BAB IV. SUMBANGAN KATEKESE DALAM UPAYA
B. Relevansi Katekese dalam Hidup Berkomunitas
Para suster CB juga berupaya untuk membangun komunitas pengampunan melalui salah satu model katekese yang menekankan pengalaman iman dalam terang Injil. Dengan demikian bahwa dalam membangun komunitas pengampunan semakin sempurna dalam beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan semakin dikukuhkan hidup Kristiani.
Melalui katekese para suster CB diajak untuk menemukan kasih dan pengampunan dalam hidup berkomunitas sehingga sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup sehari-hari di tengah masyarakat. Hal ini yang sangat ditekankan oleh Bunda Elisabeth pendiri kongregasi CB yang merupakan kekhasan spiritualitas kongregasi yang tampak dalam kontemplasi Bunda Elisabeth pada Yesus yang tersalib, sehingga memampukannya untuk bertindak sebagai pengemban rekonsiliasi pada zamannya dengan cara memberikan kesaksian Kristus yang dialaminya dalam kehidupannya sehari-hari. Sebagai suster CB misteri salib menjadi daya dalam melaksanakan perutusan sebagai pengemban rekonsiliasi dalam dunia yang terluka. Para suster CB dimampukan oleh Allah untuk menjadi pengemban rekonsiliasi, karena Allah sudah terlebih dahulu berbelarasa dengan manusia yang berdosa. Pengalaman akan kasih Allah yang telah menyelamatkan inilah yang terus-menerus akan dikembangkan dan disebarluaskan dalam hidup sehari-hari, agar menjadi daya bagi para suster CB dalam menghayati perutusan sebagai pengemban rekonsiliasi dalam
dunia yang terluka baik dalam hidup bersama sebagai komunitas maupun di tempat perutusan masing-masing. Dengan demikian penulis menawarkan katekese sebagai bentuk pembinaan dalam usaha semakin menumbuhkan sikap pertobatan terus-menerus dalam membangun komunitas rekonsiliatif. Sesuai dengan sasaran katekese sebagai pembinaan ke arah kedewasaan iman, maka diharapkan iman setiap anggota komunitas semakin dewasa sehingga sikap pengampunan dapat berkembang didalam berkomunitas. Dengan demikian terwujudlah cita-cita komunitas yang sehati dan sejiwa.
Dalam (Kis 2;41-47, 4:32-37) Menekankan model hidup bersama dalam Gereja perdana yang di tandai dengan saling membantu penuh persaudaraan, saling sehati, saling berbagi pengalaman, bahkan milik mereka menjadi milik bersama. Dalam hidup mereka rela berbagi, baik berbagi hal rohani maupun jasmani; hidup spiritual dan hidup sehari-hari. Mereka dengan gembira saling saling berbagi hidup rohani sehingga saling diperkuat; saling berbagi hidup sehari-hari seperti membantu secara ekonomi. Kerelaan berbagi itulah kiranya yang membuat persaudaraan mereka sungguh erat dan hidup masing-masing dikuatkan.
Dalam Konstitusi Suster-suster CB juga terungkap bahwa pada dasarnya Cintakasih Tuhanlah yang menyatukan kita bersama di dalam persekutuan Gereja. Tuhan yang mengundang kita untuk hidup dalam persekutuan religius yang ditandai oleh Kharisma Bunda Elisabeth. Hidup bersama bukanlah karya manusia melainkan ada sebuah misteri Allah yang terilhami yang tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Disinilah setiap
suster yang disatukan mulai berupaya secara terus-menerus untuk menjaga api Roh kebersamaan dalam hidup bersama.
Menyadari akan keterbatasan setiap pribadi, sebagai komunitas setiap saat berupaya untuk melakukan bina diri bersama antara lain melalui refleksi, pengolahan hidup, meditasi kontemplasi dan juga dicernment. Upaya ini diarahkan agar setiap suster tetap mengingat bahwa membangun komunitas religius adalah tanggungjawab bersama.
Alangkah bahagia suasana biara, bila terdapat kesatuan antara para anggota ialah jika mereka saling membantu dan berunding, agar karyanya menghasilkan buah demi Allah (EG. 39). Ada dialog, kerja sama, keterbukaan untuk mengupayakan agar komunitas dapat berekembang sesuai yang dikehendaki oleh Allah.
Meneladan kehidupan Bunda Elisabeth sebagai acuan dalam menentukan tanggapan yang relevan dan efektif terhadap situasi, kita perlu bertemu dengan Bunda Elisabeth bagaimana beliau menanggapi keterlukaan pada zamannya.
Setelah revolusi Perancis, Maastricth hancur lebur. Setiap perang membawa penderitaan bagi manusia dan kerusakan terhadap lingkungan. Keterlukaan dan kehancuran seperti itulah yang ditanggapi Bunda Elisabeth. Ia melihat, tergerak dan bertindak secara nyata untuk meringankan penderitaan manusia. Dengan sikap itu Bunda Elisabeth menjadi alat dalam mendirikan kongergasi; Bunda Elisabeth dibentuk untuk menanggapi situasi keterlukaan dalam dunia. Bunda Elisabeth mampu menangkap dengan tajam
gerakan Roh dalam hidupnya karena relasi yang akrab dengan Yesus Kristus (EG. 39-41). Pengalaman dikasihi Allah membuat ia mampu melihat realitas dengan mata Allah, digerakan oleh belarasa dengan hati Allah, dan bertindak dengan tangan Allah. Bunda Elisabeth tidak meragukan kasih Allah yang dialaminya, oleh karena itu Bunda Elisabeth juga tidak ragu- ragu akan kasih dan kehadiran Allah didalam sesama. Bunda Elisabeth dalam ketersentuhan dengan keterlukaannya sendiri dan menyatukannnya dengan keterlukaan orang lain dan dunia, membuat Bunda Elisabeth merasa lebih ringan dalam menanggung penderitaannya dengan demikian terjadilah saling berekonsiliasi antar kita kebersaman itu terjadi pula penyembuhan dalam diri kita sendiri dan orang lain (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005: 29).
Bunda Elisabeth mampu tergerak untuk mengambil bagian dalam keterlukaan dunia, karena tidak terlepas dari relasinya yang akrab dengan Yesus yang tersalib. Beriman akan Allah, harga diri yang sehat, dan sikap yang sehat terhadap orang lain berdasar pada kasih merupakan kekuatan dari tanda kuat akan adanya harapan dalam situasi yang penuh dengan keterlukaan (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005:30). Bunda Elisabeth sangat menghargai setiap pribadi, karena melalui pribadi-pribadi tersebut ia menemukan Allah yang berbelarasa, Allah yang mencintai tanpa syarat bagi mereka yang terluka. Oleh karena itu kehadiran suster CB merupakan kesaksian sebagai nabi dengan mencintai mereka yang lemah, miskin dan tersingkir sebagai wujud dari penyembuh bagi mereka yang terluka pada
zaman ini sesuai dengan situasi. Dengan harapan bahwa hal ini paling terutama adalah bagaimana setiap anggota kongregasi berusaha untuk menghayati kasih itu dalam komunitas maupun dalam karya perutusannya sebagai suster CB.