PRINSIP DASAR, PERSYARATAN, DAN MEKANISME PELAKSANAAN KLHS
REKOMENDASI PERBAIKAN RTR No Muatan RTR yang
Akan Disempurnakan
Rekomendasi yang Dipilih atau Dirumuskan untuk Penyempurnaan RTR
Pihak yang Menindaklanjuti
1 Area pert anian I j in at as perkem bangan perkebunan dan pert anian diberikan di area- area yang m em iliki nilai keragam an hayat i yang kecil, sepert i lahan belum berkem bang
Dinas Pertanian
2 Area konservasi Hutan lindung di Konawe dan Kabupat en Konaw e Ut ara agar diberikan st at us konservasi yang lebih t inggi ke level cagar alam at au yang lebih t inggi
Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan Kabupaten
Penyediaan dan perawatan koridor sat wa liar hut an (prim er at au sekunder), yang berkaitan dengan sist em Danau Malili
3 I nfrast rukt ur Jalan Perencanaan j alan yang m enghubungan j alan yang sudah ada di sepanj ang pesisir barat Danau Mat ano agar dipindahkan dari rencana tat a ruang, dengan rut e baru yang dipilih agar lebih j auh dari area danau
Kementerian Agraria dan
Tata Ruang/ BPN,
Kementerian Pekerjaan Umum, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten
Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang
31 Secara umum tahap-tahap pelaksanaan KLHS untuk penyusunan semua jenis rencana tata ruang sama yakni persiapan, pra-pelingkupan, pelingkupan, kajian pengaruh, dan perumusan alternatif rekomendasi. Namun kedetilan informasi dasarnya dan muatan KLHS akan berbeda tergantung jenis dan skala rencana tata ruang yang akan disusun. Untuk rencana rinci, terutama RTR KSN berbasis objek dan RDTR, kedalaman informasinya akan lebih detil sehingga dalam rangka konsultasi publik sebaiknya melibatkan hingga lapisan masyarakat yang merasakan dampak pembangunan secara langsung.
Keterlibatan masyarakat melalui kegiatan konsultasi publik dalam proses KLHS juga penting dan dapat dilakukan bersamaan dengan konsultasi publik yang diselenggarakan dalam penyusunan atau revisi RTR. Forum konsultasi publik dilaksanakan paling sedikit 2 (dua) kali, yakni: (1) menampung opini dan aspirasi masyarakat terkait kebijakan dan strategi penataan ruang serta rumusan RTR (tahap perumusan konsepsi RTR) serta untuk menyepakati isu strategis lingkungan (tahap pelingkupan KLHS); (2) menyampaikan keberatan/sanggahan masyarakat terhadap konsep RTR dan draft RTR (tahap perumusan konsepsi RTR) serta seminar akhir hasil KLHS yang telah diintegrasikan ke dalam RTR. KLHS nantinya akan memberikan masukan terhadap perumusan konsepsi RTR, baik tujuan, kebijakan, strategi, rencana struktur ruang, rencana pola ruang, arahan pemanfaatan ruang wilayah, maupun pengendalian pemanfaatan ruang wilayah.
Pelaksanaan KLHS untuk rencana rinci, khususnya untuk kawasan strategis nasional berbasis objek dan RDTR, memiliki perbedaan dengan KLHS untuk rencana umum tata ruang dan rencana rinci lainnya. Namun perbedaan ini tidak terlalu mendasar secara proses maupun prosedur, hanya pada skala kedalaman informasi dasar, muatan, dan pengintegrasian rekomendasi KLHS. Khusus untuk RDTR, KLHS dibuat tidak berdasarkan isu strategis lingkungan hidup yang berkembang di lingkup perencanaan rencana detail saja, melainkan juga hasil turunan dari apa yang diamanatkan dalam RTRW Kabupaten/Kota. Dengan demikian, KLHS untuk RDTR harus dapat menjawab isu strategis lingkungan hidup yang termuat dalam RTRW Kab/Kota secara lebih detail dan memuat upaya-upaya mitigasi yang lebih konkret. Untuk lebih jelasnya dapat melihat Tabel 3.1.
Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang
32 Tabel III.9.
Proses Pelaksanaan KLHS untuk Beberapa Dokumen Perencanaan
KLHS
RENCANA UMUM TATA
RUANG RENCANA RINCI TATA RUANG
RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten/ Kota RTR Pulau, RTR KSN Berbasis Kawasan, RTR Kawasan Strategis Provinsi RTR Kawasan Strategis Kab/Kota, RTR KSN Berbasis Objek RDTR
Persiapan − Penentuan lingkup kegiatan penyusunan RTR dan pelaksanaan KLHS; − penyiapan rencana
anggaran dan biaya; − penyusunan Kerangka
Acuan Kerja; − penyiapan dokumen
rancangan rencana yang akan dikaji;
− penyusunan format data dan informasi yang akan dikumpulkan, berupa daftar informasi dasar;
− penyiapan peta dasar guna lahan dengan skala sesuai dengan RTR; dan
− penyusunan jadwal
kegiatan pengumpulan data serta penyiapan tim survey ke lapangan. sama dengan rencana umum sama dengan rencana umum − Penyiapan dokumen rancangan rencana yang akan dikaji (draft RDTR minimal sudah terbentuk dan/atau dalam bentuk Materi Teknis RDTR); − Penyusunan format
data dan informasi yang akan
dikumpulkan, berupa daftar informasi dasar (informasi dasar disesuaikan dengan kebutuhan kajian dan sesuai dengan data dasar penyusunan RDTR);
− Penyiapan peta dasar dengan skala sesuai dengan RTR (peta dasar diambil dari peta dasar dalam penyusunan RDTR); dan
− Penyusunan jadwal kegiatan
pengumpulan data serta penyiapan tim survey ke lapangan.
Pra Pelingkupan
− Pengkajian aspek
lingkungan hidup yang ada dalam RTR;
− pengumpulan data dan informasi lingkungan hidup (desk study);
− baseline, memuat informasi:
fisik dan lingkungan hidup Informasi ekologis sosial ekonomi - pemetaan kelompok informasi dasar; − pengkajian konsep pengembangan; − identifikasi awal isu
strategis lingkungan hidup. − Contoh isu strategis
lingkungan hidup: a. RTRW Nasional:
Revitalisasi RTRWN diperlukan untuk mempertegas peran dan fungsi RTRWN sebagai kebijakan spasial pembangunan kewilayahan dan sama dengan rencana umum Contoh isu strategis lingkungan hidup: a. RTR Pulau: tekanan penduduk, meluasnya jumlah lahan kritis, degradasi dan deforestasi hutan (Studi Kasus Pulau Jawa). b. RTR KSN berbasis kawasan: Konflik antara peningkatan aktivitas tambang di area penting yang mengandung keragaman hayati berupa sejumlah sama dengan rencana umum Hal-hal khusus yang perlu diperhatikan: - dalam penyusunan baseline data, dapat ditambahkan data pendukung lainnya sesuai karakteristik masing-masing wilayah; − penyiapan peta kerja menggunakan peta dasar sesuai dengan skala peta masing-masing rencana rinci. − pada tahap pengkajian konsep pengembangan, perlu mengidentifikasi
sama dengan rencana umum
Hal-hal khusus yang perlu diperhatikan:
- dalam penyusunan baseline data, dapat ditambahkan data pendukung lainnya sesuai karakteristik masing-masing wilayah;
− penyiapan peta kerja menggunakan peta dasar sesuai dengan skala peta masing-masing rencana rinci. − pada tahap pengkajian konsep pengembangan, perlu mengidentifikasi rencana pengembangan yang tertuang dalam RTR dan KLHS kabupaten/kota. - identifikasi awal isu
Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang
33
KLHS
RENCANA UMUM TATA
RUANG RENCANA RINCI TATA RUANG
RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten/ Kota RTR Pulau, RTR KSN Berbasis Kawasan, RTR Kawasan Strategis Provinsi RTR Kawasan Strategis Kab/Kota, RTR KSN Berbasis Objek RDTR
sektoral yang mengikat b. RTRW Provinsi:Alih
fungsi kawasan suaka alam menjadi kawasan budi daya, sehingga mengakibatkan menurunnya tingkat keanekaragaman hayati pada kawasan suaka alam.
c. RTRW Kabupaten: Bencana banjir dan genangan yang mengakibatkan kerusakan kawasan pertanian dan penurunan produksi pangan. d. RTRW Kota: Penurunan prosentase ruang terbuka hijau secara signifikan, sehingga penyediaan ruang terbuka hijau kota tidak memenuhi kebutuhan untuk fungsi ekologis dan sosial.
− Pra pelingkupan dapat dilakukan apabila:
deliniasi wilayah kajian sudah ditentukan;
konsep
pengembangan sudah ditentukan; dan
informasi dasar sudah tersusun. spesies endemik (Studi Kasus KSN Sorowako). − Pra pelingkupan dapat dilakukan apabila: deliniasi wilayah kajian sudah ditentukan; konsep pengemban gan sudah ditentukan; dan informasi dasar sudah tersusun. rencana pengembangan yang tertuang dalam RTR dan KLHS kabupaten/kota. − identifikasi awal isu strategis lingkungan hidup perlu melihat/mengacu materi teknis dan KLHS RTR provinsi, kabupaten, dan kota. − Contoh isu strategis lingkungan hidup: sanitasi lingkungan kurang baik, dicirikan dengan air permukaan dan air tanah tercemar limbah domestik (studi kasus: KSN Prambanan) dan potensi gangguan suara terhadap masyarakat sekitar dari alat-alat (studi kasus: KSN Teknologi Tinggi Stasiun Pengamat Dirgantara di Kotababang). − Pra pelingkupan dapat dilakukan apabila: deliniasi wilayah kajian sudah ditentukan; konsep pengemban gan sudah ditentukan; dan informasi dasar sudah tersusun. melihat/mengacu materi teknis dan KLHS RTR provinsi, kabupaten, dan kota. − Contoh isu strategis
lingkungan hidup: BWP Waibakul bertujuan untuk mewujudkan kawasan Perkotaan Waibakul sebagai kota transit yang didukung oleh perdagangan dan jasa serta berbasis agropolitan, akan memunculkan isu strategis berupa penanganan kota transit agar tidak menghilangkan fungsi yang mendukung agropolitan. − Syarat pra pelingkupan dapat dilakukan apabila: delineasi wilayah kajian sudah ditentukan; tema penataan BWP sudah ditentukan; dan informasi dasar sudah tersusun.
Pelingkupan - Penilaian daftar isu lingkungan hidup awal oleh para ahli.
- Identifikasi pemangku kepentingan.
- Penetapan dan
penyepakatan isu strategis
sama dengan rencana umum
sama dengan rencana umum Hal-hal khusus yang perlu diperhatikan: - penetapan dan
penyepakatan isu strategis
sama dengan rencana umum
Hal-hal khusus yang perlu diperhatikan:
- persiapan peta-peta overlay antara peta rencana dengan
Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang
34
KLHS
RENCANA UMUM TATA
RUANG RENCANA RINCI TATA RUANG
RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten/ Kota RTR Pulau, RTR KSN Berbasis Kawasan, RTR Kawasan Strategis Provinsi RTR Kawasan Strategis Kab/Kota, RTR KSN Berbasis Objek RDTR
lingkungan hidup melalui suatu forum konsultasi publik.
Syarat dalam tahap ini adalah: - tahap pra pelingkupan telah
selesai dilakukan;
- isu lingkungan hidup awal telah dirumuskan; dan - melibatkan pemangku
kepentingan.
Dalam penilaian dan penetapan isu strategis harus dinilai oleh para ahli dan dalam forum konsultasi publik. Penilaian dan penetapan isu strategis dilakukan dengan kriteria: - menjadi fokus perhatian
utama di wilayah
perencanaan dan memiliki relevansi tinggi terhadap kepentingan wilayah perencanaan;
- skala dampak dari RTR, yaitu dampak yang berpotensi berskala regional, nasional, atau internasional;
- interaksi antardampak, yaitu ketika terjadi konflik
antarunsur dalam RTR/RDTR;
- dampak sinergis dari beberapa proyek atau rencana, yaitu dampak yang ditimbulkan akibat
gabungan beberapa aspek dari RTR/RDTR jika tidak ditangani; dan
- berpotensi mengganggu pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.
Konsultasi publik dalam tahap ini dapat dilaksanakan dalam satu waktu atau beberapa hari secara simultan dengan mengundang stakeholder yang sedapat mungkin dikelompokkan menjadi:
- pembuat keputusan, yaitu Kementerian, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota;
- penyusun rencana tata ruang, yaitu Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah;
- instansi lain yang terkait yang membidangi lingkungan hidup yang dampaknya berskala regional atau nasional. kondisi eksisting; - pengkajian hasil prapelingkupan dan peta-peta overlay oleh tim KLHS; - persiapan material untuk sesi pelingkupan oleh kelompok keahlian (misal: matriks pelingkupan); - penetapan dan penyepakatan isu strategis lingkungan hidup yang dampaknya berskala regional atau nasional. - KLHS untuk RDTR harus dapat menghitung daya dukung dan daya tampung wilayah, dan setidaknya memuat perhitungan neraca air.
Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang
35
KLHS
RENCANA UMUM TATA
RUANG RENCANA RINCI TATA RUANG
RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten/ Kota RTR Pulau, RTR KSN Berbasis Kawasan, RTR Kawasan Strategis Provinsi RTR Kawasan Strategis Kab/Kota, RTR KSN Berbasis Objek RDTR
lingkungan hidup serta instansi sektor lain seperti kehutanan, pertanian, pertambangan, pariwisata, dan sektor lain sesuai dengan kekhususan RTR yang disusun;
- masyarakat yang memiliki informasi dan/atau keahlian: baik berasal dari perguruan tinggi, asosiasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, dan unsur pemerhati lingkungan hidup; - masyarakat yang terkena
dampak meliputi lembaga adat, organisasi
masyarakat, tokoh masyarakat, dan unsur masyarakat lainnya.
Kajian Pengaruh
- Analisis lanjutan terhadap isu strategis lingkungan hidup yang telah disepakati; - dapat menggunakan
beragam metode yang digunakan untuk analisis dan prediksi konsekuensi lingkungan;
- telaah pengaruh sudah dapat dilakukan sejak dibuat:
rancangan/konsep kebijakan (dan strategi);
rancangan/konsep rencana struktur dan pola ruang; dan/atau
rancangan/konsep indikasi program. sama dengan rencana umum sama dengan rencana umum − Analisis lanjutan terhadap isu strategis lingkungan hidup yang telah disepakati dengan metode analisis kualitatif; − telaah pengaruh sudah dapat dilakukan sejak dibuat: rancangan/konsep penataan BWP rancangan/konsep rencana pola ruang dan jaringan prasarana; dan/atau rancangan/konsep indikasi program prioritas RDTR. Perumusan alternatif/ Rekomendasi Rekomendasi KLHS dapat bersifat spasial dan non spasial. Namun, yang diintegrasikan dalam RTR adalah rekomendasi yang bersifat spasial, dapat berupa:
− perbaikan pada tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang; − alternatif skenario
perencanaan guna lahan dan infrastruktur; atau − mitigasi terhadap dampak
lingkungan yang potensial ditimbulkan dari suatu rencana yang ditetapkan. Rekomendasi yang bersifat non spasial diakomodir dalam dokumen sebagai catatan untuk
Rekomendasi KLHS yang diintegrasikan dalam RTR bersifat spasial, dapat berupa: − alternatif skenario perencanaan guna lahan dan infrastruktur; atau − mitigasi terhadap dampak lingkungan yang potensial ditimbulkan dari suatu rencana yang Rekomendasi KLHS yang diintegrasikan dalam RTR bersifat spasial, dapat berupa: − alternatif skenario
perencanaan zona, jaringan, serta sarana dan prasarana; atau − alternatif tema penanganan (program utama) kawasan/objek yang diprioritaskan. Rekomendasi KLHS yang diintegrasikan dalam RTR bersifat spasial, dapat berupa: - sub BWP yang diprioritaskan; - masukan bagi peraturan zonasi; atau - mitigasi terhadap dampak lingkungan yang potensial ditimbulkan dari suatu rencana yang ditetapkan.
- penentuan tingkat kepadatan ruang;
- ketentuan-ketentuan yang akan ditetapkan dalam PZ, seperti
Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang
36
KLHS
RENCANA UMUM TATA
RUANG RENCANA RINCI TATA RUANG
RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten/ Kota RTR Pulau, RTR KSN Berbasis Kawasan, RTR Kawasan Strategis Provinsi RTR Kawasan Strategis Kab/Kota, RTR KSN Berbasis Objek RDTR
dapat ditindaklanjuti oleh pihak lain.
Dalam tahap ini dilaksanakan kembali konsultasi publik berupa seminar akhir dengan pemangku kepentingan yang diundang minimal sama dengan konsultasi publik pertama (yang dipaparkan adalah hasil analisis terhadap isu strategis yang telah disepakati dan rekomendasi KLHS sudah diakomodir dalam dokumen RTR).
ditetapkan. KDB, KLB, KDH, sempadan, dan lainnya; dan
- besaran kegiatan pada tiap fungsi kawasan. Meskipun KLHS menghasilkan rekomendasi berupa mitigasi-mitigsi dampak lingkungan, namun dalam lingkup RDTR tetap diperlukan AMDAL sebagai dokumen kelayakan pembangunan.
Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang
37