C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
3. Reksa Dana
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui kinerja reksa dana saham berdasarkan metode Sharpe, Treynor, dan Jensen, periode 2013–2015.
b. Mengetahui kinerja reksa dana saham yang memiliki kinerja lebih baik dari pada kinerja pasarnya (benchmark) sebagai pembanding pada periode 2013-2015.
c. Mengetahui reksa dana yang memiliki kinerja outperform dan underperform terhadap IHSG (benchmark) pada periode 2013-2015
2. ManfaatPenelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam bidang manajemen tentang analisis pengukuran kinerja reksa dana saham dengan metode Sharpe, metode Treynor, dan metode Jensen.
b. Praktis
1) Bagi penulis
Penelitian ini berguna bagi penulis untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta dapat mengimplementasikan ilmu yang telah didapat selama diperkuliahan.
a. Bagi masyarakat
Penelitian ini berguna untuk memberikan gambaran yang obyektif tentang kinerja reksa dana saham di Indonesia yang dapat dijadikan acuan bagi masyarakat dalam menginvestasikan dananya di reksa dana yang dapat memaksimumkan tingkat pendapatan dari dana yang diinvestasikan serta mampu memilih manajer investasi yang mampu mengelola dananya dengan baik. Dengan adanya informasi tentang kinerja reksa dana saham diharapkan dapat mendukung upaya menambah pengetahuan publik dan keterbukaan informasi pada masyarakat luas mengenai kinerja, resiko dan return reksa dana saham.
b. Bagi Manajer Investasi
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran mengenai kinerja yang mereka lakukan dalam mengelola reksa dana saham selama ini. Penelitian ini juga memberikan informasi kepada Manajer Investasi bagaimana pengaruh variabel-variabel dalam penelitian ini terhadap kinerja reksa dana saham yang mereka kelola sehingga Manajer Investasi dapat mengetahui langkah selanjutnya untuk meningkatkan kinerja reksa dana saham dengan meningkatkan return dan memperkecil resiko.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Sistem Finansial
System financial merupakan salah satu mekanisme penting dalam perekonomian Negara, mengingat memiliki tugas utama untuk menggerakkan dana dari penabung (unit masyarakat yang surplus) ke pihak yang memerlukan dana (unit yang defisit) untuk keperluan konsumsi dan investasi di bidang yang produktif (Herman darmawi, 2006). Dengan investasi, dapat menyebabkan perekonomian tumbuh yang pada gilirannya akan meningkatkan standar hidup (kemakmuran) penduduk.
Sebagai suatu sistem, sistem finansial merupakan proses yng memepertemukan demand dan supply. Dalam system financial terjadi interaksi antara unsure-unsur system, baik berupa lembaga dan individu, pasar, hokum, peraturan, teknik, maupun instrument finansial. Melalui system financial inilah akan terjadi.
a. perdagangan surat berharga berupa ekuitas (saham), surat hutang (obligasi) dan bentuk sekurita lainnya
b. pemberlakuan keuntungan lewat penetapan tingkat bunga
c. instrument sekuritas tersebut diproduksi dan dijual-belikan jasa financial
Dalam tata perekonomian nasional, pasar keuangan yang berlaku di Indonesia mengandung tiga unsur besar, antara lain:
a. lembaga-lembaga finansial
b. pasar finansial beserta pelaku pasar c. instrument financial
2. Pasar Modal
Sebagai bentuk pasar, pasar modal merupakan sarana atau wadah untuk mempertemukan antara penjual dan pembeli. Namun, analogi penjual dan pembeli disini sudah barang pasti akan berbeda dengan pasar komuditas di pasar tradisional. Penjual dan pembeli disini adalah penjualan dan pembeli instrument keuangan dalam kerangka investasi.
Di Indonesia, Pasar Modal telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal itu, ditunjukan dengan semakin banyak jumlah sekuritas yang diperdagangkan dengan kapitalisasi pasar cukup besar, peran pasar modal dalam perkembangan industry-indutri di berbagai sector. Hal yang sama juga terjadi dalam pengkajian ilmu dibidang keungan dan Pasar modal, bahwa disiplin dibidang ini telah menjadi bagian yang dikembangkan dalam perkuliahan serta dalam penelitian mahasiswa. Fakta seperti itu, menunjukan bahwa semakin meningkat animo masyarakat terhadap keberadaan dan peran Pasar Modal ditengah kehidupan ekonomi bangsa.
Pada aspek lain, Pasar Modal juga merupakan indikator kemajuan perekonomian suatu Negara (Tandelilin, Eduardus, 2001). Pasar Modal memberikan fasilitas untuk mempertemukan antara pihak-pihak surplus dana (surplus fund) dengan pihak yang membutuhkan dana dalam kerangka investasi (Robert Ang, 1995). Disitu, memiliki peran penting, mengingat pertumbuhan invetasi berarti terjadi pergerakan ekonomi secara sircle, mulai dari sektor keuangan sampai pada sektor riil. Itu semua merupakan satu putaran ekonomi Negara (Herman Darmawi, 2006).
Dalam perputaran roda perekonomian, sumber-sumber pembiayaan merupakan tulang punggung pengembangan usaha (bisnis). Untuk itu, dibutuhkan solusi sumber dana yang memiliki risiko rendah serta tawaran pilihan-pilihan instrument yangbmemiliki jangka waktu panjang. Pasar modal muncul sebagai suatu alternatif solusi pembiayaan jangka panjang, sehingga oleh perusahaan pengguna dana dapat leluasa memanfaatkan dana tersebut dalam raangka kepentingan investasi.
3. Reksa Dana
Perkembangan pasar modal nasional menawarkan perkembangan instrument keuangan, sehingga memberikan ruang diversifikasi dalam investasi. Satu diantara sekian banyak instrumen alternatif investasi adalah reksa dana. Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi disamping deposito, obligasi atau saham.
Kata “reksa dana” (Mutual Fund) memiliki makna “saling menguntungkan”, reksa dana juga sering disebut dengan istilah
“Danareksa”. Danareksa adalah suatu perusahaan investasi dengan nama “PT. Danareksa” yang merupakan BUMN dibawah Departemen keuangan.
PT. Danareksa banyak menertibkan instrument investasi yang salah satu instrumennya adalah reksa dana. Sedangkan reksa dana adalah satu jenis instrument investasi, secara abstrak kita dapat membayangkan reksa dana sebagai suatu instrumen investasiseperti sertifikat deposito.
Reksa dana di Indonesia mulai muncul sekitar tahun 1970-an, yaitu sejak PT. Danareksa didirikan pada tahun 1977 bersamaan dibuka kembali dibidang instrument Bursa Efek Jakarta. Tujuan didirikan PT. Danareksa adalah untuk meramaikan dan mengembangkan bidang instrument pasar modal serta memacu perkembangan reksa dana di Indonesia. Saat itu,
produk/instrumen investasi yang terbitkan adalah “Sertifikat Danareksa”
yang merupakan instrumen sama dengan Mutual Fund (reksa dana), dimana sebagian besar portofolionya ditanamkan pada instrumen surat hutang (obligasi) dan pasar uang.
Beberapa kali pemerintah berusaha memperkokoh eksistensi reksa dana dengan penerbitan landasan hokum, yaitu diterbitkannya UUPM No. 8/1995 1 Januari 1996. Saat itu, sertifikat danareksa harus menyesuaikan diri dengan undang-undang tersebut. Sebagai respon dari Undang-undang
diantisipasi untuk menggantikan sertifikat Danareksa. Dasar hukum mulai kokoh lagi dengan diundangkannya UUPM No. 8/1995 yang mulai berlaku sejak 1 Januari 1996, yang tercantum pada Bab IV tentang Reksadana dari pasal 18 sampai pasal 29.
Reksa dana (Mutual Fund) adalah suatu institusi jasa keuangan yang menerima uang dari para pemodal yang kemudian menginvestasikan dana tersebut dalam portofolio yang terdiversifikasi pada efek/sekuritas.
Jadi, reksadana merupakan wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen- instrumen investasi yang tersedia di pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksa dana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuritas lainnya.
Manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan
menerima deviden atau bunga yang dibukukannya ke dalam “Nilai Aktiva Bersih” (NAB) reksa dana tersebut. Kekayaan reksadana yang dikelola
oleh Manajer Investasi tersebut wajib untuk disimpan pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan Manajer Investasi, dimana bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administrator.
Diatas telah dinyatakan bahwa reksa dana adalah wadah Manajer Investasi untuk melakukan portofolio investasi atas dana dari nasabah yang diserahkan atau dipercayakan kepadanya. Sebagai pihak yang mengelola dana nasabah (investor) dalam bentuk portofolio, maka Manajer Investasi (MI) memiliki kewajiban, antara lain (Tjipto darmaji dan Hendy Fakhruddin, 2001):
a. Mencatat dan menyimpan segala bentuk pertimbangan pengambilan keputusan dalam investasi portofolio reksadana
b. Memperhatikan dan mematuhi pedoman pengelolaan reksa dana (peraturan nomor IV.A.3 dan nomor IV.B.1)
c. Menyampaikan informasi tentang reksa dana kepada masyrakat tentang kinerja dan informasi Reksadana yang dikelolanya
d. Meghitung Nilai Pasar Wajar dari efek dalam portofolio reksadana dan menyampaikan kepada Bank Kustodian sesuai dengan Peraturan Nomor IV.C
e. Mematuhi ketentuan kepemilikan unit penyertaan untuk setiap pemegang unit penyertaan setinggi-tingginya 1% dari jumlah unit penyertaan yang ditetapkan dalam kontrak.
f. Memisahkan harta kekayaan reksadana dari harta kekayaan Manajer Investasi
g. Meningkatkan pengawasan intern dengan mengevaluasi sistem prosedur kegiatan
h. Mengutamakan dan mendahulukan kepentingan para pemegang unit penyertaan sehubungan pengelolaan reksadana
Disamping Manajer Investasi memiliki kewajiban sebagaimana tersebut diatas, juga terdapat larangan yang tidak boleh dilanggar sebagaimana diatur dalam peraturan Bapepam-LK, antara lain:
a. Memiliki saham/unit penyertaan untuk kepentingan dan atas nama pihak lain
b. Memungut komisi atau biaya dari reksa dana yang lebih tinggi dari komisi atau biaya yang dipungut oleh Perantara Perdagangan Efek yang tidak terafiliasi.
c. Menerima imbalan dalam bentuk apapun baik langsung maupun tidak langsung
d. Membeli efek yang tidak melalui penawaran umum (IPO), kecuali untuk Efek Pasar Uang
e. Membeli efek yang sedang ditawarkan dalam penawaran umum dimana manajer investasi bertindak sebagai penjamin emisinya
Dalam kontek reksadana, disamping besar keterlibatan Manajer Investasi (MI) mengingat sebagai pihak yang akan melakukan portofolio investasi atas dana yang dipercayakan nasabah (investor) kepadanya, juga membutuhkan peran bank kustodian. Bank kustodian disini memiliki kewajiban, antara lain:
a. Melakukan pembukuan sesuai dengan Pedoman Akuntansi Reksa Dana (peraturan Bapepam-LK nomor VIII.G.8)
b. Mengasuransikan seluruh portofolio reksa dana dengan biaya sendiri c. Menhitung Nilai Aset Bersih (NAB) unit penyertaan setiap hari bursa
berdasarkan Nilai Pasar Wajar dari efek yang termasuk dalam portofolio reksa dana dan mengumumkannya.
d. Menyampaikan laporan kepada Bapepam-LK dan Manajer Investasi sesuai dengan tata cara pelaporan
e. Memisahkan harta kekayaan reksa dana dari kekayaan Bank Kustodian f. Mengutamakan dan mendahulukan kepentingan para pemegang unit
penyertaan sehubungan dengan pengelolaan kekayaan reksadana. g. Menjaga kerahasian pemegang unit penyertaan
h. Meningkatakan pengawasan dengan mengevaluasi sistem prosedur kegiatan.