• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

E. Perangkat Pembelajaran dan Pengembangannya

3. Tahap Analisis Data

Tahap analisis data meliputi: menganalisis data untuk pengujian hipotesis, melakukan pembahasan terhadap hasil analisis data, uji hipotesis, hasil observasi, hasil wawancara, kajian literatur, dan temuan-temuan disaat penelitian, serta penyusunan laporan secara lengkap. Tahap analisis data ini dilakukan mulai dari bulan Maret sampai bulan Juni 2014.

Pelaksanaan penelitian ini di Program Studi Pendidikan Matematika pada salah satu universitas di Kota Ternate dengan time schedule seperti pada tabel berikut :

Tabel 3.22. Time Schedule Pelaksanaan Penelitian

No Kegiatan Bulan (2013) Bln(2014)

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6

75

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

persiapan

2 Tahap

pelaksanaan

3 Tahap

76

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tahapan-tahapan dalam penelitian yang dilaksanakan dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut.

Gambar 3.2. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Proposal Penelitian

Pengembangan Perangkat Pembelajaran dan Instrumen Penelitian

Tes KAM

Pemilihan sampel penelitian

Pretes dan angket

Model Treffinger Konvensional

Postes dan angket

Analisis Data

Pembahasan

Kesimpulan, Saran, dan Rekomendasi

77

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu G. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Setelah melaksanakan TKKM dan TKPM, data dianalisis secara kualitatif deskriptif yaitu memberikan skor pada setiap jawaban dengan cara:.

Persentase Jawaban =

Data hasil kuesioner SRL dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Memberikan skor pada setiap jawaban mahasiswa. Setiap alternatif pilihan jawaban diberi skor 1 – 4. Skor setiap alternatif jawaban ditetapkan seperti pada tabel berikut.

Tabel 3. 23. Alternatif Pilihan Jawaban Angket SRL

Jenis Alternatif jawaban Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Pernyataan Positif 4 3 2 1 Pernyataan Negatif 1 2 3 4

2. Hasil kuesioner sebagai data ordinal ditransformasikan menjadi data interval dengan menggunakan Method of Successive Interval (MSI)

3. Melakukan perhitungan dengan menggunakan statistik uji Spearman’s Rho

pada program SPSS versi 17 for windows.

4. Mengkonversi skor hasil angket ke dalam bentuk kategori seperti pada tabel berikut.

Tabel 3.24. Kriteria Hasil Angket

Skor ( % ) Kategori

81 – 100 Sangat baik

61 – 80 Baik

78

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

21 – 40 Kurang baik

< 20 Tidak baik

Data yang diperoleh melalui hasil pretes dan postes dianalisis untuk mengetahui besarnya pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematis, pemecahan masalah matematis, dan self-regulated learningmahasiswa baik pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol. Langkah-langkah dalam melakukan analisis adalah sebagai berikut.

1. Menghitung statistik deskriptif skor pretes dan postes

2. Menentukan besarnya pencapaian dengan melihat skor postes yang diperoleh mahasiswa

3. Menghitung besarnya peningkatan dengan rumus gain ternormalisasi (normalized gain), yaitu:

(Hake, 1999)

Hasil perhitungan N-gain kemudian diinterpretasi dengan menggunakan klasifikasi dari Hake (1999) seperti pada tabel berikut.

Tabel 3.25. Klasifikasi N-Gain (g)

Besar N-gain (g) Interpretasi g > 0,7 Tinggi 0,3 < g ≤ 0,7 Sedang

g ≤ 0,3 Rendah

4. Uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians untuk setiap kelompok data sampel penelitian. Uji ini sebagai dasar prasyarat statistik yang diperlukan dalam rangka pengujian hipotesis. Pengujian normalitas sebaran data dan homogenitas varians menggunakan program SPSS versi 17 for windows.

5. Menentukan jenis pengujian statistik tertentu yang sesuai dengan hipotesis. Pengujian hipotesis menggunakan program SPSS versi 17 for windows.

79

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Hubungan antara masalah penelitian, hipotesis penelitian, kelompok data, dan uji statistik yang digunakan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.26. Hubungan antara Masalah, Hipotesis, dan Data

Masalah Penelitian Nomor

Hipotesis

Kelompok Data

Apakah pencapaian dan peningkatan KKM mahasiswa yang memperoleh pembelajaran model

Treffinger lebih tinggi daripada mahasiswa yang memperoleh pembelajaran konvensional ditinjau dari: (a) keseluruhan mahasiswa; dan (b) kategori KAM mahasiswa (tinggi, sedang, dan rendah)?

1 dan 2 KKM-MT-L, KKM-PK-L, KKM-MT-T, KKM-PK-T, KKM-MT-S, KKM-PK-S, KKM-MT-R, KKM-PK-R Apakah pencapaian dan peningkatan KPM

mahasiswa yang memperoleh pembelajaran model

Treffinger lebih tinggi daripada mahasiswa yang memperoleh pembelajaran konvensional ditinjau dari: (a) keseluruhan mahasiswa; dan (b) kategori KAM mahasiswa (tinggi, sedang, dan rendah)?

3 dan 4 KPM-MT-L, KPM-PK-L, KPM-MT-T, KPM-PK-T, KPM-MT-S, KPM-PK-S, KPM-MT-R, KPM-PK-R Apakah pencapaian dan peningkatan SRL

mahasiswa yang memperoleh pembelajaran model

Treffinger lebih tinggi daripada mahasiswa yang memperoleh pembelajaran konvensional ditinjau dari: (a) keseluruhan mahasiswa; dan (b) kategori KAM mahasiswa (tinggi, sedang, dan rendah)?

5 dan 6 SRL-MT-L, SRL-PK-L SRL-MT-T, SRL-PK-T, SRL-MT-S, SRL-PK-S, SRL-MT-R, SRL-PK-R Apakah terdapat pengaruh interaksi antara

pembelajaran (MT dan PK) dan KAM terhadap pencapaian dan peningkatan KKM mahasiswa?

7 dan 8 KKM-MT-L, KKM-PK-L Apakah terdapat pengaruh interaksi antara

pembelajaran (MT dan PK) dan KAM terhadap pencapaian dan peningkatan KPM mahasiswa?

9 dan 10 KPM-MT-L, KPM-PK-L Apakah terdapat pengaruh interaksi antara

pembelajaran (MT dan PK) dan KAM terhadap pencapaian dan peningkatan SRL mahasiswa?

11 dan 12 SRL-MT-L, SRL-PK-L Apakah terdapat korelasi antara: (a) kemampuan

komunikasi dan kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa; (b) kemampuan

13

KKM-MT-L KKM-PK-L KPM-MT-L

80

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

komunikasi dan self-regulated learning

matematis mahasiswa; dan (c) kemampuan pemecahan masalah dan self-regulated learning

matematis mahasiswa.?

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data, temuan, dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1. Secara keseluruhan, pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model Treffinger lebih tinggi daripada mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Pencapaian kemampuan komunikasi matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model Treffinger tergolong cukup dan peningkatannya tergolong sedang, dan mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional, pencapaiannya tergolong kurang dan peningkatannya tergolong sedang.

2. Berdasarkan kategori Kemampuan Awal Matematis (tinggi, sedang, dan rendah), pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model Treffinger lebih tinggi daripada mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional.

3. Secara keseluruhan, pencapaian dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model

Treffinger lebih tinggi daripada mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Pencapaian kemampuan komunikasi matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model Treffinger tergolong baik dan peningkatannya tergolong sedang, dan mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional, pencapaiannya tergolong kurang dan peningkatannya tergolong sedang.

4. Berdasarkan kategori Kemampuan Awal Matematis (tinggi, sedang, dan rendah), pencapaian dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model Treffinger lebih tinggi daripada mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional.

226

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5. Secara keseluruhan, pencapaian dan peningkatan self-regulated learning

matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model Treffinger lebih baik daripada mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Pencapaian self-regulated learning matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model Treffinger tergolong baik dan peningkatannya tergolong sedang. Sementara mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional, pencapaiannya tergolong baik dan peningkatannya tergolong sedang.

6. Berdasarkan kategori Kemampuan Awal Matematis (tinggi, sedang, dan rendah), pencapaian dan peningkatan self-regulated learning matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model Treffinger lebih baik daripada mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional.

7. Tidak terdapat pengaruh interaksi antara pembelajaran (Model Treffinger dan Konvensional) dan kemampuan awal matematis (tinggi, sedang, dan rendah) terhadap pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa.

8. Tidak terdapat pengaruh interaksi antara pembelajaran (Model Treffinger dan Konvensional) dan kemampuan awal matematis (tinggi, sedang, dan rendah) terhadap pencapaian dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa.

9. Tidak terdapat pengaruh interaksi antara pembelajaran (Model Treffinger dan Konvensional) dan kemampuan awal matematis (tinggi, sedang, dan rendah) terhadap pencapaian dan peningkatan self-regulated learning matematis mahasiswa.

10.Terdapat korelasi yang sangat tinggi antara kemampuan komunikasi matematis dan kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa.

11.Terdapat korelasi yang tinggi antara kemampuan komunikasi matematis dan

self-regulated learning matematis mahasiswa.

12.Terdapat korelasi yang tinggi antara kemampuan pemecahan masalah matematis dan self-regulated learning matematis mahasiswa.

227

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu B. Implikasi

Berdasarkan kesimpulan penelitian, pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematis, kemampuan pemecahan masalah matematis, dan self-regulated learning matematis mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran model Treffinger lebih baik daripada mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Kesimpulan ini memberikan implikasi sebagai berikut.

1. Pembelajaran model Treffinger dapat diterapkan oleh dosen sebagai alternatif model pembelajaran untuk dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis, kemampuan pemecahan masalah matematis, dan self-regulated learning matematis mahasiswa di Perguruan Tinggi.

2. Pembelajaran model Treffinger dapat diterapkan pada mahasiswa dengan kemampuan awal matematis yang berbeda (tinggi, sedang, dan rendah) untuk dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis, kemampuan pemecahan masalah matematis, dan self-regulated learning matematis mahasiswa di Perguruan Tinggi.

3. Pembelajaran model Treffinger dapat diterapkan pada subjek di tingkatan yang lebih rendah, yaitu dari SD sampai SMA dalam upaya meningkatkan kemampuan matematis lainnya.

C. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi dari penelitian ini, beberapa rekomendasi yang dapat diberikan di antaranya:

1. Pembelajaran model Treffinger hendaknya menjadi alternatif dosen dalam melaksanakan pembelajaran matematika di kelas, terutama bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis, kemampuan pemecahan masalah matematis, dan self-regulated learning matematis mahasiswa di Perguruan Tinggi.

228

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Untuk para dosen matematika direkomendasikan untuk meninggalkan kebiasaan lama dalam pembelajaran matematika yaitu pembelajaran yang hanya berpusat pada dosen, dan berupaya untuk melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa serta selalu berinovasi dalam mengelola pembelajaran matematika. Pembelajaran Model Treffinger dapat digunakan sebagai alternatif inovasi yang bisa diterapkan oleh dosen matematika.

3. Hasil penelitian bahwa tidak terdapat interaksi antara pembelajaran (MT dan PK) dan KAM (tinggi, sedang, dan rendah) mahasiswa menunjukkan bahwa model Treffinger dapat diterapkan pada berbagai kemampuan awal mahasiswa (tinggi, sedang, dan rendah).

4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran model Treffinger dapat diterapkan pada mahasiswa dengan kemampuan awal matematis yang berbeda (tinggi, sedang, dan rendah). Dengan demikian bagi peneliti lain yang tertarik untuk menerapkan pembelajaran model Treffinger dengan tujuan meningkatkan kemampuan komunikasi, kemampuan pemecahan masalah, dan

self-regulated learning matematis, agar menerapkannya pada subjek di tingkatan yang lebih rendah, yaitu dari SD sampai SMA.

5. Salah satu kendala yang dihadapi selama pembelajaran yaitu keterbatasan waktu. Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa dapat mempelajari permasalahan-permasalahan yang ada dalam LKM secara individu terlebih dahulu di rumah. Dengan demikian, pada saat pembelajaran di kelas, mahasiswa sudah mengetahui materi apa yang akan dipelajari, hal-hal apa saja tidak dimengerti dari permasalahan yang ada dalam LKM, serta memahami apa saja yang akan dilakukan selama pembelajaran di kelas, sehingga pada tahap diskusi kelompok tidak terlalu banyak menyita waktu.

6 Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengkaji kemampuan matematis lainnya, baik itu kemampuan kognitif maupun afektif. Hal ini dimungkinkan karena salah satu kelebihan model Treffinger, yaitu mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif dalam pengembangannya.

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

Alhaddad, F. (2010). Meningkatkan Kemampuan Representasi Multipel Matematis, Pemecahan Masalah Matematis, Dan Self Esteem Siswa Smp Melalui Pembelajaran Dengan Pendekatan Open Ended. Disertasi pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

Alhaddad, I. (2009). Matematika Diskrit. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Khairun Ternate.

Arifin, Z. (2008). Meningkatkan Motivasi Berprestasi, Kemampuan Pemecahan Masalah, dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD melalui Pembelajaran Matematika Realistik dengan Strategi Kooperatif. Disertasi pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

Arikunto, S. (2012). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi 2). Jakarta: Bumi Aksara.

Armiati (2011). Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematis, Komunikasi Matematis dan Kecerdasan Emosional Mahasiswa melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Disertasi pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

Bandura, A. (1977). Self-efficacy: The exercise of control. New York: W. H. Freeman & Company.

Baroody, A.J. & Niskayuna, R.T.C. (1993). Problem Solving, Reasoning, and Communicating, K-8. Helping Children Think Mathematically. New York: Merril, an Impirit of Mc Millan Publishing Company.

Bell, F.H. (1978). Teaching and Learning Mathematics (In Secondary School). Iowa: Wm. C. Brown Company.

Brenner, M. E. (1998). Development of Mathematical Communication in Problem Solving Groups by Language Minority Students. Bilingual Research Journal, 22:2, 3, & 4 Spring, Summer, & Fall 1998.

Cai, J., Lane, S., dan Jakabcsin, M.S. (1996b). "The role of open-ended task and holistic scoring rubrics: assessing students' mathematical reasoning and communication", dalam Communication in mathematicss K-12 and beyond, 1996 year book. National Council of Teachers of Mathematics. Carpenter, J. & Gorg, S. (2000). Principle and Standards for School

233

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Chatzistamatiou, M.S. & Dermitzaki, I. (2009). Elementary Students Self-efficacy, Reported use of Self-regulatory Strategies, and Enjoyment of Mathematics learning. University of Thessaly, Greece. [On Line]. Tersedia

http://www.self.ox.ac.uk/documents/ChatzistamatiquandDermitzaki.pdf. [Di akses 11 April 2014]

Clark, K. K., et.al. (2005). Strategies for Building Mathematical Communication in the Middle School Classroom: Modeled in Professional Development, Implemented in the Classroom. CIME (Current Issues in Middle Level Education) (2005)11(2), 1-12

Creswell, J.W. & Plano, C.V. (2007). Designing and Conducting Mixed Methods Research. Thousand Oaks: Sage Publication.

Dahar, R. W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Darhim (2004). Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual terhadap Hasil Belajar dan Sikap Siswa SD Kelas Awal dalam Matematika. Bandung: Disertasi SPs UPI. Tidak diterbitkan.

Dindyal, J. (2009). Mathematical Problems for the Secondary Classroom. World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd.

Effendy, O.U. (2007). Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.

Fauzi, A. (2011). Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis dan Kemandirian Belajar Siswa dengan Pendekatan Pembelajaran Metakognitif di Sekolah Menengah Pertama. Disertasi pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

Gagne, R.M. (1970). The Condition of Learning (2nd Edition). New York: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.

Garrison, D.R, (1997). Critical Thingking and Computer Conferencing : A Model and Tool to Assec Cognitive Presence. Tersedia di: http://communitiesofinquiry.com/documents/CogPresFinal.pdf [20 Maret 2014].

Gordon, J. (1980). Tracks for Learning: Metacognition and learning tecnologies. Australian Journal of Educational Technologi, 12, 1, 46-55. [Online]. Tersedia: http://clco.murdoch.edu.au/gen/ajet12/wi96p-46.html: (23 maret 2014).

234

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Hafriani (2004). Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematika mahasiswa melalui problem centered learning. Tesis pada PPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Hake, R.R. (1999). Analizing Change/Gain Scores. [Online]. Tersedia:

http://www.physics.indiana.edu/-sdi/AnalyzingChange-Gain.pdf.

Hamilton, R. & Ghatala, E. (1994). Learning and instruction. New York: McGraw-Hill,Inc

Hiebert, J. & Wearne. (1986). Reflection and communication: Cognitive considerations in school mathematics reform. International Journal of Educational Research, 17, 439-456.

Huggins, B., & Maiste, T.(1999). Communication in Mathematics. Master’s

Action Research Project, St. Xavier University & IRI/Skylight.

Hulukati, E. (2005). Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika SMP Melalui Model Pembelajaran Generatif. Bandung: Disertasi SPs UPI. Tidak diterbitkan.

Ibrahim (2011). Peningkatan Kemampuan Komunikasi, Penalaran, dan Pemecahan Masalah Matematis serta Kecerdasan Emosional melalui Pembelajaran Berbasis-Masalah pada Siswa Sekolah Menengah Atas.

Disertasi pada SPS UPI.: Tidak Diterbitkan.

Kadir (2010). Penerapan Pembelajaran Kontekstual Berbasis Potensi Pesisir sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik, Komunikasi Matematik, dan Keterampilan Sosial Siswa SMP. Disertasi pada SPS UPI.: Tidak Diterbitkan.

Kansanen, P. (2003). Studying the Realistic Bridge Between Instruction and Learning. An Attempt to a Conceptual Whole of the Teaching-Studying-Learning Process. Educational Studies, Vol. 29, No.2/3, 21-232.

Karlimah (2010). Pengembangan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah serta Disposisi Matematis Mahasiswa PGSD melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Disertasi pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

Kesumawati, N. (2010). Peningkatan Kemampuan Pemahaman, Pemecahan Masalah, dan Disposisi Matematis Siswa SMP melalui Pendekatan

235

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pendidikan Matematika Realistik. Disertasi pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

236

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Kilpatrick, J., Swaford, J., & Findell, B. (2001). Adding it up: Helping children learn mathematics. Washington, DC: National Academic Press.

Kirkley, J. (2003). Principles for Teaching Problem Solving. Indiana: Plato Learning, Inc.

Kramarski, B. and Mevarech, Z. (2004). Metacognitive Discourse in Mathematics Classrooms. In Journal European Research in Mathematics Education III (Thematic Group 8) [Online]. Dalam CERME 3 [Online]. Provided. Kusuma, Y.S. (2008). Konsep, Pengembangan dan Implementasi

Computer-Based Learning dalam Peningkatan Kemampuan High-Order Mathematics Thingking. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia, 23 Oktober 2008 di Bandung

Mahmudi, A. (2010). Pengaruh Pembelajaran dengan Strategi MHM Berbasis Masalah terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif, Kemampuan Pemecahan Masalah, dan Disposisi Matematis. Disertasi pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

Marques, Teresa. (2001). Escola EB 2, 3 Maria Alberta Meneres Portugal.

Reflecting to Improve the Communication in the Mathematics Classroom. Tersedia: http://pisahandbook. pdtr.eu/pages/1.4 Teresa5 20 Maques % 20_PT_ %20/85_ final. Pdf

Masingila, J.O. & Wisniowska. (1996). “Carpet Laying: An Illustration of

Everyday Mathematics”, dalam Connecting Mathematics across the

Curriculum. Editor: House, P.A. dan Coxford, A.F. Reston, Virginia: NCTM.

Montague, M. (2007). Math Problem Solving for Middle School Students with Disabilities. [on-line]. Tersedia di: http://www.k8accesscenter.org/ training_resources/ MathProblemSolving.asp.[Diakses 16 Desenber 2012]. Munandar, S.C.U. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.

Jakarta: Gramedia,

NCTM (2000). Principles and Standards for School Mathematics, Reston, Virginia: NGM.

NCTM. (2003). Program for Initial Preparation of Mathematics Specialists. [Online]. Tersedia di: http: //www.ncate.org/ProgramStandards/NCTM/ NCTMELEMStandards.pdf. [Diakses 13 April 2012].

237

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Polya, G. (1985). How to Solve It. A New Aspect of Mathematical Method. Second Edition. New Jersey: Princeton University Press.

Pomalato, S. (2005). Penerapan Model Treffinger Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Kreatif Dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP Ditinjau Dari Peringkat Sekolah. Disertasi pada SPS UPI: Tidak Diterbitkan.

Prabawanto, S. (2013). Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah, Komunikasi, dan Self-Efficacy Matematis Mahasiswa melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Metacognitive Scaffolding. Disertasi Pada SPs UPI. Tidak dipublikasikan

Pujiastuti, H. (2014). Pembelajaran Inquiry Co-Operation Model untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah, Komunikasi, dan Self-Esteem Matematis Siswa SMP. Disertasi pada SPS UPI.: Tidak Diterbitkan.

Qohar, A. (2010). Mengembangkan Kemampuan Pemahaman, Koneksi, dan Komunikasi Matematis serta Kemandirian Belajar Matematika Siswa SMP melalui Reciprocal Teaching. Bandung: Disertasi SPs UPI. Tidak diterbitkan.

Ratnaningsih. (2007). Pengaruh Pembelajaran Kontekstual terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematik serta Kemandirian Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Tidak dipublikasikan

Ruseffendi, E.T (2006). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung:Tarsito.

Ruseffendi, E.T. (2010). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan & Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung: Tarsito.

Ruseffendi, H.E.T. (1998). Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.

Sabandar, J ( 2005). Pendekatan Konflik Kognitif pada Pembelajaran Matematika dalam upaya mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif. National Seminar On Operation Research , FMIPA UNPAD.

Sabandar, J. (2007). Berpikir Reflektif. Makalah pada Seminar Tingkat Nasional FMIPA UPI Bandung : tidak diterbitkan.

238

Idrus Alhaddad, 2014

Peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis serta self-regulated learning mahasiswa melalui pembelajaran model treffinger

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Satandar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Saragih, S. (2007). Mengembangkan Kemampuan Berpikir Logis dan Komunikasi Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama melalui Pendekatan Matematika Realistik. Disertasi pada Sekolah Pasca Sarjana UPI.: Tidak Diterbitkan.

Schoen, H.L. and Oehmke, T. (1996). A New Approach to the Measurement of Problem-solving Skills. In Problem Solving in School Mathematics.

Dokumen terkait