KAJIAN TEORITIK
C. Relasi Hukum Islam dan Negara Dewasa Ini
Oleh karena itu, dalam tulisannya yang berjudul The dependency of Islamic state on sharia, Syarif mengkritik gagasan Negara Islam kontemporer dimana didalamnya, syariat Islam tidak lagi independen dari Negara. Dengan kata lain adanya ketergantungan syariat Islam terhadap Negara sebenarnya merupakan sesuatu yang menyimpang dari karakter hukum Islam dalam sejarahnya. 57
C. Relasi Hukum Islam dan Negara Dewasa Ini
Relasi hukum Islam dan negara dewasa ini dapat dilihat dari cara negara yang bersangkutan dalam menempatkan Islam dalam kehidupan bernegara, serta cara negara yang bersangkutan menempatkan Islam dan syariatnya dalam konstitusi. Bila dilihat dari
sejauh mana suatu konstitusi memberikan perlindungan terhadap agama dan syari‟at Islam, konstitusi negara-negara muslim dapat diklasifikasi menjadi enam katagori dengan cara melihat kombinasinya dalam menempatkan agama dan syari‟at Islam. 1). Negara yang menjadikan syari‟at (al-Qur‟an & hadits) sebagai konstitusi, contohnya Saudi Arabia. 2). Negara yang konstitusinya maupun aturan dasar lainnya (seperti dekrit presiden atau ketentuan dasar yang dimuat di luar pasal-pasal konstitusi) mengamanatkan agar semua aktifitas penyelenggaraan negara diarahkan dan dibimbing oleh syari‟at. Contohnya Iran, Libya, Pakistan. 3). Negara yang konstitusinya menyatakan bahwa Islam adalah agama negara dan menjadikan syari‟at Islam sebagai sumber utama pembuatan hukum/undang-undang. Contohnya Mesir dan Malaysia. Pasal 2 Konstitusi Mesir menyatakan: Islam is the religion of the State Arabic is its official language, and the principal source of legislation is Islamic Jurisprudence (Shari‟ah). Di Malaysia, berdasarkan konstitusi tahun 1948, hukum Islam berikut administrasinya dalam jurisdiksi negara diberi pengakuan formal. Kemudian setelah dibuat konstitusi federal pada tahun 1957 yang kemudian diperbaharui lagi dengan konstitusi federal tahun 1963, sistem yang telah dibangun tetap dipertahankan sambil ditambah
56
Wael B Hallaq, The Origins and Evolution of Islamic Law, Cambridge University Press, 2005., hal. 3.
57 Nurrohman Syarif, The dependency of an Islamic law on sharia, The Jakarta Post, September 19, 2014. http://www.thejakartapost.com/news/2014/09/19/the-dependency-islamic-state-sharia.html
Transformasi dan Integrasi Hukum Islam dalam Hukum Nasional | 45
satu pernyataan bahwa Islam merupakan agama negara.58 4). Negara yang konstitusinya menyatakan Islam sebagai agama negara tetapi tidak menyebutkan syari‟at sebagai sumber utama pembuatan hukum artinya syari‟at hanya dipandang sebagai salah satu sumber dari beberapa sumber pembuatan hukum, contohnya Irak. 5). Negara yang tidak menjadikan Islam sebagai agama negara dan tidak menjadikan syari‟at sebagai sumber utama pembuatan hukum tapi mengakui syari‟at Islam sebagai hukum yang hidup di masyarkat. Contohnya Indonesia. Pasal 29 Konstitusi Indonesia hanya menyatakan: Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa (ayat 1). Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. (ayat 2) 6). Negara yang menyatakan diri sebagai negara sekuler dan berusaha agar syari‟at Islam tidak mempengaruhi sistem hukumnya. Contohnya Turki.59 Turki modern dalam konstitusinya, termasuk konstitusi hasil amandemen tahun 2017, menyatakan diri sebagai Negara sekuler. Pasal 2 konstitusi Turki menyebutkan: The Republic of Turkey is a democratic, secular and social State governed by the rule of law; bearing in mind the concepts of public peace, national solidarity and justice; respecting human rights; loyal to the nationalism of Ataturk, and based on the fundamental tenets set forth in the Preamble.
Dalam tulisannya yang berjudul, Syari‟at Islam, Konstitusi dan Hak Asasi Manusia, Nurrohman mengatakan bahwa dilihat dari hukum dasar atau konstitusi yang dirumuskan oleh sejumlah negara Muslim, setidaknya ada empat model konstitusi negara muslim. Pertama, negara Muslim (Muslim country) yang konstitusinya mengakui Islam sebagai agama negara dan menjadikan syari‟at Islam sebagai sumber utama pembuatan undang-undang. Di sini bisa dimasukkan negara seperti Saudi Arabia, Libya, Iran, Pakistan dan Mesir. Kedua, negara Muslim yang konstitusinya menyatakan Islam sebagai agama negara tetapi tidak menyebutkan syari‟at sebagai sumber utama pembuatan undang-undang, artinya syari‟at Islam hanya dipandang
58 Tahir Mahmood, Personal Law in Islamic Countries; History, Text and Comparative
Analysis, New Delhi, Academy of Law and Religion, 1987. Tahir Mahmood, 1987: 219
59 Nurrohman Syarif, Dibalik Wacana Khilafat: Syariat Islam, Negara Islam dan Negara
Pancasila, Media Nusantara, Majalah Ilmiah Universitas Islam Nusantara, No.10/2014,
ISSN 1978-6824, Diterbitkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Islam Nusantara, Bandung, hal. 33-47.
46 | Transformasi dan Integrasi Hukum Islam dalam Hukum Nasional sebagai salah satu sumber dari beberapa sumber pembuatan undang- undang, contohnya Irak dan Malaysia. Ketiga, negara Muslim yang tidak menjadikan Islam sebagai agama negara dan tidak menjadikan syari‟at Islam sebagai sumber utama pembuatan undang-undang tapi mengakui syari‟at Islam sebagai hukum yang hidup di masyarakat, contohnya Indonesia. Keempat, negara Muslim yang menyatakan diri sebagai negara sekuler dan berusaha agar syari‟at Islam tidak mempengaruhi system hukumnya, contohnya Turki.60
Pada saat negara-negara Muslim di bawah kekuasaan kolonial, penguasa asing di negeri-negeri Muslim hampir selalu menawarkan atau membuat keputusan sesuai kebijakan mereka sendiri. Mereka tidak mengganggu penggunaan agama dan hukum-hukum agama bagi kalangan Muslim sendiri. Namun pada saat negara-negara Muslim merdeka dan berdaulat, pemandangannya sangat berbeda. Konstitusi nasional Aljazair, Brunei, Mesir, Iran, Irak, Yordania, Kuwait, Malaysia, Maroko, Pakistan, Somalia, Suriah, Tunisia dan dua Yaman menyatakan Islam sebagai agama negara. Syariah, atau hukum Islam ditetapkan sebagai sumber hukum yang "utama", atau "dasar" oleh konstitusi di Aljazair, Mesir, Kuwait, Yaman Utara dan Suriah. Sementara di Iran, Libya, Pakistan dan Sudan, negara diarahkan oleh hukum dasar negara untuk mematuhi syariah dalam pembuatan hukum dan administrasi peradilan. Oleh karena itu, undang-undang personal yang dikodifikasi, direformasi, atau diatur menurut hukum yang berlaku di negara-negara ini tidak dapat dianggap tidak Islami atau menyimpang dari syariah. Sebab syariah dijadikan sebagai sumber hukum dasar atau utama dalam konstitusi negara-negara ini.61
60
Nurrohman, Syari‟at Islam, Konstitusi dan Hak Asasi Manusia: Studi Terhadap
Pandangan Sejumlah Tokoh tentang Model Pelaksanaan Syariat Islam di Daerah Istimewa Aceh), Bandung, Lembaga Penelitian IAIN, 2002, hal. 17.
61 Tahir Mahmood, Personal Law in Islamic Countries; History, Text and Comparative
Transformasi dan Integrasi Hukum Islam dalam Hukum Nasional | 47
TABEL 1.
POSISI SYARIAT DALAM KONSTITUSI SEJUMLAH NEGARA MUSLIM
NO URAIAN CONTOH
1 Negara Muslim (Muslim country) yang konstitusinya mengakui Islam sebagai agama negara dan menjadikan syari‟at Islam sebagai sumber utama pembuatan undang-undang.
Saudi Arabia, Libya, Iran, Pakistan dan Mesir 2 Negara Muslim yang konstitusinya menyatakan
Islam sebagai agama negara tetapi tidak menyebutkan syari‟at sebagai sumber utama pembuatan undang-undang, artinya syari‟at Islam hanya dipandang sebagai salah satu sumber dari beberapa sumber pembuatan undang-undang.
Irak dan Malaysia.
3 Negara Muslim yang tidak menjadikan Islam sebagai agama negara dan tidak menjadikan syari‟at islam sebagai sumber utama pembuatan undang-undang tapi mengakui syari‟at Islam sebagai hukum yang hidup di masyarakat.
Indonesia
4 Negara Muslim yang menyatakan diri sebagai negara sekuler dan berusaha agar syari‟at Islam tidak mempengaruhi system hukumnya
Turki
Meskipun secara formal dan struktural, Indonesia hanya menempatkan syariah pada tingkat ketiga atau kelima dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya, namun penempatan syariat secara formal itu sebenarnya tidak ada korelasi secara langsung dengan tingkat negara dalam mempraktekkan nilai dan kandungan syariat Islam. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rehman dan Askari, indeks keislaman Indonesia lebih baik daripada indeks negara yang secara resmi mendeklarasikan dirinya sebagai Negara Islam atau menjadikan Islam sebagai agama negara seperti Mesir, Pakistan dan Iran. Berdasarkan indeks ini, Indonesia menempati peringkat 140, Pakistan peringkat 147, Mesir peringkat 153 dan Iran peringkat 163.62
48 | Transformasi dan Integrasi Hukum Islam dalam Hukum Nasional Meskipun secara substansial, tidak ada korelasi antara tingkat Negara dalam menempatkan syariah dalam konstitusi dengan tingkatanya dalam mempraktekkan syariah, namun dari aspek politik penempatan syariat secara formal dalam konstitusi sangat berarti terutama bagi mereka yang menjadikan Islam sebagai ideologi seperti kelompok fundamentalis.
Menurut Abou El Fadl, periode antara 1960-an dan 1970-an menyaksikan munculnya gerakan-gerakan Islam fundamentalis yang secara material mempengaruhi tempat Islam dalam konstitusi berbagai negara Muslim. Dengan membangun posisi yang diambil dari beberapa orientasi teologis pra modern, sebagian besar kelompok fundamentalis, tetapi tidak semua, berpendapat bahwa kedaulatan hanya milik Tuhan (al-hakimiyya lillah), bahwa pemerintah harus mewakili dan memberi pengaruh pada Kehendak Tuhan, dan bahwa harus ada ketaatan yang ketat terhadap ketentuan rinci yang digariskan para ulama. Menurut Abou El-Fadl, orientasi fundamentalis pada dekade-dekade tersebut dapat dipahami sebagai gerakan oposisi nasionalis yang tidak puas dengan status quo, lalu memanfaatkan simbolisme agama sebagai sarana untuk mengklaim keaslian dan legitimasi. ”The fundamentalist orientations of those decades are most accurately understood as oppositional nationalistic movements dissatisfied with the status quo, and utilizing religious symbolism as a means of claiming authenticity and legitimacy.63
Secara efektif, dalam banyak hal, klausul konstitusi syariah akan tetap tidak aktif sampai dibuat efektif oleh undang-undang yang berlaku. Namun demikian, pada tingkat politik, klausul syariah memainkan peran simbolis yang penting. Selain itu, klausul syariah sering dikutip oleh pengadilan dalam menyelesaikan sejumlah ambiguitas yang muncul dalam hukum perundang-undangan dengan mengacu pada prinsip-prinsip yurisprudensi Islam. sharia clauses were often cited by courts in resolving possible ambiguities in statutory law by referring to the principles of Islamic jurisprudence. 64
Global Economy Journal, Volume 10, Issue 2 2010 Article 2, The George Washington
University
63 Khaled Abou El Fadl (2003), Islam and the State: A Short History, in Khaled M. Abou El Fadl, Said Arjomand, Nathan Brown, Jerrold Green, Donald Horowitz, Michael Rich, B,
Democracy and Islam in the New Constitution of Afghanistan (2003) page 16.
Transformasi dan Integrasi Hukum Islam dalam Hukum Nasional | 49
Kiranya perlu diketahui juga bahwa meskipun pada konstitusi Indonesia tidak dijumpai istilah negara Islam, namun setidaknya ada delapan prinsip yang sama antara konstitusi Indonesia dan konstitusi Madinah. Prinsip-prinsip itu ialah: 1) monoteisme, 2) persatuan dan kebersamaan, 3) kesetaraan dan keadilan, 4) kebebasan beragama, 5) membela negara, 6) melestarikan tradisi baik, 7) supremasi syariah, 8) politik perdamaian dan perlindungan.65
Bentuk negara Muslim dewasa ini berkaitan dengan kebijakan negara dalam mengelola urusan agama. Ahmet T. Kuru, Secularism and State Policies Toward Religion membagi kebijakan Negara atas agama dilihat dari type atau model negaranya. Menurutnya, negara-negara di dunia, setidaknya dapat dibagi menjadi empat. Pertama, negara agama, kedua, negara anti agama, ketiga, negara dengan satu agama resmi, dan keempat, negara sekuler. Menurutnya, meskipun suatu negara menjadikan satu agama sebagai agama resmi, negara itu dapat diketegorikan negara sekuler jika legislasi dan peradilannya tidak didasarkan pada ketentuan agama. Menurutnya, suatu negara disebut negara agama jika menjadikan ketentuan agama sebagai legislasi dan hukum materil bagi peradilan, dan secara resmi mendukung satu agama tertentu. Menurutnya, di dunia dewasa ini, negara seperti itu jumlahnya hanya ada 12 negara, di antaranya adalah, Iran, Arab Saudi dan Vatikan. Adapun negara yang secara resmi tidak mendukung agama apapun, artinya merupakan negara sekuler, berjumlah 120 negara. Diantaranya adalah Amerika Serikat, Perancis dan Turki. Sedangkan negara dengan satu agama resmi tapi legislasi dan peradilannya tidak didasarkan ketentuan agama, dan karenanya dikategorikan negara sekuler juga, berjumlah 60 negara. Diantaranya adalah Yunani, Denmark, Inggris. Negara sekuler yang anti agama adalah negara yang secara resmi menolak/memusuhi agama, contohnya Korea Utara, China dan Kuba.
65 Harun Nasution ,1985., “Islam dan Sistem pemerintahan Sebagai yang Berkembang dalam Sejarah”, Studia Islamika, Nomor 17 Tahun VIII (July 1985).
50 | Transformasi dan Integrasi Hukum Islam dalam Hukum Nasional TABEL 2.