REKOMENDASI KEBIJAKAN PRIORITAS
Dari tiga alternatif kebijakan yang dikemukan dalam bab lima, setelah melakukan analisis dengan menggunakan SWOPA, dan dengan mempertimbangkan kemungkinan dapat dilaksanakan dengan segera, maka dipilih suatu kebijakan yang dianggap dapat memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas penerima manfaat yaitu “Perumusan Peraturan Menteri Sosial RI Tentang Integrasi PKSA dengan Direktorat Terkait di lingkungan Kementerian Sosial”.
A. Tujuan Kebijakan
1. Pemenuhan kebutuhan dan hak Anak, melalui penguatan kapasitas orangtua/orangtua pengganti dan penguatan lembaga kesejahteraan sosial dan masyarakat lingkungan dalam penagsuhan dan perlindungan anak.
2. Meningkatkan jangkauan pelayanan dan fungsi pencegahan 3. Meningkatkan kualitas hidup anak
B. Sasaran 1. Anak
2. Orangtua /orangtua pengganti 3. Masyarakat lingkungannya 4. LKSA
5. Pendamping/Pekerja Sosial Anak yang ada di LKSA
C. Strategi
1. Sosialisasi Peraturan Menteri Sosial dan PKSA 2. Pemberdayaan (ekonomi dan parenting skill) 3. Partisipasi masyarakat (community development)
D. Komponen Program 1. Penyuluhan Sosial 2. Bantuan Sosial
3. Pemberdayaan Keluarga Miskin dan Pengembangan Masyarakat 4. Diklat pendamping /Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak
5. Penguatan orangtua /orangtua pengganti dalam hal “Parenting Skill”
E. Kelembagaan
1. Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak
Peran dan tugas Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak diarahkan pada penguatan keluarga dalam rangka peningkatan kapasitas keluarga untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Peningkatan kapasitas keluarga atau keluarga pengganti dilakukan oleh pekerja sosial anak yang bernaung di bawah lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA), melalui kunjungan rumah.
Dalam mendukung kesejahteraan anak dan remaja pekerja sosial fokus pada beberapa faktor kunci dalam bekerja dengan keluarga yaitu melibatkan anak dan remaja, keluarga dan masyarakat dalam proses asesmen melalui suatu konfrensi tim. Secara ilosois dengan pendekatan keterlibatan berpengaruh terhadap efektivitas penilaian, yang pada gilirannya, ditemukan kesepakan dalam merumuskan rencana pelaksanaan pemecahan masalah dan akhirnya bermanfaat bagi anak-anak, remaja, dan keluarga.
2. Direktorat Jaminan Sosial - Ditjen Jaminan dan Perlindungan Sosial
Peran dan tugas Direktorat Jaminan Sosial diarahkan pada Bantuan langsung tunai bersyarat terhadap anak untuk pemenuhan kebutudan dasar, akses ke pelayanan sosial dasar pendidikan dan kesehatan. Kegiatan ini bisa digabung dengan
proram keluarga harapan (PKH) karena tujuannya sama yaitu untuk kesejahteraan anak.
3. Pemberdayaan Keluarga dan Karang Taruna - Ditjen Pemberdayaan Sosial
Pada kegiatan pemberdayaan keluarga yang dulu disebut Asistensi Kesejahteraan Sosial Keluarga (AKSK) dan sekarang diberi nama Family Care Unit(FCU) yang sedang diujicobakan dapat dimanfaatkan bagi keluarga muda, miskin dan memiliki anak (sesuai sasaran PKH) sebagai kegiatan Family Support
dalam rangka mendukung kesejahteraan dan perlindungan anak. Peran Direktorat Pemberdayaan Keluarga adalah pemberdayaan ekonomi keluarga agar mereka mampu membiayai anaknya melalui usaha ekonomi produktif (UEP) atau kelompok usaha bersama (KUBE).
Keegiatan Karang Taruna juga bisa disinergikan dengan PKSA dalam hal pencegahan masalah anak jalan, keterlantaran, kenakalan pada anak dengan kegiatan-kegiatan pengisian waktu luang dan kegiatan-kegiatan peningkatan kreatiitas anak.
4. Pusat Penyuluahan Sosial - Sekretariat Jenderal
Pusat Penyuluhan Sosial dapat berperan dalam mensosialisakan PKSA dan Perlindungan Anak baik secara langsung maupun melalui media massa, sebagai gerak dasar pembangunan kesejahteraan sosial.
5. Badiklit Kesejahteraan Sosial
Untuk meningkatkan kapasitas pendamping/pekerja sosial dari LKSA di bidang kesejahteraan dan perlindungan anak khususnya lagi dalam penanganan masing-masih kluster (ABT, AT, Anjal, ABH, ADK dan AMPK) diperlukan pendidikan pelatihan. Kegiatan ini bisa dilaksanakan oleh Pusat Pendidikan dan Latihan Kesejahteraan Sosial di Jakarta dan
Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial yang keberadaanya ada di enam wilayah kerja yaitu Padang, Bandung, Yogyakarta, Banjarmasin, Makasar dan Papua.
F. Indikator Kebijakan
1. Dikeluarkannya Peraturan Menteri Sosial RI tentang Cross Cutting program antar direktorat/balai besar di lingkungan Kementerian Sosial RI
2. Meningkatnya jumlah orangtua/keluarga yang mempunyai kapasitas dalam pengasuhan dan perlindungan anak
3. Meningkatnya kualitas pekerja sosial pendamping anak
4. Meningkatnya jumlah TKSA yang profesional dalam memberikan pelayanan
5. Meningkatnya jumlah anak yang terpenuhi hak-haknya 6. Meningkatnya jumlah anak yang terlindungi
7. Meningkatnya kesejahteraan sosial anak
Pelaksanaan Permensos ini akan efektif bila ada suatu keinginan bersama para pihak terkait dalam merencanakan, melaksanakan dan melakukan pemantauan secara bersama, dengan sasaran yang sama yaitu keluarga miskin yang mempunyai masalah anak. Masing- masing direktorat terkait punya target atau indikator sendiri-sendiri sesuai perannya masing-masing. Keuntungan dari integrasi program ini adalah anggaran tidak menumpuk di satu direktorat dan dapat menyelesaikan masalah besar yaitu kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup anak dan terlindunginya anak-anak Indonesia dari tindak kekerasan dan perlakuan salah.
DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Perundang-undangan:
UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2 UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2.
Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Undang Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.
Undang Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Manusia. Undang Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS).
Undang Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
Undang Undang RI Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
Undang Undang RI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.
Undang Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Penyandang Cacat.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007, mengenai Pengangkatan Anak.
Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan.
Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional.
Keputusan Presiden RI Nomor 36/1990, pada 25 Agustus 1990 Tentang
Pengesahan Convention On he Rights of he Child (Konvensi Te ntang Hak-Hak Anak).
Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 110/HUK/2009 Tentang Persyaratan Pengangkatan Anak.
Keputusan Menteri Sosial Nomor 15A/HUK/2010 tentang Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA).
Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 37/HUK/2010 tentang Tim Pertimbangan Perizinan Pengangkatan Anak Pusat.
Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 30/HUK/2011 tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial.
Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Nomor 15 Tahun 2010 tentang Pedoman Umum Penanganan Anak yang Berhadapan Dengan Hukum.
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1259/Menkes/SK/ XII/2009 tentang Program Jamkesmas bagi Penghuni Panti Sosial, Korban Bencana dan Penghuni Lapas dan Rutan.
Kesepakatan Bersama antara Direktur Jenderal PRS Departemen Sosial RI dengan Direktur Jenderal PAS Departemen Hukum dan HAM RI Nomor 20/PRS-2/KEP/2005, tentang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Anak Didik Pemasyarakatan.
Kesepakatan Bersama Menteri Sosial RI, Menteri Hukum dan HAM RI, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan RI, Menteri Agama RI, Kepolisian Negara RI Nomor: 12/PRS-2/ KPTS/2009, Nomor M.HH.04.MH.0302. Tahun 2009; Nomor 11/XII/2009; Nomor 1220/Menkes/SKB/XII/2009; Nomor 06/ XII/2009; Nomor B/43/XII/2009, tentang Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak Yang Berhadapan dengan Hukum.
Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Perlindungan Anak.
Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan.
Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 31 Tahun 2012 Tentang Tata Cara Penjangkauan dan Pemenuhan Hak Anak yang Hidup Di Jalan.
Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 181/ KEP/2012 Tentang pembentukan Forum Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan.
Keputusan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Nomor: 29/RS- KSA/2011 tentang Pedoman Operasional PKSA. Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.
Buku-buku:
Kementerian Sosial RI, Badan Pusat Statistik. (2012). Proil PMKS, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial, INDONESIA 2011. Pusat Data dan Informasi Kementerian Sosial RI.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional RI bekerjasama dengan Pusat Kajian Perlindungan Anak Universitas Indonesia dan Bank Dunia. (2011). Membangun Sistem Perlindungan Anak di Indonesia, Sebuah Kajian Pelaksanaan PKSA Kementerian Sosial RI dan Kontribusinya terhadap Sistem Perlindungan Anak. Hikmat, Hari. (2006). Pedoman Analisis Kebijakan Kesejahteraan Sosial,
Pada Tgl 05 Maret 2008 Disampaikan dalam Kegiatan Finalisasi Pedoman Analsis Kebijakan Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI.
Mallon, Gerald P and Peg McCartt Hess. (2005). Child Welfare For he Twenty-First Century. A Handbook of Practices, Policies, and Program. Columbia University Press.
Nota Kesepahaman Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Sosial, Menteri Agama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tentang Percepatan Kepemilikan Akta Kelahiran dalam Rangka Perlindungan Anak.
David S, Sawicki, & Carl V. Patton. (1993). Basic Methods of Policy Analysis and Planning, Prentice Hall. Englewood Clifs, New Jersey 07632.
William N., Dunn. (2003). Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Edisi Kedua, Gajah Mada University Press.
Suradi. (2011). Studi Kebijakan Penanggulangan Anak Jalanan di DKI Jakarta. Jakarta: P3KS Press.
Unicef, Child Protection Task Force Workshop, 2 Juli 2013, Jakarta- Indonesia, Better Gavernance for Indonesia’s Child Protection System.
Website:
Anak Jalanan: http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_jalanan.
Data Penyandang Masalah Sosial (PMKS) dan Potendi Kesejahteraan Sosial (PSKS). (2011). http://database.kemsos.go.id/modules. php?name=Pmks2011.
Catatan Akhir Tahun 2011 Komisi Nasional Perlindungan Anak: Menggugat Peran Negara, Pemerintah, Masyarakat dan Orangtua Dalam Menjaga dan Melindungi Anak. http:// komnaspa.wordpreAni.com/2011/12/21/catatan-akhir-tahun- 2011-komisi-nasional-perlindungan-anak/www.acf.hhs.gov/ program/cb, diambil September 28, 2004.
Menkumham: Kasus Asusila di Kalangan Anak Sedang Tren. http:// www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/13/07/23/mqdjhz- menkumham-kasus-asusila-di-kalangan-anak-sedang-tren,4 september 2013.
Dinda Satria: Anak dan Problematika Bangsa, http://sosbud. kompasiana. com/2012/10/15/anak-dan-problematika-bangsa-501440.html.
A
ABH 11, 41, 45, 46, 47, 84, 101 ABT 10, 31, 39, 48, 89, 101 Action 94, 95, 96 ADHA 49, 51, 52 ADK 10, 77, 83, 84, 90 Aktivitas 33, 37, 39, 90 Alternatif kebijakan 12, 93, 94, 95, 99 AMPK 10, 65, 84, 101 Anak 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 98, 99, 101, 102 Analisis 10, 11, 12, 94, 96, 99 Analisis Retrospektif 10 Anjal 10, 77, 87, 101 Asesmen 17, 20, 21, 80, 81, 100 ASI 29B
Bantuan langsung tunai bersyarat 100 Bappenas 4, 5, 9 BPJS 54, 55 BPS 6, 28, 29, 31, 39 Broken home 42
C
Community development 99 CPS 17, 19, 20, 21, 22, 23 Cross cutting program 102D
Dekadensi moral 45 Disabilitas 2, 6, 44, 54, 63, 64, 69 DIY 9, 10, 72, 77 DKI 2, 9, 10, 30, 38, 70, 77, 83 Duty 8E
Efektif 102 Eksploitasi 18, 19, 44, 58, 70 Evaluasi 4, 20, 58, 59, 69, 75, 76, 79, 81, 83, 92, 94, 96F
FCU 101 FGD 10, 70, 73 FKKADK 9 Fundamental 27, 28, 57H
Hak dasar 28, 55, 67, 75, 76, 91 HIV/AIDS 6, 49, 50, 51, 52, 92 Home visit 83, 84I
Indikator 4, 5, 12, 102 Intake 20 Intelektual 14, 62K
KB 9, 62 Kebijakan 1, 2, 4, 5, 6, 7, 10, 11, 12, 25, 27, 52, 55, 56, 60,INDEK
64, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 74, 93, 94, 95, 96, 99 Kebijakan sosial 7, 10, 11 Kekerasan 9, 16, 17, 18, 27, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 58, 61, 65, 71, 90, 102 Kekerasan isik 18 Kelompok minoritas 16, 41 Kendala 4, 72
Kesejahteraan sosial anak 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 12, 27, 28, 37, 63, 75, 76, 78, 79, 82, 84, 93, 96, 100, 102 Keterlantaran Balita 31, 38 KHA 9, 56, 70 Konvensional 6 KPAI 9, 56, 70 KUBE 101
L
LKSA 3, 5, 8, 9, 33, 37, 39, 59, 76, 77, 78, 79, 81, 82, 83, 84, 91, 93, 94, 95, 96, 99, 100, 101M
MCK 30, 37 Monitoring 69, 79, 83, 92N
NAD 9, 14 NAPZA 16, 41O
Observasi 10, 34, 52, 81 Opportunities 94, 95 Optimal 9, 15, 16, 23, 40, 60P
Parenting skill 99, 100 Peers group 44 Pelecehan seksual 18, 19, 47, 48, 90 Pendamping 8, 9, 10, 47, 50, 52, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 89, 90, 91, 92, 96, 99, 100, 101, 102 Penelantaran 16, 17, 18, 20, 41, 90 Penganiayaan psikologis 19 Pengasuhan alternatif 8, 59 Pengasuhan anak 3, 8, 11, 14, 15, 16, 18, 19, 27, 37, 39, 40, 59, 80, 85 Perlindungan khusus 2, 5, 8, 16, 28, 40, 41, 44, 49, 57, 65, 75, 91 PKH 101 PKSA 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 37, 52, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 99, 101 PKSADK 82 Pluralisme 71 PMKS 6, 29, 31, 32, 44, 75 Prioritas 2, 41, 58, 94, 99 Problem 94, 95, 96 PSAA 109Q
Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008, 68
S
Sakti Peksos 76, 77, 78, 79, 80, 83, 84 SDM 4, 6, 43, 52, 74, 77, 83, 84, 93, 94, 95 SKPD 72, 73, 95 Strengtheness 94 Substitusi 15 Supervisi 19 SWOPA 94, 99T
Target 2, 22, 79, 95, 102 TAS 86, 88 Terisolasi 16, 41 TPA 9, 62 Traumatis 15U
UEP 99Undang Undang Dasar 1945 1, 52
Undang Undang RI Nomor 11 Tahun 2009, 57, 64 Undang Undang RI Nomor 4
Tahun 1979, 56 Unicef 3, 9, 39, 69, 70
W
Wawancara mendalam 10, 70 Weaknessess 94
SEKILAS PENULIS
Dra. Mulia Astuti, M.Si.
Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat (1954). Pendidikan terakhir Pasca Sarjana (S2) Program Kajian Ketahanan Nasional (UI 1997). Mengawali karir sebagai pegawai negeri sipil Departemen Sosial RI (1978) ditempatkan di Badan Penelitian dan Pengembangan Sosial. Mulai menjadi peneliti (1987). Pernah ditempatkan pada jabatan struktural sebagai Kepala Bidang Program pada Pusat Penelitian Kesejahteraan Sosial(2000), Kepala Bidang Pemberdayaan Pranata Sosial (2001) dan Kepala Bidang Kerjasama dan Publikasi (2006) pada Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat. Kemudian di mutasi ke Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial sebagai Kepala Sub Direktorat Pelayanan Sosial Anak Terlantar (2007), terakhir Kasubdit Kelembagaan, Perlindungan dan Advokasi Sosial (2009). Pernah mengikuti “Asean Training-Overview of Sosial Services (1991) di Singapura dan pernah mengajar pada Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) untuk jurusan Kesejahteraan Sosial (1989-1994). Pada tahun 2010 kembali pindah ke Puslibang Kesejahteraan sebagai peneliti. Sejak tahun 1987 sampai sekarang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan penelitian baik kelompok maupun perorangan, kegiatan seminar dan menulis buku, artikel yang dimuat di Jurnal maupun majalah ilmiah.Ir. Ruaida Murni.
Lahir di Takengon tanggal 17 Juli 1962, menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Jambi. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial RI. Dan sebagai anggota tim penilai jabatan fungsional Litkayasa Kementerian Sosial RI. Penelitian yang telah dilaksanakan antara lain Peranan Pelayanan dan Bantuan Sosial Proyek Atma Brata CCF Terhadap Kesejahteraan Sosial Keluarga Miskin di Kecamatan Cilincing; PengembanganMetode dan Teknik Penyuluhan dan Bimbingan Sosial Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan; Kebutuhan Pelayanan Kesejahteraan Sosial di Kawasan Industri; Metode dan Teknik Pelayanan Anak Pada Kelompok Bermaian dan Taman Penitipan Anak; Permasalahan Sosial Migran Perkotaan di Propinsi Riau; Penelitian Kemandirian Penerima Pelayanan Panti Sosial Asuhan Anak dan Panti Sosial Bina Netra; Model Rehabilitasi Sosial Penyalahguna NAFZA di Beberapa Institusi Swasta; Pengembangan Uji Coba Model Pemberdayaan Remaja Melalui Karang Taruna; Akreditasi Panti; Uji Coba Model Pengentasan Anak Terlantar Melalui Kekerabatan; Pergeseran Pola Relasi Gender Ex TKW; Pemberdayaan Sosial Keluarga Pasca Bencana Alam; dan Uji Coba Model Pemberdayaan Sosial Keluarga Pasca Bencana Alam, Studi Kebijakan Penanganan Korban Tindak Kekerasan: Kasus Perdagangan Perempuan di Wilayah Perbatasan dan Studi Kebijakan Pengembangan Kegiatan Sakti Peksos di Panti Sosial Masyarakat
Drs. Ahmad Suhendi, M.Si.
Lahir di Tangerang pada tanggal 30 Juni 1958, menyelesaikan pendidikan Sarjana Kesejahteraan Sosial pada tahun 1992 di STKS Bandung dam Pasca Sarjana Jurusan Kesejahteraan Sosial UI Jakarta tahun 2006. Bekerja di Kementerian Sosial RI sejak tahun 1982 sebagai Staf Peneliti. Saat ini sebagai Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial RI. Diklat yang diikuti antara lain: Latihan Prajabatan Tingkat II, Pelatihan Tenaga Peneliti Bidang Kesejahteraan Sosial Tingkat Dasar, Diklat Analisa Data Angkatan II, Pemantapan Petugas Penyuluh dan Bimbingan HIV/AIDS Bidang Sosial, Diklat Adum, Pelatihan Metodologi Penelitian Kebijakan Responsif Gender Tingkat Analis, Diklat SKTA, Dilat Peneliti Tingkat Lanjutan. Penelitian yang dilakukan antara lain: Studi PenjajaganAspek Sosial Kemiskinan, Permasalahan Sosial di Perkotaan, Pelaksanaan Program Pemberian Beasiswa Sekolah Dasar oleh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk Sebagai Wujud Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Studi Kasus di Sekolah Dasar Negeri 06 Desa Sukadanau Kecamatan Cikarang Barat Kabupaten Bekasi), Indikator Ketahanan Sosial Keluarga, Replikasi Model Desa Berketahanan Sosial melalui Pemberdayaan Pranata Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi, Pengembangan Desa Berketahanan Sosial melalui Pemberdayaan Pranata Sosial (Replikasi Model di Empat Provinsi), Analisis Kebutuhan Sosial Dasar dalam Pemberdayaan Masyarakat Daerah Tertinggal: Studi Kasus di Desa Simpur Kabupaten Pulang Pisau, dan Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan: Studi Evaluasi Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni bagi Keluarga Miskin di Perkotaan.