Sri Mulyani, Siti Nurul Sya’diyah Prodi Keperawatan Akes Rajekwesi Bojonegoro
ABSTRACT
Stress happened especially organ area (physical stress or somatic) like other disease and infection which move mechanism adjustment of somatic so that returning its balance. Trouble of Psychosomatic can happen moments a which facing a problem like student to face test, Because that students are claimed to learn diligently and get good value. Target of this research analyses relation of stress face hospital practice test with the happening of psychosomatic at semester student of IV Nursing Program of Rajekwesi Bojonegoro.
Design of this research is analytic with approach by sectional cross, its population is all student of semester IV Nursing Program of Rajekwesi Bojonegoro year 2011 then conducted by election of sample with accidental sampling and obtained 102 responder. Data collecting with questionery then conducted by editing, coding, and scoring of tabulating and also analyses data with table cross.
Result of research show less than a half of responder stress counted 48 responder (47,06%) and more than a half of responder happened psychosomatic counted 60 responder (58,82%).
There is relation which is significant between level of stress in face of test of hospital practice test with the happening of psychosomatic at student of semester IV Nursing Program Of Rajekwesi Bojonegoro. So that to prevent the happening of stress to be psychosomatic hence previous student previously have to give guidance about managing stress truly in order not to happened psychosomatic and draw up test and also everything better.
Key Words : Stress, Psychosomatic, Hospital Practice Test ABSTRAKS
Stres terjadi terutama pada bidang bagian badan (stres fisik atau somatik) seperti infeksi dan penyakit lain yang menggerakkan mekanisme penyesuaian somatik agar mengembalikan keseimbangannya. Gangguan psikosomatik dapat terjadi saat-saat seorang yang sedang menghadapi suatu masalah seperti mahasiswa yang akan menghadapi ujian, Karena mahasiswa itu dituntut belajar dengan rajin dan menghasilkan nilai yang baik.
Tujuan penelitian ini menganalisa hubungan stres menghadapi ujian praktik rumah sakit dengan terjadinya psikosomatik pada mahasiswa semester IV Prodi Keperawatan Rajekwesi Bojonegoro.
Desain penelitian penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional, populasinya adalah seluruh mahasiswa semester IV Prodi Keperawatan Rajekwesi Bojonegoro tahun 2011 kemudian dilakukan pemilihan sampel dengan accidental sampling dan diperoleh 102 responden. Pengumpulan data dengan kuesioner kemudian dilakukan editing, coding, scoring dan tabulating serta analisa data dengan cross table.
Hasil penelitian menunjukkan kurang dari sebagian responden mengalami stress sedang sebanyak 48 responden (47,06%) dan lebih dari sebagian responden terjadi psikosomatik sebanyak 60 responden (58,82%).
Ada hubungan yang siginifikan antara tingkat stress dalam menghadapi ujian praktik rumah sakit dengan terjadinya psikosomatik pada mahasiswa semester IV Prodi Keperawatan Rajekwesi Bojonegoro. Sehingga untuk mencegah terjadinya stres dan psikosomatis maka mahasiswa sebelumnya sebelumnya harus diberi pengarahan tentang mengelola stres dengan benar agar tidak terjadi psikosomatik dan mempersiapkan ujian serta segala sesuatunya dengan baik.
Kata kunci : Stres, Psikosomatik, Ujian Praktik Rumah Sakit Pendahuluan
Stres menurut Prof. Will F. Maramis seorang psikologi ternama merupakan tuntutan penyesuaian diri dan sesuatu yang mengganggu keseimbangan kita, bila
kita tidak dapat mengatasinya dengan baik, maka akan terus muncul gangguan badan ataupun gangguan jiwa.
Stres terjadi terutama pada bidang bagian badan (stres
fisik atau somatik) seperti infeksi dan penyakit lain yang menggerakkan mekanisme penyesuaian somatik agar mengembalikan keseimbangannya. Gangguan psikosomatik dapat terjadi saat-saat seorang yang sedang menghadapi suatu masalah seperti mahasiswa yang akan menghadapi ujian, Sehingga membuat mahasiswa itu untuk dituntut belajar dengan rajin dan menghasilkan nilai yang baik, Itu menjadi suatu tuntutan dan penekanan sehingga dapat terjadi gangguan psikosomatik. Setiap individu memilih pemicu stress yang berbeda-beda, stress pada mahasiswa mungkin lebih berfokus pada masalah akademik. Seperti pada saat menghadapi ujian mahasiswa harus mengulang atau HER dalam ujian hal-hal seperti itu yang membuat mahasiswa harus banyak belajar. Tidak boleh sering keluar. Menjaga kesehatan dan waktu-waktu untuk bermain sama teman akan berkurang sebab harus difokuskan ke tanggung jawabnya yaitu sebagai mahasiswa yang sedang menghadapi suatu ujian dan orang tua atau dosen menuntut harus mendapatkan nilai yang bagus agar tidak mengulang atau HER kembali(Girdano, 2005). kenyataannya masih banyak mahasiswa yang mengalami psikosomatik karena stress yang dialami saat menjelang ujian karena sebagian mahasiswa ada yang belum memahami sepenuhnya materi ujian tersebut.
Hasil penelitian yang dilakukan Lazarus dan Folkman dalam Anselman (2009) menunjukkan bahwa sumber stress pada mahasiswa yang lebih besar merupakan sumber eksternal yaitu faktor dosen pembimbing (16,88%) dan faktor kesulitan mendapatkan sumber pustaka (16,88%). Pada umumnya tidak ada gejala stres yang sangat menonjol. Namun ada beberapa gejala stres yang signifikan seperti gejala kognitif (29%) berupa kesulitan berkonsentrasi dan mudah lupa, gejala behavioral (16%) seperti membentuk orang lain, gejala mental (18%) seperti menyalahkan diri, cepat marah, tidak tenang, mimpi buruk, dan lain-lain, gejala fisik (19%) seperti sakit kepala, sakit nafas, diare, gatal-gatal, dan lain-lain. Dari survey awal yang dilakukan dengan wawancara kepada 10 mahasiswa didapatkan 5 mahasiswa mengalami stress psikosomatik.
Daya tahan stress atau nilai ambangfrustasi (stress / frustacion tolerance “ Frustatie Drempel”) pada setiap orang berbeda-beda. Hal ini tergantung pada keadaan somatopsiko-sosial orang itu. Ada orang yang peka terhadap stress tertentu yang dinamakan stress spesifik, karena pengalaman dahulu yang menyakitkan tidak dapat diatasinya dengan baik. Seandainya seorang mahasiswa yang mendapat nilai ujian kurang bagus sehingga
mahasiswa harus mengulang kembali pada akhirnya mahasiswa masih mendapatkan nilai HER ujian yang masih kurang memenuhi standart atau kurang bagus.
Bila suatu organisme mengalami stress maka segera akan ada usaha untuk mengatasinya. Hal ini dikenal sebagai homeostasis yaitu organisme yang dengan cara terus menerus mempertahankan keadaan keseimbangan dalam batas tertentu supaya dapat hidup terus.
Bila terjadi suatu konflik, maka timbullah gejala-gejala holistik pada manusia. Bila hal ini berlangsung sedikit lama dan berlebihan maka terjadilah neurosa, yaitu gejala-gejalanya sebagian besar terletak pada bidang kejiwaan, seperti neurosa cemas, neurosahisterik, neurosafobik, neurosaobsesif, kompresif dan neurosa depresi.Akan tetapi disamping komponen psikologik ini hampir selain terjadi juga gangguan fungsi bagian badankarena tubuh manusia bersifat danbereaksi secara holistik.Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan gejala-gejala yang sebagian besar atau semata-mata karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf vegetatif. Perkembangan neurotikinilah yang disebut gangguan psikosomatik atau psikofisiologik.Bila gangguan itu terjadi pada alat somato-motorik atau somato-sensorik maka dinamakan reaksi konversi dan termasuk dalam bagian neurosahisterik.
Jika terjadi stress sampai menjadi psikosomatik maka penderita tersebut harus pergi ke psikiater, istirahat, dan melupakan stress atau beban sementara agar badan tidak menjadi sakit, kemudian diperiksakan ke dokter agar mengetahui diagnosa yang tepat. Dengan kesabaran dan simpati sudah banyak penderita dengan gangguan psikosomatik yang ditolong (W.F. Maramis, 1998).Dengan kesabaran dan simpati sudah banyak penderita dengan gangguan psikosometik yang ditolong.saat ini tidak jarang dokter melemahkan situasi terapeutik dengan mengatakan suatu diagnose sembarang saja. Bila seorang gagal dalam suatu usaha, maka mungkin ia akan melakukan langkah-langkah yaitu: 1) Mempelajari dan menentukan persoalan, 2) Menyusun alternatif penyelesaian, 3) Menentukan tindakan yang mempunyai kemungkinan paling besar akan berhasil dengan akibat yang paling menguntungkan, 4) Bertindak, dan 5) Menilai hasil tindakan supaya dapat diambil langkah yang lain bila kurang memuaskan atau ada kesalahan (Maramis, 1998). Bila mahasiswa sudah mengalami hal seperti itu maka mahasiswa harus pergi ke dosen, pembimbing konseling, teman atau sahabat dan orang untuk mengungkapkan permasalahannya dan untuk memecahkan masalah tersebut juga harus beribadah agar lebih tenang.
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian
“analitik korelasional” yang merupakan penelitian yang mengkaji hubungan antara variabel dengan cara mencari, menjelaskan suatu hubungan, memperkirakan dan menguji berdasarkan teori yang ada, serta menggunakan pendekatan “cross sectional”.
Dalam penelitian ini desain penelitiannya b e r t u j u a n M e n g a n a l i s i s H u b u n g a n St r e s Menghadapi Ujian Praktik Rumah Sakit Dengan Te r j a d i n y a P s i k o s o m a t i k P a d a M a h a s i s w a S e m e s t e r I V P r o d i K e p e r a w a t a n R a j e k w e s i Bojonegoro 2011. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester IV Prodi Keperawatan Rajekwesi Bojonegoro tahun 2011 dengan jumlah populasi berjumlah 138 orang.
Sampel diambil dari sebagian mahasiswa semester IV Prodi Keperawatan Rajekwesi Bojonegoro t a h u n 2 0 11 d e n g a n j u m l a h p o p u l a s i 1 0 2 responden. Penelitian ini menggunakan non-probability sampling jenis accidental sampling.
Pada penelitian ini variabel Independennya adalah
“stress mahasiswa menghadapi ujian praktek R u m a h S a k i t ” . P a d a p e n e l i t i a n i n i v a r i a b e l dependennya adalah “kejadian psikosomatik”.
Data dianalisis dengan uji Selanjutnya data dianalisa dengan metode analisis deskriptif. Untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dengan menggunakan tabulasi silang (cross table) antara variabel stres (variabel x) dan variabel kejadian psikosomatis (variabel y).
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Tabel 1 Distribusi responden berdasarkan stress menghadapi ujian praktik rumah sakit pada mahasiswa semester IV Prodi Keperawatan Rajekwesi Bojonegoro tahun 2011
No Stress menghadapi Jumlah Prosentase
Sumber : data primer bulan Juni 2011.
Berdasarkan tabel 1 dapat dijelaskan bahwa dari 102 responden yang menunjukkan kurang dari sebagian mengalami stress sedang sebanyak 48 orang (47,06%).
Tabel 2 Distribusi terjadinya psikosomatik pada mahasiswa semester IV Prodi Keperawatan Rajekwesi Bojonegoro 2011.
Sumber : Data primer bulan Juni 2011.
Berdasarkan tabel 2 dapat dijelaskan bahwa dari 102 responden yang diteliti menunjukkan lebih dari sebagian terjadi psikosomatik yaitu 60 orang (58,82%) terjadi psikosomatik.
1. Tabulasi silang antara stress dalam menghadapi ujian praktik rumah sakit dengan terjadinya psikosomatik pada mahasiswa semester IV prodi keperawatan rajekwesi Bojonegoro
Tabel 3 Tabulasi silang antara stress dalam menghadapi ujian praktik rumah sakit dengan terjadinya psikosomatik pada mahasiswa semester IV Prodi Keperawatan Rajekwesi Bojonegoro tahun 2011.
No. Stres Psikosomatik
mengha Terjadi Tidak f Jumlah
dapi psikoso terjadi %
ujian matik psikoso Sumber : Data primerbulan Juli 2011.
Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa dari 47 mahasiswa yang yang mengalami stres berat terdapat 36 mahasiswa (76,6%) terjadi psikosomatik, sedangkan dari 7 mahasiswa yang mengalami stres ringan seluruhnya (100%) tidak terjadi psikosomatik.
Pembahasan
Berdasarkan tabel 1 dapat dijelaskan bahwa dari 102 responden yang menunjukkan kurang dari sebagian mengalami stress sedang sebanyak 48 orang (47,06%).
Stres merupakan tuntutan penyesuaian diri dan sesuai yang mengganggu keseimbangan kita. Bila tidak mengatasinya dengan baik, maka akan terus muncul gangguan badan ataupun gangguan jiwa (Maramis, 1999).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Braznite dan Golberger (2001) mengatakan bahwa setiap individu memiliki ambang stress yang berbeda-beda, karena karakteristik individu akan mempengaruhi tingkatan stress yang dialaminya. Adaptasi merupakan suatu bentuk respon tubuh sebagai homeostasis pada sistem lingkungan internal dan termasuk didalamnya penstabilan biologis internal dan pemeliharaan psikologis dalam hal jati diri dan rasa harga diri menurut Everly dan Giardone dalam Munandar (1995) stress dapat ditandai dengan tiga gejala utama yaitu mood, muskuloskeletal (otot rangka) dan visceral (organ dalam tubuh).
Berdasarkan hasil penelitian diasumsikan bahwa responden yang menghadapi ujian praktik rumah sakit mengalami sering mengalami stres.
Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa kejadian penuh stres yang paling sering dihadapi responden adalah hal-hal yang berhubungan dengan ketidak siapan menghadapi ujian praktek rumah sakit, responden yang pada usia 19-20 tahun jalan pikiran mereka masih pada kesenangan pribadi dan bermain dengan teman sebaya. Hal ini mengakibatkan apabila mereka menghadapi masalah yang agak berat langsung menjadi suatu beban hingga menimbulkan masalah psikosomatik seperti stres. Hal-hal yang menyebabkab stres menghadapi ujian praktik di rumah sakit antara lain kedisiplinan, peraturan dan tugas dimana mahasiswa harus menguasai teori dan praktik sehingga mahasiswa dituntut dengan nilai yang baik.
Jika mahasiswa tidak lulus maka harus mengulang.
Jika masih belum bisa mendapat nilai yang baik maka mahasiswa harus menjalani pemantapan. Keadaan itulah yang bisa membuat mahasiswa tertekan sehingga mahasiswa menjadi stress.
Berdasarkan tabel 2 dapat dijelaskan bahwa dari 102 responden yang diteliti menunjukkan lebih dari sebagian terjadi psikosomatik yaitu 60 orang (58,82%) terjadi psikosomatik.
Gangguan psikosomatik dapat timbul apabila stress tersebut tidak dikelola dengan baik. Misalnya mahasiswa yang akan menghadapi ujian praktik, mahasiswa harus ditekan untuk memahami materi dan praktik serta diharuskan untuk mendapat nilai yang tinggi agar bisa lulus. Jika mahasiswa tidak mendapat nilai yang tinggi maka mahasiswa dianggap tidak lulus dan harus mengulang. Hal seperti itu yang membuat mahasiswa tertekan. Sebab waktu dan
pikiran harus terfokus pada ujian sehingga menjadi suatu tekanan yang bisa mengarah ke spikosomatis jika stress dikelola dengan benar (Maramis, 1999).
Berdasarkan hasil penelitian responden yang mempunyai psikosomatik, mereka dipengaruhi oleh tuntutan dalam ujian praktik rumah sakit yang dianggap mahasiswa berat seperti harus menghadapi ujian praktik di rumah sakit dengan tuntutan mahasiswa harus mampu menguasai teori dan praktik serta harus lulus dengan nilai yang tinggi sehingga waktu dan pikiran mahasiswa harus terfokus pada ujian praktik rumah sakit. Jika mahasiswa tidak mendapatkan nilai yang tinggi dan tidak lulus maka mahasiswa harus mengulang. Hal itu menimbulkan suatu tekanan terhadap psikis mahasiswa yang dapat juga muncul menjadi keluhan-keluhan pada fisik seperti pusing dan sebagainya. Timbulnya gejala psikosomatis akan berbeda pada setiap mahasiswa karena mekanisme koping dan faktor yang lain yang bisa menjadi pemicu timbulnya psikosomatis berbeda-beda pada setiap individu.
Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa dari 47 mahasiswa yang yang mengalami stres berat terdapat 36 mahasiswa (76,6%) terjadi psikosomatik, sedangkan dari 7 mahasiswa yang mengalami stres ringan seluruhnya (100%) tidak terjadi psikosomatik.
Jika stres yang terus menerus akan timbul terjadinya psikosomatik, melihat macamnya gangguan psikosomatik, maka nyata bahwa terdapat hubungan dengan mekanisme faaliah yang normal yang dapat diproduksi, akan tetapi pada gangguan psikosomatik reaksi ini terlalu berat atau terjadi distorsi. Reaksi-reaksi ini ialah reaksi-reaksi stres tipe terhadap stress dan menolong organisme dalam keadaan darurat, tetapi menyukarkan juga bila berlangsung terlalu keras atas terlalu lama. Reaksi-reaksi abnormal ini merupakan reflek-reflek perlindungan. Mekanisme dapat disamakan dengan reflek batuk, bersin dan sebagainya (Maramis WF, 1999).
Berdasarkan hasil penelitian bahwa mahasiswa dengan tingkat stress tinggi dapat mengalami psikosomatik, karena tingkat stress yang tinggi tidak dikelola dengan baik akan mengarah pada psikosomatik yang pada akhirnya mempengaruhi fungsi organ-organ dalam tubuh. Karena ujian praktik rumah sakit adalah suatu tuntutan dimana mahasiswa harus menguasai teori dan praktik agar mahasiswa mendapatkan nilai yang baik. Itu yang menjadi suatu tekanan yang berat bagi mahasiswa, dan akan menimbulkan stres. Hubungan menghadapi stress dengan terjadinya psikosomatik merupakan proses.
Dalam proses tersebut, hal yang mendatangkan stress yaitu ujian praktik rumah sakit dan mahasiswa adalah saling berkaitan. Hal itu membutuhkan usaha
penyesuaian atau penyeimbangan yang terus-menerus. perbedaan cara, kemampuan dan keberhasilan orang-orang dalam mempengaruhi dampak yang mendatangkan stress itu berbeda maka stress yang dihadapi juga berbeda. Oleh karena itu, stres dapat berdampak pada biologis, psikologis, spiritual.
Kesimpulan dan Saran
Kurang dari sebagian responden mengalami stres sedang menghadapi ujian praktek rumah sakit, lebih dari sebagian terjadi masalah psikosomatik pada responden yang menghadapi ujian praktek rumah sakit sehingga ada Jika mahasiswa stres dalam menghadapi ujian praktik rumah sakit maka terjadi masalah psikosomatik. Sehingga perlu belajar secara tuntas menghadapi ujian.
DAFTAR PUSTAKA
Giovani. 2000. Psikologi. www.rumahbelajar.
psikologi.com, diakses tanggal 2 Mei 2011.
.Maramis, WF. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa, Surabaya : Airlangga University.
Morgan. 1986. Segi Praktis Psikiatri. Jakarta : Bina Rupa Aksara.
Pratiwi. 2000. Ujian Praktek Kesehatan.
www.artikata.com, diakses tanggal 2 Mei 2011.
Rasmun. 2004. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga.
Jakarta : CV. Sagung Seto.
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRESTASI BELAJAR ANAK DI