Hubungan Pengetahuan Ibu Bayi Tentang Reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT/HB Combo Dengan Kecemasan Ibu Sebelum melaksanakan Imunisasi di Polindes Desa Karangrejo Wilayah Kerja Puskesamas Ngasem Kediri ...
The Relationship Of Baby’s Mother Knowledge About The Adverse Events Following Immunization (AEFI) DPT / HB Combo With Dread Of Mother Before Doing DPT / HB Combo Immunization in Polindes Karangrejo Village of Puskesmas Ngasem,
Kediri District
Sumy Dwi Antono, Koekoeh Hardjito
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Ibu dalam Pemberian Makanan Pendamping ASI Terlalu Dini di Posyandu Mawar I di Desa Karangrejo ...
Analizing Influential Factors In Mother’s Behavior Of Giving Complementary Food Of Brerastfed On Posyandu Mawar I Karangrejo
Yonathan Kristianto, Maria Anita Yusiana
Variasi Bahan Makanan Campuran (BMC) dalam Meningkatkan Berat Badan Balita Dengan Gizi Kurang (Suatu Analisis di Desa Karangdayu Baureno Kabupaten Bojonegoro) ...
Variation Of Food Mixed (BMC) Increase In Children With Weight Less Nutrition (An Analysis of Village Karangdayu Baureno Bojonegoro)
Wiwik U, Rahmawati
Hubungan Perilaku dengan Pencapaian Target Persalinan Mahasiswa Prodi DIII Kebidanan Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro Tahun 2011...
Target Behavior Relationship With Labor Student Achievement DIII Midwifery Program Academic of Health Rajekwesi Bojonegoro 2011
Fidrotin Azizah
Hubungan Stres Menghadapai Ujian Praktek Rumah Sakit Dengan Terjadinya Psikosomatik pada Mahasiswa Semester IV Prodi Keperawatan Rajekwesi Bojonegoro 2011 ...
Relations Practice Exam Stress Dealing With Hospitals On Students Of Semester IV Psycosomatic Nursing Progran Of Rajekwesi Bojonegoro 2011
Sri Mulyani, Siti Nurul Sya’diyah
Analisis Faktor Yang Berhubungan dengan Prestasi Belajar Anak di SDN Kedaton II Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro ...
The Analysis Factors Associated With Learning Achievment Of Children In SDN Kedaton II Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro
Siti Patonah
ISSN : 2087 - 5231
1 - 4
5 - 10
11 - 16
17 - 20
21 - 25
26 - 29
Pengaruh Rendam Air Hangat Pada Kaki Terhadap Kwantitas Tidur Pada Lansia Yang Mengalami Gangguan Tidur di Panti Wredha Santo Yoseph Kediri ...
The Influence Of Soaking Feet In Warm Water To Elderly’s Sleeping Quantity On Elderly Who Experiences Sleeping Disorder At Santo Yoseph Kediri Nursing Home
Dyah Kristyarini, Erva Elli Kristanti
Hubungan Tingkat Depresi Dengan Terjadinya Insomnia Pada Lansia Usia 60-70 Tahun di Desa Mayanggeneng Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro ...
Correlation Between Depression Level With Insomnia Occurrence in 60 - 70 Year Old People In Desa Mayanggeneng Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro
S. Nurul Sya’diyah
30 - 34
35 - 38
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BAYI TENTANG REAKSI KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DPT/HB COMBO DENGAN KECEMASAN IBU SEBELUM MELAKSANAKAN IMUNISASI DI POLINDES DESA KARANGREJO WILAYAH KERJA
PUSKESMAS NGASEM KEDIRI
The Relationship Of Baby’s Mother Knowledge About The Adverse Events Following Immunization (AEFI) DPT / HB Combo With Dread Of Mother Before Doing DPT / HB Combo
Immunization in Polindes Karangrejo Village of Puskesmas Ngasem, Kediri District Sumy Dwi Antono, Koekoeh Hardjito
Prodi Kebidanan Kediri Poltekkes Malang ABSTRACT
There are the side effects after doing DPT immunizitation that is famous of Adverse Events Following Immunization (AEFI). The role’s mother at immunization programs are very important. So that a knowledge about immunization program is very needed doing immunization. The most of children suffering a fever after getting the DPT immunization, but it is usual, nevertheless this condition makes most of mother feel worried.
The aim this research is to know the relationship of baby’s mother knowledge about the adverse events following immunization (AEFI) DPT/Hb Combo with dread of mother before doing DPT/Hb Combo immunization in polindes karangrejo village of puskesmas ngasem, kediri district.
The Research Design which is used analytic with Cross Sectional Corelation. The Subyek of this Research is the mother who having baby’s amoung 2nd-11th months. The data result of this research use questioner. Amount of sampel is 37 responder. Result of research will be analysed with Spearman Rank. From the result of this research is gotten the result of t calculate smaller than t of table, so Ho is received and H1 is rejected (price 0,75748 < 2,0315). The conclusion there aren’t the relationship of baby’s mother knowledge about the adverse events following immunization (AEFI) DPT/Hb Combo with dread of mother before doing DPT/Hb Combo immunization
Keyword : Knowledge, Mother, Adverse Events Following Immunization (AEFI), Dread of Before Doing DPT / HB Combo Immunization
ABSTRAK
Terdapat efek samping setelah pelaksanaan imunisasi DPT yang dikenal dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Karena suatu pengetahuan tentang program imunisasi amat diperlukan dalam pelaksanaan imunisasi. Kebanyakan anak menderita panas setelah mendapat imunisasi DPT, tetapi itu adalah yang wajar, namun seringkali ibu-ibu tegang, cemas dan khawatir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu bayi tentang reaksi KIPI DPT/HB Combo dengan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/HB Combo.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Penelitian Korelasional jenisnya Cross Sectional. Subyek penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi usia 2-11 bulan. Data hasil penelitian diambil menggunakan kuesioner. Jumlah sampel sebanyak 37 responden. Setelah itu ditabulasi dan dianalisis dengan uji korelasi Spearman Rank.
Dari hasil penelitian di dapatkan hasil t hitung lebih kecil dari t tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak (harga 0,75748 < 2,0315) sehingga kesimpulannya tidak terdapat hubungan pengetahuan ibu bayi tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT/HB Combo dengan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/HB Combo
Kata Kunci : Pengetahuan, Ibu, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Kecemasan sebelum imunisasi DPT/HB Combo
Pendahuluan
Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya salah satunya adalah imunisasi DPT (Diphteria, Pertussis, Tetanus). Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus (A. Aziz, 2008). Kalau anak tidak diberikan
imunisasi DPT maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tersebut (Soedjatmiko, 2007). Terdapat efek samping setelah pelaksanaan imunisasi DPT yang dikenal dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau Adverse Events Following Immunization (AEFI) merupakan
suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga berhubungan dengan imunisasi (Depkes, 2000). Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Karena suatu pengetahuan tentang program imunisasi amat diperlukan dalam pelaksanaan imunisasi (Mirzal Tawi, 2008). Pemahaman persepsi dan pengetahuan ibu tentang imunisasi membantu pengembangan program kesehatan (Manjunath U, 2003).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Lynda M. Baker (2007) di Amerika Serikat, pengetahuan ibu berkaitan imunisasi DPT hanya 4 ibu dari 30 ibu yang tahu nama dan tujuan dari pemberian vaksin pada anak anak mereka dan 26 ibu yang tidak tahu nama dan tujuan dari vaksin DPT (Lynda M. Baker 2007).
Kebanyakan anak menderita panas setelah mendapat imunisasi DPT, tetapi itu adalah yang wajar, namun seringkali ibu-ibu tegang, cemas dan khawatir (Tecyya 2009). Selain itu, banyak ibu yang cemas sekali karena timbul bengkak di bekas tempat suntikan. Untuk anak yang memiliki riwayat kejang demam, imunisasi DPT tetap aman dan tidak membahayakan, tetapi banyak ibu yang cemas (Hemas 2007). Adapun penyebab kecemasan ibu dikarenakan pemberitaan miring tentang efek samping imunisasi(Ani M dan Ai S 2009).
Menurut laporan WHO angka cakupan imunisasi untuk DPT secara global adalah 78%.
Berarti terdapat 28 juta anak di dunia yang belum mendapat imunisasi DPT. 75% dari anak-anak ini tinggal di 10 negara, diantaranya Indonesia (Harsono Salimo 2009).
Cakupan imunisasi DPT di Indonesia secara global adalah 70,26% dimana jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi terbesar ada di tiga propinsi di pulau Jawa (29% dari angka nasional) yaitu propinsi Jawa Barat (46.863), Jawa Timur (47.332) dan Banten (28.359) (Pusat Komunikasi Publik 2010). Angka cakupan imunisasi DPT di Jawa timur secara global 70,79% dimana DPT 1 sejumlah 79%, DPT 2 sejumlah 72,69% dan DPT 3 sejumlah 60,68%
(M. Faried K 2009).
Program imunisasi di Kabupaten Kediri masih dibawah standar. Adapun cakupan imunisasi DPT yang berada di bawah target 30% adalah di Puskesmas Ngasem sejumlah 29,6%. Adapun Data Kumulatif Pencapaian Imunisasi DPT bulan Desember 2009 di desa Karangrejo yaitu: DPT1 91,5%, DPT2 *87<7%, DPT3 93,9 %.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan desain Korelasi Cross Sectional. Populasi penelitian adalah ibu yang mempunyai bayi usia 2-11 bulan di Polindes Karangrejo Puskesmas Ngasem Kediri sejumlah 40 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian
ibu yang mempunyai bayi usia 2-11 bulan yaitu sejumlah 37 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling dengan cara undian.
Alat ukur yang digunakan yaitu: kuesioner tentang Pengetahuan reaksi KIPI dan Kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi. Penelitian dilakukan pada tanggal 10 Mei – 17 Mei 2010
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Tabel 1 Karakteristik Umur Responden di Polindes Karangrejo Kecamatan Ngasem, Kediri Tahun 2010
Tabel 2 Karakteristik Pendidikan Responden di Polindes Karangrejo Kecamatan Ngasem, Kediri Tahun 2010
Tabel 1 Karakteristik Pekerjaan Responden di Polindes Karangrejo Kecamatan Ngasem, Kediri Tahun 2010
Pekerjaan ibu bayi terbanyak adalah IRT atau tidak bekerja sejumlah 78,4% (29 responden).
Data Khusus
Tabel 4 Pengetahuan Ibu Bayi Tentang Reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi DPT/HB Combo
Pengetahuan ibu bayi tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi DPT/HB Combo terbanyak adalah mempunyai pengetahuan cukup 54,1% (20 responden).
Tabel 5 Kecemasan Ibu Sebelum Melaksanakan Imunisasi DPT/HB Combo di Polindes Karangrejo Tahun 2010
Hubungan Pengetahuan Ibu Bayi Tentang Reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Dengan Kecemasan Ibu Sebelum Melaksanakan Imunisasi DPT/HB Combo Di Polindes Desa Karangrejo Wilayah Kerja Puskesmas Ngasem, Kediri
Dari hasil perhitungan didapatkan hasil t hitung sebesar 0,75748, dibandingkan dengan tabel t untuk taraf kesalahan 5%. Dengan dk = 35 diperoleh harga t = 2,0315. Jadi hasil t hitung lebih kecil dari t tabel maka H1 ditolak (harga 0,75748 < 2,0315) sehingga kesimpulannya tidak terdapat hubungan pengetahuan ibu bayi tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT/Hb Combo dengan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/Hb Combo
Pembahasan
Dari 37 responden yang telah di teliti didapatkan bahwa responden memiliki pengetahuan cukup 54,1% (20 responden), pengetahuan baik 35,1% (13 responden) dan pengetahuan kurang 10,8% (4 responden).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pengetahuan ibu cukup ke arah baik. Hal ini diperoleh dari jumlah nilai jawaban responden yang mempunyai kriteria cukup arah baik dengan nilai >65 sejumlah 80% (16 responden) dan cukup kearah kurang dengan nilai <65 sejumlah 20% (4 responden).
Hal ini di sebabkan setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyerap suatu informasi yang telah di dapatkan. Pengetahuan manusia diperoleh melalui alat indra dan pengetahuan yang cukup baik ini dipengaruhi oleh faktor ingatan, pemahaman, penerapan tentang sesuatu yang dipelajari. Selain itu juga bisa karena ibu kurang memperhatikan informasi yang di berikan atau ibu kurang konsentrasi dalam pemberian informasi, sehingga informasi yang diberikan tidak dapat diterima dengan baik.
Dalam penelitian ini responden terbanyak usia 21-25 th sejumlah 45,9%. Umur mempengaruhi pengetahuan ibu, khususnya mengenai pengalaman ibu sehingga dengan perbedaan usia ibu berbeda pula pengalaman ibu. Hal ini sesuai dengan pendapat Noor (2000) yang dikutip oleh Mirzal Tawi bahwa perbedaan pengalaman ibu dipengaruhi oleh umur individu tersebut.
Pendidikan ibu pada penelitian ini terbanyak SMA 67,6%. Pendidikan mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu karena semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakin banyak pula informasi yang diperoleh. Meskipun pendidikan ibu sudah tinggi (SMA) dalam penerimaan informasi tentang imunisasi khususnya Gejala KIPI DPT, ibu kurang mendapatkan / bahkan tidak mendapat informasi dalam sekolahnya (pendidikan formal). Sehingga informasi tentang KIPI hanya diperoleh dari pendidikan non formal yaitu penyuluhan dari bidan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Soekidjo Notoatmodjo yang dikutip oleh Mirzal Tawi (2008) Tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu sangat mempengaruhi terlaksananya kegiatan pelaksanaan imunisasi anak bayi diperoleh baik pendidikan formal maupun non formal.
Dari hasil penelitian responden yang memiliki cemas ringan 67,6% (25 responden), cemas sedang 13,5% (5 responden), tidak cemas 13,5% (5 responden), cemas berat 2,7% (1 responden), cemas berat sekali 2,7% (1 responden).
Hal ini di sebabkan setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam menanggapi suatu respon yang telah di dapatkan.
Dalam setiap individu otak memiliki reseptor khusus yang membantu regulasi kecemasan sehingga setiap individu secara otomatis menanggapi rasa cemas berbeda. Sikap orangtua yang cenderung mengalami kecemasan ini karena akan adanya situasi yang mengancam pada bayinya.
Hal ini sesuai dengan teori Biologik dikutip oleh Suliswati (2005) bahwa pada otak terdapat GABA (Gamma Amino Butyric Acid) yang mengontrol aktivitas kecemasan.
Hasil t hitung sebesar 0,75748, dibandingkan dengan tabel t untuk taraf kesalahan 5%, dk = 35 diperoleh harga t = 2,0315. Jadi hasil t hitung lebih kecil dari t tabel maka H1 ditolak (harga 0,75748 <
2,0315) sehingga kesimpulannya tidak terdapat hubungan pengetahuan ibu bayi tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT/HB Combo dengan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/HB Combo.
Karena setiap individu memiliki kecemasan, dan kecemasan akan tetap muncul secara otomatis bila tubuh merespon adanya suatu konflik. Hal ini sesuai dengan teori kajian keluarga dikutip oleh
Suliswati (2005) bahwa kecemasan selalu ada pada tiap keluarga.
Meskipun telah memiliki pengetahuan yang baik terhadap reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi DPT/HB Combo bila seseorang menganggap membahayakan bagi bayinya maka kecemasan tetap terjadi. Sehingga seseorang yang mempunyai pengetahuan baik belum tentu tidak cemas. Sebaliknya seseorang yang memiliki pengetahuan cukup atau kurang tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi DPT/HB Combo belum tentu merasa cemas.
Kesimpulan
Sebagian kecil pengetahuan ibu bayi tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi DPT/HB Combo cukup. Rata– rata kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/HB Combo adalah cemas ringan. Sehingga tidak terdapat hubungan pengetahuan ibu bayi tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi dengan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/HB Combo. Bagi Tempat Penelitian diharapkan Petugas kesehatan memberikan pengertian dan adanya perlindungan kesehatan jika ada KIPI kepada ibu bayi sehingga kecemasan ibu berkura perlu dikaji faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan ibu dalam melaksanakan imunisasi perlu dikaji lebih lanjut, selain pengetahuan ibu bayi tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi DPT/HB Combo Kepustakaan
Ani M dan Ai S.”Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio dengan Tingkat Kecemasan Pasca Imunisasi Polio Pada Anaknya di Posyandu Margasari Tasikmalaya Tahun 2007.” 26-12-2009 <http://
www.skripsistikes.wordpress.com>
Depkes RI. (2000)Pedoman Operasional Pelayanan Imunisasi. Jakarta Dinkes Prop Jatim.
Harsono Salimo.”Peran Imunisasi untuk Menunjang Tumbuh Kembang Balita Anak Indonesia Berkualitas.” 8 April 2009 <http://
pustaka.uns.ac.id>
Lynda M. Baker.”Ibu Pengetahuan dan Kebutuhan Informasi Berkaitan dengan Imunisasi Anak.” 2 Jan 2007 <http://
translate.google.co.id>
M. Faried K.”Pengembangan Program Imunisasi di Jawa Timur.” 13 April 2010 http://
www.kalbe.co.id/files
Manjunath U, Pareek. “Pengetahuan dan Persepsi Ibu tentang Imunisasi Rutin di Rajasthan.” 27 Januari 2010 http://translate.google.co.id
Mirzal Tawi.”Imunisasi dan Faktor yang Mempengaruhinya. 12 May 2009 <http://
syehaceh.wordpress.com>
Soedjatmiko. “Imunisasi Penting untuk Mencegah Penyakit Berbahaya. “ 26 Desember 2009
<http://www.ykai.net.com>
Tecyya. ”Demam Sehabis Imunisasi. 25-12-2009
< h t t p : / / i b u d a n b a l i t a . c o m / d i s k u s i / p e r t a n y a a n / 2 6 8 / d e m a m - s e h a b i s - imunisasi>
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU IBU DALAM PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI TERLALU DINI DI POSYANDU MAWAR I
DESA KARANGREJO
ANALYZING INFLUENTIAL FACTORS IN MOTHER’S BEHAVIOR OF GIVING COMPLEMENTARY FOOD OF BREASTFED ON POSYANDU MAWAR I KARANGREJO
Yonathan Kristianto, Maria Anita Yusiana STIKES RS BAPTIS KEDIRI
ABSTRACT
Complementary food of breastfed refers to nutritition which is given to children aged 6–24 months in order to complete their nutrient needs. Complementary feeding of breastfed is very influenced by mother’s behavior. Giving complementary feeding of breastfed before infant is 6 months results negative impacts to their health such as diarrhea and even death. The purpose of this research was to analyze influential factors in mother’s behavior of giving complementary food of breastfed on Posyandu Mawar I Karangrejo.
The research’s design was correlational. The population was mothers who had infants in age 6 –36 months in Posyandu Mawar I Karangrejo’s Village. Using Random Sampling Technique, it was obtained 32 respondents as sample. The independent variable was influential factors in mother’s behavior of giving complementary food of breastfed such as mother’s knowledge, mother’s occupation, and family’s social economy.
The dependent variable was giving complementary food of breastfed. The data were collected using quesitonare and interview. Those were analized using Double Logistic Regresion with significance level 0.025.
The occupation statistic result showed p= 0.999 meaning that mother’s occupation did not influence mother’s behavior in giving complementary food of breastfed. The social economy statistic result showed p=
0.999 meaning social economy had no influences to mother’s behavior in complementary food of breastfed.
Further, mother’s knowledge statistic result showed p= 0.020 meaning mother’s knowledge influenced mother’s behavior in giving complementary food of breastfed.
In conclusion, occupation and social economy had no influence giving complementary food of breastfed, but mother’s knowledge influenced toward giving complementary food of breastfed in Posyandu Mawar I Karangrejo.
Keywords: Giving complementary food of breastfed, mother’s behavior
ABSTRAK
Makanan pendamping ASI adalah makanan yang mengandung gizi, diberikan pada anak usia 6–24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizinya. Pemberian makanan pendamping ASI secara tepat sangat dipengaruhi perilaku ibu yang memiliki bayi. Namun masih banyak ibu yang memberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan, yang mana dapat menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan bayi seperti diare dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo.
Desain penelitian yang digunakan adalah korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah para ibu yang memiliki bayi umur 6–36 bulan di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo. Besar sampel adalah 32 responden yang diperoleh dengan menggunakan tekhnik Random Sampling. Variabel independennya adalah faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku ibu meliputi pengetahuan ibu, pekerjaan ibu, dan sosial ekonomi keluarga. Varibel dependennya adalah pemberian makanan pendamping ASI. Data dikumpulkan dengan kuisioner dan wawancara kemudian dianalisa dengan uji Regresi Logistik Ganda dengan tingkat kemaknaan á d” 0,025.
Hasil uji statistik pekerjaan menunjukkan bahwa p= 0,999 mengindikasikan bahwa pekerjaan tidak mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini. Hasil uji statistik sosial ekonomi menunjukkan bahwa p= 0,999 mengindikasikan bahwa sosial ekonomi tidak mempengaruhi perilaku
ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini. Lebih lanjut, hasil uji statistik pengetahuan ibu menunjukkan p= 0,020 mengindikasikan bahwa pengetahuan ibu mepengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini .
Kesimpulan penelitian ini adalah faktor pekerjaan dan sosial ekonomi tidak mempengaruhi pada perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI sedangkan faktor pengetahuan mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini di Posyandu Mawar I di Desa Karangrejo.
Kata kunci: Pemberian makanan pendamping ASI dari, perilaku ibu Pendahuluan
ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi, karena ASI mengandung hampir semua zat gizi dengan komposisi sesuai kebutuhan bayi. Walaupun ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi dengan bertambahnya umur, bayi yang sedang tumbuh memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah yang didapat dari ASI Pada waktu bayi berumur 6 bulan ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, dengan demikian bayi memerlukan energi tambahan. ( Prabantini, 2010 ).
Dalam hal ini, perilaku ibu yang memiliki bayi memegang peranan penting dalam pemberian makanan pendamping ASI yang tepat. Banyaknya para ibu yang memberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan pada bayi saat ini dapat menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan bayi seperti bayi menjadi mudah terkena penyakit pada saluran pencenaan seperti diare bahkan dapat meningkatkan angka kematian bayi. Hal ini terjadi karena ibu kurang mengetahui tentang pemberian makanan pendamping ASI yang benar, disamping itu status pekerjaan ibu menjadi alasan ibu memberikan makanan pendamping ASI terlalu dini karena kurang mempunya waktu untuk anaknya, dan juga status sosial ekonomi keluarga mempengaruhi ibu memberikan makanan pendamping ASI terlalu dini dilihat dari daya beli terhadap makanan pendamping ASI yaitu jika semakin baik perekonomian keluarga maka daya beli akan makanan tambahan juga mudah, sebaliknya semakin buruk perekonomian keluarga, maka daya beli akan makanan tambahan lebih sukar (Soraya, 2005). Berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada 25 ibu pada tanggal 3 April 2011 di Posyandu Mawar I desa Karangrejo Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri, dari data tersebut didapatkan 15 ibu memberikan makanan tambahan kurang dari 6 bulan dan 10 ibu memberikan makanan tambahan lebih dari 6 bulan. Dari sini dapat diketahui bahwa hampir 60% bayi umur 0 – 6 bulan sudah diberikan makanan pendamping ASI.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa anak–
anak yang diberikan makanan pendamping ASI setelah berumur 6 bulan umumnya lebih cerdas dan memiliki daya tahan tubuh lebih kuat, mengurangi
resiko terkena alergi akibat makanan. Sedangkan jika makanan pendamping ASI diberikan terlalu dini justru dapat meningkatkan angka kematian bayi, menggangu sistem pencernaan pada bayi, dan apabila terlambat memberikan juga akan membuat bayi kekurangan gizi (Kodrat, 2010). Tubuh bayi belum memiliki protein pencernaan yang lengkap. Jumlah asam lambung dan pepsin baru meningkat saat bayi berumur 3–4 bulan.
Sampai umur sekitar 6 bulan, jumlah enzim amilase yang diproduksi oleh pankreas belum cukup untuk mencerna makanan kasar. Enzim seperti maltase, isomaltase dan sukrase belum mencapai tingkat orang dewasa sebelum bayi umur 7 bulan. Sebelum umur 6–9 bulan, jumlah lipase dan bile salts juga sedikit sehingga pencernaan lemak belum mencapai level orang dewasa.
Oleh karena itu jika makanan padat diberikan sebelum system pencernaan bayi belum siap untuk menerimanya dapat mengakibatkan makanan tersebut tidak dapat dicerna dengan baik dan dapat menyebabkan gangguan pencernaan timbulnya gas, konstipasi dan sebagainya(
Prabantini, 2010)
Makanan pendamping ASI seharusnya diberikan setelah bayi berumur 6 bulan karena dapat memberikan manfaat yang besar pada bayi (Kodrat, 2010). Peran serta ibu yang memiliki bayi memegang peranan penting untuk mencegah pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat. Selain itu pihak Kader di Posyandu juga perlu menggalakkan pendidikan kesehatan pada ibu agar makanan pendamping ASI dapat diberikan secara tepat.
Pemberian makanan pendamping ASI harus tepat waktu karena jika diberikan terlalu dini ( kurang dari 6 bulan) akan menurunkan konsumsi ASI dan bayi mengalami gangguan pencernaan atau bisa diare. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian makanan tambahan pada bayi usia kurang dari enam bulan adalah faktor kesehatan bayi, faktor kesehatan ibu, faktor iklan, faktor pengetahuan ibu, faktor pekerjaan ibu, faktor petugas kesehatan, faktor budaya dan faktor sosial ekonomi dalam hal ini perilaku ibu memegang peranan penting untuk mencegah pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat sehingga akan mengurangi resiko bayi mengalami gangguan pencernaan dan dapat memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat.
Metode Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah korelasional. Dimana penelitian bertujuan untuk menjelaskan suatu hubungan, memperkirakan, dan menguji berdasarkan teori yang ada. Hubungan korelatif mengacu pada kecenderungan pada variasi suatu variabel diikuti oleh variabel yang lain (Nursalam, 2003).Variabel independennya yaitu faktor - faktor yang mempengaruhi perilaku ibu meliputi: (1). Faktor pengetahuan ibu, (2). Faktor pekerjaan ibu, (3). Faktor sosial ekonomi keluarga. Variabel dependennya adalah pemberian makanan pendamping ASI. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Ibu yang mempunyai bayi usia 6–36 bulan yang ada di Posyandu Mawar I, Desa Karangrejo, Kabupaten Kediri. Dengan sampel sebanyak 48 dengan teknik simple random mpling.
Pada penelitian ini peneliti mengumpulkan data secara formal kepada subyek untuk menjawab pertanyaan yang tertulis. Kuesioner akan diberikan kepada responden yang memenuhi kriteria inklusi.
Jenis pertanyaan tertutup yaitu responden menjawab pertanyaan dengan cara memilih jawaban yang sudah disediakan oleh peneliti. Kuesioner digunakan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini dengan menggunakan pertanyaan dimana pertanyaan terdiri dari 2 bagian yaitu yang pertama tentang data demografi dengan jumlah 3 pertanyaan (umur, pendidikan, pekerjaan ). Kedua, faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI dengan jumlah 18 pertanyaan terdiri dari 15 pertanyaan untuk faktor pengetahuan, 1 pertanyaan untuk faktor pekerjaan, dan 2 pertanyaan untuk faktor sosial ekonomi. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar kuesioner untuk menilai faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini yang langsung diberikan kepada subyek penelitian yaitu semua ibu yang memiliki batita yang memenuhi kriteria inklusi.
Pembahasan Data Umum
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo pada tanggal 20 Juni – 4 Juli 2011
No. Umur Frekuensi Prosentase 1. 16-25 tahun 14 44 % 2. 26-35 tahun 15 47 % 3. 36-45 tahun 3 9 %
Jumlah 32 100 %
Berdasarkan tabel 1 didapatkan data paling banyak responden dengan umur 26 – 35 tahun masing – masing yaitu sebanyak 15 ( 47 % ) responden.
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Bayi di Posyandu Mawar I Ds. Karangrejo pada tgl. 20 Juni – 4 Juli 2011
No. Umur bayi Frekuensi Prosentase 1. 6-12 bulan 9 28 % 2. 13-24 bulan 16 50 % 3. 25-36 bulan 7 22 % Jumlah 32 100 % Berdasarkan tabel 2 didapatkan data paling banyak responden memiliki bayi dengan usia 13 – 24 bulan yaitu sebanyak 16 ( 50 % ).
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan di Posyandu Mawar I Ds. Karangrejo pada tgl. 20 Juni – 4 Juli 2011 No. Pendidikan Frekuensi %
1. SD 2 6 %
2. SMP 6 19 %
3. SMA 23 72 %
4. Akademi/PT 1 3 %
Jumlah 32 100 %
Berdasarkan tabel 3 didapatkan data sebagian besar responden dengan pendidikan SMA yaitu sebanyak 23 responden ( 72 % ).
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan di Posyandu Mawar I Ds. Karangrejo pada tgl. 20 Juni – 4 Juli 2011
No. Pekerjaan Frekuensi %
1. Ibu rumah tangga 21 66 %
2. Pegawai swasta 7 22 %
3. Wiraswasta 1 3 %
4. PNS 0 0 %
5. Buruh tani /pabrik 3 9 %
6 Polisi 0 0 %
Jumlah 32 100 %
Berdasarkan tabel 4 didapatkan data sebagian besar responden dengan pekerjaan ibu rumah tangga yaitu sebanyak 21 responden ( 66 %).
Data Khusus
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu tentang Pemberian Makanan Pendamping ASI di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo pada tanggal 20 Juni – 4 Juli 2011
No. Pengetahuan Frekuensi %
1. Baik 13 41 %
2. Cukup 9 28 %
3. Kurang 10 31 %
Jumlah 32 100 %
Berdasarkan tabel 5 didapatkan data paling banyak responden memiliki pengetahuan pengetahuan baik, yaitu sebesar 13 responden (41 %).
Tabel 6 Tabulasi Silang Antara Faktor Pengetahuan Ibu terhadap Pemberian Makanan Pendamping ASI di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo pada tgl. 20 Juni – 4 Juli 2011 Peng. Pemberian Makanan
Ibu Pendamping ASI Total
< 6 bulan > 6 bulan
n % n % n %
Kurang 9 28 % 1 3 % 10 31 %
Cukup 5 16 % 4 13 % 9 29 %
Baik 3 9 % 10 31 % 13 40 %
Total 17 53 % 15 47 % 32 100 % Uji regresi logistik ganda p = 0,020 Dari tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang memberikan makanan pendamping ASI terlalu dini memiliki pengetahuan kurang sebanyak 9 responden (28%). Setelah dilakukan uji statistik regresi logistik ganda yang didasarkan taraf kemaknaan yang ditetapkan (á d” 0,025) didapatkan p = 0,020 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya faktor pengetahuan mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo Tabel 7 Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Berdasarkan Sosial Ekonomi di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo pada tanggal 20 Juni – 4 Juli 2011
No. Sosial Ekonomi Frekuensi %
1. Tinggi 0 0 %
2. Menengah atas 7 22 % 3. Menengah bawah 18 56 %
4. Rendah 7 22 %
Jumlah 32 100 %
Berdasarkan tabel 7 didapatkan data lebih dari 50 % responden memiliki sosial ekonomi.rendah sebanyak 18 responden ( 56 % ).
Tabel 8 Tabulasi Silang Antara Faktor Sosial Ekonomi Keluarga terhadap Pemberian Makanan Pendamping ASI di Posyandu
Mawar I Desa Karangrejo pada tanggal 20 Juni – 4 Juli 2011
Sosial Ekonomi Pemberian Makanan
Pendamping ASI Total < 6 bulan > 6 bulan
N % N % N %
Rendah 1 3 % 6 19 % 7 22 %
Menengah bawah 9 28 % 9 28 % 18 56 % Menengah atas 7 22 % 0 0 % 7 22 %
Tinggi 0 0 % 0 0 % 0 0 %
Total 17 53 % 15 47 % 32 100 %
Dari tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang memiliki sosial ekonomi menengah bawah memberikan makanan pendamping ASI lebih dari 6 bulan yaitu sebanyak 9 responden (28 %). Setelah dilakukan uji statistik regresi logistik ganda yang didasarkan taraf kemaknaan yang ditetapkan (á d”
0,025) didapatkan p = 0,315 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya faktor sosial ekonomi tidak mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini.
Tabel 9 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan di Posyandu Mawar I Ds. Karangrejo pada tgl. 20 Juni – 4 Juli 2011 No. Pekerjaan Frekuensi % 1. Tidak bekerja 21 66 % 2. Bekerja < 7 jam 10 31 % 3. Bekerja > 7 jam 1 3 %
Jumlah 32 100 %
Berdasarkan tabel 4.9 didapatkan data sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 21 respoden ( 66 % ).
Tabel 10 Tabulasi Silang Antara Faktor Pekerjaan Ibu terhadap Pemberian Makanan Pendamping ASI di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo pada tanggal 20 Juni – 4 Juli 2011
Pekerjaan Pemberian Makanan
Ibu Pendamping ASI Total
< 6 bulan > 6 bulan
N % N % N %
Tidak bekerja 11 34 % 10 31 % 21 65 % Bekerja < 7 jam 1 3 % 0 0 % 1 3 % Bekerja > 7 jam 5 16 % 5 16 % 10 32 % Total 17 53 % 15 47 % 32 100 %
Uji regresi linier ganda p = 0,992
Dari tabel 10 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang memberikan makanan pendamping ASI terlalu dini adalah tidak bekerja sebanyak 11 responden (34 %).
Setelah dilakukan uji statistik regresi logistik ganda yang didasarkan taraf kemaknaan yang ditetapkan (á d” 0,025) didapatkan p = 0,992 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya faktor pekerjaan tidak mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini.
Tabel 11 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pemberian Makanan Pendamping ASI di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo pada tanggal
No. Pemberian MP ASI Frekuensi % 1. Pemberian dini 17 53 %
(< 6 bulan)
2. Pemberian tepat 15 47 % (> 6 bulan)
Jumlah 32 100 %
Berdasarkan tabel 4.11 didapatkan data lebih dari 50% responden memberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan sebanyak 17 responden ( 53 % ).
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian analisis faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo didapatkan bahwa sebagian besar ibu yang memberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan disebabkan pengetahuan kurang yaitu 9 responden (28 %) dimana terdapat 18 responden tidak mengetahui pengertian makanan pendamping ASI dan 23 responden tidak mengetahui pemberian makanan yang tepat sesuai umur bayi.
Setelah dilakukan uji statistik regresi logistik ganda yang didasarkan taraf kemaknaan (á dˆ 0,025) didapatkan p = 0,020 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya faktor pengetahuan mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini. Pengetahuan akan menentukan perilaku seseorang. Secara rasional seorang ibu yang memiliki pengetahuan tinggi tentu akan berpikir lebih dalam bertindak, dia akan memperhatikan akibat yang akan diterima bila dia bertindak sembarangan. Dalam menjaga kesehatan bayinya terutama dalam pemberian makanan pendamping ASI yang tepat seorang ibu dituntut memiliki pengetahuan yang tinggi sehingga pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini dapat dicegah. Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Adapun faktor ekstrinsik meliputi pendidikan, pekerjaan, keadaan
bahan yang akan dipelajari. Sedangkan faktor intrinsik meliputi umur, kemampuan dan kehendak atau kemauan. Dengan meningkatkan dan mengoptimalkan faktor intrinsik yang ada dalam diri dan faktor ekstrinsik diharapkan pengetahuan ibu akan meningkat ( Notoatmojo, 2003 ). Ibu yang memberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan memiliki pengetahuan kurang. Hal ini dikarenakan ibu tersebut tidak paham akan pengertian makanan pendamping ASI dan tidak mengerti waktu pemberian makanan yang tepat. Pengetahuan responden yang kurang dapat disebabkan karena ibu tersebut kurang aktif dalam mencari informasi tentang pemberian makanan pendamping secara benar.
Faktor pekerjaan, yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo didapatkan bahwa sebagian besar ibu yang memberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan adalah tidak bekerja yaitu sebanyak 11 responden (34 %). Setelah dilakukan uji statistik regresi logistik ganda yang didasarkan taraf kemaknaan (á dˆ 0,025) didapatkan p = 0,992 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya faktor pekerjaan tidak mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini. Secara teori faktor pekerjaan berhubungan dengan aktivitas ibu setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pekerjaan ibu bisa dilakukan di rumah, ditempat kerja baik yang dekat maupun yang jauh dari rumah. Dalam hal ini lamanya seorang ibu meninggalkan bayinya untuk bekerja sehari – hari menjadi alasan pemberian makanan tambahan pada bayi usia kurang dari 6 bulan ( Suhardjo, 2003 ). Tidak ada pengaruh antara faktor pekerjaan dengan pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini. Hal ini disebabkan karena ibu memiliki kebiasaan secara turun – temurun bahwa bayi akan rewel jika hanya diberikan ASI ekskusif selama 6 bulan sehingga ibu tersebut memutuskan memberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan. Jadi apabila tidak ada pengaruh antara pekerjaan dengan pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini perlu dicari faktor lain yang mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini, seperti sosial budaya yang ada pada lingkungan setempat.
Demikian pula faktor sosial ekonomi jg tidak mempengaruhi ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini di Posyandu Mawar I Desa Karangrejo didapatkan bahwa sebagian besar ibu yang memberikan makanan pendamping ASI mulai dari 6 bulan adalah responden yang memiliki sosial ekonomi rendah yaitu sebanyak 9 responden (28%).
Setelah dilakukan uji statistik regresi logistik ganda
yang didasarkan taraf kemaknaan (á dˆ 0,025) didapatkan p = 0,315 maka Ho diterima dan H1 ditolak yang artinya faktor sosial ekonomi tidak mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini. Faktor sosial ekonomi adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi keuangan yang menyebabkan daya beli untuk makanan tambahan semakin besar. Dalam hal pemberian makanan tambahan, pendapatan merupakan hal yang penting karena semakin baik perekonomian keluarga maka daya beli akan makanan tambahan akan semakin mudah, sebaliknya jika semakin buruk perekonomian keluarga maka daya beli akan makanan tambahan akan semakin sukar ( Suhardjo, 2003 ). Pemberian makanan pendamping ASI yang tepat dominan terjadi pada responden yang memiliki sosial ekonomi rendah. Faktor sosial ekonomi tidak mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI dikarenakan pemberian makanan pendamping ASI yang tepat justru diberikan oleh ibu yang memiliki tingkat sosial ekonomi rendah. Hal ini disebabkan ibu tersebut mampu menyediakan makanan pendamping ASI sendiri tanpa harus membeli dari produk pabrik seperti pisang yang dihaluskan. Jadi apabila tidak ada pengaruh antara sosial ekonomi dengan pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini perlu dicari faktor lain yang mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini, seperti sosial budaya yang ada pada lingkungan setempat.
Kesimpulan dan Saran
Dari tiga faktor penelitian hanya faktor pengetahuan ibu yang mempengaruhi, sedangkan faktor pekerjaan dan sosial ekonomi tidak mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI pada bayi umur 6 – 36 bulan di wilayah Posyandu Mawar I desa Karangrejo Kabupaten Kediri. Ibu diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan tentang makanan pendamping ASI seperti aktif mengikuti penyuluhan di pos pelayanan terpadu, dan mencari informasi dari radio, televisi, dan surat kabar. Posyandu perlu meningkatan frekuensi penyuluhan.
Daftar Pustaka
Kodrat, Laksono. (2010). Dahsyatnya ASI dan Laktasi.
Yogyakarta : Media Baca
Notoatmojo, (2002). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta : Rineka Cipta, Prabantini, Dwi. (2010). A to Z Makanan Pendamping
ASI. Yogyakarta : ANDI
Soraya.(2005). Resiko Pemberian MP-ASI Terlalu Dini, http://www.bayikita.wordpress.com. diakses 9 April 2011
Suhardjo. (2003). Pemberian Makanan Pada Bayi Dan Anak. Yogyakarta : Kanisius
VARIASI BAHAN MAKANAN CAMPURAN (BMC) DALAM MENINGKATKAN BERAT BADAN BALITA DENGAN GIZI KURANG
(Suatu Analisis di Desa Karangdayu Baureno Kabupaten Bojonegoro )
VARIATION OF FOOD MIXED (BMC) INCREASE IN CHILDREN WITH WEIGHT LESS NUTRITION (An Analysis of Village Karangdayu Baureno Bojonegoro)
Wiwik U, Rahmawati
Akes Rajekwesi Bojonegoro Prodi Keperawatan
Abstract
Child is the next generation the ideals of the nation, that grows and blossoms optimal nutritional needs must be met. Common problems we face are still malnourished. One of the factors its cause the still low of public knowledge about maintenance of nutrition toddlers in particular ingredient composite food. Provision of Food Mixture (BMC) is a material containing high carbohydrate and protein as a solution. This feed material comprises a mixture of soy and rice because of readily available and easily processed as a hawker. Purpose of the study to determine the weight difference toddler (1-5 years) are given snacks Food Mixture (BMC) and not on malnutrition in the village Karangdayu Baureno Bojonegoro district in 2012.
The study is a quasi-experimental, time series design. Population of all children with malnutrition were 26, samples taken by simple random sampling technique with a large sample of 12 respondents treated group and 12 respondents as a control. Indenpendent variable is the provision of BMC and the dependent variable is weight gain. Test used was a repeated measure ANOVA test statistiuk to determine the effect of BMC on the treatment and analysis of independent sample t-test to test for differences in body weight between the treatment and control groups.
On the treatment group there were weight gain in the first and second week after being given the BMC, with an increasing trend over time. Demonstrated a linear relationship with the sig. 0.002, meaning that the relationship of body weight linear BMC, while the control group did not increase.
The conclusion to be given less BMC in infants nutrition, the body weight increased. Weight infants who were given BMC malnutrition better than those not given the BMC no difference in weight gain before the given BMC. Therefore, researchers recommend the parents to make snacks from BMC as snacks that contain high calories and protein.
Key words: Mixed Food, toddlers, nutrition less.
Abstraks
Anak merupakan generasi penerus cita-cita bangsa, supaya tumbuh dan kembangnya optimal harus terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Masalah umum yang masih kita hadapi adalah gizi kurang. Salah satu faktor penyebabnya masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan gizi balita khususnya bahan makanan campuran. Pemberian Bahan Makanan Campuran (BMC) merupakan bahan yang mengandung tinggi karbohidrat dan protein sebagai satu solusinya. Bahan makan ini terdiri dari campuran antara kedelai dan beras karena mudah didapat dan mudah diolah sebagai jajanan. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan berat badan balita (1-5 tahun) yang diberikan jajanan Bahan Makanan Campuran (BMC) dan tidak pada gizi kurang di desa Karangdayu Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro tahun 2012.
Penelitian ini merupakan eksperimen semu, dengan desain time series. Populasinya semua balita dengan gizi kurang sebanyak 26, sampel diambil dengan teknik simple random sampling dengan besar sampel 12 responden kelompok perlakuan dan 12 responden sebagai kontrol. Variabel indenpendennya adalah pemberian BMC dan variabel dependennya adalah berat badan. Uji yang digunakan adalah uji statistiuk anova repeated measure untuk mengetahui pengaruh BMC pada kelompok perlakuan dan Analisis independent sample t-test untuk menguji perbedaan berat badan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
Pada kelompok perlakuan terdapat kenaikan berat badan pada minggu pertama dan kedua setelah diberi BMC, dengan tren yang semakin meningkat seiring waktu. Hubungan linear ditunjukkan dengan sig. 0,002, artinya hubungan BMC terhadap berat badan linear, Sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami kenaikan.
Kesimpulannya dengan diberikan BMC pada balita Gizi kurang, maka berat badan semakin meningkat.
Berat badan balita gizi kurang yang diberi BMC lebih baik daripada yang tidak diberi BMC ada perbedaan berat badan sebelum diberi BMC. Karena itu peneliti merekomendasikan orang tua untuk membuatkan jajanan dari BMC sebagai jajanan yang mengandung nilai kalori dan protein yang tinggi.
Kata kunci: Bahan Makanan Campuran, balita, Gizi kurang
Pendahuluan
Salah satu tujuan Pembangunan Nasional dalam GBHN adalah untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia. Salah satu faktor peningkatan kualitas manusia adalah gizi. Gizi merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia. Gizi seseorang dikatakan baik apabila terdapat keseimbangan mental orang tersebut, terdapat kaitan yang sangat erat antara status gizi dengan konsumsi makanan (Hananto Wiryo, 2002 : 1). Dalam melakukan suatu aktivitas motorik, dibutuhkan ketersediaan energi yang cukup banyak untuk berdiri, berjalan dan berlari melibatkan suatu mekanisme yang mengeluarkan energi yang tinggi, khususnya anak usia 1-5 tahun memerlukan makanan yang banyak mengandung energi.
Hasil pemantauan status gizi (PSG) dari 76200 balita yang diperiksa berdasarkan BB/U dan BB/TB di Kabupaten Bojonegoro tahun 2009 sebanyak 817 balita (1,07%) dengan gizi buruk, 9197 balita (12,07%) dengan gizi kurang, 64963 balita (1,07%) dengan gizi baik dan 1223 balita (1,60%) dengan gizi lebih. Tahun 2010 balita yang ditimbang 73.490 yang mengalami gizi buruk 189 (0,26%) dan BGM 2054 (2,79%). Di wilayah Puskesmas Baureno tahun 2009 dari 3016 balita sebanyak 16 balita (0,53%) dengan gizi buruk, 258 balita (8,55%) gizi kurang, 2721 balita (90,22%) gizi baik dan sebanyak 21 balita (0,70%) dengan gizi lebih. Pada tahun 2010 bayi yang ditimbang 5051 yang mengalami gizi buruk 3 anak (0,14%) sedangkan yang BGM 26 balita (1,12%).
Diantaranya Desa Karangdayu terdapat 273 balita yang ditimbang terdapat 3 gizi buruk dan 26 gizi kurang.
Gizi pada masa bayi dan anak-anak sangat berpengaruh penting untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Gizi yang kurang pada anak menyebabkan anak menjadi kurus, pertumbuhannya terhambat, ini terjadi karena kurang energi protein (KEP) atau zat pembangun dan kurang tenaga dari makanan yang dikonsumsinya. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita, karena
masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya.
Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensi berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini. Bahkan ada sarjana yang mengatakan bahwa “the child is the father of the man” sehingga tiap kelainan atau penyimpangan sekecil apapun bila tidak terdeteksi apalagi tidak di tangani dengan baik akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak di kemudian hari (Soetjiningsih, 1995 : 30). Banyak penelitian yang menerangkan tentang pengaruh gizi terhadap kecerdasan serta perkembangan motorik kasar. Pada kurang energi protein (KEP) anak menjadi tidak aktif, apatis, pasif dan tidak mampu berkonsentrasi, akibatnya anak dalam melakukan kegiatan eksplorasi lingkungan fisik disekitarnya hanya mampu sebentar saja dibandingkan dengan anak yang gizinya baik, yang mampu melakukannya dalam waktu yang lebih lama (Endah, 2008).
Maraknya makanan dan jajanan ringan seperti ciki, pentol, tempura dan lain-lain diperdagangkan dengan menarik dan rasa yang enak dan lebih gurih sehingga anak lebih menyukainya, dibalik itu makanan tersebut tidak mengandung zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Jika anak-anak memakannya dia kurang menyukai makanan pokok.
Anak balita dengan usia 1-5 tahun merupakan fase pertumbuhan anak yang memerlukan asupan zat gizi yang lebih banyak daripada usia dewasa. Kekurangan asupan gizi pada usia 1-5 tahun akan menimbulkan gangguan pertumbuhan jaringan, sehingga rawan terjadinya gizi kurang dan gizi buruk. Pemberian Bahan Makanan Campuran (BMC) dan edukasi pemberian makanan yang benar sesuai umur anak yaitu dengan penyuluhan gizi seimbang merupakan salah satu solusinya(Almatsier Sunita, 2001 : 37).
Bahan Makanan Campuran bisa diberikan sebagai selingan diantara makanan pokok. Bahan makan ini
2. Jarak Kelahiran
Tabel 2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jarak Kelahiran balita di Desa Karangdayu tahun 2012
Jarak Lahir Kelp. Kelp
perlakuan kontrol
f % f %
Anak pertama 5 41,7 6 50
< 5 tahun 3 33,3 3 25
5-10 tahun 2 16,7 2 16,7
> 10 tahun 2 16,7 1 8,3
Total 12 100 12 100
Dari 12 responden, kebanyakan merupakan anak pertama, yaitu sebanyak 5 responden (41,7%).
3. Status Imunisasi
Tabel 3 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Imunisasi balita di Desa Karangdayu th. 2012 Imunisasi Kelp perlakuan Kelp control
f % f %
Lengkap 12 100 12 100
Total 12 100 12 100
Seluruh responden (100%) telah mendapatkan imunisasi lengkap.
4. Berat Badan Lahir
Tabel 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Berat Badan Lahir balita di Desa Karangdayu tahun 2012
Berat badan Kelp perlakuan Kelp kontrol Lahir f % f %
> 2500 gram 12 100 12 100 Total 12 100 12 100
Seluruh responden (100%) mempunyai berat badan lahir lebih dari 2500 gram.
. 5. Umur Ibu
Tabel 5 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Ibu balita di Desa Karangdayu tahun 2012
Umur Kelp perlakuan Kelp kontrol
F % F %
< 20 tahun 3 25 1 8,3
21-30 tahun 4 33,3 7 58,3
31-40 tahun 4 33,3 4 33,3
41-50 tahun 1 8,3
Total 12 100 12 100
terdiri dari campuran antara kedelai dan beras karena mudah didapat dan mudah diolah sebagai jajanan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan berat badan balita gizi kurang pada kelompok dengan pemberian variasi BMC dan kelompok kontrol.
Alat dan Bahan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan eksperimen semu, dengan desain time series, dimana variabel diukur lebih dari satu kali, dan pengukuran variabel dilakukan oleh tenaga profesional. populasi adalah semua balita gizi kurang yang berada di Desa Karangdayu Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro sebanyak 26. Populasiny semua balita gizi kurang di Desa Karangdayu Baureno Kabupaten Bojonegoro dengan teknik. simpel random sampling, Terdapat dua kelompok sampel pada penelitian ini, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, dimana pengalokasian sampel pada dua kelompok tidak dilakukan secara acak. Pada penelitian ini sampel yang kami gunakan sebanyak 12 responden kelompok perlakukan dan 12 responden kelompok kontrol dengan variabel independen pemberian BMC dan dependennya Berat badan . Data primer yang digunakan untuk penelitian diperoleh dari hasil penimbangan untuk mengetahui berat badan. Data sekunder diperoleh dari data Bidan Desa Karangdayu dan KMS/Buku KIA untuk mengetahui umur Balita.
Teknik analisis data hasil penelitian dilakukan dengan deskriptif disajikan dalam bentuk tabulasi distribusi frekuensi. Dilanjutkan analisis secara analitik dengan statistik uji anova repeated measure untuk menganalisis pengaruh BMC pada kelompok perlakuan, dan dengan menggunakan uji independent sample t-test untuk menguji perbedaan berat badan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Umur Responen
Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur balita di Desa Karangdayu tahun 2012
Umur Kelp perlakuan Kelp kontrol
F % F %
12-24 bulan 3 25 6 50
25-36 bulan 4 33,3 1 8,3
37-48 bulan 3 25 4 33,3
49-60 bulan 2 16,7 1 8,3
Total 12 100 12 100
Dari 12 responden, kebanyakan responden berusia 25-36 bulan, yaitu sebanyak 4 responden (33,3%).
Dari 12 ibu responden, umur ibu didominasi umur 21-30 tahun sebanyak 4 orang (33,3%) dan usia 31-40 tahun sebanyak 4 orang (33,3%).
6. Pendidikan Ibu
Tabel 6 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu balita di Desa Karangdayu Tahun 2012
Pendidikan Kelp perlakuan Kelp kontrol
f % f %
SD 4 33,3 2 16,7
SMP 6 50 7 58,3
SMA 1 8,3 3 25
PT 1 8,3
Total 12 100 12 100
Dari 12 ibu responden, setengahnya berpendidikan SMP yaitu 6 orang (50%).
7. Pekerjaan Ibu
Tabel 7 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu balita di Desa Karangdayu tahun 2012
Pekerjaan Kelp perlakuan Kelp control
f % f %
Petani 1 8,3 3 25
IRT 10 83,3 8 66,7
Buruh 1 8,3 1 8,3
Total 12 100 12 100
Sebagian besar pekerjaan ibu adalah sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 10 orang (83,3%).
8. Penghasilan Ibu
Tabel 8 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan Ibu balita di Desa Karangdayu tahun 2012
Penghasilan Kelp perlakuan Kelp control
f % f %
Di atas UMR 1 8,3 1 8,3
Di bawah UMR 1 8,3 3 25
Tidak berpenghasilan 10 83,3 8 66,7
Total 12 100 12 100
Sebagian besar ibu tidak berpenghasilan, yaitu sebanyak 10 orang (83,3%)
9. Pengetahuan Ibu tentang Gizi Balita
Tabel 9 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu tentang Gizi Balita di Desa Karangdayu tahun 2012
Pengetahuan Kelp perlakuan Kelp kontrol
f % f %
Baik 0 0 0 0
Cukup 10 83,3 7 58,3
Kurang 2 8,3 5 41,7
Total 12 100 12 100
Sebagian besar pengetahuan ibu tentang gizi balita dalam kategori cukup, yaitu sebanyak 10 orang (83,3%).
Gambaran Berat Badan Balita pada Kelompok Perlakuan
Gambar 1 Gambaran Berat Badan Balita pada Kelompok Perlakuan Sebelum diberi BMC, Minggu I dan Minggu II Setelah diberi BMC Balita di Desa Karangdayu Kabupaten Bojonegoro Tahun 2012 Gambar 1 menunjukkan series 1 adalah berat badan sebelum diberi BMC, series 2 adalah berat badan minggu pertama setelah diberi BMC, dan series 3 adalah berat badan minggu kedua setelah diberi BMC.
Berdasarkan gambar tersebut, meskipun tidak menonjol, tetapi dapat dilihat terjadinya kenaikan berat badan pada minggu pertama dan kedua setelah diberi BMC, dengan tren yang semakin meningkat seiring waktu.
Gambaran Berat Badan Balita Pada Kelompok Kontrol
Gambar 2 Gambaran Berat Badan Balita pada Pengukuran I, Minggu II dan Minggu III Balita Kelompok Kontrol di Desa Karangdayu Kabupaten Bojonegoro Tahun 2012
Gambar 2 menunjukkan series 1 adalah berat badan pengukuran pertama, series 2 adalah berat badan minggu kedua, dan series 3 adalah berat badan minggu ketiga. Berdasarkan gambar tersebut, dapat dilihat bahwa berat badan balita bervariasi.
Gambar tersebut menunjukkan adanya peningkatan berat badan, berat badan tetap dan adanya penurunan berat badan dari awal pengukuran.
meskipun tidak menonjol, tetapi tren yang ditunjukkan, menggambarkan berat badan menurun seiring waktu.
Gambaran Perbandingan Berat Badan Balita Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol
Gambar 3 Gambaran Perbandingan Berat Badan Balita pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol pada Pengukuran Awal dan Pengukuran Akhir.
Gambar 3 menunjukkan series 1 adalah pengukuran berat badan pada kelompok perlakuan sebelum diberi BMC, disaat yang sama kelompok kontrol juga diukur berat badannya yang ditunjukkan pada series 3. Series 2 adalah berat badan kelompok perlakuan setelah dua minggu diberi BMC, di saat yang sama kelompok kontrol juga diukur berat badannya yang ditunjukkan pada series 4. Pada gambar tersebut tampak jelas bahwa pada kelompok perlakuan, tren berat badan cenderung terus meningkat, sedangkan pada kelompok kontrol tren berat badan cenderung tetap dan menurun.
Pembahasan
Kebanyakan responden berusia 25-36 bulan.
Pada masa balita, kekebalan tubuh juga rendah, sehingga mudah terserang infeksi. Dalam masa ini, apabila tidak mendapatkan perhatian khusus akan mudah terjadi masalah gizi kurang. Usia todler dimana pada usia ini anak perlu energi banyak untuk melakukan aktivitas motorik yang sangat banyak Jika zat energi tidak terpenuhi maka badan menjadi kurus sehingga sangat rentan terhadap penyakit gizi.
Perubahan berat badan kelompok perlakuan dapat ditunjukkan pada grafik tersebut menunjukkan suatu pola dari kenaikan berat badan. Berdasarkan grafik tersebut, meskipun tidak menonjol, tetapi dapat dilihat terjadinya kenaikan berat badan pada minggu pertama dan kedua setelah diberi BMC, dengan tren yang semakin meningkat seiring waktu. Berdasarkan uji Anava Repeated Measure, didapatkan hasil nilai sphericity Assumed sig. 0.001. Nilai tersebut lebih kecil dari á (5%), sehingga Ho ditolak. Kesimpulannya ada perbedaan berat badan sebelum diberi BMC, minggu pertama dan minggu kedua setelah diberi BMC.
Hubungan linear ditunjukkan dengan sig. 0,002, artinya hubungan BMC terhadap berat badan linear, semakin lama diberikan BMC, maka berat badan semakin meningkat. Pada kelompok perlakuan, terbukti BMC dapat meningkatkan berat badan. Berat badan merupakan ukuran antropometri yang paling sering digunakan. Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang (Supariasa, 2002). Berat badan merupakan salah satu parameter yang memberikan gambaran masa tubuh. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur (Wirjatmadi dan Adriani, 2006).
Bahan Makanan Campuran (BMC) merupakan makanan yang terbuat dari bahan kacang-kacangan dan tepung beras yang diformulasikan sehingga memenuhi kecukupan nilai kalori dan gizi (LIPI,2011). Kedelai (kadang-kadang ditambah “kacang” di depan namanya)
merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Jumlah kalori yang dihasilkan 5,65 kkal.
Manfaat kedelai sebagai meningkatkan metabolisme tubuh, menguatkan sistem imun. Protein yang terkandung dalam kedelai adalah asam amino argirin dan glisin kedua asam amino ini merupakan komponen penyusun hormon insulin dan glikogen yang disekresi oleh kelenjar pankreas sehingga semakin tinggi asupan protein dari kedelai sekresi insulin dan glikogen ke dalam jaringan tubuh semakin meningkat sehingga menekan kadar glukosa saraf dan diubah menjadi energi (Ahira A, 2010) . Beras merupakan bahan makanan yang kandungan terbesarnya adalah karbohidrat, serat yang terdapat pada tepung beras cocok untuk memenuni kebutuhan energi bagi anak- anak. Manfaat beras seratnya mempu menyerap air sehingga bisa lebih lama dalam lambung. Serat beras juga mampu mengikat sisa metabolisme dalam pencernaan. Keistimewaan beras karena mengandunng nilai gizi yang tinggi sehingga mampu memelihara stamina kesehatan tubuh (Artikel Indonesia ).
Kandungan kalori beras 4,10 kkal (Arisman, 2007).
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa bahan makanan campuran sangat baik untuk meningkatkan berat badan balita dengan gizi kurang, karena selain mendapatkan asupan makanan dari rumah tangga, BMC merupakan bahan makanan tambahan yang bisa diberikan sebagai selingan diantara dua waktu makan, sehingga merupakan komposisi yang bagus untuk menambah nilai gizi bagi tubuh balita. Selain itu, kandungan dasar beras yang mengandung serat yang bisa menyerap air sehingga bisa lebih lama dalam lambung juga menimbulkan rasa kenyang padaa balita sehingga mengurangi keinginan balita untuk jajan makanan dengan kandungan gizi yang tidak jelas, sehingga pola konsumsi makanan lebih bernutrisi.
Berdasarkan uji Anava Repeated Measure, didapatkan hasil nilai sphericity Assumed sig. 0.001.
Nilai tersebut lebih kecil dari á (5%), sehingga Ho ditolak. Kesimpulannya ada perbedaan berat badan sebelum diberi BMC, minggu pertama dan minggu kedua setelah diberi BMC. Hubungan linear ditunjukkan dengan sig. 0,002, artinya hubungan BMC terhadap berat badan linear, semakin lama diberikan BMC, maka berat badan semakin meningkat.
Berdasarkan uji Anava Repeated Measure, didapatkan hasil nilai Greenhouse-Geisser sig. 0.063 dan nilai Huynh-Feldt sig. 0.061. Nilai tersebut lebih besar dari á (5%), sehingga Ho diterima.
Kesimpulannya tidak ada perbedaan berat badan pada pengukuran awal, pengukuran minggu kedua dan pengukuran akhir.
Berdasarkan uji Independet Sample T-Test, uji homogenitas Levene’s Test menunjukkan sig. 0.565.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa pada kedua kelompok menunjukkan variasi yang homogen. T-Test menunjukkan sig. 0.006, nilai ini lebih kecil dari á (5%) sehingga Ho ditolak, sehingga hal ini menunjukkan ada perbedaan berat badan antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol, dengan nilai mean yang ditunjukkan pada kelompok perlakuan 10.744 dan kelompok kontrol 9.7808. Hal ini menggambarkan bahwa berat badan balita gizi kurang yang diberi BMC lebih baik daripada yang tidak diberi BMC.
Kesimpulan dan Saran
Semakin lama diberikan BMC, maka berat badan balita semakin meningkat sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami peningkatan berat badan.Berat badan balita gizi kurang yang diberi BMC lebih baik daripada yang tidak diberi BMC. Hendaknya ibu membuatkan jajanan BMC sebagai jajanan yang mengandung nilai kalori dan protein yang tinggi. Serta membuat variasi jajanan
Kepustakaan
Almatsier,S (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Cetakan ke- 4, Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Arisman, MB. (2004). Gizi Dalam Daur Kehidupan.
EGC. Jakarta.
Endah, 2008. Aspek Perkembangan Motorik Dan Ketergantungan Dengan Aspek Fisik Dan Intelektual Anak. http://
parentingislami.woedpress.com/ 2008/
03/03.diakses 25/05/2010.
Riskesdas, (2007). Laporan Nasional, Jakarta: Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
Sukirman, (2001). Perlu Paradigma Baru Untuk Menanggulangi Masalah Gizi Makro Di Indonesia. Bogor.
Wirjatmadi, B. dan Adriani, M., (2006). Penilaian Status Gizi, Surabaya: Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR Surabaya.
.
Yasheive.2012. Imunisasi Dasar. www.http/
scribd.com/doc/32379202. Diakses 22 Maret 2012
HUBUNGAN PERILAKU DENGAN PENCAPAIAN TARGET PERSALINAN MAHASISWA PRODI DIII KEBIDANAN AKADEMI KESEHATAN RAJEKWESI
BOJONEGORO TAHUN 2011
TARGET BEHAVIOR RELATIONSHIP WITH LABOR STUDENT ACHIEVEMENT DIII MIDWIFERY PROGRAM ACADEMY OF HEALTH RAJEKWESI BOJONEGORO 2011
Oleh Fidrotin Azizah
Prodi III keperawatan Akes Rajekwesi Bojonegoro ABSTRACT
One of the competencies to be achieved by the Academy of Health Rajekwesi midwifery students are labor target achievement of at least 35 times, while the factors that can support the success of the clinical practice of obstetrics assessed on the achievement of delivery targets to be met during the educational process in akes Rajekwesi Bojonegoro DIII Midwifery Program, but not all students can achieve the target of 100% in final delivery, based on the recapitulation of the final childbirth education targets in 2010 that students could achieve less than 80% of the total number of student. In effort to determine the relationship of behavior with student achievement of delivery targets the DIII Midwifery Program researchers conducted a study conducted in August-September 2011 at the Academy of Health Rajekwesi Bojonegoro.
This type of observational study design with analytical, and Cros-sectional approach, the inferential statistical analysis techniques with a significant level of 5% and the level of confidence (95% confidence level).
Linear regression analysis techniques using simplified based on the functional or causal relationships between the independent variables with one dependent variable.
The results showed any increase in the behavior score will give an increase of 0.610 achievement of delivery targets, Ho is rejected.
The conclusion of good behavior can accelerate student achievement of the target labor Prodi DIII Midwifery Bojonegoro Rajekwesi Health Academy 2011. Respondents should be more disciplined in recording.
Keywords: Behavior, Labor student target
ABSTRAKS
Salah satu kompetensi yang harus dicapai oleh mahasiswa kebidanan Akademi Kesehatan Rajekwesi adalah percapaian target persalinan sebanyak minimal 35 kali, sedangkan faktor yang dapat mendukung keberhasilan praktek klinik kebidanan dinilai pada pencapaian target persalinan yang harus dipenuhi selama proses pendidikan di Akes Rajekwesi Bojonegoro Prodi DIII Kebidanan, namun tidak semua mahasiswa bisa mencapai target persalinan 100% disemester akhir ,berdasarkan hasil rekapitulasi pendidikan target persalinan disemeter akhir pada tahun 2010 yang bisa dicapai mahasiswa kurang dari 80% dari total jumlah mahasiswa.Dalam upaya mengetahui hubungan perilaku dengan pencapaian target persalinan mahasiswa Prodi DIII Kebidanan maka peneliti melakukan penelitian yang dilaksanakan pada bulan Agustus- September 2011 di Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro.
Jenis penelitian ini observasional dengan desain analitik, serta pendekatan Cros sectional, dengan analisa tehnik statistik inferensial dengan taraf signifikan 5% dan taraf kepercayaan (confidence level sebesar 95%). Tehnik analisis menggunakan Regresi linier disederhanakan didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen.
Hasil penelitian menunjukkan setiap kenaikan satu skor perilaku akan memberikan peningkatan pencapaian target persalinan sebesar 0,610, Ho ditolak.
Kesimpulannya perilaku baik bisa mempercepat pencapaian target persalinan mahasiswa Prodi DIII Kebidanan Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro 2011. Hendaknya responden lebih disiplin dalam pencatatan.
Kata kunci : Perilaku, Target persalinan mahasiswa
Pendahuluan
Pendidikan kesehatan sebagai bagian integral dari pembangunan kesehatan secara Nasional merupakan salah satu elemen penting dalam mewujudkan Indonesia sehat 2010. sesuai dengan tugas fungsinya pendidikan kesehatan mempunyai misi antara lain mutu lulusan,mutu institusi dan meningkatkan kemitraan serta kemandirian institusi dalam melaksanakan pendidikan Kesehatan.
Pendidikan Kebidanan bertujuan untuk menghasilkan bidan profesional. Proses pendidikan terdiri dari tahap pembelajaran dikelas dan pembelajaran dilapangan (klinik) untuk dapat menyiapkan lulusan yang mampu memberikan pelayanan kebidanan berdasarkan ilmu dan tekhnologi kebidanan.
Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro menggunakan kurikulum Departemen Kesehatan RI 2002 dimana mahasiswa menyelesaikan 110 SKS yang terdiri 45,5% teori dan 55,5% praktikum dan klinik (Anonim 2006) salah satu kompetensi yang harus dicapai oleh mahasiswa kebidanan Akademi Kesehatan Rajekwesi adalah percapaian target persalinan sebanyak minimal 35 kali . Salah satu faktor yang dapat mendukung keberhasilan praktek klinik kebidanan dinilai pada pencapaian target persalian yang harus dipenuhi selama proses pendidikan di Akes Rajekwesi Bojonegoro Prodi DIII Kebidanan sebanyak 35 kali pertolongan persalinan , namun tidak semua mahasiswa bisa mencapai target persalinan 100%
disemester akhir , kondisi demikian banyak hal yang bisa mempengaruhi karena dalam keberhasilan proses belajar memerlukan empat faktor penunjang antara lain faktor dari luar meliputi faktor lingkungan, faktor instrumental, faktor fisiologis dan psikologis (Djamarah 2004) faktor psikologis merupakan faktor dari dalam yang merupakan hal utama dalam keberhasilan belajar salah satunya adalah perilaku, perilaku manusia pada hakikatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungannya sebagai manifestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup (Pusdiknas,Depkes RI,1990)
Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku yang bisa berdampak pada keberhasilan seseorang yang meliputi disiplin, minat dan komunikasi. Dengan kemampuan ini maka mahasiswa akan mampu untuk mengenal siapa dirinya, mengendalikan dirinya, memotivasi dirinya, berempati terhadap lingkungan sekitarnya dan memiliki keterampilan social yang akan meningkatan pencapaian target persalianan karena adanya proses belajar yang didasari oleh kesadaran mahasiswa itu sendiri dan itu tergantung dari disiplin, minat dan bagaimana mahasiswa berinteraksi.
Metode penelitian
Desain penelitian dalam penelitian ini adalah observasional dengan metode analitik menggunkan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggali variabel perilaku mahasiswa D III Kebidanan dan variabel pencapaian target persalinan dengan melakukan pengukuran, pengamatan pada saat bersamaan. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro Prodi DIII Kebidanan semester VI sejumlah 140 mahasiswa dengan sampel sebanyak 30 mahasiswa. Pengambilan sampel dengan teknik sampel probability sampling cara simple random sampling .Variabel independennya perilaku mahasiswa sedangkan variabel dependennya pencapaian target persalinan. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner close ended quetion.Kuesioner digunakan untuk menj aring data variabel terikat (x) sedangkan variabel terikat (Y) menggunakan data observasi data rekapitulasi target persalinan. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik statistik inferensial dengan taraf signifikan 5% dan taraf kepercayaan (confidence level sebesar 95%). Regresi linier disederhanakan didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen
Hasil penelitian
Karakteristik responden menurut variabel – variabel penelitian
Tabel 1 Distribusi Perilaku Mahasiswa Prodi DIII Kebidanan di Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro Tahun 2011.
No. Perilaku
(Disiplin,minat, Jumlah Prosentase komunikasi)
1. Sangat baik 13 mahasiswa 43,4%
2. Baik 4 mahasiswa 13,3%
3. Cukup baik 9 mahasiswa 30%
4. Kurang baik 4 mahasiswa 13,3%
Total 30 mahasiswa 100%
Tabel 2 Distribusi pencapaian target pesalinan mahasiswa prodi DIII Kebidanan Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro
No. Pencapaian target Jumlah Prosentase 1. Tercapai 16 mahasiswa 55%
2. Tidak tercapai 14 mahasiswa 45%
Total 30 mahasiswa 100%
Hasil analisis hubungan antara perilaku mahasiswa dengan pencapaian target persalinan