BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian
5.1.6 Relatif Agronomik Efectivnes (RAE)
Hasil perhitungan relative agronomic effectiveness (RAE) menunjukkan semua perlakuan residu paket pupuk, kecuali perlakuan residu pemberian bahan organic menunjukkan RAE lebih besar dari 100. Residu pemberian pupuk hayati nitrobakter sebesar 200 %, residu pemberian kombinasi pupuk organic dengan pupuk kimia 165 %, residu pemberain pupuk organic dengan pupuk hayati menghasilkan RAE 348 %, residu pemberian kombinasi pupuk anorganik dengan pupuk hayati nitrobakter 550 % dan residu pemberian
Berdasarkan hasil RAE ini maka perlakuan yang memberikan keuntungan secara agronomis dengan perpatokan kepada residu perlakuan prnggunaan pupuk anorbanik adalah perlakuan P3 (nitrobakter), kombinasi pupuk organic dengan pupuk kimia (P4), kombinasi pupuk organic dengan pupuk hayati nitrobakter (P5), kombinasi pupuk anorganik dengan pupuk hayati nitrobakter (P6) dan kombinasi ketiga pupuk, organic, anorganik, nitrobakter). Foto-foto kegiatan penelitian pengaruh residu pemberian pupuk organic, anorganik dan pupuk hayati nitrobakter disajikan pada Gambar 8.
5.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis statistika terlihat bahwa pemberian perlakuan kombinasi pupuk organic, anorganik dan pupuk hayati nitrobakter berpengaruh nyata terhadap hampir semua parameter pertumbuhan tanaman kangkung. Dilihat dari parameter berat kering oven kangkung, residu perlakuan P6 (kombinasi pupuk anorganik dengan pupuk hayati nitrobekter) menunjukkan hasil tertinggi yang tidak berbeda nyata perlakuan P7. Demikian juga berat kering segar tanaman kangkung tertinggi ditemukan pada perlakuan P6 yang tidak berbeda nyata dengan P7 (Tabel 1). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa residu pemupukan nitrobakter dapat menjadi lebih lama jika dikombinasikan dengan pupuk anorganik, atau pupuk organic. Jika dilihat dari residu pemberian pupuk hayati nitrobakter (P3), peningkatan berat kering oven tanaman kangkung sebesar 15,34% jauh lebih rendah dibandingkan dengan P6 yaitu sebesar 42,22 %. Peningkatan residu ini disebabkan karena pupuk hayati nitro bakter berupa bakteri yang mempunyai kemampuan mengikat nitrogen bebas dari udara kemudian dapat digunakan oleh tanaman. Dengan adanya pupuk anorganik atau pupuk organic memungkinkan bakteri ini hidup lebih lama karena persediaan makan untuk hidupnya bakteri nitrobakter berupa bahan organik atau pupuk anorganik dapat menjadi cadangan makan bagi bakteri nitrobakter. Tabel 1. Memperlihatkan bahwa, berat kering oven tanaman kangkung meningkat sebesar 15,34 % melebihi peningkatan pada residu pemberian bahan organic (4,86 %) dan juga melebihi residu pemberian pupuk anorganik (7,65 %). Hal ini disebabkan karena bakteri nitrobakter dapat mengikat nitrogen bebas menjadi nitrogen yang tersedia sehingga dapat diserap oleh tanaman. Janardi (2015) mengatakan pemberian nitrobakter TJ secara pantastis dapat meningkatkan jumlah anakan tanaman padi.
Residu perlakuan P1 (pemberian pupuk organic 25 ton/ha) jika dibandingkan residu perlakuan P0 (control) menunjukkan peningkatan pada hampir semua parameter pertumbuhan. Berat kering oven tanaman kangkung mengalami peningkatan 4,86 % namun secara statistic tidak nyata. Peningkatan ini sebabkan karena pupuk organic mengandung hara N, P K sehingga unsur hara dalam tanah menjadi lebih tersedia. Kandungan hara N, P, K pada pupuk organic yang dipakai adalah N = 0,376 %, K = 0,946 %, Corganik = 12,85 % (CV Amerta Jaya). Dengan adanya penambahan pupuk organic ini maka kadar C organic tanah menjadi lebih tinggi. Dengan meningkatnya C organic tanah maka berpengaruh terhadap sifat fisik tanah, yaitu sifat fisik tanah menjadi lebih baik. Agustina (2007) telah melakukan penelitian pengaruh pemberian kompos terhadap beberapa sifat fisik tanah Entisol serta pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pemberian kompos dapat memperbaiki sifat tanah Entisol dan meningkatkan pertumbuhan jagung. Selanjutnya Oka (2007) juga melakukan penelitian pemberian pupuk kascing pada tanaman kangkung. Hasil penelitiannya telah dipublikasikan dalam jurnal, menyebutkan bahwa pemberian pupuk kascing secara sangat nyata dapat meningkatkan hasil tanaman kangkung dan sifat fisik tanah menjadi lebih baik.
Residu perlakuan P2 (pemberian pupuk anorganik) dibandingkan dengan P0 (control) pada parameter berat kering oven tanaman kangkung tidak berbeda nyata. Berat kering oven meningkat sebesar 7,65 % (Tabel 1). Peningkatan ini lebih besar dibandingkan dengan perlakuan pemberian pupuk organic. Hal ini disebabkan kandungan hara pada pupuk anorganik jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk organic. Kandungan hara yang lebih tinggi akan menyebabkan ketersediaan hara yang lebih tinggi di tanah selanjutnya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kangkung. Berdasarkan hasil analisis tanah sebelum perlakuan ditemukan kadar hara nitrogen dan kandungan C-organik tergolong rendah (Tabel 2). Setelah diberikan perlakuan pupuk organic, anorganik dan pupuk hayati pada penelitian sebelumnya, kandungan hara N dan kandungan C-organik tanah secara nyata mengalami peningkatan, sementara kandungan P dan K terdapat kecenderungan meningkat tetapi secara statistic tidak nyata (Narka dan Merit 2016).
Perlakuan P3 (pemberian pupuk hayati nitrobacter dibandingkan dengan P0 (control) menunjukkan perbedaan yang tidak nyata. Berat kering oven tanaman kangkung meningkat menjadi 17,7,4 gram, sementara perlakuan P0 sebesar 15,38 gram atau meningkat sebesar 15,34 %. Peningkatan ini disebabkan karena residu pemberian pupuk hayati nitrobakter.
Hasil yang hampir juga dilaporkan oleh Janardi (2015) bahwa pemupukan nitrobakter dapat meningkatkan anakan tanaman padi secara fenomenal menjadi 80 anakan per rumpun. Berdasarkan hasil penelitiannya Janardi menyatakan bahwa pemupukan dengan pupuk hayati nitrobakter dapat menggantikan pupuk kimia dan juga pupuk organic.
Tabel 2. Hasil analisis tanah sebelum diberikan perlakuan pada penelitian I
NO PARAMETER HASIL KETERANGAN
1 pH H2O (1 : 2,5) 6,84 Netral
2 DHL (mmhos/cm) 0,320 Sangat rendah
3 C Organik (%) 1,67 Rendah
4 N –Total (%) 0,16 Rendah
5 P – tersedia (ppm) 253,63 Sangat tinggi
6 K – tersedia (ppm) 209,98 Sedang 7 Kadar air (%) - Kering udara 7,36 - Kapasitas lapang 22,79 8 Tekstur - Pasir (%) 37,21
- Debu (%) 38,15 lempung berliat
- Liat (%) 24,65
Sumber : Laboratorium tanah Fakultas pertanian Universitas Udayana
Hasil penelitian pada tanaman sawi hijau juga menunjukkan hal serupa, bahwa berat kering oven sawi hijau pada perlakuan P4 (kombinasi pupuk organic dan anorganik) yang hanya sebesar 5,5 gram, jauh dibawah hasil yang dicapai pada perlakuan P3 dan secara statistic berbeda nyata. Berat kering oven sawi hijau pada perlakuan P4 jika dibandingkan perlakuan P0 mengalami peningkatan sebesar 89,66% (Narka dan Merit, 2016). Hal yang hampir sama juga terjadi pada penelitian ini, bahwa berat kering oven tanaman kangkung
atau meningkat 12,70 %, jauh dibawah hasil yang dicapai pada perlakuan P3 namun secara statistic tidak berbeda nyata. Peningkatan berat kering tanaman kangkung pada perlakuan residu pemberian pupuk anorganik dan organic ini disebabkan karena pemberian pupuk anorganik yang menyebabkan unsur hara menjadi lebih tersedia dan pupuk organic juga memberikan tambahan hara dan perbaikan sifat tanah.
Residu perlakuan P5 (kombinasi pupuk organic dengan nitrobakter) menghasilkan berat kering oven tanaman kangkung sebesar 19,49 gram atau meningkat 26,69% dibandingkan dengan control. Peningkatan ini disebabkan karena pemberian pupuk hayati ntrobakter dan pupuk organic masih memberikan pengaruh yaitu dapat meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah. Hasil berat kering oven tanaman kangkung pada perlakuan ini, lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan P3 (nitrobakter) tetapi secara statistic tidak berbeda nyata (Tabel 1).
Residu perlakuan P6 (kombinasi pupuk anorganik dengan nitrobakter) juga secara nyata menunjukkan peningkatan berat kering oven tanaman kangkung. Peningkatannya sebesar 42,22 % jika dibandingkan dengan control (P0), Peningkatan ini disebabkan karena adanya residu pupuk anorganik NPK yang diberikan dapat menyediakan unsur bagi tanaman kangkung, demikian juga nitrobakter dapat mengikat nitrogen bebas menjadi nitrogen tersedia bagi tanamam. Jika dibandingkan dengan perlakuan residu pemberian nitrobakter (P3), perlakuan P6 menghasilkan berat kering oven tanaman kangkung jauh lebih tinggi, dan secara statistic berbeda nyata (Tabel 1).
Residu kombinasi ketiga pupuk P7 (pupuk organic , pupuk NPK , dan nitrobakter) menghasilkan berat tanaman kangkung kering oven 20,39 gram, dibandingkan dengan perlakuan control yaitu sebesar 15,38 gram memberikan peningkatan sebesar 32,56 %. Hal ini disebabkan karena residu masing-masing pupuk dapat menambah ketersediaan hara. Pupuk organic dapat menambah kadar nitrogen tanah, kalium tanah dan dapat mempengaruhi sifat fisik karena kandungan bahan organiknya yang tinggi. Pupuk kimia NPK secara langsung dalam jumlah yang relaatif besar dapat menambah ketersediaan unsur hara dalam tanah dan sampai penelitian ini dilakukan masih memberikan pengaruh residu. Demikian juga nitrobakter dapat menambah ketersediaan nitrogen tanah melalui aktivitas bakteri nitrobakter mengikat nitrogen bebas di udara menjadi nitrogen tersedia bagi tanaman. Adapun kelemahan di masing-masing pupuk ini akan ditutupi oleh pupuk yang lainnya.
oven tanaman kangkung, sehingga dapat dikatakan bahwa setelah tanaman pertama uaitu sawi hijau, ternyata pada tanaman berikutnya masih memberikan pengaruh residu. Memang tanama sawi hijau berumur pendek sekitar satu bulan dan juga tanaman kangkung juga berumur pendek. Oleh karena itu perlu diketahui sampai berapa lama pengaruh residu ini masih ada, sehingga perlu dicoba dengan tanaman lain yang juga berumur pendek, apakah pengaruh residu ini masih tampak.
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN