Rosiana Pradanasari Wirawan
SMF Rehabilitasi Medis RS Fatmawati, Jakarta
Abstrak: Stroke menjadi masalah yang besar dan serius. Sebagai penyebab kecacatan terbanyak kedua pada individu usia di atas 60 tahun, stroke menimbulkan beban psikososial serta biaya yang sangat besar. Bagi pasien pasca stroke diperlukan intervensi rehabilitasi medik agar mereka mampu mandiri untuk mengurus dirinya sendiri dan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari tanpa harus terus menjadi beban bagi keluarganya. Namun tidak semua pasien mendapat kesempatan melanjutkan program rehabilitasi stroke setelah pulang dari perawatan. Sebagian besar disebabkan karena tidak tersedianya fasilitas rehabilitasi medik di sekitar tempat tinggal pasien. Secara umum rehabilitasi stroke fase subakut dan kronis dapat ditangani melalui tatalaksana rehabilitasi medis sederhana yang tidak memerlukan peralatan canggih. Berfokus pada upaya untuk mencegah komplikasi immobilisasi yang dapat membawa dampak kepada perburukan kondisi dan mengembalikan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari, diharapkan pasien dapat mencapai hidup yang lebih berkualitas. Pelayanan Kesehatan Primer sangat penting perannya.
Kata kunci: stroke, rehabilitasi, subakut
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 2, Pebruari 2009
Stroke Rehabilitation in Primary Health Care
Rosiana Pradanasari Wirawan
Physical Medicine and Rehabilitation, Fatmawati Hospital -Jakarta
Abstract: Stroke has become an enormous and serious health problem. Being the second most cause of disability for individual above 60 years old, stroke is considered a psychosocial burden and very costly. Post-stroke patient therefore need a medical rehabilitation intervention, which enable them to take care of themselves and do their own daily activity without being a burden to their family. Unfortunately, not all post-stroke patients have their chance to continue their rehabili-tation program after discharged from the hospital. The reason behind is mostly the lack of medical rehabilitation facility near their home. Generally, stroke rehabilitation in subacute and chronic phase could also be managed by simple procedures without using a sophisticated apparatus. Focusing on preventing of the complication of immobilization that could make the condition became worse, and achievement of the independency of their daily activity, is aiming for the patients, better quality of life. Primary Health Care has a very important role in this case. Keywords: stroke, rehabilitation, subakute.
Rehabilitasi Stroke pada Pelayanan Kesehatan Primer
Pendahuluan
Baik di negara maju maupun berkembang, beban yang ditimbulkan stroke sangat besar. Stroke merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di negara maju dan ketiga terbanyak di negara berkembang. Berdasarkan data WHO tahun 2002, lebih dari 5,47 juta orang meninggal karena stroke di dunia.1 Dari data yang dikumpulkan oleh American Heart Association tahun 2004 setiap 3 menit satu orang meninggal akibat stroke.
Dengan kemajuan teknologi, stroke lebih sering meninggalkan kecacatan dibandingkan kematian. Stroke merupakan penyebab kecacatan kedua terbanyak di seluruh dunia pada individual di atas 60 tahun.1 Beban biaya yang ditimbulkan akibat stroke sangat besar, selain bagi pasien dan keluarganya, juga bagi negara. Kondisi ini belum memperhitungkan beban psikososial bagi keluarga yang merawatnya.
Oleh karena itu pencegahan stroke menjadi sangat penting. Upaya pencegahan antara lain berupa kontrol terhadap faktor risiko stroke (Tabel 1) dan perilaku hidup yang sehat (primary prevention). Bagi pasien yang telah mendapat serangan stroke, intervensi rehabilitasi medis sangat penting untuk mengembalikan pasien pada kemandirian mengurus diri sendiri dan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari tanpa menjadi beban bagi keluarganya. Perlu diupayakan agar pasien tetap aktif setelah stroke untuk mencegah timbulnya komplikasi tirah baring dan stroke
berulang (secondary prevention). Komplikasi tirah baring dan stroke berulang akan memperberat disabilitas dan menimbulkan penyakit lain yang bahkan dapat membawa kepada kematian.
Tabel 1. Faktor Risiko Stroke2
Tidak dapat Dapat dimodifikasi Potensial
dimodifikasi dimodifikasi
Usia Hipertensi Obesitas
Jenis kelamin Diabetes mellitus Inaktivitas fisik Ras Hiperkolesterolemia Hiperhomosisteinemia Hereditas Atrial fibrilasi Kondisi hiperkoagulitas
Merokok Kontrasepsi oral terapi stenosis karotis hormonal pengganti (asimptomatik) Proses inflamasi Penyakit sel sabit Alkohol berlebihan
Abuse obat-obatan
Sindrom Stroke
Patologi stroke dapat dibagi dalam 2 kategori yaitu hemoragik dan iskemia. (Tabel 2)
Gejala klinis stroke bervariasi tergantung pada bagian otak yang sirkulasinya terganggu. Secara umum stroke memberikan gambaran klinis dengan pola yang khas, dengan variasi secara individual tergantung pada ukuran pembuluh darah, pola aliran atau luasnya disrupsi aliran darah ke otak. (Tabel 3 dan 4.)
Rehabilitasi Stroke pada Pelayanan Kesehatan Primer
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 2, Januari 2009 Tabel 2. Patomekanisme Stroke Akut2
P a t o m e k a n i s m e Persentase Iskemik 85% Trombotik 60% Embolik 20% Lain-lain 5% Hemoragik 15% Intraserebral 10% Subarakhnoid 5%
Tabel 3. Sindrom Stroke Iskemik3
Sirkulasi tergganggu Sensomotorik Gejala klinis lain
Sindrom Sirkulasi anterior
A. Serebri media (total) Hemiplegia kontralateral (lengan lebih berat Afasia global (hemisfer dominan) Hemi-neglect
dari tungkai) hemihipestesia kontralateral (hemisfer non-dominan), agnosia, defisit visuo-spassial apraksia, disfagia
A. Serebri media (bagian atas) Hemiplegia kontralateral(lengan lebih berat Afasia motorik (hemisfer dominan)
dari tungkai)hemiestesia kontralateral Hemi-neglect (hemisfer non-dominan), hemia-nopsia, disfagia
A. Serebri media (bagian bawah) Tidak ada gangguan Afasia sensorik (hemisfer dominan) Agnosia afektif (hemisfer non-dominan) Kontruksional apraksia
A. Serebri media dalam Hemiparese kontralateral Afasia sensoris transkortikal (hemisfer dominan) Tidak ada gangguan sensoris, atau ringan sekali Visual dan sensoris neglect sementara. (hemisfer
non-dominan)
A. Serebri anterior Hemiplegia kontralateral (tungkai lebih berat dari Afasia transkortikal (hemisfer dominan), Apraksia lengan) hemiestesia kontralateral (umumnya ringan) (hemisfer non dominan) perubahan perilaku dan
personalitas Inkontinensia urin dan alvi
Sindrom sirkulasi posterior
A. Basilaris (total) Kuadriplegia. Sensoris umumnya normal Gangguan kesadaran sampai ke sindrom lock-in
Gangguan saraf kranial yang menyebabkan diplopia, disartria, disfagia, disfonia.
Ganggguan emosi
A. Serebri posterior Hemiplegia sementara, berganti dengan pola gerak Gangguan lapang pandang bagian sentral,
chorea pada tangan.hipestesia atau anestesia Prosopagnosia, Aleksia terutama pada tangan
Pembuluh darah kecil
Lacunar Infark Gangguan motorik murni, Gangguan sensorik murni Hemiparesis ataksik, Sindrom Clumsy Hand
Stroke hemoragik memiliki sejumlah penyebab. Ada 4 tipe yang paling umum, yaitu perdarahan hipertensif intrakranial, ruptur aneurisma sakular, perdarahan dari AVM (arteriovenous malformation) dan perdarahan spontan di daerah lobus.
Gangguan Fungsi akibat Stroke
Dalam rehaebilitasi medis, istilah fungsi merujuk pada kemampuan/ketrampilan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari, aktivitas hiburan atau hobi, pekerjaan, interaksi sosial dan perilaku lain yang dibutuhkan. Aktivitas sehari-hari seseorang tentu sangat luas, individu yang satu berbeda dengan individu lain. Aktivitas sehari-hari yang perlu dinilai adalah kemampuan dasar dalam melakukan aktivitas perawatan diri sendiri yaitu makan-minum, mandi, berpakaian, berhias, menggunakan toilet, kontrol buang air kecil dan besar, berpindah tempat (transfer), mobilitas-jalan,
dan menggunakan tangga.
World Health Organization (WHO) pada tahun 1980 memperkenalkan The International Classification of Impair-ments, Disabilities and Handicaps (ICIDH) sebagai model rehabilitasi.5-8
Model ini membagi kondisi sakit dalam 4 level berbeda yaitu:
a. Patologi (penyakit)
Patologi sinonim dengan penyakit atau diagnosis,
Tabel 4. Sindrom Hemoragik4
Area yang terkena Sensomotorik Gejala Klinis lain
P u t a m e n
(apsula interna, basal Hemiplegia kontra- Stupor/Koma dengan ganglia) lateral kompresi batang otak
krigiditas deserebrasi
Talamus
(talamus, kapsula Hemiplegia kontra- Afasia (hemisfer
interna) lateral dominan)
Gangguan sensoris Gangguan lapangan berat semua modalitas pandang
Sindrom Horner
P o n t i n
(pons, batang otak, Kuadriparesis, kua- Sindroma lock in
midbrain) driplegia Rigiditas deserebrasi
S e r e b e l u m Hemiparesis ringan Vertigo/dizziness, gangguan koordinasi, Nausea, vomiting ataksia Nystagmus Disfagia,
disartria
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 2, Pebruari 2009 Rehabilitasi Stroke pada Pelayanan Kesehatan Primer
didefinisikan sebagai kerusakan atau proses abnormal yang terjadi di dalam organ atau sistem organ tubuh. Contoh patologi: stroke non-hemoragik yang di-sebabkan oleh trombosis, hipertensi, diabetes mellitus, dan sebagainya.
1. Impairment (gangguan organ atau fungsi organ)
Impairments merupakan akibat langsung dari patologi, didefinisikan sebagai hilang atau terganggunya struktur atau fungsi anatomis, fisiologis, atau psikologis tubuh. Contoh impairment adalah hemiparesis, afasia, disartria, disfagia, depresi dan lain sebagainya.
2. Disability (ketidakmampuan)
Disability didefinisikan sebagai keterbatasan atau hilangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas yang umum dapat dilakukan oleh orang lain yang normal karena impairment yang dideritanya. Contoh disabil-ity: adalah ketidak mampuan berjalan (akibat hemipare-sis), ketidakmampuan berkomunikasi (akibat afasia, disatria) atau ketidakmampuan melakukan perawatan diri sendiri seperti berpakaian (akibat hemiparesis, gangguan kognitif, gangguan sensoris dan lain-lain)
3. Handicap (keterbatasan dalam peran)
Handicap atau kecacatan merupakan suatu konsekuensi sosial dari penyakit, didefinisikan sebagai terganggu atau terbatasnya kemampuan aktualisasi diri dan untuk berperan secara sosial, budaya, ekonomi dalam keluarga dan lingkungan bagi individual tertentu akibat impair-ment dan disability yang dideritanya. Contoh handi-cap adalah ketidakmampuan berperan sebagai ayah bermain dengan anaknya (karena hemiparesis yang menyebabkannya sulit bergerak atau berjalan), tidak dapat bekerja (karena kesulitan berjalan ke tempat kerja, melakukan pekerjaan sebelumnya) dan lain sebagainya. Pada tahun 2001 WHO mempublikasikan revisi dari ICIDH menjadi ICF (International Classification of Func-tioning) dimana istilah disability dan handicap diganti menjadi activity and participation.5-7 Revisi ini secara prinsip tidak terlalu banyak berbeda dengan ICIDH, hanya di-definisikan lebih positif, yaitu disability (ketidakmampuan) diganti menjadi activity (kemampuan fungsional penderita), sedangkan handicap (kecacatan) diganti menjadi partici-pation (peran-serta penderita dalam kehidupan sesuai dengan ketidak-mampuan, aktivitas, kondisi kesehatan dan faktor kontekstual lainnya ). Rehabilitasi medis tidak hanya berfokus pada apa yang pasien tidak mampu lakukan namun juga pada apa yang pasien masih mampu lakukan.
Proses Pemulihan setelah Stroke
Proses pemulihan setelah stroke dibedakan atas pemulihan neurologis (fungsi saraf otak) dan pemulihan
fungsional (kemampuan melakukan aktivitas fungsional).
Health condition (Disorder or Disease) Activities Participation Body functions and structure Environmental factors Personal factors
Gambar 1. Rehabilitation Model: ICF7
Pemulihan neurologis terjadi awal setelah stroke. Mekanisme yang mendasari adalah pulihnya fungsi sel otak pada area penumbra yang berada di sekitar area infark yang se-sungguhnya, pulihnya diaschisis dan atau terbukanya kembali sirkuit saraf yang sebelumnya tertutup atau tidak digunakan lagi. Kemampuan fungsional pulih sejalan dengan pemulihan neurologis yang terjadi.
Setelah lesi otak menetap, pemulihan fungsional masih dapat terus terjadi sampai batas-batas tertentu terutama dalam 3-6 bulan pertama setelah stroke. Hal itulah yang menjadi fokus utama rehabilitasi medis, yaitu untuk mengembalikan kemandirian pasien mencapai kemampuan fungsional yang optimal. Proses pemulihan fungsional terjadi berdasarkan pada proses reorganisasi atau plastisitas otak melalui:
1. Proses Substitusi
Proses ini sangat tergantung pada stimuli eksternal yang diberikan melalui terapi latihan menggunakan berbagai metode terapi. Pencapaian hasilnya sangat tergantung pada intaknya jaringan kognitif, visual dan proprioseptif, yang membantu terbentuknya proses belajar dan plastisitas otak.
b. Proses Kompensasi
Proses ini membantu menyeimbangkan keinginan aktivitas fungsional pasien dan kemampuan fungsi pasien yang masih ada. Hasil dicapai melalui latihan berulang-ulang untuk suatu fungsi tertentu, pemberian alat bantu dan atau ortosis, perubahan perilaku, atau perubahan lingkungan.
Pemilihan jenis intervensi rehabilitasi didasarkan pada pertimbangan beratnya gejala-sisa stroke, fase stroke saat terapi, penyakit penyerta dan atau komplikasi medis, serta berbagai faktor terkait lainnya seperti usia pasien, motivasi, serta dukungan dan ekonomi keluarga. Sebagai contoh pasien usia lanjut, penderita PPOK yang mendapat stroke akibat oklusi total a.cerebri media tentu tidak mungkin diberikan program rehabilitasi substitusi agar ia dapat berjalan dan
6 4
Rehabilitasi Stroke pada Pelayanan Kesehatan Primer
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 2, Pebruari 2009 mandiri penuh dalam aktivitas sehari-harinya, rehabilitasi kompensasi tentu lebih tepat untuknya.
Intervensi Rehabilitasi Medis pada Stroke
Secara umum rehabilitasi pada stroke dibedakan dalam beberapa fase. Pembagian ini dalam rehabilitasi medis dipakai sebagai acuan untuk menentukan tujuan (goal) dan jenis intervensi rehabilitasi yang akan diberikan, yaitu:
1. Stroke fase akut: 2 minggu pertama pasca serangan
stroke
2. Stroke fase subakut: antara 2 minggu-6 bulan pasca
stroke
3. Stroke fase kronis: diatas 6 bulan pasca stroke Rehabilitasi Stroke Fase Akut
Pada fase ini kondisi hemodinamik pasien belum stabil, umumnya dalam perawatan di rumah sakit, bisa di ruang rawat biasa ataupun di unit stroke. Dibandingkan dengan perawatan di ruang rawat biasa, pasien yang di rawat di unit stroke memberikan outcome yang lebih baik. Pasien menjadi lebih mandiri, lebih mudah kembali dalam kehidupan sosialnya di masyarakat dan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik.9 Rehabilitasi pada fase itu tidak akan di bahas lebih lanjut dalam makalah ini, karena memerlukan penanganan spesialistik di rumah sakit.
Rehabilitasi Stroke Fase Subakut
Pada fase ini kondisi hemodinamik pasien umumnya sudah stabil dan diperbolehkan kembali ke rumah, kecuali bagi pasien yang memerlukan penanganan rehabilitasi yang intensif. Sebagian kecil (sekitar 10%) pasien pulang dengan gejala sisa yang sangat ringan, dan sebagian kecil lainnya (sekitar 10%) pasien pulang dengan gejala sisa yang sangat berat dan memerlukan perawatan orang lain sepenuhnya. Namun sekitar 80% pasien pulang dengan gejala sisa yang bervariasi beratnya dan sangat memerlukan intervensi rehabilitasi agar dapat kembali mencapai kemandirian yang optimal.
Rehabilitasi pasien stroke fase subakut dan kronis mungkin dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer. Rehabilitasi fase ini akan dibahas lebih rinci terutama mengenai tatalaksana sederhana yang tidak memerlukan peralatan canggih.
Pada fase subakut pasien diharapkan mulai kembali untuk belajar melakukan aktivitas dasar merawat diri dan berjalan. Dengan atau tanpa rehabilitasi, sistim saraf otak akan melakukan reorganisasi setelah stroke. Reorganisasi otak yang terbentuk tergantung sirkuit jaras otak yang pal-ing serpal-ing digunakan atau tidak digunakan. Melalui rehabilitasi, reorganisasi otak yang terbentuk diarahkan agar mencapai kemampuan fungsional optimal yang dapat dicapai oleh pasien, melalui sirkuit yang memungkinkan gerak yang lebih terarah dengan menggunakan energi/tenaga se-efisien
mungkin. Hal tersebut dapat tercapai melalui terapi latihan yang terstruktur, dengan pengulangan secara kontinyu serta mempertimbangkan kinesiologi dan biomekanik gerak. Prinsip-prinsip Rehabilitasi Stroke:
1. Bergerak merupakan obat yang paling mujarab. Bila
anggota gerak sisi yang terkena terlalu lemah untuk mampu bergerak sendiri, anjurkan pasien untuk bergerak/ beraktivitas menggunakan sisi yang sehat, namun sedapat mungkin juga mengikutsertakan sisi yang sakit. Pasien dan keluarga seringkali beranggapan salah, mengharapkan sirkuit baru di otak akan terbentuk dengan sendirinya dan pasien secara otomatis bisa bergerak kembali. Sebenarnya sirkuit hanya akan terbentuk bila ada “kebutuhan” akan gerak tersebut. Bila ekstremitas yang sakit tidak pernah digerakkan sama sekali, presentasinya di otak akan mengecil dan terlupakan.
2. Terapi latihan gerak yang diberikan sebaiknya adalah
gerak fungsional daripada gerak tanpa ada tujuan
tertentu. Gerak fungsional misalnya gerakan meraih,
memegang dan membawa gelas ke mulut. Gerak fungsional mengikutsertakan dan mengaktifkan bagian– bagian dari otak, baik area lesi maupun area otak normal lainnya, menstimulasi sirkuit baru yang dibutuhkan. Melatih gerak seperti menekuk dan meluruskan (fleksi-ekstensi) siku lengan yang lemah menstimulasi area lesi saja. Apabila akhirnya lengan tersebut bergerak, tidak begitu saja bisa digunakan untuk gerak fungsional, namun tetap memerlukan terapi latihan agar terbentuk sirkuit yang baru.
3. Sedapat mungkin bantu dan arahkan pasien untuk
melakukan gerak fungsional yang normal, jangan biarkan menggunakan gerak abnormal. Gerak normal artinya sama dengan gerak pada sisi sehat. Bila sisi yang terkena masih terlalu lemah, berikan bantuan “tenaga” secukupnya dimana pasien masih menggunakan ototnya secara “aktif”. Bantuan yang berlebihan membuat pasien tidak menggunakan otot yang akan dilatih (otot bergerak pasif). Bantuan tenaga yang kurang menyebabkan pasien mengerahkan tenaga secara berlebihan dan mengikut-sertakan otot-otot lain. Ini akan memperkuat gerakan ikutan ataupun pola sinergis yang memang sudah ada dan seharusnya dihindari. Besarnya bantuan “tenaga” yang diberikan harus disesuaikan dengan kemajuan pemulihan pasien.
4. Gerak fungsional dapat dilatih apabila stabilitas batang tubuh sudah tercapai, yaitu dalam posisi duduk dan berdiri. Stabilitas duduk dibedakan dalam stabilitas duduk statik dan dinamik. Stabilitas duduk statik tercapai apabila pasien telah mampu mempertahankan duduk tegak tidak bersandar tanpa berpegangan dalam kurun waktu tertentu tanpa jatuh/miring ke salah satu sisi. Stabilitas duduk dinamik tercapai apabila pasien dapat mempertahankan posisi duduk sementara batang tubuh
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 2, Pebruari 2009 Rehabilitasi Stroke pada Pelayanan Kesehatan Primer
doyong ke arah depan, belakang, ke sisi kiri atau kanan dan atau dapat bertahan tanpa jatuh/miring ke salah satu sisi sementara lengan meraih ke atas, bawah, atau samping untuk suatu aktivitas. Latihan stabilitas batang tubuh selanjutnya yaitu stabilitas berdiri statik dan dinamik. Hasil latihan ini memungkinkan pasien mampu melakukan aktivitas dalam posisi berdiri. Kemampuan fungsional optimal dicapai apabila pasien juga mampu melakukan aktivitas sambil berjalan.
5. Persiapkan pasien dalam kondisi prima untuk melakukan
terapi latihan. Gerak fungsional yang dilatih akan memberikan hasil maksimal apabila pasien siap secara fisik dan mental. Secara fisik harus diperhatikan kelenturan otot-otot, lingkup gerak semua persendian tidak ada yang terbatas, dan tidak ada nyeri pada pergerakan. Secara mental pasien mempunyai motivasi dan pemahaman akan tujuan dan hasil yang akan dicapai dengan terapi latihan tersebut. Kondisi medis juga menjadi salah satu pertimbangan. Tekanan darah dan denyut nadi sebelum dan sesudah latihan perlu dimonitor. Lama latihan tergantung pada stamina pasien. Terapi latihan yang sebaiknya adalah latihan yang tidak sangat melelahkan, durasi tidak terlalu lama (umumnya sekitar 45-60 menit) namun dengan pengulangan sesering mungkin.
6. Hasil terapi latihan yang diharapkan akan optimal bila
ditunjang oleh kemampuan fungsi kognitif, persepsi dan semua modalitas sensoris yang utuh. Rehabilitasi fisik dan rehabilitasi fungsi kognitif tidak dapat dipisah-pisahkan. Mengembalikan kemampuan fisik seseorang harus melalui kemampuan kognitif, karena rehabilitasi pada prinsipnya adalah suatu proses belajar, yaitu belajar untuk mampu kembali melakukan suatu aktivitas
fungsional dengan segala keterbatasan yang ada. Intervensi rehabilitasi pada stroke fase subakut ditujukan untuk:
1. Mencegah timbulnya komplikasi akibat tirah baring
2. Menyiapkan/mempertahankan kondisi yang
memung-kinkan pemulihan fungsional yang paling optimal
3. Mengembalikan kemandirian dalam melakukan aktivitas
sehari-hari
4. Mengembalikan kebugaran fisik dan mental
Mencegah Komplikasi Akibat Tirah Baring
Pasien yang pulang ke rumah sebelum mencapai kemampuan duduk stabil serta mulai belajar berdiri dan jalan, cenderung akan lebih lama masa tirah baringnya di rumah. Keluarga seringkali “memanjakan” pasien dengan membantu secara berlebihan dan menjadikan pasien terbaring pasif “menunggu kondisi menjadi lebih baik, dan gerak menjadi lebih mudah”. Akan tetapi tirah baring lama menyebabkan pasien bertambah lemah, lebih cepat lelah karena stamina makin rendah, gerak semakin bertambah berat karena semua anggota gerak menjadi kaku dan timbul komplikasi-komplikasi lain. Keluarga dan pasien harus disadarkan bahwa tirah bar-ing berkelanjutan akan lebih banyak membawa dampak buruk dari pada baik. (Tabel 5).
Selain itu pemulihan fungsional mempunyai “periode emas” yang terbatas waktunya; stimulasi yang diberikan pada 3 bulan pertama akan lebih memberikan hasil dibandingkan fase kronis, dan tentu tidak boleh disia-siakan. Pasien harus diberikan motivasi untuk selalu aktif melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan yang ada. Terapi latihan di-programkan dengan durasi dan frekuensi latihan secara bertahap ditingkatkan.
Gambar 2. Latihan dengan Bantuan
Bantuan terapis disesuaikan dengan kemampuan pasien. Terapis dapat melakukan kontrol tenaga pasien dalam bergerak, dengan meniadakan gerak ikutan ataupun gerak sinergis.
Rehabilitasi Stroke pada Pelayanan Kesehatan Primer
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 2, Pebruari 2009 Tabel 5. Komplikasi Tirah Baring10
Sistem tubuh Efek terhadap sistem tubuh
Sistem Kardiovaskuler § Denyut nadi meningkat ½ ketuk/menit setiap hari selama 3-4 minggu
§ Ortostatik hipotensi
§ Risiko terjadinya Deep Vein Trombosis
dan emboli pulmonal
§ Viskositas darah meningkat
Sistem Respirasi § Retensi sputum dan menurunnya oksigenasi
§ Kecepatan pernafasan meningkat
§ Risiko terjadinya pneumonia
Sistem Muskuloske- § Kekuatan dan massa otot menurun
l e t a l § Perubahan histologi otot
§ Perubahan kelenturan sendi (kontraktur)
§ Osteoporosis
Sistem Metabolik § Persentase lemak tubuh meningkat
dan Endokrin § Hipercalcaemia
§ Toleransi glukose menurun dalam 3 hari tirah baring
Sistem Integumen § Decubitus ulcers
Sistem Gastrointes- § Konstipasi
t i n a l § Refluks Gastroesofageal
Sistem Urogenital § Awal volume urin meningkat, kemudian menurun /stasis
§ Inkontinensia urine
Sistem Saraf Pusat § Perubahan pada afeksi
§ Penurunan kognitif dan persepsi
Menyiapkan/mempertahankan kondisi yang memung-kinkan pemulihan fungsional yang paling optimal
Berbagai komplikasi dapat timbul setelah stroke yang dapat membatasi pemulihan kemampuan fungsional yang seharusnya dapat dicapai. Karena kondisi tersebut sebagian besar dapat dicegah, maka meningkatkan pemahaman keluarga dan pasien sangat penting dan krusial.
1. Mencegah pemendekan otot dan kontraktur sendi
Fungsi otot bergerak (berkontraksi) memendek dan memanjang. Bila otot diam pada satu posisi tertentu dalam waktu lama kelenturannya akan hilang. Otot akan kaku pada posisi tersebut, sulit dan memerlukan tenaga lebih besar untuk kontraksi memendek ataupun memanjang. Demikian pula berlaku pada sendi, yang akan menjadi kering dan kaku. Kedua kondisi ini membuat pasien yang karena kelumpuhannya sudah sulit bergerak menjadi tambah tidak mungkin bergerak. Latihan mencapai lingkup gerak penuh pada semua persendian disertai latihan regangan otot sedikitnya 2 kali per hari diperlukan.
2. Mencegah spastisitas dan pola gerak sinergis berlebihan