Dalam bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan yang diperoleh
dari hasil analisis data penelitian, keterbatasan penelitian dan saran
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pajak
1. Definisi Pajak
a. Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, “pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
b. Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H yang dikutip oleh
Mardiasmo (Mardiasmo, 2009:1), “pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan)
yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum”.
2. Unsur-unsur Perpajakan
Menurut Mardiasmo (2009: 1), pajak memiliki 4 unsur-unsur, yaitu:
a. Iuran dari rakyat kepada Negara
Yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut
b. Berdasarkan Undang-Undang
Pajak dipungut berdasarkan atau dengan ketentuan Undang-Undang
serta aturan pelaksanaannya.
c. Tanpa jasa timbal balik atau kontraprestasi dari negara yang secara
langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat
ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
d. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni
pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
3. Fungsi Pajak
The Four R adalah istilah popular yang mengacu pada fungsi pajak
yang dipungut oleh negara,yaitu (Purwono 2010: 8-10) :
a. Revenue (Penerimaan)
Fungsi penerimaan atau dikenal pula dengan istilah Fungsi Budgetir
(Anggaran) adalah fungsi utama dari pemungutan pajak. Partisipasi
dominan pajak sebagai penyokong pembiayaan penyelenggaraan
pemerintahan yang meliputi belanja rutin pemerintah, belanja
pembangunan, belanja untuk keperluan legislasi dan yudikasi, serta
pembiayaan lainnya.
b. Redistribution (Pemerataan)
Pajak yang dipunggut oleh negara selanjutnya akan dikembalikan
kepada masyarakat dalam bentuk penyediaan fasilitas publik
c. Repricing (Pegaturan Harga)
Fungsi ini sama pengertiannya dengan Fungsi Regulerent
(Mengatur) yang lebih sering digunakan dalam literatur perpajakan.
Pajak digunakan sebagai alat untuk mengatur atau mencapai tujuan
tertentu di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan, dan
keamanan.
d. Representation (Legalitas Pemerintahan)
Slogan revolusioner di Inggris yang menyatakan “no taxation without representation”, mengimplikasikan bahwa pemerintah
membebani pajak atas Warga Negara, dan Warga Negara meminta
akuntabilitas dari pemerintah sebagai bagian dari kesepakatan
(pengenaan pajak tidak diputuskan secara sepihak oleh penguasa
tetapi merupakan kesepakatan bersama dengan rakyat melalui
perwakilan di parlemen).
4. Penggolongan Pajak
Menurut Purwono (2010:10-11) terdapat tiga penggolongan pajak,
yaitu:
a. Berdasarkan Wewenang Pemungutan
1) Pajak Negara (Pusat) adalah pajak yang wewenang
pemunggutannya dimiliki oleh pemerintah pusat.
2) Pajak Daerah adalah pajak yang wewenang pemungutannya
b. Berdasarkan Administrasi dan Pembebanan
1) Pajak Langsung, yang dapat dibagi menurut pengertian secara:
a) Administrasi : berkohir (surat ketetapan pajak) dan
dikenakan secara berkala (berulang pada waktu tertentu
misalnya setiap tahun).
b) Ekonomis : beban pajak harus ditanggung sendiri dan tidak
dapat dilimpahkan kepada orang lain.
Contoh : Pajak Penghasilan.
2) Pajak Tidak Langsung, yang dapat dibagi menurut pengertian
secara:
a) Administrasi : tanpa berdasar kohir (surat ketetapan pajak)
dan dikenakan hanya bila terjadi hal atau peristiwa yang
dikenakan pajak.
b) Ekonomis : beban pajak dapat dilimpahkan kepada orang
lain.
Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah.
c. Berdasarkan Sasaran
1) Pajak Subjektif, yaitu pajak yang memperhatikan pertama-tama
keadaan diri Wajib Pajak, seperti Pajak Penghasilan.
2) Pajak Objektif, yaitu pajak yang memperhatikan pertama-tama
pada objek (benda, peristiwa, perbuatan, atau keadaan) yang
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah.
5. Pemungutan Pajak
Menurut Purwono (2010: 12-14), peran pajak yang kian dominan
untuk menopang penerimaan suatu Negara telah membuatnya menjadi
primadona sumber penggalangan dana, sehingga dalam pemungutan
pajak diperlukan penerapan tentang sistem, asas, dan syarat pemungutan
pajak yang telah disepakati bersama antara rakyat selaku penanggung
pajak melalui perwakilannya di parlemen dan pemerintah selaku
pemungut pajak (fiskus).
Sumber: Purwono (2010 : 12-14)
Gambar 2.1 Sistem, Cara, Asas, dan Syarat Pemungutan Pajak Pemungutan Pajak Asas 1. Domisili 2. Sumber 3. Kebangsaan 1. Keadilan 2. Yuridis 3. Ekonomis 4. Finansial 5. Sederhana Syarat Sistem
1. Self Assessment System 2. Official Assessment System 3. With Holding System
Cara
1. Stelsel Riil 2. Stelsel Fiktif 3. Stelsel Campuran
a. Sistem Pemungutan Pajak
Hingga saat ini terdapat tiga sistem yang diaplikasikan dalam
pemungutan pajak.
1) Official Assessment system
Melalui sistem ini besarnya pajak ditentukan oleh fiskus dengan
mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak (SKP Rampung). Jadi,
dapat dikatakan Wajib Pajak bersifat pasif. Tahapan-tahapan
dalam menghitung dan memperhitungkan pajak yang terutang
ditetapkan oleh fiskus yang tertuang dalam SKP. Selanjutnya
Wajib Pajak baru aktif ketika melakukan penyetoran pajak
terutang berdasarkan ketetapan SKP tersebut.
2) Self Assessment System
Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang mulai berlaku
sejak 1 Januari 1984 dinyatakan bahwa anggota masyarakat
Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk melaksanakan
kegotongroyongan nasional melalui sistem menghitung,
memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri pajak
yang terutang (self assessment), sehingga melalui sistem ini
administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan
lebih rapi, terkendali, sederhana dan mudah dipahami oleh
anggota masyarakat Wajib Pajak serta Wajib Pajak melaporkan
sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Menurut tony (2005: 9), Ciri dan corak dari sistem pemungutan
self assessment system, yaitu:
a) Bahwa pemungutan pajak merupakan perwujudan dari
pengabdian kewajiban dan peran Wajib Pajak untuk secara
langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban
perpajakan yang diperlukan untuk pembiayaan negara dan
pembangunan nasional.
b) Tanggungjawab atas kewajiban pelaksanaan pajak sebagai
pencerminan kewajiban di bidang perpajakan berada pada
anggota masyarakat Wajib Pajak sendiri. Pemerintah dalam
hal ini aparat perpajakan sesuai dengan fungsinya,
berkewajiban melakukan pembinaan, penelitian, dan
pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan
Wajib Pajak berdasarkan ketentuan yang berlaku dalam
peraturan perundang-undangan perpajakan.
c) Anggota masyarakat Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk
dapat melaksanakan pembangunan nasional melalui sistem
menghitung, memperhitungkan, dan membayar pajak
3) With Holding System
Dalam sitem ini pemungutan dan pemotongan pajak dilakukan
melalui pihak ketiga. Untuk waktu sekarang, sistem ini
tercermin pada pelaksanaan pengenaan Pajak Penghasilan dan
Pajak Pertambahan Nilai.
b. Asas Pemungutan Pajak
1) Asas Domisili, yaitu bahwa pajak dibebankan pada pihak yang
tinggal dan berada di wilayah suatu negara tanpa
memperhatikan sumber atau asal objek pajak yang diperoleh
atau diterima Wajib Pajak.
2) Asas Sumber, yaitu bahwa pembebanan pajak oleh negara hanya
terhadap objek pajak yang bersumber atau berasal dari wilayah
teritorialnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.
3) Asas Kebangssan, yaitu bahwa status kewarganegaraan
seseorang menentukan pembebanan pajak terhadapnya.
Perlakuan perpajakan antara Warga Negara Indonesia dan
Warga Negara Asing itu berbeda.
c. Cara Pemungutan Pajak
1) Stelsel Riil atau Nyata (Riele Stelsel) merupakan cara pegenaan
pajak yang didasarkan pada objek pajak yang sesungguhnya,
2) Stelsel Fiktif (Fictieve Stelsel) merupakan cara pengenaan pajak
yang didasarkan pada suatu anggapan yang dilegalkan oleh
undang-undang.
3) Stelsel Campuran merupakan gabungan dari dua stelsel yang
ada yaitu stelsel riil dan stelsel fiktif. Pada awalnya tahun pajak
menggunakan stelsel fiktif dan akhir tahun menggunakan stelsel
riil.
d. Syarat Pemungutan Pajak
1) Syarat Keadilan, yaitu pemungutan pajak dilaksanakan secara
adil baik dalam peraturan maupun realisasi pelaksanaannya.
2) Syarat Yuridis, yaitu pemungutan pajak harus berdasarkan
undang-undang yang ditujukan untuk menjamin adanya hukum
yang menyatakan keadilan yang tegas, baik untuk negara
maupun untuk warganya.
3) Syarat Ekonomis, merupakan pemungutan pajak tidak boleh
menghambat ekonomi rakyat, artinya pajak tidak boleh dipungut
apabila justru menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat.
4) Syarat Finansial, yaitu pemungutan pajak dilaksanakan dengan
pedoman bahwa biaya pemungutan tidak boleh melebihi hasil
pemungutan.
5) Syarat sederhana, yaitu sistem pemungutan pajak yang harus
dirancang sederhana mungkin untuk memudahkan pelaksanaan
6. Pajak Penghasilan
a. Pengertian Pajak Penghasilan (PPh)
1) Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek
pajak atas penghasilan yang diterima atau yang diperolehnya
dalam satu tahun pajak (Resmi siti, 2003: 74).
2) Pajak penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan
kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang
disingkat PPh 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji,
upah, honorium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama
apa pun yang diterima oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam
negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan
kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Tahun
2008 (Direktorat Jenderal Pajak).
b. Subjek Pajak Penghasilan
Yang menjadi subjek pajak menurut Djuanda dan Lubis (2004: 4-6)
adalah:
1) Wajib Pajak Orang Pribadi
Orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia.
Termasuk mereka yang mempunyai niat untuk bertempat tinggal
di Indonesia. Keberadaan orang pribadi diperhitungkan apabila
orang tersebut lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari
dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak kedatangannya
2) Wajib Pajak badan
Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang
merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha yang meliputi
perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya,
badan usaha milik negara (BUMN), firma dan bentuk badan
usaha apapun yang didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia.
3) Bentuk usaha tetap
Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh
orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh
tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan
yang tidak didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia untuk
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.
c. Objek Pajak Penghasilan
Objek pajak berdasarkan Undang-Undang perpajakan Tahun 2008
yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia yang dapat dipakai atau menambah kekayaan Wajib Pajak
B. Persepsi
Menurut Walgito (2010: 99-101), sejak individu dilahirkan, sejak saat itu
individu secara langsung berhubungan dengan dunia sekitarnya. Mulai saat
itu pula individu secara langsung menerima stimulus dari luar dirinya, dan ini
berkaitan dengan persepsi.
1. Pengertian Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses
penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh
individu melalui indera atau juga disebut proses sensoris. Stimulus
tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi.
Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa persepsi itu merupakan
respon yang integrated dalam diri individu. Karena itu dalam
penginderaan orang akan mengaitkan dengan stimulus, sedangkan dalam
persepsi orang akan mengaitkan dengan objek (Branca, 1964).
2. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Persepsi
a. Faktor Internal yang mempengaruhi persepsi yaitu :
1) Fisiologis, informasi masuk melalui alat indera. Selanjutnya
informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan
melengkapi usaha untuk memberi arti terhadap lingkungan
sekitarnya.
2) Perhatian, individu memerlukan sejumlah energi yang
dikeluarkan untuk memperhatikan atau menfokuskan pada
3) Minat, persepsi tehadap suatu objek bervariasi tergantung pada
seberapa banyak energi yang digerakkan untuk mempersepsi.
4) Pengalaman dan ingatan, pengalaman dapat dikatakan
tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat
mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu
rangsang dalam pengertian luas.
5) Suasana hati, keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang.
b. Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi yaitu :
1) Ukuran dan penempatan dari objek, faktor ini menyatakan
bahwa semakin besarnya hubungan suatu objek maka semakin
mudah untuk dipahami.
2) Warna dari objek-objek, objek yang mempunyai cahaya yang
lebih banyak akan lebih mudah dipahami.
3) Motion atau gerakan, individu akan memberikan perhatian
terhadap objek yang memberikan gerakan dalam jangkauan
pandangan dibandingkan objek yang diam.
4) Intensitas, stimulus dari luar akan memberikan makna lebih bila
lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya
C. Sikap Dan Perilaku Manusia 1. Sikap Manusia
a. Defini Sikap Manusia
Dalam buku Azwar (1995: 4-5) terdapat beberapa definisi sikap
manusia, yaitu:
1) Menurut Chave (1928), Borgadus (1931), LaPierre (1934),
Mead (1934), dan Grdon Allport (1935), sikap adalah semacam
kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara
tertentu.
2) Menurut LaPierre (1934) dalam Allen, Guy dan Edgley (1980),
sikap adalah suatu pola perilaku, terdensi atau kesiapan
antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi
sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respons terhadap
stimuli sosial yang telah terkondisikan.
b. Struktur Sikap
Menurut Walgito (2003: 111), sikap mengandung tiga komponen
yang membentuk struktur sikap, yaitu:
1) Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen
yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan,
yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang
mempersepsi terhadap objek sikap.
2) Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang
objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan
rasa tidak senang merupakan hal yang negatif. Komponen ini
menunjukkan arah sikap, yaitu positif dan negatif.
3) Komponen konatif (komponen perilaku atau action component),
yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan
bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menujukkan
intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya
kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap
objek sikap.
c. Determinan Sikap
Menurut Walgito (2003: 112-113), terdapat beberapa determinan
sikap yang dianggap penting, yaitu:
1) Faktor fisiologis
Faktor fisiologis seseorang akan ikut menentukan bagaimana
sikap seseorang. Berkaitan dengan ini ialah faktor umur dan
kesehatan. Pada umumnya orang muda sikapnya lebih radikal
daripada sikap orang yang lebih tua, sedangkan pada orang yang
lebih dewasa sikapnya lebih moderat.
2) Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap
Sikap seseorang terhadap objek sikap akan dipengaruhi oleh
pengalaman langsung orang yang bersangkutan dengan objek
3) Faktor kerangka acuan
Kerangka acuan merupakan faktor yang penting dalam sikap
seseorang, karena kerangka acuan ini akan berperan terhadap
objek sikap. Bila kerangka acuan tidak sesuai dengan objek
sikap, maka orang akan mempunyai sikap yang negatif terhadap
objek sikap tersebut.
4) Faktor komunikasi sosial
Faktor komunikasi sosial sangat jelas menjadi determinan sikap
seseorang, dan faktor ini yang banyak diteliti. Komunikasi sosial
yang berwujud informasi dari seseorang kepada orang lain dapat
menyebabkan perubahan sikap yang ada pada diri orang yang
bersangkutan.
d. Ciri-Ciri Sikap
Menurut Walgito (2003: 113-115), terdapat lima cirri-ciri sikap,
yaitu:
1) Sikap itu tidak dibawa sejak lahir
Ini berarti manusia pada waktu dilahirkan belum membawa
sikap-sikap tertentu terhadap sesuatu objek. Karena sikap tidak
dibawa sejak individu dilahirkan, ini berarti bahwa sikap itu
2) Sikap itu selalu berhubungan dengan objek sikap
Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan
objek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula dari
individu terhadap objek tersebut.
3) Sikap dapat tertuju pada satu objek saja, tetapi juga dapat tertuju
pada sekumpulan objek-objek
Bila seseorang mempunyai sikap yang negatif pada seseorang,
orang tersebut mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan
sikap yang negatif pula kepada kelompok di mana orang
tersebut bergabung di dalamnya.
4) Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar
Suatu sikap yang terbentuk dan telah merupakan nilai dalam
kehidupan seseorang, secara relatif sikap itu akan lama bertahan
pada diri orang yang bersangkutan. Sikap tersebut akan sulit
berubah, dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu
yang relatif lama, dan sebaliknya.
5) Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi
Ini berarti sikap terhadap sesuatu objek tertentu akan selalu
diikuti perasaan tertentu yang dapat bersifat positif, tetapi juga
dapat bersifat negatif terhadap objek tersebut.
e. Pembentukan Sikap
Menurut Walgito (2003: 115-116), sikap yang ada pada diri
fisiologis dan psikologis, serta faktor eksternal. Faktor eksternal
dapat berwujud situasi yang dihadapi oleh individu, norma-norma
yang ada dalam masyarakat, hambatan-hambatan atau
pendorong-pendorong yang ada dalam masyarakat. Semua ini akan berpengaruh
pada sikap yang ada pada diri seseorang.
Sumber : Walgito (2003 : 115-116)
Gambar 2.2 Bagan Sikap
2. Perilaku Manusia
a. Jenis Perilaku
Menurut Walgito (2010: 12-13), perilaku manusia dapat dibedakan
antara perilaku yang reflektif dan perilaku yang non-reflektif.
Perilaku yang reflektif merupakan perilaku yang terjadi atas reaksi
secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme tersebut.
Reaksi atau perilaku reflektif adalah perilaku yang terjadi dengan
sendirinya, secara otomatis. Perilaku non-reflektif dikendalikan atau Objek sikap Sikap Faktor Eksternal - Pengalaman - Situasi - Norma-norma - Hambatan - Pendorong Reaksi Faktor Internal - Fisiologis - psikologis
diatur oleh pusat kesadaran otak. Proses yang terjadi dalam otak atau
pusat kesadaran ini yang disebut proses psikologis.
b. Pembentukan Perilaku
1) Cara pembentukan perilaku dengan konsisioning atau kebiasaan
Membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan,
akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut.
2) Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight)
Cara pembentukan ini berdasarkan atas teori belajar kognitif,
yaitu belajar disertai dengan pengertian.
3) Pembentukan perilaku dengan menggunakan model
Cara pembentukkan ini berdasarkan atas teori belajar sosial
(social learning theory) atau observational learning theory yang
dikemukakan oleh Bandura (1977).
D. Penelitian Tedahulu
Penelitian mengenai persepsi Wajib Pajak Orang Pribadi terhadap self
assessment system telah dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya.
Penelitian yang dianggap relevan dengan penelitian ini sebagai berikut :
1. Ningrum (2012), dengan judul penelitian “Analisis persepsi Wajib Pajak
Orang Pribadi terhadap Self Assessment System Pajak Penghasilan
Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Pekerjaan” memperoleh hasil
bahwa terdapat perbedaan persepsi Wajib Pajak Orang Pribadi terhadap
pendidikan maupun jenis pekerjaan. Penelitian ini menggunakan analisis
Chi-Square dengan menghitung terlebih dahulu skor intervalnya.
2. Efriandi (2011), dengan judul penelitian “Analisis Persepsi Wajib Pajak
Orang Pribadi Terhadap Self Assessment System” memperoleh hasil
penelitian bahwa responden berdasarkan tingkat usia, tingkat pendidikan
dan masa kerja mempunyai persepsi yang cukup baik terhadap self
assessment system. penelitian ini dalam menarik kesimpulan menggunakan
E. Rerangka Konseptual
Gambar 2.3 Rerangka Konseptual
Kantor Pajak Pratama
Wajib Pajak Orang Pribadi
Persepsi
Tingkat Pendidikan
(Pengalaman dan Ingatan)
Self Assessment System
Jenis Pekerjaan
F. Pengembangan Hipotesis
Berdasarkan rerangka konseptual di atas, maka hipotesis yang dapat
diambil adalah sebagai berikut:
1. Hubungan persepsi Wajib Pajak Orang Pribadi terhadap self
assessment system Pajak Penghasilan berdasarkan tingkat pendidikan
Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1997: 232) adalah proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan;
proses, perbuatan, cara mendidik. Pedidikan secara langsung maupun
tidak langsung akan mempengaruhi pola pikir seseorang.
Tingkat pendidikan mempengaruhi persepsi terhadap self
assessment system. Tingkat pendidikan yang rendah diduga memiliki
pengetahuan mengenai perpajakan yang sangat rendah sehingga akan
mempengaruhi persepsi Wajib Pajak Orang Pribadi terhadap kewajiban
perpajakannya dan sebaliknya Wajib Pajak Orang Pribadi yang memiliki
tingkat pendidikan yang dapat dikatakan cukup tinggi diduga mempunyai
persepsi tentang kewajiban perpajakan yang dapat dikatakan baik.
Ho : tidak ada perbedaan persepsi wajib pajak orang pribadi terhadap
self assessment system pajak penghasilan berdasarkan tingkat
Ha : ada perbedaan persepsi wajib pajak orang pribadi terhadap self
assessment system pajak penghasilan berdasarkan tingkat
pendidikan
2. Hubungan persepsi Wajib Pajak Orang Pribadi terhadap self
assessment system Pajak Penghasilan berdasarkan jenis pekerjaan Menurut Walgito (2003: 111), sikap mengandung tiga komponen
yang membentuk struktur sikap, yaitu Komponen kognitif (komponen
perseptual), komponen ini berkaitan dengan pengetahuan, pandangan,
keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang
mempersepsi terhadap objek sikap. Komponen afektif (komponen
emosional), komponen ini berhubungan dengan rasa senang atau tidak
senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif,
sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif. Komponen ini
menunjukkan arah sikap, yaitu positif dan negatif. Komponen konatif
(komponen perilaku atau action component), komponen ini berhubungan
dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini
menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya
kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek
sikap.
Jenis pekerjaan mempengaruhi persepsi Wajib Pajak Orang Pribadi
terhadap self assessment system, khususnya untuk Wajib Pajak Orang
Pribadi yang diduga memiliki pekerjaan bebas (wiraswasta) memiliki
dari kurangnya partisipasi dari Wajib Pajak Orang Pribadi sebagai
wiraswasta dalam menyampaikan SPT Tahunan dan kurang terbuka
dalam melaporkan penghasilannya. Lain halnya dengan Wajib pajak
Orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja, Wajib Pajak ini di duga
memiliki persepsi yang positif tehadap kewajiban perpajakan. Hal ini
terlihat dari kepemilikan NPWP dan kewajban perpajakannya di potong
oleh pemberi kerja.
Ho : tidak ada perbedaan persepsi wajib pajak orang pribadi terhadap
self assessment system pajak penghasilan berdasarkan jenis pekerjaan
Ha : ada perbedaan persepsi wajib pajak orang pribadi terhadap self
assessment system pajak penghasilan berdasarkan jenis pekerjaan.
31
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan ini adalah Studi Kasus. Studi kasus
adalah metode pengumpulan data secara komprehensif yang meliputi aspek
fisik dan psikologis individu dengan tujuan memperoleh pemahaman secara
mendalam.
B. Tempat dan Waktu Penelitian