• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

6.2 Rekomendasi

Dalam rangka mencapai sinergitas yang optimal pada saat mengintegrasikan SRG dan PL, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut:

a. Koordinasi Antar Kementerian dan Lembaga Terkait

Melakukan koordinasi di tingkat pusat antara Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koperasi dan UKM, serta lembaga lainnya yang terkait seperti Bank Indonesia dalam implementasi SRG dan PLK sehingga program kerja yang dilaksanakan tidak tumpang tindih dan tepat sasaran, tepat waktu dan tepat biaya.

71 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

b. Pemetaan Karakteristik Petani dan Lembaga-Lembaga Pelaksana SRG

Adanya pemetaan terhadap karakteristik yang terdapat pada masing-masing daerah, sebab keberhasilan daerah yang satu belum tentu dapat diterapkan pada daerah yang lain. Pemetaan ini dilakuan untuk menjamin SRG dan PLK dapat terimplementasi dengan baik. Pemetaan tersebut terkait dengan:

1) Komitmen pemerintah daerah dalam implementasi SRG yang mengintegrasikan koordinasi antar dinas terkait, seperti menggunakan penyuluh pertanian untuk mengubah mindset petani dan meningkatkan kepercayaan petani terhadap SRG dengan terus menerus melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada petani.

2) Komitmen pengelola gudang, dimana dalam menjalankan bisnis SRG, pada awalnya terdapat masa grace period, dimana pengelola gudang belum mendapatkan keuntungan dari bisnis ini. Untuk dapat memperoleh keuntungan yang diharapkan makan pengelola gudang harus mampu berinovasi, kreatif serta aktif menjalankan fungsi marketing dari SRG. Pengelola gudang harus mampu melakukan pendekatan kepada para petani dan gapoktan setempat yang bertujuan mendapatkan kepercayaan dari petani dan gapoktan sehingga pada akhirnya mereka mau menyimpan sebagian hasil panennya di gudang. Selain itu, pengelolaan SRG dalam konsep rantai pasok dapat menjadi pertimbangan.

3) Komitmen penyelenggara pasar lelang untuk dapat menyelenggarakan lelang yang terjadwal, memberikan kemudahan bagi para peserta dan calon peserta lelang untuk berpartisipasi dalam pasar lelang serta memberikan informasi yang transparan mengenai penyelenggaraan lelang. Penyelenggara pasar lelang juga perlu menjalin hubungan

72 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

kerjasama dengan para buyer potensial dan menjaga kepercayaan baik dari pembeli maupun penjual.

4) Karakteristik permodalan petani, dimana petani yang memiliki ketergantungan permodalan saprotan atau konsumsi dengan pengumpul atau tengkulak akan sangat sulit untuk memanfaatkan baik SRG maupun PLK karena adanya ikatan modal awal sehingga mereka tidak dapat mencari sarana pemasaran yang lain. Untuk itu, pemerintah baik pusat maupun daerah harus melakukan koordinasi untuk dapat membantu pembiayaan petani mulai dari awal produksi sampai dengan pasca panen, dengan demikian ketergantungan permodalan dengan pihak yang merugikan dapat diminimalisir.

c. Kebijakan dan Mekanisme Sebagai Panduan Implementasi

Perlu adanya mekanisme aturan yang jelas yang mengatur pelaksanaan integrasi SRG dan PLK, yang terkait dengan

1) Sistem terintegrasi antara SRG dan PLK baik secara online maupun offline. Pengelola gudang SRG dapat terintegrasi dengan pasar lelang online maupun offline, dan demikian juga sebaliknya, PLK offline dapat terintegrasi dengan SRG online dan offline.

2) Tempat pelaksanaan lelang, dimana pada propinsi-propinsi tertentu, gudang SRG dengan tempat penyelenggaraan lelang terpisah oleh jarak dan waktu, sehingga sangat tidak efektif dan efisien jika lelang dilakukan di ibukota propinsi sedangkan tempat penyerahan berada di kabupaten/kota karena akan menimbulkan biaya tambahan baik bagi pembeli maupun bagi penjual

3) Komoditas yang dilelang, dimana saat ini hanya terdapat 10 komoditas yang dapat diresigudangkan (berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 8/M-DAG/PER/02/2013) sedangkan komoditas yang dapat dilelang pada PLK terdiri dari berbagai

73 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

macam komoditas agro, sehingga diperlukan adanya perubahan peraturan yang menambahkan jenis komoditas yang dapat diresigudangkan.

4) Skala ekonomis, setiap lelang, penyelenggara pasar lelang wajib menyediakan sampel dari komoditas yang akan dijual. Saat ini sampel yang ditetapkan berjumlah minimal 1 kg per buyer untuk transaksi 50 ton, sehingga petani yang tidak memiliki jumlah komoditas sebanyak 50 ton tidak dapat bergabung sebagai peserta lelang. Untuk itu diperlukan peran aktif baik dari pengelola gudang SRG maupun penyelenggara PLK untuk ikut serta membantu petani mencapai skala ekonomis dengan menggabungkan produk dengan kualitas yang sama dari gudang yang sama atau gudang yang berdekatan.

5) Fee, transaksi di pasar lelang dikenakan fee transaksi sebesar 1% bagi penjual dan 1% bagi pembeli. Untuk dapat menarik minat para penjual dan pembeli memanfaatkan pasar lelang, maka sebaiknya fee untuk transaksi dapat ditinjau ulang besarannya.

6) Initial margin, transaksi di pasar lelang saat ini mewajibkan baik para pembeli maupun para penjual memiliki initial margin sebesar 10% yang digunakan sebagai jaminan baik bagi pembeli maupun penjual apabila terjadi gagal serah (pembeli) maupun gagal bayar (penjual). Initial margin dapat tidak diberlakukan apabila penjual memiliki resi gudang karena SRG dapat dijadikan sebagai jaminan apabila terjadi gagal serah dari penjual.

7) Transparansi Harga. Untuk meningkatkan kepercayaan baik terhadap SRG maupun PLK maka wajib memberikan informasi harga yang sama kepada peserta lelang dan sanksi yang tegas terhadap pelanggaran ini untuk menghindari adanya insider

74 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

trading dari penyelenggara lelang maupun pengelola gudang SRG.

d. Rekomendasi Penerapan Integrasi SRG dan PLK dari Tahap Offline ke Online

1) Sebagai tahap awal, diperlukan beberapa aspek strategi dan kebijakan yang diinisiasi Pemerintah (push strategy), diantaranya:

a) Kebijakan integrasi SRG dan PLK yang mengatur mengenai penyederhanan kelembagaan, mekanisme transaksi yang efisien, hak dan kewajiban dari SRG dan PLK, serta sanksi apabila terdapat wanprestasi dari salah satunya.

b) Fasilitasi pembuatan nota kerjasama antara SRG dengan PLK dalam rangka integrasi SRG dan PLK. Sebagai tahap awal, pembuatan nota kesepahaman dapat dilakukan di beberapa wilayah percontohan yang telah dilakukan program revitalisasi PLK.

c) Dalam pelaksanaannya, perlu dilakukan evaluasi secara berkala terhadap pengelola SRG dan PLK dalam mendukung program integrasi SRG dan PLK. Beberapa hal seperti profesionalisme, kemandirian, dan kepemilikan fasilitas dalam mendukung rantai pasok dapat dipertimbangkan sebagai persyaratan dalam memberikan izin pengelola SRG dan PLK.

2) Tahap kedua, setelah model integrasi SRG dan PLK secara offline berjalan dengan baik, penyelenggaraan integrasi SRG dengan PLK online dilakukan secara parsial, yaitu berupa sharing informasi antar PLK, sementara pelaksanaan lelang masih secara offline.

3) Tahap ketiga, integrasi SRG dengan PLK online dilakukan secara penuh dimana peserta lelang baik penjual maupun

75 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

pembeli melakukan transaksi melalui online sehingga tidak ada lelang secara offline.

76 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

DAFTAR PUSTAKA

Ashari. 2012. Potensi dan Kendala Sistem Resi Gudang (SRG) Untuk Mendukung Pembiayaan Usaha Pertanian di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol. 29, No. 2. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Aviliani dan Usman Hidayat. 2005. Menuju Skim Pembiayaan Resi

Gudang yang Atraktif. Diunduh dari:

http://www.indef.or.id/xplod/upload/arts/Resi%20Gudang.HTM pada tanggal 25 Agustus 2015

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), 2014, Laporan Rekapitulasi Resi Gudang Tahun 2013, Kementerian Perdagangan RI

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), 2015, Outlook 2015 Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang, Kementerian Perdagangan RI.

Dewantoro. 2012. Petani Juga Keluhkan Resi Gudang Belum Berfungsi. Medan Bisnis. Rabu, 8 Agustus 2012. Diunduh dari : www.medanbisnisdaily.com pada tanggal 22 Agustus 2015

Hasan, F. 2008. Potensi Penerapan Sistem Resi Gudang di Indonesia. Institute for Development of Economic and Financing (INDEF). Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Sistem Resi Gudang, Pengembangan Alternatif Pembiayaan melalui Sistem Resi Gudang. Hotel Borobudur, tanggal 4 November 2008, Jakarta. Muhi, H. A. 2011. Fenomena Pembangunan Desa.Institute Pemerintahan

Dalam Negeri. Jatinangor, Jawa Barat.

Pusat Pembiayaan. 2006. Pedoman Umum Sistem Tunda Jual Komoditas Pertanian. Pusat Pembiayaan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

77 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Riana, D. 2010. Penggunaan Sistem Resi Gudang Sebagai Jaminan Perbankan di Indonesia. Thesis. Magister Hukum. Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Jakarta.

Dokumen terkait