I. Pendahuluan
Bagian pendahuluan skripsi ini membahas latar belakang masalah disharmoni penghuni di Rusunawa Kota Tebing Tinggi. Latar belakang tersebut berfokus pada perkembangan kota, urbanisasi, terbatasnya lahan, tingginya harga tanah, dan permasalahan permukiman kumuh sebagai konteks munculnya Rusunawa sebagai solusi hunian terjangkau. Pembahasan juga menyinggung kondisi Rusunawa yang ada, termasuk kerusakan beberapa kamar, lingkungan yang kumuh, dan interaksi sosial penghuni yang kurang harmonis. Hal ini diakibatkan oleh latar belakang penghuni yang beragam dan minimnya interaksi positif. Rumusan masalah difokuskan pada ketidakharmonisan antar penghuni dan antara penghuni dengan pengelola. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kedua bentuk ketidakharmonisan tersebut. Manfaat penelitian dibagi dalam manfaat teoritis (menambah wawasan kajian ilmiah tentang interaksi sosial disharmonis) dan manfaat praktis (memberikan pemahaman permasalahan sosiologis dan referensi pengambilan kebijakan).
II. Kajian Pustaka
Bab ini menelaah konsep-konsep kunci yang relevan dengan penelitian. Konsep interaksi sosial dijelaskan secara rinci, meliputi definisi, faktor-faktor yang mempengaruhinya (situasi sosial, norma kelompok, tujuan pribadi, kedudukan, dan penafsiran situasi), serta bentuk-bentuknya, yaitu asosiatif (kerja sama, akomodasi, asimilasi, akulturasi) dan disosiatif (persaingan, kontravensi, pertentangan). Selanjutnya, dibahas konsep perilaku menyimpang, termasuk definisi, jenis-jenisnya (nonconform, antisosial, kriminal), dan teori-teori yang menjelaskan perilaku menyimpang dari perspektif individualistik dan sosiologis. Teori labeling (pemberian cap) dijelaskan sebagai salah satu teori yang relevan dalam memahami bagaimana reaksi masyarakat terhadap perilaku menyimpang dapat memperkuat atau memperburuk perilaku tersebut. Bab ini juga mencakup konsep habitus dan lingkungan, modernitas dan identitas pada masyarakat berisiko, dan pembangunan Rusunawa sebagai konteks penelitian.
2.1 Interaksi Sosial
Bagian ini mendefinisikan interaksi sosial, menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti situasi, norma, tujuan individu, status, dan penafsiran situasi. Kemudian dijelaskan bentuk-bentuk interaksi sosial asosiatif dan disosiatif, meliputi kerja sama, akomodasi, asimilasi, akulturasi, persaingan, kontravensi, dan konflik. Penjelasan ini penting untuk memahami dinamika sosial di Rusunawa dan bagaimana berbagai bentuk interaksi tersebut berkontribusi pada disharmoni.
2.2 Konsep Perilaku Menyimpang
Sub bab ini membahas perilaku menyimpang, termasuk berbagai jenisnya dan teori-teori yang menjelaskannya, seperti pendekatan biologis, psikologis, dan sosiologis. Teori labeling dijelaskan secara mendetail, menekankan bagaimana reaksi masyarakat terhadap perilaku menyimpang dapat memperkuat perilaku itu sendiri. Pemahaman ini penting untuk menganalisis perilaku penghuni Rusunawa yang mungkin dianggap menyimpang oleh pengelola atau penghuni lain.
2.3 Habitus dan Lingkungan (habit and field)
Bagian ini membahas konsep habitus dan lingkungan (habitus and field) Bourdieu, yang relevan untuk menganalisis bagaimana latar belakang sosial ekonomi dan budaya penghuni memengaruhi perilaku dan interaksi mereka di Rusunawa. Konsep ini penting dalam menjelaskan mengapa terjadi perbedaan signifikan antara perilaku penghuni di blok A dan blok B.
2.4 Modernitas dan Identitas
Sub bab ini membahas pengaruh modernitas terhadap identitas individu dalam konteks masyarakat berisiko. Konsep ini membantu menjelaskan individualisme yang mungkin terjadi di antara penghuni Rusunawa dan bagaimana hal itu mempengaruhi interaksi sosial mereka.
2.5 Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa
Bagian ini memberikan gambaran tentang program pembangunan Rusunawa dan tujuannya, termasuk menyediakan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pembahasan ini menyediakan konteks kebijakan publik yang melatarbelakangi keberadaan Rusunawa dan penting untuk memahami tantangan sosial yang dihadapi.
2.6 Definisi Konsep
Bagian ini memberikan definisi operasional dari konsep-konsep kunci yang digunakan dalam penelitian, seperti disharmoni, interaksi sosial, dan penghuni Rusunawa. Definisi operasional ini penting untuk memastikan konsistensi dan kejelasan dalam analisis data.
III. Metode Penelitian
Bab metode penelitian menjelaskan pendekatan kualitatif deskriptif yang digunakan. Lokasi penelitian di Kota Tebing Tinggi, dengan unit analisis berupa penghuni dan pengelola Rusunawa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Karakteristik informan dijelaskan, termasuk jumlah dan latar belakangnya. Interpretasi data dilakukan dengan mengintegrasikan data primer dan sekunder, serta menggunakan kerangka teoritis yang telah dibahas sebelumnya. Jadwal kegiatan penelitian disajikan dalam bentuk tabel, serta keterbatasan penelitian juga dijelaskan.
IV. Deskripsi dan Interpretasi Data
Bab ini menyajikan hasil penelitian secara deskriptif dan interpretatif. Deskripsi lokasi penelitian meliputi keadaan geografis, luas wilayah, sarana dan prasarana Kelurahan Tebing Tinggi, serta komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin, pekerjaan, suku bangsa, agama, dan pendidikan. Data demografis penghuni Rusunawa juga disajikan. Profil informan dijelaskan secara rinci, termasuk karakteristik dan latar belakangnya. Kondisi sosial di Rusunawa dibahas, termasuk kehidupan penghuni sebelum dan sesudah tinggal di Rusunawa, persepsi masyarakat luar terhadap Rusunawa, serta rasa aman dan nyaman penghuni. Perbandingan kondisi antara blok A dan blok B Rusunawa dianalisa secara detail. Interaksi sosial antar penghuni dan antara penghuni dengan pengelola dijelaskan secara rinci, termasuk bentuk-bentuk interaksi asosiatif dan disosiatif. Faktor-faktor yang menghambat interaksi sosial positif dibahas secara mendalam. Analisis ini mengkaitkan temuan empiris dengan kerangka teoritis yang telah dibahas di bab sebelumnya.
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Bagian ini memberikan gambaran detail mengenai lokasi penelitian, termasuk kondisi geografis, luas wilayah, sarana dan prasarana, serta demografi penduduk di Kelurahan Tebing Tinggi. Informasi ini memberikan konteks sosial ekonomi tempat Rusunawa berada.
4.2 Profil Informan
Bagian ini memberikan profil lengkap informan yang diwawancarai dalam penelitian, termasuk karakteristik demografis dan latar belakang sosial ekonomi mereka. Profil ini penting untuk memahami perspektif dan pengalaman mereka.
4.3 Kondisi Sosial di Hunian Rusunawa
Bagian ini mendeskripsikan kondisi sosial di Rusunawa, termasuk kehidupan penghuni sebelum dan sesudah tinggal di Rusunawa, persepsi masyarakat luar, dan rasa aman dan nyaman penghuni. Ini penting untuk memahami konteks sosial di mana interaksi terjadi.
4.4 Rusunawa Blok A dan Blok B
Bagian ini membandingkan kondisi dan karakteristik penghuni di Blok A dan Blok B Rusunawa. Perbedaan yang signifikan antara kedua blok ini memberikan wawasan berharga untuk menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi pada disharmoni.
4.5 Interaksi Sosial yang Terjalin di Rusunawa
Bagian ini menganalisis interaksi sosial yang terjadi di Rusunawa, baik antar penghuni maupun antara penghuni dan pengelola. Bentuk-bentuk interaksi asosiatif dan disosiatif diidentifikasi dan dijelaskan.
4.6 Bentuk Interaksi yang Mempererat Hubungan
Bagian ini mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk interaksi sosial yang positif dan mempererat hubungan antar penghuni. Contohnya, kesadaran pentingnya kerjasama, toleransi, dan penyelesaian konflik melalui akomodasi.
4.7 Bentuk Interaksi yang Merusak Hubungan
Bagian ini mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk interaksi sosial negatif yang merusak hubungan antar penghuni. Contohnya, persaingan, kontravensi, dan konflik.
4.8 Faktor Hambatan dalam Interaksi Sosial
Bagian ini menganalisis faktor-faktor yang menghambat terjalinnya interaksi sosial positif di antara penghuni Rusunawa. Analisis ini menghubungkan temuan empiris dengan kerangka teoritis yang telah dibahas di bab sebelumnya.
V. Kesimpulan dan Saran
Bab ini menyimpulkan temuan penelitian dan memberikan saran-saran yang relevan. Kesimpulan meliputi ringkasan temuan utama mengenai ketidakharmonisan antar penghuni dan antara penghuni dengan pengelola Rusunawa. Saran diberikan untuk pihak-pihak terkait, termasuk pengelola Rusunawa dan pemerintah daerah, untuk mengatasi permasalahan disharmoni dan menciptakan lingkungan hunian yang lebih harmonis dan nyaman.