Lingkungan Pengendalian di klinik dimana seluruh karyawan yang bekerja pada bagian farmasi merupakan fresh graduate yang belum memiliki pengalaman maka hanya perlu motivasi dan pelatihan tanpa adanya pengawasan yang berlebihan, pengawasan yang berlebihan akan cenderung menumbuhkan rasa tertekan pada karyawan, maka dari itu lebih baik diberikan pelatihan kerja sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan karyawan untuk meningkatkan kualitas kinerja sehingga akan berdampak positif bagi kelangsungan Klinik Rawat Inap Adi Sehat, pemberian fasilitas obat gratis bagi seluruh karyawan memang baik untuk menumbuhkan loyalitas bagi karyawan akan tetapi harus ada pengendalian akses bagi karyawan lain selain apotekeruntuk masuk bagian farmasi.
Penilaian Resiko ketika karyawan telah diberikan pelatihan kerja diharapkan dapat meningkatkan kualitas karyawan terutama dalam bagian farmasi, tetapi bukan menutup kemungkinan tidak adanya resiko yang mungkin terjadi, pelatihan kerja memang sudah dlakukan oleh beberapa bidan akan tetapi belum keseluruhan dengan memperkerjakan Fresh graduate resiko yang paling rentan terjadi adalah terjadinya kesalahan pencatatan, kesalahan pencatatan ini dapat disebabkan karena memang bagian apoteker salah dalam mencatat dan terjadi perbedaan stock opname dengan barang yang ada yang disebabkan beberapa karyawan
25
mengambil obat tanpa sepengetahuan apoteker. Kemungkinan lain yang mungkin terjadi adalah kekosongan obat dan obat kadaluwarsa.
Aktivitas Pengendalian yang harus dilakukan adalah seharusnya pada bagian apotek memiliki ruang tersendiri sehingga ada keterbatasan akses dimana yang diperbolehkan untuk berada di ruang apotek hanya apoteker, melakukan evaluasi secara berkala dimana obat-obat yang jarang digunakan untuk melakukan penghentian pembelian atau mengurangi stok serta menambah stok obat yang sering digunakan sehingga mencegah terjadinya kekosongan obat.
Penataan tata letak obat harus disesuaikan dimana obat yang memiliki tanggal kadaluwarsa paling awal diletakan dibagian depan, sehingga jumlah obat yang kadaluwarsa dapat ditekan se minimal mungkin, karena kendala jumlah karyawan dan tidak memungkinkan untuk adanya pemisahan tugas seharusnya pada catatan barang keluar disertai nama dan tanda tangan pendistribusi obat.
Informasi dan Komunikasi sangat penting, maka dari itu diperlukan adanya pertemuan rutin, pertemuan dan pelaporan yang dilakukan di Klinik sudah baik akan tetapi alangkah lebih baik jika Klinik mempunyai sistem komputerisasi pada bagian farmasi sehingga semua pencatatan dilakukan secara komputeriasi dengan sistem, ketika pencatatan telah dilakukan dengan sistem otomatis maka akan sulit dilakukanya manipulasi, selain itu dengan pencatatan dengan menggunakan sistem akan meminimalkan kesalahan pencatatan.
Pemantauan, Untuk absen karyawan digunakan alat otomatis dengan menggunakan sidik jari, hal ini digunakan untuk terjadinya kecurangan seperti karyawan pulang sebelum waktunya, selain itu pengawasan yang dilakukan oleh manajer secara rutin dengan melihat kinerja karyawan secara keseluruhan.Penggunaan cctv di Klinik memang sudah dilakukan akan tetapi akan lebih baik jika cctv dipantau secara terus menerus dan penempatan layar cctv diletakan diruang manajer sehingga manajer juga dapat mengontrol secara keseluruhan yang terjadi di Klinik.
26 PENUTUP
KESIMPULAN
Penerapan komponen COSO yang dilakukan di Klinik Rawat Inap Adi Sehat masih terdapat beberapa kelemahan dan perlu adanya perbaikan, seperti pada Lingkungan pengendalian di Klinik Rawat Inap Adi Sehat masih bersifat sentralistik dimana karyawan hanya akan ikut arahan dari manajer, pada bagian penilaian resiko masih ada beberapa resiko yang masih terjadi seperti kesalahan pencatatan obat, kekosongan obat dan obat kadaluwarsa, untuk mencegah adanya obat kadaluwarsa seharusnya tata letak obat harus urut tanggal kadaluwarsa, melakukan evaluasi terhadap obat jarang dipakai.
Pada aktivitas pengendalian memang belum ada pemisahan tugas akan tetapi hal ini karena tata nilai yang telah ditekankan yaitu kerja tim , akan lebih baik jika setiap pencatatan barang keluar disertai nama bidan dan tanda tangan yang melakukan pendistribusian obat.
Klinik Rawat Inap Adi Sehat telah melakukan pelaporan terkait persediaan obat-obatan tetapi pembukan yang dilakukan masih secara manual yang seharusnya dapat diganti dengan komputerisasi. Pengawasan yang dilakukan dengan cctv seharusnya dilakukan lebih optimal, dimana seharusnya memindahkan layar cctv di ruang kerja manajer sehingga manajer bisa melakukan pengecekan secara berkala tanpa melakukan pengawasan langsung berlebihan, sehingga diharapkan manajer Klinik Rawat Inap Adi Sehat dapat menjadikan pertimbangan atas rekomendasi perbaikan yang diberikan untuk keberlangsungan Klinik.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu, adanya keterbatasan akses diawal yang dilakukan oleh manajer dengan hanya boleh wawancara dengan manajer, dilarang melakukan perekaman pada saat wawancara dan memfoto data yang ada, sulitnya melakukan wawancara dengan pelanggan karena pelanggan takut terjadi kesalahan yang merugikan pelanggan, adanya sikap kehati-hatian oleh manajer saat dilakukan wawancara sehingga diperlukan observasi lebih lanjut, susahnya waktu untuk bertemu dengan manajer karena manajer tidak setiap hari datang dan tidak bersedia memberikan kontak kepada peneliti, adanya pengawasan secara berlebihan ketika melakukan observasi pada saat manajer berada di tempat. Keterbatasan dari peneliti sendiri adalah terbatasnya objek yang diteliti, dimana pada penilitian ini hanya berfokus pada obat, sementara di Klinik Rawat Inap Adi Sehat
27
merupakan klinik rawat inap dan rawat jalan dimana persediaan yang ada bukan hanya obat melainkan juga ada alat medis, bahan medis habis pakai dan lain sebagainya.
Saran
Saran untuk penelitian yang akan datang diharapkan dapat menambah sumber informasi atau narasumber seperti karyawan yang melakukan kesalahan, selain itu diharapkan penelitian selanjutnya dapat memperluas atau mengambil objek yang berbeda seperti alat medis atau bahan medis habis pakai yang digunakan di Klinik Rawat Inap Adi Sehat.
Saran untuk Klinik Rawat Inap Adi Sehat, diharapkan pemilik atau manajer klinik dapat menerima rekomendasi dari peniliti dan menjadikan bahan pertimbangan selanjutnya demi keberlangsungan Klinik Rawat Inap Adi Sehat.
28 DAFTAR PUSTAKA
Achmad, N. A. (2013). Analisis Peranan Sistem Informas Akuntansi Persediaan Alat-Alat Kesehatan dalam Rangka Memenuhi Kebutuhan Pelayanan Rawat Inap (Study kasus pada Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara). Jurnal Akuntansi, 70.
Achmarul, F., Suprapto, H., & Qonita, A. M. (2017). Sistem Pengendalian Internal Terhadap
Persedian Obat untk Pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di UPT Puskesmas Kowel. Jurnal Auntansi dan Investasi Vol.02, No.02, 15.
Afrijal, I. (2016). Analisis Pengendalian Internal atas prosedur persediaan barang dagang di Gudang PT.Kridha Multi Niaga Prima Juwana. Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
Amanda, C., Sondakh, J. J., & Tangkuman, S. J. (2015). Analisis Efektivitas Distem Pengendalian Internal Atas Persediaan Barang Dagang Grand Hardware Manado. Jurnal EMBA Vol.03, 10.
Anggraini, C. (2013). Kajian Kesesuaian Penyimpanan SEdiaan Obat pada Dua Puskesmas yang Berada di Kota Palangkaraya. Jurnal ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.2, 5.
Arens, A. A., Elder, R. J., & Beasley, M. S. (2008). Audit Internal. Jakarta: Erlangga.
Arini, L., Sulindawati, N. L., & Herawati, N. T. (2015). Analisis pengendalian internal terhadap persediaan obat untuk pasien pengguna BPJS kesehatan di RSUD Kabupaten BUleleng. E-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha.
Assauri, S. (1975). Management Produksi. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Bastian, I. (2008). Akuntansi Kesehatan. Jakarta: Erlangga.
Bodnar, G. H., & Hopwood, W. S. (2003). Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta: PT.Indeks kelompok Gramedia.
Handayani, S. (2017). Analiis Sistem Pengendalian Internal Persediaan Obat di Apotek Star Seven Kragilan Boyolali. Universitas Dian Nuswantoro Semarang, 5.
Kumaat, V. G. (2011). Internal Audit. Jakarta: Erlangga.
Kusuma, A. W. (2016). Analisis Pengendalian Internal Persediaan Obat Pada Apotek Kencana Semarang. Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
Liwu, I., Kristanto, E. G., & Tambun, J. G. (2017). Analisis Distribusi Obat ada Pasien Bdan
Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) di RUP rof.Dr. R. D. Kandou Manado. Jurnal Biomedik (JBM) Vol.9, 1.
Mapandin, S. R. (2018). Analisis Pengendalian Internal Persediaan Obat-obatan Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga. Universitas Kristen Satya Wacana.
29
Menteri Kesehatan. (2014). Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Jakarta: Menteri Kesehatan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2001). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta: Menteri Kesehatan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Klinik. Jakarta: Menteri Kesehatan.
Mulyadi. (2008). Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
Pamungkas, R. T. (2016, Februari 26). Polisi Usut Dugaan Malpraktik Warga Kabupaten Semarang yang Tewas Usai Makan Mie Instan. Dipetik Februari 21, 2018, dari
http://jateng.tribunnews.com
Pemerintah Republik Indonesia. (2008). Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Powa, Y., Nangoi, G., & Walandou, S. K. (2018). Analisis Pengendalian Internal Siklus Persediaan dan Pergudangan pada Pt.Sapta Sari Tama. Jurnal Riset Akuntansi Going Concern 13.
Qiyaam, N., Furqoni, N., & Hariati. (2016). Evaluasi Manajemen Penyimpanan Obat di Gudang Obat Instalasi Farmasi RSUD dr. R.Soedjono Selong Lombok Timur. Jurnal Ilmiah Ibnu Sina.
Romney, M. B., & Steinbart, P. J. (2004). Accounting Information Systems (Sistem Informasi Akuntansi). Jakarta: Salemba Empat.
Sari, P. A. (2012). Analisis Pengendalian Internal Persediaan Obat-Obatan Untuk Pasien Umum Di Klinik Ibumas Tanjung Pinang.
Tontoli, S. A., Elim, I., & Tirayoh, V. Z. (2017). Analisis Efektivitas Pengendalian Intern Persediaan Barang Dagangan pada Pt.Kimia Farma Apotek 74 Manado. Jurnal Riset Akuntansi Going Concern Vol.12, 239.
Warman, J. (1997). Manajemen Pergudangan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.