dan efisiensi.
Pengembangan mekanisme pemantauanuntuk menilai keberhasilan proposal kebijakan dan informasi masukan/ tanggapan terhadap pengembangan kebijakan di masa depan.

Gambar 3.3. Proses RIA berdasarkan OECD 2008

Berikut adalah pilihan Metode Analisis yang sering dipakai untuk menganalisis kebijakan dengan menggunakan alat analisis RIA:

1. Soft benefit-cost analysis and integrated analysis.

Analisis didasarkan pada kerangka trade-off yang diidentifikasi dan keuntungan yang maksimal di berbagai tujuan kebijakan sehingga menghasilkan peraturan yang memaksimalkan keuntungan terbesar dengan solusi biaya terendah.

2. Cost-effectiveness analysis.

Kebijakan RIA dinyatakan dengan pendekatan-pendekatan alternatif harus dipilih berdasarkan efektifitas biaya. Sehingga analisis kebijakan

Dokumen terkait