BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA DALAM KAJIAN
B. Relevansi antara Pendidikan Islam dengan Pendidikan Seks Bag
Bila dilihat kembali dalam bab II dan bab III di sana telah penulis paparkan
tentang pengertian pendidikan Islam dengan pendidikan seks. Pendidikan Islam
adalah upaya mempersiapkan anak atau individu dan menumbuhkannya baik dari segi jasmani, akal fikiran dan rohaninya dengan pertumbuhan yang terns menerus agar ia dapat hidup dan berpenghidupan sempuma, dan ia dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi dirinya dan umatnya.
Sedang pengertian pendidikan seks itu sendiri adalah segala usaha untuk membimbing seseorang untuk dapat mengerti benar-benar tentang arti dan fungsi kehidupan kelaminnya, sehingga dapat mempergunakannya dengan sebaik- baiknya dalam kehidupan.
Dari dua pengertian di atas nampak ada sebuah korelasi yang sangat menentukan akan fungsi pendidikan Islam terhadap pendidikan seks itu sendiri. Dengan demikian maka fungsi pendidikan Islam sangat berpengaruh bagi
masayarakat khususnya bagi remaja dalam memahami arti sebuah pengertian
pendidikan seks itu sendiri. Maka individu tersebut dapat memahami dengan
menjalankan aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam ajar an Islam. Agar
pengertian dan pemahaman pendidikan seksual bagi remaja tidak keliru, maka
secara khusus diupayakan pendidikan seks bagi remaja yang mengacu pada
pendidikan Islam.
Dalam hal ini pendidikan seks bagi remaja berupaya agar remaja dapat
mempersiapkan diri dalam membentuk keluarga yang baik yang diwamai dengan
cinta kasih dengan pasangan hidupnya dan keharmonisan diantara keluarga.
Pendidikan seks juga bertujuan mengasuh setiap laki-laki dan perempuan dalam hal pergaulan antar kelamin pada umumnya, yaitu pergaulan antara laki- laki dan perempuan khususnya kehidupan seksual, yang berkaitan dengan hubungan interpersonal yang baik dan benar sesuai dengan ajaran Islam.
Pendidikan seks juga dapat membantu para remaja untuk mengetahui tentang penyakit-penyakit hubungan seksual sekaligus merupakan upaya pencegahan penyakit tersebut. Penyakit hubungan seksual tersebut diantaranya adalah gonore, sifilis dan AIDS.
Pendidikan seks bagi remaja juga berupaya agar mereka dapat menjauhi perbuatan terlarang, keji dan kotor tersebut dengan penuh kesadaran. Dengan demikian maka diharapkan tidak akan teijadi penyimpangan-penyimpangan seksual, selain itu pula menyadarkan akan eksistensi (keberadaan) dirinya sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk seksual. Maka melalui pendidikan seks ini remaja diberi bekal pengetahuan serta pemahaman tentang pergaulan
antara pria dengan wanita serta berbagai hal yang bersangkutan dengan fungsi
seksual mereka. Oleh karena itu diharapkan meraka dapat mengenal dan
memahami pergaulan hidup pria dan wanita serta mempersiapkan diri untuk
membina rum ah tangga yang bahagia dan sejahtera berdasarkan ajar an Islam.
Dalam pengertian lain fungsi pendidikan Islam terhadap pendidikan seks itu
adalah memberikan sebuah bimbingan, maksudnya memahami dan menyadari
tentang arti dan fungsi kehidupan seksualnya. Dengan demikain maka diharapkan
bagi remaja dapat menggunakan seksualnya dengan sebaik-baiknya dalam
kehidupan sehari-hari.
Bimbingan yang diharapkan kepada mereka itu dimaksudkan untuk
menghindari gangguan dan kelainan seksual serta menghindari akibat hubungan
interpersonal yang tidak diharapkan, seperti kehamilan di luar rencana, aborsi,
free seks dan sebagainya. Selain itu fungsi dari bimbingan itu sendiri, mereka
dituntut untuk menguasai lingkungan yang baik dengan cara harus dapat
mengontrol dan menguasai dirinya termasuk juga dalam seksual.
Pendidikan Islam yang dimaksudkan adalah suatu pendidikan kelamin, yaitu segala ajaran yang telah ditetapkan dalam Islam. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa sumber pendidikan seks dalam Islam adalah sumber aturan dan ajaran Islam itu sendiri, yaitu A1 Qur’an, Hadits, pendapat-pendapat para ulama dan sarjana Islam.
Dalam definisinya itu disebutkan bahwa tujuan pendidikan kelamin adalah untuk mengatur dan memberi petunjuk dalam melaksanakan fungsi seksualnya ke arah yang sebaik-baiknya dan dengan cara yang sebaik-baiknya. Mengatur dan
memberi petunjuk dalam melaksanakan fungsi seksualnya, dimaksudkan agar
manusia dapat melakukan hubungan antar jenis sesuai dengan fltrah dan
kodratnya sebagai makhluk seksual. Sebagaimana seorang laki-laki, maka
bertindak dan bersikaplah sebagai seorang laki-laki, demikain halnya dengan
perempuan. Mereka tidak boleh melakukan hubungan badan sebelum adanya
hubungan yang sah, yaitu pemikahan yang sesuai dengan tuntunan, aturan dan
ajama Islam.
Dalam penjelasan-penjelasan di atas setelah dianalisis, maka pada prinsipnya
terdapat kesamaan antara fungsi pendidikan Islam dengan pendidikan seks. Oleh
karena itu dapat disimpulkan bahwa; pendidikan seks bagi remaja adalah segala
usaha untuk membimbing para remaja agar dapat memahami benar-benar tentang
arti dan fungsi kehidupan kelaminnya sebagai individu seksual, mengurangi dan
mencegah penyalahgunaan seks, serta dapat mempergunakan dan
melaksanakannya ke arah tujuan yang sebaik-baiknya dengan cara yang benar,
meliputi bidang etika, moral, sosiologi dan sebagainya berdasarkan ajaran Islam.
Dari kesimpulan di atas nampak bahwa pendidikan seks bagi remaja
merupakan bagian dari manifestasi pendidikan Islam, sebagaimana disebutkan
sebelumnya, bahwa pendidikan Islam adalah upaya dalam rangka mempersiapkan
anak didik dan menumbuhkan serta mengembangkannya, baik dari segi jasmani,
rohani dan akal pikiran, untuk mencapai kehidupan yang sempuma serta menjadi
A. Kesimpulan
Pengkajian dan pembahasan masalah “Pendidikan Seks Bagi Remaja Dalam Kajian Pendidikan Islam”, berdasarkan sumber-sumber data berikut analisisnya dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan seks bagi remaja adalah segala usaha untuk membimbing para remaja agar; memahami tentang arti dan fungsi kehidupan kelaminnya, mengurangi dan mencegah penyalahgunaan seksual, melaksanakan dan menggunakan seksual ke arah yang baik dan dengan cara yang benar berdasarkan ajar an Islam.
konsep pendidikan seks bagi remaja menurut kajian Pendidikan Islam adalah sebagai berikut.
1. Fungsi pendidikan seks bagi remaja adalah; Mencegah penyalahgunaan dan penyimpangan seksual serta hal-hal negatif akibat dorongan seksual, memelihara remaja agar tidak teijerumus ke jurang kenistaan, meningkatkan kesadaran remaja tentang arti dan fungsi seksual memberi solusi tentang pencegahan, mengobati dan penyembuhan.
2. Tujuan pendidikan seks adalah; Mendidik individu (remaja) agar bergaul dengan lawan jenisnya dengan baik dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, menyiapkan remaja tentang pentingnya hubungan yang sah dalam perkawinan dan menyadari tentang arti serta fungsi seksual dengan baik berdasarkan ajaran Islam.
3. pendidik, pendidik dalam pendidikan seks bagi remaja adalah individu yang
memiliki sifat-sifat dan syarat sebagai berikut;
a. Kompetensi kepribadian, yaitu mempunyai sifat rabbani, ikhlas, sabar,
pemaaf, jujur, adil, zuhud (tidak materialistis).
b. Kompetensi sosial, yaitu memberi bimbingan tentang seksual, sifat
kebapakan atau keibuan, dapat bergaul dengan baik.
c. Kompetensi keilmuwan, yaitu pendidik harus menguasai dan memahami
masalah seksual (penyebab, pencegahan penyakit kelamin, dan sebagainya),
mampu mengelola siswa dan menggunakan metode mengajar dengan baik.
4. anak didik, anak didik dalam pendidikan seks bagi remaja adalah remaja, yaitu
suatu periode antara anak-anak dengan dewasa, berkisar antara umur 1 3 - 2 1
tahun, dimulai dengan perkembangan seksualitas yang ditandai cirri-ciri tanda
kelamin primer dan tanda kelamin sekunder sampai berakhimya pertumbuhan
jasmaniah, yang di dalamnya terjadi perubahan baik fisiologis maupun
psikologis.
5. Materi pendidikan seks meliputi masalah sebagai berikut:
a. Khitan, yaitu memotong kulit dzakar yang menutupi kepala dzakar.
b. Pemikahan, yaitu aqad antara pria dan wanita sehingga menghalalkan
hubungan seksual berdasarkan ajaran Islam.
c. Pelanggaran seksual baik perzinaan, homo seksual maupun masturbasi. d. Etika seksual meliputi; pergaulan antara pria dan wanita, pergaulan suami
istri serta hak dan kewajiban masing-masing, etika seksual suami istri. e. Proses pertumbuhan dari pembuahan sampai kelahiran manusia.
f. Pertumbuhan dan perkembangan manusia secara fisik dan psikis.
g. Penyakit akibat pelanggaran seksual (gonore, sifilis, AIDS) maupun hukum-
hukumnya.
6. Metode dan alat yang digunakan dalam proses pendidikan seks bagi remaja meliputi; ceramah, Tanya jawab, diskusi, resitasi, keteladanan, anjuran atau perintah, larangan, sanksi dan cerita dari sejarah atau pengalaman.
7. Lingkungan seks bagi remaja meliputi; Lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan masjid.
B. Saran-saran
Sehubungan dengan pentingnya pendidikan seks bagi remaja, maka melalui skripsi ini penulis mencoba memberikan saran-saran khususnya masyarakat, remaja, pendidik dan media informasi, sebagai berikut:
1. Hendaknya masayarakat tidak lagi menganggap tabu terhadap masalah seksual, karena banyak fakta-fakta yang muncul membuktikan bahwa penyalahgunaan dan penyimpangan seksual, diantaranya disebabkan karena ketidak tahuan terhadap masalah pendidikan seksual.
2. Hendaknya remaja harus dapat memandang bahwa pendidikan seks bagi remaja sebagai suatu kebutuhan dan lebih meningkatkan kesadaran tentang bahaya-bahaya seksual serta membatasi pergaulan sesuai dengan norma dan ajaran Islam.
3. Pendidik dalam pendidikan seks, hendaknya lebih mempersiapkan diri dalam bentuk penguasaan materi dan penyampaiannya terhadap siswa, metode yang
digunakan, akhlak yang baik dari pendidik itu sendiri yang selalu menjadi
contoh dan sebagainya, sehingga memungkinkan bagi pendidik untuk
memudahkan dalam penyampaian materi pendidikan dengan baik.
4. Hendaknya media informatika baik TV, majalah, novel, buku-buku bacaan dan
sebagainya dapat membantu dan memberikan pemahaman yang benar tentang
pendidikan seksualitas dan jangan memberikan informasi tentang seks yang
kurang tepat, karena akan membawa efek negatif.
C. Penutup
Sebagai akhir dari uraian ini, sudah sepantasnya penulis mamanjatkan syukur
Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan
hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempumaan. Oleh karena itu sumbang saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi kesempumaan skripsi ini.
Akhimya penulis berharap, mudah-mudahan skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang budiman pada umumnya dan penulis pada khususnya.
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung : Logos, 1997).
Abdurrahman An Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, terj. Hery Noer Ali (Bandung: Diponegoro, Cet. Ke-II, 1992).
Akhmad Azhar Abu Miqdad, Pendidikan Seks bagi Remaja (Yogyakarta: Mitra
Pustaka, Cet. Ke-III, September 2001).
Amir Dien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Malang: Fak. Ilmu Pendidikan IKIP, Tt).
Dedi Junaidi, Bimbingan Perkawinan (Jakarta: Akademika Pressindo, 2001).
Departeman Agama RI, AL Q ur’an dan Terjamahnya (Surabaya: CV. Jaya Sakti, 1997).
___________________, Islam untuk Disiplin Ilmu Pendidikan (1996).
Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam (Jakarta: Pustaka A1 Husna, Cet. Ke-III, 1985).
_______________, Manusia dan Pendidikan (Jakarta: Pustaka A1 Husna, 1986).
Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta : Safiria Insania Press, Cet. Ke-I, Oktober 2003).
Kamus Bahasa Indonesia Lengkap (Surabaya: Apollo, 1997), him. 439.
Muhammad Qutb, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun (Bandung: A1 Ma’arif, 1984).
_________________, terj. Bustmi A. Gani, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam
(Jakarta: Bulan Bintang, 1970).
Marwali Harahap, dkk, Penyakit Menular Seksual (Jakarta: PT. Gramedia, Tt).
M. Athiyah A1 Abrasyi, Dasar-dasar pokok Pendidikan Islam, terj. Bustami A. Gani (Jakarta: Bulan Bintang, Cet. Ke-VII, 1993).
M. Bukhari, Islam danAdab Seksual (Solo : Amzah, Cet. Ke-II, Agustus 2001).
Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).
Romdoni Muslim, Sabda-sabda Rasulullah (Jakarta: Nur Insani, Maret 2002).
Rono Sulistyo, Pendidikan Seks (Bandung: Fak. Kedokteran Universitas Padiadiaran, Cet. Ke-III, tt).
Sudirman N. dkk, Ilmu Pendidikan (Bandung: Remaja Karya, 1987).
Sutrisno Hadi, Metodologi Research I (Yogyakarta: Fak. Psikologi Universitas Gadjah Mada, Cet. Ke-XX, 1987).
Sumadi Surya Brata, Metodologi Penelitian (Jakarta: Rajawali, 1991).
Sarlito Wiraman Sarwono, Psikologi Remaja (Jakarta: Raja Grafmdo Persada, Cet. Ke-V, Pebruari 2000).
Zakiyah Darajad, Problema Remaja (Jakarta: Bulan Bintang, 1978). _____________, Pembinaan Remaja (Jakarta: Bulan Bintang, Tt). _____________, Kesehatan Mental (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1975).
Tempat/Tanggal Lahir : Grobogan, 04 April 1978
Alamat : Ds. Bangsri RT. 01 RW. 03 Kec. Geyer Kab. Grobogan
Pendidikan :
1. SDN I Bangsri lulus tahun 1991
2. MTs YASIS AT TAQWA Pahesan Godong lulus tahun 1994 3. MA YASIS AT TAQWA Pahesan Godong lulus tahun 1998 4. STAIN Surakarta Program D 2 PGSD/MI lulus tahun 2002
5. Mahasiswa STAIN Salatiga Jurusan Tarbiyah semester akhir tahun 2007
Pekerjaan :
Guru Agama SDN 2 Bangsri, sejak tanggal 1 Pebruari 2001 s/d sekarang. Guru MI Nurul Huda Asemrudung, sejak tanggal 21 Oktober 2003 s/d sekarang.