• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relasi: Expertise– Social Responsibility – Corporateness

Temuan  IV:   Di balik fenomen­fenomen yang dapat diungkap dari ruang kesadaran elit TNI AD, secara refleksif­spekulatif dapat 

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN 

B.  Implikasi Penelitian

2.   Relasi: Expertise– Social Responsibility – Corporateness

Skema  Expertise­social  responsibility­corporateness  sebagaimana  yang  dirumuskan Huntington 135 mengenai profesionalisme militer bagaimanapun harus 

diakui  dapat  menjelaskan  sebagian  besar  masalah  berkaitan  dengan  profesionalisme  militer,  dalam  hal  ini  TNI.  Sekalipun  teori  ini  banyak  memperoleh kritik tetapi justru kritik­kritik yang ada membuat konsep­konsepnya  menjadi memiliki bobot klasik yang secara prinsipial tidak terbantahkan. Hampir  dipastikan,  tidak  ada  studi  militer  yang  tidak  menjadikan  teori­teori  yang  dikembangkan Huntington sebagai rujukan utamanya. 

135 Samuel  P.  Huntington,  The  Soldier  and  The  State:  The  Theory  and  Politics  Civil­Military 

Perdebatan  teoritis  atas  konseptualisasi  Huntington  mengenai  profesionalisme militer ini pada tingkat puncaknya adalah melahirkan dua faham  utama  antara  mereka  yang  mendukung  pandangan  Huntington  (Huntingtonian)  dan  yang  menentangnya.  Akhirnya  teori  yang  dikembangkan  dengan  dasar  pandangan  Huntington  dikatagorikan  sebagai  pandangan  profesionalisme  lama  (the old professionalism), sedang  yang mengembangkan teori  yang berpijak atas  ketidak  setujuannya  terhadap  pandangan  Huntington  disebut  sebagai  pandangan  profesionalisme militer baru (the new professionalism). 

Kalau  diadakan  pengkajian  lebih  jauh  sebetulnya  kandungan  makna  dalam  istilah  the  new  professionalism,  adalah  bukan  untuk  menyatakan  bahwa  teori  yang  dirintis  oleh  Huntington  itu  sudah  usang,  sehingga  sekalipun  kehadirannya  memang  terkemudian  namun  bukan  berarti  menumbangkan  pandangan  the  old  professionalism  Huntingtonian.  Bahkan  juga  bukan  untuk  menyempurnakannya. 

Barangkali  yang  lebih  tepat  posisi  pandangan  profesionalisme  baru  terhadap  pandangan  profesi  lama  adalah  saling  mengukuhkan.  Eksistensi  pandangan  profesionalisme  baru  adalah  terletak  pada  adanya  kenyataan  bahwa  memang ada fenomen­fenomen baru dalam realitas dunia kemiliteran  yang tidak  terakomadasikan  dalam  konseptualisasi  Huntington.  Fenomen­fenomen  baru  tersebut pada umumnya baru muncul setelah kajian­kajian militer secara ekstensif  dilakukan  di  negara­negara  dunia  ketiga  atau  negara  sedang  berkembang.  Oleh  sebab  itu  pandangan  profesionaisme  baru  dapat  dianggap  sebagai  pandangan  profesionalisme militer negara berkembang, yang umumnya memiliki sejarah dan  tradisi  yang  berkebalikan  dengan  sejarah  dan  tradisi  militer  di  negara­negara  maju. 

Bertitik tolak dari analisis relasi antara pandangan profesionalisme lama  Huntingtonian  dengan  pandangan  profesionalisme  baru  tersebut  di  atas,  kalau  diadakan  penelaahan  lebih  mendalam  dapat  terungkap  bahwa  telah  terjadi  ketersesatan  (falsifikasi)  asumsi  yang  mendasari  kerangka  teori  Huntington.  Falsifikasi asumsi­asumsi tersebut adalah: 

Pertama, falsifikasi terjadi dalam pendefinisian tentang  jenis pekerjaan  atau keahlian militer. Huntington bersandar pada asumsi bahwa bidang  keahlian

perwira  militer  itu  adalah  manajemen  kekerasan  (management  of  violence),  sedang  sebagai  profesional  perwira  militer  adalah  sebagai  pengelola  kekerasan  (manager of violence). Pandangan ini diadopsi dari pengertian yang dikemukakan  oleh Harold D. Lasswell 136 yang menyebut pekerjaan militer sebagai spesialis di 

bidang  kekerasan  (specialist  of  violence).  Sedang  Lasswel  memberikan  definisi  tersebut  diilhami  oleh  hasil  kajiannya  terhadap  tentara  fasisme  Jepang  dalam  perang Sino­Jepang II, dalam kapasitasnya sebagai tenaga ahli militer pemerintah  Amerika Serikat. Dalam kajian tersebut Lasswel lebih menfokuskan perhatiannya  pada  kekuatan  angkatan  udara  kekaisaran  Jepang,  sebagaimana  kita  tahu  bahwa  ciri  khas  angkatan  udara  adalah  lebih  dominan  peralatan  daripada  personel  dan  sangat  sensitif  terhadap  perkembangan  teknologi  perang.  Sedang  tentara  kekaisaran Jepang pada perang dunia II dikenal memiliki mental pembunuh yang  melebihi batas kemanusiaan hingga sampai mengabaikan keselamatan diri. 

Aspek  partikularitas pemahaman  Lasswel  mengenai pekerjaan keahlian  militer  yang  menggunakan  rujukan pada  kinerja  tentara  kekaisaran  Jepang  lebih  khusus  lagi  hanya  terhadap  angkatan  udaranya  inilah  yang  menyebabkan  terjadinya ketersesatan ketika pemahaman itu ditarik menjadi definisi  yang lebih  umum mengenai pekerjaan profesional militer. 

Dalam  kerangka  pengertian  Lasswell  ini,  bahwa  prasyarat  pekerjaan  militer  itu  harus  dimulai  dengan  mengubah  total  kepribadian  manusia  sipil  (civilian man) menjadi manusia militer (military man) yaitu manusia  yang sudah  mengalami mati rasa diri sebagai manusia dan berubah menjadi mesin pembunuh.  Padahal  pada  perkembangan  realitas  yang  terjadi,  definisi  pekerjaan  keahlian  militer  tidak  sekaku  dan  sedemikian  paradoks  dengan  pekerjaan  keahlian  sipil.  Pandangan  inilah  yang  telah  berimplikasi  pada  perdebatan  mengenai  ruang  lingkup  tugas  dan  tanggung  jawab  militer,  dan  menjadi  isu  utama  dalam  perbedaan pandangan antara profesionalisme militer lama  Huntingtonian dengan  pandangan profesionalisme militer baru. 

Realitas  tugas  dan  tanggung  jawab  militer  yang  tidak  hanya  melulu  untuk perang dan memenangi pertempuran melainkan juga ada tugas non­tempur  seperti operasi kemanusiaan (humanitarian operation), misi sipil (civic mission), 

pemeliharaan  perdamaian  (peace  keeping),  dll.  menuntut  adanya  definisi  pekerjaan  keahlian  militer  yang  lebih  tepat.  Definisi  yang  lebih  tepat  bagi  pekerjaan  militer  –menurut  hemat  penulis  berdasar  temuan  lapangan­­  adalah  ”spesialis  dalam  bidang  penggunaan  kekuatan  (specialist  of  force)”,  sedangkan  perwira  militer  adalah  manajer  pengelola  kekuatan  (manager of  force).  Adapun  kekerasan (violance) adalah salah  satu bentuk kemungkinan penerapan  kekuatan  itu, di samping non­kekerasan. 

Kedua, pandangan mengenai larangan militer terlibat dalam politik oleh  Huntington  adalah  dipengaruhi  pandangan  kaum  teoritisi  di  dalam  ilmu  administrasi  klasik  yang  dalam  pandangan  mereka,  pemisahan  secara  keras  dan  tegas  antara  fungsi  politik  (pembuatan  kebijakan  dan  pengambilan  keputusan)  dengan  fungsi  adminstrasi  (implementasi  kebijakan  dan  realisasi  keputusan)  adalah  mutlak,  misalnya  sebagaimana  digagas oleh  ilmuwan  administrasi  klasik  Dwight Waldo maupun Frank J. Goodnow 137 . Pandangan semacam ini sudah tidak 

terlalu  relevan  lagi  untuk  menjelaskan  hubungan  fungsi  politik  dengan  administrasi pemerintahan dewasa ini yang semakin cenderung melihat antara dua  fungsi  politik  dan  fungsi  administratif  tersebut  bukan  terpisah  sama  sekali  melainkan  saling  berjalin  dan  berkelindan,  dalam  arti  bahwa  didalam  fungsi  politik sedikit banyak juga terdapat fungsi administratif, demikian pula halnya di  dalam fungsi administratif pasti terdapat muatan politis pula. Persoalannya adalah  bukan  mengenai  keharusan  pemisahan  antara  fungsi  politik  dan  administrasi  secara kaku karena pada kenyatannya hal itu tidak mungkin dilakukan, melainkan  bagaimana porsi yang paling tepat untuk masing­masing fungsi dalam tiap jenjang  hirarkhi birokrasi yang ada. 

Ketiga,  falsifikasi  terjadi  pada  konseptualisasi  Huntington  mengenai  keamanan.  Huntington  menggolongkan  keamanan  ke dalam  tiga  jenis  yaitu:  (1)  keamanan militer, (2) keamanan internal dan (3) keamanan situasional. Di dalam  keamanan  militer,  dilihat  dari  istilah  yang  dikenakan  saja  sudah  jelas  bahwa  bahwa  ia  adalah  wilayah  tugas dan  tanggung  jawab  militer. Meskipun  di  dalam  domain  ini  Huntington  juga  memasukkan  masalah  keamanan  yang  berkaitan 

137 Lihat Dwight Waldo, “What is Pubic Administration?”, dan Frank J. Goodnow, “Politics and 

Administration”, dalam Jay M. Shafritz & Albert C. Hyde (ed.), Classics of Public Administration,  Brooks Cole Publishing Company, 1987.

dengan  insurgensi  dan  kejahatan  bersenjata  namun  secara  tersirat  Huntington  lebih  menekankan  pada  tugas  dan  tanggung  jawab  militer  sebagai  kekuatan  bersenjata  yang  bersifat  eksternal.  Konseptulisasi  ini  sebenarnya  mengacu  pada  karakteristik  militer  negara  maju  terutama  Eropa  Barat,  dan  Amerika  Serikat  pasca  perang  dunia  II  yang  kekuatan  militernya  memiliki sejarah  dan  tradisinya  menjadi  bagian  dari  penjajahan.  Karena  itu  sangat  kuat  karakter  invasionis  dan  orientasi  eksternalnya.  Doktrin  pertahannya  bukan  melindungi  dan  mempertahanan  wilayah  negara,  tetapi  lebih  diarahkan  kepada  melindungi  dan  mempertahankan wilayah jajahan. Pada pasca perang dunia  II seiring perubahan  bentuk  dari  imperialisme  menjadi  kapitalisme,  maka  doktrin  melindungi  dan  mempertahankan wilayah jajahan berubah menjadi melindungi dan mengamankan  kepentingan­kepentingan  negara  di  luar  negeri  terutama  kepentingan  ekonomi.  Itulah  sebabnya  mengapa  konseptualisasi  Huntington  mengenai  tugas  dan  tanggung jawab keamanan militer lebih bersifat eksternal. Kendatipun Huntington  memasukkan juga jenis ancaman dari dalam seperti insurgensi ke dalam wilayah  keamanan militer. 

Keempat, masih berkaitan dengan konseptualisasi Huntington mengenai  keamanan,  tampaknya  Huntington  telah  menempatkan  ketiga  katagori  yaitu  Keamanan Militer, Keamanan Internal dan Keamanan Situasional di dalam posisi  sejajar  dan  linier.  Ketiga  domain  tersebut  secara  bersama  tetapi  sendiri­sendiri  memberi  kontribusi  jenis  keamanan  tertentu  yang  secara  akumulatif  berwujud  keamanan nasional(national security). 

Kerangka  teoritik  seperti  tersebut  di  atas  menjadi  kurang  berhasil  digunakan  untuk  menjelaskan  fenomen­fenomen  militer  di  negara  berkembang  dan  bukan  dalam  posisi  sebagai  bekas  militer  penjajah  atau  sedang  menjajah,  justru  malah  sebaliknya  yaitu  militer  yang  lahir  dari  kekuatan  perlawanan  terhadap penjajahan. Oleh sebab itu jugalah mengapa kerangka teori Huntington  ini  tidak  cukup  akurat  untuk  menjelaskan  fenomen  peran,  tugas  dan  tanggung  jawab  TNI.  Karena  sekalipun  TNI  pernah  melakukan  tugas­tugas  invasionis  seperti  merebut  Irian  Barat  (1963),  konfrontasi  dengan  Malaysia  (1964),  dan  menguasai  Timor­Timur  (1977),  akan  tetapi  sejatinya  TNI  adalah  tentara  yang  postur  dan  doktrinnya  lebih  sebagai  tentara  pertahanan  rumahan (home  defence

army), dan berorientasi internal. Bagi negara­negara yang tidak pernah memiliki  pengalaman  sebagai  penjajah,  atau  malah  sebaliknya  sebagai  negara  terjajah,  maka konseptualisasi Huntington itu tidak berlaku. Maka dalam konteks ini, thesis  Giddens akan lebih sesuai untuk menjelaskan posisi TNI saat ini, dimana Giddens  mengatakan  bahwa  keberadaan  militer  di  negara­negara  yang  tidak  pernah  menjadi penjajah  yang oleh Giddens disebut negara pra­modern, umumnya lebih  memiliki  fungsi  internal  berkaitan  dengan  tanggung  jawab  negera  untuk  menciptakan  tertib  sosial.  Sedangkan  guna  mewujudkan  keamanan  nasional,  katagorisasi  keamanan  militer­­keamanan  internal­­keamanan  situasional  tidak  bisa  diposisikan  secara  sejajar­linier,  melainkan  bersifat  saling  mencakup  dan  saling  menentukan.  Ketiganya  tidak  secara  sendiri­sendiri  dalam  mewujudkan  keamanan  umum  atau  nasional,  melainkan  secara  saling  melengkapi  dan  saling  menentukan. Perbedaan konsepsi keamanan Huntington dengan yang digagas oleh  penulis adalah dapat dilihat dalam gambar sbb: 

Gambar 6 

Dokumen terkait