viii
ABSTRAK
Judul skripsi ini adalah “MAKNA PENGAMPUNAN DALAM HIDUP BERKOMUNITAS SUSTER-SUSTER CINTAKASIH SANTO
CAROLUS BORROMEUS” penulis memilih judul tersebut berdasarkan realitas yang dialami dalam membangun hidup berkomunitas suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus. Maka yang menjadi persoalan mendasar dalam skripsi ini adalah bagaimana para suster CB mampu menerima kelebihan dan kekurangan sesama suster sebagai sarana untuk saling mengampuni dalam membangun hidup berkomunitas.
Para suster CB dipanggil untuk menjadi pembawa damai bagi sesama terlebih dalam membangun hidup bersama menjadi komunitas yang pengampun. Dalam kongregasi CB memiliki anggota dari berbagai macam latar belakang, budaya, suku, dan pendidikan yang berbeda-beda, sehingga kadang dalam hidup bersama belum mampu mewujudkan budaya rekonsiliatif sebagai sarana untuk menyatukan satu sama lain dalam membangun hidup berkomunitas. Hal ini yang sering kali menimbulkan perbedaan dan konflik dalam hidup bersama sebagai komunitas.
Sebagai murid Yesus Kristus para suster CB diajak untuk belajar dari Yesus dengan menjadikan pola pilir, pola pilihan, pola sikap dan pola tindak yang menjadikan pola hidup suster CB. Seperti Bunda Elisabeth pengalaman pribadi dengan Yesus yang tersalib menjadi penggerak seluruh pola pikir, pilihan dan tindakannya yang tampak dalam kerelaannya untuk mengampuni orang-orang yang memfitnahnya, merendahkannya, dan mengusirnya, bahkan Bunda Elisabeth memohonkan pengampunan bagi mereka. Model katekese Shared Christian Praxis (SCP) merupakan salah satu usaha untuk membantu para suster CB dalam meningkatkan semangat pengampunan dalam membangun hidup berkomunitas. Model katekese ini bersifat dialogal partisipatif yang bermaksud mendorong para peserta untuk mengkonfrontasikan pengalaman hidupnya dengan pengalaman tradisi Kristiani yang terdapat dalam Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja.
ix
ABSTRACT
The title the this small thesis is “THE MEANING OF RECONCILIATION IN COMMUNITY LIFE OF SISTER’S OF CHARLES BORROMEO”. The writer chose this theme based on the reality in building up the spirit of community life in the community of Charles Borromeo sister’s.
The main problem in this writing is how the sister of Charles Borromeo is able to accept the strength and weakness of others as the way to reconcile one another in building up community life.
The Charles Borromeo sister’s are called to bring peace for others,
expecially in building up togetherness as one community. Congregation of Charles Borromeo has members who come from different background, culture, race, and education. Therefort sometimes in living together as community, they could not live out the spirit of reconciliation as the tools to unite another in building up the community life. Many times, it creates the conflict and different ideas in living together in religious community.
As the disciples of Jesus, the CB sister’s are invited to learn from Jesus
the thought become the pilar, example, the attitude and action in their life as the CB sister. CB sister are following the life example of Mother Elisabeth who by her personal experience with Jesus became the foundation spirit in her way of thinking, chosing, and action that are seen in her readiness to reconcile those who backbited, look down and expeled her. Mother Elisabeth asked the forgiveness for them. The model of cathechism Shared Christian Praxis (SCP)
is one way to help CB sister’s to improve the spirit of forgiveness in building up community life. The model of this chatechsm uses the dialog participative method that able to motivate each member to share their personal experience with the is chatolic tradition in Bible and church teaching.
In ordher to explain it, the writer uses the descriptive approach based on
the library study by learning the Church document’s and the document of the sister’s CB congregation. The sisters of CB sould improve their spirit of
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah yang Maha kasih atas kelimpahan berkat dan kasih-Nya yang telah menuntun, dan membimbing serta menguatkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Judul skripsi ini adalah MAKNA PENGAMPUNAN DALAM
HIDUP BERKOMUNITAS SUSTER-SUSTER CINTAKASIH SANTO
CAROLUS BORROMEUS.
Dalam proses penulisan dan penyelesaian penulisan skripsi ini, penulis menyadari akan kehadiran semua pihak yang telah membantu, mendukung dengan caranya masing-masing. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih sepenuh hati kepada:
1. Dr. J. Darminta, SJ., selaku dosen pembimbing utama, yang bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing dan mebantu dengan ketulusan hati, penuh pengertian, kesabaran, dari awal sampai selesainya penulisan skripsi ini.
xi
3. penulis dengan perhatian selama masa perkuliahan hingga selesainya penulisan skripsi ini.
4. Dr. Bernadinus Agus Rukiyanto, SJ., selaku penguji III, yang telah mendukung penulis selama penulisan skripsi ini hingga selesai.
5. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ., selaku Kaprodi IPPAK yang dengan penuh keramahan menyapa dan mendukung penulis selama penulisan skripsi ini.
6. Para Staf Dosen IPPAk yang telah membimbing, medampingi, memberikan pengetahuan spiritual yang berharga kepada penulis selam belajar di IPPAk. 7. Para staf karyawan IPPAK dan Puskat yang telah memberikan perhatian,
dorongan dan bantuan yang berguna bagi penulis.
8. Sr. Carolina CB., sebagai Pimpinan Provinsi Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus beserta para Suster Dewan Pimpinan Provinsi yang telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk mengembangkan diri di IPPAK-USD Yogyakarta hingga selesai.
MAKNA PENGAMPUNAN DALAM HIDUP BERKOMUNITAS SUSTER-SUSTER CINTAKASIH SANTO CAROLUS BORROMEUS
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
Oleh:
Fransiska Tanesib Bifel NIM: 091124016
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
v
“Memang jika Allah berbicara dalam hati, pasti terdengar bahasa cinta”
viii
ABSTRAK
Judul skripsi ini adalah “MAKNA PENGAMPUNAN DALAM HIDUP BERKOMUNITAS SUSTER-SUSTER CINTAKASIH SANTO
CAROLUS BORROMEUS” penulis memilih judul tersebut berdasarkan realitas yang dialami dalam membangun hidup berkomunitas suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus. Maka yang menjadi persoalan mendasar dalam skripsi ini adalah bagaimana para suster CB mampu menerima kelebihan dan kekurangan sesama suster sebagai sarana untuk saling mengampuni dalam membangun hidup berkomunitas.
Para suster CB dipanggil untuk menjadi pembawa damai bagi sesama terlebih dalam membangun hidup bersama menjadi komunitas yang pengampun. Dalam kongregasi CB memiliki anggota dari berbagai macam latar belakang, budaya, suku, dan pendidikan yang berbeda-beda, sehingga kadang dalam hidup bersama belum mampu mewujudkan budaya rekonsiliatif sebagai sarana untuk menyatukan satu sama lain dalam membangun hidup berkomunitas. Hal ini yang sering kali menimbulkan perbedaan dan konflik dalam hidup bersama sebagai komunitas.
Sebagai murid Yesus Kristus para suster CB diajak untuk belajar dari Yesus dengan menjadikan pola pilir, pola pilihan, pola sikap dan pola tindak yang menjadikan pola hidup suster CB. Seperti Bunda Elisabeth pengalaman pribadi dengan Yesus yang tersalib menjadi penggerak seluruh pola pikir, pilihan dan tindakannya yang tampak dalam kerelaannya untuk mengampuni orang-orang yang memfitnahnya, merendahkannya, dan mengusirnya, bahkan Bunda Elisabeth memohonkan pengampunan bagi mereka. Model katekese Shared Christian Praxis (SCP) merupakan salah satu usaha untuk membantu para suster CB dalam meningkatkan semangat pengampunan dalam membangun hidup berkomunitas. Model katekese ini bersifat dialogal partisipatif yang bermaksud mendorong para peserta untuk mengkonfrontasikan pengalaman hidupnya dengan pengalaman tradisi Kristiani yang terdapat dalam Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja.
ix
ABSTRACT
The title the this small thesis is “THE MEANING OF RECONCILIATION IN COMMUNITY LIFE OF SISTER’S OF CHARLES BORROMEO”. The writer chose this theme based on the reality in building up the spirit of community life in the community of Charles Borromeo sister’s.
The main problem in this writing is how the sister of Charles Borromeo is able to accept the strength and weakness of others as the way to reconcile one another in building up community life.
The Charles Borromeo sister’s are called to bring peace for others,
expecially in building up togetherness as one community. Congregation of Charles Borromeo has members who come from different background, culture, race, and education. Therefort sometimes in living together as community, they could not live out the spirit of reconciliation as the tools to unite another in building up the community life. Many times, it creates the conflict and different ideas in living together in religious community.
As the disciples of Jesus, the CB sister’s are invited to learn from Jesus
the thought become the pilar, example, the attitude and action in their life as the CB sister. CB sister are following the life example of Mother Elisabeth who by her personal experience with Jesus became the foundation spirit in her way of thinking, chosing, and action that are seen in her readiness to reconcile those who backbited, look down and expeled her. Mother Elisabeth asked the forgiveness for them. The model of cathechism Shared Christian Praxis (SCP)
is one way to help CB sister’s to improve the spirit of forgiveness in building up community life. The model of this chatechsm uses the dialog participative method that able to motivate each member to share their personal experience with the is chatolic tradition in Bible and church teaching.
In ordher to explain it, the writer uses the descriptive approach based on
the library study by learning the Church document’s and the document of the sister’s CB congregation. The sisters of CB sould improve their spirit of
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah yang Maha kasih atas kelimpahan berkat dan kasih-Nya yang telah menuntun, dan membimbing serta menguatkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Judul skripsi ini adalah MAKNA PENGAMPUNAN DALAM
HIDUP BERKOMUNITAS SUSTER-SUSTER CINTAKASIH SANTO
CAROLUS BORROMEUS.
Dalam proses penulisan dan penyelesaian penulisan skripsi ini, penulis menyadari akan kehadiran semua pihak yang telah membantu, mendukung dengan caranya masing-masing. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih sepenuh hati kepada:
1. Dr. J. Darminta, SJ., selaku dosen pembimbing utama, yang bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing dan mebantu dengan ketulusan hati, penuh pengertian, kesabaran, dari awal sampai selesainya penulisan skripsi ini.
xi
3. penulis dengan perhatian selama masa perkuliahan hingga selesainya penulisan skripsi ini.
4. Dr. Bernadinus Agus Rukiyanto, SJ., selaku penguji III, yang telah mendukung penulis selama penulisan skripsi ini hingga selesai.
5. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ., selaku Kaprodi IPPAK yang dengan penuh keramahan menyapa dan mendukung penulis selama penulisan skripsi ini.
6. Para Staf Dosen IPPAk yang telah membimbing, medampingi, memberikan pengetahuan spiritual yang berharga kepada penulis selam belajar di IPPAk. 7. Para staf karyawan IPPAK dan Puskat yang telah memberikan perhatian,
dorongan dan bantuan yang berguna bagi penulis.
8. Sr. Carolina CB., sebagai Pimpinan Provinsi Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus beserta para Suster Dewan Pimpinan Provinsi yang telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk mengembangkan diri di IPPAK-USD Yogyakarta hingga selesai.
xiii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... xviii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 4
C. TUJUAN PENULISAN ... 4
D. MANFAAT PENULISAN ... 5
E. METODE PENULISAN ... 5
F. PEMBATASAN MASALAH ... 5
xiv
BAB II. PENGAMPUNAN DALAM KONGREGASI SANTO
CAROLUS BORROMEUS………. 8
A. PENGAMPUNAN DAN REKONSILISASI ... 8
1. Arti Pengampunan ... 8
2. Arti Rekonsiliasi ... 12
B. YESUS SANG PENGAMPUN ... 13
1. Ajaran Yesus dalam Doa Bapa Kami ... 13
2. Yesus sebagai Pengampun dalam Salib-Nya ... 15
3. Hidup Berkomunitas menurut Matius 18:1-20 ... 18
C. PENGAMPUNAN YANG DIHAYATI BUNDA ELISABETH ... 21
1. Pengampunan dari Allah ... 21
2. Keteladanan Pengampunan dari Bunda Elisabeth .... 24
3. Perlunya Pertobatan Terus Menerus ... 29
BAB III. KONGREGASI SANTO CAROLUS BORROMEUS MEMBANGUN KOMUNITAS REKONSILIATIF ... 32
A. UNDANGAN GEREJA MASA SEKARANG ... 32
1. Komunitas Sekolah Cinta ... 32
2. Komunitas yang Menghayati Hidup Tritunggal Mahakudus ... 34
3. Komunitas yang mampu Menjawab Kebutuhan ... 38
a. Komunitas Tradisional ... 40
b. Komunitas Sosial-Psikologis ... 40
c. Komunitas Pelayanan... 41
d. Komunitas Kesaksian Hidup ... 42
e. Komunitas Kesaksian Sabda ... 42
xv
g. Komunitas Pneumatis ... 44
4. Komunitas sebagai Misio ... 44
B. PENGERTIAN HIDUP BERKOMUNITAS ... 47
1. Pengertian Komunitas Menurut Kitab Suci ... 47
2. Gereja sebagai Communio... 50
2. Pengarahan dalam menghayati Konstitusi CB ... 63
a. Komunitas rekonsiliatif sebagai pilihan... 64
b. Dinamika Komunitas Rekonsiliatif ... 67
c. Kesaksian Komunitas Rekonsiliatif ... 71
BAB IV. SUMBANGAN KATEKESE DALAM UPAYA MEMBANGUN KOMUNITAS REKONSILIATIF SUSTER-SUSTER CINTAKASIH SANTO CAROLUS BORROMEUS ... 77
A. Gambaran Umum Katekese ... 78
1. Pengertian Katekese ... 79
b. Membimbing Umat Beriman untuk Memahami Misteri Kristus ... 86
xvi
5. Unsur-unsur Katekese ... 89
xv a. Unsur Pengalaman dan Praktek Hidup ... 89
b. Unsur Komunikasi Pengalaman Iman ... 89
c. Unsur Komunikasi dan Tradisi Kristiani ... 90
d. Unsur Arah Keterlibatan Baru ... 90
B. Relevansi Katekese dalam Hidup Berkomunitas Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus... 91
C. Shared Christian Praxis (SCP) sebagai Model Katekese Pengampunan bagi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus... 95
1. Pengertian Shared Christian Praxis (SCP) ... 95
a. Praxis ... 96
2. Langkah-langkah Shared Christian Praxis ... 98
a. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual (Mengungkap Pengalaman Hidup Peserta) ... 98
b. Langkah II: Refleksi Kritis atas Pengalaman Hidup Peserta ( Mendalami Pengalaman Hidup Peserta) ... 99
c. Langkah III: Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristiani) ... 100
xvii
e. Langkah IV: Keterlibatan Baru demi makin Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia ini
(Mengusahakan suatu Aksi Konkret) ... 102
D. Usulan Program Katekese sebagai Upaya Membangun Komunitas Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus ... 102
1. Pengertian Program ... 103
2. Tujuan Program ... 103
3. Latar Belakang Pemilihan Tema ... 104
4. Rumusan Tema dan Tujuan ... 107
5. Penjabaran Katekese Model Shared Christian Praxis (SCP) ... 109
6. Contoh Persiapan Katekese ... 113
BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ... 136
B. Saran ... 139
DAFTAR PUSTAKA ... 142
LAMPIRAN ... 145
Lampiran 1: Pengampunan Menyembuhkan ... (1)
xviii
DAFTAR SINGKATAN
A. Daftar Singkatan Kitab Suci
Seluruh singkatan Kitab Suci dalam Skripsi ini diambil dari Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) bekerja sama dengan Lembaga Biblika Indonesia (LBI; 2000).
B. Singkatan Dokumen Gereja
CT : Catchesi Trandende, Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para Uskup, klerus, dan segenap umat beriman tentang Katekese Masa Kini, 16 Oktober 1997 GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral tentang Tugas Gereja
dalam dunia Dewasa ini, tanggal 7 Desember 1965 KGK : Katekismus Gereja Katolik
LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, tanggal 21 November 1964
xix
antusiasme dan menatap masa depan penuh kepercayaan, tanggal 6 Januari 2001
VC : Vita Consecrata, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Hidup Bakti bagi Para Religius, 25 Maret 1996
C. Daftar Singkatan Lain
Art : Artikel
Ardas : Arah Dasar
Bdk : Bandingkan
CB : Carolus Borromeus
Ed : Editor
EG : Elisabeth Gruyters
Hal : Halaman
IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Konst : Konstitusi, Pedoman hidup bagi para Suster Kongregasi St.
Carolus Borromeus
KS : Kitab Suci
KV II : Konsili Vatikan II
KWI : Konferensi Waligereja Indonesia
PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia
xx SCP : Shared Christian Praxis
Sr : Suster
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengampunan merupakan hal yang seringkali sulit untuk diwujudkan dalam kebersamaan hidup dengan yang lain. Namun demikian pengampunan merupakan dasar yang kuat, dan perlu dibangun oleh setiap pribadi, agar upaya untuk hidup damai, tenteram, dan penuh kebahagiaan senantiasa terwujud dalam suatu kebersamaan. Hidup dalam kebersamaan dengan orang lain merupakan hal yang biasa dijalani oleh setiap pribadi. Dalam kebersamaan dengan orang lain, tentu mereka berjuang untuk mencapai suatu cita-cita, misalnya dalam membangun keluarga yang sejahtera, yang didasari oleh cinta kasih dan pengampunan.
ringan dalam menanggung penderitaannya. Dengan demikian terjadinya saling berekonsiliasi antar pribadi bersamaan itu terjadi pula penyembuhan dalam diri sendiri dan orang lain.
Sebagai wanita Yesus Kristus yang diutus menjadi pengemban rekonsiliasi dan penyembuh dalam dunia yang terluka di zaman ini, pertama-tama para suster CB dituntut untuk memulai mengampuni dari diri sendiri, didalam komunitas sebagai sesama yang dipanggil serta mampu memberikan kesaksian ditengah perutusan dan dimasyarakat yang menjadi gerak profetik dalam persekutuan Gereja. Dengan demikian suatu pertobatan radikal menuju kepada kasih Allah yang berbelarasa tanpa batas adalah sangat penting. Para suster-suster CB juga menyadari diri sebagai orang-orang yang terluka yang memerlukan penyembuhan dan rekonsiliasi dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan seluruh ciptaan. Hanya kasih Allah yang tak bersyaratlah yang dapat mengubah kita menjadi pengemban rekonsiliasi dan penyembuh yang autentik dan dengan penuh belarasa mampu menjangkau mereka yang mencari kebebasan sebagai citra dan gambar Allah (bdk. Yoh:1-10). (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005:22-29).
pribadi (EG. 108, 112, 117, 149). Zaman yang semakin penuh dengan kekerasan ini menuntut setiap orang untuk menjadi pengemban rekonsiliasi dalam dunia yang terluka ini. Hal ini seharusnya menjadi bagian dari suster CB seperti yang sudah diteladankan oleh Yesus dan Bunda Elisabeth untuk menjadi seorang pengemban rekonsiliatif. Membawa damai kepada pelayanan kerasulan seharusnya menjadi identitas religius CB yang diutus di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan kekerasan dan korupsi. Namun karena kelemahan manusiawi maka perutusan Suster CB di tengah dunia semakin hari nilai pengampunan ini semakin terkikis dalam hidup berkomunitas maupun kehadirannya dalam perutusan karya Kongregasi. Dalam kehidupan para suster CB, kadang mengabaikan nilai pengampunan ini. Hal ini nampak ketika hidup bersama dengan suster yang lain dalam hidup berkomunitas atau pun dalam karya perutusan Kongregasi yaitu ketika berhadapan dengan rekan kerja. Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi tersentuh dengan penderitaan manusia, dengan demikian juga bahwa sebagai suster CB diutus di “tengah dunia yang terluka” dipanggil untuk
Bertolak dari situasi di atas penulis terdorong untuk semakin mendalami makna pengampunan yang dimiliki oleh Bunda Elisabeth dalam menanggapi panggilan Allah sebagai seorang religius CB. Dengan demikian penulis mengajukan proposal skripsi dengan tema “MAKNA
PENGAMPUNAN DALAM HIDUP BERKOMUNITAS
SUSTER-SUSTER CINTAKASIH SANTO CAROLUS BORROMEUS (CB)”
B. Rumusan Masalah
Dari uraian diatas ada beberapa hal ingin dicermati lebih lanjut dan pada akhirnya menjadi titik awal dari penulisan ini. Adapun masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa makna pengampunan bagi para Suster CB.
2. Bagaimana para Suster CB mampu meningkatkan pengampunan dalam hidup berkomunitas.
3. Usaha apa yang perlu dilakukan untuk menumbuhkan budaya pengampunan bagi para Suster CB.
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk lebih memahami peran komunitas CB dalam gerak persekutuan hidup Gereja
3. Mengenal secara mendalam peran pendiri dalam mengembangkan pengampunan dalam hidup berkomunitas
D. Manfaat Penulisan
1. Membantu para anggota Suster CB, untuk mengerti dan memaknai pengampunan dalam hidup berkomunitas.
2. Memberi bahan permenungan kepada para anggota komunitas Suster CB tentang pentingnya pengampunan dalam hidup berkomunitas 3. Membantu para Suster CB untuk mengembangkan pengampunan
dalam hidup berkomunitas
E. Metode Penulisan
Dalam menyusun karya tulis ini, penulis menggunakan metode penulisan deskriptif yakni dengan menyerap dan membaca buku-buku dari berbagai sumber. Selain itu, penulis juga memperkaya karya tulis ini melalui pengalaman dan penghayatan pribadi yang dialami oleh penulis sendiri pada setiap perjumpaan dan kebersamaan dengan Suster CB dalam hidup komunitas.
F. Pembatasan Masalah
G. SITEMATIKA PENULISAN
Skripsi ini mengambil judul “Makna Pengampunan dalam Hidup
Berkomunitas Suster-suster Santo Carolus Borromeus (CB). Dari judul ini penulis mengembangkannya menjadi lima bab, yakni:
BAB I meliputi (pendahuluan) penulis memberikan gambaran secara umum penulisan skripsi ini. Rumusan permasalahan, Tujuan penulisan, Manfaat penulisan, Metode penulisan dan Sistematika Penulisan.
BAB II, penulis berbicara atau menguraikan tentang Kongregasi CB membangun komunitas rekonsiliatif yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu,
a. Undangan untuk hidup berkomunitas zaman sekarang (communio) b. Pengertian hidup berkomunitas
c. Kongregasi CB membangun komunitas rekonsiliatif
BAB III menguraikan tentang pengampunan Yesus sebagai kekautan dalam membangun komunitas rekonsiliatif yang terdiri dari empat bagian: pengampunan dan rekonsiliasi, Yesus sebagai pengampun, pengarahan dalam menghayati konstitusi melalui kapitel dan pentingnya menjadi pengampun.
unsur-unsur katekese. Kemudian yang kedua membahas tentang relevansi dalam hidup berkomunitas dan bagian yang ketiga adalah contoh katekese yang merupakan acuan pembinaan yang dapat dilaksanakan di kongregasi CB.
BAB II
PENGAMPUNAN DALAM KONGREGASI SANTO CAROLUS BORROMEUS
A. PENGAMPUNAN DAN REKONSILIASI
1. Arti Pengampunan
Pengampunnan berarti sebuah proses mempersatukan yang menggerakan manusia dari perpisahan kepada persekutuan, dari curiga dan konfrontasi kepada kepercayaan dan saling berbagi. Pengampunan berarti menciptakan ruang bagi pelaku tindak kejahatan dan para korban untuk menemukan kemanusiaan bersama mereka, dan untuk saling mengikrar demi suatu masa depan lebih aman dan kurang diwarnai tindak kekerasan (Muller,1999:56). Setiap manusia merindukan suatu kedamaian, kebahagiaan, yang sungguh membuat seseorang merasa nyaman, membuatnya merasa terbuka baik dengan keadaan dirinya maupun pengalaman yang dialami secara pribadi. Dengan demikian bahwa pengampunan membuat seseorang keluar dari dirinya dan merasa terbebaskan dari tekanan batin yang tersiksa.
Pengampunan adalah dasar agar setiap orang dapat berkembang. Manusia saling mengampuni karena ingin berkembang dan menjadi seperti Yesus (Vanier, 1998:30).
menghayati pengampunan dalam hidupnya, maka hari demi hari ia akan semakin berkembang menyerupai Yesus karena ia mampu menghayati nilai-nilai keutamaan salah satunya adalah nilai-nilai pengampunan.
Mengampuni berarti memulihkan hubungan bila terputus. Mengampuni secara sungguh-sungguh ini sukar, karena berarti pula berani mengubah sikap, pandangan dan tingkah laku pula terhadap orang yang diampuni. Mengampuni berarti memperbaharui hubungan hidup (Darminta, 1981:79).
Untuk mengampuni dengan sungguh orang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berproses dengan melakukan refleksi, kontemplasi, dan pengolahan diri yang terus-menerus sehingga dimampukannya untuk menemukan kasih Allah dalam seluruh peristiwa hidupnya sehingga dengan demikian Allah sendiri yang mampu mengubah pandangannya, pola pikir, untuk mampu mengampuni orang lain dengan tulus dan tanpa syarat.
Pengampunan dapat dimengerti sebagai suatu tindakan untuk berani meninggalkan rasa sakit. Keputusan untuk mengampuni rasa sakit tidak serta merta berarti bahwa seseorang telah memaafkan. Pengampunan bukan merupakan masalah perasaan saja, pengampunan juga menyangkut suatu niat atau kemauan. Keputusan untuk mengampuni, seperti halnya keputusan untuk mencintai, harus dinyatakan berulang-ulang agar semakin mendasari keberadaan seseorang (Riyanto, 2004:13).
menunjukan posisi tepat diri pribadi dihadapan sesama namun sekaligus juga mengakui bahwa ada kuasa yang berhak menghukum secara adil. Dengan kata lain, pengampunan adalah kepasrahan pada yang berwewenang (Suwito, 2000:4-5).
Pengampunan adalah kemungkinan baru yang menyingsing dalam cakrawala hidup umat manusia. Manusia berbela rasa yang menunjukan kemungkinan pengampunan membantu orang lain untuk membebaskan diri mereka dari belenggu rasa malu yang menghambat, memungkinkan mereka mengalami kesalahan mereka dan mengembalikan harapan mereka akan masa depan (Nouwen, 1989:44).
Pengampunan pada hakikatnya perlu bagi manusia. Pengampunan bukan hanya ilahi tetapi juga manusiawi; dengan pengampunan manusia menjadi lebih mulia daripada manusia biasa. Pengampunan adalah kebutuhan manusia dan ada banyak alasan yang dapat dikemukan untuk hal tersebut. Dengan demikian bahwa mengampuni tidak sama dengan melupakan. Mengampuni berarti memikirkan sungguh-sungguh menyadari apa yang telah terjadi dan artinya yang sejati bagi kehidupan manusia. Kadang-kadang manusia tidak mau mengampuni karena berpikir mengampuni berarti mengubur pengalaman pahit di masa lampau atau sekurang-kurangnya berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi (Meninger, 1999:30).
yang dapat melepaskan orang dari tanggungg jawab atas dosanya, dan hanya pendosa dapat memohon pelepasan itu. Seseorang mengampuni tidak untuk kepentingan orang-orang yang menyakitinya, tetapi untuk kepentingan diri sendiri (Meninger, 1999:31).
Pengampunan merupakan landasan yang kokoh kuat, perlu dibangun dalam diri masing-masing pribadi agar cita-cita untuk hidup damai, tenteram dan penuh persaudaraan terwujud dalam kebersamaan. Pengampunnan merupakan suatu proses. Dalam proses pengolahan pengampunnan perlu mengenali kelemahan dan kekuatan untuk menemukan keadaan luka di mana penyembuhan dapat dilakukan. Pengampunan membuat orang mampu melihat keadaan dirinya, orang lain dan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya sebagaimana adanya.
Mengampuni berarti sadar bahwa hal-hal yang dilakukan terhadap diri sendiri tidak ada akibatnya bagi orang-orang yang bersalah kepada kita, bahkan dengan demikian ia terus menyakiti diri sendiri (Meninger, 1999:37).
Dengan demikian bahwa pengampunan berarti suatu kebebasan yang muncul dalam batin seseorang untuk melepaskan segala enegri negatif dan membiarkan diri dikuasai oleh Allah dengan hal-hal positif serta membangun diri melalaui keterbukaan dan pengolahan pengalaman-pengalaman masa lalu.
jalan yang memungkinkan perkembangan yang sejati menuju kematangan-mengembangkan diri sebagaimana seharusnya dan tidak menjadi pribadi pribadi yang kerdil sebagai anak kecil yang ketakutan karena tidak dapat melepaskan diri dari pengalaman terhina di masa lampau yang tetap menghantui (Meninger, 1999:37).
Pengampunan dan tindak pendamaian berkaitan erat dengan sikap saling mencintai. Oleh karena itu, adanya kesadaran diri bahwa setiap orang pantas dicintai dan mencintai, bahwa Tuhan adalah maha cinta dan sesama juga memiliki hak untuk mecintai dan dicintai merupakan modal dasar yang sangat berharga bagi setiap orang untuk mengampuni dirinya dan orang lain (Riyanto, 2004:97).
2. Arti Rekonsiliasi
Rekonsiliasi dipahami sebagai suatu proses pembangunan relasi. Jadi rekonsiliasi tidak secara eksklusif diperuntukan bagi periode pemugaran pasca-konflik. Rekonslisiasi menyediakan suatu fokus dan lotus yang cocok untuk setiap segi dalam proses penegakan kedamaian dan bersifat mendasar terhadap kesinambungan perdamaian tersebut (Muller, 1999:79).
dan penataan kemanusiaan berdasarkan rasa kemanusiaan terdalam. Tindakan rekonsiliatif serta penuh belas kasih merupakan seruan kembali kepada kemanusiaan, menghidupkan rasa perikemanusiaan dan keadilan. Dengan demikian tujuan tindakan rekonsiliatif dan penuh rasa belas kasih bukanlah mengalahkan atau menghina tetapi untuk pertobatan, menghapus permusuhan bukan musuh (Darminta 1993:58).
B. YESUS SANG PENGAMPUN
1. Ajaran Yesus Dalam Doa Bapa Kami
Seperti ini bukanlah satu-satunya dalam ajaran Yesus: “Haruslah
kamu sempurna, seperti Bapamu, seperti Bapamu yang ada disurga adalah
sempurna” (Mat 5:48). “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu
adalah murah hati” (Luk 6:36). “Aku memberikan perintah baru kepada
kamu yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah
mengasihi kamu” (Yoh 13:34). Tidaklah mungkin mengikuti perintah
Tuhan, andaikata itu berarti mengikuti contoh ilahi secara lahiriah. Tetapi disini dimaksudkan satu keikutsertaan yang hidup “keluar dari kedalaman
hati”, pada kekudusan, kerahiman dan cinta Allah kita. Hanya Roh, yang
dariNya kita “hidup” (Gal 5:25), dapat membuat sikap Yesus menjadi sikap
“kita”. Kesatuan pengampunan menjadi mungkin, apabila kita saling
mengampuni, “sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni
pengampunan, artinya cinta yang mencintai sampai kesudahnnya, menjadi hidup (KGK, 1995:711).
“Ampunilah kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada
kami”. Melalui doa Bapa Kami ini mau menyadarkan manusia bahwa
sebenarnya hidup tergantung sepenuhnya pada Allah, tetapi setiap kali manusia bertindak seolah-olah berkuasa sendiri atas segala-galanya. Atas dasar kesadaran itu manusia memohon agar Allah membebaskan utang kepada-Nya. Ini adalah rahmat yang amat besar, karena manusia tidak mampu membebaskan dirinya sendiri dari dosa-dosa. Dalam doa ini Yesus secara mendasar menghubungkan kesalahan-kesalahan manusia terhadap sesama. Agar dapat menerima pengampunan dari Allah, manusia dituntut saling mengampuni (bdk. Mat 5:7; 6; 14-15; Mrk 11:25). Meskipun demikian pengampunan yang berikan kepada sesama tidak boleh dipandang sebagai syarat atau membuat seseorang mempunyai hak atas pengampunan Allah. Pengampunan kepada sesama, pertama-tama, merupakan tanda ketulusan dan kesungguhan untuk mohon ampun kepada Allah. Pengampunan Allah sendiri adalah rahmat yang diberikan atas dasar kasih dan kesetiaan-Nya bdk. Yes 55:6-7 ; Dan 9:18-19 (Iman Katolik, 206-207).
Hubungan awal antara manusia dan Allah oleh para Bapa Gereja digambarkan sebagai dalam suasana “berbicara merdeka”. Suatu
suatu proses penyembuhan dari segala luka karena berbagai sebab, seperti kurang kasih, kurang kelembutan, kurang persaudaraan, kurang aman dan lain sebagainya. Bapa memberi jawaban atas segala kekurangan yang dimiliki manusia dalam hidup ini. Tetapi hal ini memang tidak mudah, terutama bagi mereka yang tak mengalami figur Bapa yang cukup sehat dan mengesan (Mat 23:37). Tetapi yang jelas tantangan pula bagi mereka yang tidak memiliki atau mengalami figur Bapa dan ibu yang baik. Bagaimanapun juga sulitnya, ajakan Yesus menyebut Allah Bapa menjanjikan banyak hal bagi manusia yang terluka, meski untuk itu orang sering harus melalui proses panjang dan menyakitkan. Dengan sebutan ini manusia dikembalikan pula dalam persaudaraan, karena diajak untuk berseru bersama Bapa Kami (Darminta, 1992:16-17).
Doa Bapa Kami merupakan doa tahun iubileum. Doa yang menuju untuk terealisasinya pemebebasan dari keadaan yang tidak manusiawi, ketidakadilan dan penindasan, hidup dalam zaman rekonsiliasi dan pemulihan martabat hidup manusia. Itulah yang dilakukan oleh Yesus seperti makan bersama dengan orang pendosa, tidak menghukum pelacur, menyembuhkan penyakit, memanggil orang berdosa (Darminta, 1992:41).
2. Yesus Sebagai Pengampun dalam Salib-Nya
Dengan cinta kasih-Nya yang tak berkesudahan, Yesus bersabda,
-Nya di kayu salib merupakan wujud cinta kasih--Nya yang tiada batas. Dengan tulus hati Yesus mengorbankan diri-Nya demi keselamatan seluruh umat yang di kasihi-Nya. Cinta sejati tidak mengenal alasan, tidak memiliki ukuran, tidak menciptakan batas-batas, tidak menghitung-hitung, tidak mengingat kesalahan, dan tidak memaksakan aneka, macam persyaratan. Yesus selalu bertindak atas dasar cinta. Dari kediaman Allah Tritunggal, Yesus membawa kepada manusia cinta yang besar dan tidak terbatas, yaitu cinta ilahi yang merangkul segalanya. Cintakasih kasih Yesus mendorong manusia untuk mensyukuri, menanggapi, dan selanjutnya membagikannya kepada orang-orang yang dicintainya. Sebagai murid-murid-Nya manusia sekalian diundang dan sekaligus dimampukan oleh-Nya untuk mengasihi saudara-saudari dengan tulus seperti Yesus. Cinta sejati yang rela berkorban sekaligus merupakan cinta yang tulus, yaitu cinta yang mengalir dari hati yang jujur, bersih dari pamrih-pamrih pribadi. Cinta semacam ini bebas dari rasa senang atau tidak dan bebas dari keinginan untuk memaksakan syarat-syarat tertentu. Cinta yang tulus membuat orang bertobat dari perbuatannya yang jahat. Cinta yang tulus, kecuali membuat orang yang dicintainya bersukacita, juga membuat diri sendiri merasa bahagia. Untuk itu, perlu belajar mencintai dengan tulus, belajar membuka hati, belajar untuk berkorban, dan belajar untuk lebih mencintai dengan tulus seperti Yesus mencintai manusia (Heryatno, 2014:21).
penyembuhan, pembebasan, dan kehidupan baru. Dengan demikian seperti halnya Yesus, orang yang memaklumkan pembebasan dipanggil tidak hanya untuk merawat luka-lukanya sendiri dan luka-luka orang lain, akan tetapi menjadikan luka-luka-Nya sendiri sumber kekuatan penyembuhannya (Nouwen, 1989:80).
Kalau seseorang tidak takut untuk masuk ke dalam diri batin sendiri dan memusatkan perhatian pada gerak jiwa sendiri, orang akan mengetahui bahwa hidup berarti dicintai. Pengalaman ini mengatakan kepada setiap orang bahwa manusia hanya dapat mencintai karena dilahirkan oleh kasih; bahwa orang hanya dapat memberi karena hidup seseorang adalah anugerah; dan bahwa seseorang hanya dapat membuat orang lain bebas karena sudah dibebaskan oleh Dia, yang hati-Nya jauh lebih besar daripada hati manusia (Nouwen, 1989: 87).
Persahabatan yang kuat terjadi bila saling mengasihi secara tulus, karena percaya bahwa Allah telah mengasihi manusia (bdk 1 Yoh 4:10). Mengasihi saudara terutama yang paling hina adalah perintah Allah (bdk Yoh15:9; Mat 25:31-46). Perintah Allah bukanlah sekedar himbauan yang dapat ditanggapi secara sukarela. Karena itu, sikap paling tepat sebagai pengikut Kristus adalah menuruti perintah-Nya. “Barang siapa menuruti
menyingkirkannya secara aktif tanpa kekerasan. Dengan kasih yang tulus, seseorang berkehendak memutus lingkaran balas dendam (Ardas, 2001-2005:20).
Kedamaian merasuki hati dan jiwa saat cinta Tuhan yang penuh pengampunan, belas kasihan, dan kemurahan hati membersihkan dosa-dosa manusia. Ia selalu mengulurkan tangan-Nya untuk merangkul manusia. Tuhan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk menuntun dan membimbing manusia. Tuhan selalu menerima dengan penuh cinta, apa pun dan bagaimana pun keadaan manusia. Tuhan Yesus meyakinkan bahwa Ia akan mengampuni siapa pun yang datang kepada-Nya. Pengampunan-Nya akan mendatangkan kedamaian yang tak dapat diberikan oleh dunia (Riyanto, 2004:92-93).
3. Hidup Berkomunitas Menurut Mateus 18:1-20
keterbukaan, dan kepedulian terhadap sesama dalam membangun komunitas (Darminta,1997:55).
Kemampuan mencintai merupakan kualitas tertinggi yang dapat dimiliki sebagai pribadi manusia, bahkan tidak hanya secara manusiawi belaka namun sampai pada tingkat rohani manusia. Sebab dengan cinta, Tuhan telah menciptakan manusia dan makhluk lainnya serta bumi dan segala isinya. Mencintai Tuhan seperti mencintai diri sendiri dan sesama harus menjadi persembahan yang terbesar dalam kehidupan manusia. Membenci Tuhan atau seseorang merupakan tindakan yang melawan cinta dan menghancurkan kemampuan manusia untuk mencinta. Tuhan adalah kasih dan penuh cinta, maka kebencian berlawanan dengan eksistensi Tuhan. Kebencian merupakan sumber dosa karena kebencian adalah akar dan tindakan-tindakan jahat. Kesabaran itu menetralkan kebencian, pengampunan menyembuhkan kebencian, dan belas kasih serta kemurahan hati mengangkat sikap dan tindakan orang yang penuh kasih dan pengampunan ke tingkat pertama cinta.
disabdakan Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni
saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali….?”
“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan
sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:21-22). Kekuatan dan kemampuan mencinta datangnya dari Tuhan, yakni cinta Tuhan yang tertuju kepada manusia dan sebaliknya, cinta manusia yang diarahkan kepada Tuhan. Cinta merupakan suatu tindakan timbal balik. Kekuatan dan kemampuan mencinta semakin bertambah dan meningkat sejalan dengan bertambahnya cinta Tuhan yang dialami manusia. Semakin seseorang mencintai Tuhan dan sesama, ia akan semakin menerima cinta dan sekaligus menambah kemampuan untuk mencintai (Riyanto, 2004:16-17).
Ungkapan Yesus, saat ditanya oleh Petrus, “Tuhan, sampai berapa
kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia bersalah kepadaku? Sampai
tujuh kali?” Yesus menjawab,”Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai
tujuh puluh kali tujuh kali.” Ini menunjukan bahwa pengampunan itu tiada
batasnya (Suwito, 2000:6). Dengan ungkapan Yesus semakin jelas bahwa mengampuni tanpa batas merupakan panggilan ilahi yang mana setiap orang berjuang untuk mengampuni walaupun itu kadang tidak mudah untuk dilakukan oleh manusia.
Kristus tidak membuat macam-macam syarat seperti, “Aku mau
tetapi tujuh puluh kali tujuh (Mat 18:22). Kristus sedemikian mengasihi bukan karena orang tersebut sedemikan berharga atau berjasa, tetapi karena kasih pengampunan-Nya yang berlimpah ruah. Bahkan Ia akan lebih banyak mengampuni orang yang banyak melakukan dosa (Dennis, 198138-39).
C. PENGAMPUNAN YANG DIHAYATI BUNDA ELISABETH
1. Pengampunan Dari Allah
“Hati-ku sangat sedih seperti mau mati rasanya. Tinggalah di sini dan berjaga-jagalah” (Mrk 14:34-36). Dan ketika maut mengerikan itu datang, Yesus berteriak nyaring, “Allah-ku, mengapa engkau meninggalkan
mereka sebagaimana halnya Ia telah mengasihi mereka (Dennis, 1981:34-35).
Setiap orang ingin mendalami kasih pengampunan Allah sehingga dapat mencintai dengan kasih tersebut. Allah telah mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati setiap orang melalui Roh-Nya (Rm 5:5). Dengan meminta Roh Kudus mencabut akar-akar luka batin dan menggantinya dengan cinta, secara sadar memilih untuk meninggalkan hidup sebagai budak-budak dosa dan menjadi orang-orang merdeka. Setiap orang menunjukan kesediaannya untuk menyerahkan segala luka yang telah menguasai hidupnya selama ini dan membuka hati bagi kasih Allah yang menyembuhkan dan membebaskan (Dennis, 1981:37).
Kadang berpikir bahwa mengampuni seperti dilakukan oleh Kristus itu mudah. Cukuplah berkata, “Aku mengampuni kamu” atau “tinggalkan kebencian”. Semua orang dapat melakukannya. Tetapi apakah sering kali
Agar seseorang dapat mengampuni sebagaimana Allah telah mengampuni, ia harus berani masuk dan terlibat dalam peristiwa–peristiwa yang menyakitkan itu bersama dengan Kristus dan memperhatikan bagaimana Ia bekerja menyembuhkan diri dengan sabda dan karya-Nya. Jika masih mengalami kesukaran untuk mengampuni seperti Kristus, harus belajar meneladan semangat pengampunnan itu dengan berdoa dan memohon pada-Nya. Kemampuan untuk mengampuni sedikit banyak tergantung pada macam manakah orang-orang yang diperbolehkan masuk dalam kehidupan seseorang. Lebih mudah menularkan kasih pengampunnan Kristus bersama dengan orang-orang yang siap sedia mengampuni dan saling menghargai. Kehidupan doa juga sangat mempengaruhi kemampuan untuk mengampuni di samping cara menanggapi dan berhubungan dengan sesama (Dennis, 1981:42).
dunia luas itu setiap wajah manusia tampak sebagai wajah sesama. Dengan demikian kewibawaan bela rasa adalah kemampuan manusia untuk mengampuni saudaranya, karena pengampunan hanya menjadi nyata bila orang yang sudah menemukan kelemahan kawan-kawannya dan dosa musuh-musuhnya di dalam hatinya sendiri, dan bersedia menerima semua orang sebagai sebagai saudaranya sendiri (Nouwen, 1989:43-44).
2. Keteladanan Pengampunan Yang Dihayati Bunda Elisabeth
meragukan kasih Allah yang dialaminya, oleh karena itu Bunda Elisabeth juga tidak ragu-ragu akan kasih dan kehadiran Allah didalam sesama. Keterpusatan Allah dalam Yesus Kristus di dalam hidupnya adalah sumber segala inspirasi, kekuatan dan kebijaksanaan dalam menghadapi kesulitan hidup pelayanan kepada orang-orang tempat Bunda Elisabeth dan para suster yang pertama menghayati perutusannya (EG. 91,106). Dalam masyarakat yang terluka, apabila Allah tidak diallahkan lagi dalam kehidupan apabila mereka, maka pemulihan relasi yang benar dengan Allah merupakan tindakan nyata rekonsiliasi (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005:27-28).
dan bersama mereka (EG. 109,113,117). Bagi Bunda Elisabeth dalam ketersentuhan denan keterlukaannya dengan keterlukaan orang lain dan dunia, membuat Bunda Elisabeth merasa lebih ringan dalam menanggung penderitaannya. Dengan demikiam terjadinya saling rekonsiliasi antar kebersamaan itu terjadi pula penyembuhan dalam diri sendiri dan orang lain (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005:28-29).
Beriman akan Allah, harga diri yang sehat, dan sikap yang sehat terhadap orang lain berdasar pada kasih merupakan kekuatan dari tanda yang kuat akan adanya harapan dalam situasi yang penuh dengan keterlukaan. Kehadiran Bunda Elisabeth di Maastricht pada waktu itu merupakan kehadiran yang membawa rekonsiliasi Yesus Kristus bagi umat Allah. Ada harapan dalam dan bagi mereka, karena Allah senantiasa setia pada mereka. Dalam pengharapan seperti itu, Bunda Elisabeth adalah pengemban rekonsiliasi dengan membawa orang-orang yang terluka
“kembali” ke jati diri sendiri. Dengan demikian, pengalaman-pengalaman rekonsiliasi ini merupakan perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit, Tuhan atas kehidupan baru. Kebangkitan dan rekonsiliasi merupakan jalinan dari dua realitas yang saling berkaitan dalam hidup kita sehari-hari (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005:28-30).
(bdk. EG. 96). Bunda Elisabeth belajar mengampuni dari Yesus yang tersalib. Di atas salib Yesus mendoakan mereka yang memfitnah, menghina, merendahkan, memukuli dan menyalibkan. Di atas salib Yesus memohonkan pengampunan bagi mereka kepada Bapa-Nya di surga (bdk. Luk 23:34). Dengan kontemplasi kepada Yesus yang tersalib Bunda Elisabeth memilih untuk tidak membalas dendam dan bertindak tanpa kekerasan.
“Untuk mengembalikan orang yang licik dan licin kepada Allah, hendaknya
memperlakukan mereka secara jujur sekali, sebab para pemimpin yang ingin melakukan kewajibannya dengan baik, memang harus banyak menderita” (EG. 69).
Bunda Elisabeth senantiasa membawanya kembali kepada doa kepada Yesus yang tersalib. Ada pergulatan dalam diri Bunda Elisabeth antara rasa prihatin yang besar dan kecenderungan sakit hati dari kemanusiaan Bunda Elisabeth. Namun bersama Yesus yang tersalib, Bunda Elisabeth mampu melampauinya dan menanggung derita seperti Yesus (bdk. EG.117). Kontemplasi kepada Yesus yang tersalib membawa Bunda Elisabeth untuk senatiasa mementingkan keselamatan jiwa (EG. 40). Hal ini sungguh tampak dalam pengalaman Bunda Elisabeth bersama keluarga Nijpels (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005:75-76).
EG.100). Maka Bunda Elisabeth senantiasa mengarahkan seluruh tenaga, pikiran dan hati untuk berjuang dan membela supaya jiwa malang dalam penderita sakit di Rumah Sakit Calvarieberg dapat dilayani oleh para suster cintakasih. Kontemplasi kepada Yesus yang tersalib menumbuhkan kekuatan Duka Ilahi di dalam hati Bunda Elisabeth. Namun Bunda Elisabeth tidak hanya terus menerus berdoa memohon untuk dipersatukan dengan Duka Ilahi (EG. 39-41) dan bersyukur bila boleh menderita sedikit demi Yesus (EG.100) tetapi juga mampu menempatkan dirinya bersama Bunda Maria dan mempersatukan air matanya dengan air mata Maria sewaktu berdiri di bawah kayu salib (EG. 54). Mempersatukan air matanya dengan air mata Maria di bawah salib berarti mau mengikuti Maria yang membiarkan diri terus menerus dibentuk dan diubah oleh kehadiran Hati Yesus yang tergantung pada salib yang memandang dirinya. Pandangan kontemplatif hati ini berarti bahwa menerima dengan penuh penyerahan diri kepada pandangan Kristus tergantung di salib yang memberikan pengampunan dan harapan akan “firdaus” hidup baru. Pengampunan
dianugerahkan didalam Yesus Kristus bagi orang yang mau bertobat dan mengarahkan diri kembali kepada Allah Bapa di surga yang penuh belas kasih dan maharahim (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005:77-78).
3. Perlunya Pertobatan Terus-Menerus
Bagi Bunda Elisabeth “Pertobatan” merupakan anugerah istimewa.
akan kelakuan-kelakuan yang tidak setia dimasa lalu (bdk. EG. 98) Allah mengampuninya dan melupakannya. Allah dialami sebagai Allah yang mencintainya yang tanpa batas dan membuat Bunda Elisabeth mau membalas kasih-Nya dengan kasihnya. Maka tidak ada pertobatan yang terlalu sukar bagi Bunda Elisabeth (bdk. EG. 95).
Tidak mengherankan bahwa Bunda Elisabeth begitu sangat mencintai dan hormat terhadap St. Pertus dan St. Paulus karena pertobatan-pertobatan besar. Bagi Bunda Elisabeth tidak ada dosa yang sebesar apa pun yang tidak dapat diampuni oleh Yesus. Sebab hati yang sudah membatu pun masih akan tergerak kalau merenungkan cintakasih Yesus Kristus (bdk. EG. 95). Bagi Bunda Elisabeth pengakuan dosa, penyegaran rohani, dan ceramah-ceramah yang menggerakan hati lebih berharga dari harta yang paling berharga yang ada di dunia. Bunda Elisabeth menggambarkan kemajuan hidup rohani merupakan suatu kebahagiaan yang tak pernah dapat diimbangi dengan ucapan syukur dan terima kasih kepada Allah. Pertobatan lebih berharga dari pada segala kekayaan yang ada diseluruh Maasticht (bdk. EG. 139) (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005:74-75).
Sering dalam angan-anganku, aku tinggal bersama kedua rasul tersebut, lebih-lebih apabila api cinta Ilahi mulai berkobar dalam hatiku, maka pada saat seperti itu timbulah hasrat untuk membalas cinta-Nya dengan cintaku (EG95).
pikirannya untuk memahami cinta-Nya. Disposisi batin seperti ini menciptakan ruang yang lebih luas dalam hatinya untuk menerima secara terbuka rahmat Allah yang menyentuh hatinya yang penuh Roh Kudus dan untuk membalas kasih Allah dengan cintanya (Kapitel Umum 2011:10).
BAB III
KONGREGASI SANTO CAROLUS BORROMEUS MEMBANGUN KOMUNITAS REKONSILIATIF
A. Undangan Gereja Masa Sekarang
1. Komunitas Sekolah Cinta
Semua anggota religius dipanggil kepada kekudusan dengan membaktikan seluruh hidup dalam komunitas. Agar komunitas-komunitas religius menjadi sekolah komunio dan sekolah doa dalam hidup keperawanan yang menunjukkan dengan jelas martabat manusia yang diciptakan untuk tujuan ilahi dan abadi. Dunia yang menawarkan kenikmatan dan keamanan dalam hal-hal material sudah melupakan tujuan transendental dan perlu saksi-saksi yang mengingatkannya (Novo Millennio Ineunte, art. 34). Demikian pula dikatakan bahwa “Menjadikan Gereja
home sekaligus persekutuan” ini merupakan tantangan besar yang dihadapi
kepentingan bersama. Hanya sekelompok murid Kristus yang bersatu dalam kasih, dalam pengampunan timbal balik, yang hidup sehati dan sejiwa dapat memberi pewartaan yang meyakinkan dan mengundang orang lain untuk masuk ke dalam hidup Kristus yang membahagiakan dan menyelamatkan. Mereka membentuk sekolah komunio di mana semua dapat belajar mengikuti Yesus bersama (Driscoll, 2003: 221).
Spiritualitas persekutuan berarti juga kecakapan untuk memikirkan saudara-saudara dan saudari-saudari dalam pangkuan kesatuan mendalam Tubuh Mistik dan karenanya juga sebagai “mereka yang merupakan sebagian saya. Ini memampukan menanggung bagian pokok kegembiraan dan penderitaan sesama, ikut ambil bagian dalam memperhatikan, serta menawarkan persahabatan yang mendalam dan sejati. Spiritualitas persekutuan mencakup kecakapan juga memandang apapun positif pada sesama, menyambutnya baik dan menghargainya sebagai karunia dari Allah: tidak melulu sebagai anugerah saudara atau saudari yang telah langsung
menerimanya, tetapi juga sebagai “kurnia bagi saya. Spiritualitas berarti
meluangkan tempat bagi saudara-saudara dan saudari-saudari, sambil
2. Komunitas Yang Menghayati Hidup Tritunggal Mahakudus
Yesus selama hidup-Nya di dunia, Ia memanggil mereka yang dikehendaki-Nya, supaya mereka menyertai Dia, dan Ia mendidik mereka hidup menurut teladan-Nya bagi Bapa dan bagi perutusan yang telah diterima-Nya dari Bapa (bdk. Mrk 3:13-15). Begitulah Ia memulai keluarga baru, yang dari abad ke abad akan mencakup mereka yang siap
“menjalankan kehendak Allah” (bdk. Mrk 3:32-35). Sesudah kenaikan Tuhan ke surga, sebagai buah karunia Roh Kudus, terbentuklah rukun hidup persaudaraan di sekitar para rasul, berhimpun dalam puji syukur kepada Allah dan dalam pengalaman konkret persekutuan (bdk. Kis 2:42-47; 4:32-35). Hidup jemaat itu, bahkan lebih dari pengalaman hidup dalam persekutuan penuh dengan Kristus yang dihayati oleh Dua Belas Rasul, selalu dijadikan pola yang menjadi acuan Gereja, bila Gereja berusaha kembali kepada semangat aslinya, dan dengan kekuatan Injil yang segar meneruskan lagi perjalanannya di sepanjang sejarah.
telah menunjukan, bahwa ikut serta dalam persekutuan Tritunggal dapat mengubah hubungan manusiawi dan menciptakan corak baru solidaritas. Hidup bakti mengamanatkan kepada umat baik keindahan persekutuan persaudaraan maupun cara-cara hidup yang dalam kenyataan mengantar kepadanya. Para anggota hidup bakti hidup “bagi” Allah dan “dari” Allah,
dan justru karena itu mereka mampu memberi kesaskian akan kuasa rahmat untuk mendamaikan, serta mengatasi kecenderungan-kecenderungan yang terdapat dalam hati manusia dan pada masyarakat (VC, art . 41).
Hidup bersaudara dalam arti hidup dalam cintakasih merupakan lambang yang jelas bagi persekutuan gerejawi. Corak hidup itu dipraktekan secara khas, dalam tarekat-tarekat Religius dan Serikat-serikat Apostolis; Hidup berkomunitas beroleh relevansi khusus. Dimensi persekutuan persaudaraan juga tidak asing bagi institut-institut sekular, atau bahkan bagi bentuk-bentuk hidup bakti yang dihayati secara perorangan. Dengan hidup sebagai murid Kristus menurut Injil, mereka semua menyanggupkan diri untuk melaksanakan “perintah baru” Tuhan, yakni saling mengasihi seperti
dicurahkan ke dalam hati mereka oleh Roh Kudus (bdk. Rom 5:5), mengalami panggilan batin untuk berbagi bersama segala sesuatu: barang-barang materiil dan pengalaman-pengalaman rohani, bakat-kemampuan dan inspirasi-inspirasi, cita-cita kerasulan dan pelayanan kasih: “dalam hidup
berkomunitas kuasa Roh Kudus yang berkarya dalam seorang individu sekaligus tersalurkan kepada semua anggota.
Maka dalam hidup berkomunitas dalam cara tertentu perlu menjadi jelas, bahwa lebih dari sekedar upaya untuk menunaikan perutusan khusus, persekutuan persaudaraan yang merupakan ruang yang disinari oleh Allah, untuk mengalami kehadiran tersembunyai Tuhan yang bangkit mulia (bdk. Mat 18:20). Untuk terwujudkan berkat cintakasih antar anggota komunitas, dan ditopang oleh doa untuk kesatuan, anugerah khusus Roh bagi mereka yang dengan patuh mendengarkan Injil. Roh Kudus sendirilah yang membimbing jiwa untuk mengalami persekutuan dengan Bapa dan dengan Putera-Nya Yesus Kristus (bdk. 1 Yoh 1:3), dan persekutuan adalah sumber hidup bersaudara. Rohlah yang membimbing komunitas-komunitas hidup bakti dalam menunaikan misi pelayanan mereka kepada Gereja dan kepada segenap umat manusia, menurut inspirasi mereka (VC, art. 42).
Membangun komunitas religius bersumber dari Komunitas Agung
menyerahkan diri seutuhnya. Demikianlah dalam komunitas kasih trinitas, yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus terjadi tindakan saling menyerahkan diri satu sama lain. Tantangan dalam komunitas Kristiani ialah menghadirkan komunitas Tritunggal Mahakudus dalam lingkungan hidup kita dengan mengupayakan hubungan yang saling menyerahkan diri satu sama lain. Relasi dalam komunitas murid ialah pola relasi yang mendapat hidup dan maknanya dari relasi satu sama lain dengan Yesus Kristus. Berkat relasi kita dengan Yesus dan berkat Roh Kudus, kita dimasukan ke dalam relasi Allah Tritunggal. Komunitas murid Yesus tentu mengikuti gerak kasih Kristus kepada Bapa-Nya (Martasudjita, 2001:44-48).
Semua anggota komunitas biara akan menjadi pribadi yang utuh, bila mereka senantiasa bertumpu di atas landasan cintakasih Allah Tirtunggal. Bahtera hidup komunitas biara haruslah merupakan pengejawantahan dari komunitas Allah Tritunggal. Allah Tritunggal adalah asal dan citra asli serta penyempurnaan persekutuan hidup kita. Hubungan antar pribadi yang dalam dasar cintaksaih Allah Tritunggal, memainkan suatu peranan yang bersifat membentuk. Pribadi Allah Tritunggal haruslah dipandang dalam daya gerak cinta yang saling berelasi, yang dinamis-cinta Bapa kepada Dirinya terpancar keluar kepada cinta yang saling memberi dan menerima (cinta Bapa kepada Putera tercinta dan dan cinta Putera kepada Bapa), akhirnya kepada bersama membagi cinta dalam Roh Kudus.
sebab di dalam satu Roh, dipermandikan dan diberi minum dari satu Roh (bdk. 1 Kor 12:13), maka segala peselisihan harus kita jauhkan. Membangun komunitas yang betumpu di atas basis Allah Tritunggal, akan membuat setiap anggota komunitas merasa berada “di rumah”, dimana spontanitas serta kreativitas dapat berkembang dengan baik. Membina cinta persaudaraan atas dasar cinta Allah Tritunggal akan membuat semakin yakin akan diri sendiri bahwa kini berada pada jalur yang benar dan tepat sasar (Peter, 1986:323-324).
3. Komunitas Yang Mampu Menjawab Kebutuhan
dasar bagi kongregasi religius monastik. Komunitas merupakan sarana penghayatan kemiskinan dalam persaudaraan. Komunitas rasul yang berjalan mengikuti Yesus merasul (Luk 9:1-6; 10:1-12). Komunitas ini merupakan kelompok murid yang dipanggil untuk hidup bersama dengan Yesus dalam perjalanan Yesus mewartakan Kerajaan Allah. Kelompok ini hidup dalam kemiskinan sebagai orang yang selalu berjalan dalam merasul, dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, selalu pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain (Mrk 1:13-39) kebersamaan lebih tertuju untuk merasul. Cara hidup mereka ialah hidup yang selalu siap untuk diutus dan pergi. Kerasulan mereka diikat dan dipersatukan oleh Yesus dan kuasa Yesus yang diberikan kepada mereka.
Komunitas merupakan inspirasi dasar bagi para religius yang muncul pada abad XII dan XIII dan dipertajam oleh kelompok religius yang mucul pada abad XV dan XVI dan abad-abad sesudahnya (Darminta, 1983:90).
berkomunitas di mana orang itu berada dan hidup meliputi; komunitas tradisional, komunitas sosial-psikologis, komunitas pelayanan, komunitas kesaksian hidup, komunitas kesaksian sabda, komunitas rohaniah, dan komunitas pneumatis (Darminta, 1981:11-20).
a. Komunitas Tradisional
Komunitas ini tempat tinggal sebagai pusat dari komunitas, kehadiran secara fisik merupakan tuntutan bagi setiap anggota. Komunitas menyediakan setiap kebutuhan anggota. Komunitas menekankan penting hidupnya hidup bersama yakni sebagai sarana untuk memupuk rasa kebersamaan dalam komunitas. Komunitas cenderung untuk mempunyai karya apostolat yang satu dan sama. Keanekaragaman karya dialami gangguan hidup bersama keyakinan dasar hidup bersama berarti hidup dalam komunitas. Tujunannya adalah untuk mempermudah pelaksanaan hidup komunitas supaya dapat berdoa, bekerja dan hidup bersama dalam damai dan melaksanakan karya Kerajaan Allah (Darminta, 1981: 14-15).
b. Komunitas Sosial-Psikologis
visi dan anugerah-anugerahnya serta bertahan hidup pada saat-saat sukar. Faktor penentu untuk mengadakan keputusan adalah bagaimana komunitas dapat membantu anggota untuk merealisasikan potensi hidupnya sebagai seorang religius. Perubahan diterima sebagai proses pertumbuhan yang normal. Pembinaan diarahkan untuk membantu masing-masing pribadi agar dapat menemukan, memperkembangkan dan mengarahkan bakat-bakat yang dimiliki. Keyakinan dasar ini ialah melayani kebutuhan masing-masing anggota (Darminta, 1981:15).
c. Komunitas Pelayanan
mengadakan evaluasi dan refleksi pribadi. Didasarkan pula atas harapan untuk membangun dunia yang lebih baik, di mana manusia dapat hidup dengan lebih merdeka, adil dan manusiawi (Darminta, 1981: 16-17).
d. Komunitas Kesaksian Hidup
Komunitas ini merupakan cara dan penghayatan hidup sebagai kesaksian dalam hidup berkomunitas kepada masyarakat. Komunitas dihayati sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Doa bersama merupakan tempat untuk sharing pengalaman iman. Mengundang orang luar untuk berdoa bersama, pelayanan dipilih sejauh tidak merugikan kesaksian hidup komunitas karena hidup komunitas itu merupakan kerasulan. Maka dapat dipahami jikalau terjadi ketegangan antara komunitas sebagai tujuan dan komunitas sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Masa pembinaan merupakan masa mempersiapkan orang untuk menghayati hidup komunitas sebagai yang bernilai dan komunitas sebagai kesaksian secara keseluruhan. Keyakinan dasar dari komunitas kesaskian adalah komunitas kristiani secara keseluruhan saksi hidup bersama dalam masyarakat manusia yang lebih luas yang mengalami tindakan Allah (Darminta, 1981: 17-18).
e. Komunitas Kesaksian Sabda
pembentukan anggota ialah memperoleh ketrampilan untuk menyampaikan dan memberikan kesaksian dengan efektif. Karya pelayanan lebih diutamakan yang lebih berpautan dengan pewartaan sabda. Kesaksian dasar ialah bahwa komunitas membantu anggota-anggotanya untuk memberikan kesaksian sabda dan ketekunan penyelamatan sabda dalam dunia masa kini. Keputusan bersama dibuat dalam terang pelayanan sabda. Harapan dari komunitas ini ialah bahwa dengan memberi kesaksian sabda anggota komunitas membuat sabda hadir dan mempengaruhi masyarakat luas (Darminta, 1981:18)
f. Komunitas Rohaniah
Dalam komunitas ini tempat merupakan hal yang penting karena tempat merupakan pusat hidup komunitas dan tempat untuk menemukan kekuatan. Komunitas ini mengingatkan akan para murid yang dahulu bersama dan berkumpul di ruang perjamuan, bertekun dengan sehati berdoa bersama-sama. Namun yang lebih penting adalah ibadat sendiri, karena setiap orang dan juga komunitas secara keseluruhan dipanggil ke kesucian, ke komitmen kepada doa, ke hidup cinta yang kaya bersama Allah. Pelayanan kerasulan lebih tergantung pada bagaimana masing-masing maupun komunitas telah mengintegrasikan kerohaniannya dengan kebutuhan hidup dan perhatian dunia. Doa menjadi pilihan yang utama. Faktor utama untuk mengadakan keputusan maupun perubahan ialah
maupun komunitas. Pembinaan dan pendidikan anggota lebih menekankan perkembangan, Pemupukan dan pertumbuhan hidup doa (Darminta, 1981:18-19).
g. Komunitas Pneumatis
Komunitas merupakan kesatuan hidup untuk mendengarkan Roh. Doa merupakan penantian dan pencaharian akan bimbingan Roh dari hari ke hari. Roh terus-menerus dirasakan memanggil komunitas dalam waktu dan tempat yang berbeda-beda. Roh menjadi faktor penentu dalam membuat keputusan dan melaksanakannya. Dasar komunitas ini ialah keyakinan bahwa Roh meresapi seluruh hidup, dan dengan demikian komunitas berada di mana-mana. Tuntutannya adalah masing-masing anggota menyerahkan diri kepada bimbingan Roh (Darminta, 1981:20).
4. Komunitas sebagai Misio
tugas perutusan dari pimpinan. Masing-masing warga mempunyai tugas perutusan yang barangkali berbeda. Dengan demikian bahwa kebaikan dan kebahagiaan komunitas akhirnya ditentukan bukan hanya apakah mereka dapat hidup rukun dan bersaudara, tetapi juga sejauh mana mereka dapat melaksanakan tugas perutusan mereka dengan maksimal dan baik (Martasudjita, 1999: 96-98).
Komunitas religius tidaklah Injili bila tidak universal. Seorang religius semestinya menjadi orang yang mampu menemukan pengalaman hidupnya sebagai sarana untuk memperkembangkan relasi yang penuh persaudaraan dengan semua umat manusia. Seorang religius dipanggil untuk memperkembangkan kemampuannya, menerima, solider dengan siapaun; untuk melayani semua yang tak diuntungkan dalam hidup ini dengan kebesaran jiwa dan kesediaan, kegembiraan dan cinta; untuk merasakan bahwa kemanapun dirinya pergi, dia harus menciptakan ikatan-ikatan persaudaraan, persahabatan, dan saling penghargaan, dengan menjadi saudara di antara saudara-saudara, terutama bagi mereka yang kurang diperhitungkan dalam masyarakat (Darminta, 2003: 28-29).
Seorang religius melaksanakan pelayanannya, dalam konteks “misi
gerejawi” yang khas dan khusus, sesuai dengan karisma yang mendasarinya.
Digerakkan oleh “panggilan dan pembaktian: seorang religius melaksanakan pelayanan melalui dua model kegiatan yakni:
1. Menjawab kebutuhan manusia yang paling dasar dan karya-karya yang secara eksplisit diperuntukan bagi evangelisasi.
2. Kaum religius tidak ikut ambil bagian dalam pelayanan “tertahbis”, tetapi dia bertindak dalam pelayanan gereja yang dipercayakan kepada tarekatnya dan ditegaskan oleh konstitusi yang disetujui oleh gereja. Melalui cara khas untuk ikut serta dalam pelayanan-pelayanan gerejawi, para religius memberikan jaminan yang berkesinambungan, baik pada lingkup pribadi maupun pada kelembagaan (Darminta, 2003:76).
B. PENGERTIAN HIDUP BERKOMUNITAS
1. Pengertian Komunitas Menurut Kitab Suci
Menurut teladan Gereja perdana, ketika golongan kaum beriman hidup sehati dan sejiwa (lih. Kis 4:32), bertekun dalam ajaran Injil, dalam liturgi suci dan terutama dalam perayaan Ekaristi, dalam doa serta persekutuan semangat yang sama (lih. Kis 2: 42). Sebagai sesama anggota Kristus para religius hendaknya dalam pergaulan persaudaraan bersaing dalam saling menghormati, saling menanggung beban mereka. Sebab berkat cinta kasih Allah, yang karena Roh Kudus telah dicurahkan ke dalam hati mereka. Komunitas sebagai keluarga yang sejati, dihimpun dalam nama Tuhan, menikmati kehadiran-Nya (Konsli Vatikan II, Dekrit tentang pembaharuan dan penyesuaian HidupReligius, art. 15)
Komunitas Kristiani adalah komunitas yang disatukan dan dihidupi oleh iman akan Yesus Kristus berkat pencurahan Roh Kudus. Apa yang dilakukan ialah bertekun dalam pengajaran para rasul (pendalaman iman/pewartaan), giat dalam persekutuan, bersemangat dalam pelayanan satu sama lain dan sesama, serta berdoa yang puncaknya ada dalam perayaan Ekaristi (Kis 2:41-47). Kebersamaan para murid dengan kata yang amat menyentuh hati, yakni “mereka sehati dan sejiwa” (cor unum et anima). Ketekunan dalam pola interaksi dan relasi yang sehati dan sejiwa. Komunitas kristiani tentu harus berkembang ke dalam suatu pola interaksi yang sehati dan sejiwa. Kualitas kehidupan bersama para murid mendapat ciri khasnya dalam relasi yang sampai pada tingkat sehati dan sejiwa. Tingkatan sehati dan sejiwa bukan mendapat perwujudannya dalam sekadar kesamaan acara bersama, seperti makan bersama, doa bersama, rekreasi bersama, namun tingkatan sehati dan sejiwa itu pertama-tama soal batin atau roh yang entah bagaimana membuat satu sama lain sudah saling “terpaut”
jiwanya. Hanya dengan keterpautan hati dan jiwa itulah suatu komunitas sungguh-sungguh menjadi komunitas yang hidup (Martasudjita, 2001: 40-42).
menghargai dan dan saling menanggung hidup bersama. Sebagai komunitas keluarga sejati yang dikumpulkan atas nama Tuhan oleh cinta Allah yang meliputi anggota-anggotanya melalui Roh Kudus hendaknya bergembira karena Dia hadir di tengah-tengah mereka. Dengan demikian hidup berkomunitas memberikan kemungkinan konkret untuk penghayatan hidup berkaul dengan lebih jelas dan lebih menantang, bila hidup berkomunitas dihayati dalam komunio rohaniah maupun lahiriah eksternal dengan sesama anggota maupun dihayati dalam ketergantungan kepada orang yang memimpin komunitas.