• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Rekreasi dan Wisata

2.2.1. Pengertian Rekreasi dan Wisata

Rekreasi adalah apa yang terjadi dalam hubungan dengan kepuasan diri yang diperoleh dari pengalaman (Gold, 1980). Rekreasi juga dapat dikatakan sebagai kegiatan yang menggunakan waktu luang yang menyenangkan dan konstruktif, yang memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman mental maupun fisik dari alam (Douglas, 1992). Soemarwoto (1991) menyatakan bahwa rekreasi bukan hanya berarti bersenang-senang, melainkan harus diartikan sebagai

re-kreasi, yaitu secara harfiah berarti diciptakan kembali dan memulihkan kekuatan dirinya baik fisik maupun spiritual. Menurut Nurisjah dan Pramukanto ( 1 9 9 6 ) rekreasi merupakan aktivitas penggu naan waktu luang yang menyenangkan, yang dapat dilakukan di dalam atau di luar ruangan. Rekreasi direncanakan tidak hanya suatu bentuk aktivitas yang menyenangkan tetapi juga untuk memperkaya, memperluas dan mengembangkan kemampuan seseorang serta memuaskan hasrat alami manusia untuk sesuatu yang baru dengan gaya hidup yang memuaskan.

Rekreasi menuntut pemilihan berbagai pemilihan aktivitas oleh individu atau kelompok, baik yang aktif maupun pasif (Gold, 1980). Aktivitas rekreasi terjadi pada berbagai tingkatan umur manusia, ditentukan elemen waktu, kondisi dan sikap manusia serta situasi lingkungan. Ungkapan yang senada olehClawson dan Knetsch (1966), kegiatan rekreasi dibedakan menjadi kegiatan yang bersifat aktif dan pasif. Rekreasi aktif lebih berorientasi pada manfaat fisik dan pelakunya aktif secara fisik. Rekreasi pasif lebih berorientasi mental daripada fisik. Pada prakteknya kegiatan rekreasi dapat berupa aktivitas berenang, memancing, berperahu, berpiknik, sightseeing, jogging, berkemah, mendaki gunung, dan sebagainya.

Wisata merupakan pergerakan orang sementara menuju tempat tujuan yang berada di luar tempat biasa mereka bekerja dan tinggal, aktivitas yang dilakukan selama mereka tinggal ditempat tujuan dan fasilitas yang diciptakan untuk melayani kebutuhan mereka (Gunn, 1994). Holden (2000) menambahkan bahwa pembangunan wisata ditempat tujuan meliputi penggunaan sumberdaya fisik dan alam yang kemudian akan berdampak terhadap ekonomi, budaya dan ekologi di tempat tujuan wisata yang sedang berkembang. Wisata adalah sebuah sistem, tidak hanya bertemunya bisnis pengunjung, tetapi juga masyarakat dan lingkungan.

Pariwisata adalah industri yang berkaitan dengan perjalanan untuk mendapatkan rekreasi. Daya tarik pariwisata atau rekreasi terletak pada keindahan yang dapat dinikmati wisatawan dan tersedianya sesuatu yang spesifik di daerah tujuan wisata. Spillane (1994) mengungkapkan bahwa pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain bersifat sementara, dilakukan

perorangan atau kelompok sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dalam kebahagiaan dengan lingkungan hidup, dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu pengetahuan. Kelly (1998) menyatakan secara kuantitatif, turis dan kepariwisataan biasanya digambarkan sebagai orang yang melakukan perjalanan di luar kepentingan bisnis, dengan jarak lebih dari 50 mil dari dan lebih dari semalam meninggalkan dan jauh dari tempat tinggalnya. Kebanyakan perjalanan dengan keberangkatan yang terjadwal, dan dengan anggaran yang tersusun dan terhitung rapi. Dari sekian banyaknya definisi tentang kepariwisataan, ada dua paradigma penting terkait dengan apakah kepariwisataan itu memiliki jaringan sehingga berhasil pada proses perencanaannya. Pertama, pardigma bahwa kepariwisataan adalah suatu pengalaman perorangan yang menurut beberapa teori antropologi adalah sebuah pengalaman ritual budaya pada manusia. Kedua, paradigma yang melihat kepariwisataan sebagai kegiatan ekspor

2.2.2. Sumberdaya Wisata

Sumberdaya untuk kegiatan wisata menurut Gold (1980) adalah tempat tujuan bagi orang yang melakukan wisata yang merupakan suatu kesatuan ruang tertentu dan dapat menarik keinginan untuk berwisata. Ketersediaan sumberdaya untuk berwisata dapat dilihat dari jumlah dan kualitas dari sumberdaya yang tersedia serta dapat digunakan pada waktu tertentu. Untuk mengetahui sumberdaya yang tersedia dapat dilakukan identifikasi dan inventarisasi kemudian dianalisis potensi dan kendalanya.

Sumberdaya wisata adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik bagi pengunjung, diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Benda-benda yang tersedia dan terdapat di alam semesta yang dalam istilah wisata disebut dengan natural amenities seperti iklim, bentuk tanah dan pemandangan, hutan, flora dan fauna serta pusat-pusat kesehatan yang termasuk dalam kelompok ini; (2) Hasil ciptaan manusia antara lain benda-benda yang memiliki nilai sejarah, keagaman dan kebudayaan; (3) Tata cara hidup masyarakat setempat. Merencanakan suatu kawasan wisata merupakan upaya untuk menata dan memanfaatkan sumberdaya wisata untuk mendukung kegiatan wisata yang akan dikembangkan dan meminimalkan kerusakannya.

2.2.3. Objek dan Atraksi Wisata

Objek wisata merupakan andalan utama bagi pengembangan kawasan wisata, dan didefinisikan sebagai suatu keadan alam dan perwujudan ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah dan tempat yang memiliki daya tarik untuk dikunjungi wisatawan (Nurisjah (2004). Sedangkan atraksi wisata diartikan sebagai segala perwujudan dan sajian alam serta kebudayaan, yang secara nyata dapat dikunjungi, disaksikan serta dinikmati wisatawan di suatu kawasan wisata. Daya tarik wisata atau objek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu darah tujuan wisata (Suwantoro 1997). Umumnya daya tarik suatu objek wisata berdasar pada adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah, nyaman dan bersih, adanya aksesibilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya, adanya ciri khusus atau spesifikasi yang bersifat langka, sarana dan prasarana penunjang untuk melayani para wisatawan yang hadir, serta memiliki daya tarik yang tinggi terhadap keindahan alamnya ataupun nilai khusus suatu objek buah karya manusia pada masa lampau.

Berdasarkan Yoeti (1997), atraksi wisata merupakan sesuatu yang dapat dilihat atau disaksikan melalui suatu pertunjukkan (shows) yang khusus diselenggarakan untuk para wisatawan. Sedangkan objek wisata dapat dilihat atau disaksikan tanpa membayar. Dalam atraksi wisata untuk menyaksikannya harus dipersiapkan terlebih dahulu, sedangkan objek wisata dapat dilihat tanpa dipersiapkan terlebih dahulu. Objek dan segala atraksi wisata yang diperlihatkan merupakan daya tarik utama, mengapa seseorang datang berkunjung ke suatu tempat dan keasliannya harus dipertahankan, sehingga wisatawan hanya dapat melihat dan menyaksikan objek serta atraksi wisata hanya di tempat tersebut. Objek wisata khususnya agrowisata tidak hanya terbatas kepada objek dengan skala hamparan yang luas seperti areal perkebunan, namun juga skala kecil yang karena keunikannya dapat menjadi objek wisata yang menarik.

2.2.4. Pelayanan Wisata

Objek wisata selayaknya memberikan kemudahan bagi wisatawan dengan cara melengkapi kebutuhan prasarana dan sarananya (Tirtawinata dan Fachruddin

1996). Fasilitas pelayaan didirikan di lokasi yang tepat dan strategis sehingga dapat berfungsi sacara maksimal. Kehadiran wisatawan ditentukan oleh kemudahan yang diciptakan termasuk ketersediaan fasilitas pelayanan wisata (Deptan, 2003). Fasilitas dan pelayanan wisata merupakan semua fasilitas yang fungsinya memenuhi kebutuhan wisatawan yang tinggal untuk sementara waktu di daerah tujuan wisata yang dikunjunginya, dimana mereka dapat santai menikmati dan berpartisipasi dalam kegiatan yang tersedia di daerah tujuan wisata tersebut (Yoeti 2003).

2.2.5. Produk Wisata

Produk pariwisata atau wisata merupakan susunan produk yang terdiri dari campuran atraksi wisata, transportasi, akomodasi dan hiburan. Produk ini merupakan bahan baku bagi perencana dan penyelenggara perjalanan wisata untuk menyusun paket wisata yang selanjutnya ditawarkan atau dipasarkan kepada calon wisatawan. Produk wisata adalah satu paket atau kemasan yang terdiri dari komponen barang-barang berwujud dan tidak berwujud yang dapat digunakan untuk beraktivitas di daerah tujuan wisata dan paket ini akan dilihat atau disaksikan oleh wisatawan sebagai suatu pengalaman yang dapat dibeli dengan harga tertentu (Yoeti 2003). Menurut pengertian tersebut terdapat lima komponen utama dalam total produk wisata yaitu daya tarik daerah tujuan wisata, fasilitas dan pelayanan, aksesibilitas, image dan persepsi daerah tujuan wisata serta harga atau biaya untuk perjalanan wisata.

2.2.6. Perencanaan Kawasan Rekreasi

Gold (1980) mengungkapkan perencanaan kawasan rekreasi adalah suatu proses yang menghubu ngkan manu sia dengan waktu luang dan ruang. Penggunaan informasi untuk mengalokasikan sumberdaya dalam rangka mengakomodasikan waktu luang pada saat ini dan di masa yang akan datang, yang dibutuhkan oleh suatu populasi dan areal perencanaan (Gold, 1980).

Menurut Gold (1980) terdapat beberapa prinsip umum dalam perencanaan kawasan rekreasi, yaitu: ( 1 ) Semua orang harus dapat melakukan aktivitas dan memakai fasilitas rekreasi; (2) Rekreasi harus dikoordinasikan dengan

kemungkinan-kemungkinan rekreasi lain yang sama untuk menghindari duplikasi; (3) Rekreasi harus berintegrasi dengan pelayanan umum lain seperti kesehatan, pendidikan, dan transportasi; (4) Fasilitas-fasilitas harus dapat beradaptasi dengan permintaan di masa yang akan datang; ( 5 ) Fasilitas dan programnya secara finansial harus dapat dikerjakan; (6) Penduduk di sekitarnya harus dilibatkan dalam perencanaan; (7) Perencanaan lokal dan regional harus berintegrasi; (8) Perencanaan harus merupakan proses yang berkelanjutan dan membutuhkan evaluasi; (9) Fasilitas-fasilitasnya harus membuat lahan menjadi seefektif mungkin untuk menyediakan waktu yang sebaik-baiknya demi kesehatan, keamanan, dan kebahagiaan penggunanya; merupakan contoh desain yang positif serta suatu bentuk kepedulian terhadap manusia.

Perencanaan kawasan rekreasi dilakukan melalui empat tipe pendekatan (Gold. 1980), yaitu:

1. Pendekatan sumberdaya, yaitu dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi sumberdaya untuk menentukan bentuk serta kemungkinan rekreasi dan atraksi wisata.

2. Pendekatan aktivitas, yaitu dengan menyeleksi aktivitas pada masa lalu untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan apa yang dapat disediakan pada masa yang akan datang.

3. Pendekatan ekonomi, yaitu dengan mempertimbangkan dasar ekonomi atau sumber fiskal dari masyarakat digunakan untuk menentukan jumlah, tipe, dan kemungkinan-kemungkinan rekreasi.

4. Pendekatan perilaku, dengan mempertimbangkan perilaku manusia dan kejadian-kejadian pada waktu luang yang mempengaruhi pemilihan tentang bagaimana, di mana dan kapan orang-orang menggunakan waktu luangnya

2.2.7. Daya Dukung Rekreasi

Daya dukung adalah konsep dasar yang dikembangkan untuk kegiatan pengelolaan suatu sumberdaya alam dan lingkungan yang lestari, melalui ukuran kemampuannya. Konsep ini dikembangkan, terutama untuk mencegah kerusakan atau degradasi dari suatu sumberdaya alam dan lingkungan. Sehingga keberadaan, kelestarian dan fungsinya dapat terwujud dan pada saat dan ruang yang sama juga

pengguna atau masyarakat pemakai sumberdaya tersebut tetap berada dalam kondisi sejahtera dan/atau tidak dirugikan (Bahar, 2004).

Gold (1980) mendefinisikan daya dukung rekreasi sebagai kemampuan suatu area rekreasi secara alami, segi fisik, dan sosial untuk dapat mendukung atau menampung penggunaan aktivitas rekreasi dan memberikan suatu kualitas pengalaman rekreasi yang diinginkan; atau jumlah penggunaan aktivitas yang dapat diberikan suatu sumberdaya yang paling sesuai terhadap perlindungan rekreasi tersebut dan kepuasaan yang didapat oleh pengguna.

Sementara itu Douglass (1992) mendefinisikan daya dukung rekreasi sebagai suatu istilah yang digunakan untuk menghitung hubungan antara suatu kausalitas atraksi tersebut. Daya dukung optimal aktivitas rekreasi merupakan banyaknya aktivitas yang dapat ditampung oleh suatu area tertentu selama jangka waktu tertentu dan memberikan perlindungan yang semestinya kepada sumberdaya area tersebut dan memberikan kepuasan kepada pengguna. Daya dukung ini terbagi dua :

1. Daya dukung fisik, yaitu jumlah pengguna yang dapat ditampung pada suatu area tanpa adanya perubahan pada kualitas rekreasi pada tapak tersebut. 2. Daya dukung sosial, yaitu tingkatan aktivitas rekreasi yang sangat disukai

dan diterima oleh penggunanya.

Dokumen terkait