• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIKIRAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF PROF. ACHMADI ( Studi Historis 1944-2014) - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PEMIKIRAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF PROF. ACHMADI ( Studi Historis 1944-2014) - Test Repository"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM

PERSPEKTIF PROF. ACHMADI

( Studi Historis 1944-2014)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam

Oleh:

Ema Siti Rohyani

NIM: 111 11 084

FAKULTAS TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

MOTTO







(7)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh ketulusan hati dan segenap rasa syukur kepada Allah SWT, skripsi

ini saya persembahkan kepada :

& Ayah, ibu, Adek tercinta yang senantiasa tak pernah berhenti memberikan

cinta serta doanya selama ini.

& Almukarom Romo KH. Muhammad Fatkhan beserta Ibu, Bapak Kyai Basith,

Mbah Zu, Bapak Munajatdan seluruh keluarga besar Pondok Pesantren

AL-IKHLAS Ungaran dan PONPES SALAFIYAH Salatiga yang dengan tulus

ikhlas mendidikku dengan dasar-dasar keagamaan dan semangat spiritual

yang dijadikan bekal hidup.

& Buat Bapak Saerozi sebagai Dosen Pembimbing yang telah memberikan

bantuan dan bimbingan dengan penuh kesabaran sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan

& Buat Ibu Desi selaku mantu dari beliau bapak Achmadi, karena telah

meminjamkan buku-buku beliau guna terselesaikannya penelitian ini.

& Thank you very much “hubby”. Thank for your kindleness. I love you

& Sahabat-sahabati PMII, Rekan-rekanita IPNU IPPNU, SEMA, DEMA,

JQHdan temen-temen sekelas Dek Khuz, Nikmah, Nida, disebut satu persatu,

senasib seperjuangan yang menyertaikudalammenimbailmu di IAIN Salatiga.

& Buat anak-anak asuhku pipit, lita, kholis, azizah, noviana, askinna, semoga

kalian sukses di Universitasnya masing-masing.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur yang telah melimpah rahmat, taufik,

hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir

skripsi dengan judul “Pemikiran Pendidikan Agama Islam dalam Perspektif

Achmadi (Studi Historis 1944-2014)” Skripsi ini disusun untuk memenuhi

sebagian persyaratanguna memperoleh gelar kesarjanaan S1 Jurusan Pendidikan

Agama Islam Institut Agama Islam Negeri Salatiga.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak,

tidak akan mungkin penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan

lancar. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Rahmat Haryadi, M.Pd., selaku RektorIAIN Salatiga.

2. Ibu Rukhayati, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN

Salatiga.

3. Bapak Dr. Muh. Saerozi, M.Ag, selaku Dosen Pembimbing yang telah

membimbing, memberikan nasehat, arahan, serta masukan-masukan yang

sangat membangun dalam penyelesaian tugas akhir ini.

4. Ayah dan ibu terkasih yang telah tulus dan ikhlas mencurahkan segalanya

(9)

5. Seluruh dosen dan petugas administrasi Prodi Pendidikan Agama Islam IAIN

Salatiga yang telah banyak membantu selama kuliah dan penelitian

berlangsung.

6. Semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak

langsung sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

7. Dan untuk IAIN Salatiga, kampus tercinta, thanks for all.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih kurang dari sempurna. Oleh

karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari

berbagai pihak demi kesempurnaan tugas-tugas penulis selanjutnya. Semoga

skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan dunia pendidikan pada umumnya.

Amin ya robbal ’alamin

Salatiga, 28 Agustus 2015

Penulis

Ema Siti Rohyani

(10)

ABSTRAK

Rohyani, Ema Siti. 2015. Pemikiran Pendidikan Agama Islam dalam Perspektif Prof. Achmadi (Studi Historis tahun 1944-2014). Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Muh. Saerozi, M.Ag.

Kata Kunci : Pendidikan Agama Islam, Perspektif Achmadi.

Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui pendidikan agama Islam di Indonesia perspektif Prof. Achmadi. Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana Posisi PAI dalam kerangka pendidikan nasional menurut Achmadi ? 2) bagaimana dasar dan tujuan PAI menurut Achmadi ? 3) bagaimana pandangan Achmadi mengenai pendekatan dalam PAI ? 4) bagaimana isi atau materi PAI menurut Achmadi ? 5) bagaimana relevansi PAI menurut Achmadi dengan konteks PAI sekarang ?

Analisis ini menggunakan metode analisa isi. Yaitu menghimpun dan menganalisa dokumen-dokumen resmi, buku-buku, kemudian diklarifikasi sesuai dengan masalah yang dibahas dan dianalisa isinya. Karya-karya Prof. Achmadi baik berupa buku, disertasi, penelitian, artikel, koran, majalah, dan sebagainya dikumpulkan kemudian diadakan analisis yang terkait dengan pembahasan tersebut.

Setelah semua data terkumpul, kemudian mendelegasikan pemikiran Prof. Achmadi kepada pendidikan agama Islam. Berdasarkan hasil analisis dapat dirumuskan bahwa posisi pendidikan agama Islam di Indonesia menjadi semakin terlihat dengan adanya UU mengenai Sisdiknas no 20 tahun 2003, sejalan dengan hal tersebut pendidikan agama Islam menurut Prof. Achmadi mencakup dasar dan tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahi. Pemikiran Prof. Achmadi seperti pendekatan fungsional, pendekatan humanis, pendekatan rasional kritis, pendekatan kultural dalam pendidikan agama Islam dapat dilakukan untuk memajukan pendidikan agama Islam di Indonesia dalam jangka panjang. Materi pendidikan agama Islam menurut Prof. Achmadi terdiri dari perenial knowlegde dan ilmu yang diperoleh. Pendidikan agama Islam menurut Prof. Achmadi dengan PAI sekarang ini sangat relevan, akan tetapi masih membutuhkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai bentuk dari ideologi pendidikan yang berkembang sesuai dengan perubahan zaman yang tak terlepas dari nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam bertindak, mengamalkan nilai Islam mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan sebagainya.

(11)

DAFTAR ISI

LEMBAR BERLOGO...i

JUDUL...ii

DEKLARASI………..………...iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING...iv

PENGESAHAN KELULUSAN...v

MOTTO………...vi

PERSEMBAHAN………..……….…………..…...vii

KATA PENGANTAR...ix

ABSTRAK...xi

DAFTAR ISI...xii

DAFTAR LAMPIRAN...xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……….………...1

B. Rumusan Masalah ...2

C. TujuanPenelitian...2

D. KegunaanPenelitian……...………...………...…………...3

E. MetodePenelitian...3

(12)

G. Sistematika Penulisan...7

BAB II BIOGRAFI PROF. ACHMADI A. Biografi Prof. Achmadi...8

B. Karya Ide Besar Prof. Achmadi...11

BAB III PEMIKIRAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT PROF. ACHMADI A. Pengertian………...14

B. Posisi Agama Islam dalam kerangka Pendidikan Nasional ...15

C. Posisi Pendidikan Agama Islam dalam kerangka Pendidikan Nasional...17

D. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam...32

E. Pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam...41

F. Materi Pendidikan Agama Islam…………...……...48

BAB IV RELEVANSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT PROF. ACHMADI DENGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKARANG A. Relevansi Pendidikan Agama Islam Menurut Achmadi Dengan Pendidikan Agama Islam Sekarang terkait Isi Pendidikan/ Materi Pendidikan...62

(13)

C. Relevansi Pendidikan Agama Islam Menurut Achmadi Dengan Pendidikan

Agama Islam Sekarang terkait Posisi PAI di ranah Kerangka Pendidikan

Nasional...64

D. Relevansi Pendidikan Agama Islam Menurut Achmadi Dengan Pendidikan

Agama Islam Sekarang terkait Pendekatan dalam Pendidikan Agama

Islam...68

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan...73

B. Saran...74

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar Pustaka

2. Riwayat hidup penulis

3. Nota pembimbing skripsi

4. Lembar konsultasi

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

. Dalam situasi dunia yang semakin global seperti sekarang,

manusia semakin dihadapkan kepada berbagai tantangan, di samping

peluang dan kesempatan. Islam juga semakin dituntut peranannya untuk

menjadi pemandu arah kehidupan manusia.

Dalam konteks ini, pendidikan agama Islam tentu juga harapkan

dapat memberikan jawaban terhadap masalah kehidupan umat Islam yang

berada di dunia global tersebut. Secara normatif, pendidikan agama Islam

mengandung nilai-nilai universal yang memberikan resep mujarab untuk

solusi problem manusia. (Nata, 2010:433).

Pendidikan agama Islam telah dipikirkan oleh beberapa kalangan

pemikir, tetapi masih banyak masalah masalah yang belum terjawab. Di

ranah ilmiah, sudah banyak literatur yang berbicara tentang pendidikan

agama Islam di Indonesia dari berbagai pendekatan, Sebagai contoh: Amin

Abdullah, Azumardi Azra, Noeng Muhadjir, Imam suprayogo, Abuddin

Nata dan salah satunya adalah Prof. Achmadi.

Prof. Achmadi sesuai dengan kiprah teoretik dan praktiknya di

dunia pendidikan berkehendak untuk mewujudkan pendidikan agama

Islam yang lebih dari sekedar masalah-masalah ubudiyah dan fiqhiyah

semata. Ia juga ingin mendudukkan pendidikan Islam yang bukan sekedar

(16)

tidak hanya membahas tentang suatu ajaran-ajaran, tetapi membahas pula

peristiwa dengan memperlihatkan unsur tempat, waktu, objek, latar

belakang, dan pelaku dari peristiwa.

Oleh karena itu, menurut hemat penulis, pemikiran Prof. Achmadi

tentang Pendidikan Agama Islam perlu dikaji lebih dalam. Pemikiran itu

menjadi penting bukan hanya bagi muslim Jawa Tengah, tetapi juga

nusantara. Dalam konteks ini, penulis mengambil judul penelitian

pemikiran pendidikan agama Islam perspektif Prof. Achmadi

(1944-2014).

B.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana posisi Pendidikan Agama Islam dalam kerangka

pendidikan nasional menurut Prof. Achmadi?

2. Bagaimana pandangan Prof. Achmadi tentang dasar dan tujuan

Pendidikan Agama Islam?

3. Bagaimana pandangan Prof. Achmadi tentang pendekatan dalam

Pendidikan Agama Islam?

4. Bagaimana pandangan Prof. Achmadi tentang materi Pendidikan

Agama Islam?

5. Bagaimana relevansi pemikiran pendidikan agama Islam Prof.

Achmadi dengan konteks pendidikan Islam sekarang?

(17)

Tujuan dari penelitian yang ingin dicapai oleh penulis dalam

kaitannya dengan judul penelitian ini antara lain :

a. Untuk mengetahui tentang pendidikan agama Islam; dasar dan tujuan

serta posisi dalam kerangka pendidikan nasional perspektif Prof.

Achmadi

b. Untuk mengetahui materi, dan pendekatan, pendidikan agama Islam

menurut Prof. Achmadi

c. Untuk mengetahui relevansi pemikiran Prof. Achmadi dengan

pendidikan agama Islam di era modern ini

D.

Kegunaan Penelitian

1. Memberikan kontribusi terhadap pengembangan pemikiran pendidikan

agama Islam.

2. Untuk menambah wawasan keilmuan penulis dalam memahami

pemikiran Prof. Achmadi tentang pendidikan agama Islam.

E.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan beberapa metode antara lain sebagai

berikut:

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini bersifat literatur (kepustakaan), sehingga

penelitian ini menggunakan kajian terhadap buku-buku yang ada

kaitannya dengan judul skripsi ini, yaitu buku-buku Prof. Achmadi

dan buku lain yang membahas tentang pendidikan agama Islam.

(18)

mencari, menelaah buku-buku artikel atau lainnya yang berkaitan

dengan Prof. Achmadi. Selain bersifat literatur penelitian ini termasuk

jenis penelitian bibliografi, hampir sama dengan literatur yaitu

dilakukan dengan mencari, menganalisis, membuat interpretasi, serta

generalisasi dari fakta-fakta hasil pemikiran, ide-ide yang telah ditulis

oleh pemikir dan ahli (Nazir, 1998:62).

2. Sumber Data

Dalam pengambilan dan pengumpulan data penelitian

menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Data berupa buku,

artikel, dokumen dan lain sebagainya. Penelitian ini berisi

kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan (Arikunto,

1987:135). Sedangkan data-data tersebut dibagi menjadi dua bagian,

yaitu primer dan sekunder.

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data yang paling utama

digunakan dan sesuai dengan permasalahan dalam peneliti ini.

Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah buku-buku

dan Artikel Prof. Achmadi.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah buku-buku, artikel, dan

sumber lain berkaitan dengan penelitian ini. Di antara sum,ber

tersebut adalah: Metodologi Studi Islam karya Abuddin Nata,

Islam sebagai Ilmu; Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi

(19)

Pendidikan Nasional karya Tilaar, Pendidikan Agama Islam dalam

Perspektif Multikulturalisme karya Abd Azis Albone, Metodologi

Pendidikan Agama Islam karya Ramayulis, dan buku atau artikel

tentang studi pendidikan Islam di dalam perkuliahan dan lain

sebagainya.

3. Analisis Data

Untuk menganalisis data penulis menggunakan beberapa metode,

yaitu:

a. Metode Deskriptif

Metode deskriptif yaitu “perumusan filsafat tersembunyi

dideskripsikan sedemikian rupa sehingga terus menerus ada

referensi pada masalah konkret sedetail-detailny” (Anton dan

Achmadi, 1994:112). Peneliti melakukan analisis data dengan

metode deskripsi, yaitu menggambarkan pemikiran-pemikiran

Achmadi tentang materi yang terkait dengan penelitian.

b. Metode Analisis

Analisis data merupakan “cara penanganan terhadap obyek

ilmiah dengan jalan memilih-milih antara pengertian yang satu

dengan pengertian yang lain untuk mendapatkan pengertian yang

baru” (Sumargono, 1989:21). Data yang terkumpul selanjutnya

penulis analisa dengan menggunakan teknik analisa data, dengan

cara:

(20)

Kategorisasi adalah “upaya memilah-milah setiap satuan ke

dalam bagian-bagian yang memiliki kesamaan” (Moleong,

2011:288). Peneliti melakukan kategorisasi dengan cara

memilah setiap data yang didapatkan, data dari dokumen atau

buku-buku terkait. Kategorisasi dilakukan untuk memudahkan

peneliti dalam menyatukan data-data tersebut.

2. Sintesisasi

Sintesisasi merupakan “mencari kaitan antara satu kategori

dengan kategori yang lain agar bertemu titik permasalahan”

(Moleong, 2011:289). Data yang telah dikategorikan oleh

peneliti kemudian dicari titik temu satu sama lainmdan

kemudian disatukan dalam pembahasan yang sama sehingga

menjadi sebuah penjelasan yang utuh.

F.

Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekaburan dalam

penafsiran judul, maka perlu dikemukakan maksud dari kata-kata dan

istilah yang digunakan dalam judul skripsi ini. Adapun batasan istilah

tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pemikiran Pendidikan Agama Islam adalah “gagasan-gagasan tentang

upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk

mengenal, memahami, mengimani, bertaqwa berakhlak mulia,

mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utama yaitu Al-Qur’an

dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta

(21)

2. Prof. Achmadi adalah salah satu tokoh pendidikan di IAIN Salatiga

dan Jateng. Lahir di Yogyakarta 4 Oktober 1944, bertempat tinggal di

Jl. Cenderawasih Klaseman Salatiga, guru besar Ilmu Pendidikan

Islam di IAIN Walisongo Semarang.

Jadi dalam judul penelitian ini bertujuan untuk mendelegasikan

pemikiran Prof. Achmadi terhadap pendidikan agama Islam.

G.

Sistematika Penulisan

Dalam rangka mempermudah penulisan skripsi, maka penulis

membagi menjadi lima bab yang dijabarkan menjadi sub-sub bab yang

utuh dan integral. Adapun sistematikanya sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan; yang berisikan latar belakang, rumusan

masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian,

penegasan istilah dan sistematika penulisan.

BAB II Biografi Prof. Achmadi; yang memuat riwayat keluarga dan

pendidikan, pengabdian dan karya- karya intelektual.

BAB III Pemikiran Pendidikan Agama Islam Prof. Achmadi; yang

di dalamnya berisi pengertian, posisi Pendidikan Agama Islam dalam

kerangka pendidikan nasional, pandangan Prof. Achmadi tentang dasar

dan tujuan Pendidikan Agama Islam, pandangan Prof. Achmadi tentang

pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam, pandangan Prof. Achmadi

tentang materi Pendidikan Agama Islam.

BAB IV Relevansi Pemikiran Pendidikan Agama Islam Prof.

(22)

BAB V Penutup; yang meliputi kesimpulan, saran dan kata

penutup.

BAB II

BIOGRAFI PROF. ACHMADI

(23)

Dalam mengkaji pemikiran seseorang tentunya tidak cukup hanya

mengetahui gagasan-gagasan atau pemikiran-pemikirannya saja. Akan

tetapi juga harus berusaha mengetahui latar belakang hidupnya, perjalanan

intelektual dan pendidikannya. Dengan memahami biografi, dapat

mengetahui bagaimana pola pikir seseorang terbentuk. Penulis dalam

skripsi ini berupaya untuk memaparkan biografi Prof. Achmadi sehingga

mampu menghasilkan suatu analisis dan kesimpulan yang komprehensif.

Prof. Achmadi Lahir di Yogyakarta pada tanggal 4 Oktober 1944,

saat berumur enam tahun dia memulai belajar, dimulai dari SD

Muhammadiyyah Karangkajen Yogyakarta tahun 1957 sambil nyantri di

Pondok Pesantren Krapyak yang diasuh oleh KH Abdul Kodir, dia

kemudian melanjutkan pada Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN)

Yogyakarta tahun 1963. tamat dari PGAN, dia melanjutkan studinya di

IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta (Munir,

2005:48).

Dia di sela-sela kesibukannya juga aktif di berbagai organisasi

kemahasiswaan. Diantaranya pernah menjabat sebagai ketua pimpinan

cabang Pemuda Muhammadiyyah Mergangsan Yogyakarta tahun

1963-1971 dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) DIY

(1968-1971), di samping itu pengalaman dalam berorganisasi Achmadi

diantaranya adalah :

1. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Salatiga (1981-1990)

2. Anggota pimpinan wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah/

(24)

3. Ketua ICMI orsat Salatiga (1998 sampai 2014).

4. Anggota KAHMI kodya Salatiga sampai 2014

Pada tahun 1970 Achmadi menjadi sarjana lengkap pada Fakultas

Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga pada kota yang sama setelah selasai

menyelesaikan Strata I (SI) pada tahun 1973, dia menyelesaikan Post

Graduate Course (PGC) Ilmu Pendidikan IAIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta 1973. Pada tahun yang sama (1973), dia dipercaya menjabat

sebagai Pembantu Dekan II Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga

pada tahun 1973-1978, selain aktivitas tersebut dia juga menyelesaikan

Studi Purna Sarjana (SPS) IAIN Sunan Kalijaga pada Juli 1976- Maret

1977. “Islamic Studies dan Penelitian Agama”, Leiden University 1 tahun

(Agustus 1994 sampai Agustus 1995). Dia melanjutkan program

doktoralnya IAIN Sunan kalijaga Yogyakarta, pada tahun 2002 dia

memperoleh gelar Doktornya.

Pada tanggal 8 Januari 2005 dia memperoleh gelar Profesor dalam

bidang Ilmu Pendidikan Islam (IPI). Nama istri Prof. Achmadi adalah

Djandaroh, dia dianugrahi tiga putra yaitu Arif Djatmiko, S. Psy, Arif

Bawana, S.E dan Arif Fajar Wibisono, Achmadi bertempat tinggal di Jl.

Cenderawasih Klasemen No. 11 Salatiga telp. 0298.327098 HP

081.58846980. Sebelum meninggal dia berkantor di IAIN Walisongo, Jl.

Walisongo 5 Semarang telp 024.761292, (wakil koordinator KOPERTAIS

wilayah X Jawa Tengah).

(25)

Dia memulai karirnya menjadi asisten ahli pada (IIIe) dosen

Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dosen Pascasarjana IAIN

Walisongo Semarang, Universitas Muhammadiyyah Solo, dan Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta, sampai pada tahun 2014 dia masih aktif

dalam kariernya (Munir, 2005:50). Di antara jabatan yang pernah

Achmadi jabat adalah sebagai berikut:

1. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga

1979-1982

2. Wakil Rektor bidang Akademis IAIN Walisongo di Salatiga

1985-1993 (dua periode)

3. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga

1985-1993 (dua periode)

4. Pembantu Rektor IAIN Walisongo Semarang 1994-1997,

merangkap PLH Rektor IAIN Walisongo 1996-1997

5. Wakil Koordinator Kopertais wilayah X jawa tengah 1998

sampai 2014.

C. Karya ide besar Prof. Achmadi

1.Karya ilmiah yang berupa Buku

- Ilmu Pendidikan, Sebuah Pengantar, CV Saudara, Salatiga, 1990

- Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta,

(26)

- Dasar-Dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama di Sekolah, dalam PBM

Pendidikan Agama di Sekolah, Fak. Tarbiyah

- Refleksi Pemikiran Muhammadiyah Sebuah Telaah Histories, dalam

Reaktualisasi Tajdid Muhammadiyah, UMS, 1998

- Reformasi Sistem Pendidikan Agama Islam dalam Era Reformasi: Telaah

Filsafat, dalam Pendidikan Islam, Demokratisasi, dan Masyarakat Madani,

Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo dan Pustaka Pelajar, 2000

- Islam Sebagai Alternatif Paradigma Ilmu Pendidikan, dalam Paradigma

Pendidikan Pendidikan Islam, Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo dan Pustaka

Pelajar Yogyakarta, 2001

- Ideologi Pendidikan Islam, Paradigma Humanis Teosentris, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2004

2.Artikel Majalah / Jurnal

- Pendidikan Integratif Wawasan ilmiah dan Agama dalam Pendidikan,

Majalah "Attarbiyah", Fak Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga 1992

- Politik, Agama, dan Pendidikan Agama, Majalah “Attarbiyah” Fak.

Tarbiyah. IAIN Walisongo di Salatiga, 1995

- Klasifikasi Ilmu Pengetahuan Islam, Jurnal Wahana Akademika, Kopertais

Wil X Jawa Tengah, 1998

- Ali Syari’ati Pemikiran dan Cita-citanya dalam perspektif Pembaharuan

Pemikiran Islam,’ Teologia” Jurnal Ushuluddin Vol. 13, No.3, okt.2002

(Terakriditasi, SK. Dirjen Dikti No.69 / Dikti / kop.2000,21 Maret 2000)

- Ideologisasi dan Transformasi Pemikiran Keagamaan Muhammadiyah,

(27)

- Studi Islam di Belanda, “ Ihya Ulum al-Din” Internasional journal (PPS

-IAIN Walisongo semarang) Vol. 5, Number 2, Dec. 2003, (terakriditasi,

SK. Dirjen Dikti no: 34/Dikti/Kep/2003)

3.Makalah

- Pengembangan Pendidikan Keagamaan: Sebuah Agenda masalah Dalam

Era Postmodern, Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga 1996

- Telaah Penyelenggaraan Pembaharuan Islam Muhammadiyah, PWM.

Jateng. 1998

- Kesiapan penyelengaraan Pendidikan dalam Disentralisasi Pendidikan,

UKSW 2001

- Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, sebuah Bidang studi yang sarat beban,

Dikdasmen PWM Jateng, 2001

- Kepemimmpinan Visioner : Kerangka pemberdayaan Madrasah, Kopertais

, 2001

- Strategi Sosialisasi Pedoman Hidup Islami, PWM Jateng, 2001

- Optimalisasi peranan Dewan Pendidikan Kota Salatiga dalam Prespektif

Desentralisasi Pendidikan, semiloka Dewan Pendidikan Kota Salatiga 20

Januari 2003

- Masa Depan Pendidikan Islam di Indonesia dalam Konstelasi Politik

Global, seminar staimus, surakarta, 21 juni 2003

4.Penelitian

- Sikap Remaja Terhadap Penyimpangan Seksual, Studi Kasus Siswa SLTA

Salatiga, 1993

(28)

- Korelasi antara Hasil Tes Masuk Dengan Prestasi

- Kerukunan Hidup Beragama di Daerah Perkotaan di Jawa Tengah, studi

kasus di Salatiga.

- Muhammadiyah Pasca Kemerdekaan, Pemikiran Keagamaan Dan

Implikasinya Dalam Pendidikan, Penelitian disertasi, 1999-2002

- Kompetensi lulusan PTAI/IAIN dalam prespektif masyarakat pengguna di

Jawa tengah, proyek Ditjen Bagais dep. Agama 2003

- Kesiapan Guru dalam pelaksanaan Kurikulum berbasis Kompetensi di

Jawa ( kota-kota Pendidikan: Malang, Semarang, Bandung dan

Yogyakarta). Proyek kerjasama Litbang Agama dan Diklat keagamaan

Dep. Agama RI dan P3M STAIN Salatiga (Munir, 2005:51-54)

BAB III

PEMIKIRAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROF. ACHMADI

A. Pengertian

Pendidikan agama sangat penting dan strategis dalam rangka

menanamkan nilai-nilai spiritual Islam, tetapi hal ini baru berupakan

sebagian dari seluruh kerangka pendidikan Islam. Pengertian pendidikan

(29)

khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagaman dan sumber

daya insani agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan

ajaran-ajaran Islam”. Implikasi dari pengertian ini adalah pendidikan

agama Islam merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari sistem

pendidikan Islam. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa

pendidikan agama Islam berfungsi sebagai jalur pengintegrasian wawasan

Islam pada bidang-bidang studi yang lain. Implikasi lebih lanjut

pendidikan agama harus sudah dilaksanakan sejak dini sebelum peserta

didik memperoleh pendidikan atau pengajaran ilmu-ilmu yang lain.

Pendidikan agama menurut Ibnu Khaldun lebih menitik beratkan pada

pengajaran Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan ilmu yang pertama

kali diajarkan kepada anak-anak. Dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada

anak-anak maka akan dapat menumbuhkan perasaan keagamaan

(Achmadi, 1987:11).

B. Posisi Agama Islam dalam Kerangka Pendidikan Nasional

Keputusan sistemik kehidupan keagamaan ialah sesuatu yang

dirancang atau difungsikan dalam interpendensi untuk seluruh satuan

termasuk subsatuannya. Para Proklamator pendiri Republik Indonesia

telah membuat sistem kehidupan keagamaan dalam UUD 1945 dan dibuat

berulang kali yaitu yang terdapat sebanyak dua kali dalam pembukaan,

yaitu:

1. Alinea tiga “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.”

2. Alinea empat “Negara Republik Indonesia yang .... berdasarkan

(30)

3. Dalam batang tubuh UUD 1945 juga disebut tiga kali sistem

kehidupan keagamaan, yaitu:

a. Pasal 9, tentang sumpah persiden/ wakil presiden menurut agama

dengan diawali “Demi Allah” dst.

b. Pasal 29 ayat 1: Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

c. Pasal 29 ayat 2: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk

untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah

menurut agamanya dan kepercayaannya itu (Achmadi, 1992:104).

Selanjutnya sejak era pembangunan, keputusan sistem tersebut

semakin dikukuhkan sebagai landasan idiil dan UUD 45 sebagai landasan

konstitusional. Dalam penjelasan UUD 45 mengenai sila pertama

(Ketuhanan Yang Maha Esa) dijelaskan bahwa dengan sila Ketuhanan

Yang Maha Esa mengandung makna kewajiban pemerintah dan para

penyelenggara lainnya untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang

luhur dan memegang teguh cita-cita moral yang luhur. Untuk mewujudkan

amanat dalam UUD 1945 itu, pemeliharaan budi pekerti kemanusiaan

yang luhur tidak dapat dilepaskan dari usaha membina dan

mengembangkan kehidupan beragama bangsa Indonesia, bahkan hal

tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran agama

(Achmadi, 1992:105).

Dalam membina dan mengembangkan kehidupan keagamaan,

negara/ pemerintah tidak hanya menjamin kebebasan tiap penduduk untuk

memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama

(31)

membina mengembangkan serta memberikan bimbingan dan pengarahan

agar kehidupan beragama lebih berkembang, bergairah, dan bersemarak,

serasi dengan kebijaksanaan pemerintah dalam membina kehidupan

berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila.

Para politisi awal kemerdekaan telah mengoperasionalkan

keputusan sistemik kehidupan keagamaan dalam berbagai lembaga

pemerintahan. Tampak jelas bahwa sejak awal Republik Proklamasi 1945

telah diupayakan pengintegrasian urusan keagamaan dalam pemerintahan

Indonesia, seperti adanya Departemen Agama di samping departemen

yang lain, Peradilan Agama di samping peradilan yang lain, peluang dan

fasilitas bagi sekolah agama di samping sekolah umum, dan

diselenggarakannya pendidikan agama secara formal dalam sekolah

umum. Kesemuanya itu merupakan operasionalisasi institusional dari

keputusan sistemik kehidupan keagamaan. Departemen Agama sebagai

institusi keagamaan tertinggi dalam organisasi pemerintahan memiliki

tugas pokok yaitu menyelenggarakan sebagian dari tugas umum

pemerintahan dan pembangunan di bidang agama (Achmadi, 1992:106).

Garis besar haluan negara (GBHN) sebagai landasan operasional

pembangunan orde baru telah mengoperasionalkan keputusan sistemik

keagamaan dalam bentuk sub-sub keputusan sistemik. Bila ditelusuri dari

pola dasar ke pola umum Rencana Pembangunan Lima Tahun

(REPELITA) ke REPELITA dalam GBHN, dapat di jumpai

rumusan-rumusan yang mengoperasionalkan Pancasila dan UUD 1945. Di

(32)

Tujuan pembangunan nasional juga menyebutkan harus mewujudkan

suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual

berdasarkan Pancasila. Makna spiritual dalam bahasa adalah lawan dari

profan atau sekular, ini berarti bahwa kemajuan yang diharapkan dari

pembangunan bukan kemajuan yang berorientasi modern yang sekular,

tetapi modern yang dijiwai oleh nilai-nilai Ilahi.

C. Posisi Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Nasional

Dalam modal dasar pembangunan disebutkan bahwa kepercayaan

dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan tenaga

penggerak yang tidak ternilai harganya bagi pengisian aspirasi-aspirasi

bangsa. Selanjutnya khusus pembangunan bidang agama dirumuskan

dalam pola Umum Pembangunan Jangka Panjang orde baru sebagai

berikut:

Atas dasar kepercayaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa maka kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia harus benar-benar selaras dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesama dan alam sekitarnya serta memiliki kemantapan keseimbangan dalam kehidupan lahiriah dan batiniah (Achmadi, 1992:106-107).

Secara vertikal, seluruh kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di

Indonesia merupakan subsistem dari pendidikan nasional. Di dalam

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional UU. RI. No. 2 Th 1989

(yang telah diganti dengan UU no. 20 th. 2003) pasal 4 disebutkan:

(33)

kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Dengan rumusan demikian jelas sekali pendidikan agama merupakan

bagian pendidikan yang amat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek

sikap dan nilai, keimanan dan ketaqwaan. Hal ini berarti pula bahwa

keberhasilan pendidikan nasional tidak dapat tercapai tanpa pendidikan

agama, karena keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

hanya dapat dicapai melalui pendidikan agama (Achmadi, 1992:107).

Dalam pembahasan ini khusus ditujukan pada masalah pendidikan

agama Islam, yang dalam operasionalisasi dapat digolongkan dalam:

1. Pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan umum

Pendidikan agama Islam sebenarnya sudah ada jauh sebelum

kemerdekaan. Namun karena politik pendidikan pemerintah penjajah

(Belanda), maka sekolah-sekolah negeri tidak diberikan pendidikan

agama. Pemerintah kolonial tidak mencampuri urusan agama dan oleh

karenanya tidak bertanggung jawab terhadap masalah pendidikan

agama penduduknya. Didorong oleh semangat kebangsaan yang

dijiwai oleh ruhul Islam “Muhammadiyah” sebagai gerakan Islam

merintis jalan pendidikan agama di sekolah-sekolah umum yang

diselenggarakannya. Setelah Indonesia merdeka para pemimpin dan

perintis kemerdekaan menyadari betapa pentingnya agama diberikan

(34)

Kedudukan pendidikan agama di sekolah umum dapat ditinjau

dari segi keputusan-keputusan yuridis sebagai dasar hukumnya.

Secara kronologik dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Keputusan Menteri Agama No. 1185/K.J. tgl. 20-11-1946 tentang

penyempurnaan organisasi kementerian agama, dengan

mengadakan bagian C yang bertugas melaksanakan

kewajiban-kewajiban, antara lain:

1) Urusan pelajaran dan pendidikan agama Islam dan Kristen.

2) Urusan pengangkatan guru agama.

3) Urusan pengawasan pelajaran agama.

b.Peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri PP dan K nomor:

1142/Bhg. A (pengajaran)/Nomor: 11285/KJ (Agama) tgl. 2

Desember 1946, tentang ketentuan adanya pelajaran agama di

sekolah rakyat sejak kelas IV dan berlaku efektif mulai tgl. 1

Januari 1947.

c. Undang-Undang Nomor 4/1950 jo. Nomor 12/1954 tentang

Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah yang ada pada Bab

XII pasal 20 dinyatakan:

1) Dalam sekolah negeri diadakan pelajaran agama; orang tua

murid menetapkan apakah anaknya mengikuti pelajaran agama

tersebut.

2) Cara penyelenggaraan pengajaran agama di sekolah-sekolah

(35)

Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, bersama-sama

dengan Menteri Agama.

d. Peraturan bersama Menteri Pendidikan, Pengajaran dan

Kebudayaan dan Menteri Agama No. 17678/Ka. Tgl. 16 Juli 1951

(pendidikan)/No. K.I/1980 tgl. 16 Juli 1951 (Agama) tentang

pedoman penyelenggaraan pendidikan agama, yang merupakan

realisasi dari pasal 20 UU No. 4/1950. Isi peraturan bersama

tersebut antara lain:

1) Lamanya pendidikan agama; di SR (sekolah Rakyat) mulai

kelas IV, dua jam setiap minggu. Untuk lingkungan istimewa

sejak kelas I dan jam dapat sampai 4 jam setiap minggu. Untuk

SMP dan SLA dua jam setiap minggu.

2) Pengangkatan dan Pembiayaan; guru diangkat, diberhentikan

oleh Menteri Agama. Biaya pendidikan agama atas tanggung

jawab Kementerian Agama.

3) Rencana pelajaran agama ditetapkan oleh Kementerian Agama

sesudah disetujui oleh Kementerian PP dan K.

4) Pendidikan agama di sekolah partikelir; peraturan bersama itu

berlaku pula bagi sekolah-sekolah partikelir apabila pengurus

yang bersangkutan menghendakinya atau apabila orangtua

murid-murid yang berjumlah sekurang-kurangnya 10 orang

yang menganut suatu agama memintanya, dengan pengertian

bahwa pendidikan agama dapat diberikan di luar gedung

(36)

5) TAP MPRS No. II/MPRS/1960, menetapkan bahwa

pendidikan agama diberikan di sekolah-sekolah sejak dari

Sekolah Dasar sampai dengan Universitas/Perguruan Tinggi

Negeri.

6) Ketetapan sebagaimana TAP MPRS No. II/MPRS/1960 tetap

berlaku sampai TAP-TAP MPR berikutnya, yang intinya terus

diusahakan upaya, termasuk pendidikan agama yang

dimasukkan dalam kurikulum di sekolah-sekolah, mulai dari

SD sampai Universitas negeri.

7) Dibakukannya Kurikulum Pendidikan Agama dalam UU. RI.

No. 2 tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional dan

yang terakhir UU No. 20 th. 2003 tentang Sisdiknas (Achmadi,

1992:108).

2. Perguruan Agama Islam

Lingkup pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan atau

perguruan agama meliputi Madrasah Diniyah, Raudhatul Athfal,

Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah,

Pendidikan Guru Agama, Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi

Agama Islam baik negeri maupun swasta. Sebagian terbesar lembaga

pendidikan agama berstatus swasta. Hanya 0,37% dari sekolah agama

yang berstatus negeri dan hanya 4,5% dari murid-murid berada pada

sekolah negeri. Ini berarti bahwa kehadiran sekolah-sekolah agama

(37)

Keberadaan perguruan-perguruan agama Islam memiliki latar

belakang sejarah yang panjang sejak zaman penjajahan Belanda.

Masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang agamis yang

mayoritas adalah umat Islam. Dalam kegiatan keagamaan dan

kemasyarakatan peran ulama’ sangat dominan. Kaum ulama secara

diam-diam melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda

dengan menumbuhkan kondisi yang berlainan antara aspirasi kaum

muslimin dengan kebijaksanaan pemerintah Belanda.

Kebijaksanaan pemerintah Belanda tersebut dilaksanakan dengan

membuka berbagai jenis sekolah untuk rakyat Indonesia, yang

bertujuan secara formal memenuhi keperluan pemerintah dan

onderneming terhadap tenaga kerja yang terdidik. Tetapi sebenarnya

mengandung tujuan untuk menjauhkan pemuda-pemuda Indonesia

dari masyarakat dan agama (Islam), dan sebaliknya mendekatkan

kepada kebudayaan barat (Belanda). Kebijaksanaan pemerintah

Belanda ini adalah berpedoman kepada “Etische Politiek”.

Untuk mengimbangi kebijaksanaan pemerintah Belanda tersebut,

maka para ulama’ mengadakan usaha penyempurnaan dan

memperkembangkan lembaga pendidikan pesantren menjadi

Madrasah, di mana diajarkan ilmu pengetahuan umum di samping

ilmu pengetahuan agama. Dengan demikian diharapkan akan lahir

sekelompok ulama’ intelek yang mampu mengimbangi produk

(38)

pendidikan madrasah berkembang sampai ke tingkat Perguruan Tinggi

Agama Islam (Achmadi, 1992:110).

Setelah zaman kemerdekaan, kecenderungan masyarakat

mendirikan madrasah tetap terus berlanjut walaupun dengan motivasi

yang berbeda dengan apa yang dilakukan pada zaman penjajahan.

Motivasi mendirikan madrasah pada zaman kemerdekaan adalah

untuk mengisi kemerdekaan dan ikut berkiprah dalam pembangunan

dengan tetap melestarikan dan mengembangkan ajaran Islam.

Dengan kenyataan bahwa perguruan agama Islam mayoritas

berstatus swasta, ini berarti bahwa andil umat Islam dalam ikut

mencerdaskan bangsa dan sekaligus meningkatkan ketaqwaan Tuhan

Yang Maha Esa cukup besar. Oleh karena itu pantas apabila perhatian

pemerintah dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan mutu

perguruan agama Islam juga cukup besar. Dalam hal ini dapat kita

lihat:

1) Pendidikan atau Perguruan Agama Tingkat Dasar dan Menengah

Salah satu hal yang perlu dicatat mengenai perkembangan

penyelenggaraan sekolah-sekolah agama adalah lahirnya Keppres

No. 34 tahun 1974 tentang tanggung jawab fungsional pendidikan

dan latihan serta Inpres No. 15 tahun 1974 tentang pelaksanaan

Keppres tersebut, yang berisi sebagai berikut:

a) Pembinaan pendidikan umum menjadi tanggung jawab

Menteri P dan K sedang pendidikan agama menjadi tanggung

(39)

b) Untuk melaksanakan Keppres No. 34 dan Inpres No. 15 tahun

1974 dengan sebaik-baiknya ada kerja sama antara

Departemen P dan K, Departemen Negeri dan Departemen

Agama.

Sebagai pelaksanaan dari Keppres tersebut lahirlah Keputusan

Bersama Tiga Menteri, yaitu Menteri Agama, Menteri P dan K dan

Menteri dalam Negeri tahun 1975 tentnag peningkatan mutu

pendidikan pada madrasah. Maksud dan tujuan peningkatan mutu

pendidikan pada madrasah adalah agar tingkat mata pelajaran

umum dari madrasah dapat mencapai tingkat yang sama dengan

tingkat mata pelajaran umum di sekolah-sekolah umum yang

setingkat, sehingga hal tersebut dapat berimplikasi sebagai berikut:

a) Ijazah madrasah dapat mempunyai nilai yang sama dengan

Ijazah sekolah umum yang setingkat.

b) Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum

setingkat lebih atas.

c) Siswa madrasah dapat berpindah ke sekolah umum yang

setingkat.

Kebijakan semacam ini menunjukkan dengan jelas bahwa

pendidikan agama Islam merupakan subsistem dari pendidikan

nasional. Adapun dalam pelaksanaannya sering mengalami

berbagai hambatan dan kekurangan, itu masalah lain atau mungkin

hanya sekedar masalah teknis (Achmadi, 1992:112).

(40)

Berbicara tentang pendidikan agama Islam tingkat tinggi

dewasa ini kiranya cukup representatif apabila berbicara mengenai

Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Adapun perguruan Tinggi

Agama Islam yang lain (swasta) hampir semuanya pada tahun 1992

menggunakan standart IAIN.

Sedikit sejarah mengenai berdirinya IAIN adalah masyarakat

Indonesia telah lama mencita-citakan adanya suatu perguruan

tinggi Islam untuk menampung pemuda-pemuda dalam mendalami

agama Islam. Cita-cita tersebut sebelumnya hanya dapat dicapai

melalui pendidikan di Timur Tengah. Keinginan pemuda-pemuda

timbul sebagai manifestasi kebutuhan masyarakat terhadap ahli

agama Islam (ulama’) yang akan memimpin dalam kegiatan

keagamaan dan kemasyarakatan.

Untuk menampung keinginan masyarakat tersebut diadakan

usaha mendirikan Pesantren Luhur oleh beberapa pemuka

masyarakat yang diketuai oleh Dr. Satiman. Cita-cita pendirian

Pesantren Luhur terus berkembang dan akhirnya menjelma dalam

bentuk Sekolah Tinggi Islam (STI) pada bulan Juli 1945 di Jakarta.

Karena situasi perjuangan dalam menegakkan dan

mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka STI ikut hijrah ke

Yogyakarta. Setelah ibukota Republik Indonesia pindah ke

Yogyakarta, kemudian STI berubah menjadi Universitas Islam

(41)

Agama, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Hukum dan

Kemasyarakatan (Achmadi, 1992:112-113).

Berdasarkan peraturan pemerintah No. 34 tahun 1950,

didirikanlah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang

berasal dari Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia.

Pendirian PTAIN ini merupakan anugerah pemerintah RI terhadap

perjuangan umat Islam dalam menegakkan dan mempertahankan

kemerdekaan Indonesia. Kemudian di Jakarta didirikan pula

Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) dengan diintegrasikan

menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) berdasarkan peraturan

Presiden No. 11 tahun 1960.

Keberadaan IAIN tahun 1960 secara kuantitatif sejak berdirinya

sampai sekarang telah berkembang menjadi 14 IAIN yang tersebar

di seluruh Indonesia (pada tahun 1992). Untuk lebih memantapkan

keberadaan IAIN sebagai perguruan tinggi negeri yang setara

dengan perguruan tinggi lainnya pemerintah memandang perlu

adanya dasar hukum yang lebih kokoh.

Kalau pada awalnya berdirinya dasar hukum bagi keberadaan

IAIN Peraturan Presiden, maka mulai tahun 1985 dikukuhkan

dengan Peraturan Pemerintah, yaitu Peraturan Pemerintah No. 33

th. 1985 tentang Pokok-pokok Organisasi Institut Agama Islam

Negeri. Pokok-pokok Organisasi tersebut dimaksudkan untuk lebih

meningkatkan penyelenggaraan dan pembinaan IAIN sebagai

(42)

pemerintah tersebut ditegaskan mengenai kedudukan dan tugas

pokok IAIN yaitu kedudukan IAIN adalah unit organisasi di

lingkungan Departemen Agama yang dipimpin oleh Rektor yang

berada di bawah dan tanggung jawab langsung kepada Menteri

Agama” (Pasal 2 ayat 2). Sedangkan tugas pokok IAIN adalah

menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di atas perguruan

tingkat menengah yang berdasarkan kebudayaan dan kebangsaan

Indonesia dan secara ilmiah memberikan pendidikan dan

pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat di bidang

ilmu pengetahuan agama Islam sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku (Pasal 3).

Dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah No. 33 th. 1985

tersebut dimungkinkan kiprah IAIN semakin mantap dalam

menekuni bidang tugasnya dalam ilmu pengetahuan agama Islam.

Hal tersebut dikarenakan IAIN memiliki posisi dan kesempatan

yang sama dengan perguruan tinggi negeri lainnya. Dengan ini

diharapkan pula mampu melahirkan intelektual yang bersama-sama

dengan keterikatan yang serius kepada Islam.

Selama ini ada semacam kekhawatiran terhadap “disintegrasi”

antara agama Islam (wahyu) dengan ilmu pengetahuan rasional.

Hal tersebut mengakibatkan dikotomi sistem pendidikan Islam

yang kemudian oleh para cendekiawan Islam (misalnya Raji’ Al

-Faruqi) harus diupayakan pengintegrasian kembali dengan langkah

(43)

nantinya IAIN dapat menjembatani upaya besar dan luhur tersebut.

karena (meminjam istilah Fazlur Rahman) justru

pengemban-pengemban ilmu pengetahuan keislamanlah yang harus memikul

tanggung jawab utama untuk mengislamkan ilmu pengetahuan

sekuler dengan upaya-upaya intelektual yang kreatif (Achmadi,

1992:114).

3) Pondok pesantren

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan dan penyebaran

Islam telah lahir dan berkembang semenjak masa kedatangan Islam

di Indonesia. Lazimnya pengertian pondok pesantren ialah lembaga

pendidikan Islam dengan kyai sebagai tokoh sentralnya dan masjid

sebagai pusat lembaganya. Pendidikan yang diberikan di pondok

pesantren adalah pendidikan agama dan akhlak (mental).

Dalam bentuknya yang tradisional metode pengajarannya

menggunakan metode waton atau sorogan dan bandongan. Dalam

perkembangannya, sebagai akibat pengaruh sistem sekolah maka

selanjutnya menggunakan bentuk madrasah dengan sistem klasikal.

Walaupun sampai saat ini pondok pesantren sudah mengalami

banyak perubahan dan perkembangan, namun pondok pesantren

tetap memiliki ciri khusus yang berbeda dengan sekolah.

Kekhususan pondok pesantren ialah memiliki ciri khusus, semacam

kepribadian yang diwarnai oleh kharasteristik pribadi sang kyai,

unsur-unsur pimpinan pesantren, bahkan juga aliran keagamaan

(44)

Dengan perkembangannya menjadi madrasah, Mukti Ali

mengemukakan bahwa “Madrasah dalam pesantren adalah sistem

pengajaran dan pendidikan agama yang paling baik.” Pernyataan

demikian kiranya perlu diuji keabsahannya. Misalnya perlu ditinjau

dari sudut apa hal yang dianggap paling baik, apakah karena

ketundukannya pada kyai, taatnya menunaikan amalan-amalan

ubudiyah, kezuhudannya, atau kemampuan membaca kitab kuning.

Disini akan lebih realistis kalau dikatakan bahwa madrasah

dalam pesantren memiliki kelebihan juga kekurangan sebagai

sistem pendidikan agama. sehingga agar terhindar dari sikap

memitoskan pesantren yang dapat menutup alternatif lain. Dengan

segala kelebihan dan kekurangannya, yang jelas sejak beberapa

tahun lalu sampai dewasa ini pemerintah cukup besar perhatian dan

bantuannya kepada pondok pesantren. Hal ini karena pondok

pesantren dinilai memiliki potensi dalam pembangunan (Achmadi,

1992:115).

3. Pendidikan agama Islam dalam masyarakat

Baik secara historis maupun sosiologis perkembangan Islam di

Indonesia banyak ditentukan oleh lembaga pendidikan dalam

masyarakat terutama oleh pendidikan yang bersifat informal maupun

non-formal dengan berbagai medianya, baik melalui komunikasi

antara individu maupun secara kelompok. Di zaman modern ini media

komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan

(45)

koran, majalah dan berbagai penerbitan, juga melalui media

elektronika seperti radio, TV dan film.

Media tradisional yang masih tetap aktual adalah “Pengajian”.

Pengajian dari berbagai kelompok; anak-anak, remaja dan dewasa

yang dikelola oleh majelis ta’lim atau organisasi-organisasi Islam,

bahkan secara resmi diselenggarakan oleh instansi pemerintah

kelurahan sampai pusat. Selain itu, masjid sebagai salah satu pusat

pendidikan Islam semakin banyak, hampir setiap kelurahan memiliki

masjid. Oleh masyarakat masjid digunakan untuk beribadah dan untuk

kegiatan pendidikan keagamaan lainnya. Semua yang tersebut diatas

tumbuh berkembang sedemikian rupa atas dorongan dan prakarsa

masyarakat sendiri. Ini berarti bahwa kesadaran akan pentingnya

pendidikan agama sudah mengakar dan memasyarakat.

4. Pendidikan agama Islam dalam keluarga

Asumsi bahwa keluarga atau orangtua sebagai pendidik pertama

dan terutama akan tetap berlaku, selebihnya bagi pendidikan agama

karena disanalah penanaman fondasi perasaan keagamaan dan

nilai-nilai moralitas agama yang selanjutnya akan dikembangkan dan

dikukuhkan melalui proses pendidikan selanjutnya. Karena Islam

menekankan bahwa orang tualah yang paling bertanggung jawab

dalam pendidikan anak-anaknya termasuk pendidikan agamanya.

Pada umumnya penanaman nilai-nilai agama bermula dari asuhan

keluarga. Akan tetapi peranan lingkungan juga sangat berpengaruh.

(46)

berkesinambungan yang dimulai sejak kanak-kanak sampai dewasa

bahkan sampai akhir hayat maka upaya mencipta keluarga favourable

untuk pendidikan agama tidak boleh diabaikan (Achmadi,

1992:108-118).

Dengan adanya tanggapan positif tentang pendidikan agama Islam

diranah Nasional menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam

merupakan suatu bidang ilmu yang perlu digarap dan dikembangkan

baik oleh pemikir pendidikan Islam maupun para praktisi dalam

menyongsong masa depan yang perlu diantisipasi sejak dini.

D. Pandangan Prof. Achmadi Tentang Dasar Dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

1. Dasar Pendidikan Agama Islam

Prof. Achmadi (1992:55) mengatakan bahwa pendidikan

merupakan bagian sangat penting dari kehidupan dan, secara kodrati

manusia adalah makhluk paedagogik. Maka dasar pendidikan yang

dimaksud ialah nilai-nilai tertinggi yang dijadikan pandangan hidup

suatu masyarakat atau bangsa dimana pendidikan itu berlaku. Karena

yang dibicarakan pendidikan agama Islam maka pandangan hidup

Islami atau pandangan hidup muslim yang pada hakekatnya

merupakan nilai-nilai luhur yang bersifat transenden, universal dan

eternal (abadi).

Berdasar pada nilai-nilai tersebut kedudukan ilmu pendidikan

(47)

itu secara konseptual dapat dibedakan dengan ilmu pendidikan lain

yang notabennya bukan berbasis Islam.

Dasar pendidikan ialah pandangan yang mendasari seluruh

aktivitas pendidikan, baik dalam rangka penyusunan teori,

perencanaan, maupun pelaksanaan pendidikan. Dalam hal ini adalah

nilai-nilai tertinggi yang dijadikan pandangan hidup suatu masyarakat

atau bangsa di mana pendidikan itu dilaksanakan. Oleh karena yang

dibahas adalah pendidikan agama Islam, maka pandangan hidup yang

mendasari seluruh kegiatan pendidikan ini adalah pandangan hidup

yang Islami yang pada hakekatnya merupakan nilai-nilai luhur yang

bersifat transenden, universal dan abadi yang bersumber dari

Al-Qur’an dan hadits yang shahih. Al-Qur’an dan Hadits mengandung

banyak sekali nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai dasar

pendidikan Islam. Diantara nilai-nilai dalam Al-Qur’an dan Hadits

yang dipandang fundamental, esensial, dan dapat merangkum

berbagai nilai yang lain.

Sumber nilai dalam Islam ialah Al-Qur’an dan sunnah Rosul

yang shahih. Karena banyaknya nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an

dan Hadits dapat di klarifikasi kedalam nilai dasar atau intrinsik dan

nilai instrumental. Nilai intrinsik adalah nilai yang ada dengan

sendirinya bukan sebagai prasyarat atau alat bagi nilai yang lain.

Mengingat begitu banyaknya nilai-nilai yang diajarkan oleh islam,

(48)

intrinsik, fundamental dan memiliki posisi paling tinggi. Nilai tersebut

adalah tauhid atau lebih tepatnya iman tauhid (Achmadi, 1992:56).

Dasar dasar pendidikan agama Islam antara lain:

a. Tauhid

Tauhid secara etimologi berarti pengakuan terhadap keesaan

Allah. Secara teologik, pengakuan tersebut mengandung

kesempurnaan kepercayaan kepada Allah dari dua segi, dari segi

rububiyah dan segi uluhiyah. Tauhid rububiyah ialah pengakuan

terhadap keesaan Allah sebagai Dzat Yang Maha Pencipta,

Pemelihara, dan memiliki semua sifat kesempurnaan seperti dalam

QS. Al-Ikhlas. Sedang tauhid uluhiyah ialah komitmen manusia

kepada Allah sebagai satu-satunya Dzat yang dipuja dan disembah

dan satu-satunya sumber nilai. Komitmen kepada Allah itu

diwujudkan dalam sikap pasrah, tunduk dan patuh, sehingga

seluruh amal perbuatan dan hidup mati seseorang bertauhid

semata-mata hanya untuk Allah (Achmadi, 1987:77-78).

Dalam disertasi Prof. Achmadi (1992:56) Formulasi tauhid yang

paling singkat tetapi tegas ialah kalimah tayyibah “La ilaha

illallah”, yang artinya tidak ada tuhan selain Allah. Kalimat

tayyibah merupakan kalimat penegas dan pembebas bagi manusia

dari segala pengkultusan dan penyembahan, penindasan dan

perbudakan sesama makhluk/manusia dan menyadarkan manusia

mempunyai derajat yang sama dengan manusia lain. Tauhid sudah

(49)

hidup Islam, tauhid merupakan fondasi bangunan ajaran Islam dan

tauhid dinilai yang paling esensial dan sentral untuk seluruh gerak

hidup Muslim. Begitu pula dengan pendidikan agama Islam dijiwai

dengan norma-norma fundamental dan sekaligus dimotivasi dan

diberi nilai tambah oleh kepentingan ‘ubudiyyah.

b. Kemanusiaan

Dasar-dasar pendidikan agama Islam lainnya yang merupakan

penjabaran dari dasar tauhid, karena pada dasarnya seluruh nilai

dalam Islam berpusat pada tauhid, yakni dasar kedua kemanusiaan

yang merupakan pengakuan akan hakekat dan martabat manusia.

Hak asasi seseorang harus dihargai dan dilindungi, untuk

merealisasikan hak asasi tersebut tidak dibenarkan pelanggaran

terhadap hak asasi orang lain. Implikasinya dalam pendidikan

adalah setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sam untuk

memperoleh dan menyelenggarakan pendidikan.

c. Kesatuan Umat Manusia

Dasar yang ketiga yaitu kesatuan umat manusia. Banyak sekali

Al-Qur’an menegaskan tentang kesatuan umat manusia. Bhineka

tunggal ika yang pada dasarnya semua memiliki tujuan hidup

untuk pengabdian kepada Allah. Dalam hubungannya dengan

masalah global yang sedang marak sekarang ini seperti kejahatan

dimana-mana, perang antar bangsa dan sebagainya maka Islam

memberikan jalur penyelamat. Agama (Islam) tegak diatas

(50)

orde tertinggi dan homogin. Alam ini sendiri merupakan orde

moral Dzat yang mutlak dan merupakan norma pokok dan ideal.

Dalam perspektif inilah Islam tampil sebagai agama keyakinan dan

keseimbangan.

d. Tawazun

Dan dasar keempat adalah tawazun atau keseimbangan, secara

khusus prinsip keseimbangan terlihat pada penciptaan dari Allah

terhadap alam. Prinsip keseimbangan yang harus diperjuangkan

dalam kehidupan khususnya melalui pendidikan antara lain;

keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, keseimbangan

kebutuhan jasmani dan rohani, kepentingan individu dan sosial,

dan keseimbangan antara ilmu dan amal.

e. Rahmatan Lil ‘alamin

Dan dasar yang terakhir adalah rahmatan lil’alamin, dalam

aktivitas pendidikan yang salah satu sasarannya adalah

pengembangan ilmu pengetahuan, Islam berpandangan bahwa

apapun yang dikembangkan tidak terlepas dari nilai Ilahi

(Achmadi, 1992:57-59).

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Berbicara tentang dasar pendidikan maka menjadi satu kesatuan

mengenai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah suatu

perubahan yang diharapkan pada peserta didik setelah mengalami

(51)

pribadi maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana

individu itu hidup. Tentu saja perubahan yang diinginkan ialah menuju

ke arah perubahan yang lebih baik. Dalam Islam pun juga

menganjurkan agar manusia mengubah diri jika menginginkan Allah

mengubah nasibnya. Oleh karena itu usaha pendidikan dalam rangka

mengubah dan mengembangkan manusia ke arah kesempurnaan

keberadaannya dibimbing dan diarahkan sesuai dengan konsepsi

Tuhan yang memiliki kebenaran dan kebaikan mutlak dan sesuai

dengan fitarh manusia.

Berdasarkan dari pengertian tujuan pendidikan diatas, maka

tujuan pendidikan agama Islam menurut Achmadi dibagi menjadi tiga

tahapan yaitu tujuan tertinggi/terakhir, tujuan umum dan tujuan

khusus.

a. Tujuan tertingi/terakhir ini bersifat mutlak, yang sesuai dengan

tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai ciptaan Allah.

Adapun tujuan tersebut adalah

1) Menjadi hamba Allah yang paling bertaqwa (beribadah kepada

Allah) dalam hal ini, pendidikan ditujukan untuk

mengantarkan peserta didik yang senantiasa beribadah kepada

Allah. Tentu saja ibadah dalam arti yang seluas-luasnya, tidak

hanya ibadah yang bersifat ritual, untuk itu pendidikan Islam

harus mencakup dua hal; pertama, pendidikan harus

memungkinkan manusia mengerti Tuhannya sedemikian rupa

(52)

penuh penghayatan akan keesaan dan kebesaran Allah. Kedua,

pendidikan harus menggerakkan kemampuan-kemampuan

manusia untuk memahami ilmu Allah yang tersirat dalam

setiap fenomena di alam semesta, menggali untuk

dimanfaatkan dan menggunakan semua ciptaan Allah untuk

mempertahankan iman dan menopang agama Allah.

2) Mengantarkan peserta didik menjadi Khalifatullah fil ard

(wakil Tuhan di bumi) yang mampu memakmurkan atau

membudayakan alam sekitar dan sebagai konsekuensi setelah

menerima Islam sebagai pedoman hidup.

3) Untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia

atau di akhirat, baik individu maupun masyarakat.

Dengan demikian tujuan pendidikan agama Islam tertinggi tersebut

dapat dicapai dengan ilmu sebagaimana ditegaskan oleh

Rosulallah:

Kemudian dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah 11 disebutkan:

.. ت اج ا ر د ملعلا وت وآ ني ذلاو مكنم ا ونم آ ني ذلا الله عف ري

“... Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu

pengetahuan.”

Tujuan tertinggi tersebut diyakini sebagai sesuatu yang ideal

(53)

aktivitas pendidikan menjadi lebih bermakna (Achmadi,

1992:63-65).

b. Tujuan umum berbeda dengan tujuan tertinggi yang mengutamakan

pendekatan filosofik, tujuan umum lebih bersifat empirik dan

realistik. Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf

pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap,

perilaku dan kepribadian peserta didik. Yang dimaksud dengan

tujuan umum pendidikan disini adalah untuk mengaktualisasikan

potensi atau sumber daya insani secara seimbang dan optimal.

Dikatakan umum karena berlaku bagi siapapun tanpa dibatasi

ruang dan waktu, dan juga menyangkut diri peserta didik secara

total.

Dengan kemampuan mengaktualisasikan potensi dan sumber daya

insani berarti peserta didik telah mampu merealisasikan diri (self

realisation) atau kepribadian muslim. Self realisation sebagai

tujuan pendidikan agama Islam yang ingin dicapai dan dapat dilihat

dari tiga realitas: realitas subjektif yaitu nilai-nilai Al-Qur’an dan

Hadits yang menimbulkan kepribadian, realitas subjektif

mempunyai kapasitas akal, perasaan, kemampuan menangkap

tanda-tanda ayat Allah, mengenal iman, taqwa, ihsan dan tawakkal,

dan realitas objektif situasi dan kondisi dalam hidup sehari-hari

yang secara konkret dihadapi oleh setiap orang. Realitas simbolik;

mengarah pada pencapaian pertumbuhan keseimbangan

(54)

Realitas tersebut harus diiringi dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan

Assunnah (Achmadi, 1992:66-68).

c. Tujuan khusus menurut Achmadi (1992:70) adalah pengkhususan

atau operasionalisasi tujuan tertinggi/terakhir dan tujuan umum

dalam pendidikan agama Islam. Tujuan khusus bersifat relatif

sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan sesuai dengan

tuntutan dan kebutuhan, selama masih berpijak pada kerangka

tujuan tertinggi dan tujuan umum. Pengkhususan tujuan dapat

didasarkan pada:

1) Kultur dan cita-cita suatu bangsa dimana pendidikan di

selenggarakan.

2) Minat, bakat, dan kesanggupan peserta didik.

3) Tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu (mengikuti

perkembangan zaman)

Apapun yang ingin dicapai dalam tujuan pendidikan secara khusus

tetap harus mengacu pada tujuan tertinggi/terakhir dan senantiasa

dijiwai dengan akhlaqul karimah, karena pendidikan budi pekerti

(akhlaq) adalah jiwa dari pendidikan agama Islam.

E. Pandangan Prof. Achmadi Tentang Pendekatan Dalam Pendidikan Agama Islam

Pendekatan (approach) dalam bahasa inggris diartikan dengan

come near (menghampiri) go to (jalan ke) way path (arti jalan) dalam

(55)

sesuatu. Pendekatan bisa juga diartikan cara pandang terhadap sebuah

objek persoalan, dimana cara pandang itu ialah cara pandang dalam

konteks lebih luas (Ramayulis, 2010:129).

Pendekatan adalah segala cara atau strategi yang digunakan peserta

didik untuk menunjang keefektifan keefisienan dalam proses pembelajaran

materi tertentu. Dalam hal ini seperangkat langkah operasional yang

direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai

tujuan belajar tertentu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa

pendekatan merupakan pandangan falsafi terhadap subjek matter yang

harus diajarkan, yang urutan selanjutnya melahirkan metode mengajar, dan

dalam pelaksanaannya dijabarkan dalam bentuk teknik penyajian

pembelajaran (Ramayulis, 2010:129).

Dalam Studi Agama di Belanda (Achmadi, 1994) dibicarakan

tentang pengembangan dan pendekatan agama Kristen yang merupakan

pokok studi agama pada fakultas agama (teologi) di Belanda.

Pengembangan dan pendekatan studi agama yang berproses sampai saat

ini mendasari studi agama yang diselenggarakan di lembaga-lembaga

pendidikan tinggi.

Studi agama di lingkungan Kristen pada awalnya hanya digarap

oleh ilmu teologi dengan pokok kajian terbatas sekitar kitab suci

(perjanjian lama dan baru). Setelah ilmu-ilmu sosial dan humaniora

berkembang, maka studi agama juga berkembang dan lazimnya dikaitkan

(56)

cabang-cabang ilmu agama seperti sejarah agama, sosiologi agama,

psikologi agama dan perbandingan agama.

Perubahan perspektif dalam kajian Islam Belanda adalah sesudah

perang dunia ke II, Belanda mengalami kemunduran yang mencolok

dalam hasil kajian Islam Indonesia. Salah satu sebabnya adalah

dihapuskannya program kajian Indologi di universitas Leiden. Baru ada

lagi setelah kajian Islam kontemporer menjadi pokok tesis teologi di

Nijmegen oleh Karel A. Steenbrink (1974) dan tesis antropologi di Leiden

oleh C. Van Dijk (1981) (Achmadi, 1994:59).

Namun mulai tampak bangkitnya generasi baru teologi Protestan

dan Katolik Roma yang memiliki minat ilmiah terhadap kajian Islam dan

mulai menyingkirkan semua praduga dan stereotip lama. Diawali dengan

Bijle Feld, dalam disertasinya di Utrecht tahun 1959, yang berjudul “Islam

as A Post Christian Religion, A Study of The Teological Judgement of

Islam, Especially in The Twentieth Century” (Islam sebagai agama pasca

Kristen, sebuah kajian tentang penilaian teologis Islam, terutama abad

kedua puluh).

Bijlefeld, D. S. Attema seorang teolog reformis yang telah

mempelajari bahasa Semit dan Islam di Leiden, menulis sebuah buku yang

objektif dan ilmiah tentang Al-Qur’an dan ditujukan kepada khalayak

pembaca yang lebih luas. Nama lain yang sejalan dengan Attema adalah

A. Wessels dan F.L. Bakker. Dari pihak Katolik; J.J.A.M. Houben,

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dasar pemikiran Zakiyah tentang pendidikan anak, dan menemukan konsep pendidikan anak dalam perspektif psikologi Islam, serta

Zakiah Daradjat tentang pendidikan Islam dalam perspektif psikologi agama, yang menarik di sini; ialah psikologi agama merupakan disiplin ilmu yang merupakan bagian dari

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMAISLAM NEGERI (IAIN). TULUNGAGUNG

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG. 2017.. PERNYATAAN

3211113079, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, dengan judul “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam