SEKARANG
Abad XII ini diperkirakan oleh Abd Aziz Albone (2009:42) mengalami transformasi dalam segala aspek kehidupan manusia. Proses transformasi itu dapat dirangkum dengan istilah globalisasi. Pengertian umum globalisasi merupakan yang baru masuk kajian dunia universal pada tahun 80-an, pertama-tama merupakan suatu pengertian sosiologi yang dicetuskan oleh Ronald Robertson dari University of Pittsburgh.
Menurut Abd Aziz Albone dalam bukunya “Pendidikan Agama Islam Dalam Perspektif Multikulturalisme” pengaruh globalisasi telah melahirkan
budaya global yang memiskinkan potensi-potensi budaya asli. Untuk itu timbul upaya menentang globalisasi dengan melihat kembali peranan keragaman budaya di masyarakat. Ketika masyarakat Indonesia dilanda gelombang globalisasi di dalam dunia yang terbuka dan rata (flat) maka orang mulai berbincang dan membandingkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Membandingkannya dengan bangsa yang lain tidak terlepas dari ukuran atau standar yang digunakan dalam perbandingan itu. Ada yang mengambil ukuran modernisasi yang cenderung menggunakan standar kehidupan Barat, baik dalam produk barang industri maupun servis. Dunia pendidikan tidak terlepas dari goncangan arus standarisasi tersebut. kualitas
pendidikan Indonesia dianggap berada di bawah standar dengan menggunakan standar dengan epistema politik – kesatuan nasional, epistema sosial budaya –
kohesi sosial dari suatu masyarakat, dan khususnya epistema paedagogis yaitu mengenai kepentingan peserta didik (Tilaar, 2012:x).
Terkait dengan pendidikan agama Islam, secara umum tantangan yang dihadapi PAI di era global ini adalah bagaimana pendidikan Islam dapat mendidik dan menghasilkan siswa yang memiliki daya saing tinggi (qualified)
atau justru “mandul dalam menghadapi gempuran berbagai kemajuan yang
penuh dengan kompetisi dalam berbagai sektor, baik sektor riil maupun moneter (Albone, 2009:45-46).
Dalam relevansi pemikiran pendidikan agama Islam Prof. Achmadi dengan konteks pendidikan agama Islam sekarang, penulis membagi dalam beberapa sub-bahasan, antara lain:
A. Relevansi Pemikiran Pendidikan Agama Islam Prof. Achmadi Dengan Konteks Pendidikan Agama Islam Sekarang Terkait Isi Pendidikan/ Materi Pendidikan
Pemikiran pendidikan agama Islam yang secara eksplisit membedakan dengan pemikiran lainnya. Mengenai manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan didasarkan atas pandangan Islam tentang konsep fitrah, dasar tujuan pendidikan didasarkan atas nilai-nilai Ilahiyah dan insaniyah, begitu pula mengenai isi pendidikan. Di dalam mengaplikasikan pemikiran Pendidikan Islam tidak harus mengubah paradigma ideologinya, cukup pada tataran strategi dengan melakukan interpretasi nilai-nilai yang terkandung didalamnya.
B. Relevansi pemikiran pendidikan agama Islam Prof. Achmadi dengan konteks pendidikan agama Islam sekarang terkait Dasar dan Tujuan PAI.
Di dalam Artikel Business Week 23-30 Agustus 1999 mengenai dua puluh satu trend perkembangan kehidupan manusia dalam abad 21, ada dua kecenderungan yang menarik perhatian. Pertama adalah peranan agama yang akan semakin relevan, dan kedua trend mengenai kemajuan ilmu dan teknologi yang akan mengubah wajah dan kehidupan manusia. Karen Penner penulis trend mengenai agama antara lain mengatakan
“Religion place in providing solace, in mediating ethical disputes, or
celebrating moments when a relationship to the unknowable to the
unknowable fills worshippers wth humanity.” Seterusnya karen
mengatakan “Religion transcends the ebb and flow of human progress and
events, absorbing knowledge the modern age bring and shrugging off its
secularism.” Disini terlihat betapa agama akan muncul kembali sebagai
pegangan hidup manusia di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan.salah satu trend kemajuan ilmu pengetahuan ialah perkembangan “Artifical Intellegence” (AI) di mana komputer dewasa ini masih kurang kompleks dibandingkan dengan otak cacing tanah. Kecepatan komputer akan menjadi dobel setiap 18 bulan sampai tahun 2012, dan pada tahun 2030 kecepatan komputer telah sama dengan seribu otak manusia, sedangkan pada tahun 2050 kecepatannya menjadi sama dengan 1 milyar otak manusia. Di dalam tulisan ini berbicara mengenai pengembangan pendidikan Agama Islam. Para pakar pendidikan Agama Islam mempunyai gambaran yang belum jelas mengenai perkembangan
pendidikan Agama Islam tersebut. Umumnya mereka beranggapan bahwa pendidikan Agama Islam masih menghadapi hambatan yang besar, ialah sifatnya yang tertutup dan sangat ortodoks dan belum terbuka untuk kemajuan ilmu dan teknologi. Di pihak lain perubahan yang besar sedang terjadi di sekitar pendidikan Agama Islam yang mau tidak mau harus menghadapi dan mengharuskan mengubah diri agar pendidikan Agama Islam menjadi salah satu pendidikan alternatif di dunia Indonesia (Tilaar, 2000:146-145).
C. Relevansi pemikiran pendidikan agama Islam Prof. Achmadi dengan konteks pendidikan agama Islam sekarang terkait Posisi PAI di ranah Kerangka Pendidikan Nasional.
Menjadikan pendidikan Islam sebagai salah satu pendidikan alternatif membutuhkan paradigma-paradigma baru untuk meningkatkannya, antara lain peningkatan manajemen pendidikan Islam. Pendidikan Islam di Indonesia telah berjalan lama dan mempunyai sejarah yang panjang. Namun demikian, dirasakan pendidikan agama Islam tersisih dari sistem pendidikan nasional. SKB 3 Menteri 24 Maret 1975 yang tersohor itu berusaha mengembalikan ketertinggalan pendidikan Islam untuk memasuki mainstream pendidikan nasional. Pada waktu itu telah diidentifikasikan berbagai kelemahan pendidikan Islam seperti terlalu banyaknya mata pelajaran yang diarahkan, kualitas guru rendah, sarana pendidikan yang kurang, dan para peserta didik kebanyakan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Hal ini berarti pendidikan Islam belum merupakan alternatif pendidikan modern.
Tersingkirnya pendidikan agama Islam dari mainstream pendidikan nasional, dapat mengakibatkan jatuhnya pendidikan Islam di dalam dua jenis dikotomi atau dualisme yang artifisial. Petama ialah dikotomi yang pendidikan yang sekuler dan pendidikan yang mempunyai ciri khas, dalam hal ini khas keislaman. Selanjutnya pendidikan agama Islam telah terperangkap dalam dualisme pengelolaan, antara pengelolaan pendidikan di bawah Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama.
Kedua jenis dikotomi atau dualisme yang artifisial tersebut lebih memperparah pengembangan pendidikan agama Islam atau lebih memurukkan pendidikan agama Islam dari arus perkembangan masyarakat di sekitarnya. Keadaan ini membawa usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan agama Islam di dalam suatu dilema yang cukup sulit. Pertama, adanya suatu keinginan yang besar untuk mengadakan modernisasi pendidikan agama Islam yang disebut oleh Malik Fadjar sebagai kekuatan yang pragmatis di dalam pendidikan agama Islam. Sedangkan yang kedua merupakan permintaan perubahan dari arus globalisasi yang tidak terbendung lagi. Di sini pendidikan agama Islam diminta memberikan suatu usaha yang ekstra cepat dan tepat untuk menanggulanginya karena kalau tidak demikian maka pendidikan Islam akan kembali pada ortodoksi dan tidak dapat mengikuti perubahan yang didambakan oleh masyarakat. Untuk menelaah masalah ini perlu adanya kajian tentang visi, misi pendidikan Islam di indonesia (Tilaar, 2000:147-148).
Posisi Pendidikan agama Islam, dalam Undang-Undang Nomor 54 tahun 1950 sebagai undang-undang pertama yang mengatur pendidikan
nasional tidak memberikan tempat bagi pendidikan keagamaan ataupun terhadap pendidikan agama yang saat itu diistilahkan dengan pengajaran agama undang-undang ini cenderung bersikap liberal dengan menyerahkan keikutsertaan siswa dalam pengajaran kepada keinginan dan persetujuan orang tua. akan tetapi dalam UU Nomor 4 tahun 1950 tentang Pendidikan dan Pengajaran dalam BAB XII (TENTANG PENGAJARAN AGAMA DI SEKOLAH SEKOLAH NEGERI) Pasal 20 dinyatakan bahwa :
1. Dalam sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama; orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran tersebut;
2. Cara menyelenggarakan pengajaran agama di sekolah-sekolah negeri diatur dalam peraturan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, bersama-sama dengan Menteri Agama.
Dengan hadirnya UU No 4 Tahun 1950 ini belum mencerminkan harapan rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Undang-undang ini masih menuai protes dari berbagai kalangan umat Islam. Yang pada akhirnya lahirlah undang-undang UUSPN No 2 Tahun 2003 yang intinya mengenai perubahan undang-undang ini adalah karena undang pendidikan keagamaan (PAI) dikesampingkan. Tidak dipungkiri bahwa undang-undang tahun 1950 masih diwarnai dengan undang-undang-undang-undang kolonialisme.
Menurut UU nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam BAB IV (SATUAN, JALUR dan JENIS PENDIDIKAN) Pasal 11 mengatakan bahwa Pendidikan keagamaan merupakan
pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan (agama islam).
Dan posisi pendidikan agama Islam diranah pendidikan Nasional semakin terlihat dengan munculnya UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Bagian Kesembilan (Pendidikan Keagamaan) Pasal 30 mengatakan bahwa :
1. Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dan pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
2. Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai- nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.
3. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.
4. Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, dan pashbaja samanera dan bentuk lain yang sejenisnya.
Ketentuan mengenai pendidikan keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah (Hasbulloh, 2009:287).
D. Relevansi pemikiran pendidikan agama Islam Prof. Achmadi dengan konteks pendidikan agama Islam sekarang terkait Pendekatan dalam PAI.
Misi adalah perwujudan dari visi. Dengan demikian misi pendidikan agama Islam adalah mewujudkan nilai-nilai ke-Islaman di dalam
pembentukan manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang di cita-citakan adalah manusia yang saleh dan produktif. Abad 21 menuntut kedua kualitas manusia semacam ini. Seperti yang dikemukakan masalah trend kehidupan abad 21, agama dan intelek akan saling bertemu. Manusia Indonesia yang di cita-citakan adalah manusia yang bertaqwa dan beriman sekaligus produktif dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi bagi peningkatan taraf hidupnya. Dengan misi ini pendidikan Islam menjadi pendidikan alternatif.
Apabila pendidikan yang diselenggarakan oleh negara atau oleh lembaga-lembaga pendidikan swasta lainnya cenderung untuk bersifat sekuler atau mempunyai ciri khas lainnya, maka pendidikan Islam tentunya ingin menonjolkan nilai-nilai keislaman. Inilah ciri khas dari pendidikan Islam sebagaimana dengan tepat dirumuskan oleh Sarkowi Suyuti. Menurut Sarkowi, yang disebut pendidikan Islam mempunyai tiga ciri khas, antar lain:
a. Suatu sistem pendidikan yang didirikan karena didorong oleh keinginan untuk menonjolkan nilai-nilai Islam.
b. Suatu sistem yang mengajarkan ajaran Islam.
c. Suatu sistem pendidikan Islam yang meliputi kedua hal tersebut. Dengan demikian, misi pendidikan Islam bukanlah sekedar untuk menjadikan pendidikan Islam sebagai cagar budaya dengan mempertahankan paham-paham keagamaan tertentu, tetapi sebagai agent of change tanpa menghilangkan ciri khasnya yaitu ke-Islamannya. Dengan demikian pendidikan Islam akan responsif terhadap tuntutan masa depan,
yaitu bukan hanya mendidik peserta didik menjadi manusia yang saleh tetapi juga produktif (Tilaar, 2000:150-151).
Malik Fadjar merumuskan pendidikan Islam dapat menjadi alternatif apabila pendidikan tersebut memenuhi empat tuntutan sebagai berikut: a. Kejelasan cita-cita dengan langkah-langkah yang operasional di dalam
usaha mewujudkan cita-cita pendidikan Islam.
b. Memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali sistemnya. c. Meningkatkan dan memperbaiki manajemennya.
d. Peningkatan mutu sumber daya manusianya.
Sedangkan menurut Achmadi (2010:162-164), dalam menyongsong perkembangan zaman bahwa Perubahan sosial dan tatanan kehidupan yang mengiringi perjalanan sejarah kehidupan umat manusia merupakan sunnah Allah, sehingga tidak mungkin kita menghentikan perubahan itu. Akibat semakin berkembangnya teknologi informasi mendorong komunikasi dan interaksi antar budaya dan peradaban bangsa semakin intensif, maka globalisasi yang disertai dengan perubahan sosial secara massif merupakan arus sejarah yang tidak dapat dielakkan. Sehingga pendidikan harus menghadapi arus perubahan yang begiu cepat dan sulit diprediksi.
Pendidikan Islam sebagai subsistem pendidikan nasisonal dalam prespektif global mempunyai masalah yang tidak mungkin diselesaikan oleh sekelompok masyarakat. Baik kelompok etnis maupun agama tertentu, begitu pula oleh LSM maupun pemerintah. Problem utamanya adalah kualitas pendidikan rendah, sehingga menghasilkan pendidikan
kualitas SDM yang rendah pula, paling rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Rendahnya kualitas SDM mengimbas pada rendahnya karakter bangsa. Oleh karena itu, masalah pendidikan agama Islam menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, tidak memandang suku, ras dan agama. Menurut Prof. Achmadi, untuk mengatasi perkembangan zaman pendidikan agama Islam ditekankan pada:
a. Peningkatan Kualitas SDM
Mengingat rendahnya kualitas SDM bangsa Indonesia, maka dalam menghadapi perubahan sosial sebagai dampak globalisasi, agenda utama pendidikan ialah pengembangan dan peningkatan kualitas SDM baik ditinjau dari nilai ekonomis dan nilai insani. Nilai ekonomis adalah menjadikan manusia lebih produktif dan nilainya lebih tinggi secara ekonomis, yang diperoleh melalui penguasaan ilmu dan teknologi. Nilai insani sebagai nilai tambah budaya dan iman taqwa yang menjadikan manusia lebih harkat dan martabatnya kemanusiaan melalui pendidikan yang sinergis antara pendidika agama dan ilmu pendidikan non-agama (Achmadi, 2010:165).
Nilai insani tercermin dalam watak bangsa. Oleh karenanya pembangunan watak bangsa menjadi sangat penting, bahkan melandasi pengembangan nilai ekonomis. Esensi pembangunan watak bangsa ialah peningkatan kesadaran tanggung jawab atas eksistensi bangsa. Akan tetapi kesadaran nasionalisme yang hanya terfokus pada eksistensi bangsa sendiri dan tidak memahami eksistensi
bangsa-bangsa lain tidak akan mampu memasuki sistem dunia atau masyarakat dunia dengan baik. Bagi umat Islam yang merupakan bagian integral bangsa Indonesia juga harus memahami eksistensi umat lain. Eksklusifitas internal umat Islam akan mengecilkan eksistensinya sendiri karena berarti tidak mampu memasuki dunia yang semakin plural. Oleh karenanya pendidikan watak bangsa perlu disinergikan antara kesadaran religiousitas umat Islam dalam konteks nasional, regional dan global. Dengan kesadaran semacam itu akan memotivasi peserta didik untuk lebih maju dalam rangka kompetisi secara sehat dengan bangsa-bangsa lain dan umat lain sesama anak bangsa (Achmadi, 2010:166)
Dengan kualitas SDM seperti disebut di atas dimaksudkan agar peserta didik siap menghadapi tugas kehidupan masa depan, yang menurut Muchtar Buchori meliputi tiga tugas pokok yaitu:
1) Untuk dapat hidup.
2) Untuk mengembangkan kehidupan yang bermakna. 3) Untuk turut memuliakan kehidupan.
Tiga tugas pokok ini relevan dengan konsep realisasi diri sebagai tujuan pendidikan agama Islam. Dengan tercapainya ketiga tugas hidup itu berarti pendidikan mampu mengantarkan peserta didik yang dalam perspektif Islam menjadi hamba Allah yang dapat memainkan peranannya sebagai khalifatullah di bumi (Achmadi, 2010:166-168).
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pengertian dan penjelasan materi dalam bab-bab sebelumnya dapat penulis simpulkan bahwa menurut Prof. Achmadi, pengertian agama Islam adalah usaha yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagaman dan sumber daya insani agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam.
1. Posisi Pendidikan Agama Islam dalam kerangka pendidikan nasional Posisi pendidikan agama Islam dalam ranah nasinal adalah secara yuridis lembaga pendidikan Islam (keagamaan) semakin kokoh setelah terbit UU No. 2 th 1989 yang secara eksplisit menyebutkan pendidikan keagamaan termasuk dalam Sisdiknas (pasal 11 dan 39) hal ini dikuatkan dalam UU No. 20 th 2003, pasal 15, 17, 18, dan 30, dan 37. Dengan kekuatan hukum itu diharapkan kualitas pendidikan agama Islam semakin meningkat. Dikuatkan lagi dengan munculnya UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Bagian Kesembilan (Pendidikan Keagamaan) Pasal 30. Posisi pendidikan agama Islam diranah pendidikan Nasional semakin terlihat.
2. Pandangan Prof. Achmadi tentang dasar dan tujuan Pendidikan Agama Islam
Dasar pendidikan agama Islam yaitu tauhid, kemanusiaan, kesatuan umat manusia, dan keseimbangan. Dan tujuan pendidikan agama
Islam menurut Achmadi terbagi menjadi 3; tujuan tertinggi, tujuan umum, dan tujuan khusus.
3. Pandangan Prof. Achmadi tentang pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam
Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam pendidikan agama Islam menurut Achmadi, yaitu: pendekatan humanis, pendekatan rasional kritis, pendekatan fungsional, dan pendekatan kultural.
4. Pandangan Prof. Achmadi tentang materi Pendidikan Agama Islam
Materi pendidikan agama Islam terbagi menjadi 2 yaitu; ilmu pengetahuan abadi yang bersumber Al-Qur’an dan Sunnah seperti:
Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak. Ilmu pengetahuan yang diperoleh seperti:
seni, ilmu intelektual, ilmu alam, ilmu terapan dan ilmu praktis.
5. Relevansi pemikiran pendidikan agama Islam Prof. Achmadi dengan konteks pendidikan Islam sekarang
Relevansi pendidikan agama Islam sekarang dengan pemikiran Pendidikan Agama Islam menurut Achmadi secara normatif tidak perlu dilakukan perubahan karena diyakini memuat nilai-nilai transendental yang memiliki kebenaran mutlak. Akan tetapi dalam rangka menyusun strategi yang relevan dengan perubahan perlu di lakukan interpretasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti peningkatan kualitas SDM.
B. Kritik Saran 1. Saran
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini ada beberapa hal yang dapat disarankan kepada Departemen Agama, antara lain:
Peningkatan bobot akademis dan komitmen terhadap agama. Studi agama di Indonesia berkembang cukup pesat dengan berbagai pendekatan dan metodologi, oleh karena itu dalam mengembangkan dan memajukan studi Islam di Indonesia terutama di IAIN, pendekatan dan metodologinya perlu dikembangkan sesuai dengan standart ilmiah untuk memelihara dan meningkatkan bobot akademisnya, namun tetap memiliki komitmen terhadap agama dan tujuan pendidikan nasional. 2. Kritik
Penelitian ini jauh dari sempurna. Dengan kerendahan hati penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan penulis mohon kritik dan sarannya demi kemajuan penelitian kami di masa mendatang. Atas perhatian dan kerjasama pembaca, penulis mengucapkan terima kasih.