• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relevansi Pemikiran Muhammad Baqir As-Shadr

BAB IV : TINJAUAN TERHADAP KONSEP DISTRIBUSI MENURUT

B. Relevansi Pemikiran Muhammad Baqir As-Shadr

a yang terkandung dalam ekonomi Islam bertujuan memberikan seb

ki harta kekaya

i, elemen yang berlaku menurut Sadr ialah kebutuh

solidaritas sesama muslim.

Pemikiran Muhammad Baqir Ash-Shadr

Relevansi Konsep Distribusi Muhammad Baqir As-Shadr dengan Ekonomi Islam

Muhammad Baqir As-Shadr110 mengatakan bahwa ekonomi Islam adalah sebuah ajaran (doctrine) dan bukannya ilmu murni (science), karena ap

uah solusi hidup yang paling baik, sedangkan ilmu ekonomi hanya akan mengantarkan kita kepada pemahaman bagaimana kegiatan ekonomi berjalan.

Dalam mewujudkan gagasan keadilan distribusi menurut Islam, Sadr111 mendasarkan pada dua faktor. Pertama, faktor primer yang terdiri dari kerja dan kebutuhan. Kedua, faktor turunan berupa kepemilikan.

Bekerja menurut Islam adalah sebab yang mendasar untuk memungkinkan manusia dapat memenuhi kebutuhannya dan memili

an. Namun yang menjadi permasalahan menurut Sadr112 ialah cara menempatkan seseorang yang dalam kehidupan sosial tidak dapat bekerja atau mereka yang bekerja tapi tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam konteks in

an, artinya berapapun kebutuhan pokok komunitas masyarakat tersebut menjadi tanggung jawab bersama baik lewat jaminan sosial maupun

110

Muhammad Baqir As-Shadr, Iqtishaduna : Our Economics, (Teheran : WOFIS, 1983), V

qtishaduna : Our Economics, (Teheran : WOFIS, 1983), V Kedua, Ed.I, h.113

olume 1, Bagian Kedua, Ed.I, h.5-6 111

Muhammad Baqir As-Shadr, I

olume 1, Bagian 112

Faktor berikutnya dalam mekanisme distribusi adalah kepemilikan. Menurut Sadr,113 Islam memberikan keterbukaan kepemilikan pribadi dengan

Islam dibatasi aturan nila

a.

ntuk mengamati peran kerja dalam distribusi, terlebih dah

sendiri merupakan ekspresi dari kecend

bakat serta potensinya dalam atnya. Sedangkan disisi lain pekerja

b.

lam masyarakat Islam, untuk mengenal lebih dekat peran

adanya sarana bekerja, akan tetapi, kepemilikan dalam

i serta kepentingan sosial yang ditegaskan melalui Syari’ah. Peran Kerja (al-‘amal) dalam distribusi

Dalam Islam, kerja diposisikan sebagai faktor utama dari produksi. Menurut Sadr, u

ulu harus mengkaji hubungan sosial antara kerja serta hasil yang diperolehnya.114

Kerja menurut Islam merupakan penyebab kepemilikan dari para pekerja. Sedangkan kepemilikan

erungan alami. Maka dalam Islam kepemilikan / hak-hak individu mendapat tempat yang proporsional.

Dengan adanya peran positif kerja dalam Islam setiap individu dapat mengekspresikan seluruh kekuatan,

meningkatkan perekonomian suatu masyarak dapat memenuhi kebutuhannya.

Peran Kebutuhan (al-Haajah) dalam distribusi

Peran kerja dan kebutuhan tersebut secara terpadu membentuk pola distribusi da

113

Ibid., h.120 114

kebutu

kesempatan kerja melalui bakat d

yang tinggi.

a komunitas pertama bergantung pada kerja, maka komun

i kelompok ketiga ini melalui instrument kebutuhan yang pengatu

rja sesuai

han dalam distribusi, Sadr115 membagi masyarakat ke dalam 3 komunitas :

Pertama, komunitas yang mendapatkan

an kemampuan intelektualnya. Komunitas tersebut dapat menyediakan kebutuhan hidupnya dengan standar

Kedua, komunitas yang mendapat kesempatan kerja namun belum sesuai dengan kebutuhan hidupnya.

Ketiga, komunitas yang tidak mendapat kesempatan untuk terlibat dalam proses produksi baik kelemahan fisik maupun kemampuan intelektualnya. Menurut Sadr, konsekuensi dari pembagian diatas mengharuskan komunitas pertama bergantung pada kerja untuk mendapat bagian dalam distribusi. Jik

itas ketiga dalam perekonomian Islam bergantung pada permintaan akan kebutuhan dasarnya.

Pemahaman ini menurut Sadr,116 berangkat dari realitas bahwa komunitas tersebut tidak dapat terlibat dalam proses produksi sehingga bagian distribus

rannya sesuai dengan prinsip-prinsip jaminan social serta solidaritas umum.

Sedangkan pada komunitas kedua, Sadr menjelaskan adanya dua instrument sekaligus. Di satu sisi mereka memiliki instrument ke

115

Ibid., h.116 116

dengan

c.

yang m

segala fenomena tentang perilaku pilihan dan pe

i dengan ilmu ekonomi Islam. Selama teori yang ada sesuai dengan

kemampuannya, di sisi lain berhak memperoleh bagian distribusi melalui sebagian kebutuhannya yang tidak terpenuhi melalui kerja.

Peran Kepemilikan (al-Milk) dalam distribusi

Islam memberikan dua batasan terhadap hak kepemilikan pribadi. Pertama, batasan aspek legal Islam, yaitu pelarangan atas berbagai transaksi

engandung unsur riba dan spekulasi. Kedua, batasan sosial ekonomi yaitu adanya kepentingan social ekonomi yaitu adanya kepentingan sosial untuk membantu kebutuhan sesamanya melalui zakat, infaq serta shadaqah.117

Jika penulis relevansikan pemikiran Sadr dengan ekonomi Islam, maka kita harus memahami terlebih dahulu apa makna ekonomi Islam itu sendiri. Dalam hal ini, penulis mengkaitkan dengan pemikir muslim masa kini semisal, Adiwarman Karim.118 Menurutnya “…Ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi yang menjelaskan

ngambilan keputusan dalam setiap unit ekonomi dengan memasukkan tata aturan syariah sebagai variabel independen (ikut mempengaruhi segala pengambilan keputusan ekonomi).

Dengan demikian, segala ilmu ekonomi kontemporer yang telah ada bukan berarti tidak sesuai dengan ilmu ekonomi Islam dan juga tidak berarti semuanya sesua

asumsi dan tidak bertentangan dengan hukum syariah, maka selama itu pula teori tersebut dapat dijadikan sebagai dasar untuk membentuk teori ekonomi Islam.

117

Ibid., h.129 118

Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007),h.5

Begitupun apa yang ditawarkan Sadr mengenai konsep distribusinya, hemat penulis meskipun Sadr adalah seorang yang berlatar belakang Syiah, tetapi tidaklah mungkin jika pemikiran beliau ditinggalkan hanya karena faktor

’an, surat Al-Hasyr, ayat 7, (“ Supaya harta itu jangan hanya beredar

embangkan oleh ilmu ekonom

lu

tersebut. Ternyata tak sedikit pemikiran beliau yang selaras dengan Ekonomi islam antara lain seperti Zakat (Khums Pajak,, Anfal, Fay), yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan menciptakan kesimbangan sosial.

Berbicara ekonomi Islam maka secara otomatis akan tertuju pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keduanya merupakan rujukan utama Absolut.

Maka menurut penulis, Pemikiran Sadr tentang Konsep Distribusi diperkuat dalam Al-Qur

diantara orang-orang kaya saja diantara kamu”) serta adanya hadist Nabi yang menyebutkan bahwa (“diantara sebagian harta kita ada hak untuk orang lain”).

Sejalan dengan itu, maka semua teori yang dik

i konvensional ditolak dan dibuang. Sebagai gantinya mazhab ini berusaha untuk menyusun teori-teori baru dalam ekonomi yang langsung digali dan dideduksi dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.119

Oleh karena itu, sikap umat Islami terhadap ilmu-ilmu dari Barat, termasuk ilmu ekonomi versi “konvensional”, adalah La tukadzibuhu jamii’a, wala tushahihuhu jamii’a (Jangan menolak semuanya, dan jangan pula menerima semuanya). Menurut Adiwarman Karim, 120ekonom Muslim tidak perlu terkesima dengan teori-teori ekonom Barat. Ekonom Muslim per

119

Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007),h.31

120

mempu

an beragam pendapat ahli fiqh sebagai suprast

annya dalam proses produk

alam distribusi pra produksi berkaitan dengan daya alam yang merupakan faktor produksi. Sedangkan pada

patan menurut Islam.

nyai akses terhadap kitab-kitab Islami. Di lain pihak, Fuqaha Islami perlu juga mempelajari teori-teori ekonomi modern agar dapat menerjemahkan kondisi ekonomi modern dalam bahasa kitab klasik Islami.

Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan Sadr dalam proses pengkajian dengan cara Ijtihad untuk menghadapi masalah-masalah kontemporer. Sadr 121mulai menampilk

ruktur (ajaran yang bersumber dari hukum). Selanjutnya, beliau melakukan deduksi terhadap naskah-naskah klasik tersebut menjadi prinsip-prinsip umum dalam bidang distribusi.

Sadr 122juga mendiskusikan dua teori pendapatan dalam perspektif Islam, yakni teori kompensasi dan bagi hasil. Pertama, seseorang berhak mendapat balas jasa atas barang yang digunakan dalam proses produksi. Kedua, seseorang berhak mendapat hasil dari keikutserta

si. Sebagaimana contoh hukum yang mengatakan, “Pekerja berhak atas buah kerjanya.” Karena itu, Islam tidak mengakui bunga, karena pendapatan tanpa kerja bertentangan dengan gagasan keadilan Islam.

Jadi, fokus kajian d sumber

pengkajian distribusi pasca produksi lebih menitikberatkan pada teori penda

121

M. Aslam Haneef, Contemporary Islamic Economic Thought : A Selected Comparative Analiysis, (Kuala Lumpur, 1995), h.112-113

122

Muhammad Baqir As-Shadr, Iqtishaduna : Our Economics, (Teheran : WOFIS, 1983), Volume 1, Bagian Kedua, Ed.I, h.132

2. Releva

inya, merupakan indikator kongkrit yang menand

secara

ijaga dan dipertahankan, maka dapat d

bangsa Indonesia adalah sistem ekonomi yang berbasis pada nilai-nilai ketuhanan, sebab bangsa ini adalah bangsa Religiusitas yang patuh terhadap

nsi Konsep Distribusi Muhammad Baqir As-Shadr dengan Masa Kini

Penulis berpendapat Krisis ekonomi di Indonesia masih belum kunjung selesai. Pengangguran yang membengkak, kesenjangan sosial antara kaya dan miskin, biaya pendidikan kian mahal, merebaknya kriminalitas dan maksiat, gizi buruk, krisis energi, kelaparan yang selalu menanti di susul dengan kasus-kasus yang menimpa daerah bencana (baik korupsi dana pembangunan) dan lain sebaga

akan kegagalan sistem ekonomi konvensional kapitalis yang diusung pemerintah.

Saat ini pemerintah sepertinya semakin tidak memperhatikan rakyat. Tak sedikit kebijakan pemerintah malah semakin membebani rakyat dan

langsung terus melestarikan kemiskinan. Hal ini membuktikan akibat kebijakan ekonomi yang keliru yang kian hari makin terpuruk.

Bila sistem yang secara jelas dan realitas tidak dapat menyelesaikan beragam problematika bangsa ini masih tetap d

ikatakan bahwa bangsa ini sesungguhnya tiada pernah secara bijak untuk belajar memperbaiki diri dari kesalahan.

Pemerintah harus ada solusi alternatif untuk mengganti sistem yang dipakai saat ini dengan sistem yang lebih baik serta sesuai dengan masyarakat Indonesia. Sistem yang paling sinkron dengan karakteristik dan kepribadian

norma dan etika agama yang dianutnya. Sistem yang dimaksud adalah sistem ekonomi Islam.123

Krisis yang bangsa kita hadapi saat ini secara bertubi-tubi dan melingkar-lingkar sangat berkaitan dengan ketidakmampuan kita untuk

merespons dampak-dampak kapitalisme global yang berfungsi sebagai kendaraan bagi imperialisme baru yang lebih sophisticated.124

Harus diakui bahwa pembahasan ekonomi dalam karya ini berlatar kondisi masa lalu. Namun demikian, karena pembahasan ekonomi dalam karya ini menyentuh dasar-dasar filsafat ekonomi dan sosial yang melibatkan relasi-relasi yang bersifat eksistensial dan generik, maka rekomendasi yang diberikan Sadr dengan mudah dapat diadaptasikan guna menyikapi secara cerdas realitas dan tantangan kondisi ekonomi hegemonik masa kini.125

Pada hakikatnya, kondisi ekonomi masa kini hanya mengalami perubahan-perubahan instrumental dari dasar-dasar ekonomi masa lalu. Kapitalisme dan materialisme hanya berganti baju dan rupa, tetapi tidak watak dasarnya. Maka, fatwa ekonomi Ayatullah Baqir Ash Shadr tetap relevan.126

Kenyataan yang memperihatinkan dalam kehidupan rakyat banyak di Negeri kita ini selama tahun-tahun terakhir sungguh banyak dan susul menyusul datangnya. Namun, yang sangat luas dampaknya adalah keterpurukan bidang ekonomi yang dialami sebagian besar rakyat. Memang

123

Miftakhus Surur, “Indonesia dan Ekonomi Syariah”, Gontor, No. 11 Th.VI (Maret 2009) : h.58

124

Ir. Sayuti Asyathri “ulasan dan komentar”, dalam Muhammad Baqir Ash-Shadr. Buku Induk Ekonomi Islam : Iqtishaduna, (Jakarta : Penerbit Zahra, 2008), h.23

125

Ibid. h.24 126

disadari bahwa salah satu masalah kunci dalam kehidupan umat manusia adalah masalah ekonomi.127

Prof. Dr. Mubyarto di acara memperingati Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 2005 di Jakarta telah menguraikan bahwa secara ekonomi, Indonesia kembali terjajah oleh Kapitalisme Global yang lebih sadis dan lebih kejam ketimbang kolonialisme Belanda.

Lebih dari itu, John Perkins dalam bukunya, Confessions of an Economic Hit Man, telah mengakui bahwa dirinya disewa oleh kekuatan Kapitalisme Global untuk merusak dan membuat ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi terjajah dan sangat bergantung pada tuan besarnya, yaitu Kapitalisme Global.128

Konsep Baqir Ash- Shadr sangat kontekstual dengan kondisi dan permasalahan yang berkembang di Indonesia dan negara berkembang lain yang umumnya berpenduduk mayoritas Muslim. Di bawah pengaruh konspirasi dan pengondisian kekuatan-kekuatan besar, isu-isu kemiskinan, kebodohan, dan kebobrokan adalah tiga isu besar yang mendorong keterpurukan bangsa-bangsa ini, terutama akibat penerapan sistem ekonomi yang tidak berkeadilan.129

Sebagai solusi atas fenomena dan kondisi tersebut, Muhammad Baqir Ash-Shadr mengingatkan kita dan mengulas secara jelas Iqtishaduna :

Our Economics, yang melalui suatu pendekatan interdisipliner menjadi suatu

127

Prof. KH. Ali Yafie “ulasan dan komentar”, dalam Muhammad Baqir Ash-Shadr.

Buku Induk Ekonomi Islam : Iqtishaduna, (Jakarta : Penerbit Zahra, 2008), h.27 128

Ibid., h.27 129

Aries Muftie, SH. SE. MH “ulasan dan komentar”, dalam Muhammad Baqir Ash-Shadr. Buku Induk Ekonomi Islam : Iqtishaduna, (Jakarta : Penerbit Zahra, 2008), h.19

kajian ekonomi Islam, sehingga memberikan benang merah bagi kita bagaimana mewujudkan maqashid berdasarkan prinsip-prinsip yurisprudensi Islam (ushul fiqh). Dengan demikian, aktivitas dan sistem ekonomi yang kita gunakan akan kita kembalikan kepada tujuannya untuk kesejahteraan seluruh manusia.130

Implikasinya dapat dilihat dari munculnya fakta disparitas

(kesenjangan) antara yang kuat dan yang lemah pada berbagai sektor

kehidupan, dan munculnya tiga isu : kemiskinan, kebodohan, dan kebobrokan, akibat implementasi sistem ekonomi yang tidak menganggap penting faktor iman, jiwa, akal dan keturunan. Eksploitasi alam, penjajahan ekonomi, peperangan bisnis, dan segala aktivitas ekonomi lainnya menjadi suatu alat penumpukan kekayaan dan pemenuhan kepentingan golongan, tanpa mempertimbangkan dampaknya pada publik atau umat, serta pelestarian alam untuk para keturunan kita.131

Sistem ekonomi yang selama ini dikenal dan diimplementasikan di dunia dalam perjalanan sejarahnya semakin lepas dari perspektif moral dan pranata sosial-budaya. Perkembangannya menjadi segmentatif dan mikro, sehingga hanya bisa menjelaskan secara parsial fenomena-fenomena kemasyarakatan yang ada.132 Selama ini sistem Perbankan Syariah hanya merupakan duplikasi sistem perbankan konvensional yang menganut sistem

130 Ibid., h.19 131 Ibid., h.20 132 Ibid., h.19-21

Ribawi yang mengandung unsur gharar, tidak adil, dan mengancam nilai-nilai Islam yang mulia. 133

Misalnya, sistem bagi hasil yang di praktikkan Bank Syariah sekarang ini, masih mengandung unsur Ribawi. Jika seorang calon nasabah akan membuka account di bank syariah dan bertanya berapa bagi hasil yang akan di terima, maka dengan tanpa ragu-ragu si petugas Bank Syariah menunjukan prakiraan besarannya dengan mengacu daftar bagi hasil beberapa bulan yang lalu dalam brosur di Bank Syariah bersangkutan.

Kenapa sistem bagi hasil di prediksi besarannya ? bukankah bagi hasil adalah sistem bagi untung atau rugi berdasarkan akad kejujuran yang tidak bisa di prediksi seperti bunga bank ? kalau bagi hasil di prediksi, berarti ada semacam “janji” yang artinya tidak beda dengan sistem bunga.

Selain itu,134 selama ini perbankan syariah lebih banyak “main” pada suku bunga di Bank Indonesia (BI) yang sangat kental dengan praktik Ribawi. Berapa persen dana perbankan syariah yang di salurkan melalui pembiayaan sektor riil ? contoh lain, apakah sistem murabahah yang di praktikkan juga sudah benar-benar pure berjalan sesuai dengan muamalah Islam ? bagaimana dengan sistem pembiayaan perbankan syariah pada sektor riil ?

Meski sekarang diakui sistem ekonomi kapitalis liberalis sedang mengalami kebangkrutan menyusul krisis ekonomi global, namun masih memerlukan waktu cukup lama antara 10-20 tahun bagi sistem ekonomi Islam

133

Zaim Saidi, “Prakteknya Masih Mengandung Ribawi,” Suara ISLAM, 20 Maret – 3 April 2009, h. 9.

134

(syariah) untuk menggantikannya. Pasalnya,135 harus memerlukan kepercayaaan dari Dunia Barat yang masih berpedoman pada kapitalis dan liberalis, di mana perlu di yakinkan sesungguhnya sistem ekonomi Islam jauh lebih baik dan lebih menjanjikan keuntungan finansial bagi mereka.

Dunia Islam harus memberi penyadaran dan pencerahan pada Dunia Barat untuk menggunakan sistem Ekonomi Syariah yang non Ribawi, untuk menggerakkan ekonomi mereka yang masih berdasarkan pada bunga (riba). Pasalnya selama ini sistem ekonomi Barat memiliki kepentingan dan resiko, sedangkan semua pelaku ekonomi tidak ingin beresiko dalam menjalankan usahanya. Mereka hanya menginginkan keuntungan tanpa bersedia menanggung resikonya. Sedangkan dalam sistem ekonomi syariah, antara resiko dan keuntungan akan ditanggung secara bersama (mudharabah).136

Mari kita cermati peta zakat di era Indonesia Mazhab Neo Liberal sekarang ini. Di mana, seperti di beberkan Amien Rais137 dalam bukunya Agenda Mendesak Bangsa Selamat-kan Indonesia, kekayaan alam Indonesia mayoritas sudah di kuasai asing. Ironisnya, itu semua seizin rezim-rezim penguasa Indonesia, melalui amandemen UUD 45 yang melahirkan regulasi semacam UU penanaman modal, UU Sumber Daya Air, UU Kelistrikan, UU Badan Hukum Pendidikan, dan UU Minerba. Policy inilah yang menciptakan kemiskinan struktural.

135

Aviliani, “Perlu Waktu Lama Ekonomi Islam Menggantikan Ekonomi Kapitalis,”

Suara ISLAM, 20 Maret – 3 April 2009, h.9 136

Ibid., h.9 137

M. Amien Rais, Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia, (Yogyakarta : PPSK Press, 2008). h.255-263

Dana Zakat dapat dilihat dalam tabel berikut :138

Penerimaan ZIS konter BAZNAS tahun 2002 -2007 (ribuan Rp.)

Penerimaan/thn 2001 – 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Zakat 444,035 1,311,834 2,229,070 2,536,110 4,825,502 8,307,941

Infak & Sedekah 275,973 483,372 579,920 28,589,846 13,023,956 6,029,927

Infak Operasional 70,035 552,542 293,890 180,845 627,203 254,149

Infak Pemerintah 131,005 352,325 119,836 100,000 1,550,000 -

Jumlah 921,048 2,700,073 3,222,716 31,406,801 20,026,661 14,592,017

Grafik Penerimaan ZIS konter BAZNAS139

Dari grafik tersebut terlihat bahwa ada kenaikan dana zakat yang terhimpun, meskipun ada penurunan dana infak shadaqah sehingga total penerimaan ZIS

138

Tim BAZNAS, Data kuantitatif Baznas, di akses pada juni 2010 pukul.18:52 dari http://www.baznas.or.id/laporan

139

Tim BAZNAS, Grafik Penerimaan ZIS konter Baznas, di akses pada juni 2010 pukul.18:52 dari http://www.baznas.or.id/laporan

menurun. Penerimaan dana infak shadaqah tahun 2005 melonjak tinggi meningkat tajam merupakan penerimaan terbesar karena adanya bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam pada akhir Desember 2004 telah meningkatkan kepedulian masyarakat Indonesia untuk berbagi. Terlihat dari penerimaan dana infak tahun 2005 yang melonjak cukup tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun 2006, gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya juga telah mendorong masyarakat untuk berinfak.

Sesuai dengan fungsi koordinatifnya, BAZNAS juga mencatat penerimaan ZIS dari jaringannya yang terdiri dari Unit Pelayanan Zakat (UPZ), Badan Amil Zakat Daerah dan lembaga amil zakat. Meskipun baru sebagian yang dapat dikoordinasikan, namun alhamdulillah dari data ini dapat digambarkan pertumbuhan penerimaan dana ZIS di Indonesia.

Penghimpunan ZIS BAZNAS dan Jaringan BAZNAS tahun 2002-2007140 Penerimaan ZIS (Ribuan Rp.)

NO NAMA LEMBAGA 2002 2003 2004 2005 2006 2007 I BAZNAS (konter) 921.048 2.700.073 3.322.092 31.406.810 20.026.660 14.592.016 II UPZ BAZNAS *) - - - - 8.289.356 12.308.613 III BAZDA Prov*) 11.589.000 14.177.504 18.412.132 30.301.714 114.406.553 102.629.312 IV LAZ *) 55.680.209 68.405.946 128.354.888 233.986.019 230.613.161 219.412.453 TOTAL 68.391.097 85.283.523 150.089.112 295.592.403 373.173.447 361.333.307 *) sebagian data 140

Tim BAZNAS, Penghimpunan ZIS BAZNAS dan Jaringan BAZNAS 2002-2007, di akses pada juni 2010 pukul.18:52 dari http://www.baznas.or.id/laporan

Menurut Dawam Raharjho,141 Tingkat perkembangan itu sudah tentu

masih jauh dari memuaskan, karena zakat belum berperan besar dalam pemecahan masalah-masalah sosial ekonomi. Persoalannya adalah pertama, bagaimana bisa menghimpun dana dalam jumlah besar yang terkonsentrasi tetapi juga terdesentralisasi.

Sebab selama ini zakat itu tidak dikumpulkan melainkan langsung di distribusikan oleh muzakki kepada perorangan, walaupun sebagian juga dikirimkan kepada organisasi-organisasi yang menyebarkan surat permohonan zakat. Kedua adalah bagaimana dana zakat bisa di distribusikan, sehingga secara efektif ikut memecahkan persoalan sosial ekonomi.142

Monopoli pemerintah atas pengelolaan zakat, ternyata tak berlaku untuk semua jenis objek zakat. Menurut para fuqaha, harta zakat yang wajib di kelola pemerintah adalah yang nampak (al-amwal azh-zhahirah). Yakni zakat binatang ternak (zakat al-mawasyi) dan pertanian serta buah-buahan (zakat al-zuru’ wa ats-tsimar).143

Mengenai pelaksanaan zakat, Sadr144 memandang hal ini merupakan tugas sebuah negara. Selain itu, beliau juga mendiskusikan khums, pajak, fay’, dan anfal, yang dapat dikumpulkan dan dibelanjakan untuk mengurangi kemiskinan dan menciptakan keseimbangan sosial.

141

M. Dawam Rahardjo, “Peran zakat dalam mengatasi masalah sosial ekonomi”,

Bulletin UIN Syarif Hidayatullah, disampaikan pada workshop “Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Pengelolaan Zakat”, 1 – 2 juni 2003. h.28

142

Ibid., h.28 143

“ Haruskah LAZ Berplat Merah,” Suara ISLAM, 20 Maret – 3 April 2009, h. 12. 144

Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Dari Masa Klasik hingga Kontemporer, (Jakarta : Pustaka Asatruss, 2005), h. 257

Salah satu poin menarik yang Sadr ciptakan145 adalah fokus eksklusif kepada kaum miskin. Target Sadr adalah terciptanya keseimbangan sosial dengan tidak mengarah pada keseimbangan standar hidup antara si miskin dan si kaya. Para sarjana muslim setuju bahwasanya harus ada standar kehidupan tertentu yang dapat mempertimbangkan standar minimum. Pengaturan mengenai standar ini tidak berarti berhenti untuk mengurangi jarak atau jurang standar kehidupan. Sebab seseorang mempunyai kesamaan standar hidup.

Namun yang terpenting, menurut penulis ini harus diterapkan secara menyeluruh, tidak secara parsial. Sebab,146 Islam akan jaya jika di praktekkan pada seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam perekonomian. Jadi kehadiran Islam bukan hanya di Masjid saja, tetapi juga di bisnis, kantor, kampus dan sebagainya. Dengan demikian, karena umat Islam Indonesia mayoritas, maka sistem perbankan syariah, haji, zakat, wakaf dan waris perlu di buat peraturannya melalui undang-undang agar lebih memasyarakat.

Hemat penulis, Ini sangat relevan jika di terapkan, sistem ekonomi syariah dapat menjadi solusi bagi kemunduran perekonomian sistem kapitalis dan liberalis yang sedang menuju pada resesi, dengan adanya krisis ekonomi global sekarang ini.

Dengan adanya fenomena krisis saat ini dan makin terlihatnya berbagai keunggulan ekonomi Islam diatas, mudah-mudahan pemerintah bersedia menjadikan ekonomi Islam sebagai dasar dalam menentukan

145

Ibid., h.257-258 146

M. Syafi’i Antonio, “Sistem Syariah juga diterima Kalangan Non Muslim,” Suara ISLAM, 20 Maret – 3 April 2009, h. 9.

kebijakan ekonomi kedepan. Semoga Allah SWT membukakan pintu berkah dari langit dan bumi Indonesia atas ketaatan tersebut.

Dokumen terkait