PEMIKIRAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM
PERSPEKTIF PROF. ACHMADI
( Studi Historis 1944-2014)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam
Oleh:
Ema Siti Rohyani
NIM: 111 11 084
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MOTTO
PERSEMBAHAN
Dengan penuh ketulusan hati dan segenap rasa syukur kepada Allah SWT, skripsi
ini saya persembahkan kepada :
& Ayah, ibu, Adek tercinta yang senantiasa tak pernah berhenti memberikan
cinta serta doanya selama ini.
& Almukarom Romo KH. Muhammad Fatkhan beserta Ibu, Bapak Kyai Basith,
Mbah Zu, Bapak Munajatdan seluruh keluarga besar Pondok Pesantren
AL-IKHLAS Ungaran dan PONPES SALAFIYAH Salatiga yang dengan tulus
ikhlas mendidikku dengan dasar-dasar keagamaan dan semangat spiritual
yang dijadikan bekal hidup.
& Buat Bapak Saerozi sebagai Dosen Pembimbing yang telah memberikan
bantuan dan bimbingan dengan penuh kesabaran sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan
& Buat Ibu Desi selaku mantu dari beliau bapak Achmadi, karena telah
meminjamkan buku-buku beliau guna terselesaikannya penelitian ini.
& Thank you very much “hubby”. Thank for your kindleness. I love you
& Sahabat-sahabati PMII, Rekan-rekanita IPNU IPPNU, SEMA, DEMA,
JQHdan temen-temen sekelas Dek Khuz, Nikmah, Nida, disebut satu persatu,
senasib seperjuangan yang menyertaikudalammenimbailmu di IAIN Salatiga.
& Buat anak-anak asuhku pipit, lita, kholis, azizah, noviana, askinna, semoga
kalian sukses di Universitasnya masing-masing.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur yang telah melimpah rahmat, taufik,
hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir
skripsi dengan judul “Pemikiran Pendidikan Agama Islam dalam Perspektif
Achmadi (Studi Historis 1944-2014)” Skripsi ini disusun untuk memenuhi
sebagian persyaratanguna memperoleh gelar kesarjanaan S1 Jurusan Pendidikan
Agama Islam Institut Agama Islam Negeri Salatiga.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak,
tidak akan mungkin penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan
lancar. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Rahmat Haryadi, M.Pd., selaku RektorIAIN Salatiga.
2. Ibu Rukhayati, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN
Salatiga.
3. Bapak Dr. Muh. Saerozi, M.Ag, selaku Dosen Pembimbing yang telah
membimbing, memberikan nasehat, arahan, serta masukan-masukan yang
sangat membangun dalam penyelesaian tugas akhir ini.
4. Ayah dan ibu terkasih yang telah tulus dan ikhlas mencurahkan segalanya
5. Seluruh dosen dan petugas administrasi Prodi Pendidikan Agama Islam IAIN
Salatiga yang telah banyak membantu selama kuliah dan penelitian
berlangsung.
6. Semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak
langsung sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
7. Dan untuk IAIN Salatiga, kampus tercinta, thanks for all.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih kurang dari sempurna. Oleh
karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari
berbagai pihak demi kesempurnaan tugas-tugas penulis selanjutnya. Semoga
skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan dunia pendidikan pada umumnya.
Amin ya robbal ’alamin
Salatiga, 28 Agustus 2015
Penulis
Ema Siti Rohyani
ABSTRAK
Rohyani, Ema Siti. 2015. Pemikiran Pendidikan Agama Islam dalam Perspektif Prof. Achmadi (Studi Historis tahun 1944-2014). Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Muh. Saerozi, M.Ag.
Kata Kunci : Pendidikan Agama Islam, Perspektif Achmadi.
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui pendidikan agama Islam di Indonesia perspektif Prof. Achmadi. Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana Posisi PAI dalam kerangka pendidikan nasional menurut Achmadi ? 2) bagaimana dasar dan tujuan PAI menurut Achmadi ? 3) bagaimana pandangan Achmadi mengenai pendekatan dalam PAI ? 4) bagaimana isi atau materi PAI menurut Achmadi ? 5) bagaimana relevansi PAI menurut Achmadi dengan konteks PAI sekarang ?
Analisis ini menggunakan metode analisa isi. Yaitu menghimpun dan menganalisa dokumen-dokumen resmi, buku-buku, kemudian diklarifikasi sesuai dengan masalah yang dibahas dan dianalisa isinya. Karya-karya Prof. Achmadi baik berupa buku, disertasi, penelitian, artikel, koran, majalah, dan sebagainya dikumpulkan kemudian diadakan analisis yang terkait dengan pembahasan tersebut.
Setelah semua data terkumpul, kemudian mendelegasikan pemikiran Prof. Achmadi kepada pendidikan agama Islam. Berdasarkan hasil analisis dapat dirumuskan bahwa posisi pendidikan agama Islam di Indonesia menjadi semakin terlihat dengan adanya UU mengenai Sisdiknas no 20 tahun 2003, sejalan dengan hal tersebut pendidikan agama Islam menurut Prof. Achmadi mencakup dasar dan tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahi. Pemikiran Prof. Achmadi seperti pendekatan fungsional, pendekatan humanis, pendekatan rasional kritis, pendekatan kultural dalam pendidikan agama Islam dapat dilakukan untuk memajukan pendidikan agama Islam di Indonesia dalam jangka panjang. Materi pendidikan agama Islam menurut Prof. Achmadi terdiri dari perenial knowlegde dan ilmu yang diperoleh. Pendidikan agama Islam menurut Prof. Achmadi dengan PAI sekarang ini sangat relevan, akan tetapi masih membutuhkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai bentuk dari ideologi pendidikan yang berkembang sesuai dengan perubahan zaman yang tak terlepas dari nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam bertindak, mengamalkan nilai Islam mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan sebagainya.
DAFTAR ISI
LEMBAR BERLOGO...i
JUDUL...ii
DEKLARASI………..………...iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING...iv
PENGESAHAN KELULUSAN...v
MOTTO………...vi
PERSEMBAHAN………..……….…………..…...vii
KATA PENGANTAR...ix
ABSTRAK...xi
DAFTAR ISI...xii
DAFTAR LAMPIRAN...xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……….………...1
B. Rumusan Masalah ...2
C. TujuanPenelitian...2
D. KegunaanPenelitian……...………...………...…………...3
E. MetodePenelitian...3
G. Sistematika Penulisan...7
BAB II BIOGRAFI PROF. ACHMADI A. Biografi Prof. Achmadi...8
B. Karya Ide Besar Prof. Achmadi...11
BAB III PEMIKIRAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT PROF. ACHMADI A. Pengertian………...14
B. Posisi Agama Islam dalam kerangka Pendidikan Nasional ...15
C. Posisi Pendidikan Agama Islam dalam kerangka Pendidikan Nasional...17
D. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam...32
E. Pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam...41
F. Materi Pendidikan Agama Islam…………...……...48
BAB IV RELEVANSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT PROF. ACHMADI DENGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKARANG A. Relevansi Pendidikan Agama Islam Menurut Achmadi Dengan Pendidikan Agama Islam Sekarang terkait Isi Pendidikan/ Materi Pendidikan...62
C. Relevansi Pendidikan Agama Islam Menurut Achmadi Dengan Pendidikan
Agama Islam Sekarang terkait Posisi PAI di ranah Kerangka Pendidikan
Nasional...64
D. Relevansi Pendidikan Agama Islam Menurut Achmadi Dengan Pendidikan
Agama Islam Sekarang terkait Pendekatan dalam Pendidikan Agama
Islam...68
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan...73
B. Saran...74
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
1. Daftar Pustaka
2. Riwayat hidup penulis
3. Nota pembimbing skripsi
4. Lembar konsultasi
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
. Dalam situasi dunia yang semakin global seperti sekarang,
manusia semakin dihadapkan kepada berbagai tantangan, di samping
peluang dan kesempatan. Islam juga semakin dituntut peranannya untuk
menjadi pemandu arah kehidupan manusia.
Dalam konteks ini, pendidikan agama Islam tentu juga harapkan
dapat memberikan jawaban terhadap masalah kehidupan umat Islam yang
berada di dunia global tersebut. Secara normatif, pendidikan agama Islam
mengandung nilai-nilai universal yang memberikan resep mujarab untuk
solusi problem manusia. (Nata, 2010:433).
Pendidikan agama Islam telah dipikirkan oleh beberapa kalangan
pemikir, tetapi masih banyak masalah masalah yang belum terjawab. Di
ranah ilmiah, sudah banyak literatur yang berbicara tentang pendidikan
agama Islam di Indonesia dari berbagai pendekatan, Sebagai contoh: Amin
Abdullah, Azumardi Azra, Noeng Muhadjir, Imam suprayogo, Abuddin
Nata dan salah satunya adalah Prof. Achmadi.
Prof. Achmadi sesuai dengan kiprah teoretik dan praktiknya di
dunia pendidikan berkehendak untuk mewujudkan pendidikan agama
Islam yang lebih dari sekedar masalah-masalah ubudiyah dan fiqhiyah
semata. Ia juga ingin mendudukkan pendidikan Islam yang bukan sekedar
tidak hanya membahas tentang suatu ajaran-ajaran, tetapi membahas pula
peristiwa dengan memperlihatkan unsur tempat, waktu, objek, latar
belakang, dan pelaku dari peristiwa.
Oleh karena itu, menurut hemat penulis, pemikiran Prof. Achmadi
tentang Pendidikan Agama Islam perlu dikaji lebih dalam. Pemikiran itu
menjadi penting bukan hanya bagi muslim Jawa Tengah, tetapi juga
nusantara. Dalam konteks ini, penulis mengambil judul penelitian
pemikiran pendidikan agama Islam perspektif Prof. Achmadi
(1944-2014).
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana posisi Pendidikan Agama Islam dalam kerangka
pendidikan nasional menurut Prof. Achmadi?
2. Bagaimana pandangan Prof. Achmadi tentang dasar dan tujuan
Pendidikan Agama Islam?
3. Bagaimana pandangan Prof. Achmadi tentang pendekatan dalam
Pendidikan Agama Islam?
4. Bagaimana pandangan Prof. Achmadi tentang materi Pendidikan
Agama Islam?
5. Bagaimana relevansi pemikiran pendidikan agama Islam Prof.
Achmadi dengan konteks pendidikan Islam sekarang?
Tujuan dari penelitian yang ingin dicapai oleh penulis dalam
kaitannya dengan judul penelitian ini antara lain :
a. Untuk mengetahui tentang pendidikan agama Islam; dasar dan tujuan
serta posisi dalam kerangka pendidikan nasional perspektif Prof.
Achmadi
b. Untuk mengetahui materi, dan pendekatan, pendidikan agama Islam
menurut Prof. Achmadi
c. Untuk mengetahui relevansi pemikiran Prof. Achmadi dengan
pendidikan agama Islam di era modern ini
D.
Kegunaan Penelitian
1. Memberikan kontribusi terhadap pengembangan pemikiran pendidikan
agama Islam.
2. Untuk menambah wawasan keilmuan penulis dalam memahami
pemikiran Prof. Achmadi tentang pendidikan agama Islam.
E.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan beberapa metode antara lain sebagai
berikut:
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini bersifat literatur (kepustakaan), sehingga
penelitian ini menggunakan kajian terhadap buku-buku yang ada
kaitannya dengan judul skripsi ini, yaitu buku-buku Prof. Achmadi
dan buku lain yang membahas tentang pendidikan agama Islam.
mencari, menelaah buku-buku artikel atau lainnya yang berkaitan
dengan Prof. Achmadi. Selain bersifat literatur penelitian ini termasuk
jenis penelitian bibliografi, hampir sama dengan literatur yaitu
dilakukan dengan mencari, menganalisis, membuat interpretasi, serta
generalisasi dari fakta-fakta hasil pemikiran, ide-ide yang telah ditulis
oleh pemikir dan ahli (Nazir, 1998:62).
2. Sumber Data
Dalam pengambilan dan pengumpulan data penelitian
menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Data berupa buku,
artikel, dokumen dan lain sebagainya. Penelitian ini berisi
kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan (Arikunto,
1987:135). Sedangkan data-data tersebut dibagi menjadi dua bagian,
yaitu primer dan sekunder.
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang paling utama
digunakan dan sesuai dengan permasalahan dalam peneliti ini.
Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah buku-buku
dan Artikel Prof. Achmadi.
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah buku-buku, artikel, dan
sumber lain berkaitan dengan penelitian ini. Di antara sum,ber
tersebut adalah: Metodologi Studi Islam karya Abuddin Nata,
Islam sebagai Ilmu; Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi
Pendidikan Nasional karya Tilaar, Pendidikan Agama Islam dalam
Perspektif Multikulturalisme karya Abd Azis Albone, Metodologi
Pendidikan Agama Islam karya Ramayulis, dan buku atau artikel
tentang studi pendidikan Islam di dalam perkuliahan dan lain
sebagainya.
3. Analisis Data
Untuk menganalisis data penulis menggunakan beberapa metode,
yaitu:
a. Metode Deskriptif
Metode deskriptif yaitu “perumusan filsafat tersembunyi
dideskripsikan sedemikian rupa sehingga terus menerus ada
referensi pada masalah konkret sedetail-detailny” (Anton dan
Achmadi, 1994:112). Peneliti melakukan analisis data dengan
metode deskripsi, yaitu menggambarkan pemikiran-pemikiran
Achmadi tentang materi yang terkait dengan penelitian.
b. Metode Analisis
Analisis data merupakan “cara penanganan terhadap obyek
ilmiah dengan jalan memilih-milih antara pengertian yang satu
dengan pengertian yang lain untuk mendapatkan pengertian yang
baru” (Sumargono, 1989:21). Data yang terkumpul selanjutnya
penulis analisa dengan menggunakan teknik analisa data, dengan
cara:
Kategorisasi adalah “upaya memilah-milah setiap satuan ke
dalam bagian-bagian yang memiliki kesamaan” (Moleong,
2011:288). Peneliti melakukan kategorisasi dengan cara
memilah setiap data yang didapatkan, data dari dokumen atau
buku-buku terkait. Kategorisasi dilakukan untuk memudahkan
peneliti dalam menyatukan data-data tersebut.
2. Sintesisasi
Sintesisasi merupakan “mencari kaitan antara satu kategori
dengan kategori yang lain agar bertemu titik permasalahan”
(Moleong, 2011:289). Data yang telah dikategorikan oleh
peneliti kemudian dicari titik temu satu sama lainmdan
kemudian disatukan dalam pembahasan yang sama sehingga
menjadi sebuah penjelasan yang utuh.
F.
Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekaburan dalam
penafsiran judul, maka perlu dikemukakan maksud dari kata-kata dan
istilah yang digunakan dalam judul skripsi ini. Adapun batasan istilah
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemikiran Pendidikan Agama Islam adalah “gagasan-gagasan tentang
upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk
mengenal, memahami, mengimani, bertaqwa berakhlak mulia,
mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utama yaitu Al-Qur’an
dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta
2. Prof. Achmadi adalah salah satu tokoh pendidikan di IAIN Salatiga
dan Jateng. Lahir di Yogyakarta 4 Oktober 1944, bertempat tinggal di
Jl. Cenderawasih Klaseman Salatiga, guru besar Ilmu Pendidikan
Islam di IAIN Walisongo Semarang.
Jadi dalam judul penelitian ini bertujuan untuk mendelegasikan
pemikiran Prof. Achmadi terhadap pendidikan agama Islam.
G.
Sistematika Penulisan
Dalam rangka mempermudah penulisan skripsi, maka penulis
membagi menjadi lima bab yang dijabarkan menjadi sub-sub bab yang
utuh dan integral. Adapun sistematikanya sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan; yang berisikan latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian,
penegasan istilah dan sistematika penulisan.
BAB II Biografi Prof. Achmadi; yang memuat riwayat keluarga dan
pendidikan, pengabdian dan karya- karya intelektual.
BAB III Pemikiran Pendidikan Agama Islam Prof. Achmadi; yang
di dalamnya berisi pengertian, posisi Pendidikan Agama Islam dalam
kerangka pendidikan nasional, pandangan Prof. Achmadi tentang dasar
dan tujuan Pendidikan Agama Islam, pandangan Prof. Achmadi tentang
pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam, pandangan Prof. Achmadi
tentang materi Pendidikan Agama Islam.
BAB IV Relevansi Pemikiran Pendidikan Agama Islam Prof.
BAB V Penutup; yang meliputi kesimpulan, saran dan kata
penutup.
BAB II
BIOGRAFI PROF. ACHMADI
Dalam mengkaji pemikiran seseorang tentunya tidak cukup hanya
mengetahui gagasan-gagasan atau pemikiran-pemikirannya saja. Akan
tetapi juga harus berusaha mengetahui latar belakang hidupnya, perjalanan
intelektual dan pendidikannya. Dengan memahami biografi, dapat
mengetahui bagaimana pola pikir seseorang terbentuk. Penulis dalam
skripsi ini berupaya untuk memaparkan biografi Prof. Achmadi sehingga
mampu menghasilkan suatu analisis dan kesimpulan yang komprehensif.
Prof. Achmadi Lahir di Yogyakarta pada tanggal 4 Oktober 1944,
saat berumur enam tahun dia memulai belajar, dimulai dari SD
Muhammadiyyah Karangkajen Yogyakarta tahun 1957 sambil nyantri di
Pondok Pesantren Krapyak yang diasuh oleh KH Abdul Kodir, dia
kemudian melanjutkan pada Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN)
Yogyakarta tahun 1963. tamat dari PGAN, dia melanjutkan studinya di
IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta (Munir,
2005:48).
Dia di sela-sela kesibukannya juga aktif di berbagai organisasi
kemahasiswaan. Diantaranya pernah menjabat sebagai ketua pimpinan
cabang Pemuda Muhammadiyyah Mergangsan Yogyakarta tahun
1963-1971 dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) DIY
(1968-1971), di samping itu pengalaman dalam berorganisasi Achmadi
diantaranya adalah :
1. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Salatiga (1981-1990)
2. Anggota pimpinan wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah/
3. Ketua ICMI orsat Salatiga (1998 sampai 2014).
4. Anggota KAHMI kodya Salatiga sampai 2014
Pada tahun 1970 Achmadi menjadi sarjana lengkap pada Fakultas
Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga pada kota yang sama setelah selasai
menyelesaikan Strata I (SI) pada tahun 1973, dia menyelesaikan Post
Graduate Course (PGC) Ilmu Pendidikan IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta 1973. Pada tahun yang sama (1973), dia dipercaya menjabat
sebagai Pembantu Dekan II Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga
pada tahun 1973-1978, selain aktivitas tersebut dia juga menyelesaikan
Studi Purna Sarjana (SPS) IAIN Sunan Kalijaga pada Juli 1976- Maret
1977. “Islamic Studies dan Penelitian Agama”, Leiden University 1 tahun
(Agustus 1994 sampai Agustus 1995). Dia melanjutkan program
doktoralnya IAIN Sunan kalijaga Yogyakarta, pada tahun 2002 dia
memperoleh gelar Doktornya.
Pada tanggal 8 Januari 2005 dia memperoleh gelar Profesor dalam
bidang Ilmu Pendidikan Islam (IPI). Nama istri Prof. Achmadi adalah
Djandaroh, dia dianugrahi tiga putra yaitu Arif Djatmiko, S. Psy, Arif
Bawana, S.E dan Arif Fajar Wibisono, Achmadi bertempat tinggal di Jl.
Cenderawasih Klasemen No. 11 Salatiga telp. 0298.327098 HP
081.58846980. Sebelum meninggal dia berkantor di IAIN Walisongo, Jl.
Walisongo 5 Semarang telp 024.761292, (wakil koordinator KOPERTAIS
wilayah X Jawa Tengah).
Dia memulai karirnya menjadi asisten ahli pada (IIIe) dosen
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dosen Pascasarjana IAIN
Walisongo Semarang, Universitas Muhammadiyyah Solo, dan Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta, sampai pada tahun 2014 dia masih aktif
dalam kariernya (Munir, 2005:50). Di antara jabatan yang pernah
Achmadi jabat adalah sebagai berikut:
1. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga
1979-1982
2. Wakil Rektor bidang Akademis IAIN Walisongo di Salatiga
1985-1993 (dua periode)
3. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga
1985-1993 (dua periode)
4. Pembantu Rektor IAIN Walisongo Semarang 1994-1997,
merangkap PLH Rektor IAIN Walisongo 1996-1997
5. Wakil Koordinator Kopertais wilayah X jawa tengah 1998
sampai 2014.
C. Karya ide besar Prof. Achmadi
1.Karya ilmiah yang berupa Buku
- Ilmu Pendidikan, Sebuah Pengantar, CV Saudara, Salatiga, 1990
- Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta,
- Dasar-Dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama di Sekolah, dalam PBM
Pendidikan Agama di Sekolah, Fak. Tarbiyah
- Refleksi Pemikiran Muhammadiyah Sebuah Telaah Histories, dalam
Reaktualisasi Tajdid Muhammadiyah, UMS, 1998
- Reformasi Sistem Pendidikan Agama Islam dalam Era Reformasi: Telaah
Filsafat, dalam Pendidikan Islam, Demokratisasi, dan Masyarakat Madani,
Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo dan Pustaka Pelajar, 2000
- Islam Sebagai Alternatif Paradigma Ilmu Pendidikan, dalam Paradigma
Pendidikan Pendidikan Islam, Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo dan Pustaka
Pelajar Yogyakarta, 2001
- Ideologi Pendidikan Islam, Paradigma Humanis Teosentris, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2004
2.Artikel Majalah / Jurnal
- Pendidikan Integratif Wawasan ilmiah dan Agama dalam Pendidikan,
Majalah "Attarbiyah", Fak Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga 1992
- Politik, Agama, dan Pendidikan Agama, Majalah “Attarbiyah” Fak.
Tarbiyah. IAIN Walisongo di Salatiga, 1995
- Klasifikasi Ilmu Pengetahuan Islam, Jurnal Wahana Akademika, Kopertais
Wil X Jawa Tengah, 1998
- Ali Syari’ati Pemikiran dan Cita-citanya dalam perspektif Pembaharuan
Pemikiran Islam,’ Teologia” Jurnal Ushuluddin Vol. 13, No.3, okt.2002
(Terakriditasi, SK. Dirjen Dikti No.69 / Dikti / kop.2000,21 Maret 2000)
- Ideologisasi dan Transformasi Pemikiran Keagamaan Muhammadiyah,
- Studi Islam di Belanda, “ Ihya Ulum al-Din” Internasional journal (PPS
-IAIN Walisongo semarang) Vol. 5, Number 2, Dec. 2003, (terakriditasi,
SK. Dirjen Dikti no: 34/Dikti/Kep/2003)
3.Makalah
- Pengembangan Pendidikan Keagamaan: Sebuah Agenda masalah Dalam
Era Postmodern, Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga 1996
- Telaah Penyelenggaraan Pembaharuan Islam Muhammadiyah, PWM.
Jateng. 1998
- Kesiapan penyelengaraan Pendidikan dalam Disentralisasi Pendidikan,
UKSW 2001
- Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, sebuah Bidang studi yang sarat beban,
Dikdasmen PWM Jateng, 2001
- Kepemimmpinan Visioner : Kerangka pemberdayaan Madrasah, Kopertais
, 2001
- Strategi Sosialisasi Pedoman Hidup Islami, PWM Jateng, 2001
- Optimalisasi peranan Dewan Pendidikan Kota Salatiga dalam Prespektif
Desentralisasi Pendidikan, semiloka Dewan Pendidikan Kota Salatiga 20
Januari 2003
- Masa Depan Pendidikan Islam di Indonesia dalam Konstelasi Politik
Global, seminar staimus, surakarta, 21 juni 2003
4.Penelitian
- Sikap Remaja Terhadap Penyimpangan Seksual, Studi Kasus Siswa SLTA
Salatiga, 1993
- Korelasi antara Hasil Tes Masuk Dengan Prestasi
- Kerukunan Hidup Beragama di Daerah Perkotaan di Jawa Tengah, studi
kasus di Salatiga.
- Muhammadiyah Pasca Kemerdekaan, Pemikiran Keagamaan Dan
Implikasinya Dalam Pendidikan, Penelitian disertasi, 1999-2002
- Kompetensi lulusan PTAI/IAIN dalam prespektif masyarakat pengguna di
Jawa tengah, proyek Ditjen Bagais dep. Agama 2003
- Kesiapan Guru dalam pelaksanaan Kurikulum berbasis Kompetensi di
Jawa ( kota-kota Pendidikan: Malang, Semarang, Bandung dan
Yogyakarta). Proyek kerjasama Litbang Agama dan Diklat keagamaan
Dep. Agama RI dan P3M STAIN Salatiga (Munir, 2005:51-54)
BAB III
PEMIKIRAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROF. ACHMADI
A. Pengertian
Pendidikan agama sangat penting dan strategis dalam rangka
menanamkan nilai-nilai spiritual Islam, tetapi hal ini baru berupakan
sebagian dari seluruh kerangka pendidikan Islam. Pengertian pendidikan
khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagaman dan sumber
daya insani agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan
ajaran-ajaran Islam”. Implikasi dari pengertian ini adalah pendidikan
agama Islam merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari sistem
pendidikan Islam. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa
pendidikan agama Islam berfungsi sebagai jalur pengintegrasian wawasan
Islam pada bidang-bidang studi yang lain. Implikasi lebih lanjut
pendidikan agama harus sudah dilaksanakan sejak dini sebelum peserta
didik memperoleh pendidikan atau pengajaran ilmu-ilmu yang lain.
Pendidikan agama menurut Ibnu Khaldun lebih menitik beratkan pada
pengajaran Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan ilmu yang pertama
kali diajarkan kepada anak-anak. Dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada
anak-anak maka akan dapat menumbuhkan perasaan keagamaan
(Achmadi, 1987:11).
B. Posisi Agama Islam dalam Kerangka Pendidikan Nasional
Keputusan sistemik kehidupan keagamaan ialah sesuatu yang
dirancang atau difungsikan dalam interpendensi untuk seluruh satuan
termasuk subsatuannya. Para Proklamator pendiri Republik Indonesia
telah membuat sistem kehidupan keagamaan dalam UUD 1945 dan dibuat
berulang kali yaitu yang terdapat sebanyak dua kali dalam pembukaan,
yaitu:
1. Alinea tiga “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.”
2. Alinea empat “Negara Republik Indonesia yang .... berdasarkan
3. Dalam batang tubuh UUD 1945 juga disebut tiga kali sistem
kehidupan keagamaan, yaitu:
a. Pasal 9, tentang sumpah persiden/ wakil presiden menurut agama
dengan diawali “Demi Allah” dst.
b. Pasal 29 ayat 1: Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
c. Pasal 29 ayat 2: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk
untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah
menurut agamanya dan kepercayaannya itu (Achmadi, 1992:104).
Selanjutnya sejak era pembangunan, keputusan sistem tersebut
semakin dikukuhkan sebagai landasan idiil dan UUD 45 sebagai landasan
konstitusional. Dalam penjelasan UUD 45 mengenai sila pertama
(Ketuhanan Yang Maha Esa) dijelaskan bahwa dengan sila Ketuhanan
Yang Maha Esa mengandung makna kewajiban pemerintah dan para
penyelenggara lainnya untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang
luhur dan memegang teguh cita-cita moral yang luhur. Untuk mewujudkan
amanat dalam UUD 1945 itu, pemeliharaan budi pekerti kemanusiaan
yang luhur tidak dapat dilepaskan dari usaha membina dan
mengembangkan kehidupan beragama bangsa Indonesia, bahkan hal
tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran agama
(Achmadi, 1992:105).
Dalam membina dan mengembangkan kehidupan keagamaan,
negara/ pemerintah tidak hanya menjamin kebebasan tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama
membina mengembangkan serta memberikan bimbingan dan pengarahan
agar kehidupan beragama lebih berkembang, bergairah, dan bersemarak,
serasi dengan kebijaksanaan pemerintah dalam membina kehidupan
berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila.
Para politisi awal kemerdekaan telah mengoperasionalkan
keputusan sistemik kehidupan keagamaan dalam berbagai lembaga
pemerintahan. Tampak jelas bahwa sejak awal Republik Proklamasi 1945
telah diupayakan pengintegrasian urusan keagamaan dalam pemerintahan
Indonesia, seperti adanya Departemen Agama di samping departemen
yang lain, Peradilan Agama di samping peradilan yang lain, peluang dan
fasilitas bagi sekolah agama di samping sekolah umum, dan
diselenggarakannya pendidikan agama secara formal dalam sekolah
umum. Kesemuanya itu merupakan operasionalisasi institusional dari
keputusan sistemik kehidupan keagamaan. Departemen Agama sebagai
institusi keagamaan tertinggi dalam organisasi pemerintahan memiliki
tugas pokok yaitu menyelenggarakan sebagian dari tugas umum
pemerintahan dan pembangunan di bidang agama (Achmadi, 1992:106).
Garis besar haluan negara (GBHN) sebagai landasan operasional
pembangunan orde baru telah mengoperasionalkan keputusan sistemik
keagamaan dalam bentuk sub-sub keputusan sistemik. Bila ditelusuri dari
pola dasar ke pola umum Rencana Pembangunan Lima Tahun
(REPELITA) ke REPELITA dalam GBHN, dapat di jumpai
rumusan-rumusan yang mengoperasionalkan Pancasila dan UUD 1945. Di
Tujuan pembangunan nasional juga menyebutkan harus mewujudkan
suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual
berdasarkan Pancasila. Makna spiritual dalam bahasa adalah lawan dari
profan atau sekular, ini berarti bahwa kemajuan yang diharapkan dari
pembangunan bukan kemajuan yang berorientasi modern yang sekular,
tetapi modern yang dijiwai oleh nilai-nilai Ilahi.
C. Posisi Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Nasional
Dalam modal dasar pembangunan disebutkan bahwa kepercayaan
dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan tenaga
penggerak yang tidak ternilai harganya bagi pengisian aspirasi-aspirasi
bangsa. Selanjutnya khusus pembangunan bidang agama dirumuskan
dalam pola Umum Pembangunan Jangka Panjang orde baru sebagai
berikut:
Atas dasar kepercayaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa maka kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia harus benar-benar selaras dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesama dan alam sekitarnya serta memiliki kemantapan keseimbangan dalam kehidupan lahiriah dan batiniah (Achmadi, 1992:106-107).
Secara vertikal, seluruh kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di
Indonesia merupakan subsistem dari pendidikan nasional. Di dalam
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional UU. RI. No. 2 Th 1989
(yang telah diganti dengan UU no. 20 th. 2003) pasal 4 disebutkan:
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan rumusan demikian jelas sekali pendidikan agama merupakan
bagian pendidikan yang amat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek
sikap dan nilai, keimanan dan ketaqwaan. Hal ini berarti pula bahwa
keberhasilan pendidikan nasional tidak dapat tercapai tanpa pendidikan
agama, karena keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
hanya dapat dicapai melalui pendidikan agama (Achmadi, 1992:107).
Dalam pembahasan ini khusus ditujukan pada masalah pendidikan
agama Islam, yang dalam operasionalisasi dapat digolongkan dalam:
1. Pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan umum
Pendidikan agama Islam sebenarnya sudah ada jauh sebelum
kemerdekaan. Namun karena politik pendidikan pemerintah penjajah
(Belanda), maka sekolah-sekolah negeri tidak diberikan pendidikan
agama. Pemerintah kolonial tidak mencampuri urusan agama dan oleh
karenanya tidak bertanggung jawab terhadap masalah pendidikan
agama penduduknya. Didorong oleh semangat kebangsaan yang
dijiwai oleh ruhul Islam “Muhammadiyah” sebagai gerakan Islam
merintis jalan pendidikan agama di sekolah-sekolah umum yang
diselenggarakannya. Setelah Indonesia merdeka para pemimpin dan
perintis kemerdekaan menyadari betapa pentingnya agama diberikan
Kedudukan pendidikan agama di sekolah umum dapat ditinjau
dari segi keputusan-keputusan yuridis sebagai dasar hukumnya.
Secara kronologik dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Keputusan Menteri Agama No. 1185/K.J. tgl. 20-11-1946 tentang
penyempurnaan organisasi kementerian agama, dengan
mengadakan bagian C yang bertugas melaksanakan
kewajiban-kewajiban, antara lain:
1) Urusan pelajaran dan pendidikan agama Islam dan Kristen.
2) Urusan pengangkatan guru agama.
3) Urusan pengawasan pelajaran agama.
b.Peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri PP dan K nomor:
1142/Bhg. A (pengajaran)/Nomor: 11285/KJ (Agama) tgl. 2
Desember 1946, tentang ketentuan adanya pelajaran agama di
sekolah rakyat sejak kelas IV dan berlaku efektif mulai tgl. 1
Januari 1947.
c. Undang-Undang Nomor 4/1950 jo. Nomor 12/1954 tentang
Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah yang ada pada Bab
XII pasal 20 dinyatakan:
1) Dalam sekolah negeri diadakan pelajaran agama; orang tua
murid menetapkan apakah anaknya mengikuti pelajaran agama
tersebut.
2) Cara penyelenggaraan pengajaran agama di sekolah-sekolah
Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, bersama-sama
dengan Menteri Agama.
d. Peraturan bersama Menteri Pendidikan, Pengajaran dan
Kebudayaan dan Menteri Agama No. 17678/Ka. Tgl. 16 Juli 1951
(pendidikan)/No. K.I/1980 tgl. 16 Juli 1951 (Agama) tentang
pedoman penyelenggaraan pendidikan agama, yang merupakan
realisasi dari pasal 20 UU No. 4/1950. Isi peraturan bersama
tersebut antara lain:
1) Lamanya pendidikan agama; di SR (sekolah Rakyat) mulai
kelas IV, dua jam setiap minggu. Untuk lingkungan istimewa
sejak kelas I dan jam dapat sampai 4 jam setiap minggu. Untuk
SMP dan SLA dua jam setiap minggu.
2) Pengangkatan dan Pembiayaan; guru diangkat, diberhentikan
oleh Menteri Agama. Biaya pendidikan agama atas tanggung
jawab Kementerian Agama.
3) Rencana pelajaran agama ditetapkan oleh Kementerian Agama
sesudah disetujui oleh Kementerian PP dan K.
4) Pendidikan agama di sekolah partikelir; peraturan bersama itu
berlaku pula bagi sekolah-sekolah partikelir apabila pengurus
yang bersangkutan menghendakinya atau apabila orangtua
murid-murid yang berjumlah sekurang-kurangnya 10 orang
yang menganut suatu agama memintanya, dengan pengertian
bahwa pendidikan agama dapat diberikan di luar gedung
5) TAP MPRS No. II/MPRS/1960, menetapkan bahwa
pendidikan agama diberikan di sekolah-sekolah sejak dari
Sekolah Dasar sampai dengan Universitas/Perguruan Tinggi
Negeri.
6) Ketetapan sebagaimana TAP MPRS No. II/MPRS/1960 tetap
berlaku sampai TAP-TAP MPR berikutnya, yang intinya terus
diusahakan upaya, termasuk pendidikan agama yang
dimasukkan dalam kurikulum di sekolah-sekolah, mulai dari
SD sampai Universitas negeri.
7) Dibakukannya Kurikulum Pendidikan Agama dalam UU. RI.
No. 2 tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
yang terakhir UU No. 20 th. 2003 tentang Sisdiknas (Achmadi,
1992:108).
2. Perguruan Agama Islam
Lingkup pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan atau
perguruan agama meliputi Madrasah Diniyah, Raudhatul Athfal,
Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah,
Pendidikan Guru Agama, Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi
Agama Islam baik negeri maupun swasta. Sebagian terbesar lembaga
pendidikan agama berstatus swasta. Hanya 0,37% dari sekolah agama
yang berstatus negeri dan hanya 4,5% dari murid-murid berada pada
sekolah negeri. Ini berarti bahwa kehadiran sekolah-sekolah agama
Keberadaan perguruan-perguruan agama Islam memiliki latar
belakang sejarah yang panjang sejak zaman penjajahan Belanda.
Masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang agamis yang
mayoritas adalah umat Islam. Dalam kegiatan keagamaan dan
kemasyarakatan peran ulama’ sangat dominan. Kaum ulama secara
diam-diam melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda
dengan menumbuhkan kondisi yang berlainan antara aspirasi kaum
muslimin dengan kebijaksanaan pemerintah Belanda.
Kebijaksanaan pemerintah Belanda tersebut dilaksanakan dengan
membuka berbagai jenis sekolah untuk rakyat Indonesia, yang
bertujuan secara formal memenuhi keperluan pemerintah dan
onderneming terhadap tenaga kerja yang terdidik. Tetapi sebenarnya
mengandung tujuan untuk menjauhkan pemuda-pemuda Indonesia
dari masyarakat dan agama (Islam), dan sebaliknya mendekatkan
kepada kebudayaan barat (Belanda). Kebijaksanaan pemerintah
Belanda ini adalah berpedoman kepada “Etische Politiek”.
Untuk mengimbangi kebijaksanaan pemerintah Belanda tersebut,
maka para ulama’ mengadakan usaha penyempurnaan dan
memperkembangkan lembaga pendidikan pesantren menjadi
Madrasah, di mana diajarkan ilmu pengetahuan umum di samping
ilmu pengetahuan agama. Dengan demikian diharapkan akan lahir
sekelompok ulama’ intelek yang mampu mengimbangi produk
pendidikan madrasah berkembang sampai ke tingkat Perguruan Tinggi
Agama Islam (Achmadi, 1992:110).
Setelah zaman kemerdekaan, kecenderungan masyarakat
mendirikan madrasah tetap terus berlanjut walaupun dengan motivasi
yang berbeda dengan apa yang dilakukan pada zaman penjajahan.
Motivasi mendirikan madrasah pada zaman kemerdekaan adalah
untuk mengisi kemerdekaan dan ikut berkiprah dalam pembangunan
dengan tetap melestarikan dan mengembangkan ajaran Islam.
Dengan kenyataan bahwa perguruan agama Islam mayoritas
berstatus swasta, ini berarti bahwa andil umat Islam dalam ikut
mencerdaskan bangsa dan sekaligus meningkatkan ketaqwaan Tuhan
Yang Maha Esa cukup besar. Oleh karena itu pantas apabila perhatian
pemerintah dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan mutu
perguruan agama Islam juga cukup besar. Dalam hal ini dapat kita
lihat:
1) Pendidikan atau Perguruan Agama Tingkat Dasar dan Menengah
Salah satu hal yang perlu dicatat mengenai perkembangan
penyelenggaraan sekolah-sekolah agama adalah lahirnya Keppres
No. 34 tahun 1974 tentang tanggung jawab fungsional pendidikan
dan latihan serta Inpres No. 15 tahun 1974 tentang pelaksanaan
Keppres tersebut, yang berisi sebagai berikut:
a) Pembinaan pendidikan umum menjadi tanggung jawab
Menteri P dan K sedang pendidikan agama menjadi tanggung
b) Untuk melaksanakan Keppres No. 34 dan Inpres No. 15 tahun
1974 dengan sebaik-baiknya ada kerja sama antara
Departemen P dan K, Departemen Negeri dan Departemen
Agama.
Sebagai pelaksanaan dari Keppres tersebut lahirlah Keputusan
Bersama Tiga Menteri, yaitu Menteri Agama, Menteri P dan K dan
Menteri dalam Negeri tahun 1975 tentnag peningkatan mutu
pendidikan pada madrasah. Maksud dan tujuan peningkatan mutu
pendidikan pada madrasah adalah agar tingkat mata pelajaran
umum dari madrasah dapat mencapai tingkat yang sama dengan
tingkat mata pelajaran umum di sekolah-sekolah umum yang
setingkat, sehingga hal tersebut dapat berimplikasi sebagai berikut:
a) Ijazah madrasah dapat mempunyai nilai yang sama dengan
Ijazah sekolah umum yang setingkat.
b) Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum
setingkat lebih atas.
c) Siswa madrasah dapat berpindah ke sekolah umum yang
setingkat.
Kebijakan semacam ini menunjukkan dengan jelas bahwa
pendidikan agama Islam merupakan subsistem dari pendidikan
nasional. Adapun dalam pelaksanaannya sering mengalami
berbagai hambatan dan kekurangan, itu masalah lain atau mungkin
hanya sekedar masalah teknis (Achmadi, 1992:112).
Berbicara tentang pendidikan agama Islam tingkat tinggi
dewasa ini kiranya cukup representatif apabila berbicara mengenai
Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Adapun perguruan Tinggi
Agama Islam yang lain (swasta) hampir semuanya pada tahun 1992
menggunakan standart IAIN.
Sedikit sejarah mengenai berdirinya IAIN adalah masyarakat
Indonesia telah lama mencita-citakan adanya suatu perguruan
tinggi Islam untuk menampung pemuda-pemuda dalam mendalami
agama Islam. Cita-cita tersebut sebelumnya hanya dapat dicapai
melalui pendidikan di Timur Tengah. Keinginan pemuda-pemuda
timbul sebagai manifestasi kebutuhan masyarakat terhadap ahli
agama Islam (ulama’) yang akan memimpin dalam kegiatan
keagamaan dan kemasyarakatan.
Untuk menampung keinginan masyarakat tersebut diadakan
usaha mendirikan Pesantren Luhur oleh beberapa pemuka
masyarakat yang diketuai oleh Dr. Satiman. Cita-cita pendirian
Pesantren Luhur terus berkembang dan akhirnya menjelma dalam
bentuk Sekolah Tinggi Islam (STI) pada bulan Juli 1945 di Jakarta.
Karena situasi perjuangan dalam menegakkan dan
mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka STI ikut hijrah ke
Yogyakarta. Setelah ibukota Republik Indonesia pindah ke
Yogyakarta, kemudian STI berubah menjadi Universitas Islam
Agama, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Hukum dan
Kemasyarakatan (Achmadi, 1992:112-113).
Berdasarkan peraturan pemerintah No. 34 tahun 1950,
didirikanlah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang
berasal dari Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia.
Pendirian PTAIN ini merupakan anugerah pemerintah RI terhadap
perjuangan umat Islam dalam menegakkan dan mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Kemudian di Jakarta didirikan pula
Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) dengan diintegrasikan
menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) berdasarkan peraturan
Presiden No. 11 tahun 1960.
Keberadaan IAIN tahun 1960 secara kuantitatif sejak berdirinya
sampai sekarang telah berkembang menjadi 14 IAIN yang tersebar
di seluruh Indonesia (pada tahun 1992). Untuk lebih memantapkan
keberadaan IAIN sebagai perguruan tinggi negeri yang setara
dengan perguruan tinggi lainnya pemerintah memandang perlu
adanya dasar hukum yang lebih kokoh.
Kalau pada awalnya berdirinya dasar hukum bagi keberadaan
IAIN Peraturan Presiden, maka mulai tahun 1985 dikukuhkan
dengan Peraturan Pemerintah, yaitu Peraturan Pemerintah No. 33
th. 1985 tentang Pokok-pokok Organisasi Institut Agama Islam
Negeri. Pokok-pokok Organisasi tersebut dimaksudkan untuk lebih
meningkatkan penyelenggaraan dan pembinaan IAIN sebagai
pemerintah tersebut ditegaskan mengenai kedudukan dan tugas
pokok IAIN yaitu kedudukan IAIN adalah unit organisasi di
lingkungan Departemen Agama yang dipimpin oleh Rektor yang
berada di bawah dan tanggung jawab langsung kepada Menteri
Agama” (Pasal 2 ayat 2). Sedangkan tugas pokok IAIN adalah
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di atas perguruan
tingkat menengah yang berdasarkan kebudayaan dan kebangsaan
Indonesia dan secara ilmiah memberikan pendidikan dan
pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat di bidang
ilmu pengetahuan agama Islam sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku (Pasal 3).
Dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah No. 33 th. 1985
tersebut dimungkinkan kiprah IAIN semakin mantap dalam
menekuni bidang tugasnya dalam ilmu pengetahuan agama Islam.
Hal tersebut dikarenakan IAIN memiliki posisi dan kesempatan
yang sama dengan perguruan tinggi negeri lainnya. Dengan ini
diharapkan pula mampu melahirkan intelektual yang bersama-sama
dengan keterikatan yang serius kepada Islam.
Selama ini ada semacam kekhawatiran terhadap “disintegrasi”
antara agama Islam (wahyu) dengan ilmu pengetahuan rasional.
Hal tersebut mengakibatkan dikotomi sistem pendidikan Islam
yang kemudian oleh para cendekiawan Islam (misalnya Raji’ Al
-Faruqi) harus diupayakan pengintegrasian kembali dengan langkah
nantinya IAIN dapat menjembatani upaya besar dan luhur tersebut.
karena (meminjam istilah Fazlur Rahman) justru
pengemban-pengemban ilmu pengetahuan keislamanlah yang harus memikul
tanggung jawab utama untuk mengislamkan ilmu pengetahuan
sekuler dengan upaya-upaya intelektual yang kreatif (Achmadi,
1992:114).
3) Pondok pesantren
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan dan penyebaran
Islam telah lahir dan berkembang semenjak masa kedatangan Islam
di Indonesia. Lazimnya pengertian pondok pesantren ialah lembaga
pendidikan Islam dengan kyai sebagai tokoh sentralnya dan masjid
sebagai pusat lembaganya. Pendidikan yang diberikan di pondok
pesantren adalah pendidikan agama dan akhlak (mental).
Dalam bentuknya yang tradisional metode pengajarannya
menggunakan metode waton atau sorogan dan bandongan. Dalam
perkembangannya, sebagai akibat pengaruh sistem sekolah maka
selanjutnya menggunakan bentuk madrasah dengan sistem klasikal.
Walaupun sampai saat ini pondok pesantren sudah mengalami
banyak perubahan dan perkembangan, namun pondok pesantren
tetap memiliki ciri khusus yang berbeda dengan sekolah.
Kekhususan pondok pesantren ialah memiliki ciri khusus, semacam
kepribadian yang diwarnai oleh kharasteristik pribadi sang kyai,
unsur-unsur pimpinan pesantren, bahkan juga aliran keagamaan
Dengan perkembangannya menjadi madrasah, Mukti Ali
mengemukakan bahwa “Madrasah dalam pesantren adalah sistem
pengajaran dan pendidikan agama yang paling baik.” Pernyataan
demikian kiranya perlu diuji keabsahannya. Misalnya perlu ditinjau
dari sudut apa hal yang dianggap paling baik, apakah karena
ketundukannya pada kyai, taatnya menunaikan amalan-amalan
ubudiyah, kezuhudannya, atau kemampuan membaca kitab kuning.
Disini akan lebih realistis kalau dikatakan bahwa madrasah
dalam pesantren memiliki kelebihan juga kekurangan sebagai
sistem pendidikan agama. sehingga agar terhindar dari sikap
memitoskan pesantren yang dapat menutup alternatif lain. Dengan
segala kelebihan dan kekurangannya, yang jelas sejak beberapa
tahun lalu sampai dewasa ini pemerintah cukup besar perhatian dan
bantuannya kepada pondok pesantren. Hal ini karena pondok
pesantren dinilai memiliki potensi dalam pembangunan (Achmadi,
1992:115).
3. Pendidikan agama Islam dalam masyarakat
Baik secara historis maupun sosiologis perkembangan Islam di
Indonesia banyak ditentukan oleh lembaga pendidikan dalam
masyarakat terutama oleh pendidikan yang bersifat informal maupun
non-formal dengan berbagai medianya, baik melalui komunikasi
antara individu maupun secara kelompok. Di zaman modern ini media
komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan
koran, majalah dan berbagai penerbitan, juga melalui media
elektronika seperti radio, TV dan film.
Media tradisional yang masih tetap aktual adalah “Pengajian”.
Pengajian dari berbagai kelompok; anak-anak, remaja dan dewasa
yang dikelola oleh majelis ta’lim atau organisasi-organisasi Islam,
bahkan secara resmi diselenggarakan oleh instansi pemerintah
kelurahan sampai pusat. Selain itu, masjid sebagai salah satu pusat
pendidikan Islam semakin banyak, hampir setiap kelurahan memiliki
masjid. Oleh masyarakat masjid digunakan untuk beribadah dan untuk
kegiatan pendidikan keagamaan lainnya. Semua yang tersebut diatas
tumbuh berkembang sedemikian rupa atas dorongan dan prakarsa
masyarakat sendiri. Ini berarti bahwa kesadaran akan pentingnya
pendidikan agama sudah mengakar dan memasyarakat.
4. Pendidikan agama Islam dalam keluarga
Asumsi bahwa keluarga atau orangtua sebagai pendidik pertama
dan terutama akan tetap berlaku, selebihnya bagi pendidikan agama
karena disanalah penanaman fondasi perasaan keagamaan dan
nilai-nilai moralitas agama yang selanjutnya akan dikembangkan dan
dikukuhkan melalui proses pendidikan selanjutnya. Karena Islam
menekankan bahwa orang tualah yang paling bertanggung jawab
dalam pendidikan anak-anaknya termasuk pendidikan agamanya.
Pada umumnya penanaman nilai-nilai agama bermula dari asuhan
keluarga. Akan tetapi peranan lingkungan juga sangat berpengaruh.
berkesinambungan yang dimulai sejak kanak-kanak sampai dewasa
bahkan sampai akhir hayat maka upaya mencipta keluarga favourable
untuk pendidikan agama tidak boleh diabaikan (Achmadi,
1992:108-118).
Dengan adanya tanggapan positif tentang pendidikan agama Islam
diranah Nasional menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam
merupakan suatu bidang ilmu yang perlu digarap dan dikembangkan
baik oleh pemikir pendidikan Islam maupun para praktisi dalam
menyongsong masa depan yang perlu diantisipasi sejak dini.
D. Pandangan Prof. Achmadi Tentang Dasar Dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
1. Dasar Pendidikan Agama Islam
Prof. Achmadi (1992:55) mengatakan bahwa pendidikan
merupakan bagian sangat penting dari kehidupan dan, secara kodrati
manusia adalah makhluk paedagogik. Maka dasar pendidikan yang
dimaksud ialah nilai-nilai tertinggi yang dijadikan pandangan hidup
suatu masyarakat atau bangsa dimana pendidikan itu berlaku. Karena
yang dibicarakan pendidikan agama Islam maka pandangan hidup
Islami atau pandangan hidup muslim yang pada hakekatnya
merupakan nilai-nilai luhur yang bersifat transenden, universal dan
eternal (abadi).
Berdasar pada nilai-nilai tersebut kedudukan ilmu pendidikan
itu secara konseptual dapat dibedakan dengan ilmu pendidikan lain
yang notabennya bukan berbasis Islam.
Dasar pendidikan ialah pandangan yang mendasari seluruh
aktivitas pendidikan, baik dalam rangka penyusunan teori,
perencanaan, maupun pelaksanaan pendidikan. Dalam hal ini adalah
nilai-nilai tertinggi yang dijadikan pandangan hidup suatu masyarakat
atau bangsa di mana pendidikan itu dilaksanakan. Oleh karena yang
dibahas adalah pendidikan agama Islam, maka pandangan hidup yang
mendasari seluruh kegiatan pendidikan ini adalah pandangan hidup
yang Islami yang pada hakekatnya merupakan nilai-nilai luhur yang
bersifat transenden, universal dan abadi yang bersumber dari
Al-Qur’an dan hadits yang shahih. Al-Qur’an dan Hadits mengandung
banyak sekali nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai dasar
pendidikan Islam. Diantara nilai-nilai dalam Al-Qur’an dan Hadits
yang dipandang fundamental, esensial, dan dapat merangkum
berbagai nilai yang lain.
Sumber nilai dalam Islam ialah Al-Qur’an dan sunnah Rosul
yang shahih. Karena banyaknya nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an
dan Hadits dapat di klarifikasi kedalam nilai dasar atau intrinsik dan
nilai instrumental. Nilai intrinsik adalah nilai yang ada dengan
sendirinya bukan sebagai prasyarat atau alat bagi nilai yang lain.
Mengingat begitu banyaknya nilai-nilai yang diajarkan oleh islam,
intrinsik, fundamental dan memiliki posisi paling tinggi. Nilai tersebut
adalah tauhid atau lebih tepatnya iman tauhid (Achmadi, 1992:56).
Dasar dasar pendidikan agama Islam antara lain:
a. Tauhid
Tauhid secara etimologi berarti pengakuan terhadap keesaan
Allah. Secara teologik, pengakuan tersebut mengandung
kesempurnaan kepercayaan kepada Allah dari dua segi, dari segi
rububiyah dan segi uluhiyah. Tauhid rububiyah ialah pengakuan
terhadap keesaan Allah sebagai Dzat Yang Maha Pencipta,
Pemelihara, dan memiliki semua sifat kesempurnaan seperti dalam
QS. Al-Ikhlas. Sedang tauhid uluhiyah ialah komitmen manusia
kepada Allah sebagai satu-satunya Dzat yang dipuja dan disembah
dan satu-satunya sumber nilai. Komitmen kepada Allah itu
diwujudkan dalam sikap pasrah, tunduk dan patuh, sehingga
seluruh amal perbuatan dan hidup mati seseorang bertauhid
semata-mata hanya untuk Allah (Achmadi, 1987:77-78).
Dalam disertasi Prof. Achmadi (1992:56) Formulasi tauhid yang
paling singkat tetapi tegas ialah kalimah tayyibah “La ilaha
illallah”, yang artinya tidak ada tuhan selain Allah. Kalimat
tayyibah merupakan kalimat penegas dan pembebas bagi manusia
dari segala pengkultusan dan penyembahan, penindasan dan
perbudakan sesama makhluk/manusia dan menyadarkan manusia
mempunyai derajat yang sama dengan manusia lain. Tauhid sudah
hidup Islam, tauhid merupakan fondasi bangunan ajaran Islam dan
tauhid dinilai yang paling esensial dan sentral untuk seluruh gerak
hidup Muslim. Begitu pula dengan pendidikan agama Islam dijiwai
dengan norma-norma fundamental dan sekaligus dimotivasi dan
diberi nilai tambah oleh kepentingan ‘ubudiyyah.
b. Kemanusiaan
Dasar-dasar pendidikan agama Islam lainnya yang merupakan
penjabaran dari dasar tauhid, karena pada dasarnya seluruh nilai
dalam Islam berpusat pada tauhid, yakni dasar kedua kemanusiaan
yang merupakan pengakuan akan hakekat dan martabat manusia.
Hak asasi seseorang harus dihargai dan dilindungi, untuk
merealisasikan hak asasi tersebut tidak dibenarkan pelanggaran
terhadap hak asasi orang lain. Implikasinya dalam pendidikan
adalah setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sam untuk
memperoleh dan menyelenggarakan pendidikan.
c. Kesatuan Umat Manusia
Dasar yang ketiga yaitu kesatuan umat manusia. Banyak sekali
Al-Qur’an menegaskan tentang kesatuan umat manusia. Bhineka
tunggal ika yang pada dasarnya semua memiliki tujuan hidup
untuk pengabdian kepada Allah. Dalam hubungannya dengan
masalah global yang sedang marak sekarang ini seperti kejahatan
dimana-mana, perang antar bangsa dan sebagainya maka Islam
memberikan jalur penyelamat. Agama (Islam) tegak diatas
orde tertinggi dan homogin. Alam ini sendiri merupakan orde
moral Dzat yang mutlak dan merupakan norma pokok dan ideal.
Dalam perspektif inilah Islam tampil sebagai agama keyakinan dan
keseimbangan.
d. Tawazun
Dan dasar keempat adalah tawazun atau keseimbangan, secara
khusus prinsip keseimbangan terlihat pada penciptaan dari Allah
terhadap alam. Prinsip keseimbangan yang harus diperjuangkan
dalam kehidupan khususnya melalui pendidikan antara lain;
keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, keseimbangan
kebutuhan jasmani dan rohani, kepentingan individu dan sosial,
dan keseimbangan antara ilmu dan amal.
e. Rahmatan Lil ‘alamin
Dan dasar yang terakhir adalah rahmatan lil’alamin, dalam
aktivitas pendidikan yang salah satu sasarannya adalah
pengembangan ilmu pengetahuan, Islam berpandangan bahwa
apapun yang dikembangkan tidak terlepas dari nilai Ilahi
(Achmadi, 1992:57-59).
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Berbicara tentang dasar pendidikan maka menjadi satu kesatuan
mengenai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah suatu
perubahan yang diharapkan pada peserta didik setelah mengalami
pribadi maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana
individu itu hidup. Tentu saja perubahan yang diinginkan ialah menuju
ke arah perubahan yang lebih baik. Dalam Islam pun juga
menganjurkan agar manusia mengubah diri jika menginginkan Allah
mengubah nasibnya. Oleh karena itu usaha pendidikan dalam rangka
mengubah dan mengembangkan manusia ke arah kesempurnaan
keberadaannya dibimbing dan diarahkan sesuai dengan konsepsi
Tuhan yang memiliki kebenaran dan kebaikan mutlak dan sesuai
dengan fitarh manusia.
Berdasarkan dari pengertian tujuan pendidikan diatas, maka
tujuan pendidikan agama Islam menurut Achmadi dibagi menjadi tiga
tahapan yaitu tujuan tertinggi/terakhir, tujuan umum dan tujuan
khusus.
a. Tujuan tertingi/terakhir ini bersifat mutlak, yang sesuai dengan
tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai ciptaan Allah.
Adapun tujuan tersebut adalah
1) Menjadi hamba Allah yang paling bertaqwa (beribadah kepada
Allah) dalam hal ini, pendidikan ditujukan untuk
mengantarkan peserta didik yang senantiasa beribadah kepada
Allah. Tentu saja ibadah dalam arti yang seluas-luasnya, tidak
hanya ibadah yang bersifat ritual, untuk itu pendidikan Islam
harus mencakup dua hal; pertama, pendidikan harus
memungkinkan manusia mengerti Tuhannya sedemikian rupa
penuh penghayatan akan keesaan dan kebesaran Allah. Kedua,
pendidikan harus menggerakkan kemampuan-kemampuan
manusia untuk memahami ilmu Allah yang tersirat dalam
setiap fenomena di alam semesta, menggali untuk
dimanfaatkan dan menggunakan semua ciptaan Allah untuk
mempertahankan iman dan menopang agama Allah.
2) Mengantarkan peserta didik menjadi Khalifatullah fil ard
(wakil Tuhan di bumi) yang mampu memakmurkan atau
membudayakan alam sekitar dan sebagai konsekuensi setelah
menerima Islam sebagai pedoman hidup.
3) Untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia
atau di akhirat, baik individu maupun masyarakat.
Dengan demikian tujuan pendidikan agama Islam tertinggi tersebut
dapat dicapai dengan ilmu sebagaimana ditegaskan oleh
Rosulallah:
Kemudian dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah 11 disebutkan:
.. ت اج ا ر د ملعلا وت وآ ني ذلاو مكنم ا ونم آ ني ذلا الله عف ري
“... Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu
pengetahuan.”
Tujuan tertinggi tersebut diyakini sebagai sesuatu yang ideal
aktivitas pendidikan menjadi lebih bermakna (Achmadi,
1992:63-65).
b. Tujuan umum berbeda dengan tujuan tertinggi yang mengutamakan
pendekatan filosofik, tujuan umum lebih bersifat empirik dan
realistik. Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf
pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap,
perilaku dan kepribadian peserta didik. Yang dimaksud dengan
tujuan umum pendidikan disini adalah untuk mengaktualisasikan
potensi atau sumber daya insani secara seimbang dan optimal.
Dikatakan umum karena berlaku bagi siapapun tanpa dibatasi
ruang dan waktu, dan juga menyangkut diri peserta didik secara
total.
Dengan kemampuan mengaktualisasikan potensi dan sumber daya
insani berarti peserta didik telah mampu merealisasikan diri (self
realisation) atau kepribadian muslim. Self realisation sebagai
tujuan pendidikan agama Islam yang ingin dicapai dan dapat dilihat
dari tiga realitas: realitas subjektif yaitu nilai-nilai Al-Qur’an dan
Hadits yang menimbulkan kepribadian, realitas subjektif
mempunyai kapasitas akal, perasaan, kemampuan menangkap
tanda-tanda ayat Allah, mengenal iman, taqwa, ihsan dan tawakkal,
dan realitas objektif situasi dan kondisi dalam hidup sehari-hari
yang secara konkret dihadapi oleh setiap orang. Realitas simbolik;
mengarah pada pencapaian pertumbuhan keseimbangan
Realitas tersebut harus diiringi dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan
Assunnah (Achmadi, 1992:66-68).
c. Tujuan khusus menurut Achmadi (1992:70) adalah pengkhususan
atau operasionalisasi tujuan tertinggi/terakhir dan tujuan umum
dalam pendidikan agama Islam. Tujuan khusus bersifat relatif
sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan sesuai dengan
tuntutan dan kebutuhan, selama masih berpijak pada kerangka
tujuan tertinggi dan tujuan umum. Pengkhususan tujuan dapat
didasarkan pada:
1) Kultur dan cita-cita suatu bangsa dimana pendidikan di
selenggarakan.
2) Minat, bakat, dan kesanggupan peserta didik.
3) Tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu (mengikuti
perkembangan zaman)
Apapun yang ingin dicapai dalam tujuan pendidikan secara khusus
tetap harus mengacu pada tujuan tertinggi/terakhir dan senantiasa
dijiwai dengan akhlaqul karimah, karena pendidikan budi pekerti
(akhlaq) adalah jiwa dari pendidikan agama Islam.
E. Pandangan Prof. Achmadi Tentang Pendekatan Dalam Pendidikan Agama Islam
Pendekatan (approach) dalam bahasa inggris diartikan dengan
come near (menghampiri) go to (jalan ke) way path (arti jalan) dalam
sesuatu. Pendekatan bisa juga diartikan cara pandang terhadap sebuah
objek persoalan, dimana cara pandang itu ialah cara pandang dalam
konteks lebih luas (Ramayulis, 2010:129).
Pendekatan adalah segala cara atau strategi yang digunakan peserta
didik untuk menunjang keefektifan keefisienan dalam proses pembelajaran
materi tertentu. Dalam hal ini seperangkat langkah operasional yang
direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai
tujuan belajar tertentu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
pendekatan merupakan pandangan falsafi terhadap subjek matter yang
harus diajarkan, yang urutan selanjutnya melahirkan metode mengajar, dan
dalam pelaksanaannya dijabarkan dalam bentuk teknik penyajian
pembelajaran (Ramayulis, 2010:129).
Dalam Studi Agama di Belanda (Achmadi, 1994) dibicarakan
tentang pengembangan dan pendekatan agama Kristen yang merupakan
pokok studi agama pada fakultas agama (teologi) di Belanda.
Pengembangan dan pendekatan studi agama yang berproses sampai saat
ini mendasari studi agama yang diselenggarakan di lembaga-lembaga
pendidikan tinggi.
Studi agama di lingkungan Kristen pada awalnya hanya digarap
oleh ilmu teologi dengan pokok kajian terbatas sekitar kitab suci
(perjanjian lama dan baru). Setelah ilmu-ilmu sosial dan humaniora
berkembang, maka studi agama juga berkembang dan lazimnya dikaitkan
cabang-cabang ilmu agama seperti sejarah agama, sosiologi agama,
psikologi agama dan perbandingan agama.
Perubahan perspektif dalam kajian Islam Belanda adalah sesudah
perang dunia ke II, Belanda mengalami kemunduran yang mencolok
dalam hasil kajian Islam Indonesia. Salah satu sebabnya adalah
dihapuskannya program kajian Indologi di universitas Leiden. Baru ada
lagi setelah kajian Islam kontemporer menjadi pokok tesis teologi di
Nijmegen oleh Karel A. Steenbrink (1974) dan tesis antropologi di Leiden
oleh C. Van Dijk (1981) (Achmadi, 1994:59).
Namun mulai tampak bangkitnya generasi baru teologi Protestan
dan Katolik Roma yang memiliki minat ilmiah terhadap kajian Islam dan
mulai menyingkirkan semua praduga dan stereotip lama. Diawali dengan
Bijle Feld, dalam disertasinya di Utrecht tahun 1959, yang berjudul “Islam
as A Post Christian Religion, A Study of The Teological Judgement of
Islam, Especially in The Twentieth Century” (Islam sebagai agama pasca
Kristen, sebuah kajian tentang penilaian teologis Islam, terutama abad
kedua puluh).
Bijlefeld, D. S. Attema seorang teolog reformis yang telah
mempelajari bahasa Semit dan Islam di Leiden, menulis sebuah buku yang
objektif dan ilmiah tentang Al-Qur’an dan ditujukan kepada khalayak
pembaca yang lebih luas. Nama lain yang sejalan dengan Attema adalah
A. Wessels dan F.L. Bakker. Dari pihak Katolik; J.J.A.M. Houben,