REFLEKSI DAN IMPLIKASI TEORITIS 7.1 Tindakan Reform Agen Kepala Daerah Mempengaruhi Struktur
7.2. Relasi Kepala Daerah dengan Multir Aktor dalam Local Reform
Merujuk pada the Polity Model (Tilly, 1978) yang menempatkan orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan kekuasan berada dalam dua kutub ekstrim, yaitu antara mereka yang menempati posisi sebagai member disatu kutub dan mereka yang menjadi challenger dikutub yang lain, dari kedua kasus yang diteliti, studi menunjukan bahwa relasi tidak selalu bersifat dikotomik karena terdapat aktor yang berada dikedua posisi tersebut (member sekaligus challenger), yang dapat dilihat pada posisi Konsorsium Solo (member yang cenderung kritis) dan KOMPIP (challenger namun koperatif). Selain itu terdapat aktor yang mengambil posisi netral (mengambil jarak dengan sumber kekuasaan) dengan pengertian tidak ingin ikut terlibat dalam proses “perebutan” resources sebagaimana dilakukan media dan Perguruan Tinggi, yang dilakukan diantaranya demi menjaga profesionalitas dan sikap kritis lembaga (Solopos).
PENCAPAIAN AGENDA REFORM Pemenuhan Basic Needs Peningkatan Pelayanan Publik Pelaksanaan visi- misi kepala Daerah:
Penataan PKL &Resettlement Demokrasi Lokal Dukungan CSA Dinamika masyarakat Konstelasi politik Kondisi sosio kultural Perubahan paradigma politik Latar Belakang Keluarga Latar Belakang Pendidikan
Latar Belakang Profesi sebelum menjabat STRUKTUR regulasi APBD Institusi Birokrasi Kepemimpinan Rudy AGEN UTAMA REFORM (KEPEMIMPINAN JOKOWI) Tindakan Reform Agen (Constraining dan Enabling)
Hubungan NGO di Kota Solo dengan Jokowi sebagai pemilik kekuasaan tertinggi, merujuk Tilly, dalam pengamatan penulis terdapat dua bentuk hubungan. Yang pertama, NGO yang memposisikan diri sebagai member, yang dalam hal ini diwakili oleh Konsorsium Solo (kasus PKL). Berbeda dengan posisi para CSA yang relasi hubungan mereka dibangun guna mendukung kerja Jokowi, Konsorsium Solo terlihat bermain didua kaki, yaitu antara member dengan challengger dengan kecenderungan sebagai member. Hal itu karena dalam berbagai kesempatan, Konsorsium Solo lebih banyak mendukung (menjadi pelaksana) kebijakan Jokowi, diantaranya dalam proses pengembangan partisipasi kelompok sektoral dalam pembangunan (musrenbang isu sektoral) serta pendampingan kegiatan pembangunan kelurahan oleh warga melalui dana PPMK, yang merupakan kelanjutan advokasi pemberian dana block grant yang dulu (pada periode Slamet Suryanto) diperjuangkan Konsorsium Solo sehingga akhirnya dapat dikembangkan di Solo. Selain itu personal Konsorsium Solo, Remy Samuel Rory yang “ditempatkan” Konsorsium Solo untuk mengawal kebijakan pengentasan kemiskinan yang lebih pro poor (sesuai dengan kebutuhan riil kelompok miskin tersebut), menjadi Sekretaris TKPD hingga kini.
Namun demikian, sikap kritis Konsorsium Solo tetap jelas terlihat, diantaranya dalam proses revisi perda PKL dan sikap kritis TKPKD terhadap kebijakan pengentasan kemiskinan Kota Solo. TKPKD misalnya mengembangkan indikator kemiskinan sendiri untuk Kota Solo berdasarkan indikator kemiskinan BPS (menjadi 25 indikator dari 14 indikator yang ada), dengan asumsi perlu dibangun indikator yang lebih sesuai dengan kondisi faktual Kota Solo. Selain itu dalam banyak kesempatan TKPKD leluasa untuk mengeksposes terjadinya peningkatan angka kemiskinan Kota Solo, yang dalam beberapa hal bisa menjadi isu sensitif karena kerap disinonimkan dengan kinerja pemerintah daerah. Dalam proses Pilgub DKI lalu misalnya, pesaing Jokowi melansir peningkatan angka kemiskinan yang dieksposes TKPKD tersebut sebagai bukti “kegagalan” Jokowi membangun Solo. Karenanya penulis menilai meski sebagai member (menjadi pelaksana program dan atau kebijakan Jokowi), Konsorsium Solo sesungguhnya tidak benar-benar memposisikan diri sebagai member akan tetapi juga sebagai challenger dengan posisi dominan sebagai member. Penulis lebih memilih mengelompokkan Konsorsium Solo sebagi member yang kritis.
Hal yang menarik, Konsorsium Solo selain memiliki relasi tidak langsung dengan Jokowi melalui salah seorang CSA, yaitu PG yang juga menjadi pengurus PDIP, juga memiliki hubungan langsung dengan wakil kepala daerah (Rudy) karena sebagian diantara mereka adalah kader PDIP. Akan tetapi dalam proses reformyang terjadi, tidak terjadi “hubungan khusus” antara PG dengan
Rudy, sebagaimana hubungan PG dengan Jokowi. Hal ini karena agenda reform secara umum memang menjadi tanggung-jawab Jokowi, sementara Rudy lebih banyak berperan mengelola birokrasi. Kalaupun terjadi hubungan, lebih merupakan hubungan politik dengan agenda menjaga kepentingan politik PDIP, yang diantaranya dilakukan melalui penempatan personal birokrasi (mutasi birokrasi) pada pos-pos yang dinilai relevan seperti lurah dan camat. Terkait hal tersebut penempatan Romy Samuel Rory sebagai sekretaris TKPKD menurut salah seorang informan juga karena pertimbangan politik (kader PDIP) selain karena faktor kesamaan agama. Sebagaimana diketahui, Ketua TKPKD adalah Rudy, sementara Jokowi lebih sebagai Penasihat TKPKD.
Selain member, bentuk hubungan lainnya adalah sebagai challenger (tidak ikut terlibat dalam pengelolaan kebijakan dan program Pemkot). KOMPIP dan PATTIRO berdasarkan pengamatan penulis ada dikelompok ini. Sikap KOMPIP maupun PATTIRO yang lebih memilih menjadi challenger ketimbang member dalam konteks relasi mereka dengan Pemkot berdasarkan analisis penulis terjadi karena keduanya ingin mempertahankan sikap independensi selain karena faktor tersediaan pendanaan kegiatan dari sumber lain (umumnya dari funding). Selain itu keduanya melihat relasi dengan state sebagai sesuatu yang bukan hanya tidak efektif (dalam mewujudkan visi-misi gerakan yang mereka ingin perjuangkan), namun juga dinilai dapat memberi lebih banyak dampak negatif ketimbang positif.
Hal Hal lain yang menarik, selain itu terdapat aktor yang berada pada posisi netral (bukan sebagai member dan bukan pula challenger) sebagaimana posisi yang diambil oleh Perguruan
Tinggi dalam hal ini UNS dan UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), yang meski aktif memberikan rekomendasi bagi perbaikan kebijakan, tidak mencoba masuk lebih dalam untuk menjadi member dan tidak juga menjadi sangat vocal dengan menjadi challenger. Hal serupa dilakukan oleh sejumlah praktisi yang meski aktif memberi masukan akan tetapi tetapi menjaga jarak dengan tidak menjadi member maupun challenger dan juga dilakukan oleh media massa (sebagai tuntutan profesionalitas-cover bothside). Hal lain yang juga penting, meski secara formal DPRD Kota Solo (terutama pada periode kedua) terbelah menjadi dua, yaitu PDIP, PAN, dan PKS disatu kubu (member) berhadapan dengan Golkar dan Demokrat (challenger) dikubu lainnya, dalam praktek pemisahan tersbut tidak benar-benar terjadi (oposisi dan the rulling party), yang sekaligus menunjukkan bahwa oposisi bukan praktek yang mengakar kuat pada politik di Indonesia.
Sementara itu mengenai relasi Jokowi (Kepala Daerah) dengan para CSA yang dapat dikategorikan sebagai hubungan antara pihak yang memiliki kewenangan (power) untuk mendayagunakan resources dengan para member, namun memiliki beberapa kekhasan dalam relasi yang terjadi. Kekhasan dimaksud adalah bahwa hubungan lebih merupakan hubungan pertemanan dan bukan hubungan formal atau hubungan kerja (profesional) sebagaimana hubungan antara kepala daerah dengan staf ahli atau birokrasi dan juga bukan hubungan politik semisal hubungan antara loyalis dengan calon yang didukung atau hubungan antara personal yang secara khusus ditugaskan parpol. Dan karena hal itu hubungan mereka lebih tepat untuk disebut sebagai inner social cyrcle.
Hal ini juga dimungkinkan terjadi karena keinginan para CSA agar hubungan yang terjalin lebih merupakan relasi yang egaliter ketimbang hubungan atasan bawahan atau hubungan antara orang yang bekerja untuk mendapatkan upah, sejalan dengan sikap Jokowi yang tidak menyukai hubungan formal karena menurutnya hanya akan membuat jadi tidak produktif. Upaya menjaga hubungan egaliter itu menjadi mungkin dilakukan karena sikap AN, ES maupun PG yang tidak memanfaatkan sumber-sumber ekonomi yang tersedia dilingkup Pemkot Solo sebagai sumber utama pemenuhan kebutuhan ekonominya dan lebih memilih mencari sumber pendapatan dari luar.
Terkait dengan proposi Tilly (1978) yang mengungkapkan bahwa hubungan antara member
dengan pihak yang memiliki otoritas kepada resources karena pertimbangan bahwa member dapat mengakses resources, dalam konteks hubungan Jokowi dengan para CSA, resources yang disebutkan Tilly hendaknya dimaknai dalam arti yang lebih luas dan bukan hanya berupa sumber- sumber ekonomi. Resources juga dapat berupa faktor-faktor non materi seperti gagasan perubahan (gerakan perubahan). Faktor lain yang tidak kalah penting adalah karisma pribadi Jokowi. Kesediaan Jokowi untuk bekerja keras dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai pimpinan daerah, kesediaannya untuk menjadi teladan atas gagasan yang ingin diperjuangkannya, serta komitmen yang kuat yang diperlihatkannya dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat miskin, menjadi magnet tersendiri yang menyebabkan para CSA bersedia bekerja untuk membantu Jokowi. Jokowi dalam hal ini bukan hanya diposisikan sebagai pihak yang memiliki otoritas legal-rasional dengan kewenangan formal yang dimikinya, akan tetapi juga memiliki karisma tertentu dalam pengelolaan kekuasaan (kepemimpinan karismatik) sehingga dianggap layak untuk “dibantu.” Lebih dari itu membantu Jokowi bahkan dinilai merupakan “tugas suci,” yang memberi kepuasaan (penghargaan) tersendiri bagi yang melakukannya.
Selain itu jika Tilly mengungkapkan bahwa akan terjadi kemungkinan timbulnya konflik antar member karena kontestasi kekuasaan (berebut pengaruh, berebut untuk memperoleh bagian lebih banyak dari resources), hal itu tidak terbukti pada hubungan Jokowi dengan para CSA. Tidak pernah terjadi konflik diantara ketiganya untuk memperebutkan resources (keuntungan finansial), karena ketiganya tidak ingin mengambil keuntungan ekonomi dari hubungan yang terjalin. Selain itu konflik juga tidak terjadi karena para CSA saling memahami posisi (kontribusi) masing-masing dalam relasinya dengan Jokowi, yaitu: ES menjadi teman diskusi Jokowi untuk
isu-isu politik, PG untuk relasi dengan komunitas dan media mengingat pengalamannya dulu sebagai wartawan, dan AN dalam konteks membantu Jokowi membranding Kota Solo sebagai Kota Budaya.
Pada akhirnya temuan yang paling penting dari studi ini terkait dengan relasi state-society dalam konteks local reform. Tindakan reform aktor dapat menyebabkan member bertambah banyak dan ruang polity menjadi semakin luas karena challenger pada akhirnya dapat “ditaklukkan.” Pada kasus penataan PKL maupun resettlement hal itu dimungkinkan karena adanya bantuan sejumlah CSA dan wakil walikota yang memiliki relasi khusus dengan kepala daerah, baik relasi karena hubungan formal (relasi Jokowi dengan Rudy selaku wakil kepala daerah) maupun relasi karena hubungan non formal (relasi Jokowi dengan para CSA yang menjadi innercirclenya).
Hubungan kepala daerah dengan multi aktor dalam konteks local reform (kasus PKL dan
resettlement) terbukti efektif membantu state mengatasi sejumlah penentangan yang terjadi. Dengan bantuan CSA yang diposisikan sebagai inner circle (inner social circle), Jokowi selaku kepala daerah terbukti dapat “menjinakkan” sejumlah challenger baik melalui bantuan berupa
sharing pengalaman, bantuan teknis tindakan eksekusi dilapangan, maupun perluasan networking
(dengan NGO); yang dimungkinkan terjadi karena adanya kesamaan ideologi (perubahan) antara kepala daerah dengan para CSA tersebut.
Dukungan wakil kepala daerah yang secara formal bertanggung-jawab membantu kerja kepala daerah, juga dapat diandalkan. Dalam konteks local reform di Solo, bantuan itu diantaranya berupa kekuatan politik dan kemampuan “menundukkan” kelompok-kelompok penentang radikal yang mengganggu proses reform, yang diantaranya terdiri dari kelompok- kelompok yang menentang kebijakan serta para preman.
Berdasarkan model Tilly (1978) dan memperhatikan hasil studi yang dilakukan, penulis mencoba mengembangkan model hubungan kepala daerah dengan multi aktor dalam konteks
local reform sebagaima dapat dilihat pada gambar. Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagai sebuah tim, saling terhubung satu sama lain. Meski memiliki sejumlah kewenangan dalam pengelolaan kekuasaan dalam upaya mewujudkan reform, wakil kepala daerah dapat dikatategorikan sebagai member mengingat salah satu tugas pokok dan fungsi (tupoksi) wakil kepala daerah adalah membantu kepala daerah mewujudkan visi dan misi yang mereka kampanyekan pada proses pemilihan kepala daerah, meski hubungan diantara mereka bukanlah hubungan atasan-bawahan.
Wakil kepala daerah dengan kewenangan cukup besar yang dimiliki dibanding member
lainnya, sesungguhnya merupakan member sangat strategis bagi kepala daerah. Dukungan maksimal wakil kepala daerah (dukungan kinerja dan dukungan politik) dapat membantu kepala daerah mengupayakan terwujudnya agenda reform. Sebaliknya disharmoni hubungan yang berujung pada pecah kongsi dapat mempengaruhi upaya reform yang dilakukan, mengingat hal tersebut dapat berpengaruh pada produktifitas ckerja pemerintah daerah, seperti terganggunya proses pelayanan kepada masyarakat dan tidak efektifnya pelaksanaan roda pemerintahan. Karena hal itu upaya meningkatkan harmonisasi hubungan kepala daerah dengan wakil kepala daerah menjadi penting dilakukan, mengingat dampaknya yang cukup serius terhadap keberhasilan
reform di daerah tersebut.
Dengan memperhatikan proses reform di Solo, pembagian peran yang jelas antara kepala daerah dengan wakil kepala daerah merupakan salah satu strategi yang bisa dilakukan.25 Meski di
25
Sebagai Walikota Solo, Rudy memiliki tugas khusus yang menjadi tanggung-jawabnya, yaitu mensupervisi pelaksanaan kerja birokrasi, terutama ditingkat kecamatan dan kelurahan. Secara umum hal itu sebagaimana diatur di dalam UU No. 32/2004 pasal 26 ayat c dan d, yang menyebutkan bahwa wakil kepala daerah mempunyai tugas memantau dan mengevaluasi
dalam UU No. 32/2004 secara normatif sudah disebutkan tupoksi masing-masing pihak (kepala daerah dan wakil kepala daerah), namun karena tidak ada satu pasal pun di dalam UU No. 32/2004 yang “mengharuskan” kepala daerah berbagi tugas dan tanggung-jawab (sharing of power) dengan wakil kepala daerah, dalam praktek peran seperti apa yang dapat dijalankan wakil kepala daerah sangat tergantung pada keputusan sepihak kepala daerah. Dalam praktek tidak sedikit kepala daerah yang hanya memfungsikan wakil kepala daerah sebagai ban serep (baru difungsikan ketika kepala daerah tidak ditempat atau berhalangan sebagaimana disebut pada UU No. 32/2004 ayat g) atau kalaupun diberi tanggung-jawab namun hanya untuk jenis perkejaan yang tidak strategis baik secara politik maupun administratif, diantaranya dengan memposisikan kepala daerah hanya sebagai “pembantu” kepala daerah (UU No. 32/2004 pasal 26 ayat a dan b).
Dengan memperhatikan kasus-kasus pecah kongsi yang terjadi, yang karena banyaknya sesungguhnya sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan,26 faktor ketidak-siapan kepala daerah berbagi kekuasaan dengan wakil kepala daerah kerap menjadi penyebab. Hal itu diperparah dengan sikap memposisikan wakil kepala daerah sebagai rival bagi pencalonan dirinya pada periode berikutnya, sehingga “pengkebirian” peran wakil kepala daerah kerap dilakukan kepala daerah. Realitas ini pula tampaknya yang kemudian menginspirasi Mendagri Gamawan Fauzi dengan usulan meniadakan pemilihan wakil kepala daerah (diambil dari birokrasi dan tidak melalui proses pemilukada), sebagai bagian yang hendak direvisi dari UU No. 32/2004. Proses “pencarian” pasangan calon yang kerap kali berlangsung dalam waktu sangat singkat (dilakukan hanya beberapa bulan menjelang pencalonan) dan tanpa proses penyerasian diantara keduanya (kecocokan personal penyamaan visi-misi, dan lain-lain), menyebabkan pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terbentuk tidak cukup solid (kompak) untuk bisa bekerja sama dalam mengupayakan reform. Hal itu diperparah dengan dasar pertimbangan pencalonan yang kerap berorientasi pada kepentingan taktis-pragmatis (elektabilitas, popularitas, maupun kemampuan calon mendanai kegiatan kampanye) dan bukan pertimbangan yang lebih ideologis (kesamaan idealisme maupun visi dan misi yang hendak diperjuangkan). Karena dibangun diatas pondasi yang sangat rapuh, hubungan diantara keduanya rentan “bermasalah”, bahkan dapat berakhir dengan pecah kongsi.
Selain itu merujuk pada apa yang terjadi di Solo, faktor kematangan personal agen kepala daerah juga dapat mempengaruhi harmonisasi hubungan diantara keduanya. Meski Jokowi dengan Rudy dalam beberapa aspek memiliki sejumlah perbedaan, namun kemampuan kepala daerah dan wakil kepala daerah mengelola atau mengatasi konflik yang mungkin terjadi diantara keduanya sehingga tension yang terjadi dapat dikurangi, menjadi faktor yang sangat berpengaruh. Sebagai contoh meski Jokowi dan Rudy sama-sama memiliki kecenderungan untuk tidak terlalu terikat dengan prosedural formal, namun Jokowi dan Rudy memiliki pendekatan berbeda dalam penyelesaian permasalahan. Jokowi misalnya lebih mengandalkan pada kerja-kerja profesional penyelenggaraan pemerintah daerah, serta memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah ditingkat kelurahan dan kecamatan. Pembagian tugas yang jelas ini dimungkinkan karena meski Rudy merupakan wakil kepala daerah, secara politik memiliki poisisioning cukup kuat dengan keberadaannya sebagai Ketua DPC PDIP Surakarta yang cukup disegani para politisi PDIP lainnya (anggota DPRD Kota Solo dari Fraksi PDIP) serta memiliki dukungan basis massa PDIP yang cukup kuat. Akan tetapi dengan memperhatikan pada apa yang terjadi di DKI-Jakarta paska Jokowi terpilih menjadi Gubernur, kesediaan Jokowi berbagi tanggung-jawab (sharing of power) dengan Ahok meski secara politik Ahok tidak sekuat Rudy, tampaknya merupakan faktor terpenting yang berpengaruh. Dengan demikian faktor personality
(karakter pribadi) agen merupakan aspek yang tidak dapat dianggap remeh. 26
Menurut Gamawan Fauzi kasus pecah kongsi antara kepala daerah dengan wakil kepala daerah baik ditingkat provinsi maupun kota/kabupaten sudah sangat memprihatinkan, yaitu mencapai 93,85 persen (diunduh dari www.jpnn.com, 93 Persen Kepala Daerah Pecah Kongsi, 22 Oktober 2012).
(menyerahkan pekerjaan kepada orang yang secara profesional dapat dipertanggung-jawabkan), sementara Rudy lebih mengandalkan menyerahkan pekerjaan kepada orang yang memiliki hubungan-hubungan kedekatan tertentu dengan dirinya maupun PDIP (loyal kepada PDIP). Hal itu dapat dimaklumi mengingat latar-belakang keduanya yang berbeda: Jokowi yang pengusaha terbiasa dengan kerja profesional sementara Rudy yang sejak lama menjadi fungsionaris parpol (bahkan menjadi Ketua DPC PDIP) lebih berorientasi pada aspek pertimbangan politik. Akan tetapi dengan pembagian tanggung-jawab yang jelas, masing-masing pihak (baik Jokowi maupun Rudy) mencoba memberikan toleransi atas perbedaan sikap yang terjadi. Untuk penempatan SDM birokrasi di kelurahan dan kecamatan maupun pemantauan dan evaluasi kerja kecamatan dan kelurahan misalnya, Jokowi tidak banyak melakukan intervensi dan menyerahkan tanggung-jawab sepenuhnya kepada Rudy. Jokowi lebih memilih berkonsentrasi pada agenda pembangunan dengan beragam program inovasi yang ingin dikembangkannya dan baru mengambil tindakan intervensi jika terdapat indikasi penyimpangan atau akan menimbulkan kontra-produktif terhadap upaya reform yang dikembangkannya (kasus isu mutasi camat dan lurah oleh Jokowi karena dinilai “mbalelo” atau tidak ada itikad baik untuk melaksanakan agenda reform).
Selain wakil kepala daerah, kepala daerah membutuhkan strategic member lainnya yang diposisikannya sebagai inner circle, yang dapat terdiri dari individual actor (CSA, pakar, praktisi, dan lain-lain) maupun institusional actor (NGO, ormas, lembaga profesi, maupun organisasi masyarakat sipil lainnya). Inner circle ini sedianya adalah mereka yang mau bekerja mendukung upaya kepala daerah mewujudkan agenda reform atas landasan idealisme (non profit oriented), sehingga dapat juga disebut dengan istilah inner social circle.27 Pentingnya aspek kesukarelaan dan idealism ini penting mengingat dua hal tersebut merujuk pada kasus reform di Solo merupakan faktor penting, yang menyebabkan relasi yang terjalin antara kepala daerah dengan berbagai aktor tersebut yang diposisikan sebagai inner circle tersebut, mampu berkontribusi bagi upaya mewujudkan agenda reform. Dalam praktek, inner circle aktor kepala daerah umumnya diisi oleh mereka yang dilibatkan karena pertimbangan aspek politik (inner political circle), seperti tim kampanye, pihak yang dinilai mampu melakukan negosiasi dengan kepala daerah untuk memperjuangkan kepentingan partai politik pendukung, dan lain-lain. Karena hal itu dukungan yang diberikan inner political circle tersebut lebih berorientasi pada capaian-capaian politik (kapitalisasi kekuasaan) yang tidak selalu relevan dengan tujuan reform (bahkan dapat bersifat kontra-produktif). Inner political circle sedianya sudah dapat diwakili oleh posisi wakil kepala daerah dan DPRD (fraksi pendukung) mengingat relasi kepala daerah yang terbangun dengan keduanya memang didasarkan pada pertimbangan aspek politik yang sangat kuat, sehingga menghadirkan inner political circle lain sebagai jaringan koalisasi karenanya tidak dibutuhkan. Birokrasi sebagai mesin penggerak birokrasi sedianya diposisikan sebagai inner administrative circle, yang keberadaannya lebih sebagai administrative. Politisasi birokrasi karenanya tidak perlu terjadi mengingat hal itu dibutuhkan untuk menjaga profesionalitas kerja mesin birokrasi. Critical member, yaitu mereka yang menjadi member namun tetap dapat bersuara kritis juga dibutuhkan, guna menjaga konsistensi arah perubahan. Coperative challenger yaitu penentang yang mau membuka komunikasi dengan government (secara langsugn maupun melalui inner cocial circle maupun inner political circle) juga diperlukan, guna menjembatani government dengan para challenger yang cenderung menentang kebijakan. Relasi cooperative challenger
dengan para challenger tersebut dapat membantu tercapainya kesepakatan (mempermudah proses negosiasi) antara government dengan para challenger. Manfaat utama bagi government dapat membantu menangkap (memahami) aspirasi challenger atas kebijakan, sementara bagi challenger hubungan tersebut penting karena dapat membantu mereka mengerti dengan lebih baik tujuan dan manfaat kebijakan serta keterbatasan yang ada pada government.
DPRD fraksi non pendukung umumnya mengambil posisi sebagai challenger. Meski posisioning DPRD fraksi non pendukung di Indonesia sesungguhnya tidak benar-benar
27
menempati posisi oposisi (menolak satu kebijakan namun mendukung kebijakan lainnya), namun perlu dibangun relasi dengan DPRD sedemikian rupa sehingga penolakan yang dilakukan bersifat proporsional (sebagai proses check and balances) dan bukan penolakan yang bersifat politis (politicking). Kehadiran pihak-pihak yang bersifat tidak memihak (netral) dalam proses “perebutan” resources karena lebih memilih berpihak pada kepentingan publik (pro poor), diperlukan sebagai “pengontrol” proses reform yang berjalan. Peran ini dapat diisi oleh media massa (sebagai pilar keempat demokrasi) maupun perguruan tinggi sebagai pusat rujukan pengetahuan.
Relasi yang bersifat politik dan ekonomi (terlebih lagi dengan tujuan balas jasa atas dukungan pada proses pemilihan) dapat saja terjadi. Namun karena secara faktual terbukti memunculkan praktek politik transaksional (kartel politik) serta penguatan oligarki politik, karenanya perlu dihindari. Sebaliknya relasi dengan member yang dibangun berdasarkan spirit untuk mendorong perubahan (terwujudnya agenda reform) perlu dikembangkan, karena secara faktual (pada kasus Kota Solo) terbukti berkontribusi mendukung terjadinya percepatan perubahan.
Gambar 7.2 Model Hubungan antar Aktor dalam Local Reform
Pada kondisi yang lebih ideal, member kategori ini akan lebih baik jika dikelola bersama oleh aktor kepala daerah dan wakil kepala daerah melalui proses terbuka (dalam penetapan siapa yang terlibat dan alasan pemilihannya) dan bahkan dapat pula dilakukan dengan melibatkan