• Tidak ada hasil yang ditemukan

LOCAL REFORM DI KOTA SOLO PADA ERA KEPEM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LOCAL REFORM DI KOTA SOLO PADA ERA KEPEM"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

LOCAL REF ORM DI KOTA SOLO PADA ERA JOKOWI (TAHUN 2005-2012):

Tindakan Agen Mempengaruhi Struktur dan Relasi Multi Aktor

pada Kasus Penataan PKL dan Pemukiman Penduduk Bantaran Sungai Bengawan Solo

RINGKASAN DISERTASI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor Sosiologi

WAHIDAH R BULAN 0706222851

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

(2)

Bagian Pertama PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan

Sebagai pemegang otoritas tertinggi, kepala daerah merupakan aktor penting dalam proses

reform. Hal itu karena dengan sejumlah kewenangan yang dimiliki (UU No. 32/2004 pasal 21), kepala daerah dapat mengeluarkan aneka kebijakan guna mengupayakan terjadinya perubahan. Akan tetapi dengan memperhatikan bahwa tidak semua kepala daerah berhasil mengupayakan

reform, faktor kewenangan (official power) semata, ternyata belumlah memadai untuk mendorong perubahan.

Merujuk praktek sukses dibeberapa daerah, inisiatif reform (gagasan inovatif) dan keberanian kepala daerah, beberapa faktor yang turut menstimuli terjadinya perubahan.1 Melalui inisiatif reform kepala daerah dapat menetapkan kebijakan guna menyelesaikan permasalahan dan keluar dari mainstream (regulasi, kerumitan prosedur, dan lain-lain) yang meng-constrain

tindakannya. Karena memiliki kekuatan otoritatif, inisiatif relatif lebih mungkin berkembang ke arah perubahan dibanding jika dimotori oleh staf (birokrasi).2 Sedangkan faktor keberanian, penting mengingat gagasan perubahan terkadang harus berhadapan dengan sejumlah kendala untuk dapat diimplementasikan.3 Hal itu sejalan dengan penelusuran redaksi Majalah Tempo4 terhadap sejumlah kepala daerah, yang menemukan adanya sejumlah karakter “khas” kepala daerah yang mampu mendorong reform, yaitu: egaliter, berani, dan mau menyelesaikan masalah dengan cara tidak biasa (inovatif).

Kemampuan aktor kepala daerah membangun relasi (connecting) dengan multi aktor (struktural maupun individual), merupakan faktor lain yang tak dapat diabaikan. Kepala daerah yang tidak mampu membangun hubungan (kekuasaan) dengan DPRD dapat “tersandera” secara politik akibat usulan anggaran yang diajukan tidak mendapat persetujuan.5 Kemampuan kepala daerah membangun hubungan dengan birokrasi sebagai mesin penggerak roda pemerintahan, merupakan hal lain yang tak kalah penting. Meski secara formal birokrasi berada di bawah kontrol kepala daerah, mendapatkan kepatuhan adalah hal yang berbeda karena konsep otoritas mengacu pada hubungan antar orang per orang dan bukan dengan jabatan perseorangan (Blau dan Meyer).6

1

Hal itu setidaknya dapat dilihat pada cerita sukses beberapa kepala daerah berikut: Winasa (Kabupaten Jembrana) dengan inovasi Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ) yang memberikan jamianan kesehatan kepada seluruh warga Jembrana tanpa terkecuali (universal coverage health), Gamawan Fauzi (Kabupaten Solok) dengan penghilangan mata anggaran honorarium pelaksana proyek, Rustriningsih (Kabupaten Kebumen) dengan spirit mengembangkan transparansi melalui kegiatan Selamat Pagi Bupati dan pelaksanaan tender proyek di alun-alun kota, dan Jokowi (Kota Surakarta) dengan pendekatan non violence dalam penataan PKL.

2

Sebagai contoh inisiatif yang dilakukan Tri Rismaharini semasa menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Pertamanan, jauh lebih dapat berkembang setelah ia menjadi Walikota Surabaya (2010-2015). Begitu pula yang terjadi di Kota Depok, Jawa Barat. Penataan PKL dengan cara merelokasi (pendekatan non kekerasan) telah pernah dilakukan pada tahun 1999.Namun karena hanya dimotori oleh Kepala Bidang Ekonomi di Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kota Depok, Ir. Khamid Wijaya, inisiatif reform tidak berkembang menjadi perubahan monumental.

3

Sebagai contoh apa yang terjadi di Kabupaten Solok semasa dipimpin Gamawan Fauzi. Kebijakan penghilangan mata anggaran honorarium dalam setiap kegiatan (APBD) yang dimaksudkan untuk menciptakan efisiensi anggaran dan keadilan penganggaran antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sehingga tidak ada dinas “basah” karena memiliki

banyak kegiatan dan dinas “basah air mata” karena minim kegiatan, pada awalnya sulit dilaksanakan karena menghadapi

sejumlah kendala regulasi terutama pada tahun pertama pelaksanaannya.

4

Hasil liputan khusus Majalah Tempo (Edisi Khusus Kepala Daerah Pilihan 2012, edisi 10 – 16 Desember 2012) bertajuk Bukan Bupati Biasa.

5

Sebut saja misalnya kasus Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail diawal-awal kepemimpinannya pada tahun 2005-2007

yang “terpaksa” mengubah salah satu program unggulannya, SIPESAT atau Sistem Pengolahan Sampah Terpadu menjadi

UPS atau Unit Pengelolaan Sampah; atau upaya pemakzulan Walikota Surabaya Tri Rismaharini oleh DPRD pada tahun 2010 yang disulut oleh penolakan DPRD terhadap kebijakan sang Walikota menaikan pajak reklame.

(3)

Selain dengan state actors (DPRD dan birokrasi), kepala daerah juga perlu membangun hubungan dengan non-state actors (ormas, NGO, tokoh masyarakat, tokoh intelektual, perguruan tinggi) mengingat keberadaan mereka sebagai stakeholder pembangunan strategis.7 Selain itu mengingat media massa sebagai salah satu pilar penopang demokrasi selalu ada dibalik pengungkapan kasus-kasus penyalah-gunaan kekuasaan dan anggaran baik di daerah maupun di pusat, kemampuan kepala daerah membangun hubungan dengan media massa merupakan faktor lain yang tak dapat diabaikan.

Pentingnya membangun hubungan dengan multi aktor dalam mendorong terwujudnya perubahan, juga ditemukan dalam preliminary study yang penulis lakukan pada Juni dan Desember 2010 serta Maret 2011. Salah satu faktor yang membantu mempercepat perwujudan agenda reform di Solo diantaranya karena kemampuan sang Walikota (Jokowi) membangun hubungan dengan berbagai komponen masyarakat, yang dilakukan karena Jokowi menyadari keterbatasan pengetahuan dirinya terhadap permasalahan atau kebijakan yang hendak ditetapkan. Selain itu relasi juga dikembangkan sebagai solusi atas ketidak-puasan Jokowi terhadap kerja birokrasi yang menurutnya lebih senang menyampaikan informasi yang ingin didengar pimpinan, dan bukan informasi real mengenai kondisi lapangan.8

Jokowi (dan Rudy sebagai Wakil Walikota Solo) mengembangkan hubungan dengan multi pihak melalui sejumlah aktifitas yang diangkat dari tradisi Jawa, yang dipopulerkan dengan istilah SLJJ yaitu: sonjo (silaturahim), layat (mendatangi orang yang anggota keluarganya meninggal dunia), jagong (memenuhi undangan), dan jagongan (berdiskusi atau bermusyawarah). Selain itu Jokowi juga mengembangkan apa yang disebutnya dengan Forum Group Discussion (FGD), forum dimana Jokowi berinteraksi dengan stakeholder pembangunan semisal para tokoh, pakar, praktisi, akademisi, NGO, aktifis kemasyarakatan, termasuk pihak swasta. Jika SLJJ ditujukan untuk mengetahui kondisi lapangan dan menyerap aspirasi publik, FGD dilakukan untuk merumuskan alternatif solusi/kebijakan atas berbagai isu atau permasalahan yang membutuhkan penanganan segera dan atau permasalahan yang mendapat perhatian masyarakat cukup luas. Selain itu Jokowi mempunyai hubungan “spesial” dengan beberapa aktifis masyarakat sipil (Civil Society Activist atau CSA) yang memiliki jejaring dengan CSO (Civil Society Organization), dengan menjadikan mereka sebagai lingkaran terdalam (inner-circle); yang diistilahkan Jokowi dengan staf ahli non-formal karena tidak ada kontrak atau ikatan formal yang menunjukkan hak dan kewajiban masing-masing pihak,9 yang penulis istilahkan dengan inner social circle

mengingat relasi dibangun atas prinsip kesukarelaan.

Hal inilah yang penulis ingin dalami dalam studi yang dilakukan, yaitu mengeksplorasi tindakan reform kepala daerah sebagai aktor utama perubahan dan menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan reform yang dilakukannya; selain secara spesifik mendalami relasi kepala

birokrasi di daerah tersebut pada tahun itu, merupakan salah satu contoh konkrit. Contoh lain adalah apa yang terjadi di Jembrana pada masa kepemimpinan Winasa. Perubahan di Jembrana sesungguhnya tidak hanya terjadi karena faktor kuatnya visi perubahan yang digagas Sang Kepala Daerah, tapi juga karena peran Sekda (Gede Suinaya, sebelumnya pejabat di Depdagri) yang mampu menerjemahkan gagasan Winasa kedalam kebijakan yang implementatif selain mengkonsolidasikan birokrasi serta memiliki hubungan yang kuat dengan pusat (Studi AKATIGA, 2009). Selain itu kesuksesan Gamawan memimpin Kabupaten Solok tak dapat dilepaskan dari keberhasilannya menata birokrasi, mengingat Gamawan sebelum menjabat sebagai bupati, mengawali karirnya sebagai PNS di Kabupaten Solok hingga menjabat sebagai sekda pada jabatan terakhirnya.

7

Temuan studi AKATIGA (2009) tentang local reform di Kab. Kebumen menunjukkan, agenda reform (pelaksanaan kebijakan Alokasi Dana Desa) di daerah tersebut dapat berlangsung baik karena terjadi kerjasama antara pemerintah daerah (terutama Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa atau Bapermades) dengan masyarakat (unsur -unsur masyarakat sipil seperti para aktifis desa dan para penggiat NGO yang tergabung didalam Foru m Masyarakat Sipil atau FORMASI Kebumen).

8 “…Ini informasi yang saya butuhkan. Kalau birokrasikan sukanya kasih informasi yang baik

-baik saja… Biar saya

senang… Padahal saya pengen tahu kondisi realnya seperti apa…” (wawancara dengan Jokowi pada 30 Desember 2010). 9“Saya punya staf ahli non PNS, staf khusus yang orang nggak ngertilah (tidak banyak diketahui orang, pen), yang sering memberikan suara (masukan, pen) kepada saya. Yang masih jelek disebelah sini, yang masih kurang bagus disebelah

(4)

daerah dengan multi aktor, terutama dengan para aktifis masyarakt sipil, sebagai fenomena baru yang menarik untuk ditelisik.

Pilihan atas tema dilakukan mengingat studi mengenai hal tersebut relatif terbatas sementara kebutuhan studi semakin terus meningkat. Terkait dengan kemampuan kepala daerah mengembangkan hubungan (connecting) dengan multi aktor misalnya, terdapat kebutuhan yang sangat mengingat terjadi perubahan tata hubungan antar aktor (struktural maupun non struktural) paska reformasi. Sebagai contoh terjadi perubahan pola hubungan kepala daerah dengan DPRD paska 1998. DPRD yang sebelumnya (UU No. 5/1974) menjadi bagian pemerintah daerah kini berada pada posisi setara dengan hak budgeting, legislasi, bahkan hak melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintah (local state). Meski kewenangan tersebut direduksi paska revisi UU No. 22/1999 menjadi UU No. 32/2004, terutama terkait dengan pembolehan tindakan

impeachment DPRD atas dasar kinerja pemerintah daerah (penolakan laporan pertanggung-jawaban), realitas menguatnya posisi DPRD terhadap pemerintah daerah tidak dapat dibantah.

Pola hubungan state-masyarakat sipil pun mengalami banyak perubahan. Arus demokratisasi yang makin menguat paska runtuhnya rezim Orba, menyebabkan hubungan state-civil society

yang sebelumnya penuh konflik, kini menjadi lebih kooperatif. Kerjasama NGO-state, bahkan aktifis NGO dengan state, belakangan makin sering terjadi. Diantaranya melalui sejumlah proyek seperti ILGR (Iniciatives For Local Governance Reform), LGSP (The Local Governance Support Program), DRSP (The Democratic Reform Support Program), IPGI (Indonesian Partnership on Local Governance Initiatives), dan SAPA (Strategic Alliance for Poverty Alleviation) Indonesia; proyek yang didanai sejumlah lembaga donor yang mensyaratkan keterlibatan pemerintah daerah sebagai pelaksana program, diantaranya berupa kesediaan memberikan dana pendampingan program (APBN dan APBD). Sebagai fenomena baru eksplorasi hubungan kepala daerah dengan aktifis masyarakat sipil dalam pengelolaan kekuasaan menarik dilakukan, terutama guna mendapatkan informasi yang memadai mengenai sejauhmana dan bagaimana hubungan tersebut berkontribusi mempercepat terjadinya perubahan.

Meski terdapat sejumlah studi tentang local reform, sayangnya sedikit saja yang secara spesifik membahas peran kepala daerah. Hal itu mengingat paska diberlakukannya kebijakan otonomi daerah, praktek desentralisasi di Indonesia dinilai masih menyimpan sejumlah persoalan dan sedikit saja yang sukses. Kalaupun ada, studi tidak secara spesifik difokuskan pada bahasan mengenai relasi aktor kepala daerah akan tetapi lebih kepada institusi pemerintah (Suharko, 2005), atau melihat relasi aktor dalam posisi yang lebih general sebagaimana dilakukan Zuhro, dkk (2009) yang mencoba mengeksplorasi peran berbagai aktor dalam proses demokratisasi di daerah(DPRD, elit partai politik, elit birokrasi, akademisi, ulama, tokoh adat, pengusaha, selain para aktifis NGO); selain minin kajian teoritis karena lebih merupakan policy research (Eko Prasojo dkk, 2004).

(5)

perubahan strategi yang terjadi pada NGO lokal (termasuk hubungan mereka dengan state) sebagai akibat perubahan kondisi politik Nasional. Dengan pertimbangan bahwa paska reformasi kemunculan Negara baik (good state) yang mewujud dalam sosok kepala daerah yang lebih pro terhadap agenda perubahan (local reform) mulai berkembang sebagai fenomena baru (selain karena impact agenda good governance), studi yang mengeksplorasi peran pemerintah (terutama kepala daerah) dalam mendorong perubahan, menjadi makin penting dilakukan.

Hal lain yang tidak kalah penting, studi relasi aktor yang ada umumnya lebih menekankan analisis hubungan state actors (pemerintah daerah, DPRD dan birokrasi) dengan aktor institusional (NGO dan ormas) dan kurang (sangat jarang) mengeksplorasi keterlibatan aktor individual semisal para penggiat masyarakat sipil atau civil society activist (aktifis NGO, tokoh, para profesional, akademisi, dan lain-lain). Mengingat terjadinya fenomena peningkatan peran aktor-aktor individual (inisiatif individual) sebagai dampak positif proses demokratisasi (kasus Refli Harun, Macica Mochtar, dan lain-lain) maupun dampak perkembangan teknologi informasi (kasus koin untuk Prita), studi tentang hal tersebut makin dirasakan sebagai kebutuhan.

1.2. Pertanyaan Penelitian

Secara spesifik studi dilakukan untuk menjawab pertanyaan umum maupun khusus. Pertanyaan umum yang ingin dijawab adalah bagaimana praktek local reform di Kota Solo pada era kepemimpinan Jokowi; sedangkan pertanyaan pertanyaan khusus dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses local reform terjadi di Kota Solo?

a. Apa tindakan reform Jokowi menghadapi kekuatan struktural yang dihadapinya dalam mengupayakan terwujudnya perubahan di Kota Solo dan mengapa serta bagaimana tindakan tersebut dilakukan?

b. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga tindakan reform tersebut berbuah hasilyang diharapkan?

2. Bagaimana hubungan antar aktor dalam proses local reform di Kota Solo dapat dijelaskan?

a. Siapa aktor yang terlibat dan bagaimana relasi antar aktor yang terjalin baik dalam kasus yang diteliti maupun dalam upaya reform di Kota Solo umumnya?

b. Bagaimana relasi Jokowi dengan CSO sebagai agensi yang memiliki minat cukup serius dalam upaya reform dan bagaimana pula relasi Jokowi dengan sejumlah CSA yang dijadikannya sebagai inner circle?

c. Mengingat relasi juga terjadi antar non state actor (CSO dan CSA), bagaimana gambaran hubungan antar CSO dan antar CSA maupun antara CSO dengan CSA di Kota Solo? Sejauhmana hubungan tersebut berkontribusi dalam upaya mewujudkan agenda local reform?

1.3. Tujuan Penelitian

Studi dilakukan dengan tujuan umum untuk memahami praktek local reform yang terjadi di Kota Solo. Selain itu studi juga dilakukan untuk mewujudkan tujuan khusus berikut:

1. Level mikro: memahami tindakan reform aktor kepala daerah dan menemukan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2. Level messo: memahami relasi kepala daerah dengan multi aktor dalam mendorong perubahan ke arah yang makin progresif.

(6)

1.4. Signifikansi Studi

Studi memberi sumbangan teoritis bagi ilmu sosiologi berupa gambaran mengenai proses perubahan sosial yang diinisiasi agen dan pertarungan yang dilakukan dalam menghadapi kekuatan struktural, serta gambaran mengenai bagaimana teori strukturasi Giddens (1984) digunakan (using theory) dalam memahami realitas; selain mencoba mencari aspek-aspek kebaruan (testing theory) dari teori tersebut melalui kasus yang diteliti. Bagi Sosiologi Politik, studi memberi gambaran dinamika kontestasi member dan challenger (oposan) memperebutkan

(7)

Bagian Kedua TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kerangka Teoretik

2.1.1.Social Action dan Upaya Mempengaruhi Struktur

Tindakan sosial (social action) merupakan bahasan sentral Sosiologi (weber, 1968). Satu diantaranya digagas Giddens (1984) dengan mengatakan bahwa riset ilmu sosial dan sejarah selalu menyangkut hubungan antara tindakan sosial (agen) dengan struktur. Pemikiran Giddens (1984) bersumber dari kritiknya terhadap kaum pluralis yang menurutnya terlalu menekankan agensi, sedangkan Marx sangat menekankan struktur; yang menyebabkan keduanya gagal menjelaskan hubungan struktur dan agency. Giddens menolak kedua pendekatan tersebut. Dengan fokus utama pada social practice yang berulang, yaitu bagaimana manusia menjalani hidup sehari-hari, Giddens menjadikan sehari-hari (duree) dan rutin (routine) sebagai dua kata kunci penting, selain konsep ruang dan waktu; yang terkait erat dengan tindakan aktor memproduksi struktur (tindakan

reform) dan reproduksi struktur (upaya menstrukturkan tindakan reform).

Teori strukturasi Giddens (1984) digunakan sebagai pisau analisis dengan tiga pertimbangan. Pertama, Teori strukturasi Giddens lebih dapat menggambarkan dinamika “perlawanan” agen terhadap kekuatan struktural. Kedua, Giddens memaknai struktur dalam terminologi berbeda dibanding para teoretisi lainnya. Struktur tidak diterjemahkan sebagai kekuatan yang ada diluar individu yang menstruktur semisal Negara (state) atau sesuatu yang tetap bentuk dan wujudnya sebagaimana lazim dipahami teoritisi struktural fungsional; akan tetapi sebagai structuring properties yang terdiri dari rules dan resources. Ketiga, Giddens memasukkan konsep power

sebagai salah satu sumber kekuatan agen mengendalikan kekuatan struktur, bahkan menunjukkan perbedaan kemampuan agen yang sangat ditentukan oleh kapasitas power yang dimiliki.

Dengan menggunakan model stratifikasi agen, penulis mencoba memahami tindakan reform Jokowi di Solo, yang di dalam model digambarkan bahwa agen melakukan sejumlah tindakan berupa monitoring refleksif tindakan (the reflexive monitoring of activity) atas kegiatan sehari-hari (everyday action), serta melakukan rasionalisasi tindakan (rationalization of action) atas tindakan monitoring tersebut, agar tindakan reform (social production) secara terus-menerus dapat dipertahankan keberlanjutannya (menghasilkan struktur baru atau social reproduction).

Gambar 2.1 Model Stratifikasi Agen

Selain itu, terdapat motivation of action yang menggambarkan keingingan-keinginan yang mengarahkan tindakan agen. Selain terdapat motif sadar, aktor memiliki apa yang disebut Giddens dengan unconscious motives (nurani). Kemampuan agen mempengaruhi struktur menurut Giddens selain dipengaruhi oleh faktor kompetensi agen untuyk make differents, juga oleh unconscious motives yang tingkat abstraksinya sangat tinggi dan yang sekaligus merupakan ciri penting tindakan manusia. Selain itu terdapat practical consciousness (kesadaran praktis), yaitu tindakan yang dianggap paling benar untuk dilakukan tanpa mampu mengungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang dilakukan; serta kesadaran diskursif berupa kemampuan menggambarkan tindakan dalam kata-kata.

Kesadaran Diskursif Kesadaran Praktis Kognisi/motif tak sadar monitoring refleksif

tindakan

rasionalisasi tindakan

motivasi tindakan

Konsekuensi tindakan yang tidak diinginkan Konsekuensi

(8)

Gambar 2.2 Bentuk-bentuk Kesadaran Agen dalam Tindakan Reform

Studi secara lebih spesifik menguji sejumlah proposisi teori Giddens, yaitu sebagaima tertera dalam tabel berikut:

Tabel 2.1

Proposisi Tindakan Reform Agen Mempengaruhi Struktur

Proposisi ke-1 Agensi tidak merefer kepada adanya kesengajaan atau adanya tujuan untuk melakukan tindakan (the intentions people have in doing things), akan tetapi lebih kepada kapabilitas (capability of agen) membuat perbedaan (make different) dan itu sebabnya mengapa tindakan agen tekait dengan power, karena tindakan agen tidak akan memproduksi struktur jika individu tidak melakukan intervensi terhadap tindakan tersebut. (Giddens, 1984:9)

Proposisi ke-2 Agensi tidak selalu tunduk pada struktur, karena ia dapat meninggalkan struktur dengan mencari kesempatan dan kemungkinan untuk keluar dari peraturan dan ketentuan yang ada karena adanya keterbatasan jangkauan kontrol rules atas agensi (dialectic of control) berupa segmental autonomy (otonomi berlaku pada segmen/lapisan tertentu) (Giddens, 1984;16)

Preposisi ke-3 Struktur tidak meng-constrain. Struktur selalu constraining dan enabling berdasarkan hubungan yang ada antara struktur dan agen (Giddens, 1984:205)

Proposisi ke-4 Pembentukaan agen dan struktur bukanlah fenomena yang saling terpisah (dualisme), akan tetapi merupakan dualitas. Momen memproduksi tindakan (reproduksi stuktur) pada saat yang sama juga merupakan momen reproduksi struktur.(Giddens, 1984:25-26).

2.1.2.State-Society Relation

Salah satu upaya Jokowi untuk mengatasi kendala struktural yaitu dengan mengembangkan hubungan dengan multi aktor, diantaranya dengan non-state actor baik institutional actors (NGO, Ormas, PT, media massa, dan lain-lain) maupun individual actors seperti para penggiat kemasyarakatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, akedemisi, praktisi, dan lain-lain. Lebih khusus dengan sejumlah civil society activist (CSA) yang terhubung dengan CSO, yang dijadikan sebagai

inner social circle.

Relasi tersebut relatif tidak biasa, mengingat hubungan state-society selama ini kerap diwarnai konflik.akan tetapi arus demokratisasi global (Gill, 2000) tak dapat dipungkiri telah mengubah relasi state-society yang semula penuh konflik tersebut kearah yang lebih harmonis (mutually reinforcing). Hubungan state-masyarakat sipil tidak lagi dilihat sebagai zero-sum game

akan tetapi lebih sebagai hubungan complimentary bahkan synergistic (Robinson and White, 1998).

Terjadinya perubahan relasi state-masyarakat setidaknya didukung oleh dua teori utama, yaitu struktur peluang politik (opportunity political structure) (Tarrow 1994; Farrington dan Lewis, l993:34) dan mobilisasi sumber daya (Tilly 1978; McCarthy dan Zald 1987). Diluar

mainstream tersebut, terdapat sejumlah faktor lain yang juga menjadi penyebab perubahan bentuk hubungan state-masyarakat sipil, yaitu faktor desentralisasi disektor publik, program penyesuaian struktural, dan tekanan donor kepada Negara agar mau melakukan kerjasama yang lebih erat dengan masyarakat sipil, terutama dengan NGO (Suharko, 2005). Selain itu berbagai diskursus teoritis tentang pembangunan, turut mendukung “pola baru” hubungan tersebut. Kolaborasi yang terjadi antara government dengan NGO misalnya, dianggap menjadi katalisator bagi kesuksesan pembangunan (Suharko, 2001). Dalam konteks state-society synergy, Evans (1996) mengatakan bahwa hubungan yang saling menguatkan dan menguntungkan antara government dengan kelompok-kelompok masyarakat dapat menjadi alasan tercapainya tujuan pembangunan. Hal itu diperkuat Brown & Ashman (l996) yang menilai bahwa hubungan (kerjasama) antara government

dengan NGO dapat memberi kontribusi penting bagi penyelesaian berbagai masalah krusial dalam pembangunan, seperti yang terjadi di berbagai negara Afrika dan Asia.

(9)

diantara mereka. Adanya perbedaan identitas, tujuan, dan terutama sejarah sosial, menjadi beberapa sebab mengapa hubungan diantara keduanya sulit untuk mewujud dalam bentuk kolaborasi. Hal itu diperparah dengan adanya fakta realitas bahwa masing-masing pihak kerap mengembangkan cara pandang mereka sendiri tentang dunia sekelilingnya serta peran yang harus mereka mainkan dalam pembangunan (Suharko, 2005:35). Hal itu pula yang menyebabkan ketika kedua belah pihak berinteraksi, problem kekuasaan (power) akan selalu muncul dan mempengaruhi sifat dan dinamika hubungan mereka (Farrington dan Bebbington, 1993; dalam Suharko, 2005:35).

Munculnya resistensi masing-masing aktor dimungkinkan karena apa yang disebut dengan

framing process. Masing-masing aktor membangun pandangan (frame) tertentu atas eksistensi aktor lain dan atau atas dirinya (kelompoknya) sendiri. Framing process dapat memunculkan stigmatisasi aktor atas aktor lain yang mewujud dalam bentuk ketidak-percayaan. Hal-hal inilah yang pada gilirannya dapat mempengaruhi hubungan antar aktor mengingat mutual trust

merupakan prasyarat yang diperlukan guna mewujudkan hubungan yang baik (produktif) selain

complementary strengths, reciprocal accountability, joint decision making, dan lancarnya pertukaran informasi diantara mereka (Postma, 1994:451). Karena barier tersebut dapat dimengerti mengapa hubungan yang terbangun antara state dengan masyarakat sipil dalam tataran praktek sering bersifat permukaan (taktis pragmatis) dan tidak bersifat ideologis (Suharko, 2005).

Lalu bagaimana bentuk dan sifat hubungan yang mungkin terjadi antara state dengan society

dalam konteks relasi yang lebih mengarah pada kemitraan ketimbang konflik? Berdasarkan studi kasus di Asia, Amerika Latin, dan Afrika; meski lebih dimaksudkan sebagai bentuk hubungan NGO dengan Pemerintah10 (Farrington dan Bebbington, 1993), umumnya ada tiga bentuk hubungan, yaitu: interaksi, keterkaitan (linkage), dan kerja sama11 dengan bentuk keterkaitan merupakan tipe dominan. Hubungan dibangun atas dasar pertimbangan taktis pragmatis ketimbang ideologis, karenanya meski fenomena peningkatan hubungan kerjasama antara

NGO-government cenderung meningkat, pengembangan mekanisme keterkaitan antara kedua belah-pihak dalam bentuk yang lebih formal dan terstruktur, jarang terjadi. Sementara mengenai sifat hubungan, merujuk pada studi Jamil (1998) tentang kasus dinegara-negara berkembang, kerja sama NGO-state lebih kondusif ditingkat lokal dan umumnya berlangsung pada tahap implementasi ketimbang pada tahap perumusan substansi kegiatan, dengan sifat hubungan lebih taktis pragmatis ketimbang substantif ideologis. Sememntara jika dihubungan dengan pencapaian agenda masing-masing aktor, hubungan dapat bersifat positif atau negatif. Hubungan dinilai positif jika menguatkan peran dan fungsi masing-masing, sementara hubungan bersifat negatif jika sebaliknya. Dengan mengacu pada penjelasan tersebut; maka pola hubungan yang mungkin terjadi antara state-society (termasuk hubungan antara Jokowi dengan masyarakat sipil di Kota Solo baik dari dengan NGO maupun CSA), dapat mengikuti pola pada tabel 2.3 tentang Pola Hubungan State-Society.

10 Perwujudan agenda local reform meski secara legal-formal menjadi tanggung-jawab state, namun dalam praktek keterlibatan non state actor tak dapat dihindarkan (bahkan sangat dibutuhkan). Terdapat sejumlah kontribusi agencies dalam hal ini CSO dalam local reform menurut Putnam (1993), yaitu: mengembangkan modal sosial, trust, dan melakukan shared values; “…non-political organizations in civil society are vital for democracy. This is because they build social capita l, trust and shared values, which are transferred into the political sphere and help to hold society together, facilitating an understanding of the interconnectedness of society and interests within it.” Sementara itu Warren’s mengatakan, NGO yang merupakan salah satu unsur dari CSO yang relatif memiliki agenda reform yang cukup

progresif:”…civil society groups can provide better social services than the state is capable of, and sometimes can even have a more efficient way of mitigating social exigencies. Hal senada dikatakan pula oleh Fowler (1997) yang sependapat dengan Clark (1995), yaitu bahwa NGO memberikan kontribusi pada pendekatan mikro (penawaran) seperti penyediaan pelayanan ekonomi dan sosial, dan pendekatan makro (permintaan), seperti menjadi artikulator suara rakyat.

(10)

Tabel 2.3

2.1.3.Hubungan antar State Actor dan antar Non State Actor

Selain hubungan antara state-society atau antara state-actor dengan non state actor, hal lain yang juga diekplor didalam studi terkait dengan hubungan antar state actor atau antar non state-actor itu sendiri. Hubungan antar state actor umumnya sangat terkait dengan kewenangan (official power) masing-masing pihak, yang paska diundangkannya kebijakan otonomi daerah mengalami perubahan mencolok.

Lalu bagaimana dengan relasi antar non state-actor baik antar CSO maupun antar CSA mapun antara CSO dengan CSA? Sebagaimana diungkap Tilly dalam the Polity Model (Tilly, 1978), dalam suatu collective action dimungkinkan terjadikonflik diantara aktor-aktor yang terlibat; diantaranya akibat perebutan resources antara member (anggota collective action yang merupakan pendukung utama state) dengan challenger sebagai pihak yang mencoba masuk atau menjajagi kemungkinan menjadi member. Selain berebut resources, konflik juga dapat terjadi karena member berupaya mempertahankan posisinya agar tidak “digeser” oleh challenger. Sumber konflik lainnya dapat terjadi karena adanya perbedaan pandang antara CSO dan CSA tentang perlunya mengembangkan hubungan dengan state. Meski relasi state-society mulai menjadi fenomena mengemuka, perbedaan pandang tentang hal ini masih cukup tajam diinternal masyarakat sipil. NGO juga cenderung berada dalam posisi mendua antara kerjasama dan konfrontasi dalam menilai penting tidaknya membangun hubungan dengan state (Suharko, 2005); atau sebagaimana diungkap Farrington dan Bebbington (1993), hubungan state-society yang lebih banyak berupa hubungan keterpaksaan atau reluctant partnership ketimbang hubungan kerjasama. 2.2. Telaah Studi Terdahulu

2.2.1. Local Reform dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi keberhasilan local reform. Sebagaimana temuan studi Grindle (2007) di Meksiko, terdapat signifikansi faktor kepala daerah selain faktor di luar kepala daerah (eksternal) dalam mendorong perwujudan salah satu agenda local reform

(11)

dalam mendorong perubahan melalui kebijakan Alokasi Dana Desa dan pengembangan prinsip transparansi). Fakta yang sama juga ditemui di Jembrana (Winasa dengan kebijakan Jaminan Kesehatan Jembrana atau JKJ), yang menonjol lantaran gagasan inovasinya selain adanya dukungan sekda yang mampu menerjemahkan gagasan inovasi Winasa kedalam tataran implementatif. Hal itu diperkuat dengan temuan studi Eko Prasojo, et al (2007), yang menunjukkan bahwa faktor tampilnya tokoh pemimpin lokal yang kuat, aktif, dan responsif; jauh lebih menonjol ketimbang ketersediaan anggaran di daerah (kasus Kabupaten Jembrana) serta studi Zuhro, dkk (2009-2011).

Berbagai studi tersebut tersebut mempertegas siginifikansi peran aktor kepala daerah dalam mendorong perubahan, meski hal itu tidak berdiri sendiri karena terdapat faktor lain (eksternal agen kepala daerah) yang juga memberi pengaruh. White dan Smoke (2003) yang melakukan studi terhadap proses awal desentralisasi di negara-negara Asia Tenggara dan Cina, memperkuat kesimpulan adanya kekuatan faktor eksternal, dengan temuan studinya bahwa desentralisasi hanya akan efektif jika didukung oleh keberadaan tiga hal, yaitu: (1) tata kerja kelembagaan lintas unit pemerintahan yang koheren; (2) mekanisme transfer fiskal yang jelas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah; dan (3) mekanisme akuntabilitas yang efektif untuk mengontrol kinerja pemerintahan di tingkat lokal (Prakarsa, 2010).

2.2.2.State-Society Relation dan Dinamika Hubungan Negara dan Kekuatan Masyarakat (terutama Masyarakat Sipil) di Indonesia.

Hubungan state-society di Indonesia, terutama dengan kekuatan masyarakat sipil sebagai aktor yang memiliki perhatian khusus terhadap kebijakan dan agenda-agenda pembangunan, berlangsung penuh dinamika dan sangat problematik. Hal tersebut sebagaimana diuraikan pada bahasan berikut:

a. Masa Orde Baru (1966-1998):

Pemerintah rezim Orde Baru, menciptakan sistem politik berbasis negara yang kuat sebagai upaya meminimalisir potensi konflik sosial disatu sisi dan memaksimalknan produkstifitas ekonomi disisi lain (Mas’oed, 1989). Hal itu dilakukan melalui politik depolitisasi (Hikam, 1999) atau partisipasi terkontrol (Liddle, 1999), baik secara langsung yaitu masyarakat pedesaan yang merupakan bagian terbesar penduduk Indonesia (melalaui kebijakan masa mengambang), maupun secara tidak langsung (melalui korporatisasi negara, kooptasi, dan hegemoni ideologi). Menghadapi kebijakan negara yang represif (Arif Budiman dan Tornquist, 2005), kekuatan masyarakat yang tergabung di dalam gerakan pro-demokrasi muncul beragam baik metode (koreksi atau konfrontasi), keluasaan daerah geraknya (lokal, nasional, internasional), maupun para aktor yang terlibat (mahasiswa, pers, dan partai politik).

(12)

melakukan perubahan strategi dengan terlibat dalam berbagai aktifitas mengkampanyekan agenda pro-demokrasi, diantaranya dengan memfasilitasi perlawanan grassroots menolak dominasi kekuasaan dan berjuang untuk mendapatkan hak atas keadilan dan kehidupan ekonomi yang lebih baik.

b. Masa Reformasi

Paska jatuhnya Soeharto, peran NGO makin signifikan dengan terlibat aktif dalam mendorong percepatan proses transisi demokrasi melalui keterlibatan aktif dalam berbagai agenda penguatan masyarakat sipil (Hadiwinata, 2000). Hal itu karena sistem politik Orba memberi ruang lebih luas bagi NGO, sehingga hubungan NGO-pemerintah dapat berjalan dengan berbagai cara (Suharko, 2005). Namun demikian NGO lebih banyak memainkan peran sebagai social movement

(fokus pada agenda perubahan sosial dan perubahan struktur politik atau developing democracy), dengan pemikiran bahwa persoalan masyarakat (kemiskinan misalnya) bukan terjadi lebih akibat kebijakan yang salah (tidak pro poor) dan bukan semata karena masalah in-capacity masyarakat (Hadiwinata, 2000). Dengan kata lain pada masa reformasi terjadi perubahan strategi NGO yang pada era orba sangat bias pendekatan developmentalist (Fakih, 1992; Cula, 2005), dengan mulai terlibat aktif dalam social movement. Namun demikian, NGO berhadapan dengan kendala diinternal dirinya sendiri, yaitu efektifitas networking, bias paternalistik, kecocokan metode yang digunakan (kurang sesuai dengan nilai-nilai lokal dan lebih banyak merujuk pada konsep-konsep global), serta adanya problem keterbatasan internal (budaya organisasi) NGO itu sendiri (Hadiwinata, 2000).

Sedangkan tendensi hubungan NGO-pemerintah (Suharko, 2005), meski konteks politik yang lebih demokratis telah tercipta (paska reformasi), tidak menimbulkan pergeseran berarti dalam hubungan NGO-pemerintah. Kedua pihak masih saling enggan membangun kemitraan. Pemerintah pasca orba cenderung mengambil model benign neglect (pengabaian yang baik), sedangkan NGO berada dalam posisi mendua antara kerjasama dan konfrontasi. Tantangan hubungan NGO-state diantaranya bersumber dari internal NGO itu sendiri (inefisiensi manajemen, pertikaian antar aktivis, kurangnya transparansi, dan lain-lain), selain adanya problem keberlanjutan sumber keuangan NGO (masih sangat bergantung pada donor).

Tantangan hubungan masyarakat sipil-State dalam kasus hubungan kolaboratif yang coba dibangun antara NGO-pemerintah dalam program JPS yang difasilitasi oleh lembaga donor (World Bank) sebagaimana studi Suharko (2005), mengalami kegagalan karena baik pemerintah maupun NGO sulit melepaskan diri dari sikap yang mereka kembangkan sebelumnya. NGO sejak awal mengkritik program JPS yang dinilai tidak partisipatif selain karena adanya temuan indikasi kebocoran anggaran dalam pelaksanaan program tersebut, serta rendahnya komitmen pemerintah mengembangkan nilai-nilai good governance dalam tataran yang lebih substantif. Signkatnya terdapat peta jalan yang cukup terjal guna membangun hubungan sinergis antara pemerintah dan NGO dalam proses pembangunan, meski beberapa kemajuan berarti juga ditemukan, diantaranya pemerintah daerah berhasil “dipaksa” Bank Dunia yang bertindak sebagai fasilitator untuk meningkatkan akses informasi dan transformasi dalam impelementasi program JPS. Selain itu keterlibatan NGO dalam mendukung pelaksanaan program pemerintah (dalam Forum Lintas Pelaku) dapat ditingkatkan setelah dilakukan perbaikan disain program atas usulan NGO. Kesemua hal tersebut menunjukkan bahwa meski relasi state-society mulai mengalami perbaikan pada masa reformasi, mengembangkan hubungan kerjasama dalam arti yang sesunggunya antara masyarakat sipil dan negara tidaklah mudah.

2.3. Kerangka Pemikiran

(13)

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Tindakan Reform Agen dalam Local Reform

Merujuk pada gambar 2.3 tentang Kerangka Pemikiran Tindakan Reform Agen, kepala daerah sebagai aktor utama reform mampu melakukan tindakan reform mempengaruhi struktur guna mewujudkan perubahan karena berbagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor dimaksud berdasarkan tinjauan pustaka dan telaah hasil studi serta preliminary studi yang dilakukan dapat dikategorikan kedalam dua kelompok, yaitu faktor personal aktor (internal aktor) dan faktor non personal (eksternal aktor). Faktor personal diantaranya menyangkut latar belakang pendidikan, keluarga, profesi; sedangkan faktor eksternal terkait dengan perubahan paradigma politik terutama karena proses demokratisasi global yang melahirkan reformasi di Indonesia, kondisi sosio kultural masyarakat solo, konstelasi politik yang ada, serta dinamika masyarakat dimana kepala daerah tersebut memimpin.

Untuk menggambarkan dinamika relasi antara agen kepala daerah dengan multi aktor tersebut, penulis menggunakan the Polity Model (Tilly, 1978) sebagai pisau analisis. Digunakannya the Polity Model dengan pertimbangan bahwa model ini dinilai mampu menjelaskan dinamika relasi antar aktor. The Polity Model menggambarkan interaksi antar grup dengan sebuah group collective action, yang terdiri dari komponen-komponen berikut: populasi12,

a government, satu atau lebih contender13 dimana di dalamnya terdapat member atau pendukung dan challenger atau oposan, sebuah polity (merupakan collective action yang terjadi antara

member dengan government), dan satu atau lebih koalisi.14 Dinamika hubungan antar aktor di dalam the polity model terjadi karena adanya upaya member dan challlenger memperebutkan posisi dalam polity, yaitu untuk melakukan kontrol atas resources. Tujuan akhir tidak lain agar dapat meningkatkan kepemilikannya atas resources. Dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki, challenger senantiasa mencari cara agar dapat “merangsek” masuk ke dalam polity, sementara member mencoba melakukan sejumlah cara agar posisinya dalam polity tetap aman.

12 Populasi adalah sesuatu yang menjadi interest peneliti untuk diamati, government diterjemahkan sebagai organisasi yang mengontrol konsentrasi prinsip-prinsip utama means of coercion di dalam populasi.

13Contender adalah people atau resources yang mempengaruhi government, termasuk didalamnya challenger dan members of the polity. Member merupakan pendukung government yang tidak perlu banyak dikontrol, sementara challenger (contender) bersifat kebalikan dari member.

14 Coalition merupakan a set of contender dan atau government yang berkordinasi satu sama lain dalam collective action.

(14)

Hal itu dengan tujuan agar kontrol yang dimilikinya atas resources tetap dapat dipertahankan. Dengan terjadinya kontestasi antara challenger dengan member dalam memperebutkan sumber daya, sangat dimungkinkan terjadinya perubahan posisi antara member dengan challenger.

Mereka yang pada awalnya menjadi pihak oposan/pihak yang berseberangan dengan government

dapat berubah menjadi member dan demikia pula sebaliknya. Member dapat terlempar dari posisinya dan menjadi challenger. Atau kalaupun tidak otomatis terlempar keluar dari polity, hubungan tersebut dapat “merenggang” atau “menjauh” (misal dari ring satu menjadi ring dua).

Dengan merujuk pada the Polity Model (Tilly, 1978), penulis mencoba mengapliksikan model ke dalam kasus yang diteliti, dengan pertama-tama mengidentifikasi siapa yang menempati posisi government dan siapa pihak-pihak yang berada dibawah kontrolnya, sebelum melakukan analisis terhadap dinamika hubungan yang terjadi. Pihak yang diperkirakan menempati posisi sebagai government adalah kepala daerah dan wakil kepala daerah (Jokowi dan Rudy), sementara posisi member ditempati oleh birokrasi, DPRD (fraksi pendukung pencalonan Jokowi menjadi Walikota Solo), CSA (merujuk pada preliminary study adalah tiga orang yang disebut Jokowi sebagai staf ahli non formal), NGO yang setuju (mendukung) tindakan reform

Jokowi dan Rudy (terutama kebijakan Jokowi dan Rudy dalam dua kasus yang diteliti), serta organisasi PKL dan penduduk bantaran seperti paguyuban dan sejenisnya yang setuju dengan kebijakan relokasi penduduk bantaran maupun penataan PKL, dan PKL atau penduduk bantaran itu sendiri. Sedangkan yang diperkirakan menempati posisi challenger adalah para aktor individual dan institusional (NGO, ormas, dan lain-lain) yang menolak kebijakan Jokowi dan Rudy pada dua kasus yang diteliti, yaitu: organisasi PKL dan penduduk bantaran, serta warga bantaran dan PKL. Media massa sebagai kekuatan kritis kemungkinan besar menempati posisi sebagai challenger, meski tidak tertutup kemungkinan menempati posisi member mengingat keberadaan koran (media) pemerintah juga merupakan realitas yang banyak ditemui. DPRD non pendukung kemungkinan besar menempati posisi challenger, meski karena oposisi bukan merupakan realitas politik yang dipraktekkan secara tegas di Indonesia, kemungkinan mengambil posisi sebagai member juga sangat terbuka. Diluar aktor-aktor yang telah disebutkan sangat terbuka kemungkinan adanya aktor-aktor lain yang belum diidentifikasi, yang dapat melengkapi gambaran mengenai relasi antar aktor yang terjadi.

Gambar 2.4 The Polity Model

--- Coalition

POPULATION

POLITY

Government

Member 3

Challenger 1

Challenger 4 Challenger 2

Challenger 3 Member 4

Member 1

(15)

Bagian Ketiga

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Pendekatan dan Tipe Penelitian

Studi menggunakan pendekatan kualitatif mengingat studi yang dilakukan merupakan proses untuk memahami masalah sosial atau manusia, yang merujuk pada empat tradisi sosiologi (Berger, 1963), lebih difokuskan pada upaya memahami tindakan manusia (social action). Terutama terkait dengan pola dan konsekuensi tindakan, baik intended maupun unintended concequences dari purposive human action, yaitu tindakan aktor kepala daerah dalam social practice “melawan” kekuatan struktural, guna memproduksi struktur dan mereproduksi struktur (social reproduction), berupa pola-pola tindakan “baru” sebagai alternatif tindakan mewujudkan agenda local reform. Praktek sosial tersebut dihadirkan melalui penggambaran kondisi realitas holistik, dengan pengumpulan kata-kata berdasarkan laporan terperinci informan yang disusun dalam latar ilmiah (Creswell, 1994). Gambaran dimaksud meliputi informasi detail dan akurat tentang fenomena yang diteliti, latar-belakang dan konteks situasi yang terjadi, dokumentasi proses atau mekanisme yang berlangsung, mengklarifikasi tahapan-tahap yang berlangsung. serta menemukan model relasi yang efektif (Newman, 1999:21-22).

Hal ini selaras dengan tujuan studi yang diharapkan dapat: (1) menghimpun informasi yang mendalam tentang social practice; ditingkat mikro terkait dengan tindakan agen kepala daerah dalam mengupayakan reform serta faktor-faktor yang mempengaruhinya; ditingkat messo terkait dengan hubungan yang dibangun aktor kepala daerah dengan multi pihak sebagai upaya mempengaruhi struktur); sedangkan dilevel makro studi pada akhirnya diharapkan dapat memproduksi dan mereproduksi struktur (social reproduction) melalui model ontology yang disusun berdasasarkan praktek reform dilokasi yang diteliti, yaitu Kota Solo. (2) gambaran lengkap dan detail kompleksitas persoalan local reform berdasarkan perspektif pihak-pihak yang terlibat, guna memahami persoalan secara komprehensif; (3) informasi yang memadai dihimpun sebagai bahan penyusunan model ontology (berdasarkan praktek reform yang berlangsung), dengan tujuan memudahkan replikasi praktek sosial tersebut di daerah lain, yang sekaligus menjadi tujuan studi dilevel makro; (4) studi lebih menekankan perhatian pada proses dan bukan pada hasil akhir atau produk (bagaimana proses terjadinya social reproduction atau terjadinya produksi dan reproduksi struktur) ditingkat lokal, meski penggambaran hasil akhir tindakan

reform (berupa hasil reform) ditampilkan sebagai pelengkap (Creswell,1994).

Sebagai sebuah studi kualitatif studi ini bersifat deskriptif analitik dalam arti lebih kepada upaya menggambarkan realitas sosial yang kompleks (Vredenberg, 1979), yaitu memahami proses perubahan struktur sosial (produksi dan reproduksi struktur sosial) yang diinisiasi oleh tindakan aktor kepala daerah, dan tindakannya membangun relasi dengan mukti aktor dalam upaya mempengaruhi kekuatan struktur, yang diperoleh baik melalui kata-kata maupun gambar. Singkatnya peneliti berupaya melakukan pencarian terhadap fakta dan social practice yang terjadi sehari-hari (berulang), dengan memberi interpretasi yang tepat terhadap data dengan tujuan agar dapat membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan-hubungan antar berbagai fenomena yang diselidiki (Whitney dalam Moh. Nasir, 1999:63) serta berusaha memahami fenomena sosial yang ada (Masri Singarimbun dan Effendi, 1989), yaitu tindakan reform agen kepala daerah serta relasinya dengan multi aktor dalam proses reform di Solo.

(16)

social practice lebih komprehensif, guna menemukan pola-pola tindakan yang dilakukan kepala daerah dalam mengupayakan kebijakan pro-poor bagi masyarakat miskin. Mengingat kedua kasus berada pada tingkat penyelesian berbeda (upaya penataan PKL sudah mendekati tahap akhir sementara resettlement penduduk bantaran baru diselesaikan separuh lebih dari 1.576 rumah yang ingin ditata) dan dengan bobot kompleksitas permasalahan berbeda pula, volume informasi yang dihimpun dari kedua kasus tersebut relatif tidak sama.

Sementara itu mengenai bounded Sytem, gambaran detailnya adalah sebagai berikut:

a. Entitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Pemerintahan Kota Solo, dalam hal ini tindakan Walikota Solo periode 2005-2012 dan Wakil Walikota serta birokrasi yang menopangnya) serta multi aktor yang terlibat dalam upaya reform pada kedua kasus yang diteliti, yaitu penataan PKL dan pemindahan pemukiman ilegal dibantaran Sungai Bengawan Solo.

b. Setting waktu: 2005-2012, yaitu masa kepemimpinan Jokowi pada periode pertama dan kedua, hingga Jokowi diangkat menjadi Gubernur DKI pada Oktober 2012.

c. Setting tempat: Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.

d. Kasus: penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pemindahan (resettlement) pemukiman ilegal di bantaran Sungai Bengawan Solo.

3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian dilakukan mulai Juni 2010, yaitu ketika penulis melakukan studi awal (preliminary study) guna mendapatkan gambaran utuh mengenai kondisi lapangan dan memperkuat asumsi-asumsi yang dikembangkan dalam penyusunan proposal. Secara bertahap data terus dihimpun hingga mencukupi kebutuhan, yaitu hingga Desember 2012; sedangkan lokasi penelitian meliputi wilayah administratif Kota Surakarta (Solo)

3.3. Posisi dan Peran Peneliti

Dalam studi yang dilakukan penulis berperan sebagai peneliti dan sekaligus sebagai instrumen penelitian, yaitu bertindak sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, melakukan analisis dan penafsiran terhadap data, dan pada saat yang sama juga menjadi pelapor hasil penelitian (Moleong, 1994: 121). Karena hal itu keterbatasan dalam pelaksanaan peran disadari tidak dapat dihindari, diantaranya karena peneliti berasal dari masyarakat dengan kultur berbeda dengan masyarakat yang di teliti, terutama terkait dengan pengusaan bahasa dan budaya masyarakat setempat. Antisipasi dilakukan dengan berbagai perimbangan, diantaranya bahwa peneliti pernah terlibat dalam kegiatan studi lain di Kota Solo sebelumnya dan dengan isu relatif berdekatan yaitu studi Penyusunan Indeks Pembangunan Sosial untuk kasus sektor informal di Kota Solo dan Depok (Wirutomo, dkk; 2010), yang membantu penulis membangun networking

(17)

informasi yang hendak dikumpulkan, bahkan mendapat kemudahan berinteraksi secara intens dengan sejumlah aktifis NGO di Kota Solo dalam konteks relasi mereka dengan Pemkot Solo. 3.4. Pengumpulan Data

Terkait dengan sumber data, penulis menjadikan hasil wawancara dengan sejumlah informan dalam kedua kasus yang diteliti dijadikan sebagai sumber data utama, baik barupa data primer berupa yaitu data yang diperoleh melalui wawancara dan pengamatan yang dihimpun penulis melalui indepth interview maupun hasil pengamatan terhadap perkataan dan tindakan aktor dalam kasus yang diteliti; maupun data sekunder berupa sumber tertulis seperti koran, dokumen, foto, dan data statistik.

Pengumpulan data dilakukan dengan in-depth data collection yang berasal dari beragam sumber informasi dan menyajikan laporan deskripsi kasus tersebut berdasarkan fokus/tema yang menjadi sasaran peneliti. Untuk mengoptimalkan pemahaman mengenai kasus, peneliti memberi perhatian untuk mendapatkan pemahaman secara detail dan rinci menyangkut pilihan isu (tindakan reform kepala daerah dan relasinya dengan multi aktor khsusunya dengan CSO dan CSA dalam proses reform di Solo), konteks isu (kasus yang diteliti dan korelasinya dengan upaya terwujudnya percepatan perubahan), dan aktifitas (kasus yang diteliti yang melibatkan aktor kepala daerah dan multi aktor lainnya yang terlibat dalam kasus tersebut). Sementara itu berdasarkan ukuran (bounded case), studi ini meneliti institusi (group) yaitu NGO, Birokrasi Pemkot Solo, DPRD Kota Solo; aktor individual (kepala daerah, aktifis masyarakat sipil, tokoh, pakar, dan lain-lain), dan seluruh aktivitas yang dilakukan oleh institusi maupun aktor individual yang terlibat.

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah sbb :

a. Melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) kepada sejumlah informan.

b. Menghimpun informasi dari data sekunder baik yang berasal dari berbagai dokumen baik yang bersumber dari internal pemerintahan maupun diluar pemerintahan. Dokumen yang bersumber dari pemerintahan diantaranya adalah RPJPD, RPJMD Kota Solo, APBD, LKPJ, Perda, Perwa, dan SK Walikota terutama yang relevan dengan kasus yang dianalisis; sedangkan dokumen yang bersumber dari luar diantaranya berupa dokumen program ataukegiatan NGO selain analisis terhadap pemberitaan media massa mengenai kasus yang diteliti.

c. Melakukan analisis terhadap pemberitaan media massa mengenai kasus, yaitu pemberitaan dari media lokal seperti Harian Solopos, Suara Merdeka, dan Joglo Semar selain mengikuti diskusi mengenai Kota Solo dan dinamika perkembangan pembangunan di jejaring sosial. d. Observasi: mengikuti kegiatan kepala daerah dengan multi stakeholder baik dengan

sepengetahuan kepala daerah maupun tidak, untuk mendapatkan informasi yang lebih komprehensif mengenai relasi aktor.

Terkait dengan subjek penelitian, mengingat kerap terjadi overlapping dalam penentuan

subject matter studi tentang collective action, yaitu antara groups, movements, event, belief, populations, atau action dari collective action itu sendiri. Secara umum studi tentang collective action setidak-tidaknya terkait dengan dua hal dari unsur tersebut (Tilly, 1978:9); penulis merumuskan subjek penelitian studi ini sebagai berikut:

a. Kepala Daerah

b. CSO yang terlibat dalam pelaksanaan program/kebijakan kepala daerah terkati dengan penataan PKL dan pemindahan penduduk ilegal di bantaran Sungai Bengawan Solo, serta beberapa kebijakan yang relevan kepala daerah, yaitu Konsorsium Solo (koalisi LSM di Kota Solo), KOMPIP, PATTIRO, serta paguyuban PKL dan pedagang pasar yang terdiri dari SOMPIS, PEDANGKALISO, dan PAPATSUTA,

(18)

d. DPRD: anggota DPRD yang dari partai pendukung dan partai bukan pendukung pencalonan (periode kedua).

e. Birokrasi: Bappeda, Dinas Pasar dan Pedagang Kaki Lima (DPPKL), Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Kota (DTRK), Bapermas (Badan Pemberdayaan Masyarakat), Dinas Pariwisata, Bagian Hukum, dan Bagian Pemerintahan.

f. Tokoh dan Praktisi (Dosen UNS dan UNM, Pakar Planologi, budayawan, dan lain-lain) g. Pemberitaan Media massa: Harian Solo Pos dan Suara Merdeka serta Joglo Semar. h. Supir, ajudan, dan kepala kerumah-tanggaan.

i. Warga yang terkena dampak kebijakan (Penataan PKL dan Pemindahan Pemukiman Ilegal Bantaran Sungai Bengawan Solo).

3.5. Analisis dan Penyajian Data

Merujuk pada Creswell (2007), analisis dan penyajian data dilakukan peneliti melalui tahap-tahap berikut: managing, reading and memorizing, describing, casifying, interpreting, dan

representing and visualizing. Manajemen data dilakukan dengan mengorganisasikan data baik berupa rekaman maupun transkrip hasil wawancara. Hal itu dilakukan dengan mencermati secara seksama kata-kata, konteks, dan konsistensi data yang diperoleh untuk menemukan big ideas

(Krueger, 1998). Setelah itu penulis melakukan pengkategorisasian terhadap data yang dihimpun untuk kemudian ditafsirkan dengan menghubungkannya dengan teori dan konsep yang ada. 3.6. Strategi Validasi Data

Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi, yaitu pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data (Moleong, 2000: 178). Jenis triangulasi yang digunakan adalah dengan memanfaatkan penggunaan aneka sumber informasi, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan didepan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat umum, membandingkan hasil wawancara dengan dokumen, dan membandingkan hasil wawancara dan pengamatan dengan isi media tentang hal tersebut. Selain itu penulis juga melakukan strategi lain sebagaimana diungkap Creswell (2007) seperti mengumpan-balikkan data, analisis, penafsiran serta kesimpulan peneliti kepada beberapa informan kunci untuk memastikan tidak terjadi kekeliruan pemaknaan; menggambarkan proses dan setting situasi pada saat dilakukan pengumpulan data sehingga pihak-pihak yang mengkonsumsi hasil studi dapat memahami secara utuh tekstual dan kontekstual hasil studi; dan audit eksternal dari peneliti lain yang juga sedang melakukan studi tentang Solo (AKATIGA, dosen UNS) yang menjadi teman diskusi peneliti dalam banyak kesempatan.

3.7. Pembatasan dan Keterbatasan Studi

Disadari bahwa studi yang dilakukan memiliki sejumlah keterbatasan. Keterbatasan utama terkait dengan penguasaan bahasa dan budaya masyarakat yang diteliti. Untuk mengatasi hal tersebut, penulis melakukan beberapa strategi. Pertama, mencatat dan atau merekam perbincangan dengan informan sehingga peneliti dapat menanyakan makna kata-kata dalam bahasa setempat kepada pihak lain yang memahami untuk mendapatkan pemaknaan yang tepat. Kedua, mengkonfirmasi langsung kepada informan makna kata yang diucapkan pada saat wawancara dilakukan. Ketiga, mencoba memahami budaya masyarakat setempat dengan membaca sejumlah buku relevan dan mendiskusikannya dengan pihak-pihak yang penulis posisikan sebagai “guide”

(19)

penelitian, beberapa mahasiswa sosiologi dari UNS yang menjadi semacam “asisten peneliti”). Keempat, berinteraksi dan mengikuti kegiatan masyarakat setempat dalam berbagai kesempatan.

(20)

Bagian Keempat

MULTI AKTOR DALAM LOCAL REFORM DI KOTA SOLO

4.1. State Actor

4.1.1.Joko Widodo: Sang Kepala Daerah dan Aktor Utama Reform

Stateactor yang paling penting dalam proses reform di Kota Solo adalah Ir. H. Joko Widodo (Jokowi), yang menjabat sebagai kepala daerah di Kota Solo untuk dua kali masa bhakti, yaitu 2005-2010 dan 2010-2015, bersanding dengan F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakilnya. Dengan telah ditetapkannya Jokowi sebagai Gubernur terpilih DKI Jakarta pada 29 September 2012 paska Pilgub DKI Tahun 2012, kedudukannya sebagai Walikota Solo selanjutnya diduduki wakilnya, Hadi Rudyatmo, setelah Jokowi dilantik pada 15 Oktober 2012 lalu.

Terlahir sebagai muslim di Surakarta pada 21 Juni 1961, Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Sejak kecil dikenal pendiam dan karenanya tidak terlalu menonjol dibanding dengan teman-temannya; Jokowi juga dikenal toleran, ngemong,

senang menolong, dan mau bergaul dengan siapa saja (tanpa membeda-bedakan agama). Semasa sekolah misalnya, Jokowi hampir setiap hari membonceng Toto (sekarang menjabat sebagai Sekretaris Dewan di DPRD Kota Solo), tetangga dan adik kelsnya di sekolah, meski Toto bukan seorang muslim. Jokowi juga gembar memberi, seperti yang kerap dilakukannya kepada Mbah Harjo, nenek dengan 5 orang cucu dan nenek buyut dari 6 orang cicit, yang dulu tinggal dekat dengan tempat tinggal Jokowi (Ambarita dkk, 2012).

Berasal dari keluarga biasa dan bahkan pernah tinggal di bantaran Sungai (Kali Anyar), Jokowi kecil terbiasa menyaksikan fenomena kemiskinan di sekitarnya. Karena itu pula Jokowi mempunyai kecenderungan memberi perhatian kepada orang-orang miskin, terutama kanak-kanak, Hal itu kata Jokowi karena mengingatkannya pada keprihatinan hidup yang dilaluinya, dulu. “Pengalaman saya dulu, anak-anak di kampung itu suka susah disuruh mandi. Soalnya mereka itu kan kalau mandi tidak pakai sabun. Tidak ada duit. Jadi saya suka kasih anak-anak kampung buku dan sabun. Biar mau belajar dan rajin mandi…ha…ha….” (Wawancara dengan Jokowi, Juli 2011). Kemiskinan yang dialami juga mengasah Jokowi terbiasa bekerja keras dan pantang menyerah. Dalam kesempatan berdialog dengan anak-anak difabel pada sebuah acara yang diselenggarakan Hotel Paragon, Jokowi mengatakan: “Dulu itu kalau teman-teman saya belajar dua jam, saya belajarnya empat jam. Kalau teman-teman belajar empat jam, saya belajarnya juga harus lebih, jadi delapan jam… Soalnya saya itu kan tidak punya buku dan harus pinjam. Jadi supaya tidak ketinggalan harus gitu… jadi mainnya tidak banyak, cuma sedikit…” Dalam konteks bekerja keras itu pula ia mau “ngenger” dengan pamannya agar bisa terus bersekolah hingga ke tingkat perguruan tinggi,15 yang ia selesaikan dalam waktu 4,5 tahun. Termasuk lulus tercepat karena teman-teman Jokowi banyak yang lulus lebih lama dari itu.

Setelah lulus kuliah, Jokowi sempat mengadu peruntungan dengan bekerja di Aceh, yaitu PT Kertas Kraft Aceh Persero. Setahun setelahnya ia kembali ke Solo untuk menikah dan kembali ke Aceh dengan membawa keluarga. Setelah merasa mendapat pengalaman cukup, ia memutuskan kembali ke Solo dan bekerja di perusahaan mebel milik pamannya. Dua tahun setelah bekerja di Roda Jati, perusahaan pamannya tersebut, pada tahun 1988 Jokowi memutuskan memulai bisnis sendiri karena ingin mandiri. Bisnis perkayuan bukan barang baru bagi Jokowi karena ayahnya memiliki usaha penggergajian kayu di samping kediaman mereka di Kampung Tirtoyoso, Manahan; dan kakeknya pun sebelumnya memiliki usaha serupa. Jokowi merintis usaha dari nol sebelum akhirnya menjadi eksportir mebel kayu yang cukup sukses. Ia mengawali dengan melayani pasar domestik, yaitu mengerjakan pesanan pintu kusen dan lantai kayu dari pembeli di Jakarta. Karena tidak punya modal, kayu untuk bahan baku bahkan diambil (dengan berhutang) dari perusahaan milik saudara atau temannya. Karena itu ia sangat terpukul ketika setahun setelah

15

(21)

memulai usaha sendiri ia ditipu pembeli yang mengambil barang dalam jumlah banyak tapi tidak membayar.

Jokowi mulai merambah kepasar internasional pada tahun 1990-1991, ketika mendapat pesanan dari pasar internasional. Dari sinilah PT Rakabu yang didirikannya mulai berkembang (dari kelas PKL mulai berbadan hukum), hingga Jokowi kemudian mendirikan PT Rakabu Sejahtera, yang merupakan usaha patungan antara PT Rakabu dengan PT Toba Sejahtera (perusahaan milik mantan Menteri Perdagangan Binsar Panjaitan) yang dibentuk untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan baku mebel yang dikelolanya. Rakabu kini melayani semua pasar ekspor hampir disemua negara di benua Eropa, Australia, negara kawasan Timur-Tengah dan Asia, dengan pasar terbesar ke Eropa (hampir 80%). Pengalaman sebagai ekspotir mengajarkan banyak hal kepada Jokowi. Diantaranya bahwa ia harus menjaga profesionalitas dalam bekerja.

Meski semasa sekolah tidak banyak mengikuti organisasi,16 dalam profesinya Jokowi menjadi pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990) selain pernah menjadi Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996) serta menjadi Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007).

Hal lain yang menarik untuk dicatat, ibu merupakan sosok yang sangat kuat bagi Jokowi. Peristiwa-peristiwa berat dalam hidupnya dapat ia lewati diantara karena adanya dukungan sang ibunda, termasuk saat ia maju mencalonkan diri menjadi gubernur DKI. Secara berkelakar ibunda Jokowi (Sujiatmi) mengatakan bahwa ia merupakan penasehat spiritual Jokowi. “Dukune ya ibunya sendiri. Gini nih, tak sebul mbun-mbunane (saya tiup ubun-ubunnya)…” Sujiatmi juga mengaku selalu mendoakan jokowi dalam sholat tahajud yang dilakukannya tiap malam. “Doanya ya rahasia… tapi saya doakan, tiap sholat, sholat tahajud… pasti…” Mengenai sosok sang ibu, Jokowi mengatakan, “Ibu sangat disiplin, disiplin dalam mendidik kami dalam belajar. Tapi walau keras, dia tidak main lidi…”

Begitu pentingnya ibu dalam kehidupan Jokowi, ketika hendak mengambil keputusan penting Jokowi kerap meminta pendapat ibunya, “Firasat ibu itu sangat kuat… Pertimbangan batin itu perlu, pertimbangan batin terkait firasat, tidak bisa dihitung dengan kalkulasi matematis…Dulu saya pernah mau buka kantor di Dubai. Ibu saya bilang nggak usah jauh-jauh. Tapi saya bilang tidak apa-apa ya kalau dicoba. Terbukti akhirnya tutup juga…” Namun demikian, meski pengaruh ibunya cukup kuat, saat ditanya apa yang paling mempengaruhi kepemimpinan Jokowi, ia mengatakan bahwa pengalaman hidupnya yang sulit itu yang banyak memberi pengaruh (wawancara dengan Jokowi pada 27 Juli 2011).

Lalu bagaimana hingga akhirnya Jokowi memasuki dunia politik? Secara struktural ia tidak pernah menjadi pengurus PDIP, meski lingkungan disekitarnya banyak berasal dari PDIP. Sebagai contoh orang tua Jokowi (almarhum bapaknya) pernah menjadi satgas PDIP dan sahabat dekat Jokowi sesama pengusaha (pemilik penginapan dan rumah makan terkenal di Solo, Omah Sinten), juga adalah pejabat teras PDIP. Karir politik Jokowi dimulai ketika ia maju menjadi Walikota Solo, setelah mengikuti konvensi di PDIP. Awalnya Jokowi mencoba mendekati parpol berbasis agama (PAN dan PKS) untuk pencalonannya. Akan tetap karena tidak juga mendapat respon, ia akhirnya beralih ke PDIP. PDIP menerima Jokowi karena membutuhkan figur yang dinilai dapat mewakili kelompok Islam; mengingat Rudy, Ketua DPC PDIP, meski secara politik memiliki dukungan cukup kuat terutama ditingkat grassroots, namun memiliki kendala untuk maju menjadi calon walikota karena non muslim. Meski masyarakat Solo bukan masyarakat yang agamis, namun kehadiran pemimpin non muslim belum dapat diterima secara luas oleh masyarakat Kota Solo.

16

(22)

Keinginan Jokowi menggandeng kelompok agama ini menunjukkan kedekatan Jokowi dengan kelompok-kelompok dan tokoh agama. Hal ini tampak jelas dari dukungan yang diberikan kelompok dan tokoh agama ketika Jokowi running untuk jabatan Walikota Solo. Meski didukung PDIP, Jokowi mendapat dukungan sejumlah tokoh dan lembaga agama di Kota Solo, diantaranya dari LDII, MTA (Majelis Tafsir Al-qur’an), NU, Muhammadiyah, dan lain-lain. Kedekatan Jokowi dengan kelompok agama ini juga terlihat dari kebijakan Jokowi untuk Graha Sabha Buana, gedung pertemuan milik Jokowi yang berada di daerah Sumber, yang sudah sejak lama digunakan oleh kelompok-kelompok agama untuk berbagai kegiatan mereka secara gratis.

Kedekatan Jokowi dengan kelompok agama ini juga dapat dilihat dari hubungan yang cukup intens antara Jokowi dengan Ketua DPD PKS Kota Solo. Sebagaimana diungkap salah satu aktifis NGO di Kota Solo (PATTIRO), Jokowi memiliki hubungan cukup dekat dengan Sugeng, Ketua DPD PKS tersebut. Hal itu dapat dilihat dari kerapnya mereka bertemu. Hal ini dibenarkan Sugeng yang dalam pengakuannya kerap berdiskusi dengan Jokowi guna membicarakan persoalan Kota Solo. Pada saat proses pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI, Sugeng bahkan mencoba memfasilitasi agar Jokowi dapat “bersanding” dengan calon dari PKS, karena menurut pengakuan Sugeng, hal ini bahkan yang menjadi keinginan kuat Jokowi. Akan tetapi hal itu tidak dapat terealisir karena PKS pada awalnya ingin maju menggandeng Foke. Ketika belakangan PKS memutuskan “menerima lamaran”Jokowi setelah upaya bersanding dengan Foke gagal, kondisi sudah agak terlambat karena Jokowi sudah “menerima” pinangan Gerindra. Terlepas dari hal itu, hubungan diantara keduanya tetap baik dan tetap terjalin komunikasi hingga kini. Terakhir mereka berkomunikasi mengenai persoalan Kota Solo kedepan setelah Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI.

Mengenai kinerja Jokowi selama menjabat di Kota Solo sebagaimana banyak diekspose, menghantarkan Kota Solo pada perubahan yang sangat pesat. Beberapa kebijakan yang dinilai cukup progresif diantaranya adalah: merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari ke Pasar Klithikan Notoharjo hampir tanpa gejolak; merenovasi sejumlah pasar tradisional (34 pasar dari 41 pasar yang ada); memugar dan memfungsikan kembali Taman Balekambang yang lama terlantar serta beberapa cagar budaya lainnya; penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Surakarat (PKMS) dan Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS); selain keberhasilannya melakukan branding Kota Solo sebagai “The Spirit of Java” dan mengajukannya menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia. Paska diterima pengajuannya pada tahun 2006, Kota Solo terpilih menjadi tuan-rumah pelaksanaan konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 dan kerap menjadi tuan-rumah pelaksanaan even-even internasional lainnya setelah itu.

4.1.2.Wakil Walikota Solo FX. Hadi Rudyatmo: Orang Kedua, Bukan Nomor Dua

Sosok penting state actor lainnya adalah Fransiskus Xaverius (FX) Hadi Rudyatmo (Rudy), Wakil Walikota Surakarta untuk masa jabatan 2005-2010 dan 2010-2015. Dengan telah dikukuhkannya Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 15 Oktober 2012, Rudy menggantikan posisi Jokowi sebagai Walikota Soo hingga 2015 mendatang. Lahir di Solo pada 13 Februari 1960 dan beragama Katolik, Rudy menamatkan pendidikan (SLTA) pada tahun 1979. Sempat bekerja sebagai buruh di PT Konimex, yaitu dibagian keamanan, Rudy sudah mulai aktif memperjuangkan kepentingan buruh sejak bekerja di Konimex. Interaksinya dengan PDIP tak dapat dihindarkan mengingat keberadaan orang-tuanya yang merupakan anggota PNI, selain karena Kota Solo merupakan daerah basis ideologi PDIP. Interaksi masyarakat dengan ideologi PDIP (ideologi nasionalis, marhaen) karenanya menjadi sesuatu yang sangat mudah terjadi, sampai-sampai digambarkan bahwa bayi baru lahir pun sudah memiliki tanduk. (wawancara dengan Ketua DPD PKS Kota Solo pada 1 Desember 2012).

Gambar

Gambar 2.1  Model Stratifikasi Agen
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Tindakan Reform Agen dalam Local Reform
Gambar 2.4 The Polity
Gambar 5.1. Relasi Jokowi dengan multi aktor pada tahap awal kasus Penataan PKL
+4

Referensi

Dokumen terkait

Merujuk dari teori tersebut, maka dalam penelitian ini, penulis menggunakan 7 variabel sosial ekonomi pada analisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak daerah di

Pelajar yang terlibat tawuran itu berada dalam organisasi tertentu atau geng tertentu yangmemiliki sejumlah aturan, norma, atau kebiasaan yang harus diikuti.. Dalam geng

Orang-orang yang berada dalam kelompok elit netral tidak terlibat secara intesif dalam persoalan-persoalan politik, terutama pada persoalan kekuasaan melainkan

Sedangkan untuk pendapatan yang dihasilkan Orang Madura dari bekerja sektor informal didominasi (92,5%) oleh pengasilan diatas UMR Kota Solo serta budaya yang

Lebih jauh dijelaskan bahwa kata total (terpadu) menegaskan bahwa setiap orang yang berada dalam organisasi harus terlibat dalam upaya melakukan peningkatan secara

Hal sangat berbeda dialami oleh hunian yang berada di blok b memiliki karakter dimana para penghuninya sering terlibat dalam keributan, suka melanggar aturan yang telah

Sebagai orang yang terlibat dalam praktik dunia digital saat ini, informan tidak ada yang merasakan kesal dan sudah memaklumi kalau bisa multitasking untuk

Penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, dimana masyarakat yang terdiri dari orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, usahawan, dsb., didorong untuk terlibat secara