ﹶﻥﻭ$ﺮﹸﻜ(ﻤ*ﻳ (ﻢ$ﻫ*ﻭ “Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan
RELEVANSI TENTANG IFK
C. Relasi Ḥadīṡ Ifk dan Hoax
Term Ifk dan term Hoax pada dasarnya memiliki relasi dan kesamaan. Sebelum hoax muncul di era modern seperti kejadian-kejadian sekarang ini, pada zaman dahulu sudah ada permasalahan mengenai berita bohong, hanya saja kata tersebut masih berupa pemberitaan dengan mengambil kata al-Ifk. Karena asal mula penisbatan akan ḥadiṡ al-ifk muncul ketika istri Nabi Muhammad Saw. yaitu ‘Āisyah r.a yang pada saat itu ikut berperang bersama Nabi pada saat perang mealawan Bani Muṣṭaliq.
Sebagaimana yang telah dijelaskan di bab sebelumnya mengenai asbabun nuzul surah al-Nūr ayat 11-22 mengenai peristiwa yang melatarbelakangi adanya ḥadiṡ al-ifk. Peristiwa ini berawal dari ‘Āisyah sendiri yang saat itu ikut menemani Nabi berperang bersama kaum mukmin dan saat itu dalam perjalanan pulang. Dalam perjalanan menuju Madinah rombongan berhenti sejenak untuk istirahat, lalu ‘Āisyah keluar dari tandunya ingin menunaikan hajat, setelah kembali ke tandunya ‘Āisyah menyadari bahwa kalungnya terlepas dari lehernya sehingga ia keluar lagi dari tandunya dan mencari kalungnya dalam beberapa waktu. Sekembalinya ‘Āisyah ke tandunya ternyata rombongan tersebut telah melanjutkan perjalanan pulang tanpa memeriksa tandunya terlebih dahulu dan mereka
baru menyadari setibanya di Madinah bahwa ‘Āisyah tidak ada di dalam tandu, dan Rasullah sendiri panik ketika tidak mendapati ‘Āisyah di tengah rombongan. Di tengah kegelisahan ‘Āisyah karena tertinggal rombongan, Ṣafwan Ibn Muaqal sedang menunggangi seekor unta dan juga tertinggal oleh romobongan. Lalu ia menghampiri ‘Āisyah dan berseru Innalillahi Wa inna
Ilaihi Raji’un sambil menutup mukanya tanpa berkata sepatah kata pun, lalu
Shafwan mempersilahkan ‘Āisyah menaiki untanya dan kembali ke Madinah. Lalu saat itu kaum munafik yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul melihat kejadian tersebut dan menyebarkan berita bohong dengan tanpa menanyakan kebenaran peristiwa yang terjadi antara ‘Āisyah dan Ṣafwan.17
Mengenai berita bohong terdapat pula di dalam Qs. al-Ḥujarāt ayat 6 yang berkisah tentang Walid yang diutus oleh Nabi Muhammad Saw ke Bani Musṭaliq, namun Walid bersilat lidah karena khawatir akan terbunuh oleh Bani Musṭaliq.
Dari cerita Walid dengan Bani Musṭaliq ditemukan relevansinya pada hari ini dalam artikel yang berjudul “Firehose of Falsehood” propaganda Russia demi mempengaruhi satu objek tertentu. Di sisi lain berita bohong sering digunakan sebagai propaganda yang dapat melemahkan persepsi tentang Realitas kebenaran.18
1. Orang adalah penilai yang buruk tentang informasi benar dan yang salah —mereka tidak selalu ingat informasi tertentu berisi kesalahan. 2. Kelebihan informasi membuat orang mengambil jalan pintas dalam
menentukan kepercayaan pesan.
3. Tema atau pesan yang sudah dikenal atau diketahui bisa jadi menarik bahkan jika itu salah.
17 Muhammad Chirzin, Mengerti Asbabun Nuzul, (Jakarta: Zaman, 2015), 266.
18 Christopher Paul dan Miriam Matthews, The Russian “Firehose of Falsehood”
Propoganda Model Why it Might Work and Options to Counter It (Rand Corporation: 2016),
4. Pernyataan lebih bisa jadi diterima jika didukung dengan bukti, bahkan jika bukti itu salah.
5. Isyarat tidak penting— seperti penampilan objektivitas — dapat meningkatkan kredibilitas propaganda.
Dalam sejarah modern apa yang dibayangkan Aldous Huxley dalam novel distopia Brave New World menjadi kenyataan. Reproduksi informasi berbanding lurus dengan perkembangan teknologi yang dialami manusia. Keberadaan internet, sepaket dengan kebudayaan yang terbangun di dalam ruang publik baru membuat masyarakat sulit sekali membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan bagi dirinya, yang kemudian menjadi kronis adalah publik cenderung tidak bisa membedakan mana informasi yang faktual dan hoax. Hoax muncul bertubi-tubi dalam berbagai konteks persebaran informasi, dari politik hingga kesehatan, dari urusan publik hingga privat seseorang. Tidak salah bila RedState di dalam tulisannya
menyebut bahwa hari ini, adalah era Brave New World of Fake News.19
Seperti yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya istilah hoax muncul pada abad ke-20 bahkan ada yang menyebutkan sudah ada pada abad ke-18. Akan tetapi banyak para ilmuwan yang berpendapat munculnya hoax baru digunakan pada abad ke-19 sekitar tahun 1808. Istilah kata hoax berkembang dari kata “hocus” dalam mantra kuno “hocus pocus”. Yaitu frasa yang sering digunakan oleh pesulap ratusan tahun yang lalu. Lalu frasa ini serupa dengan istilah “sim salabim”.20 Sebenarnya secara historis dan etimologi kita dapat menelusuri bahwa hoax adalah term yang memiliki relasi langsung dengan
Hocus yang memiliki arti “menipu”, “memaksa pada” atau merujuk pada
Merriam-Webster. Lalu term hoax sendiri biasa digunakan untuk menunjuk
19 AdipraSwtio, Justito, Gumilar, Gumgum, Hartoyo dan Nunik Maharani, “Hoax, Reproduksi dan Persebaran: Suatu Penelururan Literatur”, Vol. 1, No. 4. (Pengabdian Kepada Masyarakat, 2017), 271.
20 https://www.indozone.id/fakta-dan-mitos/ByspxNr/sejarah-munculnya-istilah-hoax-dari-ratusan-tahun-lalu/read-all, diakses pada tanggal 21 Desember 2020.
narasi yang berkait dnegan legenda urban dan rumor/gossip yang hadir bersamaan dengan bersemainya bedaya oral manusi. Di mana pertukaran dan landasan utama tranmisi informasi berasal dari percakapan mulut kemulut.21
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan sebuah pesan. Persepsi pada umumnya terjadi karena dua faktor , faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri individualisme seperti sikap, kebiasan dan kemauan. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu sendiri, baik sosial maupun fisik. Faktor-faktor seperti sikap, motif, kepentingan, situasi, dapat membuat suatu persepsi individu positif ataupun negatif.22
Para pembuat hoax biasanya dilatar belakangi dengan motif, misalnya kepentingan politik, bahkan kepentingan diri sendiri. Meski begitu masih banyak yang melatarbelakangi pembuatan hoax akan tetapi kedua motif tersebut yang sering terjadi untuk hal tersebut. Hoax dianggap mempunyai potensi memecah belah bangsa karena suatu peristiwa yang telah di manipulasi dengan sedemikian rupa sehingga bisa memunculkan suatu perbedaan pendapat dan pandangan seseorang yang biasanya untuk menebar kebencian. karena itulah salah satu keinginan dari pembuat berita hoax tersebut.23